WHAT'S NEW?
Loading...
Masih ingat khan tentang pengalamanku datang ke Pasar Karetan beberapa waktu yang lalu? Berbeda dengan sebelumnya, di artikel ini aku bakal mengulas Pasar Karetan dengan lebih detail. Mengapa demikian? Karena di Pasar Karetan banyak hal yang bisa diceritakan. Seperti aku dan kamu. Iyaa, kamu. Kamu seorang. :P

Area Pasar Karetan

Pasar Karetan merupakan pasar yang diinisiasi dan dikelola oleh teman-teman komunitas GenPI Jawa Tengah. Pasar Karetan pertama kali digelar pada tanggal 5 November 2017. Pasar Karetan digelar setiap hari Minggu di area Radja Pendapa yang terletak di Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Cari aja di maps dengan keyword "Pasar Karetan" atau "Radja Pendapa". Pasti akan muncul sesuai dengan yang diharapkan dan menuntunmu menuju kesana. Namun sebelum kamu sampai di sana, ketahuilah terlebih dahulu apa saja yang bisa kamu temui di Pasar Karetan.

1. Kebun Karet
Kata "Karetan" pada Pasar Karetan diambil berdasarkan lokasi pasar yang terletak di area kebun karet. Sesampainya di area Radja Pendapa kita akan langsung disambut oleh barisan pohon karet. Sejauh mata memandang, hanya pohon karet yang tersaji. Bahkan pengelola menyediakan pemandu untuk trekking di kebun karet. Di sekitar kebun karet juga terdapat sebuah mata air yang konon bisa membuat awet muda.
Baca Juga: Hari Minggu di Pasar Karetan

Area Kebun Karet

2. Kuliner Tradisional
Ketika mengunjungi sebuah tempat, belum lengkap rasanya jika belum mencicipi kuliner yang ada. Begitu juga ketika berada di Pasar Karetan, kamu mesti mencicipi aneka kuliner yang dijual di sana. Di sini telah disediakan berbagai tenant kuliner tradisional dan khas. Seperti gendar pecel, nasi jagung, aneka bubur, Soto Pandanaran, sate brangkal, tengkleng, nasi kuning, bakso bathok, jajanan pasar, pepes wader, singkong, lumpia, tahu campur, dan nasi bakar. Harganya terjangkau, dan tentu saja rasanya juga lezat.


Gendar Pecel

3. Dolanan Tradisional
Selain kuliner, dolanan tradisional menjadi daya tarik tersendiri ketika berada di Pasar Karetan. Berbagai dolanan tradisional ada di Pasar Karetan, seperti egrang, bakiak, holahop, sunda manda, lompat tali, dan dakon. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun juga banyak yang mencoba berbagai dolanan yang ada. Katanya untuk mengenang masa kecil. Selain dolanan tradisional, di Pasar Karetan juga disediakan tempat untuk mewarnai layang-layang dan ada tenant yang menjual barang hasil kerajinan akar wangi. Jadi tidak salahnya untuk ikut mencoba dolanan tradisional sambil mengenang masa lalu dan bersenang-senang.

Baca Juga: Walking Tour: Sepotong Cerita Dari Kawasan Candi Baroe, Semarang

Dolanan Tradisional
Kerajinan Akar Wangi

4. Panggung Hiburan
Pasar Karetan tidak hanya tersedia berbagai kuliner tradisional. Tapi juga menyediakan panggung hiburan. Tidak terlalu luas, namun cukup mampu memberikan hiburan kepada pengunjung pasar. Berbagai hiburan pernah ditampilkan di panggung ini. Seperti band akustik, sanggar tari, karawitan, dan keroncong. Selain hiburan, Pasar Karetan juga beberapa kali mendatangkan beberapa tamu. Baik dari perorangan, maupun komunitas. Seperti komunitas Duta damai dan Putri Maritim Indonesia Lingkungan 2017, dan masih banyak lagi. Hampir setiap minggunya hiburan dan tamu yang diundang selalu berbeda-beda.


Area Panggung Hiburan

5. Promosi Destinasi Wisata Indonesia
GenPI merupakan komunitas yang berada dibawah naungan Kementarian Pariwisata (Kemenpar) yang membantu dalam hal promosi destinasi wisata Indonesia. Di Pasar Karetan terdapat beberapa area foto yang berisi nama-nama destinasi wisata yang ada di Indonesia. Termasuk 10 destinasi wisata Bali Baru. 10 destinasi tersebut antara lain adalah Tanjung Lesung, Bromo, Morotai, Candi Borobudur, Labuan Bajo, Tanjung Kelayang, dan Mandalika. Selain kulineran, ternyata di Pasar Karetan juga bisa menjadi tempat belajar tentang destinasi wisata yang ada di Indonesia.


Papan petunjuk destinasi wisata


6. Souvenir Pasar Karetan
Sudah datang, kulineran, bermain, dan bersantai di Pasar Karetan rasanya belum lengkap jika belum membeli souvenir yang dijual di Pasar Karetan. Beberapa souvenir yang dijual di Pasar Karetan antara lain adalah kain tenun dan T-shirt. Ada beberapa model tenun yang dijual di Pasar Karetan, seperti blanket, tas tenun, selendang, dan ikat kepala. Ada beberapa desain dan warna T-shirt yang dijual di Pasar Karetan. Warna T-shirt antara lain adalah putih dan hitam.


Tenun yang dijual di Pasar Karetan


7. Naik Odong-Odong
Parkir kendaraan bermotor Pasar Karetan terletak di lapangan dan SD Meteseh. Sedangkan masih ada jarak sekitar 500 meter lagi untuk menuju Pasar Karetan. Nah, untuk menuju ke Pasar Karetan, pengelola menyediakan kendaraan yang disebut dengan odong-odong. Odong-odong ini merupakan fasilitas dan tidak dipungut ongkos (gratis) yang disediakan untuk para pengunjung yang akan menuju atau meninggalkan area Pasar Karetan.



8. Girik
Girik merupakan alat pembayaran semua transaksi yang dilakukan di Pasar Karetan. Pengunjung diharuskan menukar uang mereka ke girik terlebih dahulu. Sehingga mata uang rupiah tidak bisa digunakan untuk transaksi di Pasar Karetan. Bisa dibilang jika girik ini merupakan mata uang di Pasar Karetan. Waah keren yaa, pasar ini memiliki mata uang tersendiri. Terdapat dua tempat penukaran girik, yaitu di pintu masuk dan dekat panggung hiburan Pasar karetan. Girik terdiri dari dari pecahan, yaitu 2,5 yang berarti Rp 2.500, 5 yang berarti Rp 5.000, 20 yang berarti Rp 20.000, dan 50 yang berarti Rp 50.000. Girik bisa ditukarkan kembali ke uang rupiah jika tidak digunakan lagi.


Penukaran Girik
Girik

9. Panahan
Panahan merupakan tenant yang selalu ramai dikunjungi pengunjung Pasar Karetan. Area panahan berada di tanah lapang dengan dua sasaran yang sudah disiapkan. Para instruktur panahan merupakan para atlet panahan yang berasal dari jurusan FIK Unnes. Seperti yang kita ketahui bahwa olahraga panahan merupakan cara untuk meningkatkan fokus seseorang. Selama memanah akan dipandu oleh para instruktur. Untuk mencoba panahan, pengujung bisa membayar dengan girik sebesar 10 (dapat 3 anak panah).


Area Panahan

10. Spot Foto
Area Pasar Karetan menyediakan banyak spot foto. Bisa Pasar Karetan dibilang memiliki 1001 spot foto karena banyak tempat yang bisa digunakan untuk berfoto. Semua jenis spot foto ada di sini, mulai dari persawahan, kebun karet, olahraga panahan, papan destinasi wisata, kuliner, dolanan bocah, gardu pandang, hingga gazebo. Semua spot foto disediakan secara gratis kepada para pengujung.
Baca Juga: Antara Bandung dan Semarang

Salah satu spot foto

11. Tempat Bersantai
Pasar Karetan bisa dijadikan sebagai jujukan tempat wisata keluarga. Selain kuliner dan dolanan tradisional, di Pasar Karetan juga disediakan tempat bersantai. Terdapat beberapa gazebo dan hammock yang bisa digunakan untuk bersantai. Sambil menikmati kuliner pengunjung juga bisa bersantai di gazebo yang sudah disediakan. selain itu, terdapat beberapa pondok yang bisa digunakan untuk bermalam di area Radja Pendapa.


Salah satu gazebo untuk bersantai

Demikianlah 11 hal yang bisa dijumpai ketika berkunjung di Pasar Karetan. Jangan sampai lupa kalau Pasar Karetan hanya buka pada hari Minggu dan hanya ada di Radja Pendapa. Ditunggu kedatangannya di Pasar Karetan.

Sampai Ketemu di Pasar Karetan.
Salam Pesona Indonesia.

Hari ini, hari Sabtu, tanggal 27 Januari 2018, seperti biasanya aku selalu bangun pagi. Aku tahu kalau hari ini adalah hari libur, namun tubuh ini sudah terbiasa untuk bangun pagi. Setelah mandi dan sarapan, aku bersiap untuk menuju tempat kumpul, yaitu Taman Gajah Mungkur. Yup, hari ini aku akan mengikuti walking tour bareng teman-teman Bersukaria.

Ereveld Candi

Pukul 07:45 aku telah sampai di tempat kumpul. Selang 15 menit kemudian para peserta telah datang berkumpul. Hari ini walking tour diikuti oleh tiga orang peserta, yaitu aku, Arga, dan Dian. Sedangkan yang bertugas sebagai story teller adalah Ardi. Kalau pesertanya sedikit jadi berasa seperti private tour, hehehe. Oyaa, rute walking tour hari ini adalah Candi Baroe. Ada cerita apa aja di rute kali ini. Silakan baca cerita selengkapnya.

Ereveld Candi

Perkembangan permukiman di kawasan Candi Baroe, Semarang tidak bisa dipisahkan dari Thomas Karsten, seorang arsitek berkebangsaan Belanda. Thomas Karsten membangun permukiman di Kota Semarang berdasarkan status sosial dan ekonomi masyarakatnya. Kawasan Candi Baroe dikhususkan bagi masyarakat dengan status sosial dan ekonomi yang tinggi atau golongan elit. Oleh sebab itu, banyak saudagar Tionghoa, dan pejabat Hindia Belanda yang bermukim di kawasan Candi Baroe.
Perjalanan kami dimulai dari Ereveld Candi. Ereveld Candi dibangun pada tahun 1946 oleh tentara KNIL. Ereveld merupakan makam kehormatan Belanda sebagai tempat pemakaman korban perang, baim dari militer maupun sipil yang gugur dalam perang. Di Ereveld Candi terdapat sekitar 1000 makam. Rata-rata mereka merupakan korban Perang Dunia II dan Agresi Militer Belanda 2. Gerbang ereveld terdapat gambar topi tentara yang berarti sebagai penghormatan korban perang dan gambar api atau obor yang berarti semangat yang tak pernah padam. Pagi itu langit tampak mendung, namun barisan pegunungan tetap terlihat jelas.

Langit yang mendung dan tidak panas membuat kami lebih bersemangat bersemangat untuk menuju tempat selanjutnya. Tempat yang kami tuju merupakan sebuah bangunan rumah yang berbentuk villa dan memiliki pemandangan yang mengarah ke daerah Semarang bawah. Dulunya terkenal dengan nama Villa Tumpang. Pemiliknya pertamanya adalah Han Tiauw Tjong. Sedangkan arsiteknya adalah Liem Bwan Tjie.

Villa Tumpang

Kemudian Ardi bercerita tentang Liem Bwan Tjie yang merupakan seorang arsitek kelahiran Semarang dan menjadi pelopor arsitektur modern generasi pertama di Indonesia. Dia dan beberapa arsitektur senior Indonesia, salah satunya Frederich Silaban yang merupakan arsitek Masjid Istiqlal, mendirikan Ikatan Arsitektur Indonesia (IKA). Mungkin namanya masih sangat asing, namun karya-karya telah tersebar di berbagai kota di Indonesia. Salah satunya Villa Tumpang yang sekarang dimiliki secara pribadi.

GoodFellas

Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Resto Goodfellas. Dalam perjalanan itu kami banyak ngobrol tentang banyak hal. Salah satunya pemandangan kota Semarang dari kawasan Candi Baroe. Kesan pertama yang ada dipikiranku ketika tiba di Resto Goodfellas ada megah dan unik. Bangunan kuno ini dulunya adalah milik saudagar Tionghoa yang bernama Thio Thiam Tjong. Sedangkan arsiteknya adalah Thomas Karsten. Thio Thiam Tjong merupakan anak dari Thio Siong Liong, pemilik perusahaan ekspor impor di Semarang. Setelah lulus dari sekolah teknik Delft, Amsterdam, Thio Thiam Tjong kembali ke Semarang dan meneruskan usaha orang tuanya. Selain itu, dia juga aktif dan peduli dalam permasalahan sosial, ekonomi, dan pendidikan.

Pintu Depan Goodfellas

Bentuk bangunan Goodfellas masih sama dengan bentuk aslinya, tidak mengalami perubahan. Banyaknya ventilasi menjadi ciri khas dalam setiap bangunan karya Thomas Karsten. Kami tidak masuk ke dalam resto karena resto belum buka. Namun, kami bisa melihat kotak surat  yang masih asli dan tertulis nama pemiliknya yang pertama, Thio Thiam Tjong.

Thio Thiam Tjong

Setelah dari Goodfellas, kami melanjutkan perjalanan dari menuju Puri Gedeh. Puri Gedeh merupakan rumah dinas Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo. Puri Gedeh pertama kali digunakan oleh Gubernur Soeparjo Rustam sebagai rumah dinas. Kemudian dilanjutkan oleh beberapa gubernur lainnya. Bentuk bangunan Puri Gedeh sangat unik karena ada bagian ruangan yang berbentuk elips dan sebagian dinding berbahan dasar batu alam. Mungkin fungsi untuk memperkuat pondasi bangunan.

Puri Gedeh, rumah dinas Gubernur Jawa Tengah

Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Hotel Candi Baru. Perjalanan sekitar 10 menit jalan kaki. Kebetulan cuaca tidak panas, sehingga cocok untuk berjalan kaki. Sesampainya di depan hotel aku merasa takjub karena hotel ini merupakan satu-satunya hotel dengan bangunan lama yang masih beroperasi hingga sekarang.

Hotel Candi Baru

Hotel Candi Baru awalnya bernama Hotel Bellevue (yang berarti pemandangan indah) dengan nama pemiliknya Van Demen Wars. Hotel ini terdiri dari dua lantai. Hingga sekarang Hotel Candi Baru telah berganti kepemilikan sebanyak tiga pemilik. Sekarang Hotel Candi Baru dimiliki oleh Sido Muncul.

Depan Hotel Candi Baru

Ketika memasuki lobi hotel, kami langsung disambut lantai hotel yang berupa tegel dengan corak-coraknya yang sangat cantik. Langit-langit yang menjulang tinggi menjadi ciri khas bangunan kolonial. Di hotel ini menyediakan beberapa tipe kamar dengan harga yang sangat terjangkau dan menawarkan pengalaman tersendiri, yaitu menginap di hotel dengan bangunan peninggalan masa kolonial Hindia Belanda.

Lobi Hotel Candi Baru

Setelah dari Hotel Candi Baru, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Agung Giri Natha. Pura ini merupakan pura terbesar yang ada di Kota Semarang. Bosa dibilang letak pura ini di puncak bukit dengan pemandangan area Kota Semarang. Pura Agung Giri Natha masih digunakam sebagai tempat peribadatan bagi umat agama Hindu.

Pura Agung Giri Natha

Kami melanjutkan perjalanan ke titik terakhir walking tour kali ini, yaitu Taman Diponegoro. Perjalanan tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit. Namun tidak perlu khawatir karena jalan yang kita lewati sangat rindang dan tidak bising. Selain itu, kita juga bisa menikmati rumah-rumah dengan desain yang unik.

Gapura Pura Agung Giri Natha

Taraa, akhirnya kami sampai di Taman Diponegoro. Taman Diponegoro merupakan taman yang terletak di persimpangan jalan, yaitu Jalan Sultan Agung, Jalan S. Parman, Jalan Diponegoro, Jalan Argopuro, Jalan Telomoyo dan Jalan Kawi. Taman Diponegoro merupakan karya dari Thomas Karsten.
Thomas Karsten menerapkan konsep garden city pada Taman Diponegoro yang berarti menjadikan taman-taman sebagai bagian penting dalam sebuah kawasan. Dalam hal ini kawasan Candi Baroe. Di sekitar taman juga terdapat beberapa bangunan penting lainnya, seperti Rumah Dinas Kapolda Jawa Tengah, Rumah Dinas Panglima Kodam IV Diponegoro, Puri Wedari, dan RS. ST. Elisabeth.

Salah satu bangunan yang menarik perhatianku adalah Puri Wedari. Dahulu bangunan tersebut digunakan sebagai rumah dinas Walikota Semarang. Bangunan yang megah, lingkungan yang asri, dan langsung menghadap ke Taman Diponegoro. Belum lagi ornamen-ornamen yang ada di bangunan itu membuatnya lebih mempesona dan cantik. Sekarang Puri Wedari dikelola oleh TNI. Sebelum dipenuhi dengan bangunan-bangunan, dari kawasan ini kita bisa melihat pemandangan Gunung Ungaran.

Puri Wedari

Kami berempat menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol banyak hal di Taman Diponegoro. Salah satunya tentang Semarang dan kawasan Candi Baroe. Menurut Dian, "Di Kota Semarang yang paling menarik itu tentang ceritanya." Tapi bagiku, "Setiap kota, tempat selalu memiliki cerita-ceritanya masing-masing. Yang patut didengarkan dan diceritakan ulang kepada khalayak dan generasi selanjutnya."
Kalau sedang tidak dalam perjalanan keluar kota, biasanya setiap akhir pekan aku menghabiskan akhir pekan dengan kegiatan olahraga atau jalan santai di Car Free Day Simpang Lima bersama Aqila dan Opal, kedua keponakanku. Namun, akhir pekan lalu aku diculik oleh Kus ke Pasar Karetan. Yaa namanya juga diculik, akhirnya ikut saja. Kebetulan juga sedang mencari hiburan lain di akhir pekan.

Pemandangan di Pasar Karetan

Sampai saat ini, Pasar Karetan telah digelar sebanyak 11 kali. Pertama kali dibuka pada tanggal 5 November 2017 yang dihadiri oleh Bupati Kendal, Ibu Mirna Anisa. Konsep Pasar Karetan lebih ke tradisional, tempo dulu, lengkap dengan atraksi dan permainan anak-anak jaman dulu. Pasar Karetan diinisiasi dan dikelola oleh teman-teman GenPI Jawa Tengah.

Area kebun karet

GenPI (Generasi Pesona Indonesia) merupakan komunitas yang didukung oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang bertujuan untuk mempositifkan Indonesia melalui promosi wisata go digital sebagai salah satu strategi pemasaran pariswisata Indonesia. Teman-teman GenPI ini seringkali bercerita tentang pariwisata, budaya dan keindahan alam Indonesia di berbagai media sosial. Mulai dari facebook, twitter, instagram, blog, hingga youtube. Begitu juga dengan Pasar Karetan yang dipromosikan melalui media sosial. GenPI telah tersebar di beberapa provinsi, antara lain di Jawa Barat, NTB, Sumatera Barat, Aceh, Maluku, Lampung, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, D.I. Yogyakarta, dan Banten.

Menukarkan uang rupiah menjadi Girik

Balik lagi tentang Pasar Karetan. Pasar Karetan sangat cocok untuk dikunjungi bersama teman, pasangan, dan keluarga. Pasar Karetan diadakan setiap hari Minggu di Radja Pendapa Camp yang terletak di Desa Segrumung, Boja, Kabupaten Kendal. Bisa ditempuh sekitar 45 menit perjalanan dari Kota Semarang. Kalau kalian bingung, tinggal searching di Gmaps dengan keyword Radja Pendapa Camp atau Pasar Karetan.

Minggu pagi pukul 06:00 aku sudah bersiap-siap di Pasar Karetan. Aku dan Kus sengaja berangkat tadi malam dari Semarang agar tak terburu-buru jika kami berangkat pagi dari Kota Semarang. Para pedagang sedang menyiapkan makanan yang akan dijajakan kepada para pengunjung. Pagi itu Kus akan menjadi MC, sedangkan aku hanya membantu demi kelancaran Pasar Karetan. Tepat pada pukul 07:00 Pasar Karetan resmi dibuka untuk para pengunjung.

Kendaraan bermotor, baik motor maupun mobil, diparkir di lapangan SD Meteseh. Kemudian para pengunjung akan diantar menggunakan odong-odong untuk menuju ke lokasi Pasar Karetan. Ordong-odong ini termasuk fasilitas dari pengelola Pasar Karetan, alias gratis. Sesampainya di depan Pasar Karetan pengunjung mesti tukar uang dengan girik. Uang rupiah tidak berlaku di Pasar Karetan. Semua transaksi menggunakan uang girik. Uang girik terdiri dari pecahan 2.5 yang senilai dengan Rp 2.500, 5 yang senilai dengan Rp 5.000, 10 yang senilai dengan Rp 10.000, dan 50 yang senilai dengan Rp 50.000.

Namanya Girik
Salah satu tempat penukaran Girik

Sugeng rawuh ing Pasar Karetan....!!!
Saatnya berburu kuliner, di Pasar Karetan ini banyak kuliner ndeso, unik, dan tradisional. Seperti gendar pecel, nasi kuning, bakso batok, sate brangkal, nasi jagung, pepes wader, aneka bubur, tahu campur, jajanan pasar, lumpia, soto, dan nasi bakar. Bisa dibilang Pasar Karetan itu kayak surga kuliner ndeso dan tradisional. Rata-rata makanan ini sudah jarang ditemui di daerah perkotaan. Siapkan perut dan (tentunya) girik untuk bisa cicipi aneka kuliner di sini. Oyaa selain makanan, ada tenda yang menjual kopi. Bahkan tenda kopi tidak pernah sepi oleh para pengunjung.

Mari kulineran...!!!
Sate Brangkal dan Gule

Setelah berkeliling untuk melihat aneka kuliner, akhirnya aku mencoba untuk mencicipi gendar pecel. Gendar pecel terdiri dari pecel yang dimakan menggunakan gendar. Gendar itu terbuat dari beras yang ditanak dan dicampur dengan bahan makanan lainnya, kemudian ditumbuk hingga halus. Sedangkan pecel terdiri dari berbagai sayuran yang kemudian disiram menggunakan sambal kacang.

Pecel gendar
Bakso Bathok Mlumah

Pasar Karetan juga menyediakan beragam dolanan bocah jaman dulu. Seperti egrang, bakiak, holahop, lompat tali, dakon dan sunda manda. Di Pasar Karetan juga disediakan tempat untuk mewarnai layang-layang dan bermain panahan. Panahan ini langsung dipandu oleh atlet-atlet panahan dan selalu ramai dikunjungi oleh para pengunjung. Oyaa selain untuk olahraga, panahan juga bisa melatih tingkat fokus seseorang.

Gubuk Kopi
Fokus yaa, Iyaa Fokuuss...!!!

Pasar Karetan selalu diramaikan oleh kehadiaran tamu dan komunitas yang berbeda-beda di setiap minggunya. Beberapa tamu dan komunitas yang pernah hadir di Pasar Karetan antara lain adalah Duta Damai, Putri Maritim Indonesia Lingkungan 2017, Gadis Hammockers, dan teman-teman GenPI dari daerah lainnya. Mereka akan berbagi tentang cerita, pengalaman dan pengetahuan tentang komunitas mereka. Selain itu, Pasar Karetan juga sering dimeriahkan dengan berbagai hiburan, seperti musik akustik, menari, karawitan, dan keroncongan.

Memasuki area hiburan dan permainan
Jajanan pasar

Pasar Karetan juga sering mempromosikan destinasi wisata yang ada di Indonesia. Ada beberapa papan nama destinasi wisata di Indonesia.  Di area hiburan, ada beberapa hammock yang sudah disediakan oleh pengelola Pasar Karetan yang bisa digunakan untuk bersantai. Setelah selesai kulineran bisa bersantai di hammock di kebun karet sambil menikmati hiburan yang telah disediakan. Di area pasar juga disediakan beberapa gazebo yang bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati pemandangan area persawahan yang berada tak jauh dari area panahan.

Santai dulu yaa...!!!
Gratis, tinggal ditempati saja

Pasar Karetan tutup pada pukul 11:00. Namun, beberapa makanan yang dijajakan sudah habis sebelum pukul 11:00. Bisa dibilang banyak pengunjung yang penasaran dengan kuliner ndeso dan unik ini. Para pengunjung berangsur meninggal area Pasar Karetan. Mereka akan diantar oleh odong-odong menuju ke tempat parkir kendaraan. Jangan lupa selalu budayakan antri, tertib, dan berhati-hati ketika naik odong-odong.

Mbaknya jualan jadah bakar, enak...!!!
Kerajinan dari akar wangi

Hari mulai beranjak siang. Setelah semuanya beres, aku dan Kus berkemas untuk meninggalkan area Pasar Karetan. Hari ini aku mendapatkan banyak pengalaman baru. Seperti mengetahui berbagai kuliner tradisional, dolanan bocah jaman dulu, menikmati udara segar di area perkebunan teh, dan berbagai interaksi yang terjadi di Pasar Karetan. Bagiku, Pasar Kareta bisa menjadi salah satu alternatif hiburan di minggu pagi.

Salam Minggu Pagi
Happy Sunday Morning

"Diinformasikan kepada para penumpang kereta api Harina dengan keberangkatan Stasiun Surabaya Pasar Turi menuju Stasiun Bandung bahwa kereta mengalami keterlambatan. Saat ini kereta sedang berada di Stasiun Jambon. Diperkirakan kereta akan tiba di Stasiun Semarang Tawang pada pukul 22:05.”

Pengumuman dari petugas stasiun sontak membuatku lemas. Padahal sudah datang di Stasiun Semarang Tawang pada pukul 20:15 agar tidak ketinggalan kereta, tapi ternyata keretanya telat. Malam ini aku berencana pergi ke Kota Bandung dalam rangka untuk menghadiri kondangan temanku, Raissa Githa.

Hai Bandung...!!!

Acara kondangan pas tanggal 2 Desember 2017, bertepatan dengan acara perayaan 5th Anniversary Backpacker Semarang yang dilaksanakan pada 2-3 Desember 2018. Awalnya bingung untuk ikut acara yang mana. Namun, aku memutuskan untuk pergi ke Kota Bandung. Aku membeli tiket tiga minggu sebelum keberangkatan.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, salah satu temanku di Backpacker Semarang mengabari bahwa akan datang ke Semarang dan mengajak reunian ketika acara Anniversary Backpacker Semarang. Rencana awalnya setelah kondangan, aku berencana untuk  jalan-jalan di daerah Jawa Barat terlebih dahulu. Namun rencana itu batal, aku memutuskan untuk balik ke Semarang pada hari Sabtu. Bandung dan Jawa Barat tidak akan pindah kemana-mana, namun momen reunian ini belum tentu akan terulang lagi.

Ketika menunggu kereta yang tak kunjung datang, aku mendapatkan informasi dari panitia acara Backpacker Semarang bahwa beberapa peserta dari BPI Kediri telah tiba di Stasiun Semarang Tawang. Stasiun yang sama untuk keberangkatan ke Bandung. Aku coba untuk mengontak mereka. Akhirnya kami bertemu di Stasiun Semarang Tawang.

Hai Semarang...!!!

Dalam penantian tersebut, kami menghabiskan waktu di sebuah warung yang terletak di luar stasiun. Secangkir kopi dan cemilan menemani obrolan kami malam itu. Hingga akhirnya aku memutuskan kembali ke dalam stasiun untuk menantikan kedatangan kereta. Pukul 22:05 kereta api Harina telah tiba di Stasiun Semarang Tawang. Tak banyak yang aku lakukan selama perjalanan menuju Bandung. Aku memilih untuk tidur selama perjalanan.

Bareng teman-teman BPI Kediri

Aku mulai terbangun ketika kereta memasuki Stasiun Purwakarta pada pukul 05:00. Kursiku yang terletak di sebelah jendela membuatku leluasa untuk menikmati pemandangan di luar. Jalur kereta menuju Bandung selalu menawarkan pemandangan yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Bisa dibilang salah satu jalur kereta dengan pemandangan yang paling indah di Indonesia. 

Pukul 06:25, aku telah Sampai di stasiun Bandung. Kemudian bergegas menuju rumah temanku yang bernama Rike yang berada di daerah Ujung Berung, Bandung menggunakan Gojek. Rencananya kami akan berangkat bersama ke acara.

Dalam perjalanan aku bertanya banyak hal kepada abang Gojek. Kebetulan dia tidak memakai jaket Gojeknya. Dia bercerita bahwa di daerah Bandung Timur, termasuk Ujung Berung itu daerahnya kurang bersahabat bagi para driver ojek online. Bahkan tidak sedikit yang membatalkan pesanan jika penumpang ke arah sana. Dia cuma berpesan kepadaku untuk sering-sering ngobrol selama perjalanan agar tidak dicurigai sebagai ojek online.

Sesampainya di rumah Rike, aku langsung bersiap-siap untuk segera ke tempat acara. Sekitar pukul 08:15 kami sampai di tempat acara. Acara pernikahan dibalut dengan adat Sunda. Aura kebahagian memenuhi tempat acara. Menu makanan yang disediakan juga sangat lezat dan enak. Beberapa lagu dari Payung Teduh dinyanyikan oleh band pengisi acara. Salah satunya adalah lagu Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan. Maklumlah, Raissa penggemar berat band yang digawangi oleh Mas Is, dkk ini.

Aku merasa senang ketika bisa datang diacara pernikahan Raissa dan suaminya. Aku dan Raissa pertama kali ketemu pada tahun 2013 dalam sebuah perjalanan di Gunungkidul dan Pacitan bersama teman-teman Backpacker Semarang. Setelah itu kami masih sering ketemu. Baik di Bandung, maupun di Semarang. Pernah pada tahun 2014, dia samperin aku yang lagi di Lombok. Namun, aku sudah pulang terlebih dahulu, hikks. Pertemanan kami berlanjut hingga sekarang.

Happy Wedding Raissa-Rizky

Sekitar pukul 13:00, kami meninggalkan area. Rike dan mamanya pulang ke rumah, sedangkan aku akan pergi ke Lapangan Gasibu. Lapangan Gasibu hanya berjarak 2,2 Km dari lokasi acara. Aku memutuskan untuk berjalan kaki ke sana. Siang itu, cuaca di Bandung tidak terlalu panas, sehingga enak digunakan untuk jalan kaki. Kota Bandung sangat cocok bagi mereka yang suka berjalan kaki, seperti yang aku lakukan ketika itu.

Lapangan Gasibu, Bandung

Aku langsung melanjutkan perjalanan menuju Bandara Husein Sastranegara. Jadwal keberangkatanku pukul 17:40. Sengaja berangkat lebih awal. Jalanan kota Bandung sangat tidak bersahabat di libur panjang. Setelah selesai check in, ada pemberitahuan dari petugas maskapai bahwa penerbangan ke Semarang mengalami delay selama 100 menit. Perjalananku mengalami keterlambatan lagi. Tidak banyak yang aku lakukan ketika menunggu. Aku hanya bersandar di kursi ruang tunggu, sambil menikmati senja di tanah Parahyangan.

Gedung Sate, Bandung

100 menit pun telah berlalu, namun belum ada pemberitahuan lebih lanjut tentang pesawat keberangkatan ke Semarang. Hingga ada pemberitahuan dari pihak bandara bahwa penerbangan ke Semarang akan berangkat pada pukul 20:15. Dengan adanya informasi tersebut, berarti aku mesti menunggu lagi sekitar satu jam. Kemudian petugas bandara membagikan makanan kepada para penumpang yang mengalami penundaan keberangkatan. Mungkin makanan ini bisa mengurangi rasa laparku, namun tidak bisa menggantikan waktu kebersamaan yang telah hilang karena menunggu penerbangan ke Semarang.

Reunian...!!! Pertama kali kenal sekitar tahun 2013

Pesawat jenis ATR berhasil mendarat mulus di landasan Bandara Ahmad Yani, Semarang setelah menempuh perjalanan selama 60 menit dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Karena cuaca sedang tidak terlalu bagus, selama perjalanan pesawat beberapa kali mengalami guncangan. Ini merupakan pengalaman keduaku naik pesawat jenis ATR. Setelah turun dari pesawat, aku langsung memesan ojek online. Namun aku baru sadar jika mereka tak bisa masuk ke area bandara. Akhirnya aku terpaksa berjalan kaki terlebih dahulu sejauh 400 meter agar bisa ketemu dengan pengemudinya.

Bareng sebagian teman-teman Backpacker Semarang

Akhirnya sekitar pukul 22:10 aku sampai di tempat acara Bacpacker Semarang di area Grand Maerakaca. Aku disambut oleh beberapa teman yang sudah berada di sana. Beberapa ada yang kaget karena siang tadi masih berada di Bandung, tapi malam ini sudah ada di antara mereka di acara Backpacker Semarang. Rasa senang yang tak bisa diungkapkan karena bisa ketemu dan menjalin silaturahmi dengan teman-teman Backpacker Semarang.

Semarang.....!!!!

Perjalanan singkat Bandung dan Semarang yang penuh cerita dan drama ini memberikan pengalaman baru dalam perjalananku. Orang-orang yang luar biasa aku temui selama perjalanan ini. Mereka menjadikan perjalananku lebih menarik.

Traveling is People. Sebuah perjalanan tidak hanya tentang destinasi wisata atau tempat, namun juga tentang orang-orangnya. Baik itu tentang diri kita sendiri, teman seperjalanan, maupun orang-orang yang kita temui dalam perjalanan. Mungkin orang-orang tersebut akan menjadi bagian atau cerita tersendiri dalam kehidupanmu. Sedangakan destinasi menjadi sebuah latarnya.