WHAT'S NEW?
Loading...

Bersantai di Pantai (Bagian 1)

It’s time to holiday !!! 
Yaa itulah yang pertama kali tersirat dalam benakku. Berhubung ada cuti bersama. Jadi ga ada salahnya untuk berlibur. Rencana awal adalah nanjak gunung Merbabu. Tapi gara-gara ada kebakaran di lereng gunung, akhirnya rencana itu batal. Akhirnya aku putuskan untuk bergabung dengan yang lainnya untuk liburan ke pantai di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta bareng teman-teman Backpacker Indonesia Regional Semarang (BIRS). Mau ke gunung atau ke pantai itu ga masalah. Yang penting itu kita bisa menikmati setiap perjalanan yang kita lakukan.
Sabtu, 14 Oktober 2013 

Kita mulai berangkat dari Semarang. Liburan kali ini yang ikut sekitar lebih dari 20 orang. Lumayan banyak juga yang ikut. Perjalanan ke Gunung Kidul kita bagi menjadi 3 kloter. Kloter pertama yaitu berangkat dari Semarang pukul 05.00 pagi. Mereka yang berangkat pagi itu adalah Putro, Ade, Capung, Ari, Giska, Imam, Adit, Ahmed, Mbak Ida, Tebeh, Nissa, Ari, Adnan, dan mbak A’at. Yaa cukup pagi, karena mereka mau mampir ke Jogja untuk menjemput Rara, teman dari BPI Bandung. Kemudian kloter kedua berangkat pukul 10.00 dari Semarang. Kloter kedua terdiri dari aku, Uchup, Singgih, Laili, Mimi, Roesli, dan Vandy. Kemudian kloter ketiga adalah Mas Te, Icha dan dua teman Mas Te.

Berhubung aku ikut yang kloter kedua, jadi aku akan bercerita tentang perjalanan kami (kloter kedua) ke Gunung Kidul. Rencana awal kita berangkat pukul 09.00, tapi kita baru berangkat pukul 10.00. Siang itu udara sudah mulai panas. Jalur yang kita lewati adalah Semarang-Salatiga-Boyolali-Klaten-Gunung Kidul. Perjalanan Semarang- Gunung Kidul bisa ditempuh dalam waktu 5-6 jam perjalanan. Oyaa, kita semua ke Gunung Kidul naik motor. Sekitar pukul 11.00, kita berhenti sejenak untuk makan. Kebetulan pada saat itu motor yang dikendarai si Uchup dan Singgih mengalami ban bocor. Jadinya kita makan sambil menunggu motor mereka di perbaiki. Ketika makan, aku juga bertemu dengan teman SD. Dia lulusan dari Fakultas Kedokteran, yaa bisa disebut jadi dokter muda. Kebetulan sia juga praktek di daerah sana. Banyak hal yang kita obrolin, maklum udah lama kita ga berjumpa. Setalah selesai makan, dia langsung pamit untuk kembai bekerja di kliniknya. Sekitar satu jam kemudian kita melanjutkan perjalanan ke Gunung Kidul.  

Sekitar pukul 16.00 kita sampai di kawasan pantai di daerah Gunung Kidul. Kita mulai mengurangi kecepatan, karena kita ingin menikmati suasana pantai selatan Gunung Kidul. Banyak pantai berjajar di sepanjang jalan. Mulai dari pantai Baron, pantai Kukup, pantai Krakal, pantai Drini, pantai Sadranan, pantai Sundak, dan pantai Indrayanti. Rasa lelah dalam perjalanan mulai terobati dengan pemandangan cantik pantai-pantai yang berjajaran di sepanjang jalan. Angin laut pun mulai menemani perjalanan kita. Setelah menyusuri pantai-pantai tersebut, kita melanjutkan perjalanan ke pantai Pok Tunggal. Rencana kita akan camping disana. Jalanan menuju pantai Pok Tunggal hanya berupa jalanan berbatu, sehingga kita harus berhati-hati kalo mau menuju kesana.
Pantai Pok Tunggal, Gunung Kidul (source: Sony A W)
Akhirnya pukul 16.30 kita sampai di pantai Pok Tunggal. Kita langsung memakirkan motor dan menuju toilet serta tidak lupa melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu. Setelah itu, kita mulai menikmati suasana pantai Pok Tunggal. Ternyata kita sampai di pantai ini terlebih dahulu. Kloter pertama belum sampai di pantai ini. Mungkin mereka masih di pantai lainnya. Gunung Kidul memang menawarkan pantai untuk dikunjungi. Jarak antar pantai juga tidak terlalu jauh. Sehingga kita bisa menikmati beberapa pantai sekaligus dalam sehari. Setelah menunggu skitar 10 menit, akhirnya mereka sampai juga di pantai Pok Tunggal. Ternyata benar, mereka mengunjungi pantai Sadranan terlebih dahulu sebelum ke pantai Pok Tunggal. Ini adalah ketiga kalinya aku pergi ke pantai Pok Tunggal. Ga pernah bosen untuk mengunjungi pantai ini, walaupun jalan yang dilalui berat. Pantai ini tidak terlalu luas, panjang bibir pantai hanya 200m. Kedua sisi pantai dibatasi oleh tebing-tebing tinggi. Angin di pantai ini juga tak terlalu kencang. Sehingga pantai ini terkesan tersembunyi. Namun itulah yang menjadi daya tarik tersendiri untuk camping di pantai ini.
Menikmati Senja di Pantai Pok Tunggal
Senja pun mulai menampakkan diri. Sebagai penikmat senja, aku tak mau melepaskan momen ini begitu saja. Yang lainya juga mulai menikmati momen ini. Senja di pantai Pok Tunggal memang cantik. Dengan adanya tebing dan air pantai yang sedang surut serta orang-orang yang sedang bermain di pantai menjadikan komposisi senja di sore itu sangat menawan. Semua tumpah ruah menikmati senja dengan cara mereka masing-masing. Senja selalu ditunggu-tunggu oleh para penikmatnya. Wahai kau senja, meskipun kau menampakkan diri secara singkat, cahaya mu selalu menawan dan memaksaku untuk selalu menikmatinya.

Senja di Pantai Pok Tunggal
Sunset Hunter
Sang senja mulai menghilang, dan kini malam pun mulai menampakkan dirinya. Kita beristirahat di sebuah warung makan sambil menunggu kloter ketiga datang. Sambil menunggu, kita berdiskusi untuk pindah tempat. Pentang itu pantai Pok Tunggal sedang ramai dengan anak-anak pramuka yang akan camping di sana. Karena tidak suka, akhirnya kita putuskan untuk berpindah tempat ke pantai lainnya. Pilihan pertama adalah pantai Seruni. Aku belum pernah ke pantai Seruni, namun aku dengar kalau pantai Seruni bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 45-60 menit dari pantai Pok Tunggal dengan melewati perkebunan warga sekitar. Kebetulan aku juga belum pernah kesana dan tertarik untuk kesana. Namun hal itu batal, banyak anggota lainnya yang sudah capek untuk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Akhirnya kita memilih untuk camping di pantai Sadranan. Perjalanan ke pantai pun dimulai. Agak ngeri melewati jalanan dari Pok Tunggal di malam hari. Tanpa penerangan jalan dan jalan yang berupa bebatuan memaksa kami untuk berhati-hati. 
Berbagi Senja Dengan Sahabat
Berbagi Senja Dengan Orang Terkasih
Pukul 20.00 kita sampai di pantai Sadranan. Masih ramai karena banyak warung-warung yang berjejeran di tepi pantai. Kita pun mulai memilih tempat untuk mendirikan tenda. Setelah mendapatkan tempat yang cocok, akhirnya kita mendirikan beberapa tenda. Di malam itu kita berbagi cerita dan pengalaman. Sedangkan aku berbagi cerita dengan Rara, teman baru dari Bandung. Kebetulan dia sudah kenal dengan beberapa dari kita. Pukul 22.30 aku tertidur di bibir pantai. Karena kencangnya angin, aku pun terbangun dan segera mengambil SB aku. Niat awal sih mau tidur lagi, namun ternyata si Rara dan Ade belum tidur. Akhirnya kita bertiga ngobrol bareng. Banyak hal yang kita obrolin. Maklum orang baru kenal thu selalu punya banyak obrolan. Selain itu, kita juga menikmati bintang di pantai Sadranan. Cuaca malam itu cerah, namun seringkali bintang tertutup oleh awan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Angin juga bertambah kencang. Akhirnya aku memilih untuk tidur. Niat awal mau tidur dalam tenda. Ternyata tenda penuh. Haduuuh terpaksa tidur di bibir pantai dengan berselimutkan SB, beralaskan pasir pantai, beratapkan langit. Ditemani alunan debur pantai, angin yang menyayikan melodi ketenangan, cahaya bulan yang menerangi tidurku. Eehm, sungguh harmonisasi yang indah. Terima kasih Tuhan atas segala keindahan yang Engkau berikan pada bangsa ini.
Kita sedang memberikan semangat untuk sahabat kami
Pagi pun menjelang. Matahari mulai menampakkan sinarnya. Dan aku tak mau melewatkan momen ini. Yaa apalagi kalo bukan momen sunrise. Seperti halnya sunset, aku pun juga sering menikmati sunrise. Aku mulai menyiapkan kameraku untuk mengabadikan momen sunrise. Sunrise di pagi itu lumayan bagus, walaupun cahaya keemasannya kurang memikat. Pagi itu suasana di pantai Sadranan juga sudah mulai ramai. Air laut yang surut membuat kami untuk berjalan lebih ke tengah. Kami tidak lupa bernarsis ria. It’s time to narsis!!!
Bernarsis ria di Pantai Sadranan (Rivai, Imam, Ade, Roesli, Rara, Ari, Adit, Agiska, Mas Te
Tak terasa waktu mulai beranjak siang. Kita pun bergegas untuk packing dan menutup tenda. Rencananya kita akan melanjutkan perjalanan ke Pacitan. Tentunnya dengan tujuan ke pantai. Karena tema liburan kali ini “Bersantai di Pantai

4 komentar: Leave Your Comments

  1. Wahai kau senja, meskipun kau menampakkan diri secara singkat, cahaya mu selalu menawan dan memaksaku untuk selalu menikmatinya.

    suka banget bagian ini ^^ btw ya vai, aq pgn banget tidur kaya kamu, di pinggir pantai, pake sleeping bag dan beratapkan langit :) asek sekaliii

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe..biasalah senja selalu begitu tin :D
      ayo cari pantai kamu sendiri...medan kayak semarang, pantainya kotor bnget.
      atau mungkin kita cari pantai kita di gunung kidul?hehhehe

      Hapus
  2. Wahh.. Spertinya suasana yg terbangun benar2 seru. Belum pernah camping di pantai..

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba deh lain kali camping di pantai. ajakin si titin juga :D

      Hapus