WHAT'S NEW?
Loading...

Menatap Langit Puncak Becici

Berlari dari keramaian dan keriuhan kota Jogja ketika libur panjang adalah hal yang paling tepat. Kota yang mendapat julukan Kota Pelajar ini selalu riuh dan sesak dikala liburan panjang. Sepanjang jalan Malioboro dan sekitarnya tampak ramai dengan kehadiran para pelancong. Deru mesin kendaraan saling bersautan. Para petugas kepolisian tampak sibuk mengatur arus kendaraan agar semuanya lancar. Ketika semuanya lancar, semua akan merasa nyaman dan senang. Kota ini memang istimewa, baik untuk warganya sendiri, maupun para pendatang.

Salah satu gardu pandang di Puncak Becici. (Foto dari HP barunya Lele)

Kita mulai memacu kendaraan menuju kabupaten Bantul. Tepatnya kecamatan Imogiri. Sebuah kecamatan yang terletak di selatan kota Jogja. Tujuan kita adalah sebuah hutan pinus yang tak jauh perbukitan Mangunan. Puncak Becici, begitu warga sekitar menyebutnya. Banyak papan petunjuk untuk menuju ke Puncak Becici. Jalanan menuju daerah Imogiri sangat bagus untuk dilewati, namun banyak tanjakan dan turunan curam. Selama perjalanan, kita bakal disuguhi pemandangan berupa persawahan, perbukitan dan birunya langit. Selain itu, kita juga bisa melihat bangunan makam Raja Keraton Yogyakarta sekaligus anak tangga yang berjumlah sekitar 1000 anak tangga.

Hawa sejuk perbukitan mulai menyapa. Pemandangan terasering lahan-lahan juga bisa terlihat jelas. Setelah itu, pohon-pohon pinus berjajar sepanjang perjalanan. Hijau, dan semuanya terasa sangat menyegarkan. Memasuki kawasan hutan pinus, kita akan melewati hutan pinus Mangunan yang lebih dahulu populer. Tapi tujuan kita bukan disana. Kita masih melanjutkan perjalanan lagi. Hutan pinus Mangunan siang itu sangat ramai dengan para pengunjung. Akhirnya setelah menempuh perjalanan 1,5 Km, gerbang menuju Puncak Becici sudah terlihat. Tak terlalu besar, terbuat dari kayu. Sederhana, namun penuh makna.

Hutan pinus di Puncak Becici

Setelah membayar tiket masuk Rp 5.000,- kita bisa menikmati suasana hutan pinus. Untuk menuju Puncak Becici, kita bisa trekking sekitar 15 menit. Jalanan yang kita lewati berupa tanah. Kebetulan semalam hujan deras, sehingga tanah sedikit basah. Aroma khas tanah yang bercampur dengan air hujan tercium selama perjalanan trekking kita. Tak hanya pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, kita juga bisa menemukan bangku-bangku yang terbuat dari batang kayu pinus, ayunan kayu, dan beberapa gazebo sederhana. Tak berapa lama kita juga bertemu dengan pengunjung yang camping di kawasan Puncak Becici. Puncak Becici menjadi tempat yang tepat untuk menikmati sunset.

Pemandangan di Puncak Becici

Akhirnya kita telah sampai di puncak Becici. Terlihat tiga gardu pandang untuk menikmati pemandangan dari Puncak Becici. Sebaiknya berhati-hati, karena gardu pandang tak dilengkapi dengan pengaman. Hanya sebuah kayu dan papan yang dipaku di pohon pinus. Hanya ada beberapa pengunjung. Tak terlalu ramai dan kita bisa puas menikmati hembusan angin dari gardu pandang. Ada rasa khawatir ketika tempat yang kita pijak terkena terpaan angin. Namun, kita tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk  duduk di atas gardu pandang. Menikmati setiap hembusan angin. Sejauh mata memandang tampak langit biru, awan putih di batas cakrawala. Hijaunya pohon-pohon membuat semuanya tampak lebih berwarna. Hembusan angin terasa sangat sejuk. Seolah-olah membawa pesan yang tersirat.

Perjalanan turun dari Puncak Becici

Banyak hal yang aku temukan dalam perjalanan ini. Aku tersenyum ketika melihat senyumnya, senyum dan tawa teman-temanku. Berbagi keceriaan dan kebahagiaan selama perjalanan. Melepas segala penat dan rasa bosan. Rasa lelah dalam perjalanan larut dalam keceriaan kita. Menikmati alam dan segala karunia-Nya. Terima kasih untuk semuanya. Aku, kamu dan kita telah menatap langit Puncak Becici. 

1 komentar: Leave Your Comments