WHAT'S NEW?
Loading...
Jalan Bodjong (Bodjong Weg) atau sekarang yang lebih dikenal dengan nama Jalan Pemuda sudah sejak dulu menjadi jalan utama di Kota Semarang. Bahkan pernah dianggap sebagai salah satu jalan paling bagus di Pulau Jawa. Dari dulu hingga saat ini, Jalan Bodjong telah menjadi pusat pemerintahan, bisnis, pendidikan, dan hiburan. Bagiku, Jalan Bodjong merupakan jalan romantis di Kota Semarang.

Ujung Jalan Pemuda, Gedung Lawang Sewu dan Tugu Muda

Sabtu sore di langit yang begitu cerah, aku, Bang Indra, dan Mas Arif berada di salah satu minimarket yang di Jalan Bodjong (Jalan Pemuda). Kami bertiga sedang menunggu mas Dimas. Yup!! bener banget..!!! Kami akan walking tour bersama mas Dimas dari Bersukaria Walking Tour. Rute sore ini adalah rute Bodjong. Kami akan diajak menyusuri Jalan Bodjong.

Mas Dimas menjelaskan bahwa kata Bodjong berasal dari dua kata, yaitu Bod yang berarti “Kapal” dan Jong yang berarti “Pemuda”. Sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan hiburan, di jalan Bodjong dulu dilalui jalur trem. Trem dioperasikan di Semarang pada tahun 1882 hingga 1940 oleh Semarang-Joana Stoomtrammaatschappij (SJS). Setelah mendengarkan penjelasan singkat mas Dimas tentang Jalan Bodjong, kemudian kami memulai perjalanan menyusuri jalan Bodjong kearah selatan.

Gedung Batafsche Petroleum Maatschappij

Langkah kami terhenti di persimpangan jalan. Mas Dimas menunjuk kearah dua gedung yang ada di seberang jalan, yaitu kantor Pertamina dan Mall Paragon. Gedung Pertamina dulunya bernama Batafsche Petroleum Maatschappij. Dibangun dengan desain arsitektur artdeco. Pada masa penjajahan Jepang, gedung ini digunakakan sebagai markas bala tentara Dai Nippon. Pada tanggal 29 April 1942, gedung ini dijadikan tempat perayaan ulang tahun Tenno Heika yang berarti “Yang Mulia Kaisar”.

Rumah di Kampung Sekayu
Rumah Atap Limas

Sedangkan Mall Paragon merupakan gedung dengan nama Societet Harmony. Pusat hiburan dan berkumpulnya kaum borjuis di Kota Semarang. Pernah juga digunakan sebagai gedung kesenian yang menampilkan pertunjukkan wayang orang. Namun, pusat hiburan itu kini telah disulap menjadi sebuah mall dan hotel.

Masjid Sekayu

Setelah dari Mall Paragon, kami diajak untuk memasuki Kampung Sekayu. Perkampungan padat penduduk ini terletak di sebelah Mall Paragon. Kampung Sekayu merupakan salah satu kampung tertua di Kota Semarang. Yang menjadi daya tarik dari kampung Melayu adalah keberadaan Masjid Sekayu. Konon masjid ini lebih tua dari Masjid Agung Demak. Empat pilar kayu soko guru memiliki kesamaan dengan soko guru yang ada di Masjid Agung Demak. Proses renovasi masjid menghilangkan bentuk asli masjid, namun masih tetap mempertahankan soko gurunya.

Soko guru Masjid Sekayu

Selain itu, di Kampung Sekayu masih terdapat beberapa rumah yang memiliki desain rumah jaman dulu. Ada beberapa rumah yang memiliki atap bentuk limas. Rumah-rumah tersebut masih mempertahankan bentuk awal rumah ketika pertama kali dibangun. Kami juga melihat Kali Semarang yang terletak tidak jauh dari Kampung Sekayu. Kali Semarang digunakan untuk Sunan Kalijaga untuk menghanyutkan kayu menuju Demak untuk pemgedung Masjid Agung Demak.

Kali Semarang

Setelah berkeliling Kampung Sekayu, kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Bodjong. Langkah kami terhenti di seberang dua gedung SMA negeri, yaitu SMA Negeri 5 dan SMA Negeri 3 Semarang. Arsitektur kedua gedung sekolah masih asli. Dari awal pemgedung, kedua gedung ini memang difungsikan sebagai sekolah.

Gedung SMA Negeri 5 Semarang dulunya merupakan Chinese English School. Pemiliknya adalah Thio Thiam Tjong yang merupakan seorang saudagar yang juga pemilik firma Seng Liong. Thio Thiam Tjong merupakan seorang tokoh demokrasi dan pendiri Universitas Tarumanegara di Jakarta. Saat ini, musoleum atau makam Thio Thiam Tjong terletak di Jalan Sriwijaya, Semarang. Selain itu, Thio Thiam Tjong juga memiliki rumah mewah yang ada di daerah Candi yang didesain oleh Thomas Carsten.

Sedangkan gedung SMA Negeri 3 Semarang didirikan pada tanggal 1 November 1877. Terletak di Jalan Bodjong 149. Awalnya digunakan sebagai HBS (Hogere Bunger School). SMA Negeri 3 memiliki gedung yang megah dan halaman yang luas. Dulu pernah digunakan sebagai SMA III dan IV Semarang. Namun, pada tahun 1978 SMA Negeri IV Semarang dipindahkan ke gedung baru di daerah Banyumanik. Oleh sebab itu, SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 4 Semarang memiliki logo yang sama persis. Karena dulunya kedua sekolah tersebut berlokasi dalam satu gedung.


Kantor Walikota Semarang

Di seberang SMA Negeri 3 Semarang terdapat gedung yang sangat penting bagi Kota Semarang, yaitu kompleks kantor Balaikota Semarang. Kantor Balaikota masih merupakan gedung asli yang memiliki lima pintu utama. Di depan kantor Sekda terdapat pantung Moch. Ichsan yang merupakan walikota Semarang yang pertama.

Kompleks Balaikota Semarang

Kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan Tugu Muda. Trotoar sepanjang Jalan Bodjong cukup luas dan layak untuk para pejalan kaki dan tunanetra. Selain itu, terdapat beberapa pohon asem jawa yang meneduhkan dan menjadi ciri khas Jalan Bodjong sejak dulu. Kata Semarang pun berasal dari asem dan arang yang berarti pohon asam yang tumbuhnya jarang-jarang.


Di kawasan Tugu Muda terdapat beberapa gedung tua yang masih terawat dengan baik, seperti Gedung Lawang Sewu, Gereja Katedral, Museum Mandala Bhakti, dan Wisma Perdamaian. Tugu Muda dibangun pada tahun 1951 hingga 1953 atas perintah Ir. Soekarno untuk mengenang peristiwa pertempuran Lima Hari di Kota Semarang. Bentuk puncak tugu berbentuk api yang menggambarkan semangat pemuda Kota Semarang dalam mengusir penjajah.

Di sebelah selatan Tugu Muda terdapat Gereja Katedral. Dibangun pada 26 Januari 1927. Gereja ini menjadi Gereja Katedral ketika Mgr Soegijapranata diangkat sebagai vikaris apostolik pertama di Semarang. Mgr Soegijapranata merupakan uskup agung pribumi Indonesia pertama. Mgr Soegijapranata juga berjasa menolak permintaan Jepang yang ingin menggunakan Gereja Gedangan sebagai rumah sakit militer.

Gereja Katedral

Di seberang Gereja Katedral terdapat Museum Mandala Bhakti. Kami hanya berjalan mengelilingii museum yang terawat dengan baik ini. Gedung museum awalnya digunakan sebagai Pengadilan Tinggi bagi orang Eropa yang ada di Semarang. Sekarang gedung ini dikelola oleh TNI dan digunakan sebagai museum.

Gedung Lawang Sewu

Gedung yang menjadi tujuan terakhir kami adalah Wisma Perdamaian. Wisma Perdamaian dulunya bernama De Vredestain (Istana Perdamaian). Wisma Perdamaian dulunya dimiliki oleh Nicolas Hartingh, salah satu pejabat VOC. Kemudian digunakan sebagai rumah singgah gubernur jenderal. Wisma Perdamaian juga pernah digunakan sebagai APDN. Saat ini, Wisma Perdamaian dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Gedung Mandala Bhakti

Perjalanan kami menyusuri romantisme Jalan Bodjong pun telah usai. Kami menyempatkan berfoto di tengah zebra cross dengan latar Gedung Lawang Sewu. Kami kembali berjalan kaki menuju meeting point sambil menanti waktu berbuka puasa. Waktu berbuka puasa pun telah tiba dan kami memilih istirahat di salah satu angkringan yang ada di Jalan Bodjong.

Wisma Perdamaian

Aku sangat menikmati perjalanan dengan rute Bodjong Weg ini. Dulu, seorang Belanda pernah bilang bahwa Jalan Bodjong merupakan salah satu jalan paling indah di Pulau Jawa. Namun, bagiku Jalan Bodjong adalah jalan teromantis di Kota Semarang. Jalan yang membentang dari Jembatan Mberok hingga kawasan Tugu Muda ini memberikan suasana berbeda bagiku.

Mulai berjalan kaki di ujung jalan, kita akan langsung disambut oleh Gedung Papak, Kantor Pos Johar, dan Tugu Nol Kilometer Kota Semarang. Belum lagi Gedung Chinese English School, Gedung HBS, Gedung Balaikota dan belasan gedung tua lainnya siap menemani perjalanan kita menyusuri jalan.

Kuliner sepanjang Jalan Bodjong juga patut untuk dicicipi. Diawal perjalanan, kita sudah disuguhi nasi goreng babat. Konon, ini merupakan nasi goreng babat ini merupakan salah satu yang terenak di Kota Semarang. Kamu masih suka nasi goreng khan? Di dekat persimpangan jalan, terdapat Toko Oen. Kamu tahu khan tahu khan Toko Oen..? Toko es krim yang terkenal dengan cita rasa tempo dulunya. Aku juga tahu kalau kamu suka sekali dengan es krim. Selain itu, ada warung lumpia yang terkenal. Sepertinya sesekali kamu perlu coba lezatnya Lumpia Semarang. Di salah satu sudut Jalan Bodjong terdapat penjual soto yang hanya buka pada malam hari. Namun, tak pernah sepi dengan pembeli.

Suasana Toko Oen

Selain gedung tua dan kulinernya, kehidupan orang-orang di Jalan Bodjong sangatlah unik untuk diamati. Siang hari, jalan Bodjong ramai riuh dengan aktivitas pemerintahan, perkantoran, bisnis dan pendidikan. Sedangkan ketika malam hari, Jalan Bodjong dipenuhi aktivitas manusia yang tak kalah riuhnya. Mulai dari para pedagang yang menggelar lapak jualan handphone bekas, gerobak angkringan, para tukang pijat yang menjual jasanya di atas trotoar, hingga anak muda yang kongkow menikmati suasana malam di Jalan Bodjong.

Ini bukan Boyband..!!! (foto by Bersukaria Wallking Tour)

Bagiku Jalan Bodjong bukanlah sekadar jalan. Jalan Bodjong memiliki banyak cerita romantisme. Romantisme yang dikemas dalam bentuk gedung tua, kuliner yang memiliki ciri khas, kehidupan orang-orang di Jalan Bodjong, dan cerita-cerita yang berkembang dari dulu hingga sekarang. Kalau saranku, sesekali kamu perlu menyusuri Jalan Bodjong dan menemukan cerita romantismu sendiri. Jadi kapan kamu ke Semarang (lagi) dan menyusuri romantisme Jalan Bodjong?
Kalau kata temenku yang berasal dari Jogja, Semarang itu singkatan dari Semakin Rindu dan Sayang. Aaah, tentu saja ini cuma guyonan aja atau mungkin doa biar kamu dan yang lainnya selalu ingin (kembali) ke Semarang. Kota yang identik dengan Lawang Sewu, Masjid Agung Jawa Tengah, Sam Poo Kong, dan Kota Lama-nya ini memang memiliki banyak sebutan dan cerita. Dulu, Kota Semarang juga mendapatkan julukan Venice van Java. Selain itu, kawasan Kota Lama mendapat sebutan Little Netherland.

Masjid Menara

Selain beragamnya sebutan untuk Kota Semarang, ternyata Kota Semarang juga merupakan sebuah kota yang memiliki multietnis dan multicultural. Semua etnis di kota ini hidup secara berdampingan dan rukun hingga sekarang. Sedangkan beberapa peninggalan, cerita, dan kearifan lokal yang berhubungan dengan multicultural masih terjaga dengan baik di kota ini.

Aku menerobos kerumunan warga yang sedang ikut meramaikan tradisi Dugderan. Tradisi yang rutin digelar di kota ini dalam rangka untuk menyambut Bulan Ramadhan. Hingga akhirnya aku sampai di depan Kantor Pos Besar Johar. Aah, ternyata teman-teman Bersukaria Walking Tour sudah jalan. Kemudian aku menyusul mereka yang sedang berjalan menuju Kampung Melayu. 
Sore itu aku akan bergabung dengan teman-teman Bersukaria Walking Tour untuk berkeliling Kota Semarang dengan rute Multicultural. Rencananya kami akan menyusuri beberapa peninggalan budaya yang ada di Kota Semarang. Kami meeting point di Kantor Pos Johar. Ini merupakan kantor pos pusat dan tertua yang ada di Kota Semarang. Di seberang kantor pos terdapat Tugu Nol Kilometer Kota Semarang. Destinasi pertama kami adalah Majid Menara yang berada di Kampung Melayu. Oyaa, kali ini yang bertugas sebagai guide adalah Mas Dimas.

Masjid Menara terletak di daerah Kampung Melayu atau Jalan Layur, Semarang. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Kampung Melayu atau Masjid Layur. Masjid Menara dibangun pada tahun 1841 oleh para pedagang yang berasal dari Yaman. Di belakang masjid terdapat Kali Semarang. Kali Semarang ini mengalir melewati daerah Pecinan, Pasar Johar, dan Kampung Melayu. Kali Semarang dulunya berfungsi sebagai jalur perdagangan. Di daerah Kampung Melayu menjadi tempat bersandar kapal-kapal pedagang. Menara masjid dulunya berfungsi sebagai mercusuar.

Masjid Menara yang sedang dicat

Seiring berjalannya waktu, area sekitar masjid mengalami banjir rob sehingga bangunan masjid ditinggikan dan hanya menjadi satu lantai. Bentuk bangunan asli masih tetap terawat dengan baik hingga sekarang. Namun, ada versi lain yang menyebutkan bahwa dulunya bangunan ini merupakan sebuah kantor pelabuhan dan mercusuarnya. Sejak adanya pelabuhan dan mercusuar baru, bangunan ini baru dimanfaatkan sebagai masjid. Masjid ini pun sudah ditetapkan sebaga bangunan cagar budaya. Sedangkan Kali Semarang sudah tidak bisa digunakan sebagai jalur perdagangan.

Salah satu gedung yang mengalami kerusakan parah

Seandainya Kali Semarang diperbaiki dan difungsikan kembali sebagai jalur transportasi sekaligus tempat wisata, bukan tak mungkin Kota Semarang bisa menjadi Venice Van Java (lagi). Jadi kita ga perlu ke Italia hanya untuk naik gondola. Mungkin orang Eropa yang akan ke Kota Semarang. Sugeng rawuh ing Semarang, mister.

Setelah beres di Masjid Menara yang ada di Kampung Melayu, kami melanjutkan perjalanan menuju Gereja Gedangan. Dalam perjalanan itu kami melewati beberapa bangunan kuno dan jadul. Kami melewati Gedung Marabunta. Gedung yang dulu jadi pusat hiburan di Kota Lama. Namun kini sudah tampak nyaris roboh dan tidak terawat. Akhirnya kami tiba di kompleks Gereja Gedangan.

Gereja Gedangan

Gereja Gedangan memiliki nama asli Gereja Santo Yusuf. Terletak di Jalan Ronggowarsito, Semarang. Gereja Gedangan merupakan Gereja Katholik pertama di Kota Semarang. Gereja ini dibangun pada tahun 1870 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels. Pada masa penjajahan Jepang, Gereja Gedangan akan dijadikan sebagai rumah sakit militer. Namun, rencana tersebut ditolak oleh Mgr. Soegijapranata. Mgr. Sogijapranata merupakan Uskup Agung pribumi pertama di Indonesia dengan kantor di Keuskupan Agung Semarang, Gereja Rosario Suci di Randusari.

Bangunan di seberang Gereja Gedangan

Selain gereja, di kompleks Gereja Gedangan juga terdapat gedung paroki, sekolah, gedung susteran, dan kapel. Kami tak bisa memasuki ke dalam Gereja Gedangan karena gereja sedang digunakan untuk ibadah Kenaikan Isa Almasih. Menurutku, kompleks Gereja Gedangan memiliki desain bangunan arsitektur Eropa khas bangunan kolonial. Setelah cukup puas di sini, kami melanjutkan perjalanan menuju GPIB Immanuel Semarang.

Cheerrs...!!!

GPIB Immanuel Semarang mungkin terdengar sangat asing, karena lebih dikenal dengan sebutan Gereja Blenduk. Hal itu dikarenakan bentuk atap yang berbentuk kubah (mblenduk). Dibangun pada tahun 1753 dan terletak di kawasan Kota Lama, tepatnya di Jalan Letjend. Suprapto 32. Gereja Blenduk merupakan gereja Kristen pertama di Jawa Tengah. Meskipun gereja sudah berusia lebih dari 200 tahun, Gereja Blenduk masih terawat dengan baik dan rutin digunakan untuk beribadah. Gereja Blenduk menjadi background favorit pengujung Kota Lama ketika mereka berfoto. Setelah puas foto-foto, kami langsung melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, yaitu Masjid Pekojan.

Langkah kami mulai meninggalkan kawasan Kota Lama untuk menuju kawasan Pecinan. Namun, kami berbelok menuju sebuah gang yang bernama Gang Petolongan. Mas Dimas kemudian menjelaskan jika bahwa sudah sampai di Masjid Pekojan. Masjid Pekojan terletak di Kampung Pekojan yang mayoritas warganya adalah keturunan Pakistan dan Gujurat. Majid ini dibangun ooleh para pedagang yang berasal dari Pakistan dan Gujurat lebih dari 150 tahun yang lalu. Bentuk ruang utama sholat pun masih terjaga keaslianya.

Masjid Pekojan sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Salah satu keunikan masjid ini adalah hidangan Bubur India. Bubur India merupakan bubur yang disajikan oleh pengurus masjid hanya ketika Bulan Ramadhan sebagai menu berbuka puasa. Bubur ini masih menggunakan resep asli dari India. Mumpung ini Bulan Ramadhan, tidak ada salahnya untuk mencicipi Bubur India ini di masjid ini. Seperti yang aku lakukan setiap Ramadhan.

Masjid Pekojan

Hari mulai beranjak petang, kami melanjutkan perjalanan kami menuju destinasi terakhir kami, yaitu Klenteng Tay Kak Sie yang berada di kawasan Pecinan. Jarak antara Masjid Pekojan dengan Klenteng Tay Kak Sie tidak terlalu jauh. Sekitar 10 menit jalan kaki.

Masjid Pekojan

Klenteng Tay Kak Sie terletak di Gang Lombok. Nama “Lombok” berasal dari lokasi klenteng yang dulunya merupakan kebun lombok. Klenteng Tay Kak Sie dibangun pada tahun 1746 dan berada di pinggir Kali Semarang. Pada jaman dahulu, Kali Semarang merupakan jalur utama perdagangan.

Klenteng Tay Kak Sie sering mendapatkan sebutan klenteng para dewa. Hal itu dikarenakan lengkapnya dewa yang berada di klenteng ini. Klenteng Tay Kak Sie juga sering mengadakan pertujukan wayang potehi. Wayang potehi sangatlah unik. Wayang potehi digelar bukan untuk menghibur penonton, namun untuk menghibur para dewa. Wayang potehi hanya digelar pada saat tertentu.

Klenteng Tay Kak Sie

Di sekitar klenteng terdapat warung lumpia yang sangat terkenal, yaitu Lumpia Gang Lombok. Klenteng Tay Kak Sie terbuka untuk umum. Namun, tetaplah jaga ketertiban ketika berkunjung ke tempat ibadah, seperti Klenteng Tay Kak Sie. Aku sangat menyukai bentuk kontruksi di klenteng-klenteng di kawasan Pecinan. Sebgaian besar kontruksinya masih sama dengan pertama kali dibangun. Termasuk kayu-kayu yang menjadi penyangganya yang masih kokoh hingga sekarang. Padahal rata-rata usia klenteng sudah lebih dari 150 tahun.

Hari mulai beranjak malam, kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke meeting point. Kami menyusuri Kali Semarang. Tiba-tiba imajinasiku terbawa ke jaman dulu. Ketika Kali Semarang menjadi jalur utama perdagangan di Semarang. Menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya. Membelah kawasan Pecinan, Kota Lama, dan Kampung Melayu. Hilir mudik perahu-perahu para pedagang menghidupkan suasana kota ini. Namun, kini Kali Semarang hanyalah sebuah kali yang kurang terawat dan mungkin sudah dilupakan tentang ceritanya di masa lalu.

Teman-teman Bersukaria Walking Tour berhasil membawaku mengenal lebih jauh tentang kota Semarang. Mereka masih memiliki beberapa rute yang bisa memberikan pemahaman baru tentang kota ini. Semakin sering mengikuti walking tour ini, maka semakin banyak pengalaman baru yang bisa aku ceritakan kepada teman-temanku tentang kota ini. Mungkin kamu bisa berimajinasi dengan cerita yang aku tulis, namun akan lebih seru ketika kau mengikutinya dan menulis pengalamanmu sendiri.

Sebagai orang asli Kota Semarang, merupakan sesuatu yang penting bagi kita untuk mengenal kota ini. Agar kita paham dan bisa bercerita banyak tentang kota ini. Bagaimana kita bisa bercerita tentang kota kita? Sedangkan kita tak mengenal tentang kota kita sendiri.

Sampai jumpa di rute lainnya…!!!


“Dulu, bangunan itu merupakan sebuah rumah”, ujarku kepada seorang kawan dari Bandung
“Oyaa…?”, tanyanya semakin penasaran
“Iyaa, yang punya dulunya seorang Raja Gula dari Semarang”
“Orang terkaya di Asia Tenggara pada masa itu”
“Permukiman di belakang bangunan itu termasuk halaman belakangnya”, aku menambahkan.
“Wouw, besar sekali kalau begitu”, temanku masih penasaran
“Yaa begitulah, bisa jadi stadion sepak bola ”. Jawabku singkat sambil melanjutkan perjalanan.

Obrolan pagi di hari Sabtu ketika melewati jalan Kyai Saleh, Semarang setelah kami berdua bercengkrama dengan Pecel Bu Sumo yang berada di jalan itu. Menurutku, Pecel Bu Sumo salah satu pecel yang paling enak di Kota Semarang. Apalagi badaknya (badak= bakwan, bala-bala) yang bikin ketagihan. *Badak kok dimakan*. Kamu mau Pecel Bu Sumo juga..? Sini, main ke Semarang dulu yaa.

Aku sering melewati bangunan tua itu dan hanya tahu sedikit tentang sejarahnya. Penasaran sih pasti, tapi mendapatkan informasi yang valid itu jauh lebih penting. Beberapa literasi menjelaskan bahwa dulu pemilik bangunan tersebut adalah Oei Tiong Ham. Seorang Raja Gula dari Semarang di era tahun 1890-an. Aku sering mencari informasi acara yang berisi tentang penelusuran jejak-jejak Sang Raja Gula dari Semarang ini, namun belum aku dapatkan informasi tersebut. Hingga akhirnya setelah 12 purnama, teman-teman dari Bersukaria Walking Tour akan mengadakan acara tersebut dengan tema “Radja Goela”. Tanpa pikir panjang, aku pun mendaftar untuk mengikuti acara tersebut. Tidak lupa aku juga mengajak dua temanku yang kebetulan juga seorang blogger, yaitu Echi dan Liana dari Jakarta.

Taman Menteri Supeno

Kami bertiga langsung bertemu di meeting point di Taman Menteri Supeno (lebih dikenal dengan sebutan Taman KB). Pagi itu, peserta yang ikut sebanyak empat orang, yaitu aku, Echi, Liana, dan Neni. Perjalanan kali ini akan ditemani oleh mas Fauzan yang bertugas sebagai guide. Kami memulai penjalanan dengan menuju ke Jalan Pahlawan. Kami mesti menerobos jalan Menteri Supeno yang pagi itu dibanjiri dengan para pedagang yang hanya berjualan ketika Car Free Day (CFD). Terkadang, para pedagang ini adalah sumber kesemrawutan ketika CFD. Minggu pagi memang bebas dari kendaraan bermotor, namun tidak dengan kebisingan dan kesemrawutan. Dari Jalan Pahlawan inilah Mas Fauzan mulai bercerita tentang Oei Tiong Ham.
Oei Tiong Ham lahir di Semarang pada tanggal 19 November 1866. Oei Tiong Ham merupakan anak dari Oei Tjie Sien dan Tjan Bien Nio. Ayah Oei Tiong Ham merupakan laki-laki yang melakukan pelarian dari Tiongkok menggunakan sebuah kapal yang dia tumpangi hingga tibalah dia di Semarang. Ayah Oei Tiong Ham merupakan pedagang yang sukses dengan perusahaannya bernama Firma Kian Gwan Kongsi. Nah dari ayahnya inilah ilmu bisnis Oei muda didapatkan. Oei Tiong Ham merupakan anak kedua dari delapan bersaudara.

Kami berlima mulai menyusuri Jalan Pahlawan, melewati kantor Gubernur hingga kantor Mapolda Jateng. Mas Fauzan menjelaskan bahwa mulai dari kantor Gubenur Jateng hingga Mapolda Jateng dulunya merupakan halaman belakang dari rumah Oei Tiong Ham. Bahkan kantor Mapolda dulunya merupakan kebun binatang mini milik Oei Tiong Ham. Saking kayanya, namanya juga dijadikan nama sebuah jalan, yaitu Oei Tiong Ham Weg (sekarang Jalan Pahlawan).

Oei Tiong Ham weg (sekarang Jalan Pahlawan)

Selain itu, pada masa itu warga etnis Tionghoa diharuskan tinggal secara berkelompok di wilayah Pecinan. Karena memiliki kekuasaan, Oei Tiong Ham berhasil melobi pemerintah Hindia Belanda agar mengijinkan dia dan keluarganya tinggal di luar kawasan Pecinan. Yaitu di rumahnya yang dikenal dengan sebutan Istana Gergaji.

Sekitar tahun 1900, Oei Tjie Sien meninggal dunia karena sakit jantung. Mulai saat itu, Oei Tiong Ham memegang perusahaan ayahnya, yaitu Kian Gwan Kongsi. Namun sebelum itu, Oei Tiong Ham telah memulai bisnis gula dan candu atau opium. Pada tahun 1890-1904, Oei Tiong Ham menguasai perdagangan candu atau opium. Pada tahun 1893, Oei Tiong Ham mendirikan Oei Tiong Ham Concern setelah mewarisi Kian Gwan Kongsi dari ayahnya pada tahun 1890. Oei Tiong Ham Concern (OTHC) pun berubah menjadi perusahaan konglomerasi terbesar di Hindia Belanda pada awal abad 20.
Baca juga: Blusukan di Segitiga Emas Kota Semarang (Bagian 1)

Kemudian kami berjalan menyusuri Jalan Veteran. Mas Fauzan mengatakan bahwa pada masa itu, komoditas gula merupakan komoditas yang dianggap mewah. Apalagi Oei Tiong Ham memiliki beberapa pabrik gula di Jawa Timur. Pabrik-pabrik gula ini terus berkembang dan menjadi penopang perusahaan Oei Tiong Ham Concern dan menguasai perdagangan gula di Asia. Dari situlah Oei Tiong Ham dijuluki sebagai Raja Gula dari Semarang. Namun, kekayaannya juga didapat dari bisnis candu atau opium dan bisnis lainnya. Seperti asuransi, perbankan, dan properti.

Fokus pada rumah di belakang kami yaa ^^

Akhirnya kami tiba di persimpangan Jalan Veteran dan Jalan Kyai Saleh. Bekas rumah Oei Tiong Ham atau istana Gergaji berada di dekat persimpangan itu. Terlihat sangat megah dan masih berdiri kokoh. Dulu luas rumahnya sekitar 81 hektare. Terdapat beberapa bangunan, taman, kebun, gazebo, hingga kebun binatang. Namun kini hanya tersisa bangunan utamanya. Istana Gergaji sekarang digunakan sebagai Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ingin rasanya masuk ke dalam bangunan tersebut. Namun apalah daya, petugas keamanan tidak mengijinkan kami untuk masuk ke dalam bangunan cagar budaya tersebut.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri gang-gang perkampungan yang ada di sekitar rumah Oei Tiong Ham. Dulunya, perkampungan ini merupakan halaman belakang istana Oei Tiong Ham. Oei Tiong Ham sendiri memiliki 8 istri dan 26 anak. Beuuh, banyak juga yaa istrinya. Namun dari 26 anaknya, hanya 9 orang yang dipercaya untuk meneruskan usahanya. Namun, langkah tersebut terganjal dengan aturan pemerintah Hindia Belanda yang mengatur tentang pembagian secara merata untuk aset dan warisan. Nah, akhirnya Oei Tiong Ham pindah ke Singapura yang pada saat memiliki aturan yang mangakomodasi kehendaknya itu.

Oei Tiong Ham wafat pada tahun 1924, hanya berselang tiga tahun setelah kepindahanya ke Singapura. Setelah Oei Tiong Ham wafat, Oei Tiong Ham Concern pun diambil alih oleh seorang putranya bernama Oei Tjong Hauw. Dibawah kendali Oei Tjong Hauw, Oei Tiong Ham Concern masih bertahan dan berhasil melewati masa-masa sulit. Hingga akhirnya pada tahun 1950, Oei Tjong Hauw meninggal dunia karena serangan jantung.
Setelah meninggalnya Oei Tjong Hauw, bisnis Oei Tiong Ham Concern mengalamai kemunduran. Apalagi pada tahun 1960-an kondisi keamanan, ekonomi dan politik di Indonesia mengalami gejolak. Kejayaan Oei Tiong Ham Concern pun runtuh pada tahun 1964 ketika pemerintah menjatuhkan vonis kejahatan ekonomi dalam bisnis yang dijalankan. Setelah persidangan selama 3 tahun (1961-1964), akhirnya diputuskan bahwa seluruh aset Oei Tiong Ham Concern disita oleh pemerintah RI. Namun, berembus kabar yang mengatakan bahwa vonis tersebut sebagai upaya untuk proses nasionalisasi perusahaan tersebut.

Istana Gergaji. Bekas rumah Oei Tiong Ham

Aset Istana Oei Tiong Ham yang ada di Jalan Kyai Saleh juga diambil alih oleh pemerintah. Aset Oei Tiong Ham Concern pun juga menjadi milik negara, hingga kini dikenal dengan PT. Rajawali Nusindo yang berstatus BUMN dan berkantor di daerah Kota Lama. Oei Tiong Ham Weg juga berganti nama menjadi Jalan Pahlawan.

Rumah klasik yang ada di seberang Istana Gergaji

Di Kota Semarang, nama Oei Tiong Ham mungkin terdengar asing. Padahal Oei Tiong Ham merupakan Raja Gula dan orang terkaya di Asean yang berasal dari Kota Semarang. Di Singapura, nama Oei Tiong Ham sangat dihormati. Bahkan nama beliau jadi nama sebuah gedung dan nama sebuah taman di negara tersebut.


Sungguh ironis. Ketika sebuah kota sedang berkembang dan maju, warganya malah tak mengetahui banyak tentang sejarah kotanya. Apalagi untuk mengetahui tentang sejarah seseorang yang pernah hidup di kota ini. Padahal seorang Raja Gula pernah hidup di kota ini.
Sabtu malam, 6 Mei 2017, langit Kota Semarang, khususnya di Titik Nol Kilometer di dekat Kantor Pos Johar hingga kawasan Tugu Muda terlihat cerah. Tak terlihat awan menggumpal, apalagi langit yang terlihat mendung. Sepertinya sejauh ini para pawang hujan bekerja dengan baik. Kedua kawasan tersebut sudah ramai dengan ribuan penonton yang akan menyaksikan acara Semarang Night Carnival 2017.
Panggung Semarang Night Carnival 2017

Semarang Night Carnival digelar untuk memeriahkan HUT Kota Semarang ke 470 tahun. Pertama kali digelar pada tahun 2010. Tahun ini, Semarang Night Carnival mengambil tema Paras Semarang. Paras Semarang ini diwakili dengan Burung Blekok, Kembang Sepatu, Kuliner dan Lampion. Ada sekitar 400 peserta yang akan menggunakan kostum megah warna-warni berjalan sejauh 1,3 km mulai dari Titik Nol Kilometer hingga Gedung Lawang Sewu.

Drumband Canka Lokananta dari AKMIL

Angka di jam digitalku sudah menunjukkan pukul 19:00, namun tak tampak tanda-tanda acara akan segera dimulai. Padahal sesuai jadwal, acara akan dimulai pada pukul 19:00. Namun apa daya, Pak Walikota belum datang sehingga acara belum bisa dimulai. Mungkin beliau sedang ada jamuan makan malam atau mungkin sedang ada kegiatan yang mesti diselesaikan terlebih dahulu. Namun di sudut lain, ratusan peserta yang mengenakan kostum dengan berat lebih dari 5kg sedang menunggu dengan cemas.

Defile Burung Blekok

Bagaimana tidak cemas, mereka telah menyiapkan semuanya untuk hari ini. Banyak waktu, tenaga, dan materi yang mereka keluarkan untuk membuat acara malam ini menjadi spesial, khususnya untuk warga Kota Semarang. Mereka ingin segera tampil, memamerkan kostum mereka yang telah dibalut dengan rasa kebanggaan. Namun yang ditunggu tak kunjung datang, seseorang yang nantinya akan memberikan sambutan. Rasa-rasa cemas itu kemudian berubah menjadi senyum, ketika dua rombongan bus yang dikawal polisi memasuki tempat acara. Kemudian bersalaman dan menyapa para tamu. Hingga mendarat di tempat duduk yang sudah disediakan. Acara pun segera dimulai. Semarang Night Carnival 2017 is ready to rock you…!!!

Defile Kembang Sepatu

Acara dimulai dengan penampilan drumband Canka Lokananta dari Akademi Militer (Akmil). Mereka membawakan beberapa lagu. Drumband ini terdiri dari empat mayoret, dua laki-laki dan dua perempuan. Sekadar info, dalam waktu tiga tahun terakhir acara Semarang Night Carnival diawali oleh drumband yang berasal dari berbagai instansi. Pada acara Semarang Night Carnival 2015, Drumband Cendrawasih dari Akademi Kepolisian (Akpol). Sedangkan pada tahun lalu, drumband diisi oleh Drumband Gema Perwira Samudra  dari Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang.

Defile Kuliner

Defile pertama yang unjuk kebolehan kostum adalah defile Burung Blekok (aku menyebutnya Burung Kuntul). Burung Blekok ini berwarna putih, memiliki leher dan kaki yang panjang. Hidupnya diatas ranting-ranting pohon yang ada di depan komplek TNI di daerah Srondol. Setiap sore burung-burung ini akan terbang mencari makan di daerah pelabuhan Tanjung Emas. Ketika melintas di atas rumahku, aku sering menghitung jumlah burung yang selalu terbang secara berkelompok itu. Sini kamu main ke Kota Semarang, nanti aku ajak menghitung jumlah Burung Blekok ^^. Burung Blekok telah menjadi ikon Kota Semarang.

Defile Lampion

Defile selanjutnya adalah defile Kembang Sepatu. Defile ini didominasi dengan warna merah dan hijau khas Kembang Sepatu. Warna kostum mereka cetar, selaras dengan senyum mereka. Para peserta diajari untuk selalu tersenyum ketika melihat kamera. Biar para tukang foto bisa menghasilkan foto yang epic.

Peserta dari Kota Sawahlunto; Makasih Uni :))

Setelah defile Kembang Sepatu, ada defile Kuliner. Kostum mereka dilengkapi dengan berbagai pernak-pernik berbentuk kuliner khas Kota Semarang, seperti Lumpia, Bandeng Presto, Wingko Babat, dan Kue Ganjel Rel. Tentu saja itu tiruan, bukan asli. Sehingga tidak bisa dimakan.

Peserta dari Taiwan

Defile selanjutnya adalah defile Lampion. Lampion sudah menjadi khas Kota Semarang sejak tahun 1942 yang dikenal dengan nama dian kurung. Lampion sering digunakan para santri sebagai sumber penerangan menuju masjid ketika malam hari. Defile ini didominasi dengan warna merah.

Peserta dari Taiwan

Selain peserta dari Kota Semarang, peserta Semarang Night Carnival juga diikuti oleh peserta dari kota Sawahlunto dan peserta dari mancanegara. Yaitu dari Taiwan, Thailand, Sri Lanka, dan Korea Selatan. Peserta dari Kota Sawahlunto tampil menggunakan kostum menyerupai bunga matahari.

Peserta Sri Lanka

Para peserta dari Taiwan menampilkan tarian dan berbagai atraksi. Mereka tampil sangat atraktif dan enerjik sehingga mengundang decak kagum dan tepuk tangan dari penonton. Sedangkan yang peserta dari Thailand dan Sri Lanka tampil dengan tarian khas mereka. Penampilan terakhir ditutup dengan penampilan peserta dari Korea Selatan. Terdiri dari lima orang perempuan yang memainkan beberapa alat musik. Salah satunya adalah genderang khas Korea Selatan yang disebut Janggu. Parade defile ditutup dengan penampilan dari para mayoret defile. Semua peserta mesti berjalan kaki menyusuri jalan Pemuda.

Peserta dari Thailand

Meski mengikuti acara dari awal hingga akhir, sebetulnya aku datang terlambat. Seharusnya aku sudah di tempat acara pada pukul 16:00. Seperti tahun sebelumnya. Aku biasa datang lebih awal agar aku bisa mengambil gambar peserta secara detail. Namun tahun ini kurang beruntung. Aku tidak bisa mengambil gambar peserta secara detail karena aku dan kawanku yang berasal dari Jakarta malah terlalu asyik keliling Kota Lama. *Hiiks, sedih

Peserta dari Korea Selatan
Sampai jumpa di Semarang Night Carnival 2018

Seluruh defile telah unjuk kebolehan di depan ribuan penonton, termasuk para tamu dari mancanegara. Mereka berhasil memukau dan menyuguhkan penampilan yang luar biasa. Mereka pasti bangga, begitu juga dengan orang tua dan keluarga mereka. Kami pun terhibur dan terpukau melihat penampilan mereka malam ini. Kalian memang luar biasa. Para penonton mulai meninggalkan tempat acara. Aku dan kawanku berjalan kaki menuju kawasan Kota Lama. Kami berdua menonton kenroncong di salah satu sudut gedung di kawasan itu. Menikmati setiap alunan musik keroncong yang menggema diantara gedung-gedung tua di kawasan Kota Lama. Sampai jumpa di Semarang Night Carnival 2018.
Semarang Night Carnival is ready to rock…!!!