Thursday, January 28, 2016

Menatap Langit Puncak Becici

Berlari dari keramaian dan keriuhan kota Jogja ketika libur panjang adalah hal yang paling tepat. Kota yang mendapat julukan Kota Pelajar ini selalu riuh dan sesak dikala liburan panjang. Sepanjang jalan Malioboro dan sekitarnya tampak ramai dengan kehadiran para pelancong. Deru mesin kendaraan saling bersautan. Para petugas kepolisian tampak sibuk mengatur arus kendaraan agar semuanya lancar. Ketika semuanya lancar, semua akan merasa nyaman dan senang. Kota ini memang istimewa, baik untuk warganya sendiri, maupun para pendatang.

Salah satu gardu pandang di Puncak Becici. (Foto dari HP barunya Lele)

Kita mulai memacu kendaraan menuju kabupaten Bantul. Tepatnya kecamatan Imogiri. Sebuah kecamatan yang terletak di selatan kota Jogja. Tujuan kita adalah sebuah hutan pinus yang tak jauh perbukitan Mangunan. Puncak Becici, begitu warga sekitar menyebutnya. Banyak papan petunjuk untuk menuju ke Puncak Becici. Jalanan menuju daerah Imogiri sangat bagus untuk dilewati, namun banyak tanjakan dan turunan curam. Selama perjalanan, kita bakal disuguhi pemandangan berupa persawahan, perbukitan dan birunya langit. Selain itu, kita juga bisa melihat bangunan makam Raja Keraton Yogyakarta sekaligus anak tangga yang berjumlah sekitar 1000 anak tangga.

Hawa sejuk perbukitan mulai menyapa. Pemandangan terasering lahan-lahan juga bisa terlihat jelas. Setelah itu, pohon-pohon pinus berjajar sepanjang perjalanan. Hijau, dan semuanya terasa sangat menyegarkan. Memasuki kawasan hutan pinus, kita akan melewati hutan pinus Mangunan yang lebih dahulu populer. Tapi tujuan kita bukan disana. Kita masih melanjutkan perjalanan lagi. Hutan pinus Mangunan siang itu sangat ramai dengan para pengunjung. Akhirnya setelah menempuh perjalanan 1,5 Km, gerbang menuju Puncak Becici sudah terlihat. Tak terlalu besar, terbuat dari kayu. Sederhana, namun penuh makna.

Hutan pinus di Puncak Becici

Setelah membayar tiket masuk Rp 5.000,- kita bisa menikmati suasana hutan pinus. Untuk menuju Puncak Becici, kita bisa trekking sekitar 15 menit. Jalanan yang kita lewati berupa tanah. Kebetulan semalam hujan deras, sehingga tanah sedikit basah. Aroma khas tanah yang bercampur dengan air hujan tercium selama perjalanan trekking kita. Tak hanya pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, kita juga bisa menemukan bangku-bangku yang terbuat dari batang kayu pinus, ayunan kayu, dan beberapa gazebo sederhana. Tak berapa lama kita juga bertemu dengan pengunjung yang camping di kawasan Puncak Becici. Puncak Becici menjadi tempat yang tepat untuk menikmati sunset.

Pemandangan di Puncak Becici

Akhirnya kita telah sampai di puncak Becici. Terlihat tiga gardu pandang untuk menikmati pemandangan dari Puncak Becici. Sebaiknya berhati-hati, karena gardu pandang tak dilengkapi dengan pengaman. Hanya sebuah kayu dan papan yang dipaku di pohon pinus. Hanya ada beberapa pengunjung. Tak terlalu ramai dan kita bisa puas menikmati hembusan angin dari gardu pandang. Ada rasa khawatir ketika tempat yang kita pijak terkena terpaan angin. Namun, kita tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk  duduk di atas gardu pandang. Menikmati setiap hembusan angin. Sejauh mata memandang tampak langit biru, awan putih di batas cakrawala. Hijaunya pohon-pohon membuat semuanya tampak lebih berwarna. Hembusan angin terasa sangat sejuk. Seolah-olah membawa pesan yang tersirat.

Perjalanan turun dari Puncak Becici

Banyak hal yang aku temukan dalam perjalanan ini. Aku tersenyum ketika melihat senyumnya, senyum dan tawa teman-temanku. Berbagi keceriaan dan kebahagiaan selama perjalanan. Melepas segala penat dan rasa bosan. Rasa lelah dalam perjalanan larut dalam keceriaan kita. Menikmati alam dan segala karunia-Nya. Terima kasih untuk semuanya. Aku, kamu dan kita telah menatap langit Puncak Becici. 

Saturday, January 9, 2016

Hutan Penggaron, Tempat Melepas Kepenatan

Selamat tahun baru 2016, *yeeaayyyy*. Libur Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2016 telah usai. Saatnya kita balik ke rutinitas kita. Mulai berkutat (lagi) dengan tugas, kewajiban dan padatnya kehidupan kota, khususnya kota Semarang. Tidak ada salahnya kita memanfaatkan weekend untuk melepas kepenatan. Sejenak menghindarkan diri dari rutinitas yang biasa kita kerjakan. Sekedar untuk refreshing dan membuat diri kita bahagia. Di kota Semarang terdapat banyak lokasi wisata alam yang bisa digunakan untuk melepas penat dan menghindari padatnya kota Semarang. Salah satu tempat tersebut adalah Hutan atau Wana Wisata Penggaron.

Pintu Gerbang Hutan Penggaron

Hutan Penggaron terletak di kabupaten Semarang. Bisa ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Semarang. Petunjuk untuk menuju lokasi juga sudah terpampang dengan jelas. Kawasan Hutan Penggaron dikelola oleh Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Menurut rencana, kawasan hutan Penggaron akan dikembangankan menjadi Jateng Park. Sejenis kebun binatang dengan konsep seperti Taman Safari di Bogor dan Jatim Park di Jawa Timur. Namun belum ada kabar lagi tentang kelanjutan rencana tersebut.



Langkah kaki ini terhenti sejenak di loket masuk wana wisata. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000,- aku melanjutkan perjalanan untuk menyusuri hutan Penggaron.
“Sangat murah, untuk manfaat yang bisa didapat”, gumamku dalam hati.
Sepi, hanya beberapa kendaraan yang hilir mudik di kawasan ini. Mungkin anak-anak yang tinggal di sekitar kawasan hutan Penggaron. Terlihat bapak-bapak pencari kayu juga bergegas untuk meninggalkan area hutan Penggaron.

Salah Satu Jalan di Hutan Penggaron

Aku sengaja datang ketika sore hari. Suasana hutan ketika sore akan terasa lebih sejuk dan adem. Untuk menyusuri hutan ini sebaiknya kita jalan kaki atau trekking. Tentu saja kalo suka trekking. Soalnya, dengan trekking kita bisa lebih menikmati sejuknya udara hutan. Selain itu, kita juga bakal lebih leluasa untuk mengeksplore setiap bagian hutan. Banyak tempat yang bisa dicapai dengan berjalan kaki. Namun, kita bisa juga menggunakan sepeda, motor, dan mobil untuk menyusuri hutan ini. Banyak jenis tanaman dan pohon yang tumbuh di hutan Penggaron.

Acara Camping di Hutan Penggaron ( Dok. Backpacker Semarang)

Foto Untuk Album Foto di Hutan Penggaron ( Dok: Pradika Joko - LineArt Studio)

Hutan Penggaron sering dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, seperti camping, trekking, outbond, latihan SAR, dan untuk penelitian. Bahkan hutan Penggaron juga sering digunakan sebagai lokasi foto prewedding. Cocok untuk tempat foto prewedding dengan konsep outdoor. Terdapat beberapa tempat bermain anak-anak. Namun, tempat bermain nampak telah rusak dan tak terurus. Teman-teman Backpacker Semarang juga pernah mengadakan acara camping ceria di hutan Penggaron. Acara yang diberi nama TripHore itu dikemas dengan berbagai games, api unggun, dan trekking.





Perjalananku terhenti di area driving range. Tanah lapang langsung menyapaku. Inginku bermain bola diatas tanah lapang itu. Berteriak-teriak untuk menerima operan kawan. Atau tertawa bahagia untuk setiap permainan yang telah berakhir. Namun apalah daya, bola aja ga ada. Apalagi kawan dan lawan untuk bermain bola *huufftt*. Aku hanya duduk sejenak di tanah lapang itu. Menikmati setiap hembusan angin sore. Terlihat sebuah bangunan yang cukup besar, namun kosong. Sepi dan tak berpenghuni. Menambah keheningan hutan Penggaron di sore itu. Langit sore tampak cerah. Warna biru langit yang dipadu dengan putihnya awan terhampar luas di langit hutan Penggaron. Pohon pinus menjulang tinggi diantara hijaunya rerumputan. Padang ilalang terhampar luas tak jauh dari tempatku. Tempat yang cocok untuk melepas penat, setelah sehari-hari berkutat dengan kesibukan.