WHAT'S NEW?
Loading...

Mencari Senja

Mungkin dari judul artikelnya terdengar sangat absurd. Tapi mau gimana lagi, emang aku sangat menyukai senja. Bagi aku, senja merupakan peristiwa alam yang sangat luar biasa. Senja juga merupakan penghubung antara sore dan malam. Sebuah lukisan dari Sang Pencipta yang digoreskan ke dalam kanvas yang berupa langitan luas. Karena begitu indahnya senja, tak sedikit orang menjadi penikmat senja. Tak sedikit pula orang-orang berusaha menemukan senja yang berkesan bagi mereka.

Rawa Pening, 1 November 2013
“Bro, ayo ikutan sunset di Rawa Pening”. Begitulah chat dari temanku, Newa, yang mengajak untuk hunting foto sunset di Rawa Pening. Aku bersedia untuk ikut hunting foto di Rawa Pening. Aku memang suka fotografi. Tapi aku ga punya kamera DSLR. Aku hanya pake kamera digital tipe pocket saja. Terkadang kamera HP juga aku gunakan. Oyaa, kualitas kamera HP juga bagus lho, walaupun ga sebagus kamera DSLR. Namun kualitas foto kamera HP juga mampu berbicara banyak. Seperti ucapan temanku, jenis kamera bukanlah yang terpenting, yang terpenting adalah orang yang berada di belakang senjata (baca: kamera) itu. Sebuah kalimat yang terkadang membuatku bangga dan terhibur ketika bisa menghasilkan foto yang bagus dari kamera pocket ataupun kamera HP. Akhirnya kita janjian untuk berangkat pukul 3 sore.

Pukul 3 sore aku mulai datang di tempat yang ditentukan. Sore itu yang akan hunting foto berjumlah 4 orang. Newa juga mengajak 2 orang temannya. Setalah lama menunggu 2 orang teman lainnya, akhirnya pukul 4 sore kita berangkat ke Rawa Pening. Yaa sepertinya kita tidak akan mendapatkan senja karena kita berangkat terlalu sore. Rawa Pening merupakan sebuah danau yang terletak di daerah Salatiga. Rawa Pening bisa ditempuh dengan waktu 1 jam perjalanan naik motor. Sekitar pukul 5 sore kita sudah sampai di desa Semurup. Desa yang berada di pinggir Rawa Pening. Sore itu jalanan lancar, tak ada kemacetan yang mengganggu kami.

Sesampainya di Rawa Pening, kita berempat langsung mengeluarkan senjata (baca: kamera) kita masing-masing. Dan seperti yang aku bilang diatas. Aku hanya menggunakan kamera pocekt dan kamera HP saja. Kita langsung menuju saung-saung yang berada di sekitar danau. Di sekitar saung juga banyak perahu yang berjajar dengan rapi. Perahu itu bisa digunakan oleh pengunjung untuk memancing ikan di tengah danau. Sore itu cahaya matahari tak menampakkan sinarnya. Itu artinya senja takkan nampak di sore itu. sedikit kecewa aku tak menemukan senja. Tapi aku juga senang, karena bisa menikmati suasana tenang di Rawa Pening. Senja sore itu memang tak menampakkan cahaya temarannya secara sempurna. Namun gara-gara ketidaksempurnaan cahaya itu, cahaya samar yang ada di langit terlukis jelas di permukaan air danau. Cahaya itu tergabung dalam warna-warna yang ada di danau. Mulai dari birunya air danau, merahnya perahu, dan hijaunya tanaman. Mereka semua membentuk sebuah harmonisasi warna yang menakjubkan.
Perahu dan Saung yang berada di sekitar Rawa Pening
Sore itu ternyata kita tak sendirian. Disana banyak orang yang baru saja menyelesaikan aktivitas memancing mereka. Mereka senang sekali karena mendapatkan ikan yang lumayan banyak. Lumayan untuk makan esok hari, pikirnya begitu. Hari pun mulai beranjak gelap. Akita pun juga beranjak pergi. Aku memang belum menemukan senja di Rawa Pening. Namun aku merasakan ketenangan dan mendapatkan harmonisasi warna dalam ketenangan  alam sekitarmu. Terima kasih Rawa Pening untuk sore itu. Lain Kali aku akan menyapamu lagi.
Pemandangan di Rawa Pening
Pantai Marina, 2 November 2013
“Ayo ikutan ke hutan bakau”, begitulah bunyi ajakan Giska di grup. Aku pun tertarik untuk kesana. Soalnya aku belum pernah kesana. Ternyata Giska juga belom pernah kesana. Akhirnya ada Rusli (sepupu aku) yang bersedia jadi penunjuk jalan.  Kebetulan hari itu hari Sabtu. Aku ga ada kegiatan dan pengen kabur. Akhirnya aku ikut bergabung dengan mereka berdua. Rencana kita berangkat pukul 2 siang. Kita bertiga janjian ketemu di te,pat yang telah ditentukan. Siang itu matahari bersinar dengan teriknya. Kita janjian di kawasan Kalibanteng. Ternyata ada Ary yang akhirnya gabung dengan kita. Kita berempat langsung menuju ke hutan bakau. Jalanan yang macet dan panasnya matahari sungguh mengganggu perjalanan kita di sore itu. Rencana awal kita untuk menikmati suasana sore disana. Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya kita sampai di hutan bakau. Kita mulai memasuki kawasan tersebut. Banyak orang yang memancing di tamabak di sekitar hutan. Kita mencoba berkeliling hutan. Di tengah perjalanan kita berhenti sejenak. Kita mengamati suasana hutan bakau. Ternyata suasana hutan tidak nyaman. Banyak nyamuk yang berada disana. Karena suasana itu, kita putuskan untuk meninggalakan hutan dan pindah ke pantai Marina. Pantai Marina bisa di tempuh dengan waktu sekitar 15 menit perjalanan. Sore itu jalanan juga masih padat dan sedikit tersendat.
Sesorang sedang memancing di pantai Marina
Kita sampai juga di pantai Marina. Sekarang pantai Marina terlihat lebih bagus. Di pinggir pantai ada jalan setapak yang bisa dilewati atau buat nongkrong. Aku lupa kapan terakhir kesini. Mungkin lebih dari 5 tahun yang lalu. Ada beberapa kapal yang sedang bersandar di pantai Marina. Beberapa orang juga melakukan aktivitas memancing. Sore itu suasana pantai Marina sangat ramai. Maklum ntar malam adalah malam minggu, jadi banyak muda-mudi memadu kasih disini dengan menikmati suasana senja. Tak luput juga para keluarga yang sedang menikmati suasana pantai Marina. Bahkan ada yang mengajak anjing peliharaannya juga. Semua tumpah ruah menikmati senja di pantai Marina.
Giska yang sedang menikmati softdrink di tepi pantai Marina
Kita berempat mulai mencari tempat yang pas untuk memotret senja. Akhirnya kita mendapatkan tempat yang langsung mengarah ke barat. Tepat dimana matahari akan tenggelam. Sore itu cahaya matahari sangat cerah. Kita berharap nanti tidak tertutup awan. Sang senja pun mulai menampakkan sinarnya. Kita mencoba mengabadikan momen tersebut. Kali ini giska dijadikan model untuk motret senja. Yaa walaupun hanya terlihat siluet saja. Namun, keberadaan Giska membuat foto menjadi lebih “hidup”. Serasa ada interaksi di dalam foto tersebut. Senja sore itu terasa cepat sekali. Sang surya mulai tertutup oleh awan. Kita hanya bisa mengabadikan percikan sinar matahari yang masih terlukis di langit. Sanga surya tenggelam sepenuhnya di ufuk barat. Hari beranjak gelap. Suasana pantai mulai sepi. Kita pun ikut meninggalkan pantai Marina.

2 komentar: Leave Your Comments

  1. asikkk aku kapan di ajak ke sana???
    *ngilerrrr ngiler...
    bagian mana yg berantakan, cuma satu aja... ehehehe
    ada vit a di kata kita jadinya akita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mo diajakn yang mana..?
      atasatau bawah...?hehehhe
      thu deket semarang aja kok..hehheee

      iyaa...msih typo juga ternyata...hahhaa

      Hapus