WHAT'S NEW?
Loading...

Menikmati Hari di Desa Promasan

"Aku baru pertama kali berada di rumah panggung ini dan ngobrol banyak hal dengan para relawan. Ada semacam perasaan nyaman dan betah ketika berada disini. Suatu saat aku akan kembali lagi ke tempat ini, dengan membawa sesuatu yang bermanfaat untuk adik-adik di desa Promasan."

Malam semakin larut, keramaian di basecamp Mawar masih sangat riuh. Ratusan orang dan puluhan tenda terlihat memadati area camping. Mereka menghabiskan waktu malam minggu mereka dengan ber-camping. Aah, basecamp Mawar memang selalu menjadi primadona untuk camping. Terlihat juga beberapa pendaki yang memulai pendakiannya ke Gunung Ungaran.  Tepat pukul 23:00, aku dan beberapa teman-teman relawan dari beberapa komunitas mulai trekking. Berjalan menyusuri jalur yang sudah ada. Ditemani dinginnya malam dan cahaya lampu senter para pendaki. Kita tidak trekking untuk mendaki Gunung Ungaran. Kita hanya menuju desa Promasan. Sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Ungaran.
Rumah Panggung Desa Promasan
Tepat dinihari, kita sudah memasuki area desa. Beberapa lampu dirumah masih terlihat menyala. Masih terdengar sayup-sayup suara para pendaki yang kebetulan juga camping disana. Kita langsung menuju sebuah rumah panggung. Rumah yang terlihat cukup besar dan sangat nyaman. Aku mulai meletakkan ranselku yang tak terlalu berat di lantai rumah yang terbuat dari bambu. Beberapa teman yang lain memilih mendirikan tenda di tanah lapang yang ada diseberang rumah panggung. Langit terlihat tak terlalu cerah karena tertutup oleh awan. Bintang juga sedikit yang nampak di langit. Aah, sepertinya fotonya ga bakal bagus nie, gumamku. Aku langsung menuju tanah lapang yang ada di seberang rumah panggung. Setelah hampir 30 menit aku hunting foto, aku memutuskan untuk kembali ke rumah panggung untuk beristirahat.
Rumah Panggung Dimalam Hari
Rumah-Rumah Warga Desa Promasan
Mentari pagi dan hawa dingin mulai menyapaku. Pagi ini cuaca telihat sangat cerah. Ketika keluar dari rumah panggung, hamparan kebun teh langsung menyambut tatapanku. Pemandangan yang mempesona. Desa Promasan dikelilingi oleh perkebunan teh. Tak ketinggalan ada puncak Gunung Ungaran yang terlihat gagah dari desa. Aku dan beberapa teman menikmati pemandangan dengan berjalan-jalan keliling kebun teh. Disana juga terdapat sebuah goa Jepang. Tak terlalu panjang, namun sangat unik dan sebaiknya tidak dilewatkan ketika berkunjung kesini. Terlihat beberapa komunitas motortrail yang melewati desa Promasan. Jalur desa didominasi jalan berbatuan yang berkelok seolah-olah menjadi jalur favorit bagi mereka.  Meskipun cara mengendarai mereka sangat membahayakan bagi warga dan para pendatang lainnya.
Rumah Panggung dilihat dari kejauhan
Proses Belajar Rumah Panggung
Setelah berjalan-jalan menikmati perkebunan teh, kita sarapan bareng. Suasana yang bersahabat menambah nikmatnya sarapan pagi ini. Disela-sela ketika sarapan, adik-adik desa Promasan yang mulai berdatangan di rumah panggung. Kedatangan adik-adik ini adalah untuk belajar bersama teman-teman relawan dari komunitas 1000 Guru Semarang dan Pendaki Gunung Indonesia (PGI) Korwil Semarang. Kegiatan ini rutin diadakan setiap minggu. Selain itu, ada beberapa komunitas yang membantu kegiatan-kegiatan yang ada di Desa Promasan. Proses belajar mengajar berlangsung sangat mengasyikkan, karena adik-adik ini diajari keterampilan membuat celengan dari botol air minum bekas.
Relawan yang membantu kegiatan desa
“Mas, itu apa?” tanya Nanda yang menunjuk kamera yang sedang aku bawa.
“Ini namanya kamera, digunakan untuk memotret atau merekam sebuah kejadian”, jawabku
“Mas, aku diajari cara pakai kamera!!”,pinta Nanda kepadaku
“Oke, tapi coba dipegang dengan benar dulu yaa”. Jawabku singkat
Adek-Adek Desa Promasan dan Para Relawan
Nanda merupakan salah satu anak di desa Promasan yang sangat aktif mengikuti materi pelajaran yang diajarkan oleh kakak relawan. Disela-sela pembuatan celengan, siswa yang telah duduk di kelas 2 SD ini meminta kepadaku untuk diajari memotret menggunakan kamera. Aku mengajarinya dengan senang hati. Mulai dari membidik objek, bagaimana mendapatkan fokus, hingga memotret setiap momen yang terjadi.
Motortrail yang melintas di depan Rumah Singgah
Tak terasa hari mulai beranjak siang. Kami bersiap-siap untuk meninggalkan desa Promasan menuju basecamp Mawar. Perjalanan ke Desa Promasan memang terasa sangat singkat namun tetap berkesan. Banyak hal yang bisa aku temui disini. Sejenak meninggalkan keriuhan kota. Menikmati segarnya udara pegunungan. Kearifan lokal masyarakat desa yang tetap menjaga kelestarian dan keasrian lingkungan mereka. Keramahan warga desa yang menyambut hangat setiap pendatang yang ingin menikmati desa. Aku baru pertama kali berada di rumah panggung ini dan ngobrol banyak hal dengan para relawan. Ada semacam perasaan nyaman dan betah ketika berada disini. Suatu saat aku akan kembali lagi ke tempat ini, dengan membawa sesuatu yang bermanfaat untuk adik-adik di desa Promasan.

Desa Promasan, 30-31 Mei 2015

0 komentar:

Posting Komentar