WHAT'S NEW?
Loading...

Merah Putih di Atap Tertinggi Jawa Tengah (Bagian 2)


Pagi itu, sang mentari bersinar dengan cerah. Mulai menyapa kami dengan hangat sinarnya. Berharap ada cerita bagus untuk pendakian kali ini. Kami mulai sudah bangun dari peraduan sejak pukul 05.00. Kami mulai bergegas untuk mulai mandi dan menyiapkan segala keperluan untuk pendakian hari itu. Kami memasukkanya ke dalam tas carrier kita masing-masing. Semuanya keperluan pedakian sudah siap. Sebelum kami berangkat, kami tidak lupa untuk sarapan terlebih dahulu. Pukul 08.15 kami berangkat dari rumah Mas Te untuk menuju tempat pemberhentian bus kota. Perjalanan dimulai dengan jalan kaki menyusuri perkampungan di sekitar rumah Mas Te. Kami menjadi pusat perhatian gara-gara tas carrier yang kami bawa.

Akhirnya kita sampai di tempat pemberhentian bus. Setelah menunggu, akhirnya kami mendapatkan bus yang akan membawa kami menuju daerah Lebaksiu Yoemani. Jarak Tegal-Lebaksiu bisa ditempuh dalam waktu 1.5-2 jam perjalanan. Dan ongkos yang dikeluarkan sebesar Rp 8.000/orang. Jumlah anggota yang berangkat pagi itu berjumlah 7 orang, yaitu aku, Uchup, Ari, Farid, Hersa, Yanto dan Budi. Perjalanan itu melewati daerah Slawi. Sebuah daerah yang terkenal dengan teh poci-nya. Setelah menempuh 1.5 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di daerah Lebaksiu. Tinggal mencari angkutan yang membawa kami menuju basecamp Guci. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami membeli logistik yang kurang. Karena di kawasan gunung Slamet tidak ada sumber mata air, maka kami membeli banyak air mineral. Tidak lupa kami juga membeli beberapi mie instan dan beberapa makanan kecil, madu dan obat-obatan.

Merasa logistik sudah cukup, maka kami segera melanjutkan perjalanan. Di daerah Lebaksiu kita harus pintar-pintar mencari angkot. Jangan sampai terkena harga penawaran yang mahal. Karena kami juga ditawari sebuah angkot yang mahal, namun kami menolaknya. Kami pun menjauhi calo yang menawarkan jasa angkut. Kemudian kami tanya pada warga sekitar, ternyata ongkos menuju kawasan Guci sekitar Rp 5.000/orang. Akhirnya kami maendapatkan angkutan ke Guci. Ongkos dari Lebaksiu menuju Guci sebesar Rp 10.000/orang. Itu sudah termasuk buat biaya masuk objek wisata Guci. Jadi kami pikir itu terasa lebih murah. Angkutan menuju Guci berbentuk mobil pick-up bukan mobil angkot berwarna kuning. Selama dalam perjalanan kami menikmati pemandangan cantik dan kebun-kebun yang berjajar rapi, sebuah pemandangan khas di setiap daerah pegunungan. Cuaca pagi menjelang siang pun sangat cerah. Pada bulan Agustus tahun 1967, Gie (Soe Hok Gie) beserta teman-temannya dari Mapala FS UI telah melakukan pendakian ke Gunung Slamet melalui jalur ini. (buku Soe Hok Gie...Sekali Lagi, 2009)

Akhirnya sekitar pukul 11.00 kami sampai di masjid Baiturohim. Kami sengaja berhenti terlebih dahulu di masjid untuk melaksanakan sholat Jum’at terlebih dahulu. Kita juga bertemu beberapa rombongan yang juga akan mendaki gunung Slamet pada hari itu juga. Udara pegunungan pun mulai terasa. Aku, Yanto, Farid dan Uchup mulai terganggu dengan dinginya udara. Padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 12.10, namun udara sudah terasa dingin. Ternyata Farid dan Yanto mulai merasa ngantuk dan tanpa sadar mereka telah tertidur. Uchup pun terbawa suasana juga, dia mulai tertidur ketika khotib sedang berkhotbah. Aku pun juga sama, mulai merasa ngantuk dan tertidur. Namun aku segera menahan agar tidak tertidur terlalu lama. Aku pun terbangun, mulai memperhatikan mereka bertiga. Kemudian si Uchup juga terbangun. Kami berdua tetap membiarkan Yanto dan Farid yang masih tertidur. Khotbah pun telah selesai dan sholat akan segera dimulai, kami segera membangungkan Yanto dan Farid. Akhirnya mereka terbangun dari tidurnya. Setelah sholat, kita packing lagi untuk mengecek segala kebutuhan yang harus dibawa, termasuk logistik. Setelah sholat kita bertemu dengan rombongan yang terdiri dari 3 orang. Kita pun saling menyapa dan saling berkenalan. Ternyata mereka bertiga adalah masih sekolah SMK dan mereka juga murid Mas Te. Sebelumnya Mas Te menginformasikan kalau ada 3 orang muridnya yang ikut dalam pendakian. Mereka bertiga bernama Arif, Beni dan Fajar. Mereka bertiga juga anak pramuka dan ini adalah pendakian perdana mereka bertiga. Sambil menunggu yang lain packing, aku menyempatkan diri untuk jajan siomay. Lumayan untuk menghangatkan badan yang mulai terasa dingin. Setelah selesai packing, kita pun siap untuk menuju basecamp Guci yang berjarak 150 meter. Sebelum berangkat, kita menyempatkan diri untuk bernarsis ria. Di basecamp, Mas Te dan Icha telah menunggu kita semua. Sekarang anggota kita berjumlah 12 orang. 

Ari, Hersa Farid, Uchup, Budi, Rivai. Setelah sholat Jum'at di depan Masjid Baiturohim
Sesampainya di basecamp, kami langsung melakukan registrasi. Biaya administrasi sebesar Rp 15.000/orang. Biaya yang cukup mahal untuk sebuah pendakian gunung. Mereka juga mengatakan biaya sebesar itu juga digunakan untuk kampanye penolakan pembangungan pembangkit listrik tenaga Geothermal (Panas Bumi). Sebelum pendakian, kita makan nasi bungkus yang dibawa Icha yang kebetulan pagi harinya menghadiri hajatan temannya. Kita makan bareng-bareng. Lumayan untuk tambahan tenaga. Tidak lupa kami juga mengatur barang bawaan untuk membagi beban barang bawaan. Di saat itu, ada seorang pendaki yang bergabung dengan kelompok kami, karena dia mendaki seorang diri. Dia bernama Hendrik, asli Semarang juga. Akhirnya kelompok kami berjumlah 13 orang, yang terdiri dari Aku, Farid, Uchup, Hersa, Mas Te, Ari, Yanto, Icha, Budi, Beni, Fajar, Arif dan Hendrik. Pendakian pun akhirnya dimulai juga, tepat pukul 14.30. Kita di temani pemandu yang akan mengantarkan kami ke pos I.
Ketika di Basecamp Guci. Beni,Icha, Fajar, Mas Te, Yanto, Farid, Budi, Hersa, Uchup, Arif (photo by Rivai)
Perjalanan dari basecamp menuju pos I relatif mudah. Kita melalui jalan setapak dan hutan pinus. Namun di jalur ini banyak percabangan jalan. Oleh karena itu, kita ditemani pemandu agar kita tidak tersesat. Dari basecamp ke Pos I dapat ditempuh dengan waktu 1 jam. Jalur pendakian juga relatif landai. Pos I sendiri berada pada ketinggian 1.185 mdpl. Cuaca disana tiba-tiba mendung. Ketika kita sampai di pos I gerimis mulai turun. Karena masih gerimis, kita tetap melanjutkan perjalanan menuju ke Pos II. Sambil berharap gerimis segera reda.
Icha, Ari, Budi, Farid, Yanto, Uchup (photo by Rivai)
 Perjalanan menuju pos II (1850 mpdl) terasa cukup panjang dan masih landai. Perjalanan mulai memasuki hutan. Namun jalur pendakian masih tetap terlihat jelas. Menuju pos II kita menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan. Gerimis tak kunjung reda, malah bertambah semakin deras. Akhirnya kami memakai jas hujan yang telah kami bawa sebelumnya. Aku hanya memakai jas hujan bagian atas saja, sedangkan bagian bawah (celana) tidak aku pakai. Hanya Hersa yang tidak membawa jas hujan. Terpaksa dia hujan-hujanan.

Hujan semakin deras, dan kami tetap melanjutkan perjalanan menuju Pos III (2035 mpdl). Perjalanan semakin berat. Badan kami mulai basah karena guyuran hujan. Bagian luar carrier-ku juga mulai terasa basah, begitu juga dengan celana. Akhirnya kita sampai di pos III. Alhamdulillah hujan mulai reda. Menurut informasi, wilayah pos I sampai pos III memang sering diguyur hujan. Aku mulai melepas jas hujan yang aku pakai. Badan ini langsung merasa kedinginan, aku pun langsung mengambil jaketku yang ada di dalam carrier. Setelah selesai, perjalanan dilanjutkan lagi menuju pos IV. Jarak tempuh menuju pos III sekitar 1 Jam.

Perjalanan dari pos III menuju pos IV (2.480 mpdl) adalah perjalanan terberat dibandingkan perjalanan dari pos-pos yang lain (pos I-V). Ketika itu, badan kami mulai terasa kelelahan karena kehujanan pada perjalanan tadi. Aku juga mulai merasakan hal tersebut. Sepatu dan celanaku sudah basah. Karena hal tersebut, membuat suhu badanku langsung merasa capek dan lelah. Hari pun telah beranjak malam. Kami juga harus memakai lampu penerangan. Perjalanan mulai terasa berat. Beberapa anggota tim mulai merasa kelelahan, termasuk aku. Si Hersa mulai merasa kedinginan karena sejak tadi kehujanan dan jaketnya basah. Dia sempat frustasi dan berniat untuk tidak melanjutkan perjalanan. Setelah beristirahat, akhirnya dia ikut melanjutkan perjalanan. Si Farid mulai merasa kesakitan di lutut kakinya. Dia sudah merasa kesulitan untuk berjalan lagi. Setiap beberapa langkah dia harus berhenti gara-gara merasa kesakitan. Aku pun merasa lelah, suhu tubuh langsung menurun. Saking lelahnya, aku malah tertidur dengan posisi berdiri. Aku benar-benar tak sadar ketika itu. Si Uchup tahu apa yang terjadi denganku. Beberapa kali aku disapa pendaki lain, namun aku tak menjawab karena aku sedang tertidur dalam posisi berdiri. Rasa lelah juga mulai dirasakan oleh ketiga murid Mas Te, Fajar, Beni dan Arif. Hal itu bisa dimaklumi karena ini pendakian pertama bagi mereka. Beberapa kali kita istirahat dalam jarak yang tak terlalu jauh. Akhirnya tim terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berisi Ari, Uchup, Icha, Budi, Hersa dan Hendrik berjalan terlebih dahulu menuju pos IV. Mereka akan mendirikan tenda dan memasak makanan sesampainya di pos IV. Tim kedua beranggotakan aku, Mas Te, Farid, Yanto, Fajar, Beni, dan Arif. Aku berada di tim kedua. Rasa lelah dan sakit pada kakinya Farid mulai tak tertahankan lagi. Setiap lima langkah dia terpaksa istirahat dan menahan rasa sakit di kakinya. Begitu juga dengan Beni, Fajar, dan Arif. Akhirnya diputuskan mereka berempat mendirikan tenda dan beristirahat di diantara jalur III-IV. Mereka ditemani oleh Mas Te. Sedangkan aku dan Yanto tetap melanjutkan perjalanan menyusul kelompok pertama yang menunggu di pos IV.

Perjalanan terasa sepi karena kita cuma berdua saja. Berkali-kali kami berteriak agar kami mengetahui keberadaan kelompok pertama. Teriakan kami sering kali dibalas oleh kelompok pertama. Hal itu menandakan bahwa kami berdua tidak tersesat. Setelah 20 menit berjalan, akhirnya kami berdua sampai di pos IV. Sesampainya di pos IV, aku langsung mencari tenda yang kosong sebagai tempat istirahatku. Aku langsung melepas sepatuku, malam itu kakiku terasa dingin sekali gara-gara hujan tadi. Setelah itu aku masuk tenda dan membuka sleeping bag (SB) agar tidak merasa kedinginan. Namun semua itu percuma, karena SB pada bagian kaki terasa basah. Aku masih merasa kedinginan, namun aku tetap paksakan diriku untuk istirahat. Malam itu tenda berjumlah tiga buah. Cukup untuk menampung kami yang berjumlah delapan orang. Kelompok pertama juga telah memasak makanan untuk makan malam. Bagian memasak diurusi oleh Uchup. Malam itu kami makan mie goreng. Kami pun beristirahat untuk persiapan summit attack besok pagi.

Udara masih dingin sekali. Jaket tebal pun tak mampu untuk menahan dinginnya udara. Jarum jam telah menunjukkan pukul 03.45 pagi. Kami melakukan persiapan untuk summit attack. Kita menyiapkan beberapa botol air minum dan beberapa makanan ringan. Tepat pukul 04.00, kita mulai melakukan perjalanan untuk menuju puncak. Pagi itu yang menuju puncak berjumalah delapan orang, yang terdiri dari aku, Ari, Icha, Uchup, Budi, Yanto, dan Hendrik. Sedangkan Hersa tetap berada di Pos IV untuk menjaga tenda dan mengembalikkan kondisi badannya yang kurang fit. Sebelum berangkat, kita tidak lupa untuk berdoa terlebih dahulu agar perjalanan menuju puncak lancar dan semuanya berjalan dengan baik. Perjalanan pertama yaitu menuju Pos V. Selama perjalanan menuju Pos V banyak ditemui pohon tumbang, sehingga kita harus menunduk untuk melewatinya. Setelah berjalan sekitar 1,5 jam, akhirnya kita bisa mencapai Pos V (2.740 mpdl).
Uchup Yang Sedang Melaksanakan Sholat Subuh
Kilauan Sinar Matahari Ketika Sunrise 17 Agustus 2013

Pos V merupakan batas vegetasi. Setelah Pos V tidak ada lagi pohon yang tumbuh. Hanya ada beberapa tanaman perdu. Jalur yang kami lewati adalah tanah berpasir dan berbatu. Sangat disarankan untuk berhati-hati karena setiap pijakan kaki bisa saja melongsorkan batu-batuan yang ada. Bau belerang pun mulai terasa dalam perjalanan ini. Jalur yang kami lewati memiliki kemiringan sudut 45-60 derajat. Awalnya kita masih berjalan bersama-sama. Mulai jalur ini, rombongan mulai terpecah. Ari, Budi, dan Hendrik mulai mendaki dengan cepat. Sedangkan aku, Uchup, Yanto dan Icha berada di belakang dan tetap mendaki walaupun tak secepat mereka bertiga. Perjalanan terasa panjang dan melelahkan. Seolah-olah puncak terasa jauh sekali. Terkadang kami sempat frustasi dengan semua ini. Anggota tim mulai lelah. Namun karena keinginan untuk upacara bendera di puncak, semuanya harus kami lalui. Kami pun tetap melangkah, menatap puncak yang telah bersiap untuk kami sapa. Kami melangkah bersama, tetap melangkah, dan terus melangkah hingga pagi mulai menyapa kami. Namun sang surya hanya menyapa kami melalui sinarnya yang berwarna keemasan, tanpa menampakkan bentuknya.

Pendakian melalui jalur Guci memang tak menawarkan keindahan sunrise di gunung Slamet. Namun jalur Guci akan memberikan kesejukkan dengan warna hijau dan rapatanya hutan di sepanjang perjalanan dan tentunya kelembutan hamparan awan putih. Sekitar pukul 08.00, akhirnya kita sampai di Bibir Kawah Barat Laut (3205 mpdl). Bibir Kawah Barat Laut itu seperti puncak dari jalur Guci, namun untuk puncak sejati Gunung Slamet (3428 mpdl) masih berada di sebelah timur, dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam perjalanan. Jalur kesana berpasir namun landai. Kita bisa menyusuri jalan setapak yang mengelilingi bibir kawah. Diperlukan konsentrasi yang tinggi untuk menyusurinya. Kita berempat tak melanjutkan perjalanan kesana. Kita akan melakukan upacara bendera di Bibir Kawah Barat Laut. Ternyata tim pertama (Ari, Budi, Hendrik) telah melanjutkan perjalanan ke Puncak Sejati (3428 mpdl).
Upacara Bendera dalam Rangka HUT RI ke 68, 17 Agustus 2013, Bibih Kawah Barat Laut (Uchup, Icha,Yanto)

Merah Putih Berkibar di Bibir Kawah Barat Laut
 Di Bibir Kawah Barat Laut sudah ramai dengan pendaki lain, banyak rombongan yang telah sampai disana. Pendaki-pendaki itu berasal dari beberapa kota, seperti Slawi, Tegal, Temanggung, dan Bogor. Kami beristirahat sebentar, tentunya kita tak lupa untuk berfoto-foto. Setelah itu, kita melaksanakan upacara bendera memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 Tahun. Upacara diikuti beberapa rombongan lainnya. Upacara terasa sederhana namun penuh makna dan berlangsung penuh hikmah. Di Bibir Kawah Barat Laut, aroma belerang sudah sangat kuat. Sangat disarankan untuk memakai masker. Setelah puas berfoto-foto kami memutuskan untuk turun. Bau belerang yang sangat kuat juga memaksa kami untuk segera meninggalkan  Bibir Kawah Barat Laut. Kami berada di Bibir Kawah Barat Laut sekitar 1 jam.
Persembahan dari Uchup, Icha, Rivai untuk Teman-Teman Backpacker Indonesia Regional Semarang (BIRS)


Perjalanan turunnya juga sama susahnya dengan perjalanan naiknya. Beberapa kali kita dipaksa untuk melakukan seluncur (baca: perosotan) untuk kebawah. Dalam perjalanan turun kita lebih banyak bercanda. Hal itu dilakukan agar kami tak cepat merasa lelah. Dalam perjalanan turun, kita akhirnya ketemu dengan tim pertama (Ari, Budi, Hendrik). Akhirnya kita bertujuh berjalan bareng menyusuri jalur turun. Dan tentunya tak lupa untuk berfoto ria. Pos V mulai terlihat, kita pun semakin bersemangat untuk turun. Akhirnya kita sampai di pos V. Dann banyak pendaki lain yang mendirikan tenda di pos V. Kita tak lupa untuk menyapa mereka. Hal yang biasa dalam setiap pendakian. Tanpa istirahat kita langsung melanjutkan perjalanan menuju Pos IV. Dalam perjalanan turun ke Pos IV, kita membutuhkan waktu 45 menit. Dengan berjalan cepat akhirnya kita sampai di Pos IV. Ketika itu hari sudah beranjak siang. Mungkin sekitar pukul 12.00. Si Hersa masih berada di Pos IV sambil menjemur beberapa jas hujan dan jaket yang basah karena kehujanan. Kita segera menyiapakan kompor dan bahan makanan. Siang itu kita akan memasak mie goreng sebagai menu makan siang. Siang itu kita makan banyak karena sejak pagi kita tidak makan. Setelah selesai makan kita mulai membereskan semua perlengkapan untuk turun. Tenda, kompor mulai dilipat, semua perlengkapan juga mulai dimasukkan ke dalam carrier. Selama kita istirahat di Pos IV, kita juga kedatangan pendaki lain. Mereka berjumlah lebih dari sepuluh orang. Mereka berasal dari Jakarta. Sekitar pukul 13.30 kita mulai berjalan turun menuju Pos III. 
Pemandangan Ketika Turun dari Bibir Kawah Barat Laut
Uchup, Ari, Budi, Yanto, Hendrik Dalam Perjalanan Turun Menuju Pos V
Perjalanan terjauh mulai kita jalani. Jalur turun yang mulai bersahabat dengan kaki kita. Sehingga kita semua bisa berjalan cepat untuk menuju pos III. Dalam perjalanan turun, kita juga mencari Mas TE, Farid, Fajar, Beni dan Arif yang semalam mendirikan tenda di jalur Pos III- Pos IV. Ternyata kita tidak bertemu mereka, kemungkinan mereka telah turun terlebih dahulu. Sekitar pukul 14.25 kita telah sampai di Pos III. Kita istirahat sebentar dan mengobrol dengan pendaki lain yang berada di Pos III. Mereka mengatakan kalau Mas Te dkk telah berjalan turun. Setelah cukup beristirahat, akhirnya kita melanjutkan perjalanan menuju pos II. Mungkin karena kita terlalu bersemangat, perjalanan menuju pos II terasa sangat cepat. Kami hanya memerlukan waktu 15 menit untuk mencapai Pos II. Perjalanan yang cukup singkat. Kami sempat tak percaya, namun begitulah yang terjadi.

Karena perjalanan turun yang terasa cepat, aku dan Uchup memiliki target bahwa sekitar pukul 16.00 kita harus sampai basecamp. Kami pun segera melanjutkan perjalanan. Kali ini kita semua mulai berlari. Ketika kita mulai berlari, ternyata Icha tertinggal jauh dibelakang kami. Sekitar pukul 15.15 kita sampai di Pos I. Setelah sampai di Pos I, kita mendapatkan kabar dari pendaki lain kalau Icha mengalami cedera di kakinya. Akhirnya kita semua menunggu Icha di Pos I. Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Icha datang juga. Setelah dirasa Icha cukup beristirahat, akhirnya kita mulai berjalan lagi. Kali ini kita berjalan santai, agar rombongan kita tak terpisah lagi. Perjalanan kali ini cukup lama. Dan targetku dan Uchup tak mungkin tercapai. Tapi kita tidak risau dengan hal itu, yang penting kita bisa kembali secara utuh. Seperti kemarin berangkat, perjalanan menuju pos I juga banyak jalan bercabang. Namun banyak penunjuk arah sepanjang jalur pendakian. Akhirnya sekitar pukul 17.00 kita telah sampai di basecamp. 

Segera mungkin kita melapor kepada petugas pendakian. Setelah itu, kita mencari Mas Te dkk. Kita mencarinya namun tak ketemu juga, hingga akhirnya aku ketemu dengan salah satu murid Mas Te. Akhirnya dia memberitahu tetnang keberadaan Mas Te. Ternyata Mas Te sedang berendam di pemandian air panas Guci. Memang jarang antara basecamp dan pemandian tak terlalu jauh, sekitar 100 meter. Kami bertiga (aku, Uchup, Ari) segera mencari Mas Te dan Farid. Memang benar, Mas Te dan Farid telah selesai menikmati guyuran air panas. Kita akhirnya bertemu dengan mereka. Mas Te menganjurkan kami untuk berendam dahulu, katanya mumpung di Guci. Awalnya aku tidak mau berendam di air panas. Karena si Uchup dan Ari berendam, akhirnya aku juga ikut berendam. Lumayan untuk menghilangkan pegal-pegal selama pendakian. Setelah selesai berendam, kita kembali ke basecamp untuk mengambil carrier kami. Ketika itu hari telah beranjak petang. Kita harus segera pulang ke Tegal. Namun ketika itu sudah tidak angkutan lagi. Kami disarankan untuk menginap di basecamp atau salah-satu penginapan di wilayah Guci. Namun aku menolaknya, sebisa mungkin kita harus pulang ke Tegal malam itu juga agar menghemat biaya juga. Akhirnya kita memutuskan untuk menyewa mobil pick up. Kebetulan kemarin sebelum mendaki, kita dapat nomor HP salah satu sopir yang menawarkan jasa angkutan. Akhirnya kami telepon nomer itu, dan yang mendapat tugas menelpon adalah Mas Te. Karena Mas Te adalah orang asli Tegal, sehingga pembicaraan bisa saling dipahami (tidak roaming). Setelah tawar menawar, akhirnya kita setuju dengan angka Rp 200.000 untuk mengantarkan kami ke Tegal. Akhirnya pukul 19.30 kita meninggalkan basecamp Guci. Selama perjalanan udara terasa dingin sekali. Tetapi kita disuguhi pemandangan kota Tegal dari kawasan Guci. Selama perjalanan kita bertukar cerita dan pengalaman yang terjadi selama pendakian. Tak terasa pukul 21.30, kami sampai kota Tegal juga. Seperti hari kemarin, kita harus berjalan sejauh 200 meter lagi untuk sampai rumah Mas Te. Kembali menyusuri gang kampung dan menjadi pusat perhatian warga kampung. Setelah berjalan 10 menit, akhirnya kita sampai juga di rumah Mas Te. Setelah itu kita langsung mandi dan membersihkan badan. Setelah itu kami makan malam dan bercerita lagi tentang pendakian. Waktu telah menunjukkan tengah malam, satu per satu dari kita mulai kembali ke peraduan, begitu juga dengan diriku. Tapi sebelum tidur, tidak lupa aku memakai pengaman (baca: soffell) agar terhindar dari serangan para nyamuk.

Tidak terasa pagi pun telah menyambutku kita di hari minggu. Badan masih terasa capek, mengakibatkan aku enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Namun tetap aku paksakan karena aku mulai tak tahan dengan serangan para nyamuk. Aku segera bergegas sholat subuh. Terus dilanjutkan mandi. Kemudian kita sarapan bersama. Menu kita pagi ini sayur asam dan lauk ikan bandeng presto serta minuman teh panas. Menu sarapan yang terasa spesial sekali. Bagaimana tidak, 24 jam yang lalu kita masih makan mie goreng dan minum air mineral yang minumnya sangat dibatasi. Namun sekarang kita lagi makan enak dan bisa minum sepuanya. Terima kasih Allah, atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami. Kita akan pulang ke Semarang dengan menggunakan kereta pukul 17.00 dari Stasiun Tegal. Saat itu masih sekitar pukul 09.00. Karena jarak masih lama, kita berusaha untuk meminta jadwal tukar kereta yg lebih cepat. Namun semua kursi untuk jadwal lain juga telah penuh. Akhirnya kami tetap menggunakan kereta pukul 17.00. Kami menghabiskan waktu dengan bercerita. Ada yang sebagian memilih untuk beristirahat. Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.00. Akhirnya kami semua pamit untuk kembali ke Semarang. Perjalanan ke Stasiun Tegal diantar oleh kakaknya Mas Te. Akhirnya kita sampai di stasiun Tegal. Kita berpamitan sama Mas Te dan kakaknya. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah menjamu kami semua dengan baik. Semoga kebaikan Mas Te bisa dibalas oleh Allah SWT, aamiin. Dan yang penting jangan kapok untuk menampung kita lagi yaa, hahhahaa. Sesampainya di stasiun Tegal, kita menyempatkan diri untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan dan sebagai bukti kalo kita pernah ke stasiun Tegal. Agar sebutan ”no pic = hoax” tidak disematkan pada kami, hehhehee.
Aku, Yanto, Uchup, Farid, Icha, Budi dan Ari di Stasiun Tegal Menjelang Pulang
Selama di kereta kita hanya bercanda dan mengobrol. Sebagian juga ada yang tidur. Sore itu, kereta penuh sekali. Hal itu bisa dimaklumi karena hari itu hari minggu. Karena bercanda kita yang terlalu keras, tak sedikit penumpang yang mendengar kami bercanda. Aku mulai merasa kedinginan dengan AC yang ada di kereta. Dinginnya AC kereta membuatku tak bisa berkutik. Ternyata dinginnya AC lebih dingin daripada dinginnya gunung, hahhahaa. Sepertinya sore itu aku salah memakai kostum. Sore itu aku menggunakan celana pendek. Aku pun mulai tak nyaman duduk. Akhirnya menjelang kota Kendal aku mulai pindah di sambungan gerbong. Disini suasana tak dingin karena tidak terkena AC. Akhirnya aku hanya disini hingga menjelang stasiun Poncol Semarang. Akhirnya kita sampai juga di stasiun Poncol Semarang. Saat itu sudah jam 21.00. Kita semua berpisah disini, pualng ke rumah masing-masing. Namun aku melanjutkan perjalananku ke acara kumpul-kumpul teman-teman kuliah. Hingga akhirnya jarum jam telah menunjukkan pukul 22.45. Aku pun pamit terlebih dahulu untuk pulang ke rumah.

Sebuah perjalanan pendakian yang panjang. Banyak cerita disetiap langkahnya. Tawa, senyum, bahagia, bangga, sakit, bingung, jengkel, kecewa, frustasi, dan semua rasa lainnya tercurah dalam pendakian itu. Menurutku, gunung Slamet memiliki kesulitan yang tinggi. Jalur pendakian juga sulit untuk dilalui. Bahkan Gie (Soe Hok Gie) mengatakan bahwa gunung Slamet tidak cocok untuk tempat honeymoon. (buku Soe Hok Gie..... Sekali Lagi)

9 komentar: Leave Your Comments

  1. hehehe asyik bgt ya :) huwaaa jadi berasa ikut hikingnya aku...

    honeymoon mungkin asik di pantai Vai.. hahaha

    btw itu batu susunan namaku.. huwahaha so sweet banget ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. aah..baguslah kalo gitu..jadi terbawa suasana kedalam cerita :D
      aah...dirimu curhat yaa...?? :p
      thu kalo anak pantai...kalo anak gunung honeymoon'nya ke gunung..hahhaa

      hahhaha...kalo pake kertas udah biasa..mkanya pake yg beda :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. pie cha..... jadi tahu khan knapa kemarin aku sibuk menyusun batu...?hahhahaa

      Hapus
  3. andekan bisa terulang kisah yang ga bisa terlupakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita ulang dengan kisah-kisah lain bro :)

      Hapus
  4. uhuk.. ada misi khusus ternyata.. hmmmm... baiklah #ckptw

    itu beneran Om Gie pernah ke Slamet via Guci? aq baru tau bro kalo Om Gie pernah bilang gitu.. :D

    kalo ada kesempatan lagi, wajib mampir lagi.. dengan senang hati aq tampung, bolllleeeeeeehhhhh bangettttt... malah kebetulan jadi ada variasi kuliner buat temen-temen piaraanku (red: nyamuk). wkwkwk
    jangan kapok yaaa... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe...sambil menyelam minum air mas te :D

      hehhee...yaa bgtulah mnurut informasi dari buku :D

      iyaa....ntar mampir lagi...siap2 untuk temani dirimu menuju puncak jawa tengah...hahahah

      Hapus
  5. untuk uploatan video tidak dishare disini....
    slamat saya...

    salam buat beni arif fajar maste...

    BalasHapus