Tuesday, December 11, 2018

Cerita-Cerita dalam Perjalanan Bengkulu-Padang

Setelah menyelesaikan semua laporan pekerjaan, aku berencana untuk pergi ke Kota Padang dan Bukittinggi terlebih dahulu sebelum balik ke Jakarta. Temanku selaku koordinator lapangan memberikan ijin kepadaku. Katanya yang terpenting jangan lupa bawa laptop untuk antisipasi jika ada revisi laporan. Oyaa, sekitar bulan Juli hingga November aku sedang ada pekerjaan di sepanjang jalur Bengkulu hingga Kuala Tungkal, Jambi.

Bus SAN jurusan Bengkulu-Padang
Kota Padang dan Bukittinggi merupakan kota yang ingin aku kunjungi sejak beberapa tahun yang lalu. Namun, baru terlaksana tahun ini. Itu pun juga memanfaatkan kondisi dengan adanya pekerjaan di Bengkulu-Jambi. Perjalanan Bengkulu ke Padang bisa ditempuh menggunakan bus dengan waktu sekitar 15 jam dan tentu dengan biaya yang lebih murah dibandingkan jika aku melakukan perjalanan dari Jakarta. Selain itu, aku juga ingin mencoba melintasi jalur lintas Sumatera. Apalagi bus lintas Sumatera dikenal memiliki kualitas yang bagus.

Pukul 12:00 aku sudah berada di pangkalan bus SAN yang akan berangkat menuju Kota Padang pada pukul 13:00. Tiket bus ke Padang dijual dengan harga Rp 235.000/orang. Dalam perjalanan itu kursi sebelahku ternyata kosong, sehingga aku lebih bebas untuk bergerak. Sekitar pukul 19:00 bus berhenti untuk di salah satu rumah makan di Lubuklinggau untuk istirahat makan dan sholat.

Meskipun bus eksekutif, tiket yang dijual tidak termasuk makan selama perjalanan. Sehingga jika ingin makan, penumpang mesti mengeluarkan uang sendiri. Berbeda dengan bus-bus di Pulau Jawa yang tiketnya sudah termasuk makan. Malam itu aku memilih menu nasi dengan porsi setengah, ikan goreng, dan teh hangat. Setelah selesai makan, aku menuju ke meja kasir untuk membayar. Aku perkirakan makanku habis sekitar Rp 25.000. Eh, ternyata total biaya makanku sebesar Rp 34.000. Ternyata lebih mahal dari perkiraanku. Aku hanya bisa memaklumi, namanya juga dalam perjalanan lintas provinsi.

Perjalanan dilanjutkan kembali, sepanjang perjalanan aku memilih untuk istirahat. Sesekali melihat kondisi sekitar melalui kaca jendela. Pukul 01:00 bus berhenti lagi untuk istirahat sejenak. Kali ini berhenti di Rumah Makan Omega yang terletak di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Selain tempat makan, rumah makan ini juga menyediakan banyak toilet bersih. Terlihat beberapa pengamen yang menyanyikan lagu khas Minang yang diiringi sebuah bansi. Seruling khas Sumatera Barat. Alunan musik yang dimainkan ini seolah-olah memberitahu jika aku sudah memasuki wilayah Sumatera Barat.

Sekitar pukul 06:05 bus SAN telah tiba di pangkalan bus yang ada di Kota Padang. Banyak penumpang yang turun di Kota Padang. Sambil menunggu tasku diturunkan dari bagasi bus, aku bergegas untuk sholat subuh. Setelah selesai sholat, aku kembali menuju parkiran bus. Aku melihat bus sudah tidak ada di parkiran dan tasku juga tidak ada di tempat barang-barang yang diturunkan. Aku mencoba bertanya kepada petugas yang menurunkan barang, dia bilang kalau bus melanjutkan perjalanan ke Kota Pariaman dan kemungkinan tasku terbawa bus menuju Kota Pariaman. Dia juga menganjurkan untuk bertanya kepada sopir bus.

Aku menemui sopir bus dan bilang jika tasku terbawa bus ke arah Kota Pariaman. Sopir bus langsung menelpon kernet yang berada di bus untuk menanyakan keberadaan tasku. Tasku memang terbawa di dalam bus dan memastikan tas dalam keadaan aman. Aku mengira jika pangkalan bus di Padang merupakan pangkalan terakhir, sehingga semua barang akan diturunkan. Namun, ternyata bus masih melanjutkan perjalanan hingga Kota Pariaman.

Aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Pak Anton, sopir bus yang membawaku dari Bengkulu menuju Kota Padang. Termasuk rencanaku untuk menuju Kota Bukittinggi setelah ini. Pak Anton sudah menjadi sopir bus selama lebih dari 15 tahun dengan rute terjauh dari Pekanbaru menuju Surabaya. Kemudian Pak Anton bilang jika bus akan kembali di pool sekitar pukul 11:00. Pak Anton ijin untuk istirahat telebih dahulu karena siang nanti akan mengendarai bus balik ke Bengkulu.

Sambil menunggu bus kembali ke pangkalan, aku memilih untuk berjalan-jalan sebentar. Tempat yang menjadi tujuanku adalah Masjid Raya Sumatera Barat yang terletak tidak jauh dari pangkalan. Pagi itu kota Padang diguyur hujan ritik-rintik. Aku berjalan kaki menyusuri jalanan yang mulai ramai dengan aktivitas warga.

Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat terletak jelas di persimpangan jalan. Aku bertemu dengan Pak Manto, seorang penjuang buah keliling yang tiap hari mangkal di depan masjid. Pak Manto tahu jika aku berasal dari Jawa karena logatku ketika pertama kali menyapanya. Pak Manto merupakan perantauan dari Jawa, tepatnya Jombang. Jawa Timur. Sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Padang dan memiliki empat orang anak. Jika sedang libur, anak terkecilnya yang masih sekolah di bangku SD sering ikut berjualan. Namun, istri beliau telah meninggal dunia karena kecelakaan. Beliau juga bercerita banyak tentang Kota Padang dan Bukittinggi. Termasuk caranya menuju Bukittinggi.



Selanjutnya aku menuju masjid. Ruang utama Masjid Raya Sumatera Barat sedang dalam tahap renovasi. Sehingga aku tidak bisa melihat ruang utama. Tempat sholat sementara dipindahkan di ruang bawah. Bentuk masjid sangatlah unik, tidak seperti masjid pada umumnya yang identik dengan kubah. Masjid ini merupakan masjid terbesar yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Masjid ini juga telah dilengkapi dengan menara. Sebelum balik ke pangkalan bus, aku bertemu lagi dengan Pak Manto. Aku meminta tolong kepada beliau untuk memotretku dengan latar belakang Masjid Raya Sumatera Barat. Aku pamit dan berharap suatu saat bisa berjumpa lagi di sini.

Foto hasil jepretan Pak Manto

Aku melanjutkan perjalanan kembali menuju pangkalan bus. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya bus yang aku tunggu tiba. Aku menghampiri kernet bus dan bertanya tentang tasku. Dengan senang hati mereka mengambilkan tas ranselku. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih dan pamit untuk melanjutkan perjalananku ke Bukittinggi kepada Pak Anton. Dalam kesempatan itu, Pak Anton juga berpesan kepadaku untuk lebih waspada dengan barang bawaan.

*****

Jalanan terlihat sangat ramai ketika aku berada dalam perjalanan balik dari Kota Bukittinggi menuju Bandara Internasional Minangkabau. Rencananya aku akan menginap di penginapan yang berada di sekitar bandara. Keesokan harinya aku mesti balik ke Jakarta dengan penerbangan pukul 07:00. Mobil travel menurunkan aku di depan penginapan.

“Malam mas, ada kamar kosong mas?” tanyaku pada resepsionis hotel
“Waah, mohon maaf mas. Kamarnya penuh semua. Coba ke hotel seberang aja.” Jawab resepsionis itu.
“Okee mas, aku coba kesana. Terima kasih mas.”

Setelah melihat hotel yang berada di seberang hotel tersebut, ternyata hotel tersebut terlihat lebih besar dari hotel tadi. Jadi kemungkinan hotel itu memiliki harga yang lebih mahal. Aku tidak jadi ke sana dan mengecek maps. Terlihat beberapa hotel yang berada tidak jauh dengan lokasiku. Aku mencoba menuju hotel tersebut dengan berjalan kaki.

“Malam mas, ada kamar kosong?” tanyaku pada resepsionis hotel
“Ada mas, tinggal satu kamar yang kosong.” Jawab resepsionis itu
“Berapa mas harga per malamnya?”
“Rp 250.000 per malam”
“Ouw, segitu yaa mas. Oke mas, terima kasih mas.” Jawabku sambil meninggalkan hotel tersebut.

Aku tidak menginap hotel tersebut karena aku merasa harganya tidak sesuai dengan fasilitas yang disediakan. Apalagi aku hanya menginap sebentar, sehingga aku mencari hotel atau penginapan yang sangat terjangkau atau murah. Yang terpenting bisa tidur dan mandi dengan layak. Tak perlu fasilitas yang berlebihan.

Waktu telah menunjukkan pukul 20:00 dan aku belum menemukan penginapan yang sesuai. Aku berpikiran untuk tidur di masjid. Namun, aku memutuskan untuk makan terlebih dahulu di sebuah warung yang berada di pinggir jalan menuju bandara. Di warung yang sederhana itu terlihat sebuah tempat yang biasa digunakan untuk lesehan. Pemilik warung itu bernama Pak Yanuar dan istrinya.

“Pak, di sini masjid di sebelah mana yaa pak?” tanyaku pada Pak Yanuar
“Kalau masjid ada di deket bandara mas, tapi masih jauh dari sini“ jawab Pak Yanuar
“Kalau warungnya bapak tutup jam berapa yaa?”
“Sekitar pukul 23:00 mas. Kalau masih ramai yaa pukul 24:00”
“Begini pak, saya tidak dapat penginapan untuk bermalam. Saya boleh numpang bermalam di warung pak?”
“Boleh mas. Silakan aja kalau mau istirahat di sini.”
“Baik Pak, terima kasih yaa pak”
“Iyaa mas. Kalau tidak, nanti bisa tidur di rumah saja. Rumah saya ada di belakang sana. Takutnya nanti kalau di warung malah ada yang jahil ke mas.” Jawab Pak Yanuar sambil menujuk sebuah rumah yang berada tidak jauh dari warung.

Aku mulai melepaskan ransel yang mulai terasa berat. Tidak lupa aku memesan makanan sambil beristirahat sejenak. Pukul 23:30, Pak Yanuar mengajakku untuk menuju rumahnya. Aku dipersilahkan untuk bersih-bersih terlebih dahulu sebelum istirahat. Keesokan harinya, aku juga akan diantar menuju bandara yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Hanya sekitar 10 menit perjalanan naik motor.



Pukul 05:15 aku sudah bersiap untuk menuju bandara. Hari yang masih gelap dan hujan gerimis menemani perjalananku menuju bandara. Tak banyak percakapan dalam perjalanan karena aku masih mengantuk. Akhirnya aku tiba di bandara. Aku berpamitan sambil memberikan uang kepada beliau sebagai ongkos menuju bandara. Tidak seberapa dibandingkan dengan bantuan yang diberikan oleh Pak Yanuar dan istrinya. Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pagi itu sudah terlihat ramai dengan hilir mudik penumpang. Rasanya penerbanganku kali ini akan terasa spesial karena berangkat bareng belasan jamaah umroh. Mereka terlihat sangat gembira dengan perjalanan ini. Aah, alangkah senangnya jika aku bisa berangkat umroh juga.

Pertemuanku dengan orang-orang baru dengan segala latar belakangnya dan kejadian yang dialami bersama mereka menjadikan perjalananku lebih berwarna dan berkesan. Entah mengapa aku selalu tertarik mendengarkan cerita orang-orang baru yang aku temui dalam setiap perjalananku. Mereka bukanlah seseorang dengan nama besar, namun berkat mereka perjalananku menjadi lebih menarik dan spesial. Terima kasih kepada Pak Anton, Pak Manto, dan Pak Yanuar. Semoga sehat selalu dan panjang umur.

Thursday, October 11, 2018

Kembali Ke Kuala Tungkal

Pagi itu kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Kota Kuala Tungkal. Perjalanan kami mulai dari Kabupaten Muara Sibak. Dua bulan yang lalu aku datang ke Kota Kuala Tungkal dalam rangka pekerjaan. Karena pekerjaan ini pula aku kembali lagi ke Kuala Tungkal.

Dermaga Kuala Tungkal

Sebelum masuk ke kota, aku singgah terlebih dulu di sebuah SPBU. Bukan untuk mengisi bensin, namun untuk numpang mandi. Kamar mandi SPBU tidak terlalu besar, terkesan sempit, namun airnya sangat segar. Yang aku sadari ternyata itu adalah air hujan yang disaring kemudian ditampung dalam wadah. Di sini air bersih sangat susah ditemukan karena merupakan daerah rawa yang memiliki air payau.
Baca dulu: Kuala Tungkal: Cerita Yang Telah Usai

Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Taman PKK yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman. Alat sudah terpasang dengan benar dan mesti terpasang selama enam jam. Taman PKK merupakan salah satu tempat keramaian di kota ini. Jadi aku tak merasa bosan meski harus berada di tempat ini selama enam jam.

Taman PKK Kuala Tungkal

Hari mulai beranjak siang. Aku sudah merasa lapar. Di seberang Taman PKK terdapat sebuah rumah makan masakan Padang. Rumah Makan (RM) Simpang Ampek, begitu nama rumah makan ini. Menu yang disajikan sangat bervariasi dan harganya sangat terjangkau. Seperti rendang, gulai ayam, telor, lele, perkedel, ikan nila, dan ayam bakar. Selain itu, di sini juga menyediakan kepala kakap, ikan pari, ikan bawal, dan cumi. Tentu saja sambal lombok ijo dan daun singkong yang tidak ketinggalan untuk disajikan. Aku memesan nasi ikan pari. Rasanya aku belum pernah makan ikan pari, jadi tidak ada salahnya untuk sekalian mencicipinya di sini. Menurut salah satu pegawainya, rumah makan ini merupakan salah satu yang paling ramai dibandingkan rumah makan lainnya yang ada di Kuala Tungkal. Pemiliknya merupakan orang Minang asli. Kelezatan masakan Minang memang tak perlu diragukan lagi. Tapi, menurutku masakan Minang yang terlezat yang pernah aku makan adalah masakan yang disajikan di sebuah meja makan sebuah keluarga Minang. Tentu saja makan bersama dengan keluarga Minang.
Baca Juga: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang

RM. Simpang Ampek
Menu Masakan di RM Simpang Ampek

Hari mulai beranjak sore, Taman PKK mulai dipenuhi dengan aktivitas warga. Selalu ramai ketika sore hingga malam hari. Ada anak-anak yang sedang bermain bola, ibu-ibu yang sedang momong anaknya, para penjual makanan, mainan, dll. Taman PKK telah berubah menjadi tempat interaksi antar warga. Seperti yang aku alami sore itu. Aku bertemu dengan orang Jawa, tepatnya dari Demak yang merantau dan berjualan mainan di Kuala Tungkal. Dia baru beberapa bulan di sini. Dia juga bilang jika di Kuala Tungkal banyak orang Jawa.

Area Dermaga Kuala Tungkal

Pekerjaanku di Kuala Tungkal telah usai. Sebelum kembali ke Jambi, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke dermaga baru. Hari mulai beranjak petang. Senja mulai menyambut di ufuk barat. Dermaga Kuala Tungkal sangat ramai dengan warga yang ingin menikmati senja. Banyak orang berjualan di sepanjang dermaga. Meja dan kursi berbaris dengan rapi di area dermaga. Aku sengaja memilih meja yang berada di ujung agar bisa menikmati suasana dermaga dan melihat aktivitas kapal nelayan yang lalu lalang.
Baca Juga: Menyapa Kota Pagaralam

Sambil Menikmati Senja
Senja di Kuala Tungkal

Rasanya sangat menyenangkan bisa kembali lagi ke Kuala Tungkal. Melihat segala aktivitas warga yang terdiri dari berbagai suku dan etnis yang membaur jadi satu. Mulai dari etnis Melayu, Jawa, Minang, Batak, Bugis, hingga Tionghoa. Seperti kata seorang warga yang asli Demak, "Di sini aman mas, meskipun terdiri dari berbagai suku, semuanya hidup rukun."

Tuesday, August 14, 2018

Kuala Tungkal: Cerita Yang Telah Usai

"Perjalanan dari Jambi ke Kuala Tungkal sekitar 3-4 jam. Jalan sudah bagus untuk dilewati."
Begitu kata Bang Duty kepada kami berdua, aku dan Bang Tasko. Sesuai rencana, besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan dari Jambi menuju Kuala Tungkal.

Mungkin Kuala Tungkal terdengar asing bagi sebagian orang. Namun tidak bagi temanku. Eeh, bisa dibilang sahabatku juga. Saking dekatnya, dia itu satu-satunya nama kontak di smartphone-ku yang memiliki embel-embel "cantik" di belakang namanya. Yang tidak ada yang seperti itu. Tentu saja dia seorang perempuan. Dulu dia terbiasa dengan nama Kuala Tungkal. Dia yang mengenalkanku dengan Kuala Tungkal. Meskipun dia belum pernah kesana. Mungkin juga tidak akan pernah ke sana.

Selamat Datang di Kuala Tungkal

Oyaa, rencana kedatanganku ke Kuala Tungkal dalam agenda kerja. Namun, aku lebih suka menyebut kerja sekalian jalan-jalan dan silaturahmi. Perjalananku dimulai dari Kota Bengkulu, transit di Kabupaten Sarolangun dan Kota Jambi. Kemudian dilanjutkan menuju Kuala Tungkal. Total jarak yang aku tempuh dari Kota Bengkulu menuju Kuala Tungkal sekitar 600 km. Dalam perjalanan sejauh itu, kami mesti berhenti di beberapa tempat untuk keperluan survei.

Kuala Tungkal terletak di provinsi Jambi dan merupakan ibukota dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabar). Karena merupakan sebuah ibukota kabupaten, kota ini sangat ramai dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Tanjabar. Seperti kota pesisir laut lainnya, perkampungan nelayan dan rumah-rumah panggung masih bisa dijumpai di kota ini.

Ketika transit di Jambi. Aku dan Bang Tasko diajak ngopi bersama teman-teman dari Jambi Backpackers. Tentu saja aku senang sekali bisa bersilaturahmi bersama mereka. Kami saling bertukar cerita dalam banyak hal. Mulai dari traveling, komunitas, hingga agenda perjalanan selanjutnya. Termasuk cerita beberapa hal tentang Kuala Tungkal kepada kami. Dalam sebuah perjalanan ke daerah tertentu, hal yang paling menyenangkan bagiku adalah bisa bersilaturahmi dengan teman-teman yang tinggal di daerah tersebut.
Baca Juga: Menyapa Kota Pagaralam

Ngopi bareng teman-teman Jambi Backpackers

Teriknya sinar matahari menemani perjalanan menuju Kuala Tungkal. Tidak ada bonus sejuknya udara, apalagi penjual durian yang berdagang di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan itu pula kami mesti bersaing dengan truk-truk pengangkut kelapa sawit dan hasil tambang. Jalanan yang kami lalui memiliki kondisi yang bagus dan layak. Banyak perkebunan kelapa sawit dan area tambang yang beroperasi di sekitar Kuala Tungkal. Terlihat juga beberapa tenda komando milik polisi, dan BNPB yang didirikan untuk mengantisipasi kebakaran hutan.

Becak di Kuala Tungkal

Gapura bertuliskan "Selamat Datang di Kuala Tungkal" menyambut kedatangan kami. Kami langsung menuju dermaga pelabuhan Kuala Tungkal. Dermaga menjadi lokasi survei kami di Kuala Tungkal. Hari sudah beranjak senja ketika kami tiba di dermaga. Akhirnya kami menikmati senja di dermaga Kuala Tungkal. Terlihat perahu-perahu nelayan hilir mudik melewati dermaga. Sedangakan anak-anak dengan gembira berenang di dekat dermaga. Senja sore itu dibungkus dengan pengalaman baru dan tempat yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Hari beranjak malam, kami mulai mencari penginapan untuk beristirahat.
Baca Juga: Trekking di Gunung Andong, Kampung Para Pendaki Gunung

KULINER
Masyarakat Kuala Tungkal terdiri dari berbagai suku, seperti suku Jambi, suku Minang, suku Melayu, suku Jawa, dan suku Bugis, menyebabkan kuliner di Kuala Tungkal sangat beraneka ragam. Banyak tempat makan dengan mengusung menu kuliner dari berbagai daerah. Seperti masakan Minang, Jawa, dan Melayu. Bagi yang doyan Sate Padang, di sini banyak gerobak yang menjajakannya. Rumah makan Padang juga berjejer di berbagai sudut kota. Ada sebuah rumah makan Palembang yang terdapat di perempatan jalan yang selalu ramai di tiap malam. Rasa makanannya juga sangat enak.

Senja di Kuala Tungkal

Di Kuala Tungkal banyak warung-warung yang menjual makanan laut. Sebelum memesan, jangan sungkan untuk menanyakan harga dan porsi setiap menu yang ada. Pada malam pertama setibanya di Kuala Tungkal, aku memasuki warung tenda yang menjual makanan laut.
Aku: "Bang, satu porsi ikan kakap harganya berapa?"
Penjual: "Satu porsi Rp 70.000,- Bang"
Aku: "Ouw gitu" (menatap temanku)
     "Ya sudah bang, kami ga jadi pesen. Nanti saja bang. Terima kasih, Bang" Jawabku sambil meninggalkan warung tersebut.

Dermaga Kuala Tungkal

Harga seporsi ikan kakap ternyata tidak sesuai dengan anggaran kami. Akhirnya kami meninggalkan warung tersebut. Untungnya kami tak segan untuk bertanya terlebih dahulu. Dengan begini kami terhindar dari merasa dibohongi tentang harga makanan dan tentu saja defisit anggaran. Malam itu, akhirnya kami makan ayam bakar yang tidak jauh dari Stadion Kuala Tungkal.

*****

Pasar dan dermaga menjadi pusat keramaian  di Kuala Tungkal. Kuala Tungkal juga menyediakan penyeberangan untuk menuju beberapa pulau. Salah satunya adalah Pulau Kijang. Warga yang tinggal di Pulau Kijang sesekali datang ke Kuala Tungkal untuk berbelanja kebutuhan. Kota Kuala Tungkal begitu hidup dan ramai dengan aktivitas perekonomian. Hotel dan penginapan banyak tersedia di kota pesisir ini.
Baca Juga: Menjelajah Kawasan Pecinan, Semarang

Anak-anak berenang di dekat Kuala Tungkal


Malam semakin larut, kami segera kembali ke penginapan. Esok hari kami mesti ke Jambi untuk menjemput seorang kawan yang akan membantu proses survei. Kemudian kembali lagi ke Kota Kuala Tungkal. Lusanya melanjutkan perjalanan menuju Bengkulu. Aku begitu menikmati dua hari di Kuala Tungkal. Pengalaman ini mungkin bisa aku ceritakan kepada sahabatku itu. Dia yang mengenalkanku kepada Kuala Tungkal. meskipun dia tak akan pernah data ke kota kecil ini.

Beberapa tahun yang lalu, dia pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang berasal dari Kuala Tungkal. Namun karena adanya perbedaan prinsip, akhirnya mereka berpisah. Saat ini  mereka hidup nyaman dengan pasangannya masing-masing. Baginya, cerita tentang dia dan Kuala Tungkal telah usai. Namun tidak bagiku. Karena kemungkinan aku datang kembali ke kota ini.

Kuala Tungkal,
3 Agustus 2018

Tuesday, July 31, 2018

Trekking di Gunung Andong, Kampung Para Pendaki Gunung

Setelah tertunda beberapa kali, akhirnya rencana untuk trekking Gunung Andong kembali muncul dalam benak pikiranku. Rencana itu tiba-tiba muncul karena minggu ini tidak banyak kerjaan. Jarak yang tidak jauh dari Kota Semarang juga menjadi pertimbanganku memilih Gunung Andong. Selain itu, ini adalah caraku untuk mengobati rindu akan suasana  sebuah pendakian dan suasana pagi pegunungan. Suasana di gunung saja rindu, apalagi suasana bareng kamu, eehh.

Gunung Andong

Kemudian aku mengajak Mas Tono. Rencana awal kami hanya berangkat berdua. Namun, akhirnya ada beberapa teman yang ikut bergabung. Sabtu malam kami berangkat dari Kota Semarang menuju Dusun Sawit, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang yang merupakan lokasi basecamp dan jalur pendakian Gunung Andong. Jalur Dusun Sawit lebih populer dibandingkan dengan jalur-jalur lainnya. Saat ini, jalur ini dikelola oleh para pemuda dusun yang diberi nama Taruna Jayagiri. Perjalanan menuju basecamp bisa ditempuh dengan waktu 1,5 jam perjalanan dari Kota Semarang.

Gunung Andong terletak di Kabupaten Magelang. Gunung Andong memiliki ketinggian 1726 mdpl. Gunung Andong memiliki beberapa jalur, antara lain adalah jalur dusun Sawit, dusun Gogik, dan dusun Kembangan. Jalur dusun Sawit menjadi jalur favorit bagi para pendaki Gunung Andong.

Sekitar pukul 00:30, kami tiba di basecamp. Salah satu yang unik di Gunung Andong adalah tersedianya banyak tempat untuk istirahat. Rumah-rumah warga bisa digunakan sebagai tempat beristirahat. Terlihat banyak pendaki yang sedang beristirahat. Kami memilih untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum mulai trekking. Sesuai rencana, kami akan trekking pada pukul 04:00.
Pukul 04:00, kami bangun dan bersiap-siap untuk memulai trekking. Tentu saja kami tidak lupa untuk mendaftar dan membayar biaya pendakian di pos registrasi. Setelah dari pos registrasi, kita akan melewati jalur berupa jalan beton perkampungan dan perkebunan warga. Setelah 10 menit, kami tiba di area hutan Gunung Andong. Di sini masih terdapat beberapa warung milik warga. Jajaran pohon pinus dan jalan menanjak mulai menyapa perjalananku. Aku mulai mengatur nafas dan tempo langkah kaki agar tubuh bisa beradaptasi dengan lingkungan dan jalur trekking. Dalam perjalanan aku sering berpapasan dengan pendaki lain. Obrolan santai menemani perjalanan kami.

Pos registrasi Gunung Andong

Tepat pukul 06:10, aku tiba di puncak Gunung Andong. Gunung Andong memiliki tiga puncak, yaitu Puncak Makam, Puncak Andong, dan Puncak Alap-Alap. Karena ramainya pendaki yang mendirikan tenda di puncak, jalur menuju puncak pun dipenuhi dengan tenda. Tentu saja ini sangat berbahaya bagi pendaki lain, karena mereka tidak dapat trekking dengan nyaman dan aman. Dalam perjalanan menuju Puncak Andong, aroma tak sedap (baca: bau pesing) di sebelah kanan dan kiri jalur pendakian. Aku menutup hidungku ketika melewati jalur itu. Aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Tidak hanya aku, pendaki lain pun juga merasakan hal yang sama. Di puncak gunung, ratusan tenda telah berdiri memenuhi area puncak dan jalur pendakian. Saking ramainya, aku menyebutnya "Kampung pendaki di Puncak Gunung Andong".

Tenda di jalur pendakian

Sunrise Gunung Andong

Meskipun ramai, aku tetap berusaha menikmati suasana puncak Gunung Andong. Melihat para pendaki lain yang sedang bersiap-siap menikmati matahari terbit. Senda gurau  dan obrolan para pendaki juga terdengar dari beberapa tenda. Seduhan kopi dan teh menambah kehangatan obrolan para pendaki. Ada pula pendaki yang memilih untuk melanjutkan tidurnya, daripada menikmati suasana pagi di puncak Gunung Andong. Sedangkan aku terus berjalan menuju Puncak Alap-Alap. Bukan untuk menuju puncak yang terjauh, tapi untuk menikmati suasana Gunung Andong dari sisi yang lain.
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Sunrise di Puncak Makam

Akhirnya aku tiba di Puncak Alap-Alap. Dari sini terlihat ratusan tenda para pendaki yang berada di puncak Gunung Andong, sekaligus jalur puncak yang berupa punggungan gunung. Di sisi barat terlihat hamparan awan putih. Kemudian aku kembali ke Puncak Andong untuk bertemu dengan Mas Tono. Kami beristirahat sebentar di salah satu warung yang ada di puncak. Total terdapat tiga warung di puncak Gunung Andong. Keberadaan warung ini seperti "fasilitas" yang ada di Gunung Andong yang menyediakan makanan dan minuman untuk para pendaki. Kami memesan kopi dan beberapa mendoan. Semua bahan makanan, minuman, dan bahan lainnya dibawa dari dari bawah. Meskipun begitu, harga makanan dan minuman masih terjangkau.

Pemandangan dari Puncak Alap-Alap Gunung Andong
Suasana warung

Hari mulai beranjak siang, para pendaki mulai mengemasi perlengkapan mereka dan lanjut kembali ke basecamp. Dalam perjalanan turun, aku menyempatkan untuk menyapa dan mengobrol dengan pendaki lainnya. Salah satunya rombongan pendaki yang berasal dari Bantul. Mereka masih duduk di bangku kelas XI. Berkali-kali mereka foto bareng dan mengabadikan setiap momen. Akhirnya kami ikut gabung untuk foto bareng mereka. Seru dan tentu saja senang melihat mereka begitu semangat dalam mendaki gunung. Kami cuma berpesan kepada mereka untuk saling jaga dan berhati-hati dalam perjalanan pulang ke Bantul.
Baca Juga: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang

Pos 2 Watu Gambir

Setiap akhir pekan, Dusun Sawit selalu ramai dengan para pendaki Gunung Andong. Setiap sudut desa dipenuhi dengan para pendaki. Terdapat gapura yang terbuat dari bekas botol air mineral. Dengan adanya pendaki, desa ini terlihat lebih maju. Namun, juga perlu diantisipasi dampak negatifnya karena semakin banyaknya pendaki. Seperti rusaknya ekosistem dan permasalahan sampah.
Gapura botol bekas

Gunung Andong memang memiliki area puncak yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Seperti yang aku bilang di awal, Gunung Andong bisa didaki tanpa mendirikan tenda. Namun, beberapa hal yang menjadi pertimbanganku untuk tidak mendirikan di puncak:
1. Puncak Gunung Andong berupa punggungan. Hal ini sangat beresiko ketika terjadi angin kencang, hujan dan badai. Tidak ada penghalang yang melindungi tenda dari ancaman badai.
2.  Banyaknya pendaki membuat pendaki mesti berangkat lebih awal agar mendapatkan area camping.
3. Jarak yang tidak jauh dari basecamp menuju puncak memungkinkan pendaki memiliki banyak pilihan waktu untuk mendaki. Aku sarankan pas subuh agar bisa menikmati suasana matahari terbit dari puncak Gunung Andong.
4. Keberadaan dari warung di puncak gunung sangat berguna untuk mengurangi logistik saat pendakian. Sehingga tidak perlu camping dan membawa peralatan memasak.
5. Dengan tidak camping di puncak, berarti mengurangi potensi kerusakan ekosistem di puncak Gunung Andong.



Puncak gunung bukanlah tujuan dalam sebuah pendakian. Menikmati semua proses dan kembali ke rumah dengan selamat adalah sebuah tujuan dari pendakian.
Selamat mendaki
Mendakilah dengan aman.

Gunung Andong
14 Juli 2018

Sunday, July 1, 2018

Menyapa Kota Pagaralam

Pesawat Wings jenis ATR 72-600 berhasil mendarat dengan sempurna di landasan Bandara Atung Bungsu, Kota Pagaralam. Pesawat yang memiliki sekitar 70 tempat duduk ini membawa kami dari Bandara Sultan Badaruddin II, Kota Palembang.  Penerbangan  dari Kota Palembang menuju Kota Pagaralam berlangsung selama 45 menit. Aku berada di Kota Pagaralam karena ada suatu pekerjaan dengan perkiraan waktu selama tiga minggu. Aku tidak akan bercerita tentang tempat tempat wisata, karena aku tidak sedang berwisata di kota ini. Apalagi tentang pekerjaanku di sana. Namun, aku akan bercerita tentang beberapa hal yang aku temui di kota ini.

Tulisan Pagaralam yang terletak di Tugu Rimau

Kota Pagaralam merupakan kota yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Dahulu Pagaralam masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Lahat. Namun, sekitar tahun 2001 Pagaralam mengalami pemekaran menjadi sebuah kota mandiri. Kota Pagaralam bisa dijangkau melalui jalur darat dengan waktu sekitar 6-7 jam dari Palembang. Pagaralam tidak terletak di jalur barat, timur, dan tengah Pulau Sumatera. Sehingga kota ini bukanlah kota yang ramai, apalagi macet. Malah cenderung sepi. Sekitar pukul 21:00, jalanan di kota ini mulai sepi. Wilayah Pagaralam dikelilingi oleh perbukitan dan pegunungan. Yang paling terkenal adalah Gunung DempoSehingga udara di kota ini sangat sejuk, dingin, tenang, dan ramah. Cocok sebagai tempat untuk menikmati hari tua.


Bandara Atung Bungsu, Kota Pagaralam

Gunung Dempo
Bagi sebagian besar pendaki gunung di wilayah Sumatera Selatan dan sekitarnya tentu tidak asing dengan Gunung Dempo. Jalur pendakian gunung ini terletak di Kota Pagaralam. Salah satunya adalah jalur Tugu Rimau. Tempat ini bisa dikenali dari tulisan "Pagaralam" yang bisa dilihat dari kawasan kota. Selain itu, terdapat patung harimau dan seekor burung di kawasan Tugu Rimau.
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo


Tugu Rimau yang diselimuti kabut
Pemandangan Gunung Dempo dari halaman rumah warga

Perjalanan menuju Tugu Rimau bisa ditempuh dalam waktu satu jam perjalanan dari pusat kota. Sepanjang perjalanan bakal disuguhi dengan hamparan kebun teh dan jalan yang berkelok-kelok. Khas jalan sebuah daerah pegunungan. Kebetulan wilayah kerjaku juga terletak di daerah yang mengarah ke Gunung Dempo. Kabut dan sejuknya udara selalu menemani perjalananku.

Pemandangan kebun teh dari Tugu Rimau
Gunung Dempo yang tertutup awan

Gunung Dempo merupakan gunung berapi yang masih aktif. Seringkali aku menikmati pemandangan Gunung Dempo ketika pagi atau sore hari. Terkadang kabut dan awan membuat gunung ini menarik untuk dipandangi. Pemandangan Gunung Dempo ini bisa dinikmati dari penjuru Kota Pagaralam. Kalau menurutku, Gunung Dempo adalah Kota Pagaralam, dan Pagaralam adalah Gunung Dempo. Bahkan nama Gunung Dempo digunakan sebagai nama brand sebuah kopi di Pagaralam.

Kopi Pagaralam
Ketika kita bicara tentang kopi Sumatera, hal pertama yang selalu terlintas dalam pikiran adalah kopi Gayo, kopi Aceh, kopi Sumatera Utara, dan kopi Lampung. Padahal beberapa daerah di Pulau Sumatera merupakan penghasil kopi dengan kualitas yang baik, salah satunya adalah Pagaralam. Bahkan, beberapa biji kopi yang diolah di Lampung juga dikirim dari Pagaralam. Begitulah yang diceritakan oleh salah satu petani kopi yang bertemu denganku di desa Dempo Makmur.

Kemungkinan para petani belum terbiasa mengolah biji kopi dan memilih untuk menjual biji kopi kering ke daerah lain, seperti Lampung. Sekali kirim bisa lebih dari seratus kilogram. Mereka masih berpikir yang terpenting masih bisa panen, bisa langsung menjualnya untuk mendapatkan penghasilan. Aku pernah menyarankan untuk mengolah biji kopi tersebut agar harga jualnya bisa lebih tinggi. Selain itu, ini merupakan salah satu cara mengenalkan Kopi Pagaralam kepada masyarakat luas.
Baca Juga: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang

Kota Pagaralam menghasilkan kopi jenis robusta yang memiliki rasa dan wangi yang istimewa. Perkebunan kopi terhampar luas. Pernah aku disuruh singgah di rumah seorang warga. Kami berbincang banyak hal. Kemudian aku disuguhi kopi yang dihasilkan dari kebunnya. Beliau juga menyuguhkan pisang yang baru dipetik dari kebunnya.
"Silahkan diminum kopinya mas, itu kopi dan pisang dari kebun kami." ujar beliau menawariku.

Aku juga pernah dijamu di rumah seorang ketika menunggu hujan reda. Seperti biasa suguhan secangkir kopi menemani obrolan kami. Bahkan, aku meminta menambah satu cangkir lagi. Nama pemilik rumah tersebut adalah mas Imam. Kedua orang tua mas Imam adalah perantauan yang berasal dari Boyolali. Beliau masih bisa berbahasa Jawa. Kami sesekali mengobrol menggunakan Bahasa Jawa. Rumah Mas Imam memiliki bentuk dasar rumah panggung. Namun, rumah diubah menjadi rumah dua lantai. Lantai pertama menggunakan bahan baku semen. Sedangkan lantai dua menggunakan kayu. Tinggi plafon di lantai pertama juga tidak tinggi. Sekitar 2.25 meter. Hal ini dilakukan agar ruangan di lantai pertama tetap hangat, meskipun rumah berada di daerah perbukitan dan perkebunan teh yang memiliki udara yang dingin. Apalagi ketika hujan.

Kebun teh di depan rumah Mas Imam

Pernah di siang hari yang hujan deras, aku menumpang berteduh di salah satu rumah warga. Aku dipersilahkan untuk masuk ke rumah. Namun, aku memilih untuk berada di teras rumah. Aku ingin menikmati hujan dan pemandangan Gunung Dempo. Suguhan kopi dan kue menemani obrolan santai kami. Dalam obrolan itu, aku baru tahu ternyata istri pemilik rumah berasal dari Magelang.
"Matur suwun nggih bu kopine" ujarku pada istri pemilik rumah.
"Inggih mas, monggo kopine diunjuk rumiyin" jawabnya dengan bahasa Jawa juga.

Gunung Dempo ketika hujan

Beliau bercerita bahwa beberapa petani kopi mulai mengolah biji kopi menjadi kopi bubuk. Kemudian mengemas dan memasarkannya ke beberapa daerah, salah satunya Palembang. Beberapa kopi juga dijual di pasar di dekat kota.

Ketika belanja di salah satu toko di pasar, aku melihat bungkusan kopi Pagaralam dengan merk Gunung Dempo. Aku membeli dua bungkus untuk diminum di mess. Kopi tersebut dikemas dalam plastik yang cukup sederhana dengan sablon bergambar Gunung Dempo. Namun soal rasa, kopi ini memiliki rasa yang enak dan nyaman diperut. Aku punya masalah dengan asam lambung, tapi tak mengalami masalah ketika meminum kopi Pagaralam.

Kopi Pagaralam merk Gunung Dempo

Cerita kopi ini pun berlanjut ketika aku singgah di Palembang sebelum kembali ke Jakarta. Aku bertemu dengan teman-temanku yang tinggal di Palembang di kedai kopi. Kedai kopi ini merupakan milik salah satu temanku. Di kedai kopi ini menyediakan Kopi Pagaralam. Dia bilang jika kopi Pagaralam memiliki kualitas yang baik.


Ngopi dulu gan..!!!

Selain sebagai penghasil kopi terbesar di Sumatera Selatan, Pagaralam juga menghasilkan berbagai hasil pertanian dan perkebunan. Antara lain aneka sayuran, teh, wortel, kubis, dan kentang. Aku pernah diberi 1kg wortel oleh warga yang sedang memanen sayuran wortel di kebun mereka. Mungkin ibunya tahu kalau aku suka wortel.

*****

Sebetulanya banyak sekali destinasi wisata yang bisa dikunjungi ketika berkunjung ke Kota Pagaralam. Sebagian besar merupakan wisata alam. Mulai dari gunung, bukit, air terjun/curug, kebun teh, hingga kegiatan rafting. Selain itu, terdapat beberapa situs sejarah jaman megalitikum yang tersebar di beberapa lokasi. Bahkan, beberapa batuan terletak di area persawahan warga. Aku hampir tiap hari melihat situs-situs tersebut. Dalam perjalanan itu, aku juga sangat tertarik dengan keberadaan sebuah rumah panggung yang terletak di area persawahan dengan latar belakang Gunung Dempo. Sungguh menyenangkan ketika membuka jendela di pagi hari langsung disuguhi pemandangan hijaunya sawah dan birunya langit Gunung Dempo.
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Rumah panggung di tengah persawahan

Selama di Pagaralam, aku tidak menemukan kuliner yang sangat khas dari kota ini. Kuliner di Pagaralam tidak jauh beda dengan kota-kota di Sumatera Selatan. Di kota ini juga mudah ditemui makanan pempek dan model. Lengkap dengan  cukonya. Oyaa, di Pagaralam banyak yang berjualan bakso. Mungkin karena Pagaralam yang begitu dingin, oleh sebab itu banyak masyarakat yang berjualan bakso.

Setelah berkeliling untuk mencari makan, akhirnya aku singgah di CFC. CFC ini merupakan satu-satunya restoran cepat saji yang ada di Pagaralam. Ada yang lainnya, tapi belum setenar CFC, apalagi McDonalds dan KFC. Beberapa kali aku dan teman-temanku singgah di sini. Biasanya ketika kami ingin makan banyak, enak, dan murah.

Full Team

Kota Pagaralam memang tak pernah masuk daftar kota yang ingin aku kunjungi atau tinggali dalam beberapa waktu. Namun, di kota ini aku malah mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru. Mulai dari Gunung Dempo, Tugu Rimau, kopi, teh, dan keramahan masyarakatnya. Ini semua jauh melebihi dari apa yang aku bayangkan dari kota kecil ini. Aah, dahulu tak pernah terpikir dalam benakku untuk menyapa Kota Pagaralam. Tapi aku sangat menikmati ketika tinggal di kota kecil ini. Semoga aku bisa menyapamu lagi di lain waktu.

Kota Pagaralam, November 2017

Saturday, June 23, 2018

Pawai Ogoh-Ogoh di Kota Semarang

Pawai Ogoh-Ogoh selalu identik Pulau Bali yang selalu diselenggarakan sebelum Hari Raya Nyepi bagi umat beragama Hindu. Seiring berjalannya waktu, Pawai Ogoh-Ogoh juga digelar oleh umar beragama Hindu yang berada di daerah lain. Salah satunya adalah Kota Semarang. Pawai Ogoh-Ogoh sudah digelar sebanyak tujuh kali. Pawai Ogoh-Ogoh di Kota Semarang sedikit berbeda dengan Pawai Ogoh-Ogoh yang ada di Bali. Namun, kedua pawai ini memiliki tujuan yang sama, yaitu mengusir roh jahat.

Patung Ogoh-Ogoh di kawasan Balaikota Semarang

Satu jam sebelum acara Pawai Ogoh-Ogoh dimulai, Kota Semarang diguyur hujan deras. Hal itu menyebabkan terjadi beberapa genangan di jalan protokol Kota Semarang. Aku yang berencana untuk berangkat lebih awal, akhirnya aku harus menunda keberangkatan hingga hujan reda. Sesuai jadwal, Pawai Ogoh-Ogoh dimulai pada pukul 14:00 hingga pukul 17:00. Sekitar pukul 14:00, hujan mulai reda. Aku langsung memacu motorku menuju kawasan Nol Kilometer Kota Semarang. Berharap acara belum dimulai. Namun, ternyata sepanjang rute pawai telah dipenuhi oleh masyarakat yang sangat antusias untuk menonton pawai.
Baca Juga: Walking Tour: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang


Patung Ogoh-Ogoh ketika diarak

Aku bergegas untuk mengejar rombongan pawai. Ini merupakan pengalaman pertamaku melihat Pawai Ogoh-Ogoh secara langsung. Dalam perjalanan itu, aku bertemu dengan beberapa temanku yang juga sedang berburu foto Pawai Ogoh-Ogoh. Selain Pawai Ogoh-Ogoh, acara ini merupakan acara Karnaval Seni Budaya Lintas Agama. Tidak hanya diikuti oleh umat Hindu, tapi juga umat agama lainnya. Acara Pawai Ogoh-Ogoh ini didukung oleh Disbudpar Kota Semarang dan Kementrian Pariwisata.

Salah satu peserta Pawai Ogoh-Ogoh

Ogoh-Ogoh menggambarkan wujud kepribadian Bhuta Kala. Yang berarti sebuah kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tidak terukur dan terbantahkan. Biasanya Bhuta Kala diwujudkan dalam bentuk raksasa yang besar dan menakutkan. Oyaa, nama Ogoh-Ogoh berasal dari bahasa Bali, yaitu Ogah-Ogah yang berarti mengguncang dan mewakili kejahatan yang perlu dijauhkan dari manusia. Di Pulau Bali, Pawai Ogoh-Ogoh selalu rutin diadakan menjelang Hari Raya Nyepi dengan tujuan untuk mengusir roh jahat dengan cara diarak dan kemudian dibakar. Jumlah Ogoh-Ogoh yang diarak cukup banyak dan bentuknya beraneka ragam. 
Baca Juga: Menyusuri Sejarah Kereta Api di Kota Semarang


Bhuta Kala Rahwana dan Nara Singa
Bhuta Kala Cula

Di Pawai Ogoh-Ogoh ini, patung yang dibawa terdiri dari tiga jenis. Yaitu Bhuta Kala Cula, Bhuta Kala Rahwana, dan Nara Singa. Patung-patung ini diarak oleh belasan orang sepanjang Jalan Pemuda. Mulai dari Titik Nol Kota Semarang menuju kawasan Balaikota Semarang. Berbeda dengan Pawai Ogoh-Ogoh di Pulau Bali, pawai di Kota Semarang diselenggarakan setelah Hari Raya Nyepi. Tujuannya juga untuk mengusir roh jahat dan sekaligus sebagai media untuk menjaga kerukunan antar umat agama dan masyarakat.

Bhuta Kala Rahwana
Nara Singa

Acara pawai juga dimeriahkan dengan penampilan drama sendratari dengan lakon Rahwana Galau yang dibawakan oleh sanggar tari Saraswati. Judul lakon memang dibuat lebih kekinian, tapi alur cerita tidak jauh dengan Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Berbeda dengan alur cerita yang dibawakan oleh Mbah Tejo (Presiden Republik Jancukers).
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Kalau menurut Mbah Tejo, Rahwana itu tidak pernah menculik Dewi Sinta. Namun, Dewi Sinta-lah yang ingin diculik oleh Rahwana karena Dewi Sinta merasa bosan dengan Rama yang begitu baik. Sedangkan Rahwana terlihat lebih sangar dan bad boy. Sehingga Dewi Sinta juga ingin merasakan kehidupan bersama Rahwana yang begitu berbeda dengan Rama. Kehidupan yang penuh warna dan jauh dari kebosanan ingin dirasakan oleh Sinta ketika hidup bersama Rahwana. Cerita-cerita tentang Rahwana dan Dewi Sinta dalam versi Mbah Tedjo bisa dibaca di novel Rahvayana: Aku Lala Padamu.

Sendratari Rahwana Galau

Hari mulai beranjak petang. Sebuah pesan di smartphone menyapaku. Sebuah pesan dari dia. Dia meminta tolong untuk diantar ke rumah sakit karena merasa tidak enak badan. Aku bergegas pergi meninggalkan kawasan Balaikota, meskipun acara belum selesai. Kemudian meluncur menuju rumahnya. Rumah yang selalu teduh dan tersenyum menyambut setiap kedatanganku. Hai Kamu, semoga lekas sembuh.


Semarang, 25 Maret 2018

Monday, May 28, 2018

Tempat Wisata di Solo Dan Sekitarnya Yang Sedang Ngehits

Liburan di Solo memang identik dengan wisata sejarah, wisata belanja batik, dan wisata kuliner yang tersebar di berbagai sudut kota. Untuk wisata sejarah kita bisa berkunjung ke Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran.  Kemudian perjalanan berburu batik bisa kita lakukan di Kampung Laweyan dan Pasar Klewer. Di Kampung Laweyan kita bisa melihat dan belajar cara pembuatan batik.

Curug Grojogan Sewu (sumber: trover.com/u/gyen09) 

Setelah kita belajar sejarah dan belanja batik, kita bisa menikmati berbagai kuliner yang ada di Kota Solo, mulai dari srabi notosuman, selat Solo, soto gading, tengkleng, sate buntel, cambuk rambak, sate kere, hingga nasi liwet Solo. Beberapa tempat kuliner buka hingga tengah malam. Tapi sebenarnya Solo juga memiliki banyak tempat wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi.

Selat Solo 

Selain wisata sejarah, wisata belanja batik, dan wisata kuliner, Solo juga memiliki wisata alam yang tidak kalah cantik dari kota-kota lainnya di Indonesia. Pilihannya memang tak terlalu banyak, namun semuanya layak untuk masuk daftar tempat liburan kamu ke Solo nantinya.

Untuk kamu penyuka suara gemuruh air,  air terjun Gerojogan Sewu adalah salah satu tempat wisata di Solo legendaris yang wajib kamu datangi. Sejak puluhan tahun silam, Gerojogan Sewu sudah ramai dikunjungi wisatawan. Baik dari kota Solo sendiri, maupun para turis dari luar kota, bahkan luar negeri. Tak heran traveloka.com juga merekomendasikan air terjun ini bagi wisatawan yang mencintai suasana alam. Air terjun yang terletak di Tawangmangu, Karanganyar ini memang cantik. Meski lokasinya tak tepat di wilayah Solo, namun karena jaraknya yang dekat, maka selalu jadi tujuan wisatawan yang liburan ke kota ini.

Wisata ke kawasan pegunungan dengan udara sejuk yang menyegarkan pastinya disukai oleh siapa saja. Ada Gunung Sepikul yang terletak di wilayah Sukoharjo. Dinamakan Gunung Sepikul karena dari kejauhan, dua batu besar yang ada di kawasan ini tampak seperti pikulan (alat angkut yang berbentuk seperti timbangan).

Gunung Sepikul (sumber: Rizki Fandy Pratama/wikipedia.org)

Pemandangan utama dari Gunung Sepikul adalah matahari terbit alias sunrise yang amat cantik. Karena itu, sangat disarankan untuk berangkat ke sana sebelum subuh, agar bisa melihat pemandangan luar biasa indah ketika matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur.

Kemudian kita bisa bertolak ke Wonogiri, tepatnya di daerah Sendang ada Puncak Joglo yang dikenal juga dengan nama Puncak Gantole. Pemandangan yang menghampar di hadapan bukit ini adalah Waduk Gajah Mungkur yang menjadi sumber perairan di Kota Solo, dengan udara sejuk yang memikat.

Olahraga gantole

Dinamakan Puncak Gantole karena kawasan ini menjadi tempat landasan pacu untuk olahraga gantole. Tapi karena pemandangan dari landasan pacunya sangat cantik, membuat Puncak Gantole tidak hanya ramai oleh para atlet, tapi juga jadi jujugan wisatawan yang sedang liburan di Solo dan sekitarnya.

Air terjun lain yang kerap dikunjungi adalah  Air Terjun Jumog. Sejuknya udara di sekitar air terjun ini membuat banyak wisatawan seolah merasa bahwa tempat ini adalah sebuah surga yang selama ini tak menampakkan dirinya. Berada di Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Air Terjun Jumog pastinya memanjakan mata.

Air Terjun Jumog (sumber:Ami Rosemarwati/wisataberjo.com)

Pemandangan alam di sekitar kawasan air terjun yang indah, penuh dengan pepohonan nan menghijau. Sementara air yang terjun dari puncak tebingnya amat jernih, yang kemudian mengalir ke sungai penuh bebatuan di sekitar kawasan wisata alam di Solo ini.

Tidak jauh dari Air Terjun Jumog, ada air terjun lain yang tidak kalah cantiknya, yaitu Air Terjun Parang Ijo. Lokasi air terjun ini berada di kawasan Gunung Lawu, dengan ketinggian sekitar 60 meter dan memiliki air yang sangat jernih. Udara sejuk langsung menyeruak begitu kamu memasuki kawasan wisata yang berada di Karanganyar ini. Di sisi kanan dan kiri air terjun terdapat pepohonan dan tumbuhan yang menghijau, membuat pemandangannya tampak segar.

Kebun Teh Kemuning

Ketika berada di kabupaten Karanganyar, kita juga bisa berkunjung ke Candi Sukuh dan Candi Cetho. Kedua candi tersebut memiliki corak budaya agama Hindu. Di Candi Cetho kita bisa menikmati pemandangan matahari terbenam dari kawasan candi. Dalam perjalanan menuju Candi Cetho, kita bisa menyempatkan diri untuk berkunjung ke kebun teh Kemuning. Terdapat beberapa kedai the yang bisa kita singgahi dalam perjalanan. Salah satunya adalah Kedai teh Ndoro Donker. Tentu saja hal itu sangat menyenangkan karena kita bisa menyeduh teh sambal menikmati pemandangan hamparan kebun teh.

Solo dan sekitarnya memang memesona. Jadi, kapan kamu liburan ke sini?