WHAT'S NEW?
Loading...
Sabtu malam, 6 Mei 2017, langit Kota Semarang, khususnya di Titik Nol Kilometer di dekat Kantor Pos Johar hingga kawasan Tugu Muda terlihat cerah. Tak terlihat awan menggumpal, apalagi langit yang terlihat mendung. Sepertinya sejauh ini para pawang hujan bekerja dengan baik. Kedua kawasan tersebut sudah ramai dengan ribuan penonton yang akan menyaksikan acara Semarang Night Carnival 2017.
Panggung Semarang Night Carnival 2017

Semarang Night Carnival digelar untuk memeriahkan HUT Kota Semarang ke 470 tahun. Pertama kali digelar pada tahun 2010. Tahun ini, Semarang Night Carnival mengambil tema Paras Semarang. Paras Semarang ini diwakili dengan Burung Blekok, Kembang Sepatu, Kuliner dan Lampion. Ada sekitar 400 peserta yang akan menggunakan kostum megah warna-warni berjalan sejauh 1,3 km mulai dari Titik Nol Kilometer hingga Gedung Lawang Sewu.

Drumband Canka Lokananta dari AKMIL

Angka di jam digitalku sudah menunjukkan pukul 19:00, namun tak tampak tanda-tanda acara akan segera dimulai. Padahal sesuai jadwal, acara akan dimulai pada pukul 19:00. Namun apa daya, Pak Walikota belum datang sehingga acara belum bisa dimulai. Mungkin beliau sedang ada jamuan makan malam atau mungkin sedang ada kegiatan yang mesti diselesaikan terlebih dahulu. Namun di sudut lain, ratusan peserta yang mengenakan kostum dengan berat lebih dari 5kg sedang menunggu dengan cemas.

Defile Burung Blekok

Bagaimana tidak cemas, mereka telah menyiapkan semuanya untuk hari ini. Banyak waktu, tenaga, dan materi yang mereka keluarkan untuk membuat acara malam ini menjadi spesial, khususnya untuk warga Kota Semarang. Mereka ingin segera tampil, memamerkan kostum mereka yang telah dibalut dengan rasa kebanggaan. Namun yang ditunggu tak kunjung datang, seseorang yang nantinya akan memberikan sambutan. Rasa-rasa cemas itu kemudian berubah menjadi senyum, ketika dua rombongan bus yang dikawal polisi memasuki tempat acara. Kemudian bersalaman dan menyapa para tamu. Hingga mendarat di tempat duduk yang sudah disediakan. Acara pun segera dimulai. Semarang Night Carnival 2017 is ready to rock you…!!!

Defile Kembang Sepatu

Acara dimulai dengan penampilan drumband Canka Lokananta dari Akademi Militer (Akmil). Mereka membawakan beberapa lagu. Drumband ini terdiri dari empat mayoret, dua laki-laki dan dua perempuan. Sekadar info, dalam waktu tiga tahun terakhir acara Semarang Night Carnival diawali oleh drumband yang berasal dari berbagai instansi. Pada acara Semarang Night Carnival 2015, Drumband Cendrawasih dari Akademi Kepolisian (Akpol). Sedangkan pada tahun lalu, drumband diisi oleh Drumband Gema Perwira Samudra  dari Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang.

Defile Kuliner

Defile pertama yang unjuk kebolehan kostum adalah defile Burung Blekok (aku menyebutnya Burung Kuntul). Burung Blekok ini berwarna putih, memiliki leher dan kaki yang panjang. Hidupnya diatas ranting-ranting pohon yang ada di depan komplek TNI di daerah Srondol. Setiap sore burung-burung ini akan terbang mencari makan di daerah pelabuhan Tanjung Emas. Ketika melintas di atas rumahku, aku sering menghitung jumlah burung yang selalu terbang secara berkelompok itu. Sini kamu main ke Kota Semarang, nanti aku ajak menghitung jumlah Burung Blekok ^^. Burung Blekok telah menjadi ikon Kota Semarang.

Defile Lampion

Defile selanjutnya adalah defile Kembang Sepatu. Defile ini didominasi dengan warna merah dan hijau khas Kembang Sepatu. Warna kostum mereka cetar, selaras dengan senyum mereka. Para peserta diajari untuk selalu tersenyum ketika melihat kamera. Biar para tukang foto bisa menghasilkan foto yang epic.

Peserta dari Kota Sawahlunto; Makasih Uni :))

Setelah defile Kembang Sepatu, ada defile Kuliner. Kostum mereka dilengkapi dengan berbagai pernak-pernik berbentuk kuliner khas Kota Semarang, seperti Lumpia, Bandeng Presto, Wingko Babat, dan Kue Ganjel Rel. Tentu saja itu tiruan, bukan asli. Sehingga tidak bisa dimakan.

Peserta dari Taiwan

Defile selanjutnya adalah defile Lampion. Lampion sudah menjadi khas Kota Semarang sejak tahun 1942 yang dikenal dengan nama dian kurung. Lampion sering digunakan para santri sebagai sumber penerangan menuju masjid ketika malam hari. Defile ini didominasi dengan warna merah.

Peserta dari Taiwan

Selain peserta dari Kota Semarang, peserta Semarang Night Carnival juga diikuti oleh peserta dari kota Sawahlunto dan peserta dari mancanegara. Yaitu dari Taiwan, Thailand, Sri Lanka, dan Korea Selatan. Peserta dari Kota Sawahlunto tampil menggunakan kostum menyerupai bunga matahari.

Peserta Sri Lanka

Para peserta dari Taiwan menampilkan tarian dan berbagai atraksi. Mereka tampil sangat atraktif dan enerjik sehingga mengundang decak kagum dan tepuk tangan dari penonton. Sedangkan yang peserta dari Thailand dan Sri Lanka tampil dengan tarian khas mereka. Penampilan terakhir ditutup dengan penampilan peserta dari Korea Selatan. Terdiri dari lima orang perempuan yang memainkan beberapa alat musik. Salah satunya adalah genderang khas Korea Selatan yang disebut Janggu. Parade defile ditutup dengan penampilan dari para mayoret defile. Semua peserta mesti berjalan kaki menyusuri jalan Pemuda.

Peserta dari Thailand

Meski mengikuti acara dari awal hingga akhir, sebetulnya aku datang terlambat. Seharusnya aku sudah di tempat acara pada pukul 16:00. Seperti tahun sebelumnya. Aku biasa datang lebih awal agar aku bisa mengambil gambar peserta secara detail. Namun tahun ini kurang beruntung. Aku tidak bisa mengambil gambar peserta secara detail karena aku dan kawanku yang berasal dari Jakarta malah terlalu asyik keliling Kota Lama. *Hiiks, sedih

Peserta dari Korea Selatan
Sampai jumpa di Semarang Night Carnival 2018

Seluruh defile telah unjuk kebolehan di depan ribuan penonton, termasuk para tamu dari mancanegara. Mereka berhasil memukau dan menyuguhkan penampilan yang luar biasa. Mereka pasti bangga, begitu juga dengan orang tua dan keluarga mereka. Kami pun terhibur dan terpukau melihat penampilan mereka malam ini. Kalian memang luar biasa. Para penonton mulai meninggalkan tempat acara. Aku dan kawanku berjalan kaki menuju kawasan Kota Lama. Kami berdua menonton kenroncong di salah satu sudut gedung di kawasan itu. Menikmati setiap alunan musik keroncong yang menggema diantara gedung-gedung tua di kawasan Kota Lama. Sampai jumpa di Semarang Night Carnival 2018.
Semarang Night Carnival is ready to rock…!!!
Dalam perjalanan turun ke parkiran motor, aku melihat di salah satu kios menjual postcard. Postcard yang dijual memiliki tema Gunung Bromo dan dijual seharga Rp 10.000/biji. Namun, aku tak membelinya. Warung-warung sudah mulai sepi. Kami melanjutkan perjalanan menuju pasir berbisik Gunung Bromo. Jalanan turunan tajam berhasil kami lalui. Kalau lewat sini, pastikan kendaraan dalam kondisi baik. Selama perjalanan terlihat mobil jeep yang hilir mudik mengantar pengunjung Gunung Bromo.
Baca dulu:  Mengejar Sunrise Gunung Bromo (Bagian 1)


Orang-orang Suku Tengger

Setelah menempuh jalanan ekstrim nan curam, akhirnya kami berdua tiba di kawasan pasir Gunung Bromo sambil ditemani rintikan hujan. Kami berdua langsung menuju ke parkiran motor Gunung Bromo. Kami berdua berniat untuk mendaki hingga bibir kawah. Cuaca saat itu memang hujan. Meskipun hujan, banyak pengunjung juga melakukan pendakian. Terlihat beberapa pengunjung menunggangi kuda yang disewakan oleh masyarakat suku Tengger. Kami berdua tetap berjalan kaki. Aku sih tetap semangat, meskipun hujan semakin deras. Di tengah perjalanan, Mas Hendrik meminta ijin untuk istirahat dan tidak melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan menuju bibir kawah seorang diri.

Mari mendaki..!!!

Langkah kaki aku percepat, hingga akhirnya aku tiba di depan ratusan anak tangga menuju puncak. Aku mulai menarik napas panjang dan berjalan menaiki anak tangga dengan kecepatan stabil. Tak sampai sepuluh menit akhirnya aku sudah di bibir kawah Gunung Bromo. Bibir kawah tidak terlalu ramai. Mungkin karena hujan. Setelah beberapa kali ambil gambar, aku memutuskan untuk segera turun. Melewati anak tangga dengan pelan-pelan, rentan terpeleset kenangan. Mas Hendrik lagi istirahat di sebuah warung. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan turun. Rencana kami akan pulang melalui Tumpang dan akan melewati Jemplang.

Kawah Gunung Bromo
View dari puncak Gunung Bromo

Kami melewati para penyedia jasa kuda. Mereka merupakan warga suku Tengger. Suku Tengger merupakan suku asli yang hidup di sekitar Gunung Bromo. Orang-orang Suku Tengger hanya menggunakan sarung mereka untuk melindungi tubuh mereka dari dingin. Beberapa mobil Jeep terlihat parkir di area yang sudah ditentukan. Mereka sedang menunggu para penumpang mereka yang sedang asyik menikmati Gunung Bromo. Untuk menuju jalur arah Jemplang, kami tidak tinggal mengikuti patok yang ada. Sejauh mata memandang hanya terlihat pasir, savana dan perbukitan nan hijau. Kami berdua tidak berhenti di Bukit Telletubies. Kami memilih untuk langsung beranjak pulang. Melewati jalur Jemplang merupakan pengalaman pertama bagi kami berdua.

Penyedia jasa kuda

Dalam perjalanan, kami bertemu dengan dua pengendara motor lainnya. Mereka juga akan turun melalui Jemplang. Mereka sudah terbiasa touring motor melalui jalur Gunung Bromo- Jemplang. Yaa akhirnya kami berjalan bersama *ciieee. Jalur menuju Jemplang sebagian besar masih berupa pasir. Hal tersebut membuat mas Hendrik mengendarai motor lebih berhati-hati. Selama perjalanan, kami berada dibelakang mereka berdua. Sedari tadi pagi kawasan Bromo masih gerimis. Tak ayal jalanan pasir menjadi banyak kenangan, eeh genangan.

Pura Luhur Poten Gunung Bromo

“Gubrak..!!!”, terdengar suara motor terjatuh
Karena kurang fokus memikirkan dia, salah satu dari mereka terjatuh. Dia terpleset karena ban motornya slip diantara genagan. Dia baik-baik saja, namun celananya dipenuhi dengan coretan tanah liat. Akhirnya kami menemukan jalan beraspal hingga menuju pertigaan Jemplang. Belok kanan ke arah Ranupane, basecamp pendakian Gunung Semeru. Rasanya ingin melanjutkan perjalanan menuju ke Ranupane, kemudian menuju Gunung Semeru. Tentunya bukan saat ini, aku pun belum memiliki persiapan untuk mendaki Gunung Semeru. Suatu saat nanti akan mendaki Gunung Semeru, bersama kamu. Sedangkan belok kiri menuju arah kota Malang. Jalanan yang dilewati juga sangat bagus. Hingga akhirnya kami beristirahat di pos pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Melepas lelah dan mengobrol dengan pengunjung lainnya.

Om, Telolet Om...!!

Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang. Aku masih seperti membonceng Mas Hendrik. Mas Hendrik enggan aku bocengkan. Kata dia sih takut kalau nanti jadi mengantuk. Akhirnya padatnya Kota Malang mulai menyambut kami. Aku merasa kota Malang seperti Kota Bandung. Jalanannya sempit namun padat dan udaranya yang tidak terlalu panas. Selain itu, kedua kota ini memiliki banyak cerita dan kenangan bagi perjalananku.

Pulang...!!!

Terima kasih Malang dan tentu saja ucapan terima kasih untuk Mas Hendrik yang sudah berkenan menemaniku berkeliling Gunung Bromo. Ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan. Banyak cerita dan yang terukir selama perjalanan. Terima kasih Gunung Bromo atas sambutan yang diberikan kepadaku. Mulai dari rintik hujan, kabut pagi, perkasanya orang-orang Suku Tengger, ratusan anak tangga, hingga tawa canda yang menyatu dalam dinginmu. Gunung Bromo tidak hanya bercerita tentang berburu sunrise, namun lebih dari itu.

Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS)
Website: http://bromotenggersemeru.org/
Tiket Masuk Weekday: Rp 27.500 (Nusantara), Rp 217.500 (Mancanegara)
Tiket Masuk Weekend: Rp 32.500 (Nusantara), Rp 317.500 (Mancanegara)
Motor : Rp 5.000
Mobil : Rp 10.000
 
Gunung Bromo, 7 Desember 2016 
Namanya juga sebuah perjalanan tanpa rencana. Jadi semuanya diatur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Rencana awalnya sih aku cuma pergi ke Surabaya, namun semuanya berubah ketika negara api menyerang aku iseng mengecek tiket kereta dari Surabaya ke Malang. Eeh ternyata murah banget. Yaitu cuma sebesar Rp 12.000/ orang. Harga itu lebih murah daripada naik kereta api dari Semarang ke Malang. Tanpa ragu, akhirnya aku memastikan diri untuk pergi ke Malang untuk keesokan harinya dengan menggunakan kereta api Penataran. Untuk jadwal keberangkatan bisa tanya langsung ke loket stasiun Gubeng Surabaya.


Bromo diselimuti kabut pagi

Perjalanan Surabaya-Malang ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam perjalanan. Aku memilih untuk turun di stasiun Malang Kota Baru. Abis itu keluar stasiun dan langsung lihat banyak angkot yang hilir mudik. Angkotnya pake kode, iyaa kode, berupa singkatan kata. Beda dengan kode angkot yang biasanya berupa huruf dan angka. Sempat bingung, namun semua itu bisa diatasi *cliiing*. Meluncurlah aku menuju kawasan Universitas Negeri Malang untuk bertemu salah satu temanku, namanya Novan. Rencananya selama aku di Malang akan menginap di rumahnya.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya si Novan menghampiriku dan mengajak pergi ke kantin yang terletak di bagian belakang kampus.
“Vai, ke Malang dalam agenda apa..?” tanya Novan
“Ingin silaturahmi aja, ketemu arek-arek.” Jawabku santai
“Okelah, nanti aku kabari arek-arek untuk ngumpul."
"Okee, siap bro"

Saat itu aku memang ingin pergi ke Malang, namun belum tahu akan pergi kemana. Niat awalnya hanya ingin silaturahmi dengan teman-teman di Malang. Bagiku, sebuah perjalanan tidak sekadar destinasi atau tempat wisata, namun lebih dari itu. Berkumpul dengan teman-teman di kota lain juga merupakan sebuah perjalanan. Khususnya perjalanan hati.

Malam harinya kami ngumpul di salah satu angkringan arek Malang. Kalo sudah ngumpul gini, pasti ada aja yang diomongin. Ga bakal kehabisan bahan obrolan. Mulai dari tentang traveling, hingga mengenai komunitas. Dalam obrolan tersebut, aku mengutarakan keinginan untuk pergi ke Gunung Bromo. Dan mereka membantu mencarikan teman jalan. Akhirnya Mas Hendrik bersedia menemaniku untuk ke Bromo pada besok malam.

Sebelum ke Bromo, aku yang ditemani oleh Rizky, Novan dan Clara mengunjungi Kampung Warna Jodipan, kota Malang. Kemudian dilanjutkan keliling kota Malang dan menikmati dinginnya kota Batu. Tentang kampung Jodipan, nanti akan ditulis dalam artikel tersendiri. Tunggu aja yaa..!! Sekitar pukul 23:30, Rizky mengantarku untuk bertemu Mas Hendrik. Aku dan Mas Hendrik memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu dan memulai perjalanan menuju Gunung Bromo pukul 01:30 dinihari.

Tepat pukul 01:30, alarm gadget telah meraung-meraung untuk membangunkan kami dari tidur. Setelah bersiap-siap, akhirnya kami meluncur menuju Gunung Bromo menggunakan motor. Perjalanan kali ini akan dipandu oleh GPS dan insting kami berdua. Soalnya Mas Hendrik juga belum pernah ke Gunung Bromo melalui jalur Nongkojajar. Perjalanan tetap harus dilanjutkan, meskipun ini merupakan jalur baru untuk kami berdua. Gunung Bromo, I’m Coming…!!!


Antara aku, kabut dan mimpi-mimpi kita

Sesuai rencana, kami akan menuju Gunung Bromo melalui jalur Nongkojajar, Pasuruan. Dari Kota Malang kami menuju ke daerah Lawang, kemudian menuju daerah Nongkojajar. Dari Nongkojajar kita langsung menuju ke Tosari dan terakhir ke Gunung Bromo. Petunjuk jalan di jalur ini sangat jelas, jadi tidak perlu takut untuk tersesat. Sesuai perkiraan GPS, perjalanan akan menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Cukup lama perjalanannya. Apalagi udara dingin, kantuk dan jalanan yang sepi berhasil membuatku beberapa kali tertidur dalam perjalanan.

Pointer GPS menunjukkan Gunung Bromo sudah dekat. Akhirnya setelah melewati perjalanan lama, pada pukul  04:00 kami tiba di pintu gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Sebelum melanjutkan perjalanan, jangan lupa bayar tiket masuk dulu. Tiket masuk TNBTS untuk dua orang dan satu motor sebesar Rp 60.000,-. Deket pintu gerbang ada warung dan penjual sarung tangan dan topi. Kalau kalian tidak kuat sama dinginnya Gunung Bromo, lebih baik minum kopi dulu di warung dan beli sarung tangan beserta topinya.


Selamat datang, kabut pagi..!!!

Kami akan langsung menuju ke pos Penanjakan. Jaraknya sekitar 9 Km dari loket pintu masuk. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa mobil jeep yang membawa beberapa wisatawan. Jalan masih berupa tanjakan. Udara semakin dingin dan kabut semakin tebal. Akhirnya kita sampai di gerbang Pos Penanjakan. Warung-warung di sekitar pos Penanjakan sudah ramai dengan para wisatawan. Baik wisatawan lokal, maupun mancanegara. Mereka sedang mencari kehangatan dalam secangkir kopi, gorengan, dan semangkuk mie instan. Tawa dan obrolan seru menjadi penghangat diantara mereka.


Warung yang siap memanjakan pengunjung

Kami mulai menaiki puluhan anak tangga untuk menikmati sunrise di Gunung Bromo. Waktu menunjukkan pukul 04:50, namun tanda-tanda sunrise belumlah nampak. Kabut malah semakin menebal. Aku bersama ratusan orang menantikan matahari terbit. Aku mencari spot terbaik untuk bisa menikmati sunrise. Hingga pukul 06:15 matahari tak kunjung menampakkan diri. Pos Penanjakan pun mulai sepi. Ditinggal para wisatawan yang tak mendapatkan sunrise. Aku pun singgah di warung. Menikmati secangkir kopi dan pisang goreng.


Masih diselimuti kabut pagi

Aku berniat untuk kembali lagi ke pos Penanjakan pada pukul 07:00. Berharap bisa melihat view gunung Bromo. Berharap kabut tak lagi menutupinya. Namun sesampainya di sana, kabut malah semakin tebal. Sejauh mata memandang, hanya kabut yang terlihat. Sepertinya pagi ini memang aku dan ratusan wisatawan sedang tidak beruntung. Tidak bisa menikmati sunrise gunung Bromo. Kata pemilik warung, sudah beberapa hari ini sunrise tertutup kabut. Mungkin menikmati sunrise Gunung Bromo akan menjadi salah satu alasanku untuk balik lagi kesini. Mengejar sunrise..? apanya yang dikejar? Sunrise selalu ada tiap pagi. Setiap tempat memiliki sunrise-nya masing-masing, tinggal bagaimana kita dan dengan siapa menikmati sunrise di setiap paginya.

Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS)
Tiket Masuk Weekday: Rp 27.500 (Nusantara), Rp 217.500 (Mancanegara)
Tiket Masuk Weekend: Rp 32.500 (Nusantara), Rp 317.500 (Mancanegara) 
Motor : Rp 5.000
Mobil : Rp 10.000
 
Gunung Bromo, 7 Desember 2016 

Baca Juga: Tebing Breksi Jogja kini semakin cantik, tapi?
Halo bro, tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2016. Tahun 2017 sudah di depan mata. Terima kasih banyak bagi kalian yang selalu berkunjung di blog ini selama satu tahun ini. Kunjungan kalian itu membuatku lebih semangat untuk berkarya. Banyak tempat, cerita dan kenangan yang didokumentasikan dalam satu tahun ini. Namun, artikel kali ini tidak akan bercerita tentang perjalananku. Kali ini aku bakal berbagi sebuah informasi penting bagi kalian. Khususnya bagi kalian yang akan berkunjung ke Provinsi Jawa Tengah.

Visit Jawa Tengah

Informasi yang akan aku bagikan adalah informasi tentang event-event yang akan digelar di kota dan kabupaten Jawa Tengah pada tahun 2017. Masing-masing event sudah memiliki jadwal dan didokumentasikan dalam bentuk e-book Calender Event Jawa Tengah 2017 yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Tengah. Event dari bulan Januari 2017 hingga bulan Desember 2017. Mulai dari event standard internasional seperti Borobudur Marathon, Dieng Culture Festival, dan Hari Raya Waisak, hingga event lokal, seperti sedekah bumi yang diadakan di beberapa daerah.
Pada tahun 2017, Borobudur Marathon akan diadakan pada tanggal 26 November 2017 di kawasan Candi Borobudur. Borobudur Marathon bertujuan untuk menggairahkan sport tourism. Rute lari Borobudur Marathon yaitu mengelilingi desa-desa yang ada di sekitar kawasan Candi Borobudur. Peserta tidak hanya pelari dalam negeri, namun juga pelari mancanegara. Borobudur Marathon 2016 diikuti oleh lebih dari 20.000 pelari. Ada lima kategori yang diperlombakan di Borobudur Marathon 2016, yaitu ultra marathon (120Km), full marathon (42 Km), half marathon (21 Km), 10 Km, dan 3 Km. Borobudur Marathon 2016 dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Bapak Imam Nahrawi.

Borobudur Marathon 2016 (sumber: Merdeka.com)

Event lain yang menjadi andalan Jawa Tengah untuk menarik minat wisatawan adalah Dieng Culture Festival. Dieng Culture Festival 2017 akan diadakan pada bulan Agustus. Belum ada pemberitahuan untuk tanggal pelaksanaannya. Dieng Culture Festival 2016 dikunjungi oleh hampir 100.000 wisatawan. Baik wisatawan dalam negeri, maupun wisatawan luar negeri. Acara Dieng Culture Festival 2016 dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo. Dieng Culture Festival merupakan acara yang diadakan di dataran tinggi Dieng dengan acara inti pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng. Pusat pemotongan rambut gimbal diadakan di pelataran Candi Arjuno. Selain itu, acara juga akan dimeriakan dengan acara jazz di atas awan, pentas kesenian, berburu sunrise, pesta lampion dan pesta kembang api.
Baca juga: Menikmati Kabut di Candi Cetho

Dieng Culture Festival (sumber: hipwee.com)

Selain event Borobudur Marathon, kawasan Candi Borobudur juga menjadi pusat perayaan Hari Raya Waisak secara nasional. Pada tahun 2017, Hari Raya Waisak jatuh pada tanggal 11 Mei 2017. Hari Raya Waisak merupakan hari raya umat Buddha untuk memperingati hari lahir Sang Buddha, Sidharta Gautama. Prosesi Hari Raya Waisak dilaksanakan di Candi Mendut dan Candi Borobudur dan diikuti oleh biksu dan umat Buddha dari berbagai negara. Puncak perayaan Hari Waisak adalah ritual pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali. Event Hari Raya Waisak ditutup dengan pelepasan lampion. Hari Raya Waisak merupakan acara keagamaan. Oleh sebab itu, pengunjung atau wisatawan sangat dibatasi jumlahnya. Pengunjung harus menjaga ketenangan, ketertiban, memakai pakaian yang sopan, dan menghormati umat Buddha yang sedang melakukan ibadah.

Acara Borobudur Marathon, Dieng Culture Festival, dan Hari Raya Waisak menjadi event andalan untuk menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Provinsi Jawa Tengah. Selain event-event tersebut, ada beberapa event di Jawa Tengah yang sebaiknya tidak dilewatkan begitu saja. Beberapa event tersebut adalah Festival Perahu Naga (Cilacap, 26 Maret 2017), Grebeg Gethuk (Magelang, 9 April 2017), Semarang Night Carnival ( 6 Mei 2017), Loenpia Jazz (Semarang, 27 Mei 2017), Pemotongan Lopis Raksasa (kota Pekalongan, 2 Juli 2017), Borobudur International Festival (Candi Borobudur, 28-30 Juli 2017), Solo Batik Carnival (Solo, Juli 2017), Festival Payung Indonesia (Solo, 15-17 September 2017), Festival Kota Lama (Semarang, 24 September 2017), Sail Karimunjawa (September 2017), Blora Fashion Carnival (Blora, 2 Oktober 2017), Pekan Batik International (Kota Pekalongan, Oktober 2017), Festival Barong Nusantara (Kab. Blora, November 2017) dan Grebeg Maulud (Solo, 1 Desember 2017).
Baca juga: Semarang Night Carnival 2016: Fantasi Warak Ngendog

Semarang Night Carnival 2016

Masih banyak lagi event yang bakal digelar oleh kota dan kabupaten yang ada di Jawa Tengah. event-event ini bertujuan untuk mengenalkan potensi-potensi wisata yang ada di kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Tentu saja event-event ini juga bertujuan untuk melestarikan kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Jawa Tengah. Jadi tunggu apalagi. Ayo kita kunjungi Jawa Tengah.
Kalender event Jawa Tengah 2017 bisa diunduh disini atau di link ini

Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah
Alamat : Jalan Pemuda No 175, Kota Semarang
No Telp. : (024) 3584081
Website : www.central-java-tourism.com
Instagram : @visitjawatengah
Facebook : Visit Jawa Tengah


Setelah mendengarkan berbagai penjelasan dari mas Dimas tentang Jalan Pemuda atau Jalan Bodjong, kami diajak untuk menyusuri kawasan Segitiga Emas yang kedua, yaitu Jalan Pandanaran. Jalan Pandaran dikenal sebagai kawasan pusat oleh-oleh Kota Semararang. Berbagai oleh-oleh khas Kota Semarang bisa ditemukan disini, mulai dari Bandeng Juwana, wingko babat, roti gandjel rel, lumpia,  hingga kaos Semarangan. Keberadaan kami di Jalan Pandanaran bukan untuk melihat atau membeli oleh-oleh yaa, namun untuk melihat kehidupan kaum urban yang ada di Jalan Pandanaran.

Belakang kita Gedung Lawang Sewu (sumber: @manicstreetwalkers)

Jalan Pandanaran
Lokasi pertama yang kita kunjungi adalah Rumah Susun (Rusun) Pekunden. Menurut informasi, rumah susun ini merupakan rusun pertama yang ada di Kota Semarang. Dibangun sekitar tahun 1980. Rusun ditempati oleh ratusan keluarga dan memiliki fasilitas seadanya. Rusun ini terletak di tengah kota dan berada tak jauh dari Balaikota Semarang. Mas Dimas juga mengajak kami untuk melihat salah satu rumah makan yang ada di Rusun Pekunden. Rumah makan tersebut bernama Rumah Makan Bang Jack. Bahkan  Bang Jack sendiri yang menyambut kedatangan kami.

Jika kalian pernah melintas di Jalan Pandanaran, kalian akan melihat sebuah apotek yang terletak di samping toko oleh-oleh yang terkenal di Kota Semarang. Apotek tersebut bernama Apotek Sputnik. Nama yang sangat asing dalam dunia farmasi dan apotek. Kata Sputnik merupakan nama satelit buatan Uni Soviet yang pertama diorbitkan. Di atas bangunan juga terdapat simbol-simbol antariksa. Namun, bangunan Apotek Sputnik telah digunakan untuk perluasan toko oleh-oleh tersebut.

Daerah Pekunden
Apotek Sputnik

Selain di sepanjang jalan, toko oleh-oleh juga bisa ditemukan di dalam gang di sekitar Jalan Pandanaran. Seperti gang-gang di daerah Pekunden. Di gang ini kami melihat beberapa usaha rumahan yang memproduksi wingko babat, lumpia dan oleh-oleh lainnya. Bahkan kami diajak melihat warung kopi tradisional Pekunden. Konsep warungnya sangat sederhana. Warung kopi juga berfungsi sebagai warung kelontong. Namun, terdapat beberapa meja dan kursi dibawah pohon yang rindang yang digunakan digunakan untuk menikmati secangkir kopi.
Di jalan Pandanaran terdapat Taman Pandanaran. Di Taman Pandanaran terdapat patung Warak Ngendog. Warak Ngendog merupakan hewan mitologi sebagai bentuk akulturasi budaya atau etnis yang ada di Kota Semarang. Yaitu etnis Tionghoa, Arab, dan Jawa. Selain itu, setiap menjelang bulan Ramadhan rutin diadakan festival Warak Ngendog yang dihadiri oleh Walikota Semarang.

Taman Pandanaran

Blusukan  etape 2 kawasan Jalan Pandanaran berakhir di Masjid Baiturrahman. Selain masjid, di Masjid Baiturrahman juga ada SD Hj. Isriati. Sekolah ini didirikan oleh Hj. Isriati. Beliau juga merupakan penggagas 10 Program Pokok PKK. Aku baru tahu kalo ternyata 10 Program Pokok PKK digagas oleh beliau. Oyaa, masjid Baiturrahman terletak tidak jauh dari Lapangan Pancasila atau yang lebih dikenal dengan nama Lapangan Simpang Lima. Presiden RI Pertama, Bung Karno pernah berpidato di Lapangan Pancasila setelah masa kemerdekaan. Kini, lapangan ini menjadi pusat kegiatan warga kota Semarang.

Jalan Gajahmada
Setelah blusukan  di jalan Pandanaran, saatnya kami melanjutkan blusukan  kami menuju Jalan Gajahmada. Sampai di Jalan Gajahmada hari sudah beranjak petang. Sehingga kami harus mempercepat langkah kaki kami. Seperti Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran, trotoar di Jalan Gajah Mada sangat layak untuk dilewati oleh pejalan kaki. Mesti berhati-hati kalau ada kendaraan yang akan masuk keluar area pertokoan di Jalan Gajah Mada. Tapi kami ga menyusuri trotoar Jalan Gajah Mada, karena kami akan blusukan  ke perkampungan yang ada di sekitar Jalan Gajah Mada.
Bangunan pertama yang kami lihat adalah Restoran Semarang. Kami hanya melihatnya dari luar. Ga masuk ke dalam. Restoran Semarang menyajikan kuliner khas Semarang dan kuliner peranakan Semarang. Jam buka restoran masih menganut manajemen Jawa kuno, yaitu restoran akan tutup pada siang hari untuk memberi waktu istirahat siang untuk semua karyawan dan akan buka lagi pada malam hari. Selama di Semarang, aku belum pernah makan di Restoran Semarang. Mungkin aja ada yang mau mengajak makan di sana, dengan senang hati akan aku iyakan, hikks

Rumah Tuan Klein (suber: @dimassuryoh)

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju perkampungan yang ada di salah satu hotel yang ada di Kota Semarang. Kami diajak untuk keluar masuk gang-gang sempit yang ada. Kemudian mengamati setiap rumah-rumah kuno yang masih bertahan. Hingga akhirnya perjalanan kita terhenti di sebuh rumah besar yang sudah tak berpenghuni. Mas Dimas menjelaskan bahwa rumah besar ini merupakan rumah tuan tanah dari Belanda yang bernama Tuan Klein. Mas Dimas menambahkan bahwa luas tanahnya dibatasi gapura yang ada di ujung gang. Jaraknya rumah dengan gapura ada sekitar 300 meter. Perkampungan di sekitar rumah Tuan Klein bernama Kampung Kelengan, yang berasal dari nama Tuan Klein. Kalian bisa bayangkan betapa luas tanah milik Tuan Klein. Kalau pengen tahu, kalian bisa melihatnya di Jalan Kelengan (sekitar Jalan Depok) dan berjalan kaki menuju rumah Tuan Klein. Sebetulnya ada beberapa perkampungan di Kota Semarang  yang dulunya milik tuan tanah, baik dari Hindia Belanda maupun dari etnis Tionghoa.

Belakang kita adalah gang kampung Kelengan (sumber: @manicstreetwalkers)

Perjalanan blusukan  kawasan Segitiga Emas Kota Semarang berakhir di kampung Kelengan. Perjalanan yang singkat, namun kaya akan pengetahuan baru. Acara Walking Tour Segitiga Emas secara tidak langsung telah mengajarkan kepada kami, khususnya peserta dari kota Semarang, untuk lebih paham tentang sejarah Kota Semarang. Seringkali kita melupakan dan tidak paham dengan sejarah tentang kota kita sendiri. Ayo kita pelajari dan pahami tentang sejarah kota kita, dan kemudian kita ceritakan sejarah itu kepada orang-orang di sekitar kita. Agar kita tidak kehilangan identitas tentang kota kita.
Dulu aku pernah berjalan kaki atau lari mengelilingi kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Berjalan kaki melewati jalan-jalan besarnya. Bukan blusukan setiap sudut yang ada di kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Sejak dulu aku penasaran dan ingin blusukan di perkampungan-perkampungan yang ada di kawasan Segitiga Emas. Namun, belum ada kesempatan dan teman jalan. Hingga akhirnya teman-teman dari Bersukaria Tour mengadakan acara walking tour menyusuri kawasan Segitiga Emas. Acara tersebut diberi nama Segitiga Emas Walking Tour. Aku diijinkan oleh mas Dimas selaku guide dari Bersukaria Tour untuk mengikuti acara ini, meskipun kuota peserta sudah penuh. Makasih teman-teman Bersukaria Tour.

Peserta Segitiga Emas Walking Tour (photo by bersukaria tour)

Kawasan Segitiga Emas merupakan sebutan untuk kawasan yang meliputi Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran dan Jalan Gajahmada. Kawasan Segitiga Emas terkenal sebagai pusat pemerintahan kota dan pusat bisnis. Selain itu, kawasan ini memiliki ciri transisi antara kota lama ke kota baru Semarang. Karakter bangunan lama dan baru berdiri berdampingan, perkampungan dan rumah-rumah tradisional milik warga masih bertahan bertahan hingga sekarang di tengah-tengah pembangunan dan modernisasi.

Segitiga Emas Walking Tour akan menyusuri wilayah yang kaya akan peninggalan budaya, aristektur, tempat makan yang lucu dan bernuasa lokal. Jalan-jalan, makan-makan dan menambah wawasan.acara ini diikuti oleh sekitar 20 orang peserta. Peserta tidak hanya berasal dari kota Semarang saja, namun juga dari luar kota. Seperti dari Jogja, Surabaya, dan Makassar. Sebagian dari mereka juga akan mengikuti acara Urban Social Forum 2016 yang diadakan di SMA Negeri 1 Semarang pada 2-4 Desember 2016.

Jalan Pemuda
Pukul 14:15 peserta sudah berkumpul di depan Mall Paragon sebagai tempat meeting point. Penelusuran kita akan dipandu oleh mas Dimas dari Bersukaria Tour. Mas Dimas juga menjelaskan bahwa sebelum Mall Paragon ada terdapat sebuah bangunan yang bernama Societet Harmony. Bangunan tersebut merupakan tempat berkumpulnya orang-orang borjuis pada jaman Belanda. Selain itu, gedung tersebut juga pernah digunakan untuk pertunjukkan kesenian di kota Semarang. Namun, bangunan tersebut telah hilang dan berganti menjadi sebuah hotel dan mall.

Kampung Sekayu Semarang

Saatnya kita blusukan..!!!
Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Kampung Sekayu. Kampung Sekayu merupakan salah satu kampung tertua di Kota Semarang. Di kampung ini masih banyak rumah yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Kami bisa menemukan rumah dengan desain rumah joglo dan rumah limas. Selain rumah-rumah yang masih asli, di Kampung Sekayu terdapat sebuah masjid yang konon merupakan salah satu masjid tertua di Kota Semarang. Masa pembangunannya hampir sama dengan Masjid Agung Demak. Meskipun Masjid Sekayu telah kehilangan bentuk aslinya, namun kita masih bisa melihat empat pilar yang menjadi soko guru masjid ini. Empat pilar ini menyerupai empat pilar yang ada di Masjid Agung Demak. Bentuk atap menara juga terlihat sangat unik.

Masjid Taqwa Sekayu
Empat pilar Masjid Sekayu

Selama blusukan, kami juga berinteraksi dengan warga kampung. Banyak informasi baru yang kami dapatkan. Di tengah perjalanan, kami menikmati wedang tahu yang kebetulan sedang lewat. Wedang tahu itu terdiri dari tahu halus yang diberi wedang ronde. Rasanya segar dan tahunya terasa sangat halus di mulut. Meskipun sudah sering melihat penjual wedang tahu, namun ini pengalaman pertamaku minum wedang tahu sekaligus blusukan ke Kampung Sekayu. Di kampung yang sempit ini, banyak kendaraan lalu lalang. Mungkin perlu ada kebijakan untuk menciptakan Kampung Sekayu yang bebas kendaraan bermotor. Agar Kampung Sekayu tetap asri dan nyaman untuk dilewati dan sebagai tempat bermain anak-anak.

Rumah kuno di Kampung Sekayu
Rumah dengan empat atap di Kampung Sekayu
Wedang Tahu

Setelah blusukan di Kampung Sekayu, kami diajak Mas Dimas untuk menyusuri Jalan Pemuda. Jalan Pemuda dulunya bernama Jalan Bodjong. Jalan Bodjong dulunya merupakan kawasan perkantoran dan pendidikan pemerintah Hindia Belanda. Di Jalan Pemuda terdapat gedung Balaikota Semarang, SMA Negeri 3 Semarang dan SMA Negeri 5 Semarang. Ketiga bangunan tersebut merupakan bangunan kuno. Bangunan SMA N 3 Semarang dibangun pada tahun 1877 dan dulunya merupakan H.B.S (Hogereburger School). Sekarang bangunan masih kokoh berdiri dan merupakan salah satu sekolah favorit di kota Semarang. Dulu aku ingin masuk sekolah ini, namun nilaiku masih kurang. Akhirnya masuk ke SMA N 1 Semarang. Bangunan SMA N 1 Semarang juga merupakan bangunan kuno dan salah satu sekolah terluas di kota Semarang.

Balaikota Semarang
Salah sudut Balaikota Semarang

Perjalanan masih berlanjut, sekarang kami menuju kawasan Tugu Muda Semarang. Di kawasan ini terdapat beberapa gedung bersejarah. Gedung Lawang Sewu, Museum Mandala Bhakti, Wisma Perdamaian dan Tugu Muda. Seperti Tugu Muda yang dibangun oleh Ir. Soekarno untuk memperingati pertempuran Lima Hari di Kota Semarang. Kemudian ada Gedung Lawang Sewu yang dulunya merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang dibangun pada tahun 1904. NIS merupakan perusahaan kereta api pertama di Indonesia. Stasiun pertama di Indonesia juga dibangun di Kota Semarang.

Banyak informasi baru yang aku dapat tentang kawasan Jalan Pemuda dan sekitarnya. Ternyata banyak hal baru aku ketahui ketika mengikuti acara ini. Aku merasa belum sepenuhnya mengenal tentang kota kelahiranku ini. Hingga timbul sebuah pertanyaan, gimana kamu mau mengenalkan kotamu ke orang lain? Jika kamu sendiri tak mengenal kotamu dengan baik. Bukankah kamu seorang duta wisata untuk kotamu?

Blusukan etape pertama adalah menyusuri Jalan Pemuda. Kemudian etape kedua di Jalan Pandanaran dan etape terakhir di jalan Gajah Mada. Masih banyak hal yang bakal kami temui selama perjalanan blusukan kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Cerita tentang blusukan di etape kedua bisa dibaca di artikel selanjutnya.