WHAT'S NEW?
Loading...
"Diinformasikan kepada para penumpang kereta api Harina dengan keberangkatan Stasiun Surabaya Pasar Turi menuju Stasiun Bandung bahwa kereta mengalami keterlambatan. Saat ini kereta sedang berada di Stasiun Jambon. Diperkirakan kereta akan tiba di Stasiun Semarang Tawang pada pukul 22:05.”

Pengumuman dari petugas stasiun sontak membuatku lemas. Padahal sudah datang di Stasiun Semarang Tawang pada pukul 20:15 agar tidak ketinggalan kereta, tapi ternyata keretanya telat. Malam ini aku berencana pergi ke Kota Bandung dalam rangka untuk menghadiri kondangan temanku, Raissa Githa.

Hai Bandung...!!!

Acara kondangan pas tanggal 2 Desember 2017, bertepatan dengan acara perayaan 5th Anniversary Backpacker Semarang yang dilaksanakan pada 2-3 Desember 2018. Awalnya bingung untuk ikut acara yang mana. Namun, aku memutuskan untuk pergi ke Kota Bandung. Aku membeli tiket tiga minggu sebelum keberangkatan.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, salah satu temanku di Backpacker Semarang mengabari bahwa akan datang ke Semarang dan mengajak reunian ketika acara Anniversary Backpacker Semarang. Rencana awalnya setelah kondangan, aku berencana untuk  jalan-jalan di daerah Jawa Barat terlebih dahulu. Namun rencana itu batal, aku memutuskan untuk balik ke Semarang pada hari Sabtu. Bandung dan Jawa Barat tidak akan pindah kemana-mana, namun momen reunian ini belum tentu akan terulang lagi.

Ketika menunggu kereta yang tak kunjung datang, aku mendapatkan informasi dari panitia acara Backpacker Semarang bahwa beberapa peserta dari BPI Kediri telah tiba di Stasiun Semarang Tawang. Stasiun yang sama untuk keberangkatan ke Bandung. Aku coba untuk mengontak mereka. Akhirnya kami bertemu di Stasiun Semarang Tawang.

Hai Semarang...!!!

Dalam penantian tersebut, kami menghabiskan waktu di sebuah warung yang terletak di luar stasiun. Secangkir kopi dan cemilan menemani obrolan kami malam itu. Hingga akhirnya aku memutuskan kembali ke dalam stasiun untuk menantikan kedatangan kereta. Pukul 22:05 kereta api Harina telah tiba di Stasiun Semarang Tawang. Tak banyak yang aku lakukan selama perjalanan menuju Bandung. Aku memilih untuk tidur selama perjalanan.

Bareng teman-teman BPI Kediri

Aku mulai terbangun ketika kereta memasuki Stasiun Purwakarta pada pukul 05:00. Kursiku yang terletak di sebelah jendela membuatku leluasa untuk menikmati pemandangan di luar. Jalur kereta menuju Bandung selalu menawarkan pemandangan yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Bisa dibilang salah satu jalur kereta dengan pemandangan yang paling indah di Indonesia. 

Pukul 06:25, aku telah Sampai di stasiun Bandung. Kemudian bergegas menuju rumah temanku yang bernama Rike yang berada di daerah Ujung Berung, Bandung menggunakan Gojek. Rencananya kami akan berangkat bersama ke acara.

Dalam perjalanan aku bertanya banyak hal kepada abang Gojek. Kebetulan dia tidak memakai jaket Gojeknya. Dia bercerita bahwa di daerah Bandung Timur, termasuk Ujung Berung itu daerahnya kurang bersahabat bagi para driver ojek online. Bahkan tidak sedikit yang membatalkan pesanan jika penumpang ke arah sana. Dia cuma berpesan kepadaku untuk sering-sering ngobrol selama perjalanan agar tidak dicurigai sebagai ojek online.

Sesampainya di rumah Rike, aku langsung bersiap-siap untuk segera ke tempat acara. Sekitar pukul 08:15 kami sampai di tempat acara. Acara pernikahan dibalut dengan adat Sunda. Aura kebahagian memenuhi tempat acara. Menu makanan yang disediakan juga sangat lezat dan enak. Beberapa lagu dari Payung Teduh dinyanyikan oleh band pengisi acara. Salah satunya adalah lagu Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan. Maklumlah, Raissa penggemar berat band yang digawangi oleh Mas Is, dkk ini.

Aku merasa senang ketika bisa datang diacara pernikahan Raissa dan suaminya. Aku dan Raissa pertama kali ketemu pada tahun 2013 dalam sebuah perjalanan di Gunungkidul dan Pacitan bersama teman-teman Backpacker Semarang. Setelah itu kami masih sering ketemu. Baik di Bandung, maupun di Semarang. Pernah pada tahun 2014, dia samperin aku yang lagi di Lombok. Namun, aku sudah pulang terlebih dahulu, hikks. Pertemanan kami berlanjut hingga sekarang.

Happy Wedding Raissa-Rizky

Sekitar pukul 13:00, kami meninggalkan area. Rike dan mamanya pulang ke rumah, sedangkan aku akan pergi ke Lapangan Gasibu. Lapangan Gasibu hanya berjarak 2,2 Km dari lokasi acara. Aku memutuskan untuk berjalan kaki ke sana. Siang itu, cuaca di Bandung tidak terlalu panas, sehingga enak digunakan untuk jalan kaki. Kota Bandung sangat cocok bagi mereka yang suka berjalan kaki, seperti yang aku lakukan ketika itu.

Lapangan Gasibu, Bandung

Aku langsung melanjutkan perjalanan menuju Bandara Husein Sastranegara. Jadwal keberangkatanku pukul 17:40. Sengaja berangkat lebih awal. Jalanan kota Bandung sangat tidak bersahabat di libur panjang. Setelah selesai check in, ada pemberitahuan dari petugas maskapai bahwa penerbangan ke Semarang mengalami delay selama 100 menit. Perjalananku mengalami keterlambatan lagi. Tidak banyak yang aku lakukan ketika menunggu. Aku hanya bersandar di kursi ruang tunggu, sambil menikmati senja di tanah Parahyangan.

Gedung Sate, Bandung

100 menit pun telah berlalu, namun belum ada pemberitahuan lebih lanjut tentang pesawat keberangkatan ke Semarang. Hingga ada pemberitahuan dari pihak bandara bahwa penerbangan ke Semarang akan berangkat pada pukul 20:15. Dengan adanya informasi tersebut, berarti aku mesti menunggu lagi sekitar satu jam. Kemudian petugas bandara membagikan makanan kepada para penumpang yang mengalami penundaan keberangkatan. Mungkin makanan ini bisa mengurangi rasa laparku, namun tidak bisa menggantikan waktu kebersamaan yang telah hilang karena menunggu penerbangan ke Semarang.

Reunian...!!! Pertama kali kenal sekitar tahun 2013

Pesawat jenis ATR berhasil mendarat mulus di landasan Bandara Ahmad Yani, Semarang setelah menempuh perjalanan selama 60 menit dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Karena cuaca sedang tidak terlalu bagus, selama perjalanan pesawat beberapa kali mengalami guncangan. Ini merupakan pengalaman keduaku naik pesawat jenis ATR. Setelah turun dari pesawat, aku langsung memesan ojek online. Namun aku baru sadar jika mereka tak bisa masuk ke area bandara. Akhirnya aku terpaksa berjalan kaki terlebih dahulu sejauh 400 meter agar bisa ketemu dengan pengemudinya.

Bareng sebagian teman-teman Backpacker Semarang

Akhirnya sekitar pukul 22:10 aku sampai di tempat acara Bacpacker Semarang di area Grand Maerakaca. Aku disambut oleh beberapa teman yang sudah berada di sana. Beberapa ada yang kaget karena siang tadi masih berada di Bandung, tapi malam ini sudah ada di antara mereka di acara Backpacker Semarang. Rasa senang yang tak bisa diungkapkan karena bisa ketemu dan menjalin silaturahmi dengan teman-teman Backpacker Semarang.

Semarang.....!!!!

Perjalanan singkat Bandung dan Semarang yang penuh cerita dan drama ini memberikan pengalaman baru dalam perjalananku. Orang-orang yang luar biasa aku temui selama perjalanan ini. Mereka menjadikan perjalananku lebih menarik.

Traveling is People. Sebuah perjalanan tidak hanya tentang destinasi wisata atau tempat, namun juga tentang orang-orangnya. Baik itu tentang diri kita sendiri, teman seperjalanan, maupun orang-orang yang kita temui dalam perjalanan. Mungkin orang-orang tersebut akan menjadi bagian atau cerita tersendiri dalam kehidupanmu. Sedangakan destinasi menjadi sebuah latarnya.
Seperti lebaran tahun kemarin, lebaran tahun ini aku melakukan ritual pulang kampung atau mudik. Jika tahun kemarin aku mudik ke Simbah-nya Aqila di Gombong, Kebumen, tahun ini aku mudik ke kampung halamannya ibuku di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kabupaten Pandeglang

Jadi ceritanya dulu sekitar tahun 1982 ibuku merantau di Jakarta. Pada saat itu pula, bapakku yang orang asli Semarang sedang melakukan perjalanan dinas ke Jakarta. Atas ijin Sang Pencipta, akhirnya mereka berdua bertemu di Jakarta. Setelah menikah pada tahun 1982, ibuku diboyong ke Kota Semarang.

Mudik tahun ini hanya aku, ibu dan adikku, Ilham yang berangkat. Sedangkan yang lainnya tidak bisa ikut. Tahun ini terasa spesial karena kami sudah lama tak mudik ke tempat kelahiran ibuku ini. Ibuku terakhir mudik adalah 4 tahun yang lalu. Aku 9 tahun yang lalu. Sedangakn adikku, Ilham, ini merupakan perjalanan mudik setelah 11 tahun tak pulang kampung. Kami berangkat dari Semarang menggunakan kereta api tujuan Jakarta. Kemudian dari Jakarta, kami melanjutkan perjalanan bersama saudaraku yang lainnya.

Stasiun Rangkasbitung


Perjalanan menuju Kabupaten Pandeglang dilanjutkan naik KRL Tanahabang menuju Stasiun Rangkasbitung dengan harga karcis sebesar RP 9.000/orang. KRL pun penuh dengan penumpang, sehingga aku harus berdiri selama perjalanan yang memakan waktu selama dua jam. Dari stasiun Rangkasbitung menuju rumah, kami mesti ganti naik angkot sebanyak tiga kali.

Selama lebaran, ongkos angkot naik mulai dari 40% hingga 100% dari ongkos biasanya yang hanya Rp 5.000- Rp 10.000/orang. Siang itu jalanan Kabupaten Pandeglang sangat padat dan macet. Banyak mobil plat Jakarta melintas untuk menuju beberapa tempat wisata yang ada di sekitar Kabupaten Pandeglang. Waktu tempuh dari Stasiun Rangkabitung menuju rumah biasanya hanya 1-1.5 jam. Namun karena macet, waktu tempuh menjadi 3 jam perjalanan.


Jalanan sepi yang berubah macet ketika siang hingga malam

Hai, Selamat Pagi, kamu..!!!

Sekitar pukul 19:00, kami akhirnya di rumah. Rasa syukur kami panjatkan karena telah tiba di rumah dalam keadaan sehat dan selamat. Kedatangan kami disambut dengan suka cita oleh paman dan bibi. Rumah di kampung ditempati oleh pamanku dan keluarganya. Sedangkan kedua orang tua ibuku sudah lama meninggal dunia. Aku lupa tahun berapa. Beliau berdua sudah meninggal sebelum aku lahir.

Pagi pun mulai menyapa, aku mulai bergegas mandi dan berencana untuk keliling kampung. Menikmati semburat dan hangatnya mentari pagi, hijaunya hamparan sawah dan birunya langit. Kabut tipis menyelinap diantara pepohonan. Semua itu membentuk harmonisasi alam.


Pemandangan di belakang rumah
Setelah usai menikmati harmonisasi alam, aku mulai berpindah ke pasar. Kebetulan hari ini ada pasar yang buka hanya pada hari pasaran aja. Jalan-jalan ke pasar tradisional itu punya sensasi tersendiri. Di pasar tradisional, aku bisa melihat interaksi antar penduduk lokal dengan bahasanya. Pagi itu pasar sangatlah ramai. Terlihat ibu-ibu sedang menbeli beraneka macam sayuran, ikan asin, dan bumbu dapur. Selain itu, terdapat penjual jajanan pasar. Penjual siomay pun telah diserbu para para pembeli.



Pasar yang sudah ramai di pagi hari
Penjual sayuran

Dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah warung yang menjual gula aren. Di Semarang sulit untuk menemukan gula aren. Kemudian aku menyusul ibu yang sedang berjalan pulang ke rumah. Kami ngobrol tentang apa saja yang kami temui di pasar. Termasuk ketemu teman-teman ibu semasa kecil.
Baca Juga: Jejak Kejayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula Dari Semarang

Penjual bumbu dapur
Penjual Jajanan Pasar

Sesampainya di rumah, camilan berupa gemblong goreng (jadah) sudah tersaji. Kebetulan aku suka gemblong goreng. Biasanya langsung dimakan aja ketika masih panas atau hangat. Tapi di sini aku diajari makan gemblong goreng dengan cara yang berbeda, yaitu dengan cara dicocol ke kuah semur daging kerbau. Rasa empuk gemblong goreng dipadu dengan lezatnya semur daging kerbau sungguh nikmat sekali. Saking nikmatnya, tidak terasa aku telah menghabiskan lima biji gemblong goreng, hihihii. Selain gemblong goreng, ada beberapa jajanan pasar yang tadi dibeli di pasar. Seperti pasung, kue koneng dan donat.

Camilan di pagi hari
Gemblong goreng yang dicocol ke semur daging kerbau
Kami bersiap-siap untuk berziarah ke makam kakek dan nenekku. Kami berdoa bersama di pusara nenek. Kemudian ibu berdoa di pusara kakek. Ketika berdoa, tanpa disadari bulir-bulir air mata ibu mulai menetes. Sesekali ibu menyeka bulir-bulir tersebut menggunakan tangannya. Seperti ada sesuatu yang belum tersampaikan atau dilakukan ketika kakek masih hidup.

Menu sarapan pagi


Ibu hanya berujar, “Abah tidak memiliki kesempatan untuk melihat anak-anak dan cucunya tumbuh besar dan mulai sukses. Semasa hidupnya, ibu belum bisa membuat abah bahagia. Abah itu orangnya seperti kamu. Tinggi, kurus dan hidungnya sedikit mancung”. Aku hanya tersenyum dan merangkul ibuku untuk berpindah ke makam saudara.

Dalam perjalanan pulang, ibu mampir ke rumah teman semasa kecilnya. Meluapkan rasa rindu dan bertukar kabar. Tak lupa untuk menanyakan sudah punya beberapa cucu. Kata mereka, ibu masih terlihat awet muda, meskipun sudah memiliki dua cucu yang berusia empat dan dua tahun. Ibu selalu merasa bangga ketika bercerita tentang Aqila dan Naufal.

Suatu sore di Alun-Alun Kabupaten Pandeglang

Setelah berziarah, kami sarapan bersama. Menu pagi ini adalah nasi, ikan goreng, tempe goreng, ikan asin, sambal, sayur asam, dan lalapan. Menu sederhana ala kampung, namun rasanya begitu menggoyang lidah. Apalagi ikan diambil langsung dari empang. Tanpa obat dan air yang selalu mengalir. Suasana kekeluargaan juga menambah nikmatnya sarapan pagi itu.

Setelah sarapan, kami bergegas mengunjungi rumah salah satu adik dari kakek. Kami hanya perlu berjalan kaki untuk menuju ke sana. Rumahnya terbilang luas untuk ditinggali seorang diri. Alangkah senang dan terharunya beliau ketika melihat ibu yang menjadi anak kesayangannya dan aku pulang ke kampung dan mengunjunginya. Bulir-bulir air mata pun menetes tanpa perlu mendapat persetujuan dari pemiliknya. Sembari melepas rindu, dipeluknya kami berdua. Aku mencium tangannya sebagai tanda hormat dan bakti kepada beliau. Terakhir kami berjumpa adalah lima tahun yang lalu di Semarang.

Oyaa, salah satu hal unik yang aku temui ketika mudik adalah beberapa rumah memiliki pendingin ruangan alami. Rumah-rumah itu dibangun diatas empang ikan. Air empang pun juga mengalir terus menerus. Empang diisi dengan beberapa ikan, seperti ikan mas, ikan nila, ikan mujair, dan ikan krapu. Selain sebagai tempat memelihara ikan, empang juga bisa berfungsi sebagai pendingin ruangan. Sehingga rumah terasa adem dan sejuk tanpa menggunakan AC.


Di bawahnya rumah ada empangnya

Kami kembali ke Jakarta pada hari berikutnya. Aku, ibuku, dan adikku melanjutkan perjalanan ke Tangerang untuk menjenguk adekku, Dana. Kesibukan barunya tidak memungkinkan dia untuk pulang ke Semarang. Akhirnya kami bertiga yang menjenguknya. Meskipun tak bisa mudik, kami masih diberi kesempatan berkumpul dan bersilaturahmi dalam keadaan sehat.
Foto bareng di rumah saudara

Diakhir perjumpaan kami, ibu hanya berpesan untuk “Jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan. Jaga sholat lima waktunya. Ketika berada di kantor, jangan lupa untuk disempatkan sholat Dhuha. Ibu ga minta apa-apa. Ibu hanya ingin melihat kalian menjadi orang yang sukses dan berhasil. Doa ibu selalu bersama kalian.”

Mudik atau pulang kampung di lebaran tahun ini terasa berkesan bagiku. Selain memangkas jarak, ruang, dan waktu dengan kampung halaman ibu, aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk menemani ibuku pulang ke kampung halamannya. Yang mungkin belum tentu bisa aku lakukan lagi pada tahun depan, tiga atau empat tahun lagi. Lamanya perjalanan, materi yang dikeluarkan, waktu yang dihabiskan, hingga butiran keringat yang keluar dari tubuh tidak akan pernah sebanding dengan doa-doa yang selalu dipanjatkan ibu untuk kesuksesan anak-anaknya.

Banyak pesan yang terkandung dalam ritual mudik. Mudik itu tidak hanya memangkas jarak, ruang, dan waktu. Namun juga sebagai wujud rasa syukur kita atas segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Kabupaten Pandeglang, 27 Juni 2017