Senin, 28 Mei 2018

Tempat Wisata di Solo Dan Sekitarnya Yang Sedang Ngehits

Liburan di Solo memang identik dengan wisata sejarah, wisata belanja batik, dan wisata kuliner yang tersebar di berbagai sudut kota. Untuk wisata sejarah kita bisa berkunjung ke Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran.  Kemudian perjalanan berburu batik bisa kita lakukan di Kampung Laweyan dan Pasar Klewer. Di Kampung Laweyan kita bisa melihat dan belajar cara pembuatan batik.

Curug Grojogan Sewu (sumber: trover.com/u/gyen09) 

Setelah kita belajar sejarah dan belanja batik, kita bisa menikmati berbagai kuliner yang ada di Kota Solo, mulai dari srabi notosuman, selat Solo, soto gading, tengkleng, sate buntel, cambuk rambak, sate kere, hingga nasi liwet Solo. Beberapa tempat kuliner buka hingga tengah malam. Tapi sebenarnya Solo juga memiliki banyak tempat wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi.

Selat Solo 

Selain wisata sejarah, wisata belanja batik, dan wisata kuliner, Solo juga memiliki wisata alam yang tidak kalah cantik dari kota-kota lainnya di Indonesia. Pilihannya memang tak terlalu banyak, namun semuanya layak untuk masuk daftar tempat liburan kamu ke Solo nantinya.

Untuk kamu penyuka suara gemuruh air,  air terjun Gerojogan Sewu adalah salah satu tempat wisata di Solo legendaris yang wajib kamu datangi. Sejak puluhan tahun silam, Gerojogan Sewu sudah ramai dikunjungi wisatawan. Baik dari kota Solo sendiri, maupun para turis dari luar kota, bahkan luar negeri. Tak heran traveloka.com juga merekomendasikan air terjun ini bagi wisatawan yang mencintai suasana alam. Air terjun yang terletak di Tawangmangu, Karanganyar ini memang cantik. Meski lokasinya tak tepat di wilayah Solo, namun karena jaraknya yang dekat, maka selalu jadi tujuan wisatawan yang liburan ke kota ini.

Wisata ke kawasan pegunungan dengan udara sejuk yang menyegarkan pastinya disukai oleh siapa saja. Ada Gunung Sepikul yang terletak di wilayah Sukoharjo. Dinamakan Gunung Sepikul karena dari kejauhan, dua batu besar yang ada di kawasan ini tampak seperti pikulan (alat angkut yang berbentuk seperti timbangan).

Gunung Sepikul (sumber: Rizki Fandy Pratama/wikipedia.org)

Pemandangan utama dari Gunung Sepikul adalah matahari terbit alias sunrise yang amat cantik. Karena itu, sangat disarankan untuk berangkat ke sana sebelum subuh, agar bisa melihat pemandangan luar biasa indah ketika matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur.

Kemudian kita bisa bertolak ke Wonogiri, tepatnya di daerah Sendang ada Puncak Joglo yang dikenal juga dengan nama Puncak Gantole. Pemandangan yang menghampar di hadapan bukit ini adalah Waduk Gajah Mungkur yang menjadi sumber perairan di Kota Solo, dengan udara sejuk yang memikat.

Olahraga gantole

Dinamakan Puncak Gantole karena kawasan ini menjadi tempat landasan pacu untuk olahraga gantole. Tapi karena pemandangan dari landasan pacunya sangat cantik, membuat Puncak Gantole tidak hanya ramai oleh para atlet, tapi juga jadi jujugan wisatawan yang sedang liburan di Solo dan sekitarnya.

Air terjun lain yang kerap dikunjungi adalah  Air Terjun Jumog. Sejuknya udara di sekitar air terjun ini membuat banyak wisatawan seolah merasa bahwa tempat ini adalah sebuah surga yang selama ini tak menampakkan dirinya. Berada di Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Air Terjun Jumog pastinya memanjakan mata.

Air Terjun Jumog (sumber:Ami Rosemarwati/wisataberjo.com)

Pemandangan alam di sekitar kawasan air terjun yang indah, penuh dengan pepohonan nan menghijau. Sementara air yang terjun dari puncak tebingnya amat jernih, yang kemudian mengalir ke sungai penuh bebatuan di sekitar kawasan wisata alam di Solo ini.

Tidak jauh dari Air Terjun Jumog, ada air terjun lain yang tidak kalah cantiknya, yaitu Air Terjun Parang Ijo. Lokasi air terjun ini berada di kawasan Gunung Lawu, dengan ketinggian sekitar 60 meter dan memiliki air yang sangat jernih. Udara sejuk langsung menyeruak begitu kamu memasuki kawasan wisata yang berada di Karanganyar ini. Di sisi kanan dan kiri air terjun terdapat pepohonan dan tumbuhan yang menghijau, membuat pemandangannya tampak segar.

Kebun Teh Kemuning

Ketika berada di kabupaten Karanganyar, kita juga bisa berkunjung ke Candi Sukuh dan Candi Cetho. Kedua candi tersebut memiliki corak budaya agama Hindu. Di Candi Cetho kita bisa menikmati pemandangan matahari terbenam dari kawasan candi. Dalam perjalanan menuju Candi Cetho, kita bisa menyempatkan diri untuk berkunjung ke kebun teh Kemuning. Terdapat beberapa kedai the yang bisa kita singgahi dalam perjalanan. Salah satunya adalah Kedai teh Ndoro Donker. Tentu saja hal itu sangat menyenangkan karena kita bisa menyeduh teh sambal menikmati pemandangan hamparan kebun teh.

Solo dan sekitarnya memang memesona. Jadi, kapan kamu liburan ke sini?

Rabu, 02 Mei 2018

Walking Tour: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang

Halo Good People, dalam waktu kurang lebih satu tahun ini aku merasa sangat senang. Hal itu dikarenakan adanya kegiatan walking tour di Kota Semarang. Penggagas kegiatan walking tour ini adalah teman-teman dari Bersukaria. Biasanya diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu. Saat ini Bersukaria memiliki 11 rute walking tour. Sebagian besar aku pernah mengikuti rute-rute tersebut. Rute-rute tersebut memiliki cerita-cerita yang menarik

Klenteng Tay Kak Sie

Dari semua rute itu, ada beberapa rute yang menjadi favoritku. Hal itu berdasarkan kondisi rute dan cerita sejarah yang ada di rute tersebut. Salah satu rute favoritku adalah rute  Chinatown (Pecinan). Aku sudah mengikuti rute ini sebanyak dua kali, namun aku masih belum bisa memahami cerita-cerita yang ada di rute ini. Salah satu kesulitan yang aku alami adalah mengingat nama-nama Tionghoa. Selain itu, rute ini memberikan banyak pengetahuan dan filosofi baru yang memberikan daya tarik tersendiri bagiku. Welcome to Chinatown.
Baca Juga: Sepotong Cerita dari Kawasan Candi Baroe, Semarang

Sabtu pagi aku sudah tiba di Klenteng Tay Kak Sie yang ada di gang Lombok, Pecinan. Terlihat belasan peserta yang akan ikut walking tour kali ini. "Wouw, sepertinya pagi ini banyak yang ikut walking tour. Mungkin paling banyak selama aku mengikuti kegiatan ini", gumamku dalam hati. Peserta berasal dari berbagai kalangan, termasuk beberapa mahasiswa. Bahkan ada peserta yang berasal dari Jakarta. Kali ini yang bertugas sebagai storyteller adalah Mas Fauzan.

Lumpia Gang Lombok

Setelah perkenalan, Mas Fauzan mulai bercerita tentang Pecinan. Salah satunya sedikit cerita tentang Klenteng Tay Kak Sie yang menjadi titik kumpul dan titik akhir perjalanan kami. Mengapa hanya sedikit? Karena cerita selengkapnya akan diceritakan pada akhir perjalanan nanti. Klenteng Tay Kak Sie terletak di Gang Lombok. Diberi nama Gang Lombok karena dulu tempat ini merupakan kebun lombok. Secara nama, Klenteng Tay Kak Sie merupakan klenteng tertua di Pecinan. Namun secara bangunan, klenteng ini bukanlah yang tertua. Klenteng Tay Kak Sie yang dibangun pada tahun 1771 ini merupakan hasil perpindahan dari lokasi klenteng yang lama. Selain itu, Klenteng Tay Kak Sie dijuluki sebagai istana para dewa.

Klenteng Siu Hok Bio, klenteng tertua di kawasan Pecinan Semarang

Keberadaan kawasan Pecinan tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Geger Pecinan yang terjadi pada tahun 1740 hingga 1743. Geger Pecinan merupakan peristiwa perlawanan orang-orang etnis Tionghoa melawan VOC atau pemerintah Hindia Belanda yang terjadi di pesisir utara Pulau Jawa. Dalam peristiwa tersebut, etnis Tionghoa mengalami kekalahan. Setelah peristiwa itu, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk menempatkan mereka dalam satu wilayah agar mudah untuk diawasi. Kawasan Pecinan itu tidak hanya di Semarang. Tapi juga di kota lain, seperti di Jakarta yang dikenal dengan Glodok, dan di Rembang yang dikenal dengan Lasem. Karena banyaknya klenteng, kawasan Pecinan, Semarang sering disebut dengan negeri 1001 klenteng. Meskipun total jumlahnya sebanyak sembilan klenteng.
Baca Juga: Walking Tour: Menyusuri Kampung Kauman

Kali ini aku tidak akan bercerita detail tentang walking tour di rute Pecinan atau pun tentang cerita setiap klenteng. Tetapi tentang hal-hal unik yang aku temui dalam walking tour ini. Seperti beberapa jalan di kawasan Pecinan diberi nama sesuai dengan kondisi tempat tersebut. Misalnya Jalan Gang Pinggir yang berarti lokasinya berada di pinggir Kali Semarang, dan gang Lombok yang dulu merupakan kebun lombok. Di sebelah Kali Semarang terdapat tempat pembuatan barongsai di Pecinan. Di sekitar kali ini dulunya terdapat gudang seorang yang saudagar yang bernama Koh Ping. Yang kemudian dikenal dengan kali-nya Koh Ping dan sekarang dikenal oleh warga sebagai Kali Kuping. Cukup unik. Cara pengucapan warga sekitar menjadi kearifan lokal dalam pemberian nama sebuah tempat.

Beberapa bangunan di Pecinan masih terlihat asli. Salah satu yang menjadi ciri khas bangunan atau rumah etnis Tionghoa adalah bentuk atap yang menyerupai pelana kuda. Selain itu, terdapat bangunan yang memiliki atap tidak rata akibat terkena pelebaran jalan. Beberapa rumah yang juga digunakan sebagai toko di kawasan Pecinan memiliki jendela yang tidak hanya berfungsi sebagai keluar masuknya udara, namun juga berfungsi sebagai meja meletakan barang jualan mereka. Berhubung hari ini masih dalam masa perayaan Hari Tahun Baru Imlek, banyak rumah atau toko yang tutup.

Jendela yang multifungsi

Seperti yang aku ceritakan di atas tadi, jumlah klenteng di Pecinan, Semarang berjumlah sembilan klenteng. Di setiap klenteng terdapat gambar harimau yang berada di sebelah kanan dan naga yang terletak sebelah kiri dan letaknya di dekat pintu. Peletakan patung ini berdasarkan perhitungan fengshui. Di beberapa klenteng juga ada terdapat tiga patung sebagai simbol keturunan, kemakmuran dan umur panjang. Itu merupakan tiga hal penting menurut kepercayaan mereka. Bagi mereka yang bisa meraih ketiganya berarti hidupnya sempurna.

Simbol umur panjang, kesejahteraan, dan keturunan
Menurut Mas Fauzan, kata klenteng berasal dari bunyi lonceng sebagai pemberitahuan ketika ada acara di kuil. Selain lonceng, klenteng di Semarang juga terdapat sebuah bedug. Bedug ini merupakan tanda penghormatan yang diberikan kepada kerajaan Demak yang telah mengirimkan utusannya untuk membantu pembebasan Klenteng Sam Poo Kong dari bangsa Yahudi.

Lonceng dan Bedug yang ada di klenteng di kawasan Pecinan

Selain klenteng yang merupakan milik umat, beberapa klenteng di kawasan Pecinan juga dimiliki secara pribadi. Salah satunya adalah Klenteng See Hok Kiong. Klenteng See Hok Kiong merupakan klenteng Dewi Laut yang dimiliki oleh keluarga Lhiem. Di depan klenteng terdapat Kali Semarang yang terhubung hingga Laut Jawa. Dahulu banyak nelayan yang akan melaut singgah terlebih dahulu untuk sembahyang di klenteng ini untuk memohon keberkahan dan keselamatan selama berlayar di laut. Di Klenteng See Hok Kiong juga terdapat empat patung kera yang menyimbolkan seorang manusia harus bisa menjaga perkataan (tutup mulut), menjaga pendengaran (tutup telinga), menjaga pandangan (tutup mata), dan menjaga kesusilaan (menutup alat kelamin). Selain Klenteng See Hok Kiong, ada klenteng Hwie Hwie Kiong yang dimiliki keluarga Tan. Dahulu keluarga Tan sangat dekat dengan pemerintah Hindia Belanda.

Klenteng See Hok Kiong
Empat Patung Kera

Tidak hanya klenteng atau kuil yang menarik untuk diceritakan, namun juga sebuah pasar. Bukan tentang Pasar Semawis yaa, tapi tentang pasar Gang Baru. Para pedagang Pasar Gang Baru hampir semuanya adalah orang pribumi. Menurut Mas Fauzan, hal itu disebabkan karena etnis Tionghoa berada dalam pengawasan pemerintah Hindia Belanda sehingga tidak bisa keluar dari kawasan Pecinan. Sehingga mereka mengundang orang-orang pribumi untuk berjualan di Gang Baru demi memasok kebutuhan sehari-hari mereka.

Pasar Gang Baru

Gang Baru dipilih karena letaknya yang cukup dekat dengan Kali Semarang yang berfungsi sebagai jalur transportasi. Pasar itu terus berkembang seiring kesepakatan antara pribumi dan warga Tionghoa. Seiring berjalannya waktu, perjanjian tidak resmi itu berlanjut hingga sekarang. Orang-orang pribumi tetap diperbolehkan berjualan di depan rumah yang berada di Gang Baru, sedangkan orang etnis Tionghoa berjualan di dalam toko, kios atau rumah mereka.

Klenteng Hoo Hok Bio

Di dekat Pasar Gang Baru juga terdapat sebuah klenteng yang bernama Klenteng Hoo Hok Bio. Di depan klenteng ada pengrajin rumah kertas. Pengrajin rumah kertas ini merupakan satu-satunya yang ada di kawasan Pecinan. Toko ini milik Bapak Bin Hook yang telah berdiri selama tiga generasi. Toko ini merupakan warisan dari kakeknya. Rumah kertas merupakan tradisi mengirimkan sesuatu kepada leluhur yang sudah meninggal. Harga rumah kertas dijual dengan berbagai harga, tergantung besar dan jenis rumah kertasnya. Selain rumah kertas, Bapak Bin Hook juga membuat lampion. Di Pecinan juga terdapat pembuatan bongpay, yaitu batu nisan yang ada di makam warga Tionghoa. Batu yang digunakan untuk bongpay harus selalu baru, tidak boleh batu bekas.

Pengrajin Rumah Kertas
Bapak Bin Hook sedang membuat pola lampion
Batu bongpay

Kami juga melewati Gang Warung. Gang Warung merupakan tempat digelarnya Pasar Semawis yang berlangsung setiap malam di hari Jum'at-Minggu. Kata Semawis merupakan sebutan awal dari Kota Semarang yang diberikan oleh Kyai Ageng Pandanaran. Kata Semawis berasal dari kata aseme awis yang berarti pohon asem yang jarang. Sekarang dikenal dengan Semarang. Setelah melewati Gang Warung, kami menuju ke titik awal yaitu Klenteng Tay Kak Sie.

Para peserta walking tour

Seperti yang aku tulis di atas, Klenteng Tay Kak Sie disebut sebagai istana para dewa karena koleksi dewa yang ada di klenteng ini paling banyak di antara klenteng lainnya di kawasan Pecinan. Bahkan koleksi dewa di Klenteng Sam Poo Kong juga tidak sebanyak di klenteng ini. Klenteng Tay Kak Sie juga menyediakan chiamsi, yaitu semacam ramalan etnis Tionghoa. Klenteng Tay Kak Sie selalu ramai dikunjungi oleh warga yang melakukan sembahyang. Para penjaga klenteng akan menyambut dengan ramah para pengunjung klenteng. Mereka tidak keberatan untuk menceritakan tentang sejarah klenteng tersebut.
Baca Juga: Sunset Trip Gunung Telomoyo

Perjalanan walking tour Pecinan berakhir di Klenteng Tay Kak Sie. Tak terasa kami telah berkeliling Pecinan selama empat jam. Semua klenteng di kawasan Pecinan, Semarang terbuka untuk masyarakat umum. Tapi alangkah baiknya tetap ijin kepada penjaga klenteng. Ketika mengunjungi klenteng atau tempat ibadah lainnya, kita harus menjaga ketenangan, ketertiban, kesopanan, dan tentu saja menghormati warga yang sedang melakukan ibadah atau sembahyang.

Melepas burung gereja

Hal-hal unik itulah yang membuatku suka akan rute Chinatown (Pecinan) ini. Masih banyak lagi hal unik  yang bisa kamu temui. Saranku, ikutlah walking tour bareng teman-teman Bersukaria untuk mendapatkan pengalaman seru keliling kawasan Pecinan, Semarang. Aah, alangkah senangnya di Kota Semarang memiliki kawasan Pecinan. Selain klenteng, sejarah, tradisi, adat istiadat, kawasan Pecinan juga banyak menu kulineran yang patut dicicipi. Jadi, kapan kita walking tour dan kulineran bareng..?

Happy Walking Tour

Selasa, 10 April 2018

Walking Tour: Menyusuri Sejarah Kereta Api di Kota Semarang

Alunan musik Gambang Semarang menyambut kedatangan kereta Ambarawa Express di Stasiun Semarang Tawang. Kereta ini akan membawa para penumpangnya menuju Stasiun Surabaya Pasar Turi, Kota Surabaya. Alunan musik Gambang Semarang ini selalu menyambut kedatangan setiap kereta dan penumpang yang berhenti di Stasiun Semarang Poncol dan Stasiun Semarang Tawang. Begitu juga ketika kedatanganmu di Kota Semarang. Kamu pernah bilang bahwa kamu begitu menyukai alunan musik ini di setiap kedatanganmu di Kota Semarang. Bahkan alunan musik Gambang Semarang mampu membuatmu seolah-olah menari mengikuti alunan musik. Tangan dan kakimu mulai bergerak mengikuti irama. Terus menari hingga berada di hadapanku di pertemuan kita di kala itu.

Stasiun Tawang

Pagi ini, pukul 08:00 WIB, aku sudah berada di Stasiun Semarang Tawang. Tidak dalam rencana melakukan perjalanan keluar kota atau sedang menunggu kedatanganmu. Aku datang ke stasiun untuk belajar tentang sejarah kereta api di Semarang bersama teman-teman dari Bersukaria. Oyaa, Stasiun Semarang Tawang ini memiliki sejarah dan cerita yang panjang dalam dunia perkeretaapian di Indonesia, termasuk cerita tentang pertemuan dan perpisahan kita. Bagi yang sering ke Semarang dengan menggunakan kereta api, pasti tidak asing dengan dua stasiun yang ada di Semarang, yaitu Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol. Padahal, dahulu di Semarang terdapat tiga stasiun besar. Namun jalur ketiga stasiun ini tidak terhubung sama sekali. Hal itu dikarenakan ketiga stasiun tersebut dimiliki oleh tiga perusahaan kereta api yang berbeda. Baru setelah Indonesia merdeka, jalur Stasiun Semarang Poncol dan Stasiun Semarang Tawang dihubungkan. Begitu yang dikatakan oleh Mas Dimas yang akan menjadi storyteller kami di pagi ini di rute Spoorweg.
Baca Juga: Walking Tour: Sepotong Cerita Dari Kawasan Candi Baroe, Semarang

Bercerita tentang kereta api, tentunya tidak bisa dilepaskan dari Kota Semarang. Sebab kota Semarang merupakan kota pertama di Indonesia yang memiliki kereta api. Pembangunan jalur kereta api dipengaruhi adanya Perang Diponegoro yang menghabiskan banyak dana pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda kemudian mencoba berbagai cara untuk mengembalikan keuangan mereka. Salah satunya dengan cara pembangunan jalur kereta api untuk memangkas biaya logistik.

Pada tahun 1864, jalur kereta api pertama di Indonesia mulai dibangun di Kota Semarang dengan rute menuju Stasiun Semarang-Stasiun Tanggung di Kabupaten Grobogan dengan jarak 25 km. Pembangunan menghabiskan waktu selama tiga tahun (1864-1867). Hal itu disebabkan karena adanya perbedaan kontur wilayah dan teknologi yang sangat masih sederhana mengakibatkan lamanya pembangunan jalur kereta api ini. Pada tahun 1867 kereta api mulai beroperasi di Indonesia dengan rute Stasiun Semarang menuju Stasiun Tanggung sejauh 25 km. Namun, saat ini bentuk Stasiun Semarang sudah tidak dapat ditemui lagi.

Hujan deras mulai mengguyur Kota Semarang di pagi ini. Di sudut stasiun terlihat rombongan anak-anak TK sedang belajar tentang kereta api. Sedangkan di depanku Mas Dimas sedang bercerita tentang Stasiun Tawang kepada para peserta walking tour. Menurut beberapa sumber, Stasiun Tawang merupakan stasiun yang dibangun oleh perusahaan kereta api yang bernama Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) dengan seorang arsitek dari Belanda yang bernama Mr. Sloth Blauwboer. Mulai dibangun pada tahun 1911 dan diresmikan pada 1 Juni 1914. Stasiun Semarang Tawang dikhususkan untuk melayani kereta api penumpang. Nama Tawang diambil dari kampung yang berada di sekitar stasiun, Kampung Tawangsari. Sedangkan kantor NIS berada kantor di Gedung Lawang Sewu.
Baca Juga: Jejak Kekayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula Dari Semarang

Sudut Stasiun Tawang

Stasiun Semarang Tawang menjadi bagian penting dalam sebuah acara yang bernama Semarang De Koloniale Tentoonstelling pada tahun 1914. Koloniale Tentoonstelling merupakan sebuah pameran yang diikuti oleh negara-negara kolonial dengan menampilkan berbagai hasil bumi dan kebudayaan yang ada di daerah jajahannya. Acara ini juga sebagai perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas Prancis. Pameran ini diikuti dari berbagai negara, seperti Inggris, Belanda, India, Amerika Serikat, dan Prancis. Semarang merupakan satu-satunya kota di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara yang pernah menyelenggarakan koloniale tentoonstelling. Para pengunjung pameran yang datang menggunakan kereta api yang berhenti di Stasiun Semarang Tawang. Bangunan Stasiun Semarang Tawang masih sesuai dengan bentuk aslinya, hanya ada beberapa perbaikan yang dilakukan karena stasiun ini sering terkena banjir rob yang berasal dari Laut Jawa.

Ruang tunggu Stasiun Tawang

Sepertinya belum ada tanda-tanda hujan akan reda, sedangkan perjalanan ini harus tetap berlanjut. Beberapa peserta menggunakan jas hujan, topi, dan payung untuk melindungi diri dari guyuran hujan. Aku hanya menggunakan jas hujan plastik yang aku beli di salah satu minimarket yang ada di stasiun. Kami akan berjalan menuju ke sebuah bangunan yang dulunya merupakan kantor salah satu perusahaan kereta api yang ada di Kota Semarang, yaitu Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS).

Salah satu rute yang dilewati

Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) beroperasi di Semarang sejak tahun 1882 dengan rute Semarang-Joana dengan melewati Demak, Kudus, dan Pati. Di belakang bekas kantor SJS terdapat area tambak ikan dan permukiman. Tambak dan permukiman itu dulunya merupakan bekas lokasi Stasiun Semarang NIS dan jalur kereta. Bahkan ada ada jalan di permukiman tersebut diberi nama jalan Spoorland. Hal itu dikarenakan dahulu di daerah tersebut terdapat jalur dan depo kereta api. Sedangkan semua aktivitas kereta api SJS berlangsung di Stasiun Jurnatan. Letaknya tidak terlalu jauh dari bekas kantor SJS.
Baca Juga: 11 Hal yang Bisa Kamu Temui di Pasar Karetan

Bekas kantor Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij 

Kami melanjutkan perjalanan menuju bekas Stasiun Jurnatan. Nasib Stasiun Jurnatan tidak sama dengan Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol karena stasiun ini sekarang hanyalah tinggal kenangan. Pada tahun 1980, Stasiun Jurnatan dirobohkan dan kemudian dibangun kompleks pertokoan. Sebelum dirobohkan, Stasiun Jurnatan dimanfaatkan terlebih dahulu untuk terminal bus. Kemudian terminal bus dipindahkan ke Terminal Terboyo.

Menurut Pak Wawan, salah satu peserta walking tour, dahulu Stasiun Jurnatan sangat besar dan megah dengan kontruksi baja dan kaca dan memiliki beberapa  jalur kereta api. Selain melayani jalur antar stasiun, SJS juga mengelola jaringan kereta trem di Kota Semarang. Trem ini menggabungkan beberapa daerah di Kota Semarang, seperti Bulu, Jalan Bodjong (Pemuda), dan Jomblang. Namun pada tahun 1940, layanan kereta trem mulai dihentikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Hal itu dikarenakan trem dianggap ketinggalan jaman, tidak efisien, dan tidak mampu bersaing dengan angkutan darat lainnya. Kami terus berjalan melewati area pertokoan yang dulu merupakan area Stasiun Jurnatan.
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Penanda bekas Stasiun Jurnatan

Kami melanjutkan perjalanan dalam cuaca yang masih gerimis, melewati beberapa sudut kawasan Kota Lama Semarang menuju depan Kantor Pos Pusat Johar. Kami akan berganti angkot untuk menuju Kantor KAI Daop IV Semarang yang berada di Jalan M.H. Thamrin. Kebetulan hari ini merupakan hari Sabtu dan operasional kantor sedang libur. Petugas keamanan tidak mengijinkan untuk memasuki area halaman kantor.

Kantor KAI Daop IV Semarang merupakan salah satu bangunan peninggalan masa kolonial yang dirancang oleh arsitek Belanda, Thomas Karsten. Dahulunya gedung ini digunakan oleh sebagai kantor bersama perusahaan kereta api  yang bernama Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) dan Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Di halaman kantor terdapat lokomotif kuno buatan pabrik lokomotif dari Manchester, Inggris.
Baca Juga: Menyusuri Romantisme Jalan Bodjong

Hujan tidak menghalangi perjalanan kami

Kami melanjutkan kembali dengan jalan kaki menuju Stasiun Semarang Poncol. perjalanan tidak terlalu jauh, kurang lebih sekitar 1 km dari Kantor Daop IV Semarang. Cuaca gerimis masih menemani perjalanan kami menuju Stasiun Semarang Poncol. Stasiun Semarang Poncol dibangun pada tahun 1914 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) denga arsitek Henri Maclaine Pont. Jalur di Stasiun Semarang Poncol memiliki rute menuju Cirebon. Stasiun ini dibangun dengan tujuan untuk melayani kereta penumpang dan barang.

Stasiun Poncol
Peserta walking tour (foto oleh mbak Indah)

Stasiun Semarang Poncol menjadi tempat terakhir kami dalam menyusuri sejarah kereta api di Semarang. Kami akan melanjutkan perjalanan kembali ke Stasiun Semarang Tawang. Banyak ilmu baru yang aku dapat hari ini. Aku kagum dengan Kota Semarang. Kota ini memang tak memiliki tempat wisata yang menarik bagi sebagian orang. Namun kota ini memiliki banyak cerita dan sejarah yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masa lampau. Kota ini menjadi kota lahirnya kereta api di Indonesia. Seperti kita tahu, setiap tahunnya kereta api mampu membawa jutaan orang berpindah tempat. Dari satu kota ke kota lain. Seperti ketika membawamu datang dan pergi dari kota ini.

Happy Walking Tour

Senin, 02 April 2018

Camping Ceria Bersama Pendaki Photograper Indonesia

Selepas hujan deras yang mengguyur Kota Semarang, aku mulai meluncur menuju Hutan Penggaron yang ada berada di Kabupaten Semarang untuk datang diacara 1st Gathering Nasional (Gathnas) Pendaki Photograper. Di malam minggu ini aku sedang tidak acara. Padahal hampir tiap malam minggu juga tidak memiliki acara. Yaa karena tidak acara, akhirnya aku mlipir menuju Hutan Penggaron. Ini kedua kalinya aku camping di Hutan Penggaron.
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Foto sebagian teman-teman Backpacker Semarang

Gathnas yang diadakan oleh teman-teman Pendaki Photograper ini mengangkat tema Sharing & Book Donations yang dikemas dalam acara camping ceria. Biaya pendaftaran pun terhitung sangat murah, yaitu Rp 30.000/orang dan satu buah buku untuk didonasikan. Aku malam itu membawa satu dus yang berisi puluhan buku yang aku kumpulkan bersama teman-temanku. Buku-buku tersebut nantinya akan didonasikan ke beberapa rumah baca yang ada di Jawa Tengah. Sebuah usaha yang bagus untuk memperkaya literasi di Indonesia, khususnya Jawa Tengah.

Acara api unggun

Setelah selesai registrasi dan menyerahkan buku, aku menuju tempat acara. Beberapa teman-teman Backpacker Semarang terlihat di dekat di panggung acara. Namun, aku memilih tetap berada di belakang dan bergabung dengan peserta lainnya. Peserta yang ikut acara ini sekitar 150 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Jawa Tengah, namun juga dari luar kota. Seperti Jakarta, Subang, Banyuwangi, Tangerang, dan Kediri. Beberapa komunitas juga ikut bergabung dalam acara ini. Semuanya membaur jadi satu dalam acara itu.
Baca Juga: Seru-Seruan di Blogger Camp d'Emmerick Hotel

Acara sharing session

Acara malam hari diisi dengan sharing session dari beberapa narasumber yang berasal dari beberapa komunitas. Mereka membagikan pengalaman mereka kepada semua peserta gathnas. Seperti Mas Herlianto dari Trashbag Community Jateng yang bercerita pengalamannya dalam kampanye menjaga kebersihan di gunung. Kemudian ada Mas Donny dan Mas Nandika yang bercerita tentang pembuatan video dan foto. Selanjutnya ada Mas Singgih dan Mas Alan dari komunitas Pring Berbagi yang cerita tentang kegiatan sosial mereka, khususnya di bidang pendidikan. Seperti kata mereka berdua bahwa nilai tertinggi adalah angka 9. Acara sharing session juga dimeriahkan oleh penampilan komika dari standup comedy Ungaran. Acara sharing session ditutup dengan musikalisasi puisi dari Mas Pongkeng yang berjudul Kenangan.

Tenda-tenda peserta
Suasana pagi di lapangan tempat acara
Malam semakin larut, banyak peserta yang belum beranjak meninggalkan area panggung. Beberapa orang naik ke panggung untuk menghibur kami dengan alunan musik akustik. Alunan lagu Terlalu Manis dari Slank membuka acara musik akustik malam ini. Kemudian disusul dengan berbagai lagu lainnya, mulai dari Kangen-nya Dewa, Kita-nya Sheila on 7, Lestari-nya Boomerang, Sunset di Tanah Anarki-nya Superman Is Dead (SID), Pelangi di Matamu-nya Jamrud, hingga lagu Jaran Goyang-nya Nella, dan Sayang-nya Via Vallen. Lagu-lagu yang dinyanyikan sering menjadi lagu yang menemani perjalanan pendakian gunung. Namun, dari semua lagu yang dinyanyikan tidak ada lagu dari luar negeri. Aku menghabiskan malam itu dengan mendengarkan lagu akustik sambil ngobrol bersama teman-teman lainnya hingga pukul 02:30. Kami keasyikan mengobrol karena kami sadar, kami akan sulit menyediakan waktu untuk mengobrol banyak hal. Jadi yaa pas ketemu kami manfaatkan untuk mengobrol.

Persiapan games
Games Paling Panjang

Pagi hari acaranya adalah games. Games-nya beraneka ragam dan semuanya meriah. Seperti estafet tepung, dan estafet air. Games ini membuat keadaan jadi makin seru. Beberapa peserta saling serang dengan cara melempar tepung. Tidak boleh ada peserta yang terlihat bersih. Bahkan duo MC-nya, Ucup dan Ache Raissa, pun juga tidak luput dari serangan tepung. Dari games didapatkan para pemenang yang mendapatkan hadiah dari panitia. Selain games, panitia juga memberikan dorprize yang dibagikan kepada peserta. Teman-teman Backpacker Semarang banyak yang mendapatkan dorprize, termasuk aku. Kemudian acara Gathnas ditutup dengan berfoto bersama, Cheeerrss..!!!
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Ini para perusuh dari Backpacker Semarang (aku yang pake kaos biru)

Acara camping ceria memang selalu menyenangkan. Aku mengikuti acara 1st Gathnas Pendaki Photograper karena ingin berkumpul dengan teman-teman, sharing dan berkenalan dengan teman-teman komunitas lainnya. Menurutku, acara kemarin terbilang sangat sukses dan berjalan dengan lancar. Lebih dari ratusan peserta mengikuti dan bisa saling berkenalan satu sama lainnya. Ilmu dan pengalaman dalam sharing session sangat bermanfaat bagi peserta, gerakan donasi buku untuk mengembangkan rumah baca, dan tentu saja banyak dorprize yang dibagikan untuk peserta.

Sampai Jumpa di Camping Ceria Selanjutnya
Namaste

Minggu, 25 Maret 2018

Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Pukul 02:45, alarm jam digitalku berbunyi. Tak terlalu keras, namun berhasil membuatku terbangun. Dengan masih merasa mengantuk dan lelah karena outbond kemarin sore, aku berjalan menuju kamar mandi yang berada tidak jauh dari tenda. Biasa ritual pagi yang  pagi ini dilakukan pagi-pagi sekali. Setelah semuanya selesai, aku bergegas menuju lobi hotel untuk berkumpul dengan lainnya. Jadi rencana pagi ini kami akan sunrise trip di Gunung Telomoyo. Ini masih satu rangkaian acara Blogger Camp d'Emmerick Hotel.
Baca dulu: Seru-Seruan di Blogger Camp d'Emmerick Hotel

Pemandangan dari puncak Gunung Telomoyo

Sebelum berangkat, kami berdoa terlebih dahulu agar perjalanan berjalan dengan lancar dan kami bisa menikmati sunrise Gunung Telomoyo. Bagiku, sunrise trip ini terasa sangat spesial. Selain menikmati sunrise bareng teman-teman blogger, di sunrise trip ini kami bakal ditemani S4x4tiga Adventure Offroad dengan menggunakan mobil jeep. Jadi kami akan melibas tanjakan Gunung Telomoyo menggunakan mobil jeep. Ketinggian Gunung Telomoyo sekitar 1844 mdpl. Jalur berupa jalan berbatu. Diatas puncak gunung terdapat beberapa menara pemancar. Kami langsung dipersilakan untuk memilih mobil jeep yang akan kami tumpangi selama perjalanan. Aku memilih mobil jeep warna putih yang dikendarai oleh Pak Edi. Satu mobil dengan Mauren dan Deta. Setelah semuanya siap, perjalanan pun dimulai.

Berdoa sebelum berangkat

Pukul 03.40 kami berangkat menuju Gunung Telomoyo. Konvoi mobil jeep pun terjadi sepanjang perjalanan. Ada sekitar 13 mobil. Mobil yang aku tumpangi berada di barisan depan rombongan. Mobil ini awalnya adalah mobil merk Jimmy Jangkrik tahun 1992 yang dimodifikasi menjadi mobil tipe 4WD. Mobil ini menjadi lebih bertenaga setelah dimodifikasi. Hingga akhirnya kami telah sampai di pintu masuk Gunung Telomoyo dan menunggu yang lainnya.
Baca Juga: Walking Tour: Menyusuri Kampung Kauman

Perjalanan ke Gunung Telomoyo (Foto oleh Rais)

Setelah semua mobil tiba, perjalanan kami lanjutkan kembali. Ini adalah perjalanan yang sebenarnya. Jalanan berbatu yang menanjak menemani perjalanan kami. Beberapa kali bau kopling dan bahan bakar tercium hingga ke dalam mobil. Aku membuka jendela agar mendapatkan udaran segar dan menikmati setiap hembusan angin. Lampu-lampu mobil menyinari jalanan berbatu yang masih gelap. Mobil-mobil ini tidak mengahadapi kendala yang berarti selama melewati jalanan berbatu di Gunung Telomoyo. Pukul 05:15, kami mulai tiba di puncak. Semburat langit jingga sudah mewarnai langit di ufuk timur. Mentari pagi mulai menampakkan diri dari peraduannya. Aku menikmati hangatnya mentari pagi dari atas mobil jeep. Sesekali aku mengambil beberapa jepretan gambar untuk mengabadikan momen-momen di pagi itu. Pagi itu, langit terlihat cerah dan mentari menyapa kami dari ufuk timur. Sunrise pagi itu sangatlah sempurna karena matahari terlihat jelas dan bersama orang-orang yang luar biasa.

Sunrise Gunung Telomoyo
Matahari yang mulai meninggi

Momen matahari terbit telah berlalu, berganti dengan langit biru sejauh mata memandang. Beberapa gunung terlihat dari puncak Gunung Telomoyo, seperti Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Andong. Pagi itu kami mencicipi bakmi rebus hasil masakan chef dari Cleverly Eatery resto yang ternyata ikut perjalanan. Makan di puncak gunung bareng teman kita thu rasanya nikmat sekali. Apapun makanannya pasti terasa enak, apalagi ini yang masak seorang chef. Makasih chef, bakmi rebusnya sungguh nikmat.
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Menu sarapan (Foto oleh Rais)
Sarapan di puncak gunung

Sekitar pukul 08:00 kami mulai meninggalkan puncak gunung untuk kembali menuju d'Emmerick Hotel. Perjalanan turun gunung juga sangat menantang. Jalanan yang kami lewati ternyata hanya muat untuk satu mobil. Pinggir jalan langsung terlihat jurang dan hutan pinus. Pintu masuk Gunung Telomoyo sudah diperbaiki dan dikelola oleh warga sekitar. Layak untuk jadi destinasi wisata untuk kegiatan alam. Sudah tersedia fasilitas toilet dan area parkir yang luas. Papan petunjuk ke Gunung Telomoyo juga sudah terpasang di pinggir jalan.

Yoga di atas jeep yang berada di puncak Gunung Telomoyo
Pagi yang cerah

Pak Edi mengatakan bahwa setelah sunrise trip ini, kami bakal diajak keliling kebun kopi yang ada di area d'Emmerick Hotel. Pak Edi menganjurkan kami untuk menumpang mobil lainnya, karena mobil beliau tidak bisa digunakan untuk berkeliling kebun kopi. Pak Edi juga bilang bahwa berkeliling kebun kopi bakal sangat seru dan menyenangkan. Namun, aku hanya berpikir pasti yaa gitu-gitu aja ketika berkeliling kebun kopi.

Pintu masuk Gunung Telomoyo

Sesampainya di area parkir, aku langsung menumpang mobil jeep Pak Doni. Sedangkan Mauren dan Deta memilih untuk beristirahat. Kami mulai berjalan paling depan diantara mobil lainnya. Ternyata perkiraanku salah, rute kebun kopi ini merupakan rute offroad. Lengkap dengan tanah berlumpur, turunan, dan tanjakan curam. Jadi kami akan diajak untuk offroad di kebun kopi. Aku sangat tertarik karena ini merupakan pengalaman pertamaku.
Baca Juga: Menikmati Kabut di Candi Cetho

Bersiap offroad di kebun kopi

Aku satu mobil dengan Mas Dhave, Leon, dan Mas Hadi. Jalur yang kami lewati benar-benar menantang. Beberapa kami melewati turunan curam. Pak Doni selalu mengingatkan kami untuk selalu berpegangan. Pak Doni menawarkan kepada kami untuk melewati tanjakan yang biasa atau tanjakan yang ekstrim. Kami lebih memilih jalur yang lebih ekstrim untuk dilewati. Terbukti kami harus beberapa kali mencoba untuk bisa melewati tanjakan tersebut. Karena jalur yang sempit dan tanjakan, beberapa kali bagian mobil menyenggol pohon. Dengan keahlian dan pengalaman Pak Doni, kami berhasil melewati tanjakan curam tersebut. Setiap kami berteriak histeris, Pak Doni malah tertawa puas. Mungkin puas karena berhasil memacu adrenalin kami. Di tanjakan curam itu, ada satu mobil yang tidak bisa melewatinya karena roda tersangkut di tanah berlumpur. Akhirnya dengan bantuan mobil Pak Doni, mobil itu bisa ditarik melewati tanjakan curam itu. Kami pun bertepuk tangan atas keberhasilan Pak Doni menolong mobil tersebut.

Proses evakuasi mobil yang tersangkut
Setelah offroad di kebun kopi

Perjalanan selama kurang lebih satu jam offroad di kebun kopi pun berakhir. Aku sangat senang karena mendapatkan pengalaman offroad di kebun kopi. Offroad memang bukan olahraga yang murah, namun kalau ada kesempatan, bolehlah untuk dicoba demi pengalaman dan memacu adrenalin kamu. Sunrise trip Gunung Telomoyo dan offroad di kebun kopi merupakan paket wisata yang disediakan oleh pengelola d'Emmerick Hotel yang bekerjasama dengan S4x4tiga Adventure Offroad. Silakan hubungi pihak hotel untuk keterangan lebih lengkap.

d'Emmerick Hotel
Jalan Hasanudin Km 4, 50734
Salatiga, Jawa Tengah
(0298)325498
Instagram : @hotel_emmerick
Facebook  : d'Emmerick Hotel
Website     : www.d-emmerickhotel.com