Wednesday, August 12, 2015

Seni Itu Bernama Menunggu

"Aku sering menyebutnya dengan seni menunggu. Kenapa aku sebut sebuah seni, karena dengan menunggu bisa menghasilkan sebuah foto yang memiliki jiwa, rasa dan cerita. Sebuah seni sebaiknya memiliki jiwa, rasa dan cerita khan"

Banyak orang bilang bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan dan tidak ada manfaatnya. Menunggu adalah pekerjaan yang penuh dengan ketidakpastian. Apalagi kalau menunggu gebetan yang tak kunjung memberikan sebuah jawaban, eehh. Nah lho, yang lagi pada nunggu, dibuat have fun aja yaa. Artikel kali ini akan bahas tentang me-nung-gu, yaap menunggu. Tapi menunggu disini ga ada kaitannya dengan asmara, cinta dan perasaan. Jadi jangan baper ketika baca artikel ini yaa. Menunggu yang kita bahas disini adalah menunggu momen yang tepat untuk direkam atau difoto.

Endah n Rhesa di Loenpia Jazz 2015
Endah n Rhesa di Loenpia Jazz 2015
Tohpati di Loenpia Jazz 2015
Menunggu adalah sebuah fase yang biasa dilewati dalam fotografi, khususnya fotografi dengan objek yang bergerak. Aku sering menyebutnya dengan seni menunggu. Kenapa aku sebut sebuah seni, karena dengan menunggu bisa menghasilkan sebuah foto yang memiliki jiwa, rasa dan cerita. Sebuah seni sebaiknya memiliki jiwa, rasa dan cerita khan. Fotografi human interest biasanya mengharuskan fotografer untuk menunggu. Menunggu untuk mendapatkan momen terbaik dan ekspresi yang beda pada objek. Ekspresi yang dimaksud disini adalah ekspresi alami atau natural yang dikeluarkan oleh objek. Misalnya ekspresi menangis dan ekspresi tertawa. Dengan menunggu, seorang fotografer bisa memberikan jiwa, rasa dan cerita dalam fotonya. Selain itu, selama menunggu kita juga bisa mengamati aktivitas- aktivitas yang dilakukan objek. Dari aktivitas tersebut akan membentuk sebuah pola yang nantinya bisa kita jadikan panduan ketika memotret. Bagiku ada kesan tersendiri ketika kita menunggu, kita akan mengamati setiap apa yang terjadi pada objek kemudian menangkap sebuah momen terbaik disaat yang tepat.

Gubernur Jawa Tengah, Bp. Ganjar Pranowo
Gubernur Jawa Tengah, Bp. Ganjar Pranowo
Nia Ramadhani
Nia Ramadhani
Beberapa kali aku telah mempraktekkan seni menunggu ini. Beberapa kali berhasil, tapi lebih banyak gagalnya, hahhahahaa. Aku bakal share beberapa hasil jepretanku dari kamera teman *belum punya senjata sendiri*. Kebanyakan foto-foto ini diambil ketika ada event, festival, atau memang sedang hunting foto. Seperti foto penyanyi Endah n Rhesa dan gitaris Tohpati di acara Loenpia Jazz 2015. Ada foto Nia Ramadhani dan Gubernur Jateng Bapak Ganjar Pranowo di sebuah acara jalan santai. Kemudian ada seorang pejalan kaki yang sedang melewati sebuah lukisan batik di sebuah tembok. Ada juga foto seorang taruna Akpol yang sedang memimpin rekan-rekannya dalam bermain marching band diacara Semarang Night Carnival 2015. Tak ketinggalan ada foto keponakan, namanya Aqila yang sedang minta es krim ke Maura. Ekspresi Aqila yang merengek memberikan kesan kuat pada foto itu.

Di sebuah Gang Kampung Batik di kota Pekalongan
Pemimpin Marching Band Akpol
Foto- foto yang ada diartikel ini semuanya melalui proses menunggu. Menunggu objek mengeluarkan ekspresi yang beda dan natural. Menunggu terkadang membosankan. Namun dengan menunggu, foto yang dihasilkan bisa lebih memiliki jiwa, rasa dan cerita. Jangan pernah bosen untuk menunggu. Fokuskan apa yang kau lihat, tinggal “klik” ketika momen yang tepat itu sedang berlangsung.

Maura dan Aqila
Maura dan Aqila

Wednesday, August 5, 2015

Belajar Sejarah di Museum Kereta Api Ambarawa

“Kita perlu belajar sejarah, supaya hari ini kita tahu apa yang terjadi di masa lampau. Dan kemudian kita memperbaikinya di masa yang akan datang”.

Begitulah kira-kira Pak Sugeng bercerita tentang perlunya kita belajar sejarah. Beliau merupakan guru mapel sejarah ketika kelas X (kelas I) SMA. Selepas kelas X, aku pun tak pernah mendapatkan mapel sejarah lagi, karena aku masuk kedalam jurusan Ilmu Alam (IA). Sejak SMP aku sudah menyukai mapel sejarah. Walaupun ketika SMA aku masuk jurusan Ilmu Alam (IA), ketertarikanku terhadap sejarah tak pernah luntur. Bahkan hingga saat ini.

Lokomotif Kereta Uap

Siang itu, aku mulai memasuki kawasan Museum Kereta Api Ambarawa. Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit dari kota Semarang. Sebuah tiang besar yang bertuliskan nama museum sudah menyambut para pengunjung. Setelah melewati gerbang pintu masuk, pengunjung bisa langsung melihat loket tiket masuk. Setelah membayar tiket sebesar Rp 10.000,- para pengunjung langsung bisa menikmati beberapa lokomotif kereta. Terdapat beberapa lokomotif kereta uap dan kereta diesel. Lokomotif kereta uap masih bisa dioperasikan untuk mengangkut penumpang. Namun untuk bisa naik rangkaian kereta uap, pengunjung diharuskan untuk memesannya terlebih dahulu di kantor Kereta Api Daops IV Semarang. Oyaa, bahan bakar kereta api uap menggunakan kayu jati yang dibakar. Sehingga harga sewanya relatif mahal. Namun kalian ga perlu khawatir, karena pasti ada kesan tersendiri ketika naik rangkaian kereta uap ini.

Museum Kereta Api Ambarawa
Loket Masuk Museum KA Ambarawa
Berbagai Jenis Lokomotif

Halaman museum sekarang tampak lebih luas dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Dari loket terdapat jalan setapak menuju bangunan museum. Disamping jalan setapak terdapat rerumputan yang boleh digunakan untuk beristirahat. Di sepanjang jalan setapak, kita juga bisa melihat berbagai lokomotif uap. Lokomotif- lokomotif tersebut rata-rata sudah berusia lebih dari 50 tahun. Masih tampak kokoh dan terawat. Di Museum Kereta Api Ambarawa tedapat beberapa jenis dan seri lokomotif. Kebanyakan diproduksi oleh pabrikan Jerman. Para pengunjung diperbolehkan untuk naik ke lokomotif. Tak ayal beberapa pengunjung mengabadikan momen dengan berfoto di lokomotif. Dari lokomotif- lokomotif yang ada, aku belajar tentang berbagai jenis lokomotif yang pernah ada.

Museum Kereta Api Ambarawa
AMBARAWA!!!!

Aku mulai memasuki gedung tua yang tampak masih berdiri dengan kokoh. Itulah bangunan utama Museum Kereta Api Ambarawa. Museum ini terlihat seperti stasiun. Puluhan tahun yang lalu bangunan ini merupakan stasiun kereta. Tertulis dengan jelas jika bangunan ini dibangun pada tahun 1873. Bangsa Eropa memang hebat jika membangun sebuah bangunan, bangunan masih berdiri kokoh meskipun sudah berusia lebih dari 100 tahun. Museum ini memang pernah beberapa kali direnovasi, namun renovasi tetap mempertahankan bentuk aslinya dan tetap menyisakan kesan bangunan kolonial Belanda. Stasiun ini memang sudah tidak digunakan lagi untuk jalur kereta api dan dialihfungsikan menjadi sebuah museum. Namun setiap hari Minggu dan hari libur, ada kereta wisata yang siap mengantarkan pengunjung keliling Ambarawa dan sekitarnya. Cukup dengan membayar tiket sebesar Rp 50.000,-/orang, pengunjung dapat menikmati bentangan alam yang ada di Ambarawa dan sekitarnya. Seperti danau Rawa Pening, gunung Merbabu, gunung Telomoyo dan deretan sawah petani yang nampak menghijau.

Suasana Museum Kereta Api Ambarawa
Suasana Museum Kereta Api Ambarawa
Suasana Museum Kereta Api Ambarawa

Setiap hari Minggu dan dan hari libur, museum Kereta Api Ambarawa selalu dipadati oleh pengunjung. Pengunjung tidak hanya dari Ambarawa, namun juga dari kota Semarang, Solo, Magelang dan Jogja. Kebanyakan pengunjung adalah rombongan keluarga. Tentu saja mereka membawa anak-anak mereka untuk mengunjungi tempat ini. Sebuah hal yang positif, karena para orang tua telah mengajarkan anak-anaknya untuk menyukai sejarah sejak kecil. Khususnya sejarah perkembangan kereta api di Indonesia.

Rangkaian Kereta Uap