Monday, December 26, 2016

Kalender Event Wisata Jawa Tengah 2017

Halo bro, tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2016. Tahun 2017 sudah di depan mata. Terima kasih banyak bagi kalian yang selalu berkunjung di blog ini selama satu tahun ini. Kunjungan kalian itu membuatku lebih semangat untuk berkarya. Banyak tempat, cerita dan kenangan yang didokumentasikan dalam satu tahun ini. Namun, artikel kali ini tidak akan bercerita tentang perjalananku. Kali ini aku bakal berbagi sebuah informasi penting bagi kalian. Khususnya bagi kalian yang akan berkunjung ke Provinsi Jawa Tengah.

Visit Jawa Tengah

Informasi yang akan aku bagikan adalah informasi tentang event-event yang akan digelar di kota dan kabupaten Jawa Tengah pada tahun 2017. Masing-masing event sudah memiliki jadwal dan didokumentasikan dalam bentuk e-book Calender Event Jawa Tengah 2017 yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Tengah. Event dari bulan Januari 2017 hingga bulan Desember 2017. Mulai dari event standard internasional seperti Borobudur Marathon, Dieng Culture Festival, dan Hari Raya Waisak, hingga event lokal, seperti sedekah bumi yang diadakan di beberapa daerah.
Pada tahun 2017, Borobudur Marathon akan diadakan pada tanggal 26 November 2017 di kawasan Candi Borobudur. Borobudur Marathon bertujuan untuk menggairahkan sport tourism. Rute lari Borobudur Marathon yaitu mengelilingi desa-desa yang ada di sekitar kawasan Candi Borobudur. Peserta tidak hanya pelari dalam negeri, namun juga pelari mancanegara. Borobudur Marathon 2016 diikuti oleh lebih dari 20.000 pelari. Ada lima kategori yang diperlombakan di Borobudur Marathon 2016, yaitu ultra marathon (120Km), full marathon (42 Km), half marathon (21 Km), 10 Km, dan 3 Km. Borobudur Marathon 2016 dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Bapak Imam Nahrawi.

Borobudur Marathon 2016 (sumber: Merdeka.com)

Event lain yang menjadi andalan Jawa Tengah untuk menarik minat wisatawan adalah Dieng Culture Festival. Dieng Culture Festival 2017 akan diadakan pada bulan Agustus. Belum ada pemberitahuan untuk tanggal pelaksanaannya. Dieng Culture Festival 2016 dikunjungi oleh hampir 100.000 wisatawan. Baik wisatawan dalam negeri, maupun wisatawan luar negeri. Acara Dieng Culture Festival 2016 dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo. Dieng Culture Festival merupakan acara yang diadakan di dataran tinggi Dieng dengan acara inti pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng. Pusat pemotongan rambut gimbal diadakan di pelataran Candi Arjuno. Selain itu, acara juga akan dimeriakan dengan acara jazz di atas awan, pentas kesenian, berburu sunrise, pesta lampion dan pesta kembang api.
Baca juga: Menikmati Kabut di Candi Cetho

Dieng Culture Festival (sumber: hipwee.com)

Selain event Borobudur Marathon, kawasan Candi Borobudur juga menjadi pusat perayaan Hari Raya Waisak secara nasional. Pada tahun 2017, Hari Raya Waisak jatuh pada tanggal 11 Mei 2017. Hari Raya Waisak merupakan hari raya umat Buddha untuk memperingati hari lahir Sang Buddha, Sidharta Gautama. Prosesi Hari Raya Waisak dilaksanakan di Candi Mendut dan Candi Borobudur dan diikuti oleh biksu dan umat Buddha dari berbagai negara. Puncak perayaan Hari Waisak adalah ritual pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali. Event Hari Raya Waisak ditutup dengan pelepasan lampion. Hari Raya Waisak merupakan acara keagamaan. Oleh sebab itu, pengunjung atau wisatawan sangat dibatasi jumlahnya. Pengunjung harus menjaga ketenangan, ketertiban, memakai pakaian yang sopan, dan menghormati umat Buddha yang sedang melakukan ibadah.

Acara Borobudur Marathon, Dieng Culture Festival, dan Hari Raya Waisak menjadi event andalan untuk menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Provinsi Jawa Tengah. Selain event-event tersebut, ada beberapa event di Jawa Tengah yang sebaiknya tidak dilewatkan begitu saja. Beberapa event tersebut adalah Festival Perahu Naga (Cilacap, 26 Maret 2017), Grebeg Gethuk (Magelang, 9 April 2017), Semarang Night Carnival ( 6 Mei 2017), Loenpia Jazz (Semarang, 27 Mei 2017), Pemotongan Lopis Raksasa (kota Pekalongan, 2 Juli 2017), Borobudur International Festival (Candi Borobudur, 28-30 Juli 2017), Solo Batik Carnival (Solo, Juli 2017), Festival Payung Indonesia (Solo, 15-17 September 2017), Festival Kota Lama (Semarang, 24 September 2017), Sail Karimunjawa (September 2017), Blora Fashion Carnival (Blora, 2 Oktober 2017), Pekan Batik International (Kota Pekalongan, Oktober 2017), Festival Barong Nusantara (Kab. Blora, November 2017) dan Grebeg Maulud (Solo, 1 Desember 2017).
Baca juga: Semarang Night Carnival 2016: Fantasi Warak Ngendog

Semarang Night Carnival 2016

Masih banyak lagi event yang bakal digelar oleh kota dan kabupaten yang ada di Jawa Tengah. event-event ini bertujuan untuk mengenalkan potensi-potensi wisata yang ada di kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Tentu saja event-event ini juga bertujuan untuk melestarikan kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Jawa Tengah. Jadi tunggu apalagi. Ayo kita kunjungi Jawa Tengah.
Kalender event Jawa Tengah 2017 bisa diunduh disini atau di link ini

Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah
Alamat : Jalan Pemuda No 175, Kota Semarang
No Telp. : (024) 3584081
Website : www.central-java-tourism.com
Instagram : @visitjawatengah
Facebook : Visit Jawa Tengah


Wednesday, December 14, 2016

Blusukan di Segitiga Emas Kota Semarang (Bagian 2- Habis)

Setelah mendengarkan berbagai penjelasan dari mas Dimas tentang Jalan Pemuda atau Jalan Bodjong, kami diajak untuk menyusuri kawasan Segitiga Emas yang kedua, yaitu Jalan Pandanaran. Jalan Pandaran dikenal sebagai kawasan pusat oleh-oleh Kota Semararang. Berbagai oleh-oleh khas Kota Semarang bisa ditemukan disini, mulai dari Bandeng Juwana, wingko babat, roti gandjel rel, lumpia,  hingga kaos Semarangan. Keberadaan kami di Jalan Pandanaran bukan untuk melihat atau membeli oleh-oleh yaa, namun untuk melihat kehidupan kaum urban yang ada di Jalan Pandanaran.

Belakang kita Gedung Lawang Sewu (sumber: @manicstreetwalkers)

Jalan Pandanaran
Lokasi pertama yang kita kunjungi adalah Rumah Susun (Rusun) Pekunden. Menurut informasi, rumah susun ini merupakan rusun pertama yang ada di Kota Semarang. Dibangun sekitar tahun 1980. Rusun ditempati oleh ratusan keluarga dan memiliki fasilitas seadanya. Rusun ini terletak di tengah kota dan berada tak jauh dari Balaikota Semarang. Mas Dimas juga mengajak kami untuk melihat salah satu rumah makan yang ada di Rusun Pekunden. Rumah makan tersebut bernama Rumah Makan Bang Jack. Bahkan  Bang Jack sendiri yang menyambut kedatangan kami.

Jika kalian pernah melintas di Jalan Pandanaran, kalian akan melihat sebuah apotek yang terletak di samping toko oleh-oleh yang terkenal di Kota Semarang. Apotek tersebut bernama Apotek Sputnik. Nama yang sangat asing dalam dunia farmasi dan apotek. Kata Sputnik merupakan nama satelit buatan Uni Soviet yang pertama diorbitkan. Di atas bangunan juga terdapat simbol-simbol antariksa. Namun, bangunan Apotek Sputnik telah digunakan untuk perluasan toko oleh-oleh tersebut.

Daerah Pekunden
Apotek Sputnik

Selain di sepanjang jalan, toko oleh-oleh juga bisa ditemukan di dalam gang di sekitar Jalan Pandanaran. Seperti gang-gang di daerah Pekunden. Di gang ini kami melihat beberapa usaha rumahan yang memproduksi wingko babat, lumpia dan oleh-oleh lainnya. Bahkan kami diajak melihat warung kopi tradisional Pekunden. Konsep warungnya sangat sederhana. Warung kopi juga berfungsi sebagai warung kelontong. Namun, terdapat beberapa meja dan kursi dibawah pohon yang rindang yang digunakan digunakan untuk menikmati secangkir kopi.
Di jalan Pandanaran terdapat Taman Pandanaran. Di Taman Pandanaran terdapat patung Warak Ngendog. Warak Ngendog merupakan hewan mitologi sebagai bentuk akulturasi budaya atau etnis yang ada di Kota Semarang. Yaitu etnis Tionghoa, Arab, dan Jawa. Selain itu, setiap menjelang bulan Ramadhan rutin diadakan festival Warak Ngendog yang dihadiri oleh Walikota Semarang.

Taman Pandanaran

Blusukan  etape 2 kawasan Jalan Pandanaran berakhir di Masjid Baiturrahman. Selain masjid, di Masjid Baiturrahman juga ada SD Hj. Isriati. Sekolah ini didirikan oleh Hj. Isriati. Beliau juga merupakan penggagas 10 Program Pokok PKK. Aku baru tahu kalo ternyata 10 Program Pokok PKK digagas oleh beliau. Oyaa, masjid Baiturrahman terletak tidak jauh dari Lapangan Pancasila atau yang lebih dikenal dengan nama Lapangan Simpang Lima. Presiden RI Pertama, Bung Karno pernah berpidato di Lapangan Pancasila setelah masa kemerdekaan. Kini, lapangan ini menjadi pusat kegiatan warga kota Semarang.

Jalan Gajahmada
Setelah blusukan  di jalan Pandanaran, saatnya kami melanjutkan blusukan  kami menuju Jalan Gajahmada. Sampai di Jalan Gajahmada hari sudah beranjak petang. Sehingga kami harus mempercepat langkah kaki kami. Seperti Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran, trotoar di Jalan Gajah Mada sangat layak untuk dilewati oleh pejalan kaki. Mesti berhati-hati kalau ada kendaraan yang akan masuk keluar area pertokoan di Jalan Gajah Mada. Tapi kami ga menyusuri trotoar Jalan Gajah Mada, karena kami akan blusukan  ke perkampungan yang ada di sekitar Jalan Gajah Mada.
Bangunan pertama yang kami lihat adalah Restoran Semarang. Kami hanya melihatnya dari luar. Ga masuk ke dalam. Restoran Semarang menyajikan kuliner khas Semarang dan kuliner peranakan Semarang. Jam buka restoran masih menganut manajemen Jawa kuno, yaitu restoran akan tutup pada siang hari untuk memberi waktu istirahat siang untuk semua karyawan dan akan buka lagi pada malam hari. Selama di Semarang, aku belum pernah makan di Restoran Semarang. Mungkin aja ada yang mau mengajak makan di sana, dengan senang hati akan aku iyakan, hikks

Rumah Tuan Klein (suber: @dimassuryoh)

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju perkampungan yang ada di salah satu hotel yang ada di Kota Semarang. Kami diajak untuk keluar masuk gang-gang sempit yang ada. Kemudian mengamati setiap rumah-rumah kuno yang masih bertahan. Hingga akhirnya perjalanan kita terhenti di sebuh rumah besar yang sudah tak berpenghuni. Mas Dimas menjelaskan bahwa rumah besar ini merupakan rumah tuan tanah dari Belanda yang bernama Tuan Klein. Mas Dimas menambahkan bahwa luas tanahnya dibatasi gapura yang ada di ujung gang. Jaraknya rumah dengan gapura ada sekitar 300 meter. Perkampungan di sekitar rumah Tuan Klein bernama Kampung Kelengan, yang berasal dari nama Tuan Klein. Kalian bisa bayangkan betapa luas tanah milik Tuan Klein. Kalau pengen tahu, kalian bisa melihatnya di Jalan Kelengan (sekitar Jalan Depok) dan berjalan kaki menuju rumah Tuan Klein. Sebetulnya ada beberapa perkampungan di Kota Semarang  yang dulunya milik tuan tanah, baik dari Hindia Belanda maupun dari etnis Tionghoa.

Belakang kita adalah gang kampung Kelengan (sumber: @manicstreetwalkers)

Perjalanan blusukan  kawasan Segitiga Emas Kota Semarang berakhir di kampung Kelengan. Perjalanan yang singkat, namun kaya akan pengetahuan baru. Acara Walking Tour Segitiga Emas secara tidak langsung telah mengajarkan kepada kami, khususnya peserta dari kota Semarang, untuk lebih paham tentang sejarah Kota Semarang. Seringkali kita melupakan dan tidak paham dengan sejarah tentang kota kita sendiri. Ayo kita pelajari dan pahami tentang sejarah kota kita, dan kemudian kita ceritakan sejarah itu kepada orang-orang di sekitar kita. Agar kita tidak kehilangan identitas tentang kota kita.

Saturday, December 10, 2016

Blusukan di Segitiga Emas Kota Semarang (Bagian 1)

Dulu aku pernah berjalan kaki atau lari mengelilingi kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Berjalan kaki melewati jalan-jalan besarnya. Bukan blusukan setiap sudut yang ada di kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Sejak dulu aku penasaran dan ingin blusukan di perkampungan-perkampungan yang ada di kawasan Segitiga Emas. Namun, belum ada kesempatan dan teman jalan. Hingga akhirnya teman-teman dari Bersukaria Tour mengadakan acara walking tour menyusuri kawasan Segitiga Emas. Acara tersebut diberi nama Segitiga Emas Walking Tour. Aku diijinkan oleh mas Dimas selaku guide dari Bersukaria Tour untuk mengikuti acara ini, meskipun kuota peserta sudah penuh. Makasih teman-teman Bersukaria Tour.

Peserta Segitiga Emas Walking Tour (photo by bersukaria tour)

Kawasan Segitiga Emas merupakan sebutan untuk kawasan yang meliputi Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran dan Jalan Gajahmada. Kawasan Segitiga Emas terkenal sebagai pusat pemerintahan kota dan pusat bisnis. Selain itu, kawasan ini memiliki ciri transisi antara kota lama ke kota baru Semarang. Karakter bangunan lama dan baru berdiri berdampingan, perkampungan dan rumah-rumah tradisional milik warga masih bertahan bertahan hingga sekarang di tengah-tengah pembangunan dan modernisasi.

Segitiga Emas Walking Tour akan menyusuri wilayah yang kaya akan peninggalan budaya, aristektur, tempat makan yang lucu dan bernuasa lokal. Jalan-jalan, makan-makan dan menambah wawasan.acara ini diikuti oleh sekitar 20 orang peserta. Peserta tidak hanya berasal dari kota Semarang saja, namun juga dari luar kota. Seperti dari Jogja, Surabaya, dan Makassar. Sebagian dari mereka juga akan mengikuti acara Urban Social Forum 2016 yang diadakan di SMA Negeri 1 Semarang pada 2-4 Desember 2016.

Jalan Pemuda
Pukul 14:15 peserta sudah berkumpul di depan Mall Paragon sebagai tempat meeting point. Penelusuran kita akan dipandu oleh mas Dimas dari Bersukaria Tour. Mas Dimas juga menjelaskan bahwa sebelum Mall Paragon ada terdapat sebuah bangunan yang bernama Societet Harmony. Bangunan tersebut merupakan tempat berkumpulnya orang-orang borjuis pada jaman Belanda. Selain itu, gedung tersebut juga pernah digunakan untuk pertunjukkan kesenian di kota Semarang. Namun, bangunan tersebut telah hilang dan berganti menjadi sebuah hotel dan mall.

Kampung Sekayu Semarang

Saatnya kita blusukan..!!!
Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Kampung Sekayu. Kampung Sekayu merupakan salah satu kampung tertua di Kota Semarang. Di kampung ini masih banyak rumah yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Kami bisa menemukan rumah dengan desain rumah joglo dan rumah limas. Selain rumah-rumah yang masih asli, di Kampung Sekayu terdapat sebuah masjid yang konon merupakan salah satu masjid tertua di Kota Semarang. Masa pembangunannya hampir sama dengan Masjid Agung Demak. Meskipun Masjid Sekayu telah kehilangan bentuk aslinya, namun kita masih bisa melihat empat pilar yang menjadi soko guru masjid ini. Empat pilar ini menyerupai empat pilar yang ada di Masjid Agung Demak. Bentuk atap menara juga terlihat sangat unik.

Masjid Taqwa Sekayu
Empat pilar Masjid Sekayu

Selama blusukan, kami juga berinteraksi dengan warga kampung. Banyak informasi baru yang kami dapatkan. Di tengah perjalanan, kami menikmati wedang tahu yang kebetulan sedang lewat. Wedang tahu itu terdiri dari tahu halus yang diberi wedang ronde. Rasanya segar dan tahunya terasa sangat halus di mulut. Meskipun sudah sering melihat penjual wedang tahu, namun ini pengalaman pertamaku minum wedang tahu sekaligus blusukan ke Kampung Sekayu. Di kampung yang sempit ini, banyak kendaraan lalu lalang. Mungkin perlu ada kebijakan untuk menciptakan Kampung Sekayu yang bebas kendaraan bermotor. Agar Kampung Sekayu tetap asri dan nyaman untuk dilewati dan sebagai tempat bermain anak-anak.

Rumah kuno di Kampung Sekayu
Rumah dengan empat atap di Kampung Sekayu
Wedang Tahu

Setelah blusukan di Kampung Sekayu, kami diajak Mas Dimas untuk menyusuri Jalan Pemuda. Jalan Pemuda dulunya bernama Jalan Bodjong. Jalan Bodjong dulunya merupakan kawasan perkantoran dan pendidikan pemerintah Hindia Belanda. Di Jalan Pemuda terdapat gedung Balaikota Semarang, SMA Negeri 3 Semarang dan SMA Negeri 5 Semarang. Ketiga bangunan tersebut merupakan bangunan kuno. Bangunan SMA N 3 Semarang dibangun pada tahun 1877 dan dulunya merupakan H.B.S (Hogereburger School). Sekarang bangunan masih kokoh berdiri dan merupakan salah satu sekolah favorit di kota Semarang. Dulu aku ingin masuk sekolah ini, namun nilaiku masih kurang. Akhirnya masuk ke SMA N 1 Semarang. Bangunan SMA N 1 Semarang juga merupakan bangunan kuno dan salah satu sekolah terluas di kota Semarang.

Balaikota Semarang
Salah sudut Balaikota Semarang

Perjalanan masih berlanjut, sekarang kami menuju kawasan Tugu Muda Semarang. Di kawasan ini terdapat beberapa gedung bersejarah. Gedung Lawang Sewu, Museum Mandala Bhakti, Wisma Perdamaian dan Tugu Muda. Seperti Tugu Muda yang dibangun oleh Ir. Soekarno untuk memperingati pertempuran Lima Hari di Kota Semarang. Kemudian ada Gedung Lawang Sewu yang dulunya merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang dibangun pada tahun 1904. NIS merupakan perusahaan kereta api pertama di Indonesia. Stasiun pertama di Indonesia juga dibangun di Kota Semarang.

Banyak informasi baru yang aku dapat tentang kawasan Jalan Pemuda dan sekitarnya. Ternyata banyak hal baru aku ketahui ketika mengikuti acara ini. Aku merasa belum sepenuhnya mengenal tentang kota kelahiranku ini. Hingga timbul sebuah pertanyaan, gimana kamu mau mengenalkan kotamu ke orang lain? Jika kamu sendiri tak mengenal kotamu dengan baik. Bukankah kamu seorang duta wisata untuk kotamu?

Blusukan etape pertama adalah menyusuri Jalan Pemuda. Kemudian etape kedua di Jalan Pandanaran dan etape terakhir di jalan Gajah Mada. Masih banyak hal yang bakal kami temui selama perjalanan blusukan kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Cerita tentang blusukan di etape kedua bisa dibaca di artikel selanjutnya.

Thursday, November 24, 2016

Serunya 8th Jogja International Heritage Walk

Pagi-pagi kami sudah berkumpul di daerah Imogiri, Bantul, DIY. Deket kota Jogja, kota yang selalu istimewa. Kota dimana aku dan dia mulai saling mengenal. Tepatnya kita lagi berada di Lapangan Selopamioro, kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Jadi pada hari ini (Minggu, 20 November 2016) aku dan teman-teman Backpacker Semarang akan mengikuti event 8th Jogja International Heritage Walk.

Jogja International Heritage Walk

Jogja International Heritage Walk pertama kali diadakan pada tahun 2008. 8th Jogja International Heritage Walk (JIHW) diadakan selama dua hari, tanggal 19-20 November 2016. Hari pertama JIHW mengambil rute di Candi Prambanan dengan jarak 5Km, 10Km, dan 20Km. Sedangkan hari kedua digelar di Imogiri dengan jarak 2Km, 12Km, dan 20Km. Kami memilih rute Imogiri dengan jarak 12Km. Tema yang diambil dalam JIHW adalah Save The Nature, Respect The Culture.

Mari kita jalan..!!

JIHW telah dikukuhkan sebagai anggota ke-27 Liga Jalan Kaki Dunia atau International Maching League (IML) pada 7 Mei 2013 di Chantonnay, Prancis. Indonesia merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang menjadi anggota dari IML. Karena ini event internasional, pesertanya tidak hanya berasal dari Indonesia, namun juga dari berbagai negara, antara lain adalah USA, Belanda, Belgia, Jepang, Korea Selatan, Finlandia, Prancis, Swiss, Italia, Ceko, Rusia, Denmark, Norwegia, Autralia, Inggris, dll.

Mari kita jalan kaki…!!
Sesuai dengan temanya yaitu Save The Nature, Respect the Culture, peserta akan diajak melewati rute yang menampilkan pemandangan alam dan melihat budaya serta kehidupan warga Imogiri. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan perbukitan, persawahan, aliran sungai dan perkampungan. Peserta juga diajak melewati Jembatan Kuning. Jembatan Kuning ini bisa dilihat dari kebun buah Mangunan.

Menyusuri jalanan kampung
Melewati Jembatan Kuning

Selain menikmati pemandangan, peserta juga diajak untuk mengenal budaya yang ada. Mulai dari keramahan masyarakat, jajanan kampung, buah hasil perkebunan warga, hingga proses membatik. Di Check Point 1, peserta diajari membuat pola batik. Kemudian di Rest Area 5 dilakukan perwarnaan pada kain batik. Selanjutnya akan dilakukan pelunturan malam di tempat finish di Lapangan Selopamioro. Untuk memeriahkan acara JIHW, warga sekitar juga mengadakan festival di kampung-kampung mereka.

Makanan kecil yang disediakan panitia
Keris di salah satu Check Point
Peserta mancanegara antusias ikut membatik

Kami berjalan menyusuri kampung. Masuk kampung satu dan keluar di kampung lainnya. Tak lupa untuk menyapa masayarakat sekitar. Mereka dengan ramah dan antusias melihat setiap peserta yang melintas. Ada beberapa peserta mancanegara yang memberikan bendera kecil negara mereka kepada anak-anak kecil. Bahkan mereka mengajak foto peserta dari negara lain. Ga ada yang mengajak foto kami, hiiks.

Festival yang ada di rute Jogja International Heritage Walk
Kain batik yang sudah diwarnai

Akhirnya, pada pukul 11:30 kami sudah tiba di garis finish di Lapangan Selopamioro. Kami jalan kakinya santai. Ga mengejar waktu dan berusaha menikmati aja. Aku merasa perjalanan tadi sangat seru. Mungkin tahun depan ikut lagi dengan jarak 20Km dan fokus pada pencapaian waktu tercepat. Oyaa, aku terinspirasi oleh peserta dari mancanegara. Rata-rata mereka sudah berusia lebih dari 50 tahun dan mengambil rute 20Km untuk rute Candi Prambanan dan Imogiri. Mereka jauh-jauh datang ke Indonesia. Mereka terlihat sangat bersemangat dan antusias untuk mengikuti event ini. Beberapa peserta menunjukan koleksi pin mereka yang berasal dari berbagai negara. Mungkin mereka rutin mengikuti event seperti ini di berbagai negara. Kalian luar biasa, semoga selalu menginspirasi anak-anak muda untuk terus berjalan kaki.

Sampai jumpa di 9th Jogja International Heritage Walk di tahun 2017.

Jogja International Heritage Walk
Jogja Walking Association
Jalan Kompleks Colombo No. 39, Yogyakarta
(0274) 566728/ (0274) 549182
Twitter: @JogjaWalking
Instagram: @jogjawalking


Monday, November 21, 2016

1000 Startup Digital: Tahapan Ignition

Setelah mengikuti tahapan Ignition 1000 Startup Digital, banyak ilmu dan pemikiran baru yang aku dapat dalam bidang startup dan entrepreneur. Beberapa ilmu yang aku dapatkan dalam tahapan Ignition dari para panelis antara lain seperti menurut Yansen Kamto (Kibar), startup itu adalah sesuatu yang ga jelas dan ga masuk akal. Menurut Leonika Sari (CEO Reblood) seorang founder startup itu harus tahan banting, fokus, dan menemukan tim mereka. Kak Alamanda (FemaleDev) yang mengatakan start with why, how, what dan sebuah teknologi bisa mengubah kebiasaan orang. Kak Bima (Goal.com) yang menganjurkan untuk memberikan ruang untuk berkembang kepada setiap orang. Tema yang terkahir berisi tentang Collaborate to Create Innovation.

Pemikiran-pemikiran para panelis langsung aku hubungkan dengan ide startup yang ingin aku kembangkan . Dari tahapan ini membuat ide startupku semakin berkembang. Ide startup yang ingin aku kembangkan bernama Postway. Postway merupakan sebuah situs jual beli postcard.

Logo Postway

Pertanyaan yang pertama kali muncul adalah, “Mengapa postcard?”
Beberapa tahun lalu, postcard menjadi sebuah media yang sangat populer untuk bertukar kabar dan informasi, atau sebagai kenang-kenangan yang kita kirim kepada seseorang. Bahkan ada yang bilang bahwa merasa sangat gembira ketika mengirim dan menerima postcard. Namun, kini orang-orang mulai beralih ke pesan instan yang berbasis teknologi dan postcard pun mulai ditinggalkan. Penjual postcard pun sulit ditemui. Perlu terobosan baru yang menghubungkan antara teknologi dan postcard.

Bagaimana caranya mempopulerkan kembali postcard?
Langkah pertama adalah membuat sebuah situs atau aplikasi yang berfungsi sebagai pusat jual beli (marketplace) postcard. Situs atau aplikasi ini bernama Postway. Postway akan mempertemukan para penjual dan pembeli postcard. Postcard yang dijual harus memiliki gambar dan desain yang bervariasi dan unik serta kualitas kertas yang baik. Postcard akan dibagi sesuai dengan jenis gambar yang ditampilkan, seperti traveling, heritage, art, cityscape, doodle, human interest, landscape, sunset-sunrise, dll.

Para penjual postcard tidak lagi mengalami kesulitan menjual postcard hasil karya mereka. Persaingan dengan sesama penjual postcard secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas dan desain postcard yang dijual. Pembeli juga tak lagi kesulitan mencari postcard. Mereka tinggal mengunjungi Postway, memilih desain yang sesuai dengan selera mereka, lalu melakukan pembelian secara online. Hal tersebut merupakan salah satu tujuan dari startup, yaitu membantu orang lain dan memberikan ruang kreativitas pada orang lain.

Langkah kedua adalah menjadikan Postway sebagai forum. Forum ini juga bisa menjadi media berbagi informasi dan interaksi bagi semua anggota mengenai postcard. Selain itu, para anggota Postway bisa saling mengirim dan menerima postcard. Sistem akan mengatur proses mengirim dan menerima postcard diantara para anggota. Melalui Postway, para pencinta postcard bisa mengenang masa lampau, sambil tetap bermain-main di dunia digital. Dari sebuah forum dan interkasi ini diharapkan bisa berkolaborasi untuk menghasilkan sebuah inovasi baru.

Langkah ketiga adalah dengan cara menjadikan postcard sebagai media promosi pariwisata. Sebagian besar postcard yang beredar memiliki gambar berupa destinasi wisata dari sebuah kota. Mulai dari pemandangan alam, bangunan bersejarah, pantai, ikon kota, hingga adat istiadat.  Hal tersebut secara tidak langsung telah menjadikan postcard telah menjadi media promosi pariwisata.

Kita mempunyai tanggung jawab moral untuk mempromosikan pariwisata yang ada di sekitar daerah tempat tinggal. Ini bisa dilakukan dengan menginformasikan tempat tersebut kepada teman maupun kenalan melalui media postcard. Ketika destinasi wisata ramai oleh pengunjung, perputaran roda ekonomi di daerah sekitar akan meningkat. Hal tersebut akan memberikan dampak positif, khususnya untuk masyarakat sekitar destinasi wisata.

Postway

Apa yang diharapkan?
Berharap Postway tidak hanya berfungsi sebagai pusat jual beli khusus untuk postcard, namun juga sebagai tempat berkumpul dan berinteraksi pencinta postcard, pengembangan kreativitas seseorang melalui desain postcard, sebagai media promosi pariwisata melalui postcard dan mengembalikan perasaan-perasaan gembira seseorang ketika mereka mengirim dan menerima postcard. Pada akhirnya, Postway akan menghubungkan orang-orang melalui postcard.

Artikel ini merupakan pemahaman baru yang aku dapatkan dalam tahapan Ignition 1000 Startup Digital di Semarang (12-11-2016). Sampai jumpa di tahapan Workshop 1000 Startup Digital.

Thursday, November 17, 2016

Menikmati Kabut di Candi Cetho

Awalnya kami berencana untuk mengunjungi Candi Sukuh, kab. Karanganyar. Namun ternyata Candi Sukuh masih dalam proses pemugaran. Terlihat beberapa kayu dan seng menutupi candi utama. Setelah berunding, kami putuskan untuk mengunjungi Candi Cetho. Candi Cetho bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dari Candi Sukuh.

Gapura Candi Cetho


Selama perjalanan menuju Candi Cetho kami disuguhi pemandangan berupa hamparan Kebun Teh Kemuning. Selain itu, terlihat beberapa warga sudah memulai aktivitas mereka masing-masing, seperti berjualan makanan, berjalan kaki, pergi ke kebun dan kerja bakti di kampung mereka. Kalian jangan segan-segan untuk menyapa mereka. Mereka akan membalas salam kalian dengan ramah. Akhirnya kami memutuskan untuk singgah sejenak di kebun teh Kemuning.

Candi Cetho terletak di dusun Ceto, Desa Gumeng, kec. Jenawi, kab. Karanganyar. Menurut sejarah, Candi Cetho dibangun pada abad ke-15 Masehi. Candi ini merupakan candi bercorak agama Hindu. Hingga sekarang, Candi Cetho masih sering digunakan untuk sembayang atau pemujaan oleh umat agama Hindu. Terletak di lereng gunung Lawu, dengan ketinggian 1496 mdpl. Oleh karena itu, banyak pendaki yang mendaki gunung Lawu via jalur Candi Cetho.

Semua pengunjung menggunakan kain penutup

Akhirnya pukul 08:10 kami sudah sampai di Candi Cetho. Kami diharuskan membayar tiket masuk seharga Rp 7.500,-/orang. Sebelum masuk, kami bakal diberi kain untuk menutupi sebagian kaki kami. Hal ini untuk menghormati tempat ibadah umat Hindu. Candi Cetho masih sering digunakan sebagai tempat ibadah bagi umat Hindu. Jadi kami tidak boleh berisik dan mengganggu umat Hindu yang sedang beribadah.

Gapura Candi Cetho

Selain bangunan bersejarah berupa candi, Candi Cetho juga menawarkan pemandangan yang sangat bagus. Sejauh mata memandang kami akan melihat hamparan hijaunya kebun teh Kemuning. Jika langit cerah, kami bisa melihat lukisan birunya langit diatas garis horison. Aku datang ketika berkabut. Menutupi birunya langit. Menjadikan suasana jadi lebih mistis. Kabut turun melewati pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Bergerak di sela-sela batuan candi. Kalian bisa memanfaatkan kabut-kabut ini untuk membuat foto-fotomu lebih hidup dan dramatis.

Tempat pemujaan

Candi Cetho memiliki struktur berupa punden berundak dengan beberapa teras. Terdapat satu bangunan yang terletak paling atas yang berfungsi sebagai tempat sembayangan. Ada beberapa pondok dan patung yang lengkap dengan dupanya. Mungkin ini menjadi tempat pemujaan. Terlihat beberapa orang sedang sembayang dengan penuh khidmat. Tanpa merasa terganggu dengan para pengunjung.

Candi Cetho

Aku sangat menikmati suasana di Candi Cetho. Kabut, mistis, dingin dan kemegahan sebuah bangunan telah melebur jadi satu di Candi Cetho. Duduk tanpa alas di teras-teras candi membuatku jadi lebih tenang. Udara dingin mengalir ke tubuh melalui celah-celah batuan candi.

Duduk santai di Candi Cetho

Dalam perjalanan turun, kami akan melewati beberapa warung. Mereka menjual berbagai barang, mulai dari makanan, minuman, barang antik, dan beberapa sayuran. Karena udara yang dingin, kami memilih membeli gorengan. Kebetulan masih hangat dan ternyata gorengannya enak banget. Gorengan yang enak dan perut yang mulai lapar. Ayok kami lanjutkan perjalanan, tapi kami mampir untuk sarapan dulu. Kami sudah mulai lapar.

Tips ketika mengunjungi Candi Cetho:
1. Hormati setiap orang yang sedang melakukan sembayang di area candi Cetho
2. Tidak boleh berisik yaa..!!
3. Dilarang memindahkan batu-batu candi
4. Dilarang merusak, mencoret-coret bangunan di area Candi Cetho
5. Jaga kebersihan dan buang sampah di tempat sampah yaa..!!
6. Belilah makanan atau barang yang dijajakan masyarakat yang berjualan sekitar Candi Cetho
7. Pastikan kendaraan dan pengemudi dalam keadaan baik

Candi Cetho
Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Gumeng
Kabupaten Karanganyar
Tiket Masuk: Rp 7.500,- /orang

Thursday, November 10, 2016

Ngobrol Asyik di Rumah Kopi Mukidi

Beberapa waktu yang lalu, media sosial diramaikan dengan guyonan ala Mukidi. Guyonan tersebut menyebar di berbagai lini massa dan menjadi viral di media sosial. Guyonan ala Mukidi  sering membuatku tertawa lepas. Ada-ada aja tingkah polah si Mukidi. Sampai timbul pertanyaan dalam benakku, “Emang ada yaa yang orang yang bernama Mukidi?”

Di Rumah Kopi Mukidi

Pertanyaan dalam benak pikiranku akhirnya terjawab juga. Di sela-sela acara ngopi Temanggung Fair 2016 pada tanggal 27-31 Oktober 2016, aku bertemu dengan Pak Mukidi. Terkejut juga awalnya karena ketemu dengan orang yang bernama Mukidi. Pak Mukidi ini seorang petani kopi dengan brand-nya Kopi Mukidi. Setelah ngobrol, aku dan temenku ditawari untuk berkunjung di Rumah Kopi Mukidi miliknya. Ketika aku bertanya tentang tempatnya, beliau cuma bilang “Cari aja di Google Maps aja, Rumah Kopi Mukidi sudah ada did Google Maps”. Wouw keren, ternyata Kopi Mukidi sudah memanfaatkan dunia digital sebagai media pemasaran.

Keesokan harinya, aku dan teman-temanku meluncur menuju Rumah Kopi Pak Mukidi dengan panduan Gmaps yang diceritakan oleh Pak Mukidi. Rumahnya berjarak sekitar 3 Km dari RS Ngesti Waluyo, Parakan, Temanggung. Jangan sungkan buat bertanya ke warga, soalnya kami juga kesasar. Maklum ga ada petunjuk ke Rumah Kopi Mukidi dan tempatnya terletak di tengah-tengah dusun. Kami disambut hangat oleh pak Mukidi. Dipersilahkan masuk dan ditawari mau minum kopi apa. Aku memesan kopi Mukidi jenis Arabika.

Pak Mukidi adalah seorang petani kopi sejak tahun 2001. Saat ini, beliau telah memiliki tiga brand kopi, yaitu Kopi Jowo, Kopi Lamsi, dan Kopi Mukidi dengan beberapa jenis kopi, seperti arabica, robusta, arobusta, kopi lanang, spesial blend dan ekselsa. Disini kopi diracik sendiri oleh Pak Mukidi. Kalian bisa memilih penyajian kopi sesuai dengan selera kalian, mulai dari tubruk, V60, francepress, mokapot, hingga vietname drip.

Salah satu biji kopi yang ada di Rumah Kopi Mukidi

Menurut Pak Mukidi, “Kopi itu tergantung sama selera orang yang meminumnya. Namun ada yang lebih seru dari kopi itu sendiri, yaitu ceritanya”. Dalam sajian secangkir kopi racikan pak Mukidi, aku mulai tenggelam dalam cerita-cerita inspiratif pak Mukidi. Banyak hal yang beliau ceritakan kepada kami. Mulai dari konsep petani mandiri yang sedang beliau kembangkan, branding produk kopi Mukidi, hingga viral guyonan ala Mukidi di media sosial.

Brand kopi yang dijual Pak Mukidi (Kopi Jowo, Kopi Lamsi, dan Kopi Mukidi)

Melalui konsep petani mandiri Pak Mukidi mengajak para petani untuk mengelola lahan sesuai dengan kaedah konservasi, ada beberapa komoditas tertentu, komoditas tersebut diolah menjadi sebuah produk, dan berani memasarkan produknya. Jika hal tersebut dilakukan, maka petani akan sejahtera. Petani kopi diharapkan juga bisa bercerita tentang proses pembuatan produk kopi mereka kepada konsumen. Mulai dari menanam, panen, hingga proses pemasarannya.

Menurut Pak Mukidi, edukasi kepada petani juga bisa meningkatkan nilai jual produk kopi mereka. Namun, edukasi untuk bisnis sebaiknya tidak terjebak dalam urusan bisnis dan uang semata. Kegiatan sosial bisa menjadi media promosi untuk produk mereka. Aku cuma bisa mantuk-mantuk dengerin konsep petani mandiri ala Pak Mukidi. Terkesan dengan pemikiran petani kopi yang satu ini.

Obrolan pun semakin seru. Aku pun penasaran dengan brand-brand kopi yang beliau pasarkan. Brand kopi pertama ada Kopi Jowo, kemudian Kopi Lamsi dan yang terakhir adalah Kopi Mukidi. Pak Mukidi menyarankan untuk tidak asal-asalan dalam membuat suatu brand, brand itu harus sesuai dengan jatidiri kita. Tentu saja kita juga harus konsisten dengan brand yang sudah dipake. Brand itu juga meliputi produk kopinya. Jika Kopi Mukidi diambil dari kebun kopi di daerah Wonotirto, maka produk tersebut seterusnya juga diambil dari kebun Wonotirto. Begitu juga dengan Kopi Jowo dan Kopi Lamsi. Brand itu ga sekedar merk dagang, namun lebih dari itu.

Kopinya lagi diseduh

Obrolan kita semakin melebar, walaupun kopi dicangkir sudah habis. Aku pun masih bersemangat mendengar cerita Pak Mukidi. Sampai akhirnya beliau bercerita kalo viral guyonan ala Mukidi di media sosial membawa berkah tersendiri. Kopi Mukidi dan Kopi Temanggung semakin dikenal masyarakat luas dan tentu saja omset penjualan kopi semakin meningkat. Oyaa, Kopi Mukidi sudah ada sejak tahun 2001, jauh sebelum guyonan ala Mukidi menjadi viral.

Sudahkah Anda minum kopi hari ini?

Rumah Kopi Mukidi terbuka untuk umum. Siapapun boleh berkunjung kesana. Baik sekedar mencicipi kopi racikan Pak Mukidi, maupun ingin belajar kopi kepada beliau. Pak Mukidi akan dengan senang hati berbagi ilmu dan pengalaman tentang kopi kepada siapa saja. Pengunjung tidak hanya dari kabupaten Temanggung saja, namun juga dari berbagai kota di Indonesia, seperti Semarang, dan Jogja

Pak Mukidi berharap, suatu saat nanti pengunjung bisa menginap di Rumah Kopi Mukidi atau di rumah petani sekitar, pengunjung juga bisa melihat dan belajar pengolahan kopi dan pengembangan desa melalui kesenian dan tradisi yang ada di desa yang dipadukan dengan meminum secangkir kopi. Semua itu dilakukan untuk mewujudkan konsep petani mandiri.

Tak terasa hari sudah beranjak sore, kami pun berpamitan kepada Pak Mukidi dan keluarga. Aku mendapatkan banyak ilmu dari Pak Mukidi. Seperti kata Pak Mukidi, “Secangkir kopi ada cerita, banyak saudara, dan penuh cinta”.

Rumah Kopi Mukidi
Alamat: Dusun Jambon, Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung
No Telepon: 0812 2797 3978 – 0877 1905 2174 (WA)
Facebook: Kopi Mukidi
Twitter: @kopimukidi
Instagram: @kopimukidi