Selasa, 10 April 2018

Walking Tour: Menyusuri Sejarah Kereta Api di Kota Semarang

Alunan musik Gambang Semarang menyambut kedatangan kereta Ambarawa Express di Stasiun Semarang Tawang. Kereta ini akan membawa para penumpangnya menuju Stasiun Surabaya Pasar Turi, Kota Surabaya. Alunan musik Gambang Semarang ini selalu menyambut kedatangan setiap kereta dan penumpang yang berhenti di Stasiun Semarang Poncol dan Stasiun Semarang Tawang. Begitu juga ketika kedatanganmu di Kota Semarang. Kamu pernah bilang bahwa kamu begitu menyukai alunan musik ini di setiap kedatanganmu di Kota Semarang. Bahkan alunan musik Gambang Semarang mampu membuatmu seolah-olah menari mengikuti alunan musik. Tangan dan kakimu mulai bergerak mengikuti irama. Terus menari hingga berada di hadapanku di pertemuan kita di kala itu.

Stasiun Tawang

Pagi ini, pukul 08:00 WIB, aku sudah berada di Stasiun Semarang Tawang. Tidak dalam rencana melakukan perjalanan keluar kota atau sedang menunggu kedatanganmu. Aku datang ke stasiun untuk belajar tentang sejarah kereta api di Semarang bersama teman-teman dari Bersukaria. Oyaa, Stasiun Semarang Tawang ini memiliki sejarah dan cerita yang panjang dalam dunia perkeretaapian di Indonesia, termasuk cerita tentang pertemuan dan perpisahan kita. Bagi yang sering ke Semarang dengan menggunakan kereta api, pasti tidak asing dengan dua stasiun yang ada di Semarang, yaitu Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol. Padahal, dahulu di Semarang terdapat tiga stasiun besar. Namun jalur ketiga stasiun ini tidak terhubung sama sekali. Hal itu dikarenakan ketiga stasiun tersebut dimiliki oleh tiga perusahaan kereta api yang berbeda. Baru setelah Indonesia merdeka, jalur Stasiun Semarang Poncol dan Stasiun Semarang Tawang dihubungkan. Begitu yang dikatakan oleh Mas Dimas yang akan menjadi storyteller kami di pagi ini di rute Spoorweg.
Baca Juga: Walking Tour: Sepotong Cerita Dari Kawasan Candi Baroe, Semarang

Bercerita tentang kereta api, tentunya tidak bisa dilepaskan dari Kota Semarang. Sebab kota Semarang merupakan kota pertama di Indonesia yang memiliki kereta api. Pembangunan jalur kereta api dipengaruhi adanya Perang Diponegoro yang menghabiskan banyak dana pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda kemudian mencoba berbagai cara untuk mengembalikan keuangan mereka. Salah satunya dengan cara pembangunan jalur kereta api untuk memangkas biaya logistik.

Pada tahun 1864, jalur kereta api pertama di Indonesia mulai dibangun di Kota Semarang dengan rute menuju Stasiun Semarang-Stasiun Tanggung di Kabupaten Grobogan dengan jarak 25 km. Pembangunan menghabiskan waktu selama tiga tahun (1864-1867). Hal itu disebabkan karena adanya perbedaan kontur wilayah dan teknologi yang sangat masih sederhana mengakibatkan lamanya pembangunan jalur kereta api ini. Pada tahun 1867 kereta api mulai beroperasi di Indonesia dengan rute Stasiun Semarang menuju Stasiun Tanggung sejauh 25 km. Namun, saat ini bentuk Stasiun Semarang sudah tidak dapat ditemui lagi.

Hujan deras mulai mengguyur Kota Semarang di pagi ini. Di sudut stasiun terlihat rombongan anak-anak TK sedang belajar tentang kereta api. Sedangkan di depanku Mas Dimas sedang bercerita tentang Stasiun Tawang kepada para peserta walking tour. Menurut beberapa sumber, Stasiun Tawang merupakan stasiun yang dibangun oleh perusahaan kereta api yang bernama Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) dengan seorang arsitek dari Belanda yang bernama Mr. Sloth Blauwboer. Mulai dibangun pada tahun 1911 dan diresmikan pada 1 Juni 1914. Stasiun Semarang Tawang dikhususkan untuk melayani kereta api penumpang. Nama Tawang diambil dari kampung yang berada di sekitar stasiun, Kampung Tawangsari. Sedangkan kantor NIS berada kantor di Gedung Lawang Sewu.
Baca Juga: Jejak Kekayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula Dari Semarang

Sudut Stasiun Tawang

Stasiun Semarang Tawang menjadi bagian penting dalam sebuah acara yang bernama Semarang De Koloniale Tentoonstelling pada tahun 1914. Koloniale Tentoonstelling merupakan sebuah pameran yang diikuti oleh negara-negara kolonial dengan menampilkan berbagai hasil bumi dan kebudayaan yang ada di daerah jajahannya. Acara ini juga sebagai perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas Prancis. Pameran ini diikuti dari berbagai negara, seperti Inggris, Belanda, India, Amerika Serikat, dan Prancis. Semarang merupakan satu-satunya kota di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara yang pernah menyelenggarakan koloniale tentoonstelling. Para pengunjung pameran yang datang menggunakan kereta api yang berhenti di Stasiun Semarang Tawang. Bangunan Stasiun Semarang Tawang masih sesuai dengan bentuk aslinya, hanya ada beberapa perbaikan yang dilakukan karena stasiun ini sering terkena banjir rob yang berasal dari Laut Jawa.

Ruang tunggu Stasiun Tawang

Sepertinya belum ada tanda-tanda hujan akan reda, sedangkan perjalanan ini harus tetap berlanjut. Beberapa peserta menggunakan jas hujan, topi, dan payung untuk melindungi diri dari guyuran hujan. Aku hanya menggunakan jas hujan plastik yang aku beli di salah satu minimarket yang ada di stasiun. Kami akan berjalan menuju ke sebuah bangunan yang dulunya merupakan kantor salah satu perusahaan kereta api yang ada di Kota Semarang, yaitu Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS).

Salah satu rute yang dilewati

Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) beroperasi di Semarang sejak tahun 1882 dengan rute Semarang-Joana dengan melewati Demak, Kudus, dan Pati. Di belakang bekas kantor SJS terdapat area tambak ikan dan permukiman. Tambak dan permukiman itu dulunya merupakan bekas lokasi Stasiun Semarang NIS dan jalur kereta. Bahkan ada ada jalan di permukiman tersebut diberi nama jalan Spoorland. Hal itu dikarenakan dahulu di daerah tersebut terdapat jalur dan depo kereta api. Sedangkan semua aktivitas kereta api SJS berlangsung di Stasiun Jurnatan. Letaknya tidak terlalu jauh dari bekas kantor SJS.
Baca Juga: 11 Hal yang Bisa Kamu Temui di Pasar Karetan

Bekas kantor Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij 

Kami melanjutkan perjalanan menuju bekas Stasiun Jurnatan. Nasib Stasiun Jurnatan tidak sama dengan Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol karena stasiun ini sekarang hanyalah tinggal kenangan. Pada tahun 1980, Stasiun Jurnatan dirobohkan dan kemudian dibangun kompleks pertokoan. Sebelum dirobohkan, Stasiun Jurnatan dimanfaatkan terlebih dahulu untuk terminal bus. Kemudian terminal bus dipindahkan ke Terminal Terboyo.

Menurut Pak Wawan, salah satu peserta walking tour, dahulu Stasiun Jurnatan sangat besar dan megah dengan kontruksi baja dan kaca dan memiliki beberapa  jalur kereta api. Selain melayani jalur antar stasiun, SJS juga mengelola jaringan kereta trem di Kota Semarang. Trem ini menggabungkan beberapa daerah di Kota Semarang, seperti Bulu, Jalan Bodjong (Pemuda), dan Jomblang. Namun pada tahun 1940, layanan kereta trem mulai dihentikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Hal itu dikarenakan trem dianggap ketinggalan jaman, tidak efisien, dan tidak mampu bersaing dengan angkutan darat lainnya. Kami terus berjalan melewati area pertokoan yang dulu merupakan area Stasiun Jurnatan.
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Penanda bekas Stasiun Jurnatan

Kami melanjutkan perjalanan dalam cuaca yang masih gerimis, melewati beberapa sudut kawasan Kota Lama Semarang menuju depan Kantor Pos Pusat Johar. Kami akan berganti angkot untuk menuju Kantor KAI Daop IV Semarang yang berada di Jalan M.H. Thamrin. Kebetulan hari ini merupakan hari Sabtu dan operasional kantor sedang libur. Petugas keamanan tidak mengijinkan untuk memasuki area halaman kantor.

Kantor KAI Daop IV Semarang merupakan salah satu bangunan peninggalan masa kolonial yang dirancang oleh arsitek Belanda, Thomas Karsten. Dahulunya gedung ini digunakan oleh sebagai kantor bersama perusahaan kereta api  yang bernama Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) dan Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Di halaman kantor terdapat lokomotif kuno buatan pabrik lokomotif dari Manchester, Inggris.
Baca Juga: Menyusuri Romantisme Jalan Bodjong

Hujan tidak menghalangi perjalanan kami

Kami melanjutkan kembali dengan jalan kaki menuju Stasiun Semarang Poncol. perjalanan tidak terlalu jauh, kurang lebih sekitar 1 km dari Kantor Daop IV Semarang. Cuaca gerimis masih menemani perjalanan kami menuju Stasiun Semarang Poncol. Stasiun Semarang Poncol dibangun pada tahun 1914 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) denga arsitek Henri Maclaine Pont. Jalur di Stasiun Semarang Poncol memiliki rute menuju Cirebon. Stasiun ini dibangun dengan tujuan untuk melayani kereta penumpang dan barang.

Stasiun Poncol
Peserta walking tour (foto oleh mbak Indah)

Stasiun Semarang Poncol menjadi tempat terakhir kami dalam menyusuri sejarah kereta api di Semarang. Kami akan melanjutkan perjalanan kembali ke Stasiun Semarang Tawang. Banyak ilmu baru yang aku dapat hari ini. Aku kagum dengan Kota Semarang. Kota ini memang tak memiliki tempat wisata yang menarik bagi sebagian orang. Namun kota ini memiliki banyak cerita dan sejarah yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masa lampau. Kota ini menjadi kota lahirnya kereta api di Indonesia. Seperti kita tahu, setiap tahunnya kereta api mampu membawa jutaan orang berpindah tempat. Dari satu kota ke kota lain. Seperti ketika membawamu datang dan pergi dari kota ini.

Happy Walking Tour

Senin, 02 April 2018

Camping Ceria Bersama Pendaki Photograper Indonesia

Selepas hujan deras yang mengguyur Kota Semarang, aku mulai meluncur menuju Hutan Penggaron yang ada berada di Kabupaten Semarang untuk datang diacara 1st Gathering Nasional (Gathnas) Pendaki Photograper. Di malam minggu ini aku sedang tidak acara. Padahal hampir tiap malam minggu juga tidak memiliki acara. Yaa karena tidak acara, akhirnya aku mlipir menuju Hutan Penggaron. Ini kedua kalinya aku camping di Hutan Penggaron.
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Foto sebagian teman-teman Backpacker Semarang

Gathnas yang diadakan oleh teman-teman Pendaki Photograper ini mengangkat tema Sharing & Book Donations yang dikemas dalam acara camping ceria. Biaya pendaftaran pun terhitung sangat murah, yaitu Rp 30.000/orang dan satu buah buku untuk didonasikan. Aku malam itu membawa satu dus yang berisi puluhan buku yang aku kumpulkan bersama teman-temanku. Buku-buku tersebut nantinya akan didonasikan ke beberapa rumah baca yang ada di Jawa Tengah. Sebuah usaha yang bagus untuk memperkaya literasi di Indonesia, khususnya Jawa Tengah.

Acara api unggun

Setelah selesai registrasi dan menyerahkan buku, aku menuju tempat acara. Beberapa teman-teman Backpacker Semarang terlihat di dekat di panggung acara. Namun, aku memilih tetap berada di belakang dan bergabung dengan peserta lainnya. Peserta yang ikut acara ini sekitar 150 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Jawa Tengah, namun juga dari luar kota. Seperti Jakarta, Subang, Banyuwangi, Tangerang, dan Kediri. Beberapa komunitas juga ikut bergabung dalam acara ini. Semuanya membaur jadi satu dalam acara itu.
Baca Juga: Seru-Seruan di Blogger Camp d'Emmerick Hotel

Acara sharing session

Acara malam hari diisi dengan sharing session dari beberapa narasumber yang berasal dari beberapa komunitas. Mereka membagikan pengalaman mereka kepada semua peserta gathnas. Seperti Mas Herlianto dari Trashbag Community Jateng yang bercerita pengalamannya dalam kampanye menjaga kebersihan di gunung. Kemudian ada Mas Donny dan Mas Nandika yang bercerita tentang pembuatan video dan foto. Selanjutnya ada Mas Singgih dan Mas Alan dari komunitas Pring Berbagi yang cerita tentang kegiatan sosial mereka, khususnya di bidang pendidikan. Seperti kata mereka berdua bahwa nilai tertinggi adalah angka 9. Acara sharing session juga dimeriahkan oleh penampilan komika dari standup comedy Ungaran. Acara sharing session ditutup dengan musikalisasi puisi dari Mas Pongkeng yang berjudul Kenangan.

Tenda-tenda peserta
Suasana pagi di lapangan tempat acara
Malam semakin larut, banyak peserta yang belum beranjak meninggalkan area panggung. Beberapa orang naik ke panggung untuk menghibur kami dengan alunan musik akustik. Alunan lagu Terlalu Manis dari Slank membuka acara musik akustik malam ini. Kemudian disusul dengan berbagai lagu lainnya, mulai dari Kangen-nya Dewa, Kita-nya Sheila on 7, Lestari-nya Boomerang, Sunset di Tanah Anarki-nya Superman Is Dead (SID), Pelangi di Matamu-nya Jamrud, hingga lagu Jaran Goyang-nya Nella, dan Sayang-nya Via Vallen. Lagu-lagu yang dinyanyikan sering menjadi lagu yang menemani perjalanan pendakian gunung. Namun, dari semua lagu yang dinyanyikan tidak ada lagu dari luar negeri. Aku menghabiskan malam itu dengan mendengarkan lagu akustik sambil ngobrol bersama teman-teman lainnya hingga pukul 02:30. Kami keasyikan mengobrol karena kami sadar, kami akan sulit menyediakan waktu untuk mengobrol banyak hal. Jadi yaa pas ketemu kami manfaatkan untuk mengobrol.

Persiapan games
Games Paling Panjang

Pagi hari acaranya adalah games. Games-nya beraneka ragam dan semuanya meriah. Seperti estafet tepung, dan estafet air. Games ini membuat keadaan jadi makin seru. Beberapa peserta saling serang dengan cara melempar tepung. Tidak boleh ada peserta yang terlihat bersih. Bahkan duo MC-nya, Ucup dan Ache Raissa, pun juga tidak luput dari serangan tepung. Dari games didapatkan para pemenang yang mendapatkan hadiah dari panitia. Selain games, panitia juga memberikan dorprize yang dibagikan kepada peserta. Teman-teman Backpacker Semarang banyak yang mendapatkan dorprize, termasuk aku. Kemudian acara Gathnas ditutup dengan berfoto bersama, Cheeerrss..!!!
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Ini para perusuh dari Backpacker Semarang (aku yang pake kaos biru)

Acara camping ceria memang selalu menyenangkan. Aku mengikuti acara 1st Gathnas Pendaki Photograper karena ingin berkumpul dengan teman-teman, sharing dan berkenalan dengan teman-teman komunitas lainnya. Menurutku, acara kemarin terbilang sangat sukses dan berjalan dengan lancar. Lebih dari ratusan peserta mengikuti dan bisa saling berkenalan satu sama lainnya. Ilmu dan pengalaman dalam sharing session sangat bermanfaat bagi peserta, gerakan donasi buku untuk mengembangkan rumah baca, dan tentu saja banyak dorprize yang dibagikan untuk peserta.

Sampai Jumpa di Camping Ceria Selanjutnya
Namaste

Minggu, 25 Maret 2018

Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Pukul 02:45, alarm jam digitalku berbunyi. Tak terlalu keras, namun berhasil membuatku terbangun. Dengan masih merasa mengantuk dan lelah karena outbond kemarin sore, aku berjalan menuju kamar mandi yang berada tidak jauh dari tenda. Biasa ritual pagi yang  pagi ini dilakukan pagi-pagi sekali. Setelah semuanya selesai, aku bergegas menuju lobi hotel untuk berkumpul dengan lainnya. Jadi rencana pagi ini kami akan sunrise trip di Gunung Telomoyo. Ini masih satu rangkaian acara Blogger Camp d'Emmerick Hotel.
Baca dulu: Seru-Seruan di Blogger Camp d'Emmerick Hotel

Pemandangan dari puncak Gunung Telomoyo

Sebelum berangkat, kami berdoa terlebih dahulu agar perjalanan berjalan dengan lancar dan kami bisa menikmati sunrise Gunung Telomoyo. Bagiku, sunrise trip ini terasa sangat spesial. Selain menikmati sunrise bareng teman-teman blogger, di sunrise trip ini kami bakal ditemani S4x4tiga Adventure Offroad dengan menggunakan mobil jeep. Jadi kami akan melibas tanjakan Gunung Telomoyo menggunakan mobil jeep. Ketinggian Gunung Telomoyo sekitar 1844 mdpl. Jalur berupa jalan berbatu. Diatas puncak gunung terdapat beberapa menara pemancar. Kami langsung dipersilakan untuk memilih mobil jeep yang akan kami tumpangi selama perjalanan. Aku memilih mobil jeep warna putih yang dikendarai oleh Pak Edi. Satu mobil dengan Mauren dan Deta. Setelah semuanya siap, perjalanan pun dimulai.

Berdoa sebelum berangkat

Pukul 03.40 kami berangkat menuju Gunung Telomoyo. Konvoi mobil jeep pun terjadi sepanjang perjalanan. Ada sekitar 13 mobil. Mobil yang aku tumpangi berada di barisan depan rombongan. Mobil ini awalnya adalah mobil merk Jimmy Jangkrik tahun 1992 yang dimodifikasi menjadi mobil tipe 4WD. Mobil ini menjadi lebih bertenaga setelah dimodifikasi. Hingga akhirnya kami telah sampai di pintu masuk Gunung Telomoyo dan menunggu yang lainnya.
Baca Juga: Walking Tour: Menyusuri Kampung Kauman

Perjalanan ke Gunung Telomoyo (Foto oleh Rais)

Setelah semua mobil tiba, perjalanan kami lanjutkan kembali. Ini adalah perjalanan yang sebenarnya. Jalanan berbatu yang menanjak menemani perjalanan kami. Beberapa kali bau kopling dan bahan bakar tercium hingga ke dalam mobil. Aku membuka jendela agar mendapatkan udaran segar dan menikmati setiap hembusan angin. Lampu-lampu mobil menyinari jalanan berbatu yang masih gelap. Mobil-mobil ini tidak mengahadapi kendala yang berarti selama melewati jalanan berbatu di Gunung Telomoyo. Pukul 05:15, kami mulai tiba di puncak. Semburat langit jingga sudah mewarnai langit di ufuk timur. Mentari pagi mulai menampakkan diri dari peraduannya. Aku menikmati hangatnya mentari pagi dari atas mobil jeep. Sesekali aku mengambil beberapa jepretan gambar untuk mengabadikan momen-momen di pagi itu. Pagi itu, langit terlihat cerah dan mentari menyapa kami dari ufuk timur. Sunrise pagi itu sangatlah sempurna karena matahari terlihat jelas dan bersama orang-orang yang luar biasa.

Sunrise Gunung Telomoyo
Matahari yang mulai meninggi

Momen matahari terbit telah berlalu, berganti dengan langit biru sejauh mata memandang. Beberapa gunung terlihat dari puncak Gunung Telomoyo, seperti Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Andong. Pagi itu kami mencicipi bakmi rebus hasil masakan chef dari Cleverly Eatery resto yang ternyata ikut perjalanan. Makan di puncak gunung bareng teman kita thu rasanya nikmat sekali. Apapun makanannya pasti terasa enak, apalagi ini yang masak seorang chef. Makasih chef, bakmi rebusnya sungguh nikmat.
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Menu sarapan (Foto oleh Rais)
Sarapan di puncak gunung

Sekitar pukul 08:00 kami mulai meninggalkan puncak gunung untuk kembali menuju d'Emmerick Hotel. Perjalanan turun gunung juga sangat menantang. Jalanan yang kami lewati ternyata hanya muat untuk satu mobil. Pinggir jalan langsung terlihat jurang dan hutan pinus. Pintu masuk Gunung Telomoyo sudah diperbaiki dan dikelola oleh warga sekitar. Layak untuk jadi destinasi wisata untuk kegiatan alam. Sudah tersedia fasilitas toilet dan area parkir yang luas. Papan petunjuk ke Gunung Telomoyo juga sudah terpasang di pinggir jalan.

Yoga di atas jeep yang berada di puncak Gunung Telomoyo
Pagi yang cerah

Pak Edi mengatakan bahwa setelah sunrise trip ini, kami bakal diajak keliling kebun kopi yang ada di area d'Emmerick Hotel. Pak Edi menganjurkan kami untuk menumpang mobil lainnya, karena mobil beliau tidak bisa digunakan untuk berkeliling kebun kopi. Pak Edi juga bilang bahwa berkeliling kebun kopi bakal sangat seru dan menyenangkan. Namun, aku hanya berpikir pasti yaa gitu-gitu aja ketika berkeliling kebun kopi.

Pintu masuk Gunung Telomoyo

Sesampainya di area parkir, aku langsung menumpang mobil jeep Pak Doni. Sedangkan Mauren dan Deta memilih untuk beristirahat. Kami mulai berjalan paling depan diantara mobil lainnya. Ternyata perkiraanku salah, rute kebun kopi ini merupakan rute offroad. Lengkap dengan tanah berlumpur, turunan, dan tanjakan curam. Jadi kami akan diajak untuk offroad di kebun kopi. Aku sangat tertarik karena ini merupakan pengalaman pertamaku.
Baca Juga: Menikmati Kabut di Candi Cetho

Bersiap offroad di kebun kopi

Aku satu mobil dengan Mas Dhave, Leon, dan Mas Hadi. Jalur yang kami lewati benar-benar menantang. Beberapa kami melewati turunan curam. Pak Doni selalu mengingatkan kami untuk selalu berpegangan. Pak Doni menawarkan kepada kami untuk melewati tanjakan yang biasa atau tanjakan yang ekstrim. Kami lebih memilih jalur yang lebih ekstrim untuk dilewati. Terbukti kami harus beberapa kali mencoba untuk bisa melewati tanjakan tersebut. Karena jalur yang sempit dan tanjakan, beberapa kali bagian mobil menyenggol pohon. Dengan keahlian dan pengalaman Pak Doni, kami berhasil melewati tanjakan curam tersebut. Setiap kami berteriak histeris, Pak Doni malah tertawa puas. Mungkin puas karena berhasil memacu adrenalin kami. Di tanjakan curam itu, ada satu mobil yang tidak bisa melewatinya karena roda tersangkut di tanah berlumpur. Akhirnya dengan bantuan mobil Pak Doni, mobil itu bisa ditarik melewati tanjakan curam itu. Kami pun bertepuk tangan atas keberhasilan Pak Doni menolong mobil tersebut.

Proses evakuasi mobil yang tersangkut
Setelah offroad di kebun kopi

Perjalanan selama kurang lebih satu jam offroad di kebun kopi pun berakhir. Aku sangat senang karena mendapatkan pengalaman offroad di kebun kopi. Offroad memang bukan olahraga yang murah, namun kalau ada kesempatan, bolehlah untuk dicoba demi pengalaman dan memacu adrenalin kamu. Sunrise trip Gunung Telomoyo dan offroad di kebun kopi merupakan paket wisata yang disediakan oleh pengelola d'Emmerick Hotel yang bekerjasama dengan S4x4tiga Adventure Offroad. Silakan hubungi pihak hotel untuk keterangan lebih lengkap.

d'Emmerick Hotel
Jalan Hasanudin Km 4, 50734
Salatiga, Jawa Tengah
(0298)325498
Instagram : @hotel_emmerick
Facebook  : d'Emmerick Hotel
Website     : www.d-emmerickhotel.com

Kamis, 22 Maret 2018

Mudik Asyik Naik Kereta Api

Sudah menjadi tradisi  jika setiap menjelang lebaran banyak masyarakat Indonesia melakukan tradisi mudik. Bisa disebut tradisi karena hal itu telah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Oya, sebutan mudik berasal dari kata bahasa Jawa, yaitu mulih diluk yang berarti "pulang sebentar". Dahulu mudik hanya dilakukan pada momen liburan panjang. Namun, saat ini tradisi mudik sudah identik dengan lebaran.

Kabupaten Pandeglang

Seiring berjalannya waktu, mudik telah menjadi agenda rutin tiap tahun. Bahkan mudik dipersiapkan jauh-jauh hari oleh seseorang. Perjalanan panjang pulang ke kampung halaman selalu menjadi momen yang selalu ditunggu-tunggu. Berkumpul dengan keluarga besar selalu menjadi agenda yang tak tergantikan di hari lebaran. Namun, banyak yang mesti dipersiapkan ketika akan melakukan perjalanan mudik. Salah satunya adalah alat transportasi.

Alat transportasi menjadi hal yang sangat penting ketika mudik. Seperti kendaraan pribadi, bus, pesawat, kapal, dan kereta api. Aku selalu menggunakan kereta api karena harga tiket yang terjangkau. Selain itu, kereta api juga memiliki fasilitas dan pelayanan yang bagus, dan bebas macet kecuali ketika ada kecelakaan atau bencana alam. Ini beberapa tips dari aku untuk kalian yang akan mudik menggunakan kereta api.

Pastikan Memiliki Kampung Halaman
Jangan merencanankan agenda mudik jika kalian tidak punya kampung halaman untuk dikunjungi. Kampung halaman tidak hanya tempat atau kota dimana kalian dilahirkan dan dibesarkan. Bisa saja kalian memilih kota kelahiran ayahmu, ibumu, tempat keluarga tinggalmu tinggal, atau mungkin tempat pasanganmu sebagai tempat pulang kampung. Kalau benar-benar tidak memiliki kampung halaman untuk mudik, kalian juga bisa memanfaatkan momen lebaran untuk berwisata.

Walaupun aku lahir dan besar di Semarang, aku masih punya tempat mudik, yaitu kampung halaman ibuku di Kabupaten Pandeglang. Kalau bapakku asli Kota Semarang. Sekali lagi, pastikan dulu kalian memiliki kampung halaman atau tempat yang akan kalian kunjungi.
Baca Juga: Cerita Mudik: Pesan Dalam Sebuah Perjalanan

Stasiun Semarang Tawang

Waktu Perjalanan Mudik
Sebelum mudik, pastikan dahulu kalian akan pergi berapa lama selama mudik. Ini sangat penting untuk memperkirakan di tanggal berapa kalian akan berangkat dan pulang. Lamanya perjalanan juga mempengaruhi besarnya budget yang akan dikeluarkan selama perjalanan mudik. Tidak ada salahnya untuk menambah waktu libur lebaran dengan mengajukan cuti. Yang terpenting, sediakan waktu untuk berkumpul bareng keluarga besar.

Stasiun Rangkasbitung

Beli Tiket Kereta Api
Setelah memutuskan untuk mudik menggunakan kereta api, kalian mesti membeli tiket kereta api sesuai dengan tanggal yang kalian inginkan. Sekarang tiket kereta api bisa dipesan minimal H-90 hari sebelum keberangkatan. Seiring berkembangnya teknologi, pemesanan tiket kereta api sangat mudah dan cepat. Pihak kereta api dan pihak swasta telah menyediakan aplikasi pemesanan tiket kereta api yang aman dan cepat. Salah satunya adalah Tokopedia yang menyediakan menu pembelian tiket kereta api. Tokopedia juga menyediakan promo tiket mudik.

Beberapa hari yang lalu aku mengecek tiket mudik 2018 di Tokopedia. Berharap bisa mendapatkan penawaran harga yang bersahabat dengan kantong. Untuk mudik ke Kabupaten Pandeglang, aku harus membeli tiket kereta api dari jurusan Semarang ke Jakarta. Aku tinggal memasukkan kota keberangkatan yaitu Semarang dan kota Jakarta sebagai kota tujuan. Di menu tersedia beberapa pilihan untuk pergi dan pulang (PP). Selanjutnya akan muncul pilihan nama kereta yang akan membawaku ke Jakarta. Tinggal aku sesuaikan dengan tanggal dan waktu keberangkatan saja.
Baca Juga: Cerita Mudik: Berkeliling Desa Dengan Sepeda Onthel

Menu Tiket Kereta api di tokopedia.com

Barang Yang Dibawa
Walaupun dalam perjalanan mudik, sebaiknya barang yang dibawa disesuaikan dengan acara dan lamanya perjalanan. Jangan sampai terlalu banyak atau terlalu sedikit dalam membawa barang bawaan. Beberapa barang yang biasanya aku bawa ketika mudik atau jalan-jalan antara lain adalah kamera, alat komunikasi, dan pakaian ganti. Baik pakaian ketika aktivitas, maupun pakaian tidur. Termasuk celana panjang tidur pria.

Aku lebih suka menggunakan tas punggung ketika perjalanan mudik. Tas punggung membuatku lebih leluasa dalam bergerak. Terlihat lebih ringkas ketimbang membawa koper. Ketika terjadi antrean, tas punggung lebih mudah dibawa dan tidak menghabiskan banyak tempat.

Stasiun Semarang Poncol

Jangan Datang Terlambat
Aku pernah tiba di stasiun pada waktu 5 menit sebelum kereta berangkat. Aku sangat tergesa-gesa ketika itu. Apalagi belum mencetak boarding pass. Meskipun begitu, aku tidak ketinggalan kereta. Sebaiknya kalian sudah tiba di stasiun maksimal 30 menit sebelum keberangkatan. Sekarang boarding pass juga tidak perlu dicetak dalam bentuk kertas. Tinggal menunjukkan kartu identitas dan barcode yang dikirim oleh pihak KAI.
Baca Juga: Walking Tour: Menyusuri Kampung Kauman

Demikian beberapa hal yang bisa dilakukan ketika akan mudik menggunakan kereta api. Tidak perlu panik, mudik menggunakan kereta api itu sangat mengasyikan dan menyenangkan. Selamat bermudik ria.

Selasa, 20 Maret 2018

Seru-Seruan di Blogger Camp d'Emmerick Hotel

Haii Bro yang baik dan budiman, aku thu sudah sejak lama menyukai kegiatan outdoor. Mungkin sudah sejak usia lima tahun ketika diajak pulang kampung ke Kabupaten Pandeglang, Banten. Kegemaranku itu berlanjut hingga sekarang. Aktivitas seperti mendaki gunung, rafting, trekking, caving, dan camping pernah aku lakukan bersama teman-temanku. Kemudian dari pengalaman-pengalaman itu aku tulis dalam bentuk blog. Tujuannya agar pengalaman-pengalaman tersebut tidak hanya dalam ingatan, namun juga tulisan. Dari aktivitas menulis ini aku mengenal banyak blogger yang memiliki cerita-cerita bagus dan pembaca setia. Dari perkenalan itu, aku diajak untuk bergabung dalam acara Blogger Camp di d'Emmerick Hotel. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung mengiyakan ajakan temanku itu.
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Taman di depan lobby d'Emmerick Hotel

Sekitar pukul 11:00 aku tiba di area d'Emmerick Hotel. Kesan pertama tempat ini adalah sejuk, tenang dan hijau. Di sini banyak pohon dan tanaman. Apalagi letaknya yang berada di jalur menuju kawasan Kopeng menjadikan hotel ini sangat sejuk. Aku bertemu para blogger yang sudah tiba terlebih dahulu. Mereka tidak hanya dari Semarang, tapi juga ada yang berasal dari Jakarta, Jogja, Pekalongan, Salatiga, dan Sukabumi. Selain kamar hotel, d'Emmerick Hotel memiliki camping ground yang bisa disewa untuk kegiatan kemah atau camping. Lengkap dengan tenda yang sudah disediakan oleh pengelola. Area camping inilah yang akan kami gunakan untuk menginap.

Lobby d'Emmerick Hotel
Area d'Emmerick Hotel

Kedatangan kami disambut dengan ramah oleh pengelola hotel di Cleverly Resto yang letaknya tidak jauh dari kolam renang hotel. Kami pun mulai berkenalan dengan para staff dan teman-teman blogger. Setelah acara perkenalan, kami dipersilahkan untuk menikmati hidangan resto. Aroma wangi masakan mulai tercium dari dapur resto. Cleverly Resto memiliki beberapa menu andalan, antara lain adalah Mak Dolah Nikmat dan Gecok Cabut Gunung. Mak Dolah Nikmat merupakan singkatan dari Gemak Diolah Jadi Nikmat. Sedangkan Gecok Cabut Gunung menggunakan bahan utama iga sapi yang diberi kuah. Gecok Cabut Gunung-nya sangat nikmat. Kuahnya terasa dan iga sapi-nya sangat lembut dan tidak alot.

Gecok Cabut Gunung
Mak Dolah Nikmat

Setelah selesai makan, sekitar pukul 2 siang semua peserta berkumpul di d'Emmerick Adventure Park. Kami akan diajak untuk mencoba outbond disana. Seluruh peserta dibagi menjadi dua tim. Tim pertama akan mencoba permainan highropes dan tim kedua akan bermain archery. Aku memilih untuk bermain archery terlebih dahulu. Ada beberapa sasaran dengan jarak tertentu yang bisa dipanah. Kami diajari bagaimana caranya memanah dengan benar. Intinya kami mesti fokus. Meskipun aku sudah mencoba fokus, namum anak panah masih sering tidak tepat sasaran. Bahkan ada yang meleset dari sasaran. Memang tidak mudah untuk memanah, namun sangat menyenangkan. Setelah selesai, kami gantian menjajal permainan highropes. Highropes terdiri dari beberapa lintasan yang berada di atas ketinggian. Seperti wall climbing, dan menuruni tali. Permainan ini akan dipandu oleh instruktur dan perlengkapan yang digunakan sangat aman. Tidak perlu takut untuk bermain highropes. Yang penting yakin.
Baca Juga: Sepotong Cerita Dari Kawasan Candi Baroe

Lintasan highropes
Duel memanah melawan Gus Wahid dan Mas Dhave
Kamu berani?

Kami sudah mencoba permainan highropes dan archery, namun ternyata ada satu permainan lagi yang bisa kami coba, yaitu archery battle. Permainan ini mirip dengan paint ball, namun alat yang digunakan adalah panah dengan busur yang sudah dimodifikasi. Permainan terdiri dari dua tim dengan anggota masing-masing 6 orang dan berlangsung selama 15 menit. Pemain yang terkena busur harus meninggalkan arena permainan. Permainan sangat seru dan mengasyikan. Kami melakukan dua kali permainan dengan skor 1-1. Aku pun sangat menikmati permainan ini. Cukup melelahkan, apalagi bagi jarang berolahraga seperti aku ini.
Baca Juga: Walking Tour: Menyusuri Kampung Kauman, Semarang

Archery Battle (Foto oleh Mas Rais)

Menjelang malam acara diisi dengan acara santai. Banyak hal yang kami obrolkan malam itu, mulai dari media sosial, pariwisata, blogging, hingga event-event yang akan datang. Kemudian mas Dhave berbagi pengalamannya tentang blogging. Pengalaman-pengalaman itu secara tidak langsung menginpirasiku untuk terus nge-blog dan berbagi cerita. Mas Erfix yang seorang youtuber juga tidak mau kalah, dia bercerita tentang hal-hal lucu yang dia alami dalam sebuah perjalanan. Mas Erfix ini sering melakukan perjalanan tanpa sebuah rencana. Bisa dibilang "yang penting berangkat dulu". Apalagi di baju yang dipakai tertulis "I'm not Traveller". Aku merasa malam ini merupakan malam yang sangat berfaedah.

Sharing Session (Foto oleh Mas Rais)
Cheerrs (Foto oleh Mas Rais)

Malam semakin larut, kami beranjak untuk kembali ke tenda kami. Besok pukul 03:00 kami akan sunrise jeep tour di Gunung Telomoyo. Perjalanan menikmati sunrise di Gunung Telomoyo dengan menggunakan mobil jeep. Perjalanan ini sangat seru dan akan aku ceritakan pada artikel selanjutnya. Yang pasti aku sangat suka mengikuti acara Blogger Camp ini. Selain bisa mengikuti acara camping dan outbound, aku juga bisa menambah ilmu, pengalaman, pengetahuan, dan tentunya teman baru.

d'Emmerick Hotel
Jalan Hasanudin Km 4, 50734
Salatiga, Jawa Tengah
(0298)325498
Instagram : @hotel_emmerick
Facebook  : d'Emmerick Hotel
Website     : www.d-emmerickhotel.com

d'Emmerick Adventure Park
Highropes           : Rp 50.000/orang
Archery               : Rp 30.000/orang
Archery Battle    : Rp 60.000/orang
ATV                    : Rp 50.000/orang
Flying Fox          : Rp 25.000/orang


Rabu, 07 Maret 2018

Walking Tour: Menyusuri Kampung Kauman

Heei good people, kalau musim penghujan seperti sekarang ini, Kota Semarang mendadak menjadi kota yang sangat sejuk. Berbeda dengan biasanya yang panas. Kalau musim hujan gini, pagi hari di Semarang biasanya cerah dan menjelang sore hujan mulai turun hingga malam hari. Pernah beberapa kali kota Semarang mulai diguyur hujan dari pagi hingga malam hari. Namun tidak jarang pagi hari Kota Semarang hanya diselimuti awan mendung nan sejuk. Jika cuaca sudah seperti ini, salah satu hal seru yang bisa dilakukan adalah jalan-jalan keliling Kota Semarang. Seperti biasanya, aku dan teman-teman dari Bersukaria akan walking tour. Pagi ini walking tour dengan rute Kampung Kauman.

Perkenalan sebelum walking tour

Pagi ini kami berkumpul di depan Hotel Dibya Puri. Hotel Dibya Puri merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Semarang. Hotel Dibya Puri dulunya bernama Hotel Du Pavillon yang dibangun pada tahun 1847. Pada tahun 1913, hotel ini direnovasi untuk menyambut pameran Koloniale Tentoonstelling pada tahun 1914 di Kota Semarang. Pameran yang dianggap terbesar di Asia Tenggara pada saat itu. Hotel Du Pavillion terletak di Jalan Raya Pos (Jalan Pemuda/ Jalan Bodjong) dan merupakan wilayah yang sangat strategis dan dekat dengan pusat bisnis kawasan Kota Lama, Stasiun Semarang Tawang, Stasiun Semarang Poncol, kantor pos Johar, dan Alun-alun Kota Semarang. Meskipun merupakan bangunan cagar budaya, Hotel Dibya Puri sudah tidak digunakan lagi. Terlihat sepi dengan berbagai kerusakan di berbagai sudut bangunan. Rapuh termakan usia.
Baca Juga: Walking Tour: Sepotong Cerita Dari Kawasan Candi Baroe, Semarang 

Hotel Dibya Puri
Area yang dahulu merupakan alun-alun Kota Semarang

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Semarang atau yang lebih dikenal dengan Masjid Kauman. Kata Kauman diambil dari kata Kaum Aman, yang berarti tempat para alim ulama. Oleh karena itu, di sekitar Masjid Kauman terdapat beberapa pondok pesantren. Di sebelah utara Masjid Kauman dahulunya merupakan alun-alun Kota Semarang. Di sekitar alun-alun Kota Semarang dulunya terdapat kantor pemerintahan, masjid besar, pasar, dan penjara. Sama seperti konsep alun-alun yang ada di Pulau Jawa. Namun, kini alun-alun Kota Semarang sudah berubah menjadi pusat perdagangan, hotel, dan gedung perkantoran. Kata Mas Ardhi, guide dari Bersukaria, bahwa alun-alun berbentuk trapesium. Hal itu dikarenakan adanya pembangunan Jalan Raya Pos Daendels yang memotong sebagian kawasan alun-alun.

Masjid Kauman

Masjid Kauman dibangun pertama kali pada tahun 1743, 10 tahun lebih tua dari bangunan pertama di kawasan Kota Lama, Gereja Blenduk. Awalnya Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman terletak di daerah Pademaran, sisi timur Pasar Johar. Pada tahun 1740 terjadi sebuah peristiwa Geger Pecinan dan masjid mengalami kebakaran. Akhirnya masjid dipindahkan di tempat masjid yang sekarang. Masjid Kauman menjadi satu-satunya masjid di Indonesia yang mengumumkan peristiwa kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dr. Agus, tokoh yang mengabarkan kemerdekaan Republik Indonesia, menyiarkan berita proklamasi melalui pengeras suara Masjid Kauman. Karena peristiwa tersebut,  dr. Agus diburu dan akhirnya meninggal dibunuh oleh tentara Jepang.
Gapura Masjid Kauman
Digantung di gang-gang Kauman

Salah satu yang unik dari Masjid Kauman adalah di dalamnya memiliki 36 pilar yang masih asli dan atap masjid berbentuk tumpang sari. Selain itu, gapura depan masjid juga merupakan bangunan asli. Di gapura ini juga tertulis plakat yang ditulis dalam empat bahasa, bahasa Arab, Melayu, Jawa, dan Belanda. Dahulu setiap menjelang bulan Ramadhan, di Masjid Kauman selalu diadakan festival dugderan. Dugderan sendiri berasal dari kata "Dug" yang berarti suara bedug dan "Der" yang berarti suara meriam. Dugderan digunakan sebagai penanda untuk memasuki bulan Ramadhan. Dugderan sudah dilaksanakan sejak tahun 1881 pada masa pemerintahan KRMT Purbaningrat.
Baca Juga: 11 Hal Ini Bisa Kamu Temui di Pasar Karetan

Atap salah satu rumah di Kauman
Jalan yang ada di Kampung Kauman

Di sekitar Masjid Kauman terdapat beberapa gang kecil. Gang-gang kecil memiliki nama yang menggambarkan aktivitas masyarakat atau keadaan di gang tersebut. Seperti gang Kepatehan yang berarti bahwa di daerah tersebut dahulunya terdapat warga yang memproduksi teh. Kemudian ada gang Butulan yang berarti di gang ini terdapat jalan tembus (butul). Kemudian ada Gang Krendo yang berasal dari kata krendo (keranda), yang menunjukkan bahwa dulunya tempat ini merupakan tempat untuk menyimpan keranda jenazah. Di Kampung Kauman sendiri memiliki banyak gang-gang kecil yang masih terhubung

Aktivitas warga

Kami mulai masuk keluar gang-gang sempit yang ada di Kauman. Selama perjalanan aku bisa melihat berbagai aktivitas warga. Selain itu, di Kampung Kauman masih bisa ada beberapa rumah dengan desain kuno. Rumah-rumah itu masih berdiri dengan kokoh dan terawat dengan baik. Kampung Kauman dihuni dari berbagai etnis. Tidak hanya etnis pribumi, Arab. Namun juga etnis Melayu dan Tionghoa. Kampung Kauman telah berkembang tidak hanya dalam keagamaan, namun juga bisnis. Letaknya yang strategis dengan sejumlah pasar membuat sebagian besar warganya membuka toko, kios atau berjualan di pasar. Di sekitar gang yang tidak terlalu jauh dari Masjid Kauman terdapat sebuah warung lumpia yang terkenal di Kota Semarang dan telah diturunkan ke beberapa generasi. Lumpia itu merupakan salah satu makanan hasil akulturasi budaya antara etnis Tinghoa dan Jawa.
Baca Juga: Jejak Kejayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula dari Semarang

Loenpia Mbak Lien

Perjalanan kami lanjutkan menuju beberapa lokasi yang dulunya merupakan kantor pemerintahan kota dan bekas gedung bioskop. Kemudian menuju bekas bangunan Pasar Johar yang tampak mengenaskan karena peristiwa kebakaran dua tahun yang lalu. Kerangka bangunan masih dilihat dengan jelas, termasuk tiang-tiang jamur yang menjadi ikon Pasar Johar. Kami tak memasuki area bekas bangunan karena untuk menghindari hal-hal yang tidak diingikan. Termasuk memberikan "uang keamanan" pada oknum-oknum warga yang tidak bertanggung jawab. Kisah-kisah manis tentang Pasar Johar hanyalah tinggal sebuah cerita dan kenangan dari sebuah pasar, yang pernah menjadi pasar terbesar di Asia Tenggara.

Bekas gedung bioskop Kanjengan
Bekas Pasar Johar (foto by @bersukariawalk)

Setelah dari Pasar Johar, kami mulai menyusuri gang sempit di Pasar Ikan Hias. Ini pengalaman pertamaku memasuki area Pasar Ikan Hias. Kami tidak sedang membeli ikan hias yang akan ditaruh di akuarium, namun untuk melihat sebuah bekas bangunan yang berada di ujung pasar. Faberik Hygeia, begitulah sebuah tulisan yang masih terlihat jelas di sebuah dinding gedung yang tampak kusam dan tua. Gedung ini dulunya merupakan sebuah pabrik air minum kemasan dengan merk Hygeia. Pabrik Hygeia didirikan oleh Hendrik Freerk Tillema. Selain air minum kemasan, Pabrik Hygeia juga memproduksi minuman bersoda. Nama Hygeia diambil dari cerita mitologi Yunani, yang merupakan anak dari Asklepios, dewa pelindung kesehatan. Meskipun Pasar Ikan Hias ini selalu ramai dikunjungi, namun tidak banyak orang yang tahu bahwa di tempat itu dulunya terdapat pabrik air minuman pertama di Hindia Belanda.

Pasar Ikan Hias
Faberik Hygeia

Walking tour kami  berakhir di bekas bangunan Faberik Hygeai ini. Belajar tentang sebuah tempat memang tidak pernah ada habisnya. Dalam perjalanan ini, aku baru mengetahui bahwa Kampung Kauman memiliki peran penting dalam perkembangan Kota Semarang. Mulai dari sebagai pusat keagamaan, bekas pusat Kota Semarang, area bisnis, hingga tempat akulturasi sebuah kebudayaan dari beragam etnis yang ada di Kota Semarang. Dari berjalan kaki inilah aku menjadi sedikit lebih tahu cerita tentang kotaku. Ayo kita berjalan kaki bersama dan saling bertukar cerita tentang apa yang kita temui selama perjalanan.

Happy Walking Tour