Sunday, December 20, 2015

Melihat Kemegahan Masjid Menara Semarang

Sedikit orang, khususnya orang Semarang, yang mengetahui tentang keberadaan masjid Menara Semarang. Masjid Menara sering disebut masjid Layur, lantaran masjid tersebut terletak di jalan Layur Semarang. Masjid ini tak sepopuler masjid-masjid yang ada di kota Semarang.  Seperti Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), masjid Baiturahman, atau masjid Kauman. Namun, masjid Menara memiliki sejarah panjang yang berhubungan dengan perkembangan kota Semarang pada tempo dulu.

Masjid Menara Semarang

Masjid Menara atau masjid Layur terletak di jalan Layur, kelurahan Dadapsari, Semarang Utara, kota Semarang. Untuk menuju masjid ini tidaklah sulit. Ketika sampai di Kantor Pos Johar, kita bisa langsung menuju ke barat. Menyusuri sisi kali Semarang hingga melewati rel di jalan Layur. Menara masjid sudah bisa dilihat dari sana. Menurut sejarah, masjid Menara dibangun pada tahun 1802 oleh seorang saudagar yang berasal dari Yaman. Selain itu, saudagar-saudagar Melayu banyak yang singgah dan menetap di kawasan ini. Oleh sebab itu kawasan ini juga dikenal dengan sebutan Kampung Melayu. Arsitektur di masjid Menara dipengaruhi oleh budaya Arab, Melayu dan Jawa. Menurut cerita, menara ini merupakan mercusuar sebuah pelabuhan. Namun karena pusat pelabuhan pindah, maka mercusuar tidak digunakan lagi. Sedangkan bangunan masjid merupakan kantor dari mercusuar tersebut. 

Masjid Menara Semarang
Masjid Menara Semarang

Aku mulai memarkirkan motorku di sekitar taman Sri Gunting di kawasan Kota Lama, Semarang. Aku berencana untuk berjalan kaki dari kawasan Kota Lama menuju Masjid Menara. Mungkin sekitar 20 menit jalan kaki. Aku memilih jalan kaki karena ingin menikmati suasana Kampung Melayu. Suasana yang mendung sangat mendukung untuk kegiatan jalan kaki. Berjalan kaki sambil mengamati setiap aktivitas yang dilakukan warga kampung. Selama perjalanan, aku melihat banyak bangunan tempo dulu. Ada bangunan yang masih berdiri kokoh, namun ada bangunan yang sudah tidak terawat lagi. Arsitektur khas bangsa Eropa banyak tersaji disini, seolah-olah berada dimasa tempo dulu. Menikmati setiap kemegahan dan suasana bangunan tempo dulu.

Suasana di Kampung Melayu, lokasi Masjid Menara Semarang

Aku sampai di masjid Menara ketika waktu sholat Ashar. Aku menjalankan sholat Ashar kemudian melihat-lihat desain ruangan masjid. Desain masjid tak meninggalkan bentuk aslinya. Ruangan masjid tidak terlalu luas, mungkin bisa menampung sekitar 100 jamaah. Setelah berkeliling ruangan, ada sesuatu yang unik dalam ruangan. Diruangan utama tidak ada tembok atau dinding. Pembatas ruangan menggunakan kayu yang diberi motif geometri yang juga berfungsi sebagai ventilasi dan jendela. Selain itu, langit-langit di masjid ini menggunakan kayu. Warna cat hijau mendominasi bangunan masjid ini. Sangat sejuk ketika berada di dalam ruangan masjid.

Ruang Sholat Masjid Menara Semarang

Oyaa, masjid Menara pernah beberapa kali digunakan sebagai lokasi syuting film. Antara lain ada film Gie dan Sang Pencerah. Pada film Sang Pencerah, masjid Menara hanya ditampilkan sekali. Namun pada film Gie, masjid Menara terlihat di beberapa scene. Yang paling terlihat ketika siluet menara masjid ketika senja tiba. Seringnya digunakan sebagai lokasi syuting film, seharusnya masjid ini bisa lebih dikenal masyarakat. Masjid Menara juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah kota Semarang. Namun, kenyataannya masih banyak orang yang belum mengetahui tentang keberadaan dan sejarah masjid Menara atau masjid Layur ini. Tapi kalian yang menyukai sejarah, terutama tentang masjid, kalian wajib mengunjungi masjid Menara atau masjid Layur ini.



Tuesday, October 27, 2015

Lisbon Dalam Potongan Postcard

Kalian pernah menerima kiriman postcard? Mungkin dari pacar, suami/istri, keluarga, sahabat, teman, idola, atau mungkin dari teman yang belum pernah ketemu sebelumnya. Pasti seneng banget khan kalo dapat kiriman postcard. Mungkin cuma selembar aja, tapi selembar postcard banyak mengandung cerita lho. Seperti yang aku alami bulan lalu. Aku mendapatkan kiriman postcard dari kak Nila Tanzil. Kak Nila Tanzil itu seorang Travel Blogger. Kebetulan pas itu kak Nila lagi ng-trip ke Lisbon, Portugal. Kak Nila kemudian mengadakan kuis yang hadiahnya sebuah postcard. Yang spesialnya lagi, postcard tersebut dikirim langsung dari Lisbon. Ga nyangka aku bakal mendapatkan postcard tersebut. Gara-gara postcard tersebut, aku mulai penasaran dengan kota Lisbon. Taunya lisbon yaa klub sepak bolanya, Sporting Lisbon. Klub pertamanya sang Bintang Sepak Bola, Christiano Ronaldo. Yang sekarang jadi klubnya Martunis, pemuda Aceh yang selamat dari bencana gelombang Tsunami pada tahun 2004. Yuk aah, kita tengok sedikit tentang Lisbon.


Postcard dari Kak Nila Tanzil

Lisbon atau Lisboa, merupakan ibukota negara Portugal. Lisbon terletak di tepi sungai Tagus. Bisa dibilang Lisbon merupakan salah satu kota tua yang memiliki banyak sejarah yang ada di Eropa. Menurut sejarah, kota Lisbon sudah ada sejak 2000 tahun sebelum Masehi. Kota ini pertama kali didirikan oleh bangsa Iberia. Seperti kota tua lainnya, Lisbon memiliki ciri khas tersendiri untuk dijelajahi. Kota ini memiliki daya tarik untuk ditelusuri tempat wisatanya. Banyak gedung tua yang bisa kita temukan di kota ini. Kota Lisbon memiliki jalanan yang sempit dan berliku. Namun, Lisbon merupakan kota yang cantik dan bersih. Rumah-rumahnya lucu dan berwarna-warni. Yang unik dari kota ini adalah Tram-nya. Tram di kota Lisbon terlihat sangat vintage, sehingga memberikan kesan seperti hidup di jaman dulu.

Castle St. Jorge (sumber: www.ruralbritaintours.com)

Salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika mengunjungi Lisbon adalah Castle St. Jorge.  Castel St. Jorge merupakan benteng tua yang memiliki titik tertinggi di kota Lisbon. Dari benteng ini terlihat pemandangan kota Lisbon dan sungai Tagus. Castle St. Jorge dulunya berperan sebagai benteng bagi semua orang yang menghuni Lisbon. Dalam sebuah ruangan, terdapat pusat informasi untuk mereka yang tertarik untuk belajar tentang sejarah kota Lisbon. Di Castle St. Jorge juga terdapat sebuah taman dengan patung Raja Alfonso Henriques. Disana juga terdapat sebuah restoran mewah, yang sering digunakan untuk sebuah acara. Perjalanan menuju Castel St. Jorge agak sulit, sehingga diperlukan perencanaan waktu ketika mengunjungi benteng ini. Ketika berkunjung ke Lisbon, sebaiknya jangan lupa untuk datang ke Castle St. Jorge.

Pemandangan Alfama (http://traveltherapytours.com/holiday/lisbon-walking-tour-alfama-old-town/)

Tempat yang wajib dikunjungi ketika berada di Lisbon adalah Alfama. Alfama merupakan kota tua Islam yang ada di Lisbon. Alfama memiliki untaian kisah sejarah yang dalam. Bangsa Portugis dan Spanyol pernah dikuasai orang-orang muslim Moor pada abad-12. Alfama menjadi pusat kehidupan orang Moor pada masa itu. Nama Alfama berasal dari bahasa Arab Al-Hamma, yang berarti tempat pemandian. Alfama memiliki kesan khusus dengan jalanan yang sempit dan berliku. Banyak bangunan modern dibangun di kota Alfama, namun kesan kota tua masih tetap ada. Gaya arsitektur bangunan sangat dipengaruhi oleh budaya Romawi, Muslim, dan Arab.

Tram di Lisbon (https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Tram_Lisbon_1.jpg)

Setelah lelah berkeliling Lisbon, jangan lupa sempatkan diri untuk cicipi kuliner setempat. Ketika di Lisbon kita bisa cicipi kue egg tart atau pasties de nata. Kalo di Indonesia kue tersebut dikenal dengan kue Lumpur atau Pastel Natal. Kue ini sangat terkenal di Lisbon, namun juga bisa dijumpai di Indonesia. Penyebaran makanan ini bisa disebabkan oleh pelaut atau pedagang bangsa Portugis yang berlayar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebelum mencicipi kue aslinya di Lisbon, Portugal, ga ada salahnya kita cicipi dulu versi Indonesia-nya.

Pasties de Nata (http://www.foodandtravelfun.com/food-from-the-world-pastel-de-nata/)

Udah dulu aah cerita tentang Lisbon-nya. Artikel ini diolah dari beberapa sumber. Bukan cerita pengalamanku sendiri. Aku hanya mencari tahu tentang kota Lisbon. Semua tentang kota Lisbon. Makasih Kaka Nila untuk postcard-nya, semoga suatu hari nanti bisa ke Lisbon.
Lisbon, 10 Agustus 2015
Hai Rivai, Salam kenal yaa!!
Lisbon kotanya cantik dan bersih. Rumah-rumahnya lucu, warna-warni gitu. Yang unik adalah Tram-nya, Vintage!!! Asli kayak hidup di jaman dulu. Gedung-gedungnya juga tua. Aku suka. Kalo kamu kesin, musti dateng ke Castle St. Jorge dan muter-muter di daerah Alfama. Menyenangkan areanya. Oyaa, orang-orang disini juga ramah dan kalo naik public transport gak bakalan disasarin
Salam,
Nila Tanzil

Sumber:
http://www.ruralbritaintours.com/tour_portugal_it.htm
http://anakflores.blogspot.co.id/2012/04/jalan-jalan-ke-lisbon-portugal-bagian-1.html

Wednesday, October 14, 2015

Camping Ceria Di Candi Gedong Songo

Asyik, akhirnya bisa camping lagi di kawasan Candi Gedong Songo, kabupaten Semarang. Kebetulan teman-teman Backpacker Semarang mau ngadain acara TripHore 6 di kawasan Candi Gedong Songo. Tak ambil pusing aku pun langsung mendaftar untuk ikut acaranya. Terakhir camping disana pada September 2013. Itu juga bareng teman-teman Backpacker Semarang. Pas itu cuaca juga bagus, penuh dengan kabut. Tapi entah kalo besok. Yang penting daftar dulu khan.

Foto Bareng Acara TripHore 6 Backpacker Semarang

Acara TripHore diadakan pada tanggal 19-20 September 2015. Acara terbuka untuk umum, jadi siapa saja boleh ikutan. Akhirnya hari H juga nie, sayangnya aku ga bisa berangkat bareng rombongan. Ada keperluan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Jadi baru sempet berangkat sore hari. Dan sampai di kawasan Candi Gedong Songo pukul 18:45. Untuk mencapai lokasi camping, kita harus trekking sekitar 2 Km dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Malam itu aku melakukan trekking bersama 3 orang, Didi, Tian dan Tita. Kita menggunakan senter dan headlamp untuk membantu penerangan. Hanya ada kita, lampu penerangan, dan nafas kita yang mulai tidak teratur.

Acara BBQ Bareng, Nyaaammm!!

Kawasan Candi Gedong Songo terletak di kabupaten Semarang. Bisa ditempuh dengan waktu 1 jam perjalanan dari kota Semarang. Candi Gedong Songo terletak di ketinggian 1.200 mdpl. Kawasan Candi Gedong Songo merupakan candi peninggalan kebudayaan Hindu. Bentuk candi menyerupai dengan bentuk candi-candi Hindu lainnya, seperti candi-candi yang terdapat di dataran tinggi Dieng. Kawasan Candi Gedong Songo memiliki lima kompleks candi. Di setiap kompleks terdapat satu sampai 5 candi. Di beberapa kompleks candi, ada beberapa candi yang telah roboh dan hanya berupa susunan batu-batu saja. Selain trekking, pengunjung bisa memanfaatkan jasa sewa kuda untuk mengelilingi kompleks candi Gedong Songo. Biaya untuk menyewa kuda sekitar Rp 60.000-Rp 90.000. Setiap pengunjung cukup membayar tiket sebesar Rp 6.000 untuk hari kerja dan Rp 7.500 untuk  akhir pekan atau hari libur. Selain itu, pihak pengelola candi juga menyediakan fasilitas camping bagi pengunjung. Seperti daerah pegunungan lainnya, kawasan Candi Gedong Songo juga memiliki udara yang sejuk. Pada malam hari, suhu di candi bisa mencapai 10oC.

Menu Makan Malam

Setelah trekking sekitar 30 menit, akhirnya kita sampai di tanah lapang dekat kompleks Candi 4. Tanah lapang inilah yang kita gunakan untuk area camping. Disana area luas, namun jauh dari fasilitas MCK dan penerangan. Jadi sangat disarankan untuk membawa lampu emergency. Kita sudah disambut oleh teman-teman yang terlebih dahulu datang. Setelah mendirikan tenda, kami langsung bergabung dengan yang lainnya. Seperti biasa, acara perkenalan dulu, kemudian dilanjutkan dengan acara masak bareng. Menunya sih sederhana, namun sangat istimewa ketika dimakan bersama. Setelah makan, kita langsung maen games yang kemudian dilanjutkan dengan acara BBQ. Menu BBQ-nya adalah sosis dan bakso yang diolesi dengan saos blackpaper. Rasanya, MAKNYUSS!!!

Menikmati Pagi Candi Gedong Songo

Malam semakin larut dan acara bebas. Ada peserta yang bermain kartu UNO, main gitar dan nyanyi bareng sambil pada curhat colongan, dan ada peserta yang langsung masuk tenda untuk tidur. Mungkin mereka terlalu lelah. Semakin malam bukannya semakin sepi, ini malah semakin rame. Permainan polisi numpang tanya berhasil menghangatkan suasana. Yang ikut banyak dan tentu saja ada hukumannya bagi yang kalah. Hukumannya adalah meminum kopi pahit. Nah khan, larut malam malah minum kopi. Bukannya ngantuk, yang ada malah tambah melek. Hampir semua peserta minum kopi tersebut, termasuk aku. Beeuuhh, rasa kopinya emang pahit banget. Langsung diminum aja sih, ga perlu dirasain pahitnya kayak gimana. Yang pasti pahit banget.

Jalur Yang Dilewati Semalam (photo by Capung, 2013)

Hangatnya sinar mentari pagi mulai menyapa. Ini adalah saat yang paling aku suka ketika camping. Sinar jingga mentari membentuk garis horison dilangit biru. Suara burung-burung mulai bersahut-sahutan. Alunan melodi gitar membuat pagi itu terasa syahdu. Senang sekali bisa berkumpul dengan kalian. Berbagi waktu dengan kalian. Membuat cerita bersama tentang kita. Waktu boleh saja berlalu, namun tidak dengan cerita kita.

Wednesday, August 12, 2015

Seni Itu Bernama Menunggu

"Aku sering menyebutnya dengan seni menunggu. Kenapa aku sebut sebuah seni, karena dengan menunggu bisa menghasilkan sebuah foto yang memiliki jiwa, rasa dan cerita. Sebuah seni sebaiknya memiliki jiwa, rasa dan cerita khan"

Banyak orang bilang bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan dan tidak ada manfaatnya. Menunggu adalah pekerjaan yang penuh dengan ketidakpastian. Apalagi kalau menunggu gebetan yang tak kunjung memberikan sebuah jawaban, eehh. Nah lho, yang lagi pada nunggu, dibuat have fun aja yaa. Artikel kali ini akan bahas tentang me-nung-gu, yaap menunggu. Tapi menunggu disini ga ada kaitannya dengan asmara, cinta dan perasaan. Jadi jangan baper ketika baca artikel ini yaa. Menunggu yang kita bahas disini adalah menunggu momen yang tepat untuk direkam atau difoto.

Endah n Rhesa di Loenpia Jazz 2015
Endah n Rhesa di Loenpia Jazz 2015
Tohpati di Loenpia Jazz 2015
Menunggu adalah sebuah fase yang biasa dilewati dalam fotografi, khususnya fotografi dengan objek yang bergerak. Aku sering menyebutnya dengan seni menunggu. Kenapa aku sebut sebuah seni, karena dengan menunggu bisa menghasilkan sebuah foto yang memiliki jiwa, rasa dan cerita. Sebuah seni sebaiknya memiliki jiwa, rasa dan cerita khan. Fotografi human interest biasanya mengharuskan fotografer untuk menunggu. Menunggu untuk mendapatkan momen terbaik dan ekspresi yang beda pada objek. Ekspresi yang dimaksud disini adalah ekspresi alami atau natural yang dikeluarkan oleh objek. Misalnya ekspresi menangis dan ekspresi tertawa. Dengan menunggu, seorang fotografer bisa memberikan jiwa, rasa dan cerita dalam fotonya. Selain itu, selama menunggu kita juga bisa mengamati aktivitas- aktivitas yang dilakukan objek. Dari aktivitas tersebut akan membentuk sebuah pola yang nantinya bisa kita jadikan panduan ketika memotret. Bagiku ada kesan tersendiri ketika kita menunggu, kita akan mengamati setiap apa yang terjadi pada objek kemudian menangkap sebuah momen terbaik disaat yang tepat.

Gubernur Jawa Tengah, Bp. Ganjar Pranowo
Gubernur Jawa Tengah, Bp. Ganjar Pranowo
Nia Ramadhani
Nia Ramadhani
Beberapa kali aku telah mempraktekkan seni menunggu ini. Beberapa kali berhasil, tapi lebih banyak gagalnya, hahhahahaa. Aku bakal share beberapa hasil jepretanku dari kamera teman *belum punya senjata sendiri*. Kebanyakan foto-foto ini diambil ketika ada event, festival, atau memang sedang hunting foto. Seperti foto penyanyi Endah n Rhesa dan gitaris Tohpati di acara Loenpia Jazz 2015. Ada foto Nia Ramadhani dan Gubernur Jateng Bapak Ganjar Pranowo di sebuah acara jalan santai. Kemudian ada seorang pejalan kaki yang sedang melewati sebuah lukisan batik di sebuah tembok. Ada juga foto seorang taruna Akpol yang sedang memimpin rekan-rekannya dalam bermain marching band diacara Semarang Night Carnival 2015. Tak ketinggalan ada foto keponakan, namanya Aqila yang sedang minta es krim ke Maura. Ekspresi Aqila yang merengek memberikan kesan kuat pada foto itu.

Di sebuah Gang Kampung Batik di kota Pekalongan
Pemimpin Marching Band Akpol
Foto- foto yang ada diartikel ini semuanya melalui proses menunggu. Menunggu objek mengeluarkan ekspresi yang beda dan natural. Menunggu terkadang membosankan. Namun dengan menunggu, foto yang dihasilkan bisa lebih memiliki jiwa, rasa dan cerita. Jangan pernah bosen untuk menunggu. Fokuskan apa yang kau lihat, tinggal “klik” ketika momen yang tepat itu sedang berlangsung.

Maura dan Aqila
Maura dan Aqila

Wednesday, August 5, 2015

Belajar Sejarah di Museum Kereta Api Ambarawa

“Kita perlu belajar sejarah, supaya hari ini kita tahu apa yang terjadi di masa lampau. Dan kemudian kita memperbaikinya di masa yang akan datang”.

Begitulah kira-kira Pak Sugeng bercerita tentang perlunya kita belajar sejarah. Beliau merupakan guru mapel sejarah ketika kelas X (kelas I) SMA. Selepas kelas X, aku pun tak pernah mendapatkan mapel sejarah lagi, karena aku masuk kedalam jurusan Ilmu Alam (IA). Sejak SMP aku sudah menyukai mapel sejarah. Walaupun ketika SMA aku masuk jurusan Ilmu Alam (IA), ketertarikanku terhadap sejarah tak pernah luntur. Bahkan hingga saat ini.

Lokomotif Kereta Uap

Siang itu, aku mulai memasuki kawasan Museum Kereta Api Ambarawa. Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit dari kota Semarang. Sebuah tiang besar yang bertuliskan nama museum sudah menyambut para pengunjung. Setelah melewati gerbang pintu masuk, pengunjung bisa langsung melihat loket tiket masuk. Setelah membayar tiket sebesar Rp 10.000,- para pengunjung langsung bisa menikmati beberapa lokomotif kereta. Terdapat beberapa lokomotif kereta uap dan kereta diesel. Lokomotif kereta uap masih bisa dioperasikan untuk mengangkut penumpang. Namun untuk bisa naik rangkaian kereta uap, pengunjung diharuskan untuk memesannya terlebih dahulu di kantor Kereta Api Daops IV Semarang. Oyaa, bahan bakar kereta api uap menggunakan kayu jati yang dibakar. Sehingga harga sewanya relatif mahal. Namun kalian ga perlu khawatir, karena pasti ada kesan tersendiri ketika naik rangkaian kereta uap ini.

Museum Kereta Api Ambarawa
Loket Masuk Museum KA Ambarawa
Berbagai Jenis Lokomotif

Halaman museum sekarang tampak lebih luas dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Dari loket terdapat jalan setapak menuju bangunan museum. Disamping jalan setapak terdapat rerumputan yang boleh digunakan untuk beristirahat. Di sepanjang jalan setapak, kita juga bisa melihat berbagai lokomotif uap. Lokomotif- lokomotif tersebut rata-rata sudah berusia lebih dari 50 tahun. Masih tampak kokoh dan terawat. Di Museum Kereta Api Ambarawa tedapat beberapa jenis dan seri lokomotif. Kebanyakan diproduksi oleh pabrikan Jerman. Para pengunjung diperbolehkan untuk naik ke lokomotif. Tak ayal beberapa pengunjung mengabadikan momen dengan berfoto di lokomotif. Dari lokomotif- lokomotif yang ada, aku belajar tentang berbagai jenis lokomotif yang pernah ada.

Museum Kereta Api Ambarawa
AMBARAWA!!!!

Aku mulai memasuki gedung tua yang tampak masih berdiri dengan kokoh. Itulah bangunan utama Museum Kereta Api Ambarawa. Museum ini terlihat seperti stasiun. Puluhan tahun yang lalu bangunan ini merupakan stasiun kereta. Tertulis dengan jelas jika bangunan ini dibangun pada tahun 1873. Bangsa Eropa memang hebat jika membangun sebuah bangunan, bangunan masih berdiri kokoh meskipun sudah berusia lebih dari 100 tahun. Museum ini memang pernah beberapa kali direnovasi, namun renovasi tetap mempertahankan bentuk aslinya dan tetap menyisakan kesan bangunan kolonial Belanda. Stasiun ini memang sudah tidak digunakan lagi untuk jalur kereta api dan dialihfungsikan menjadi sebuah museum. Namun setiap hari Minggu dan hari libur, ada kereta wisata yang siap mengantarkan pengunjung keliling Ambarawa dan sekitarnya. Cukup dengan membayar tiket sebesar Rp 50.000,-/orang, pengunjung dapat menikmati bentangan alam yang ada di Ambarawa dan sekitarnya. Seperti danau Rawa Pening, gunung Merbabu, gunung Telomoyo dan deretan sawah petani yang nampak menghijau.

Suasana Museum Kereta Api Ambarawa
Suasana Museum Kereta Api Ambarawa
Suasana Museum Kereta Api Ambarawa

Setiap hari Minggu dan dan hari libur, museum Kereta Api Ambarawa selalu dipadati oleh pengunjung. Pengunjung tidak hanya dari Ambarawa, namun juga dari kota Semarang, Solo, Magelang dan Jogja. Kebanyakan pengunjung adalah rombongan keluarga. Tentu saja mereka membawa anak-anak mereka untuk mengunjungi tempat ini. Sebuah hal yang positif, karena para orang tua telah mengajarkan anak-anaknya untuk menyukai sejarah sejak kecil. Khususnya sejarah perkembangan kereta api di Indonesia.

Rangkaian Kereta Uap

Monday, July 27, 2015

Semarak Semarang Night Carnival 2015

"Mereka semua bersiap-siap untuk menjadi bagian dari karnaval malam ini dengan cara mereka masing-masing. Tak sedikitpun kehilangan antusias untuk memeriahkan acara Semarang Night Carnival 2015, meskipun gerimis masih mengguyur kawasan itu"

Hujan gerimis mulai mengguyur kawasan Titik Nol Km kota Semarang. Tepat di depan Kantor Pos Besar kota Semarang. Tempat dimulainya acara Semarang Night Carnival 2015. Puluhan lampion bergelantungan rapi didepan panggung. Warga kota datang berbondong-bondong untuk menonton acara ini. Para tamu undangan juga sudah duduk dibawah tenda yang sudah disiapkan oleh panitia. Para fotografer dan wartawan dari berbagai media telah menempati ruang-ruang yang menurut mereka menjadi tempat yang bagus untuk menghasilkan sebuah foto. Para peserta karnaval telah siap dengan kostum yang mereka pakai. Mereka semua bersiap-siap untuk menjadi bagian dari karnaval malam ini dengan cara mereka masing-masing. Tak sedikitpun kehilangan antusias untuk memeriahkan acara Semarang Night Carnival 2015, meskipun gerimis masih mengguyur kawasan itu.

Peserta Semarang Night Carnival 2015

Semarang Night Carnival (SNC) 2015 merupakan salah satu acara rutin yang digelar dalam rangka memperingati HUT kota Semarang. Pada tahun ini SNC diadakan pada hari Minggu, 3 Mei 2015 dan diikuti oleh 468 peserta. Sesuai dengan ulang tahun kota Semarang. Semua peserta karnaval tampil dengan kostum unik yang terbuat dari bahan yang ramah lingkungan. Kostum-kostum tersebut juga menggambarkan tema Semarang Night Carnival 2015 “Semarak Semarang 2015”. Peserta karnaval yang kebanyakan pelajar, mulai dari pelajar SD hingga SMA, ini dibagi dalam lima defile yang melambangkan lima karakter dari lima etnis yang ada di kota Semarang. Yaitu etnis Jawa, Arab, Belanda, Melayu, dan Tionghoa. Selain itu, karnaval juga dimeriahkan oleh marching band dari Akademi Kepolisian (Akpol), pertunjukkan barongsai dan marching band Batalyon Arhanudse 15 Semarang. Selain itu, ada rombongan peserta dari Solo yang secara khusus datang untuk memeriahkan acara karnaval. Rute karnaval tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Jika tahun lalu rute karnaval melewati jalan Pemuda- Pandanaran- Simpang Lima. Pada gelaran SNC 2015 rute yang dilewati adalah Titik Nol Km kota Semarang (depan Kantor Pos Besar kota Semarang) menuju Kantor Balaikota Semarang di jalan Pemuda.


Tim Marching Band Akademi Kepolisian (AKPOL)

Peserta Semarang Night Carnival 2015
Peserta Semarang Night Carnival 2015

Sekitar pukul 19:00 peserta sudah bersiap-siap untuk memulai karnaval. Acara karnaval dihadiri oleh Bapak Walikota Semarang dan Gubernur Jawa Tengah. Sambutan pertama dilakukan oleh Bapak Hendrar Prihadi selaku Walikota Semarang, kemudian dilanjutkan oleh Bapak Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah. Sambutan ditutup dengan sebuah lagu yang berjudul “Rumah Kita” yang dinyanyikan oleh Bapak Walikota yang diikuti warga masyarakat yang hadir.

Peserta Semarang Night Carnival 2015
Peserta Semarang Night Carnival 2015
Kesenian Naga Doreng dari Yon Arhanudse 15

Tim marching band Akpol mengawali penampilan di malam itu. Mereka membawakan beberapa lagu. Salah satunya lagu “Locked Out of Heaven” yang dipopulerkan oleh Bruno Mars.  Kemudian rombongan defile mulai berjalan sesuai urutannya masing-masing. Ada lima defile, setiap defile diiringi lagu sesuai etnis yang ditampilkan.  Setiap defile diberikan kesempatan tampil beberapa menit didepan para tamu undangan. Dari ratusan peserta, ada putra Gubernur Ganjar Pranowo yang ikut dalam barisan defile etnis melayu. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor Balaikota. Selama perjalanan rombongan karnaval juga disambut oleh warga yang menunggu di sepanjang jalan Pemuda. Banyak warga yang memanfaatkannya untuk berfoto bersama para peserta karnaval. Penampilan terakhir ditutup dengan penampilan tim marching band dari Yon Arhanudse 15 Semarang. Setelah selesai, Bapak Walikota dan Bapak Gubernur Jateng beserta tamu kehormatan menyusul rombongan karnaval menuju Kantor Balaikota dengan menggunakan bus Semarjawi. Beliau naik bus atap terbuka tersebut sambil menyapa warga yang hadir di sepanjang Jalan Pemuda.

Gubernur Jawa Tengah dan Walikota Semarang diatas bus Semarjawi

Di sepanjang jalan Pemuda terjadi kemacetan. Banyak warga yang sangat antusias untuk menonton dan berfoto bareng peserta karnaval. Para peserta karnaval menerima dengan senang hati ketika diajak berfoto. Akhirnya para peserta mulai memasuki kawasan Balaikota. Warga masih bisa memanfaatkan waktu untuk mengambil gambar peserta. Acara karnaval berjalan dengan lancar. Di halaman Balaikota sudah ada panggung hiburan. Ada pembagian hadiah untuk kostum karnaval terbaik. Acara panggung hiburan dimeriahkan dengan band lokal yang membawakan lagu-lagu rock. Para penonton menikmati hentakan musik rock dibawah gerimis yang masih mengguyur halaman Balaikota Semarang.


Wednesday, June 24, 2015

Menikmati Hari di Desa Promasan

"Aku baru pertama kali berada di rumah panggung ini dan ngobrol banyak hal dengan para relawan. Ada semacam perasaan nyaman dan betah ketika berada disini. Suatu saat aku akan kembali lagi ke tempat ini, dengan membawa sesuatu yang bermanfaat untuk adik-adik di desa Promasan."

Malam semakin larut, keramaian di basecamp Mawar masih sangat riuh. Ratusan orang dan puluhan tenda terlihat memadati area camping. Mereka menghabiskan waktu malam minggu mereka dengan ber-camping. Aah, basecamp Mawar memang selalu menjadi primadona untuk camping. Terlihat juga beberapa pendaki yang memulai pendakiannya ke Gunung Ungaran.  Tepat pukul 23:00, aku dan beberapa teman-teman relawan dari beberapa komunitas mulai trekking. Berjalan menyusuri jalur yang sudah ada. Ditemani dinginnya malam dan cahaya lampu senter para pendaki. Kita tidak trekking untuk mendaki Gunung Ungaran. Kita hanya menuju desa Promasan. Sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Ungaran.
Rumah Panggung Desa Promasan

Monday, June 1, 2015

Fun City Explore Jogja

"Catatan perjalanan ini memang diakhiri dengan sebuah tanda baca titik. Namun tidak untuk semua pengalaman dan kesan selama perjalanan ini. Pengalaman, kesan, cerita, tawa, canda dan kehebohan akan selalu kita kenang untuk selamanya."

“Bang, jadi kita mau kemana dulu ni?”, tanyaku pada bang Sulham sambil membuka peta
“Kita ke Tugu Jogja dulu, ntar langsung ke kawasan keraton. Lanjut ke Kotagede.” jawab bang Sulham
“Oke deh bang Sulham, kita ngikut bang Sulham aja :D”,lipat peta lalu masukin ke tas.

Yeaayy...Kita di Keraton!!!!