WHAT'S NEW?
Loading...

Seduhan di Persimpangan Liku

Hujan selesai mengguyur kota Semarang dan meninggalkan genangan-genangan di samping kiri dan kanan jalanan. Desember menyisakan beberapa hari saja menuju pergantian tahun. Selesaikan tahun dengan berbagai banyak cerita dan rasa. Tentang perjumpaan dan salam sampai jumpa lagi. Lembar berlembar menjadi sebuah antologi refleksi perjalanan sebagai manusia dan perjalanannya. Perjalananku.
Perjalanan yang selalu dimulai dengan satu langkah, yang kemudian dilanjutkan dengan langkah-langkah selanjutnya. Setiap langkah yang selalu memiliki cerita. Setiap langkah yang selalu berkesan. Setiap langkah yang selalu tertinggal di sebuah tempat. Langkah-langkah ini akan selalu terpatri dalam sebuah kenangan.

Kembali, malam ini yang disebut kenangan terukir di ruang yang tak seberapa luas ini. Tempat pengab yang makin sesak oleh hawa manusia tak berotak manusia. Bagaimana tidak? Tak peduli kesendirian yang diderita, tak peduli beban yang ada, dan tak peduli rasa yang merasuk menghambat jiwa, semua tertawa. Disini, kamar kosan tanpa AC, begitu mereka menyebutnya dan ditemani seduhan aneka kopi daerah, aku kamu, dia, mereka, kita, hanya satu kata, menggila. Ruang 3x3m yang menyisakan tak seberapa luas tak lagi leluasa untuk menempatkan diri dengan posisi sempurna. Nyaman, mungkin itu yang dirasakan. Teman menjadi lawan, dan lawan kembali merangkul sebagai kawan ketika kegilaan tak terelakkan. Lupa, meluapkan segala rasa di luar sana yang mungkin menyesakkan. Ah kalian, jangan pernah bosan lanjutkan kegilaan.

Gila, disaat semua mimpi menjauh dariku, aku bisa tertawa disini, aku lelah, tapi aku lepas. Ketika aku bersama di ruang sempit ini, aku lupa akan keadaan diluar sana, entah rasa itu muncul begitu saja. Aku teringat kembali akan perjuangan hidupku yang membisu, ketika aku berjalan sendiri tanpa kenangan. Sudah lupakan sejenak drama kehidupan ini, liku akan terus ada di persimpangan, aku akan terus maju melangkah dari lorong waktu yang ada, entah apa yang akan menyongsongku di depan, aku siap atau tak siap aku akan tetap melangkah, mengarungi apa yang ada didepanku.

Kopi yang aku seduh ternyata mampu menemaniku menggumamkan beberapa lagu. Bahkan akupun meneriakkan beberapa reff lagu yang mau tidak mau aku terhanyut dalam setiap makna yang semestinya itu hanyalah penggalan biasa saja. Malam dimana kali ini aku menanggalkan rutinitas akan mengingat pekerjaan sedari pagi hingga sore ini. Ataupun resah akan bagaimana mempersiapkan pekerjaan esok hari ini. Malam ini aku hanya ingin bermain melankoli. Bermelankoli dengan cerita. Merenung bersama yang ada di kamar ini. Semoga penat ini benar-benar menguap dan pergi jauh ribuan kilometer dari sini. Jutaan cahaya dari ruangan ini.

Pekatnya kopi Solong tak hanya memabukkan, namun sukses menghanyutkan segala rasa yang ada. Lalu, semua terasa lupa akan siapa dirinya. Entah sampai kapan akan selalu seperti ini. Ku yakin semua kan ada masanya. Masa dimana semua kan pergi, masa dimana semua kan menjauh. Namun satu asa yang ingin selalu ada, kenangan. Kenangan yang tak mungkin dan tak ingin terhapus dalam benak manusia yang tlah singgah. Tawa, teriak, sedih, juga tangis pernah terjadi disini. Tuhan, jangan pernah hapus rasa dan kenangan yang pernah ada. Tak pernah tahu kapan dan akankah kembali terulang. Selama deretan toples penuh akan bubuk menghanyutkan, selama itu pula cerita akan tercipta. Semoga wangi aroma kopi selalu ada dan mengelilingi tempat para durjana ini melepas rasa.

Sungguh tak kuasa membayangkan ketika tiba waktunya kelak. Waktu dimana hanya kenangan yang tersisa. Tak lagi ramai, tak lagi sesak, dan tak ada aroma wangi kopi yang membaur dengan asap tembakau yang dihembuskan. Sedih, itu pasti. Satu liku yang kan terasa seperti teriris sembilu. Namun apa dayaku ketika semua beku? Ngilu yang tak mungkin palsu. Ingin ku teriakkan,“Hei kalian! Tetaplah seperti ini. Jangan biarkan kisah ini berakhir begitu saja. Tak inginkah kalian terus seperti ini? Menyeduh kopi walau hanya dengan air panas dispenser, menyegarkan tubuh penuh peluh kalian walau hanya dari seember air, merebahkan kepala kalian walau sekejap dalam keras dan dinginnya lantai dan tempat yang tak seberapa luas untuk meluruskan tubuh kalian, dan berceloteh bebas tentang hal bodoh sekalipun tanpa ada yang membatasi apapun yang keluar dari mulut kalian? Ya, kuyakin liku yang tak akan pernah beku sekalipun oleh waktu.

Waktu terus berlari, berganti, dan menari, seperti aku disini, di malam yang penuh arti, dimana alur cerita tak pernah ada tapi kita tetap bersama, dimana nafas menghela dan kita berkelana menuju alam nyata yang tak akan pernah terulang. Aku dan kalian beda, tapi aku dan kalian bisa melebur merebah bersama, meski hanya dengan seduhan kopi dari aroma khas pulau – pulau Indonesia. Kalian adalah asa, dimana aku berharap asa ini tak menjadi basa, Basa yang tak mungkin ada rasa. Kita disini bercerita, dan kelak kita akan mengulas kembali. Semuanya. 

Semarang, 29 Desember 2014,

0 komentar:

Posting Komentar