Tuesday, August 14, 2018

Kuala Tungkal: Cerita Yang Telah Usai

"Perjalanan dari Jambi ke Kuala Tungkal sekitar 3-4 jam. Jalan sudah bagus untuk dilewati."
Begitu kata Bang Duty kepada kami berdua, aku dan Bang Tasko. Sesuai rencana, besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan dari Jambi menuju Kuala Tungkal.

Mungkin Kuala Tungkal terdengar asing bagi sebagian orang. Namun tidak bagi temanku. Eeh, bisa dibilang sahabatku juga. Saking dekatnya, dia itu satu-satunya nama kontak di smartphone-ku yang memiliki embel-embel "cantik" di belakang namanya. Yang tidak ada yang seperti itu. Tentu saja dia seorang perempuan. Dulu dia terbiasa dengan nama Kuala Tungkal. Dia yang mengenalkanku dengan Kuala Tungkal. Meskipun dia belum pernah kesana. Mungkin juga tidak akan pernah ke sana.

Selamat Datang di Kuala Tungkal

Oyaa, rencana kedatanganku ke Kuala Tungkal dalam agenda kerja. Namun, aku lebih suka menyebut kerja sekalian jalan-jalan dan silaturahmi. Perjalananku dimulai dari Kota Bengkulu, transit di Kabupaten Sarolangun dan Kota Jambi. Kemudian dilanjutkan menuju Kuala Tungkal. Total jarak yang aku tempuh dari Kota Bengkulu menuju Kuala Tungkal sekitar 600 km. Dalam perjalanan sejauh itu, kami mesti berhenti di beberapa tempat untuk keperluan survei.

Kuala Tungkal terletak di provinsi Jambi dan merupakan ibukota dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabar). Karena merupakan sebuah ibukota kabupaten, kota ini sangat ramai dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Tanjabar. Seperti kota pesisir laut lainnya, perkampungan nelayan dan rumah-rumah panggung masih bisa dijumpai di kota ini.

Ketika transit di Jambi. Aku dan Bang Tasko diajak ngopi bersama teman-teman dari Jambi Backpackers. Tentu saja aku senang sekali bisa bersilaturahmi bersama mereka. Kami saling bertukar cerita dalam banyak hal. Mulai dari traveling, komunitas, hingga agenda perjalanan selanjutnya. Termasuk cerita beberapa hal tentang Kuala Tungkal kepada kami. Dalam sebuah perjalanan ke daerah tertentu, hal yang paling menyenangkan bagiku adalah bisa bersilaturahmi dengan teman-teman yang tinggal di daerah tersebut.
Baca Juga: Menyapa Kota Pagaralam

Ngopi bareng teman-teman Jambi Backpackers

Teriknya sinar matahari menemani perjalanan menuju Kuala Tungkal. Tidak ada bonus sejuknya udara, apalagi penjual durian yang berdagang di pinggir jalan. Sepanjang perjalanan itu pula kami mesti bersaing dengan truk-truk pengangkut kelapa sawit dan hasil tambang. Jalanan yang kami lalui memiliki kondisi yang bagus dan layak. Banyak perkebunan kelapa sawit dan area tambang yang beroperasi di sekitar Kuala Tungkal. Terlihat juga beberapa tenda komando milik polisi, dan BNPB yang didirikan untuk mengantisipasi kebakaran hutan.

Becak di Kuala Tungkal

Gapura bertuliskan "Selamat Datang di Kuala Tungkal" menyambut kedatangan kami. Kami langsung menuju dermaga pelabuhan Kuala Tungkal. Dermaga menjadi lokasi survei kami di Kuala Tungkal. Hari sudah beranjak senja ketika kami tiba di dermaga. Akhirnya kami menikmati senja di dermaga Kuala Tungkal. Terlihat perahu-perahu nelayan hilir mudik melewati dermaga. Sedangakan anak-anak dengan gembira berenang di dekat dermaga. Senja sore itu dibungkus dengan pengalaman baru dan tempat yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Hari beranjak malam, kami mulai mencari penginapan untuk beristirahat.
Baca Juga: Trekking di Gunung Andong, Kampung Para Pendaki Gunung

KULINER
Masyarakat Kuala Tungkal terdiri dari berbagai suku, seperti suku Jambi, suku Minang, suku Melayu, suku Jawa, dan suku Bugis, menyebabkan kuliner di Kuala Tungkal sangat beraneka ragam. Banyak tempat makan dengan mengusung menu kuliner dari berbagai daerah. Seperti masakan Minang, Jawa, dan Melayu. Bagi yang doyan Sate Padang, di sini banyak gerobak yang menjajakannya. Rumah makan Padang juga berjejer di berbagai sudut kota. Ada sebuah rumah makan Palembang yang terdapat di perempatan jalan yang selalu ramai di tiap malam. Rasa makanannya juga sangat enak.

Senja di Kuala Tungkal

Di Kuala Tungkal banyak warung-warung yang menjual makanan laut. Sebelum memesan, jangan sungkan untuk menanyakan harga dan porsi setiap menu yang ada. Pada malam pertama setibanya di Kuala Tungkal, aku memasuki warung tenda yang menjual makanan laut.
Aku: "Bang, satu porsi ikan kakap harganya berapa?"
Penjual: "Satu porsi Rp 70.000,- Bang"
Aku: "Ouw gitu" (menatap temanku)
     "Ya sudah bang, kami ga jadi pesen. Nanti saja bang. Terima kasih, Bang" Jawabku sambil meninggalkan warung tersebut.

Dermaga Kuala Tungkal

Harga seporsi ikan kakap ternyata tidak sesuai dengan anggaran kami. Akhirnya kami meninggalkan warung tersebut. Untungnya kami tak segan untuk bertanya terlebih dahulu. Dengan begini kami terhindar dari merasa dibohongi tentang harga makanan dan tentu saja defisit anggaran. Malam itu, akhirnya kami makan ayam bakar yang tidak jauh dari Stadion Kuala Tungkal.

*****

Pasar dan dermaga menjadi pusat keramaian  di Kuala Tungkal. Kuala Tungkal juga menyediakan penyeberangan untuk menuju beberapa pulau. Salah satunya adalah Pulau Kijang. Warga yang tinggal di Pulau Kijang sesekali datang ke Kuala Tungkal untuk berbelanja kebutuhan. Kota Kuala Tungkal begitu hidup dan ramai dengan aktivitas perekonomian. Hotel dan penginapan banyak tersedia di kota pesisir ini.
Baca Juga: Menjelajah Kawasan Pecinan, Semarang

Anak-anak berenang di dekat Kuala Tungkal


Malam semakin larut, kami segera kembali ke penginapan. Esok hari kami mesti ke Jambi untuk menjemput seorang kawan yang akan membantu proses survei. Kemudian kembali lagi ke Kota Kuala Tungkal. Lusanya melanjutkan perjalanan menuju Bengkulu. Aku begitu menikmati dua hari di Kuala Tungkal. Pengalaman ini mungkin bisa aku ceritakan kepada sahabatku itu. Dia yang mengenalkanku kepada Kuala Tungkal. meskipun dia tak akan pernah data ke kota kecil ini.

Beberapa tahun yang lalu, dia pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang berasal dari Kuala Tungkal. Namun karena adanya perbedaan prinsip, akhirnya mereka berpisah. Saat ini  mereka hidup nyaman dengan pasangannya masing-masing. Baginya, cerita tentang dia dan Kuala Tungkal telah usai. Namun tidak bagiku. Karena kemungkinan aku datang kembali ke kota ini.

Kuala Tungkal,
3 Agustus 2018

Tuesday, July 31, 2018

Trekking di Gunung Andong, Kampung Para Pendaki Gunung

Setelah tertunda beberapa kali, akhirnya rencana untuk trekking Gunung Andong kembali muncul dalam benak pikiranku. Rencana itu tiba-tiba muncul karena minggu ini tidak banyak kerjaan. Jarak yang tidak jauh dari Kota Semarang juga menjadi pertimbanganku memilih Gunung Andong. Selain itu, ini adalah caraku untuk mengobati rindu akan suasana  sebuah pendakian dan suasana pagi pegunungan. Suasana di gunung saja rindu, apalagi suasana bareng kamu, eehh.

Gunung Andong

Kemudian aku mengajak Mas Tono. Rencana awal kami hanya berangkat berdua. Namun, akhirnya ada beberapa teman yang ikut bergabung. Sabtu malam kami berangkat dari Kota Semarang menuju Dusun Sawit, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang yang merupakan lokasi basecamp dan jalur pendakian Gunung Andong. Jalur Dusun Sawit lebih populer dibandingkan dengan jalur-jalur lainnya. Saat ini, jalur ini dikelola oleh para pemuda dusun yang diberi nama Taruna Jayagiri. Perjalanan menuju basecamp bisa ditempuh dengan waktu 1,5 jam perjalanan dari Kota Semarang.

Gunung Andong terletak di Kabupaten Magelang. Gunung Andong memiliki ketinggian 1726 mdpl. Gunung Andong memiliki beberapa jalur, antara lain adalah jalur dusun Sawit, dusun Gogik, dan dusun Kembangan. Jalur dusun Sawit menjadi jalur favorit bagi para pendaki Gunung Andong.

Sekitar pukul 00:30, kami tiba di basecamp. Salah satu yang unik di Gunung Andong adalah tersedianya banyak tempat untuk istirahat. Rumah-rumah warga bisa digunakan sebagai tempat beristirahat. Terlihat banyak pendaki yang sedang beristirahat. Kami memilih untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum mulai trekking. Sesuai rencana, kami akan trekking pada pukul 04:00.
Pukul 04:00, kami bangun dan bersiap-siap untuk memulai trekking. Tentu saja kami tidak lupa untuk mendaftar dan membayar biaya pendakian di pos registrasi. Setelah dari pos registrasi, kita akan melewati jalur berupa jalan beton perkampungan dan perkebunan warga. Setelah 10 menit, kami tiba di area hutan Gunung Andong. Di sini masih terdapat beberapa warung milik warga. Jajaran pohon pinus dan jalan menanjak mulai menyapa perjalananku. Aku mulai mengatur nafas dan tempo langkah kaki agar tubuh bisa beradaptasi dengan lingkungan dan jalur trekking. Dalam perjalanan aku sering berpapasan dengan pendaki lain. Obrolan santai menemani perjalanan kami.

Pos registrasi Gunung Andong

Tepat pukul 06:10, aku tiba di puncak Gunung Andong. Gunung Andong memiliki tiga puncak, yaitu Puncak Makam, Puncak Andong, dan Puncak Alap-Alap. Karena ramainya pendaki yang mendirikan tenda di puncak, jalur menuju puncak pun dipenuhi dengan tenda. Tentu saja ini sangat berbahaya bagi pendaki lain, karena mereka tidak dapat trekking dengan nyaman dan aman. Dalam perjalanan menuju Puncak Andong, aroma tak sedap (baca: bau pesing) di sebelah kanan dan kiri jalur pendakian. Aku menutup hidungku ketika melewati jalur itu. Aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Tidak hanya aku, pendaki lain pun juga merasakan hal yang sama. Di puncak gunung, ratusan tenda telah berdiri memenuhi area puncak dan jalur pendakian. Saking ramainya, aku menyebutnya "Kampung pendaki di Puncak Gunung Andong".

Tenda di jalur pendakian

Sunrise Gunung Andong

Meskipun ramai, aku tetap berusaha menikmati suasana puncak Gunung Andong. Melihat para pendaki lain yang sedang bersiap-siap menikmati matahari terbit. Senda gurau  dan obrolan para pendaki juga terdengar dari beberapa tenda. Seduhan kopi dan teh menambah kehangatan obrolan para pendaki. Ada pula pendaki yang memilih untuk melanjutkan tidurnya, daripada menikmati suasana pagi di puncak Gunung Andong. Sedangkan aku terus berjalan menuju Puncak Alap-Alap. Bukan untuk menuju puncak yang terjauh, tapi untuk menikmati suasana Gunung Andong dari sisi yang lain.
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Sunrise di Puncak Makam

Akhirnya aku tiba di Puncak Alap-Alap. Dari sini terlihat ratusan tenda para pendaki yang berada di puncak Gunung Andong, sekaligus jalur puncak yang berupa punggungan gunung. Di sisi barat terlihat hamparan awan putih. Kemudian aku kembali ke Puncak Andong untuk bertemu dengan Mas Tono. Kami beristirahat sebentar di salah satu warung yang ada di puncak. Total terdapat tiga warung di puncak Gunung Andong. Keberadaan warung ini seperti "fasilitas" yang ada di Gunung Andong yang menyediakan makanan dan minuman untuk para pendaki. Kami memesan kopi dan beberapa mendoan. Semua bahan makanan, minuman, dan bahan lainnya dibawa dari dari bawah. Meskipun begitu, harga makanan dan minuman masih terjangkau.

Pemandangan dari Puncak Alap-Alap Gunung Andong
Suasana warung

Hari mulai beranjak siang, para pendaki mulai mengemasi perlengkapan mereka dan lanjut kembali ke basecamp. Dalam perjalanan turun, aku menyempatkan untuk menyapa dan mengobrol dengan pendaki lainnya. Salah satunya rombongan pendaki yang berasal dari Bantul. Mereka masih duduk di bangku kelas XI. Berkali-kali mereka foto bareng dan mengabadikan setiap momen. Akhirnya kami ikut gabung untuk foto bareng mereka. Seru dan tentu saja senang melihat mereka begitu semangat dalam mendaki gunung. Kami cuma berpesan kepada mereka untuk saling jaga dan berhati-hati dalam perjalanan pulang ke Bantul.
Baca Juga: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang

Pos 2 Watu Gambir

Setiap akhir pekan, Dusun Sawit selalu ramai dengan para pendaki Gunung Andong. Setiap sudut desa dipenuhi dengan para pendaki. Terdapat gapura yang terbuat dari bekas botol air mineral. Dengan adanya pendaki, desa ini terlihat lebih maju. Namun, juga perlu diantisipasi dampak negatifnya karena semakin banyaknya pendaki. Seperti rusaknya ekosistem dan permasalahan sampah.
Gapura botol bekas

Gunung Andong memang memiliki area puncak yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Seperti yang aku bilang di awal, Gunung Andong bisa didaki tanpa mendirikan tenda. Namun, beberapa hal yang menjadi pertimbanganku untuk tidak mendirikan di puncak:
1. Puncak Gunung Andong berupa punggungan. Hal ini sangat beresiko ketika terjadi angin kencang, hujan dan badai. Tidak ada penghalang yang melindungi tenda dari ancaman badai.
2.  Banyaknya pendaki membuat pendaki mesti berangkat lebih awal agar mendapatkan area camping.
3. Jarak yang tidak jauh dari basecamp menuju puncak memungkinkan pendaki memiliki banyak pilihan waktu untuk mendaki. Aku sarankan pas subuh agar bisa menikmati suasana matahari terbit dari puncak Gunung Andong.
4. Keberadaan dari warung di puncak gunung sangat berguna untuk mengurangi logistik saat pendakian. Sehingga tidak perlu camping dan membawa peralatan memasak.
5. Dengan tidak camping di puncak, berarti mengurangi potensi kerusakan ekosistem di puncak Gunung Andong.



Puncak gunung bukanlah tujuan dalam sebuah pendakian. Menikmati semua proses dan kembali ke rumah dengan selamat adalah sebuah tujuan dari pendakian.
Selamat mendaki
Mendakilah dengan aman.

Gunung Andong
14 Juli 2018

Sunday, July 1, 2018

Menyapa Kota Pagaralam

Pesawat Wings jenis ATR 72-600 berhasil mendarat dengan sempurna di landasan Bandara Atung Bungsu, Kota Pagaralam. Pesawat yang memiliki sekitar 70 tempat duduk ini membawa kami dari Bandara Sultan Badaruddin II, Kota Palembang.  Penerbangan  dari Kota Palembang menuju Kota Pagaralam berlangsung selama 45 menit. Aku berada di Kota Pagaralam karena ada suatu pekerjaan dengan perkiraan waktu selama tiga minggu. Aku tidak akan bercerita tentang tempat tempat wisata, karena aku tidak sedang berwisata di kota ini. Apalagi tentang pekerjaanku di sana. Namun, aku akan bercerita tentang beberapa hal yang aku temui di kota ini.

Tulisan Pagaralam yang terletak di Tugu Rimau

Kota Pagaralam merupakan kota yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Dahulu Pagaralam masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Lahat. Namun, sekitar tahun 2001 Pagaralam mengalami pemekaran menjadi sebuah kota mandiri. Kota Pagaralam bisa dijangkau melalui jalur darat dengan waktu sekitar 6-7 jam dari Palembang. Pagaralam tidak terletak di jalur barat, timur, dan tengah Pulau Sumatera. Sehingga kota ini bukanlah kota yang ramai, apalagi macet. Malah cenderung sepi. Sekitar pukul 21:00, jalanan di kota ini mulai sepi. Wilayah Pagaralam dikelilingi oleh perbukitan dan pegunungan. Yang paling terkenal adalah Gunung DempoSehingga udara di kota ini sangat sejuk, dingin, tenang, dan ramah. Cocok sebagai tempat untuk menikmati hari tua.


Bandara Atung Bungsu, Kota Pagaralam

Gunung Dempo
Bagi sebagian besar pendaki gunung di wilayah Sumatera Selatan dan sekitarnya tentu tidak asing dengan Gunung Dempo. Jalur pendakian gunung ini terletak di Kota Pagaralam. Salah satunya adalah jalur Tugu Rimau. Tempat ini bisa dikenali dari tulisan "Pagaralam" yang bisa dilihat dari kawasan kota. Selain itu, terdapat patung harimau dan seekor burung di kawasan Tugu Rimau.
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo


Tugu Rimau yang diselimuti kabut
Pemandangan Gunung Dempo dari halaman rumah warga

Perjalanan menuju Tugu Rimau bisa ditempuh dalam waktu satu jam perjalanan dari pusat kota. Sepanjang perjalanan bakal disuguhi dengan hamparan kebun teh dan jalan yang berkelok-kelok. Khas jalan sebuah daerah pegunungan. Kebetulan wilayah kerjaku juga terletak di daerah yang mengarah ke Gunung Dempo. Kabut dan sejuknya udara selalu menemani perjalananku.

Pemandangan kebun teh dari Tugu Rimau
Gunung Dempo yang tertutup awan

Gunung Dempo merupakan gunung berapi yang masih aktif. Seringkali aku menikmati pemandangan Gunung Dempo ketika pagi atau sore hari. Terkadang kabut dan awan membuat gunung ini menarik untuk dipandangi. Pemandangan Gunung Dempo ini bisa dinikmati dari penjuru Kota Pagaralam. Kalau menurutku, Gunung Dempo adalah Kota Pagaralam, dan Pagaralam adalah Gunung Dempo. Bahkan nama Gunung Dempo digunakan sebagai nama brand sebuah kopi di Pagaralam.

Kopi Pagaralam
Ketika kita bicara tentang kopi Sumatera, hal pertama yang selalu terlintas dalam pikiran adalah kopi Gayo, kopi Aceh, kopi Sumatera Utara, dan kopi Lampung. Padahal beberapa daerah di Pulau Sumatera merupakan penghasil kopi dengan kualitas yang baik, salah satunya adalah Pagaralam. Bahkan, beberapa biji kopi yang diolah di Lampung juga dikirim dari Pagaralam. Begitulah yang diceritakan oleh salah satu petani kopi yang bertemu denganku di desa Dempo Makmur.

Kemungkinan para petani belum terbiasa mengolah biji kopi dan memilih untuk menjual biji kopi kering ke daerah lain, seperti Lampung. Sekali kirim bisa lebih dari seratus kilogram. Mereka masih berpikir yang terpenting masih bisa panen, bisa langsung menjualnya untuk mendapatkan penghasilan. Aku pernah menyarankan untuk mengolah biji kopi tersebut agar harga jualnya bisa lebih tinggi. Selain itu, ini merupakan salah satu cara mengenalkan Kopi Pagaralam kepada masyarakat luas.
Baca Juga: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang

Kota Pagaralam menghasilkan kopi jenis robusta yang memiliki rasa dan wangi yang istimewa. Perkebunan kopi terhampar luas. Pernah aku disuruh singgah di rumah seorang warga. Kami berbincang banyak hal. Kemudian aku disuguhi kopi yang dihasilkan dari kebunnya. Beliau juga menyuguhkan pisang yang baru dipetik dari kebunnya.
"Silahkan diminum kopinya mas, itu kopi dan pisang dari kebun kami." ujar beliau menawariku.

Aku juga pernah dijamu di rumah seorang ketika menunggu hujan reda. Seperti biasa suguhan secangkir kopi menemani obrolan kami. Bahkan, aku meminta menambah satu cangkir lagi. Nama pemilik rumah tersebut adalah mas Imam. Kedua orang tua mas Imam adalah perantauan yang berasal dari Boyolali. Beliau masih bisa berbahasa Jawa. Kami sesekali mengobrol menggunakan Bahasa Jawa. Rumah Mas Imam memiliki bentuk dasar rumah panggung. Namun, rumah diubah menjadi rumah dua lantai. Lantai pertama menggunakan bahan baku semen. Sedangkan lantai dua menggunakan kayu. Tinggi plafon di lantai pertama juga tidak tinggi. Sekitar 2.25 meter. Hal ini dilakukan agar ruangan di lantai pertama tetap hangat, meskipun rumah berada di daerah perbukitan dan perkebunan teh yang memiliki udara yang dingin. Apalagi ketika hujan.

Kebun teh di depan rumah Mas Imam

Pernah di siang hari yang hujan deras, aku menumpang berteduh di salah satu rumah warga. Aku dipersilahkan untuk masuk ke rumah. Namun, aku memilih untuk berada di teras rumah. Aku ingin menikmati hujan dan pemandangan Gunung Dempo. Suguhan kopi dan kue menemani obrolan santai kami. Dalam obrolan itu, aku baru tahu ternyata istri pemilik rumah berasal dari Magelang.
"Matur suwun nggih bu kopine" ujarku pada istri pemilik rumah.
"Inggih mas, monggo kopine diunjuk rumiyin" jawabnya dengan bahasa Jawa juga.

Gunung Dempo ketika hujan

Beliau bercerita bahwa beberapa petani kopi mulai mengolah biji kopi menjadi kopi bubuk. Kemudian mengemas dan memasarkannya ke beberapa daerah, salah satunya Palembang. Beberapa kopi juga dijual di pasar di dekat kota.

Ketika belanja di salah satu toko di pasar, aku melihat bungkusan kopi Pagaralam dengan merk Gunung Dempo. Aku membeli dua bungkus untuk diminum di mess. Kopi tersebut dikemas dalam plastik yang cukup sederhana dengan sablon bergambar Gunung Dempo. Namun soal rasa, kopi ini memiliki rasa yang enak dan nyaman diperut. Aku punya masalah dengan asam lambung, tapi tak mengalami masalah ketika meminum kopi Pagaralam.

Kopi Pagaralam merk Gunung Dempo

Cerita kopi ini pun berlanjut ketika aku singgah di Palembang sebelum kembali ke Jakarta. Aku bertemu dengan teman-temanku yang tinggal di Palembang di kedai kopi. Kedai kopi ini merupakan milik salah satu temanku. Di kedai kopi ini menyediakan Kopi Pagaralam. Dia bilang jika kopi Pagaralam memiliki kualitas yang baik.


Ngopi dulu gan..!!!

Selain sebagai penghasil kopi terbesar di Sumatera Selatan, Pagaralam juga menghasilkan berbagai hasil pertanian dan perkebunan. Antara lain aneka sayuran, teh, wortel, kubis, dan kentang. Aku pernah diberi 1kg wortel oleh warga yang sedang memanen sayuran wortel di kebun mereka. Mungkin ibunya tahu kalau aku suka wortel.

*****

Sebetulanya banyak sekali destinasi wisata yang bisa dikunjungi ketika berkunjung ke Kota Pagaralam. Sebagian besar merupakan wisata alam. Mulai dari gunung, bukit, air terjun/curug, kebun teh, hingga kegiatan rafting. Selain itu, terdapat beberapa situs sejarah jaman megalitikum yang tersebar di beberapa lokasi. Bahkan, beberapa batuan terletak di area persawahan warga. Aku hampir tiap hari melihat situs-situs tersebut. Dalam perjalanan itu, aku juga sangat tertarik dengan keberadaan sebuah rumah panggung yang terletak di area persawahan dengan latar belakang Gunung Dempo. Sungguh menyenangkan ketika membuka jendela di pagi hari langsung disuguhi pemandangan hijaunya sawah dan birunya langit Gunung Dempo.
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Rumah panggung di tengah persawahan

Selama di Pagaralam, aku tidak menemukan kuliner yang sangat khas dari kota ini. Kuliner di Pagaralam tidak jauh beda dengan kota-kota di Sumatera Selatan. Di kota ini juga mudah ditemui makanan pempek dan model. Lengkap dengan  cukonya. Oyaa, di Pagaralam banyak yang berjualan bakso. Mungkin karena Pagaralam yang begitu dingin, oleh sebab itu banyak masyarakat yang berjualan bakso.

Setelah berkeliling untuk mencari makan, akhirnya aku singgah di CFC. CFC ini merupakan satu-satunya restoran cepat saji yang ada di Pagaralam. Ada yang lainnya, tapi belum setenar CFC, apalagi McDonalds dan KFC. Beberapa kali aku dan teman-temanku singgah di sini. Biasanya ketika kami ingin makan banyak, enak, dan murah.

Full Team

Kota Pagaralam memang tak pernah masuk daftar kota yang ingin aku kunjungi atau tinggali dalam beberapa waktu. Namun, di kota ini aku malah mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru. Mulai dari Gunung Dempo, Tugu Rimau, kopi, teh, dan keramahan masyarakatnya. Ini semua jauh melebihi dari apa yang aku bayangkan dari kota kecil ini. Aah, dahulu tak pernah terpikir dalam benakku untuk menyapa Kota Pagaralam. Tapi aku sangat menikmati ketika tinggal di kota kecil ini. Semoga aku bisa menyapamu lagi di lain waktu.

Kota Pagaralam, November 2017

Saturday, June 23, 2018

Pawai Ogoh-Ogoh di Kota Semarang

Pawai Ogoh-Ogoh selalu identik Pulau Bali yang selalu diselenggarakan sebelum Hari Raya Nyepi bagi umat beragama Hindu. Seiring berjalannya waktu, Pawai Ogoh-Ogoh juga digelar oleh umar beragama Hindu yang berada di daerah lain. Salah satunya adalah Kota Semarang. Pawai Ogoh-Ogoh sudah digelar sebanyak tujuh kali. Pawai Ogoh-Ogoh di Kota Semarang sedikit berbeda dengan Pawai Ogoh-Ogoh yang ada di Bali. Namun, kedua pawai ini memiliki tujuan yang sama, yaitu mengusir roh jahat.

Patung Ogoh-Ogoh di kawasan Balaikota Semarang

Satu jam sebelum acara Pawai Ogoh-Ogoh dimulai, Kota Semarang diguyur hujan deras. Hal itu menyebabkan terjadi beberapa genangan di jalan protokol Kota Semarang. Aku yang berencana untuk berangkat lebih awal, akhirnya aku harus menunda keberangkatan hingga hujan reda. Sesuai jadwal, Pawai Ogoh-Ogoh dimulai pada pukul 14:00 hingga pukul 17:00. Sekitar pukul 14:00, hujan mulai reda. Aku langsung memacu motorku menuju kawasan Nol Kilometer Kota Semarang. Berharap acara belum dimulai. Namun, ternyata sepanjang rute pawai telah dipenuhi oleh masyarakat yang sangat antusias untuk menonton pawai.
Baca Juga: Walking Tour: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang


Patung Ogoh-Ogoh ketika diarak

Aku bergegas untuk mengejar rombongan pawai. Ini merupakan pengalaman pertamaku melihat Pawai Ogoh-Ogoh secara langsung. Dalam perjalanan itu, aku bertemu dengan beberapa temanku yang juga sedang berburu foto Pawai Ogoh-Ogoh. Selain Pawai Ogoh-Ogoh, acara ini merupakan acara Karnaval Seni Budaya Lintas Agama. Tidak hanya diikuti oleh umat Hindu, tapi juga umat agama lainnya. Acara Pawai Ogoh-Ogoh ini didukung oleh Disbudpar Kota Semarang dan Kementrian Pariwisata.

Salah satu peserta Pawai Ogoh-Ogoh

Ogoh-Ogoh menggambarkan wujud kepribadian Bhuta Kala. Yang berarti sebuah kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tidak terukur dan terbantahkan. Biasanya Bhuta Kala diwujudkan dalam bentuk raksasa yang besar dan menakutkan. Oyaa, nama Ogoh-Ogoh berasal dari bahasa Bali, yaitu Ogah-Ogah yang berarti mengguncang dan mewakili kejahatan yang perlu dijauhkan dari manusia. Di Pulau Bali, Pawai Ogoh-Ogoh selalu rutin diadakan menjelang Hari Raya Nyepi dengan tujuan untuk mengusir roh jahat dengan cara diarak dan kemudian dibakar. Jumlah Ogoh-Ogoh yang diarak cukup banyak dan bentuknya beraneka ragam. 
Baca Juga: Menyusuri Sejarah Kereta Api di Kota Semarang


Bhuta Kala Rahwana dan Nara Singa
Bhuta Kala Cula

Di Pawai Ogoh-Ogoh ini, patung yang dibawa terdiri dari tiga jenis. Yaitu Bhuta Kala Cula, Bhuta Kala Rahwana, dan Nara Singa. Patung-patung ini diarak oleh belasan orang sepanjang Jalan Pemuda. Mulai dari Titik Nol Kota Semarang menuju kawasan Balaikota Semarang. Berbeda dengan Pawai Ogoh-Ogoh di Pulau Bali, pawai di Kota Semarang diselenggarakan setelah Hari Raya Nyepi. Tujuannya juga untuk mengusir roh jahat dan sekaligus sebagai media untuk menjaga kerukunan antar umat agama dan masyarakat.

Bhuta Kala Rahwana
Nara Singa

Acara pawai juga dimeriahkan dengan penampilan drama sendratari dengan lakon Rahwana Galau yang dibawakan oleh sanggar tari Saraswati. Judul lakon memang dibuat lebih kekinian, tapi alur cerita tidak jauh dengan Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Berbeda dengan alur cerita yang dibawakan oleh Mbah Tejo (Presiden Republik Jancukers).
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Kalau menurut Mbah Tejo, Rahwana itu tidak pernah menculik Dewi Sinta. Namun, Dewi Sinta-lah yang ingin diculik oleh Rahwana karena Dewi Sinta merasa bosan dengan Rama yang begitu baik. Sedangkan Rahwana terlihat lebih sangar dan bad boy. Sehingga Dewi Sinta juga ingin merasakan kehidupan bersama Rahwana yang begitu berbeda dengan Rama. Kehidupan yang penuh warna dan jauh dari kebosanan ingin dirasakan oleh Sinta ketika hidup bersama Rahwana. Cerita-cerita tentang Rahwana dan Dewi Sinta dalam versi Mbah Tedjo bisa dibaca di novel Rahvayana: Aku Lala Padamu.

Sendratari Rahwana Galau

Hari mulai beranjak petang. Sebuah pesan di smartphone menyapaku. Sebuah pesan dari dia. Dia meminta tolong untuk diantar ke rumah sakit karena merasa tidak enak badan. Aku bergegas pergi meninggalkan kawasan Balaikota, meskipun acara belum selesai. Kemudian meluncur menuju rumahnya. Rumah yang selalu teduh dan tersenyum menyambut setiap kedatanganku. Hai Kamu, semoga lekas sembuh.


Semarang, 25 Maret 2018

Monday, May 28, 2018

Tempat Wisata di Solo Dan Sekitarnya Yang Sedang Ngehits

Liburan di Solo memang identik dengan wisata sejarah, wisata belanja batik, dan wisata kuliner yang tersebar di berbagai sudut kota. Untuk wisata sejarah kita bisa berkunjung ke Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran.  Kemudian perjalanan berburu batik bisa kita lakukan di Kampung Laweyan dan Pasar Klewer. Di Kampung Laweyan kita bisa melihat dan belajar cara pembuatan batik.

Curug Grojogan Sewu (sumber: trover.com/u/gyen09) 

Setelah kita belajar sejarah dan belanja batik, kita bisa menikmati berbagai kuliner yang ada di Kota Solo, mulai dari srabi notosuman, selat Solo, soto gading, tengkleng, sate buntel, cambuk rambak, sate kere, hingga nasi liwet Solo. Beberapa tempat kuliner buka hingga tengah malam. Tapi sebenarnya Solo juga memiliki banyak tempat wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi.

Selat Solo 

Selain wisata sejarah, wisata belanja batik, dan wisata kuliner, Solo juga memiliki wisata alam yang tidak kalah cantik dari kota-kota lainnya di Indonesia. Pilihannya memang tak terlalu banyak, namun semuanya layak untuk masuk daftar tempat liburan kamu ke Solo nantinya.

Untuk kamu penyuka suara gemuruh air,  air terjun Gerojogan Sewu adalah salah satu tempat wisata di Solo legendaris yang wajib kamu datangi. Sejak puluhan tahun silam, Gerojogan Sewu sudah ramai dikunjungi wisatawan. Baik dari kota Solo sendiri, maupun para turis dari luar kota, bahkan luar negeri. Tak heran traveloka.com juga merekomendasikan air terjun ini bagi wisatawan yang mencintai suasana alam. Air terjun yang terletak di Tawangmangu, Karanganyar ini memang cantik. Meski lokasinya tak tepat di wilayah Solo, namun karena jaraknya yang dekat, maka selalu jadi tujuan wisatawan yang liburan ke kota ini.

Wisata ke kawasan pegunungan dengan udara sejuk yang menyegarkan pastinya disukai oleh siapa saja. Ada Gunung Sepikul yang terletak di wilayah Sukoharjo. Dinamakan Gunung Sepikul karena dari kejauhan, dua batu besar yang ada di kawasan ini tampak seperti pikulan (alat angkut yang berbentuk seperti timbangan).

Gunung Sepikul (sumber: Rizki Fandy Pratama/wikipedia.org)

Pemandangan utama dari Gunung Sepikul adalah matahari terbit alias sunrise yang amat cantik. Karena itu, sangat disarankan untuk berangkat ke sana sebelum subuh, agar bisa melihat pemandangan luar biasa indah ketika matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur.

Kemudian kita bisa bertolak ke Wonogiri, tepatnya di daerah Sendang ada Puncak Joglo yang dikenal juga dengan nama Puncak Gantole. Pemandangan yang menghampar di hadapan bukit ini adalah Waduk Gajah Mungkur yang menjadi sumber perairan di Kota Solo, dengan udara sejuk yang memikat.

Olahraga gantole

Dinamakan Puncak Gantole karena kawasan ini menjadi tempat landasan pacu untuk olahraga gantole. Tapi karena pemandangan dari landasan pacunya sangat cantik, membuat Puncak Gantole tidak hanya ramai oleh para atlet, tapi juga jadi jujugan wisatawan yang sedang liburan di Solo dan sekitarnya.

Air terjun lain yang kerap dikunjungi adalah  Air Terjun Jumog. Sejuknya udara di sekitar air terjun ini membuat banyak wisatawan seolah merasa bahwa tempat ini adalah sebuah surga yang selama ini tak menampakkan dirinya. Berada di Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Air Terjun Jumog pastinya memanjakan mata.

Air Terjun Jumog (sumber:Ami Rosemarwati/wisataberjo.com)

Pemandangan alam di sekitar kawasan air terjun yang indah, penuh dengan pepohonan nan menghijau. Sementara air yang terjun dari puncak tebingnya amat jernih, yang kemudian mengalir ke sungai penuh bebatuan di sekitar kawasan wisata alam di Solo ini.

Tidak jauh dari Air Terjun Jumog, ada air terjun lain yang tidak kalah cantiknya, yaitu Air Terjun Parang Ijo. Lokasi air terjun ini berada di kawasan Gunung Lawu, dengan ketinggian sekitar 60 meter dan memiliki air yang sangat jernih. Udara sejuk langsung menyeruak begitu kamu memasuki kawasan wisata yang berada di Karanganyar ini. Di sisi kanan dan kiri air terjun terdapat pepohonan dan tumbuhan yang menghijau, membuat pemandangannya tampak segar.

Kebun Teh Kemuning

Ketika berada di kabupaten Karanganyar, kita juga bisa berkunjung ke Candi Sukuh dan Candi Cetho. Kedua candi tersebut memiliki corak budaya agama Hindu. Di Candi Cetho kita bisa menikmati pemandangan matahari terbenam dari kawasan candi. Dalam perjalanan menuju Candi Cetho, kita bisa menyempatkan diri untuk berkunjung ke kebun teh Kemuning. Terdapat beberapa kedai the yang bisa kita singgahi dalam perjalanan. Salah satunya adalah Kedai teh Ndoro Donker. Tentu saja hal itu sangat menyenangkan karena kita bisa menyeduh teh sambal menikmati pemandangan hamparan kebun teh.

Solo dan sekitarnya memang memesona. Jadi, kapan kamu liburan ke sini?

Wednesday, May 2, 2018

Walking Tour: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang

Halo Good People, dalam waktu kurang lebih satu tahun ini aku merasa sangat senang. Hal itu dikarenakan adanya kegiatan walking tour di Kota Semarang. Penggagas kegiatan walking tour ini adalah teman-teman dari Bersukaria. Biasanya diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu. Saat ini Bersukaria memiliki 11 rute walking tour. Sebagian besar aku pernah mengikuti rute-rute tersebut. Rute-rute tersebut memiliki cerita-cerita yang menarik

Klenteng Tay Kak Sie

Dari semua rute itu, ada beberapa rute yang menjadi favoritku. Hal itu berdasarkan kondisi rute dan cerita sejarah yang ada di rute tersebut. Salah satu rute favoritku adalah rute  Chinatown (Pecinan). Aku sudah mengikuti rute ini sebanyak dua kali, namun aku masih belum bisa memahami cerita-cerita yang ada di rute ini. Salah satu kesulitan yang aku alami adalah mengingat nama-nama Tionghoa. Selain itu, rute ini memberikan banyak pengetahuan dan filosofi baru yang memberikan daya tarik tersendiri bagiku. Welcome to Chinatown.
Baca Juga: Sepotong Cerita dari Kawasan Candi Baroe, Semarang

Sabtu pagi aku sudah tiba di Klenteng Tay Kak Sie yang ada di gang Lombok, Pecinan. Terlihat belasan peserta yang akan ikut walking tour kali ini. "Wouw, sepertinya pagi ini banyak yang ikut walking tour. Mungkin paling banyak selama aku mengikuti kegiatan ini", gumamku dalam hati. Peserta berasal dari berbagai kalangan, termasuk beberapa mahasiswa. Bahkan ada peserta yang berasal dari Jakarta. Kali ini yang bertugas sebagai storyteller adalah Mas Fauzan.

Lumpia Gang Lombok

Setelah perkenalan, Mas Fauzan mulai bercerita tentang Pecinan. Salah satunya sedikit cerita tentang Klenteng Tay Kak Sie yang menjadi titik kumpul dan titik akhir perjalanan kami. Mengapa hanya sedikit? Karena cerita selengkapnya akan diceritakan pada akhir perjalanan nanti. Klenteng Tay Kak Sie terletak di Gang Lombok. Diberi nama Gang Lombok karena dulu tempat ini merupakan kebun lombok. Secara nama, Klenteng Tay Kak Sie merupakan klenteng tertua di Pecinan. Namun secara bangunan, klenteng ini bukanlah yang tertua. Klenteng Tay Kak Sie yang dibangun pada tahun 1771 ini merupakan hasil perpindahan dari lokasi klenteng yang lama. Selain itu, Klenteng Tay Kak Sie dijuluki sebagai istana para dewa.

Klenteng Siu Hok Bio, klenteng tertua di kawasan Pecinan Semarang

Keberadaan kawasan Pecinan tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Geger Pecinan yang terjadi pada tahun 1740 hingga 1743. Geger Pecinan merupakan peristiwa perlawanan orang-orang etnis Tionghoa melawan VOC atau pemerintah Hindia Belanda yang terjadi di pesisir utara Pulau Jawa. Dalam peristiwa tersebut, etnis Tionghoa mengalami kekalahan. Setelah peristiwa itu, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk menempatkan mereka dalam satu wilayah agar mudah untuk diawasi. Kawasan Pecinan itu tidak hanya di Semarang. Tapi juga di kota lain, seperti di Jakarta yang dikenal dengan Glodok, dan di Rembang yang dikenal dengan Lasem. Karena banyaknya klenteng, kawasan Pecinan, Semarang sering disebut dengan negeri 1001 klenteng. Meskipun total jumlahnya sebanyak sembilan klenteng.
Baca Juga: Walking Tour: Menyusuri Kampung Kauman

Kali ini aku tidak akan bercerita detail tentang walking tour di rute Pecinan atau pun tentang cerita setiap klenteng. Tetapi tentang hal-hal unik yang aku temui dalam walking tour ini. Seperti beberapa jalan di kawasan Pecinan diberi nama sesuai dengan kondisi tempat tersebut. Misalnya Jalan Gang Pinggir yang berarti lokasinya berada di pinggir Kali Semarang, dan gang Lombok yang dulu merupakan kebun lombok. Di sebelah Kali Semarang terdapat tempat pembuatan barongsai di Pecinan. Di sekitar kali ini dulunya terdapat gudang seorang yang saudagar yang bernama Koh Ping. Yang kemudian dikenal dengan kali-nya Koh Ping dan sekarang dikenal oleh warga sebagai Kali Kuping. Cukup unik. Cara pengucapan warga sekitar menjadi kearifan lokal dalam pemberian nama sebuah tempat.

Beberapa bangunan di Pecinan masih terlihat asli. Salah satu yang menjadi ciri khas bangunan atau rumah etnis Tionghoa adalah bentuk atap yang menyerupai pelana kuda. Selain itu, terdapat bangunan yang memiliki atap tidak rata akibat terkena pelebaran jalan. Beberapa rumah yang juga digunakan sebagai toko di kawasan Pecinan memiliki jendela yang tidak hanya berfungsi sebagai keluar masuknya udara, namun juga berfungsi sebagai meja meletakan barang jualan mereka. Berhubung hari ini masih dalam masa perayaan Hari Tahun Baru Imlek, banyak rumah atau toko yang tutup.

Jendela yang multifungsi

Seperti yang aku ceritakan di atas tadi, jumlah klenteng di Pecinan, Semarang berjumlah sembilan klenteng. Di setiap klenteng terdapat gambar harimau yang berada di sebelah kanan dan naga yang terletak sebelah kiri dan letaknya di dekat pintu. Peletakan patung ini berdasarkan perhitungan fengshui. Di beberapa klenteng juga ada terdapat tiga patung sebagai simbol keturunan, kemakmuran dan umur panjang. Itu merupakan tiga hal penting menurut kepercayaan mereka. Bagi mereka yang bisa meraih ketiganya berarti hidupnya sempurna.

Simbol umur panjang, kesejahteraan, dan keturunan
Menurut Mas Fauzan, kata klenteng berasal dari bunyi lonceng sebagai pemberitahuan ketika ada acara di kuil. Selain lonceng, klenteng di Semarang juga terdapat sebuah bedug. Bedug ini merupakan tanda penghormatan yang diberikan kepada kerajaan Demak yang telah mengirimkan utusannya untuk membantu pembebasan Klenteng Sam Poo Kong dari bangsa Yahudi.

Lonceng dan Bedug yang ada di klenteng di kawasan Pecinan

Selain klenteng yang merupakan milik umat, beberapa klenteng di kawasan Pecinan juga dimiliki secara pribadi. Salah satunya adalah Klenteng See Hok Kiong. Klenteng See Hok Kiong merupakan klenteng Dewi Laut yang dimiliki oleh keluarga Lhiem. Di depan klenteng terdapat Kali Semarang yang terhubung hingga Laut Jawa. Dahulu banyak nelayan yang akan melaut singgah terlebih dahulu untuk sembahyang di klenteng ini untuk memohon keberkahan dan keselamatan selama berlayar di laut. Di Klenteng See Hok Kiong juga terdapat empat patung kera yang menyimbolkan seorang manusia harus bisa menjaga perkataan (tutup mulut), menjaga pendengaran (tutup telinga), menjaga pandangan (tutup mata), dan menjaga kesusilaan (menutup alat kelamin). Selain Klenteng See Hok Kiong, ada klenteng Hwie Hwie Kiong yang dimiliki keluarga Tan. Dahulu keluarga Tan sangat dekat dengan pemerintah Hindia Belanda.

Klenteng See Hok Kiong
Empat Patung Kera

Tidak hanya klenteng atau kuil yang menarik untuk diceritakan, namun juga sebuah pasar. Bukan tentang Pasar Semawis yaa, tapi tentang pasar Gang Baru. Para pedagang Pasar Gang Baru hampir semuanya adalah orang pribumi. Menurut Mas Fauzan, hal itu disebabkan karena etnis Tionghoa berada dalam pengawasan pemerintah Hindia Belanda sehingga tidak bisa keluar dari kawasan Pecinan. Sehingga mereka mengundang orang-orang pribumi untuk berjualan di Gang Baru demi memasok kebutuhan sehari-hari mereka.

Pasar Gang Baru

Gang Baru dipilih karena letaknya yang cukup dekat dengan Kali Semarang yang berfungsi sebagai jalur transportasi. Pasar itu terus berkembang seiring kesepakatan antara pribumi dan warga Tionghoa. Seiring berjalannya waktu, perjanjian tidak resmi itu berlanjut hingga sekarang. Orang-orang pribumi tetap diperbolehkan berjualan di depan rumah yang berada di Gang Baru, sedangkan orang etnis Tionghoa berjualan di dalam toko, kios atau rumah mereka.

Klenteng Hoo Hok Bio

Di dekat Pasar Gang Baru juga terdapat sebuah klenteng yang bernama Klenteng Hoo Hok Bio. Di depan klenteng ada pengrajin rumah kertas. Pengrajin rumah kertas ini merupakan satu-satunya yang ada di kawasan Pecinan. Toko ini milik Bapak Bin Hook yang telah berdiri selama tiga generasi. Toko ini merupakan warisan dari kakeknya. Rumah kertas merupakan tradisi mengirimkan sesuatu kepada leluhur yang sudah meninggal. Harga rumah kertas dijual dengan berbagai harga, tergantung besar dan jenis rumah kertasnya. Selain rumah kertas, Bapak Bin Hook juga membuat lampion. Di Pecinan juga terdapat pembuatan bongpay, yaitu batu nisan yang ada di makam warga Tionghoa. Batu yang digunakan untuk bongpay harus selalu baru, tidak boleh batu bekas.

Pengrajin Rumah Kertas
Bapak Bin Hook sedang membuat pola lampion
Batu bongpay

Kami juga melewati Gang Warung. Gang Warung merupakan tempat digelarnya Pasar Semawis yang berlangsung setiap malam di hari Jum'at-Minggu. Kata Semawis merupakan sebutan awal dari Kota Semarang yang diberikan oleh Kyai Ageng Pandanaran. Kata Semawis berasal dari kata aseme awis yang berarti pohon asem yang jarang. Sekarang dikenal dengan Semarang. Setelah melewati Gang Warung, kami menuju ke titik awal yaitu Klenteng Tay Kak Sie.

Para peserta walking tour

Seperti yang aku tulis di atas, Klenteng Tay Kak Sie disebut sebagai istana para dewa karena koleksi dewa yang ada di klenteng ini paling banyak di antara klenteng lainnya di kawasan Pecinan. Bahkan koleksi dewa di Klenteng Sam Poo Kong juga tidak sebanyak di klenteng ini. Klenteng Tay Kak Sie juga menyediakan chiamsi, yaitu semacam ramalan etnis Tionghoa. Klenteng Tay Kak Sie selalu ramai dikunjungi oleh warga yang melakukan sembahyang. Para penjaga klenteng akan menyambut dengan ramah para pengunjung klenteng. Mereka tidak keberatan untuk menceritakan tentang sejarah klenteng tersebut.
Baca Juga: Sunset Trip Gunung Telomoyo

Perjalanan walking tour Pecinan berakhir di Klenteng Tay Kak Sie. Tak terasa kami telah berkeliling Pecinan selama empat jam. Semua klenteng di kawasan Pecinan, Semarang terbuka untuk masyarakat umum. Tapi alangkah baiknya tetap ijin kepada penjaga klenteng. Ketika mengunjungi klenteng atau tempat ibadah lainnya, kita harus menjaga ketenangan, ketertiban, kesopanan, dan tentu saja menghormati warga yang sedang melakukan ibadah atau sembahyang.

Melepas burung gereja

Hal-hal unik itulah yang membuatku suka akan rute Chinatown (Pecinan) ini. Masih banyak lagi hal unik  yang bisa kamu temui. Saranku, ikutlah walking tour bareng teman-teman Bersukaria untuk mendapatkan pengalaman seru keliling kawasan Pecinan, Semarang. Aah, alangkah senangnya di Kota Semarang memiliki kawasan Pecinan. Selain klenteng, sejarah, tradisi, adat istiadat, kawasan Pecinan juga banyak menu kulineran yang patut dicicipi. Jadi, kapan kita walking tour dan kulineran bareng..?

Happy Walking Tour