WHAT'S NEW?
Loading...
Seperti lebaran tahun kemarin, lebaran tahun ini aku melakukan ritual pulang kampung atau mudik. Jika tahun kemarin aku mudik ke Simbah-nya Aqila di Gombong, Kebumen, tahun ini aku mudik ke kampung halamannya ibuku di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kabupaten Pandeglang

Jadi ceritanya dulu sekitar tahun 1982 ibuku merantau di Jakarta. Pada saat itu pula, bapakku yang orang asli Semarang sedang melakukan perjalanan dinas ke Jakarta. Atas ijin Sang Pencipta, akhirnya mereka berdua bertemu di Jakarta. Setelah menikah pada tahun 1982, ibuku diboyong ke Kota Semarang.

Mudik tahun ini hanya aku, ibu dan adikku, Ilham yang berangkat. Sedangkan yang lainnya tidak bisa ikut. Tahun ini terasa spesial karena kami sudah lama tak mudik ke tempat kelahiran ibuku ini. Ibuku terakhir mudik adalah 4 tahun yang lalu. Aku 9 tahun yang lalu. Sedangakn adikku, Ilham, ini merupakan perjalanan mudik setelah 11 tahun tak pulang kampung. Kami berangkat dari Semarang menggunakan kereta api tujuan Jakarta. Kemudian dari Jakarta, kami melanjutkan perjalanan bersama saudaraku yang lainnya.

Stasiun Rangkasbitung


Perjalanan menuju Kabupaten Pandeglang dilanjutkan naik KRL Tanahabang menuju Stasiun Rangkasbitung dengan harga karcis sebesar RP 9.000/orang. KRL pun penuh dengan penumpang, sehingga aku harus berdiri selama perjalanan yang memakan waktu selama dua jam. Dari stasiun Rangkasbitung menuju rumah, kami mesti ganti naik angkot sebanyak tiga kali.

Selama lebaran, ongkos angkot naik mulai dari 40% hingga 100% dari ongkos biasanya yang hanya Rp 5.000- Rp 10.000/orang. Siang itu jalanan Kabupaten Pandeglang sangat padat dan macet. Banyak mobil plat Jakarta melintas untuk menuju beberapa tempat wisata yang ada di sekitar Kabupaten Pandeglang. Waktu tempuh dari Stasiun Rangkabitung menuju rumah biasanya hanya 1-1.5 jam. Namun karena macet, waktu tempuh menjadi 3 jam perjalanan.


Jalanan sepi yang berubah macet ketika siang hingga malam

Hai, Selamat Pagi, kamu..!!!

Sekitar pukul 19:00, kami akhirnya di rumah. Rasa syukur kami panjatkan karena telah tiba di rumah dalam keadaan sehat dan selamat. Kedatangan kami disambut dengan suka cita oleh paman dan bibi. Rumah di kampung ditempati oleh pamanku dan keluarganya. Sedangkan kedua orang tua ibuku sudah lama meninggal dunia. Aku lupa tahun berapa. Beliau berdua sudah meninggal sebelum aku lahir.

Pagi pun mulai menyapa, aku mulai bergegas mandi dan berencana untuk keliling kampung. Menikmati semburat dan hangatnya mentari pagi, hijaunya hamparan sawah dan birunya langit. Kabut tipis menyelinap diantara pepohonan. Semua itu membentuk harmonisasi alam.


Pemandangan di belakang rumah
Setelah usai menikmati harmonisasi alam, aku mulai berpindah ke pasar. Kebetulan hari ini ada pasar yang buka hanya pada hari pasaran aja. Jalan-jalan ke pasar tradisional itu punya sensasi tersendiri. Di pasar tradisional, aku bisa melihat interaksi antar penduduk lokal dengan bahasanya. Pagi itu pasar sangatlah ramai. Terlihat ibu-ibu sedang menbeli beraneka macam sayuran, ikan asin, dan bumbu dapur. Selain itu, terdapat penjual jajanan pasar. Penjual siomay pun telah diserbu para para pembeli.



Pasar yang sudah ramai di pagi hari
Penjual sayuran

Dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah warung yang menjual gula aren. Di Semarang sulit untuk menemukan gula aren. Kemudian aku menyusul ibu yang sedang berjalan pulang ke rumah. Kami ngobrol tentang apa saja yang kami temui di pasar. Termasuk ketemu teman-teman ibu semasa kecil.
Baca Juga: Jejak Kejayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula Dari Semarang

Penjual bumbu dapur
Penjual Jajanan Pasar

Sesampainya di rumah, camilan berupa gemblong goreng (jadah) sudah tersaji. Kebetulan aku suka gemblong goreng. Biasanya langsung dimakan aja ketika masih panas atau hangat. Tapi di sini aku diajari makan gemblong goreng dengan cara yang berbeda, yaitu dengan cara dicocol ke kuah semur daging kerbau. Rasa empuk gemblong goreng dipadu dengan lezatnya semur daging kerbau sungguh nikmat sekali. Saking nikmatnya, tidak terasa aku telah menghabiskan lima biji gemblong goreng, hihihii. Selain gemblong goreng, ada beberapa jajanan pasar yang tadi dibeli di pasar. Seperti pasung, kue koneng dan donat.

Camilan di pagi hari
Gemblong goreng yang dicocol ke semur daging kerbau
Kami bersiap-siap untuk berziarah ke makam kakek dan nenekku. Kami berdoa bersama di pusara nenek. Kemudian ibu berdoa di pusara kakek. Ketika berdoa, tanpa disadari bulir-bulir air mata ibu mulai menetes. Sesekali ibu menyeka bulir-bulir tersebut menggunakan tangannya. Seperti ada sesuatu yang belum tersampaikan atau dilakukan ketika kakek masih hidup.

Menu sarapan pagi


Ibu hanya berujar, “Abah tidak memiliki kesempatan untuk melihat anak-anak dan cucunya tumbuh besar dan mulai sukses. Semasa hidupnya, ibu belum bisa membuat abah bahagia. Abah itu orangnya seperti kamu. Tinggi, kurus dan hidungnya sedikit mancung”. Aku hanya tersenyum dan merangkul ibuku untuk berpindah ke makam saudara.

Dalam perjalanan pulang, ibu mampir ke rumah teman semasa kecilnya. Meluapkan rasa rindu dan bertukar kabar. Tak lupa untuk menanyakan sudah punya beberapa cucu. Kata mereka, ibu masih terlihat awet muda, meskipun sudah memiliki dua cucu yang berusia empat dan dua tahun. Ibu selalu merasa bangga ketika bercerita tentang Aqila dan Naufal.

Suatu sore di Alun-Alun Kabupaten Pandeglang

Setelah berziarah, kami sarapan bersama. Menu pagi ini adalah nasi, ikan goreng, tempe goreng, ikan asin, sambal, sayur asam, dan lalapan. Menu sederhana ala kampung, namun rasanya begitu menggoyang lidah. Apalagi ikan diambil langsung dari empang. Tanpa obat dan air yang selalu mengalir. Suasana kekeluargaan juga menambah nikmatnya sarapan pagi itu.

Setelah sarapan, kami bergegas mengunjungi rumah salah satu adik dari kakek. Kami hanya perlu berjalan kaki untuk menuju ke sana. Rumahnya terbilang luas untuk ditinggali seorang diri. Alangkah senang dan terharunya beliau ketika melihat ibu yang menjadi anak kesayangannya dan aku pulang ke kampung dan mengunjunginya. Bulir-bulir air mata pun menetes tanpa perlu mendapat persetujuan dari pemiliknya. Sembari melepas rindu, dipeluknya kami berdua. Aku mencium tangannya sebagai tanda hormat dan bakti kepada beliau. Terakhir kami berjumpa adalah lima tahun yang lalu di Semarang.

Oyaa, salah satu hal unik yang aku temui ketika mudik adalah beberapa rumah memiliki pendingin ruangan alami. Rumah-rumah itu dibangun diatas empang ikan. Air empang pun juga mengalir terus menerus. Empang diisi dengan beberapa ikan, seperti ikan mas, ikan nila, ikan mujair, dan ikan krapu. Selain sebagai tempat memelihara ikan, empang juga bisa berfungsi sebagai pendingin ruangan. Sehingga rumah terasa adem dan sejuk tanpa menggunakan AC.


Di bawahnya rumah ada empangnya

Kami kembali ke Jakarta pada hari berikutnya. Aku, ibuku, dan adikku melanjutkan perjalanan ke Tangerang untuk menjenguk adekku, Dana. Kesibukan barunya tidak memungkinkan dia untuk pulang ke Semarang. Akhirnya kami bertiga yang menjenguknya. Meskipun tak bisa mudik, kami masih diberi kesempatan berkumpul dan bersilaturahmi dalam keadaan sehat.
Foto bareng di rumah saudara

Diakhir perjumpaan kami, ibu hanya berpesan untuk “Jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan. Jaga sholat lima waktunya. Ketika berada di kantor, jangan lupa untuk disempatkan sholat Dhuha. Ibu ga minta apa-apa. Ibu hanya ingin melihat kalian menjadi orang yang sukses dan berhasil. Doa ibu selalu bersama kalian.”

Mudik atau pulang kampung di lebaran tahun ini terasa berkesan bagiku. Selain memangkas jarak, ruang, dan waktu dengan kampung halaman ibu, aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk menemani ibuku pulang ke kampung halamannya. Yang mungkin belum tentu bisa aku lakukan lagi pada tahun depan, tiga atau empat tahun lagi. Lamanya perjalanan, materi yang dikeluarkan, waktu yang dihabiskan, hingga butiran keringat yang keluar dari tubuh tidak akan pernah sebanding dengan doa-doa yang selalu dipanjatkan ibu untuk kesuksesan anak-anaknya.

Banyak pesan yang terkandung dalam ritual mudik. Mudik itu tidak hanya memangkas jarak, ruang, dan waktu. Namun juga sebagai wujud rasa syukur kita atas segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Kabupaten Pandeglang, 27 Juni 2017
Jalan Bodjong (Bodjong Weg) atau sekarang yang lebih dikenal dengan nama Jalan Pemuda sudah sejak dulu menjadi jalan utama di Kota Semarang. Bahkan pernah dianggap sebagai salah satu jalan paling bagus di Pulau Jawa. Dari dulu hingga saat ini, Jalan Bodjong telah menjadi pusat pemerintahan, bisnis, pendidikan, dan hiburan. Bagiku, Jalan Bodjong merupakan jalan romantis di Kota Semarang.

Ujung Jalan Pemuda, Gedung Lawang Sewu dan Tugu Muda

Sabtu sore di langit yang begitu cerah, aku, Bang Indra, dan Mas Arif berada di salah satu minimarket yang di Jalan Bodjong (Jalan Pemuda). Kami bertiga sedang menunggu mas Dimas. Yup!! bener banget..!!! Kami akan walking tour bersama mas Dimas dari Bersukaria Walking Tour. Rute sore ini adalah rute Bodjong. Kami akan diajak menyusuri Jalan Bodjong.

Mas Dimas menjelaskan bahwa kata Bodjong berasal dari dua kata, yaitu Bod yang berarti “Kapal” dan Jong yang berarti “Pemuda”. Sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan hiburan, di jalan Bodjong dulu dilalui jalur trem. Trem dioperasikan di Semarang pada tahun 1882 hingga 1940 oleh Semarang-Joana Stoomtrammaatschappij (SJS). Setelah mendengarkan penjelasan singkat mas Dimas tentang Jalan Bodjong, kemudian kami memulai perjalanan menyusuri jalan Bodjong kearah selatan.

Gedung Batafsche Petroleum Maatschappij

Langkah kami terhenti di persimpangan jalan. Mas Dimas menunjuk kearah dua gedung yang ada di seberang jalan, yaitu kantor Pertamina dan Mall Paragon. Gedung Pertamina dulunya bernama Batafsche Petroleum Maatschappij. Dibangun dengan desain arsitektur artdeco. Pada masa penjajahan Jepang, gedung ini digunakakan sebagai markas bala tentara Dai Nippon. Pada tanggal 29 April 1942, gedung ini dijadikan tempat perayaan ulang tahun Tenno Heika yang berarti “Yang Mulia Kaisar”.

Rumah di Kampung Sekayu
Rumah Atap Limas

Sedangkan Mall Paragon merupakan gedung dengan nama Societet Harmony. Pusat hiburan dan berkumpulnya kaum borjuis di Kota Semarang. Pernah juga digunakan sebagai gedung kesenian yang menampilkan pertunjukkan wayang orang. Namun, pusat hiburan itu kini telah disulap menjadi sebuah mall dan hotel.

Masjid Sekayu

Setelah dari Mall Paragon, kami diajak untuk memasuki Kampung Sekayu. Perkampungan padat penduduk ini terletak di sebelah Mall Paragon. Kampung Sekayu merupakan salah satu kampung tertua di Kota Semarang. Yang menjadi daya tarik dari kampung Melayu adalah keberadaan Masjid Sekayu. Konon masjid ini lebih tua dari Masjid Agung Demak. Empat pilar kayu soko guru memiliki kesamaan dengan soko guru yang ada di Masjid Agung Demak. Proses renovasi masjid menghilangkan bentuk asli masjid, namun masih tetap mempertahankan soko gurunya.

Soko guru Masjid Sekayu

Selain itu, di Kampung Sekayu masih terdapat beberapa rumah yang memiliki desain rumah jaman dulu. Ada beberapa rumah yang memiliki atap bentuk limas. Rumah-rumah tersebut masih mempertahankan bentuk awal rumah ketika pertama kali dibangun. Kami juga melihat Kali Semarang yang terletak tidak jauh dari Kampung Sekayu. Kali Semarang digunakan untuk Sunan Kalijaga untuk menghanyutkan kayu menuju Demak untuk pemgedung Masjid Agung Demak.

Kali Semarang

Setelah berkeliling Kampung Sekayu, kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Bodjong. Langkah kami terhenti di seberang dua gedung SMA negeri, yaitu SMA Negeri 5 dan SMA Negeri 3 Semarang. Arsitektur kedua gedung sekolah masih asli. Dari awal pemgedung, kedua gedung ini memang difungsikan sebagai sekolah.

Gedung SMA Negeri 5 Semarang dulunya merupakan Chinese English School. Pemiliknya adalah Thio Thiam Tjong yang merupakan seorang saudagar yang juga pemilik firma Seng Liong. Thio Thiam Tjong merupakan seorang tokoh demokrasi dan pendiri Universitas Tarumanegara di Jakarta. Saat ini, musoleum atau makam Thio Thiam Tjong terletak di Jalan Sriwijaya, Semarang. Selain itu, Thio Thiam Tjong juga memiliki rumah mewah yang ada di daerah Candi yang didesain oleh Thomas Carsten.

Sedangkan gedung SMA Negeri 3 Semarang didirikan pada tanggal 1 November 1877. Terletak di Jalan Bodjong 149. Awalnya digunakan sebagai HBS (Hogere Bunger School). SMA Negeri 3 memiliki gedung yang megah dan halaman yang luas. Dulu pernah digunakan sebagai SMA III dan IV Semarang. Namun, pada tahun 1978 SMA Negeri IV Semarang dipindahkan ke gedung baru di daerah Banyumanik. Oleh sebab itu, SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 4 Semarang memiliki logo yang sama persis. Karena dulunya kedua sekolah tersebut berlokasi dalam satu gedung.


Kantor Walikota Semarang

Di seberang SMA Negeri 3 Semarang terdapat gedung yang sangat penting bagi Kota Semarang, yaitu kompleks kantor Balaikota Semarang. Kantor Balaikota masih merupakan gedung asli yang memiliki lima pintu utama. Di depan kantor Sekda terdapat pantung Moch. Ichsan yang merupakan walikota Semarang yang pertama.

Kompleks Balaikota Semarang

Kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan Tugu Muda. Trotoar sepanjang Jalan Bodjong cukup luas dan layak untuk para pejalan kaki dan tunanetra. Selain itu, terdapat beberapa pohon asem jawa yang meneduhkan dan menjadi ciri khas Jalan Bodjong sejak dulu. Kata Semarang pun berasal dari asem dan arang yang berarti pohon asam yang tumbuhnya jarang-jarang.


Di kawasan Tugu Muda terdapat beberapa gedung tua yang masih terawat dengan baik, seperti Gedung Lawang Sewu, Gereja Katedral, Museum Mandala Bhakti, dan Wisma Perdamaian. Tugu Muda dibangun pada tahun 1951 hingga 1953 atas perintah Ir. Soekarno untuk mengenang peristiwa pertempuran Lima Hari di Kota Semarang. Bentuk puncak tugu berbentuk api yang menggambarkan semangat pemuda Kota Semarang dalam mengusir penjajah.

Di sebelah selatan Tugu Muda terdapat Gereja Katedral. Dibangun pada 26 Januari 1927. Gereja ini menjadi Gereja Katedral ketika Mgr Soegijapranata diangkat sebagai vikaris apostolik pertama di Semarang. Mgr Soegijapranata merupakan uskup agung pribumi Indonesia pertama. Mgr Soegijapranata juga berjasa menolak permintaan Jepang yang ingin menggunakan Gereja Gedangan sebagai rumah sakit militer.

Gereja Katedral

Di seberang Gereja Katedral terdapat Museum Mandala Bhakti. Kami hanya berjalan mengelilingii museum yang terawat dengan baik ini. Gedung museum awalnya digunakan sebagai Pengadilan Tinggi bagi orang Eropa yang ada di Semarang. Sekarang gedung ini dikelola oleh TNI dan digunakan sebagai museum.

Gedung Lawang Sewu

Gedung yang menjadi tujuan terakhir kami adalah Wisma Perdamaian. Wisma Perdamaian dulunya bernama De Vredestain (Istana Perdamaian). Wisma Perdamaian dulunya dimiliki oleh Nicolas Hartingh, salah satu pejabat VOC. Kemudian digunakan sebagai rumah singgah gubernur jenderal. Wisma Perdamaian juga pernah digunakan sebagai APDN. Saat ini, Wisma Perdamaian dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Gedung Mandala Bhakti

Perjalanan kami menyusuri romantisme Jalan Bodjong pun telah usai. Kami menyempatkan berfoto di tengah zebra cross dengan latar Gedung Lawang Sewu. Kami kembali berjalan kaki menuju meeting point sambil menanti waktu berbuka puasa. Waktu berbuka puasa pun telah tiba dan kami memilih istirahat di salah satu angkringan yang ada di Jalan Bodjong.

Wisma Perdamaian

Aku sangat menikmati perjalanan dengan rute Bodjong Weg ini. Dulu, seorang Belanda pernah bilang bahwa Jalan Bodjong merupakan salah satu jalan paling indah di Pulau Jawa. Namun, bagiku Jalan Bodjong adalah jalan teromantis di Kota Semarang. Jalan yang membentang dari Jembatan Mberok hingga kawasan Tugu Muda ini memberikan suasana berbeda bagiku.

Mulai berjalan kaki di ujung jalan, kita akan langsung disambut oleh Gedung Papak, Kantor Pos Johar, dan Tugu Nol Kilometer Kota Semarang. Belum lagi Gedung Chinese English School, Gedung HBS, Gedung Balaikota dan belasan gedung tua lainnya siap menemani perjalanan kita menyusuri jalan.

Kuliner sepanjang Jalan Bodjong juga patut untuk dicicipi. Diawal perjalanan, kita sudah disuguhi nasi goreng babat. Konon, ini merupakan nasi goreng babat ini merupakan salah satu yang terenak di Kota Semarang. Kamu masih suka nasi goreng khan? Di dekat persimpangan jalan, terdapat Toko Oen. Kamu tahu khan tahu khan Toko Oen..? Toko es krim yang terkenal dengan cita rasa tempo dulunya. Aku juga tahu kalau kamu suka sekali dengan es krim. Selain itu, ada warung lumpia yang terkenal. Sepertinya sesekali kamu perlu coba lezatnya Lumpia Semarang. Di salah satu sudut Jalan Bodjong terdapat penjual soto yang hanya buka pada malam hari. Namun, tak pernah sepi dengan pembeli.

Suasana Toko Oen

Selain gedung tua dan kulinernya, kehidupan orang-orang di Jalan Bodjong sangatlah unik untuk diamati. Siang hari, jalan Bodjong ramai riuh dengan aktivitas pemerintahan, perkantoran, bisnis dan pendidikan. Sedangkan ketika malam hari, Jalan Bodjong dipenuhi aktivitas manusia yang tak kalah riuhnya. Mulai dari para pedagang yang menggelar lapak jualan handphone bekas, gerobak angkringan, para tukang pijat yang menjual jasanya di atas trotoar, hingga anak muda yang kongkow menikmati suasana malam di Jalan Bodjong.

Ini bukan Boyband..!!! (foto by Bersukaria Wallking Tour)

Bagiku Jalan Bodjong bukanlah sekadar jalan. Jalan Bodjong memiliki banyak cerita romantisme. Romantisme yang dikemas dalam bentuk gedung tua, kuliner yang memiliki ciri khas, kehidupan orang-orang di Jalan Bodjong, dan cerita-cerita yang berkembang dari dulu hingga sekarang. Kalau saranku, sesekali kamu perlu menyusuri Jalan Bodjong dan menemukan cerita romantismu sendiri. Jadi kapan kamu ke Semarang (lagi) dan menyusuri romantisme Jalan Bodjong?