Wednesday, March 23, 2016

Tektok Gunung Ungaran

Temenku pernah bilang “Kadang, kalau kita pengen jalan-jalan sebaiknya langsung jalan aja. Ga perlu banyak rencana”. Dulu aku cuma tertawa mendengar apa yang ia katakan. Soalnya belum pernah melakukan perjalanan tanpa sebuah rencana. Namun, ia sering melakukannya. Pergi ke beberapa kota tanpa sebuah rencana. Walaupun sekedar berkunjung ke beberapa tempat wisata atau sekedar bersua dengan kawan-kawannya. Ia selalu beruntung dan menemukan banyak hal baru dalam perjalanan itu. Ia juga menambahkan, “Jika kamu terlalu banyak rencana, perjalanan bisa jadi hanya sebuah rencana. Tanpa sebuah perjalanan”. Aku masih ingat dengan apa yang ia katakan. Tanpa aku sadari, aku telah melakukan perjalanan tanpa sebuah rencana. Walaupun tak sejauh ia, tapi perjalananku sangat berkesan. Setidaknya untuk diriku sendiri.

Pagi itu di Basecamp Mawar

Seperti biasanya minggu pagi kita berencana untuk jogging di kawasan GOR Jatidiri Semarang. Namun dalam perjalanan kesana, terbesit dalam pikiranku untuk mendaki gunung Ungaran (2.050 Mdpl) dengan cara tektok. Pagi itu, kita bertiga, aku (Rivai), Reikha, dan Reza, *bisa disingkat 3R :D *, berencana untuk jogging. Namun semua itu hanya sebuah rencana, karena kita bertiga malah sepakat untuk mendaki gunung Ungaran dengan cara tektok. Kita bergegas pulang ke rumah dan kost untuk packing segala perlengkapan yang diperlukan. Setelah semuanya sudah siap, kita pun meluncur ke basecamp Mawar.

Welcome to Mt. Ungaran

Sesampainya di basecamp Mawar kita telah disambut kabut pagi yang mulai turun. Kabut pagi di basecamp Mawar selalu terlihat begitu syahdu dan romantis. Kabut-kabut menyelinap diantara pohon pinus yang menjulang tinggi. Warna-warni puluhan tenda para pendaki memberikan kehangatan tersendiri di tengah kabut pagi. Beberapa warung telah siap memanjakan perut para pendaki. Jarum jam belum menunjukkan pukul 09:00, namun para pendaki sudah terlihat turun dari pendakian mereka. Lelah dan senang tergambar menjadi satu dalam raut muka mereka. Aku pun juga ingin segera bergegas untuk mendaki. Setelah selesai registrasi, kita mampir ke warung untuk sarapan terlebih dulu, mengisi tenaga sebelum melakukan pendakian. Tidak lupa kita juga memesan nasi bungkus untuk asupan tenaga ketika perjalanan mendaki. Tepat pukul 09:00 kita memulai pendakian tektok gunung Ungaran. Ini merupakan pendakian tektokku yang pertama.

Warung yang siap memanjakan perut para pendaki

Pendakian tektok ini terinspirasi oleh pendakian tektok Didy dan teman-temannya di Team Tektok yang pernah mendaki gunung Semeru dan gunung Argopuro secara tektok. Aku pun belum pernah mendaki kedua gunung itu secara normal, apalagi tektok. Aku belum bisa membayangkan gimana mereka mengatur pendakian tektok mereka. Rasanya emang ga perlu dibayangin, tapi perlu dilatih juga. Aku memilih gunung Ungaran untuk tektokku yang pertama karena gunung ini tak terlalu tinggi dan aku juga mengetahui jalur pendakiannya. Selain itu, karena jarak antara  Semarang dan gunung Ungaran yang cukup dekat.

Jalur pertama yang kita lewati adalah hutan pinus. Banyak pohon pinus yang menjulang tinggi. Jalur batu dan tanah siap menyambut kita bertiga. Setelah hutan pinus kita bakal melewati hutan dan kebun kopi. Jalurnya terlihat sangat jelas. Tak perlu khawatir untuk tersesat. Jalur berbatu akan menemani kita selama melewati kebun kopi dan kebun teh. Sesampainya di persimpangan jalur kita istirahat sejenak sambil menikmati pemandangan kebun teh. Persimpangan ini merupakan persimpangan menuju puncak gunung Ungaran dan desa Promasan. Desa Promasan merupakan desa yang terletak di kaki gunung Ungaran. Banyak pendaki yang memilih desa Promasan sebagai area camping mereka.

Jalur Hutan Pinus

Persimpangan Jalur Menuju Puncak dan Desa Promasan

Pendakian yang sesungguhnya baru saja dimulai. Selepas kebun teh, jalur pendakian akan lebih terjal, menanjak dan tak terlalu lebar. Jalur tersebut mengharuskan kita untuk saling bergantian ketika berpapasan dengan pendaki yang akan turun. Dalam perjalanan kita bertemu para pendaki yang masih duduk di bangku SMA. Kita menawarkan minum kepada mereka karena mereka terlihat  tidak membawa air minum, atau mungkin air minumnya dibawa senior atau teman mereka. Mereka terlihat sangat kelelahan. Selain itu, tak sedikit pula aku menemui para pendaki salah kostum. Mereka rata-rata menggunakan celana jeans, sandal dan sepatu yang tidak sesuai untuk mendaki gunung. Mungkin mereka belum memahami tentang panduan mendaki gunung. Kita tidak lupa untuk saling sapa ketika bertemu para pendaki lain. Saling sapa dan memberi semangat walaupun kita belum saling kenal. Bahkan kita bisa menjadi lebih akrab setelah itu. Inilah salah satu keunikan dalam sebuah pendakian.

Pemandangan Dari Bukit Batu

Akhirnya kita beristirahat di bukit batu. Disini banyak batu-batu yang berukuran besar. Ada tanah lapang yang bisa digunakan untuk area camping. Perjalanan untuk menuju puncak gunung sebentar lagi. Tinggal melewati sebuah bukit. Kita pun bergegas karena sinar matahari mulai terasa terik. Tepat pukul 11:30, akhirnya kita sampai puncak gunung Ungaran. Pada saat itu kabut pun mulai naik. Pemandangan dibawah pun tak bisa dinikmati oleh mata karena tertutup kabut. Sambil menunggu kabut turun, kita beristirahat dan makan siang di area camping yang ada di puncak. Kita membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dari basecamp Mawar hingga sampai puncak gunung Ungaran.

Puncak Gunung Ungaran 

Full Tema 3R (Reikha-Reza-Rivai)

Setelah puas menikmati puncak, akhirnya kita bergegas untuk turun gunung. Melewati jalur yang sama ketika kita naik. Melewati kebun teh dan kebun kopi yang terhampar luas. Aku selalu suka dengan suasana ini. Sepertinya sudah terlalu lama aku tak merasakan suasana gunung seperti ini. Berjalan diatara tanaman hijau. Menikmati setiap hembusan angin. Aroma tanah pegunungan yang kadang bikin candu pun sudah lama tak aku rasakan. Warna hijau pepohonan dan birunya langit sering menyihir mata ini. Suara burung saling bersahutan menemani setiap langkahku. Rasanya ingin tinggal lebih lama untuk menikmati semua ini. Namun apa daya, banyak hal yang harus diselesaikan. Hanya jejak kaki yang bisa aku tinggalkan. Sampai jumpa di puncak ketinggian lainnya.

Friday, March 18, 2016

Tersesat di Kota Lama Semarang (Bagian 2- Habis)

Kita berdua mulai meninggalkan jalan Garuda menuju sebuah jalanan sempit yang dipenuhi dengan ayam jago yang dikurung dalam kandang. Diapit gedung-gedung megah yang tak terawat. Tampak kusam termakan oleh waktu. Orang-orang bersorak melihat ayam jagoan mereka bertarung. Bertarung untuk menjadi yang terbaik. Suara lengkingan para ayam jago saling bersahutan, diantara gedung-gedung tua. Menunggu giliran untuk diadu. Hilir mudik kendaraan bermotor tak mengganggu aktivitas mereka. Tempat adu ayam yang tak pernah sepi pengunjung, sebuah sisi lain di kawasan Kota Lama Semarang.

Salah satu sudut Kota Lama
Gedung PT. Pelni

Menurut warga sekitar, arena adu ayam ini sudah ada lebih dari 50 tahun lalu. Tepatnya sekitar tahun 1965. Sebelum lokasi sekarang, beberapa kali lokasi adu ayam berpindah tempat, namun lokasi masih berada di kawasan Kota Lama. Awalnya tempat ini menjadi pasar ayam. Namun, karena banyaknya ayam jago yang dijual, maka tempat ini juga menjadi tempat mengadu ayam jago mereka. Untuk harga seekor ayam jago tergantung jenis, besarnya ukuran, dan cara bertarung. Untuk jenis yang biasa, rata-rata ayam jago dibanderol dengan harga Rp 120.000-Rp 150.000,-. Semakin bagus cara bertanding ayam jago, maka harganya akan semakin mahal.

Penjual ayam, kurungan ayam, dan arena adu ayam

Ayam-ayam yang siap diadu

Kita hanya sebentar di arena adu ayam. Didy ga tega melihatnya. Dari sana kita langsung menuju gedung Marabunta. Membutuhkan waktu sekitar lima menit jalan kaki. Kita masih menyusuri lorong-lorong jalan di kawasan Kota Lama. Terlihat banyak bangunan tua yang masih digunakan untuk perkantoran.  Tapi tak sedikit pula bangunan tampak kosong dan tak terawat. Bahkan dinding di beberapa gedung telah ditumbuhi batang pohon beringin. Selama perjalanan, aku juga banyak bercerita tentang beberapa sudut di Kota Lama. Termasuk bercerita tentang gedung Marabunta.

Ayam yang sedang diadu

Adu ayam jago

Gedung Marabunta terletak di jalan Jl.Cendrawasih 23, kawasan kota Lama, Semarang. Dibangun pada sekitar tahun 1854. Nama awal gedung Marabunta adalah gedung Schouwburg. Nama Marabunta berarti semut merah yang besar. Hal itu bisa dilihat dengan adanya dua patung semut raksasa yang diletakkan di atap gedung. Menurut cerita, dulunya gedung ini digunakan sebagai gedung opera dan pertunjukan. Konon, gedung ini juga pernah mementaskan penari cantik yang juga seorang spionase yang bernama Margaretha Zelle yang terkenal dengan nama panggung Mata Hari. Selama bertahun-tahun gedung serba guna ini tak digunakan. Terlihat sepi dan tidak ada aktivitas. Namun, kini gedung Marabunta telah disulap menjadi sebuah cafe yang nyaman dan terkesan klasik.

Gedung Marabunta

Ruangan gedung Marabunta

“Eeh Dy, kamu suka main ke galeri ga?”, tanyaku pada Didy
“Biasa aja sih Vai. Emang mau diajakin kemana?” tanya Didy
“Mau ke Semarang Art Gallery, gimana?”
“Okelah, emang disana ada apa aja?”
“Yang pasti ada lukisan dan patung. Ada beberapa foto jadul tentang kota Semarang”, ceritaku ke Didy.

Gedung Semarang Art Gallery

Dari gedung Marabunta kita berjalan kaki menuju Gedung Semarang Art Gallery. Kali ini tidak hanya gedung-gedung kuno yang menemani perjalanan kita berdua, tetapi juga mural dan karikatur yang digambar di tembok-tembok di sepanjang jalan. Mural dan karikatur yang digambar umumnya berisi tentang semangat perjuangan, petuah bijak, dan gambar tata kota. Selain itu, ada mural yang dibuat sebagai ucapan apresiasi dan terima kasih kepada salah satu pelukis Indonesia, yaitu Sudjojono. Mural-mural di Kota Lama menjadikan kawasan ini lebih berwarna, bermakna dan lebih hidup. Mural-mural ini menjadi sisi lain diantara gedung-gedung tua nan megah.


Mural di salah satu sudut Kota Lama

Megahnya gedung Semarang Art Gallery telah menyambut kita. Gedung dengan gaya artdeco ini berhasil membuat kita kagum.  Gedung ini emang sudah berumur puluhan tahun, namun masih berdiri kokoh dan layak untuk dikunjungi. Hanya dengan membayar tiket sebesar Rp 10.000,- kita sudah bisa menikmati suasana dan karya yang dipajang di galeri. Mulai dari patung, lukisan, foto-foto jadul, hingga poster-poster jadul. Selain itu, ada taman dan perpustakaan yang sebaiknya tidak kita lewatkan untuk dikunjungi.

Kini aku merasa sendiri dan kedinginan @Semarang Art Gallery

Menikmati Lukisan di Semarang Art Gallery

Setelah puas berkeliling galeri, kita kembali ke taman Sri Gunting untuk mengakhiri perjalanan. Di sepanjang perjalanan terdapat pasar barang antik. Belasan kios ikut meramaikan pasar barang antik. Rata-rata kios ini menjual barang-barang jadul, aksesoris dan barang kerajinan tangan. Seperti kamera jadul, barang keramik dan majalah jadul. Bahkan kita bisa menemukan mata uang kuno dan prangko. Tempat ini seolah-olah menjadi surga bagi para pemburu barang antik dan kuno.

Pasar barang antik di Kota Lama

Salah satu kios di pasar antik Kota Lama

Sesampainya di taman Sri Gunting, Kita masih ngobrol tentang Kota Lama. Banyak hal yang kita temui dalam perjalanan menyusuri kawasan Kota Lama. Mulai dari bangunan-bangunan kolonial, kuliner, galeri, pasar barang antik, hingga aktivitas masyarakat yang hidup di sekitar kawasan Kota Lama. Masing-masing memiliki cerita dan sejarahnya. Ketika berada di kawasan Kota Lama, aku membayangkan seperti hidup dijaman kolonial Hindia Belanda. Seolah-olah membawaku tersesat dan melewati batas ruang dan waktu dimasa lampau. Berdiri diantara puluhan bangunan bergaya artdeco yang masih berdiri dengan kokoh dan megah. Membayangkan kehidupan yang pernah terjadi di kawasan ini. Bangunan karya para arsitek dari Eropa ini sungguh luar biasa. Gedung-gedung megah ini berhasil bercerita tentang kehidupan masa lampau. Waktu terus berganti dan gedung-gedung ini menjadi saksi bisu perubahan zaman.

Baca juga Tersesat di Kota Lama Semarang (Bagian 1)

Monday, March 14, 2016

Tersesat di Kota Lama Semarang (Bagian I)

“Buruan jalan kakinya”, kataku kepada Didy
“Emang masih jauh yaa..?”, jawab didy
“Sudah hampir sampai, kita tinggal melewati jembatan itu aja”, jawabku
“Emang kita mau kemana sih?” tanya Didy
“Kota Lama”, jawabku singkat
“Hah…Kota Lama..?”, tanya Didy dengan penasaran
“Semacam Kota Tua gitu yaa?”, lanjutnya
“Iyaa, Kota Tua-nya Semarang”, jawabku

Gereja Blenduk Semarang

Kita mempercepat langkah kaki kita menuju sebuah jembatan tua. Jembatan Mberok, begitu masyarakat Semarang menyebutnya. Nama Jembatan Mberok merupakan pelafalan dari kata burg yang berarti jembatan oleh masyarakat sekitar dan nama itu masih dipake sampai saat ini. Jembatan Mberok salah satu pintu gerbang menuju kawasan Kota Lama. Kita berdua langsung menuju ke Taman Sri Gunting, sebagai pusat dari kawasan Kota Lama.

Jembatan Mberok, pintu masuk Kota Lama Semarang

Kawasan Kota Lama disebut juga Outstadt. Luas kawasan ini sekitar 31 hektare. Kawasan ini juga mendapatkan julukan Little Netherland. Kawasan Kota Lama Semarang telah menjadi bukti sekaligus saksi bisu sejarah Indonesia pada masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad. Di kawasan ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri kokoh. Banyak bangunan yang berubah fungsi menjadi perkantoran, café atau restoran, galeri dan tempat ibadah. Namun ada banyak bangunan yang tak terawat dan rusak.

Gedung Spiegel yang sekarang menjadi cafe & resto

Gedung Marba yang digunakan sebagai perkantoran

Setelah meneguk air mineral, kita mulai berjalan kaki berkeliling kawasan Kota Lama. Aku mulai bercerita sedikit tentang kawasan Kota Lama, mulai gereja GPIB Immanuel atau gereja Blenduk, gedung Marba, gedung Spiegel, gedung Jiwasraya, dan gedung Semarang Art Gallery hingga beberapa kuliner yang ada di kawasan Kota Lama. Masyarakat lebih mengenal gereja GPIB Immanuel dengan nama gereja Blenduk. Hal itu dikarenakan bentuk kubah gereja yang berbentuk setengah lingkaran. Sehubungan dengan bentuknya itu, kemudian orang Semarang menyebutnya dengan nama “blenduk”.  Gereja Blenduk berusia lebih dari dua abad dan sampai sekarang masih digunakan untuk kegiatan keagamaan umat Kristen.

Gedung Jiwasraya
Gedung Semarang Art Gallery

Kita mulai berjalan menuju jalan Garuda melewati belakang gereja Blenduk, namun langkah kita terhenti di sebuah kedai gulai kambing. Kedai Gulai Kambing Pak Sabar Khas Bustaman.
“Kamu doyan gulai kambing ga Dy?”, tanyaku kepada Didy
“Doyanlah Vai, apalagi maemnya bareng kamu”, jawab Didy sambil ketawa
“Aah, preet..!! hahhahha. Yuk kita coba, udah lama aku ga makan gulai disini” ajakku ke Didy
“Ayuukkk…!!!”, sambil melangkah menuju kedai.
“Seperti rendang, gulai ini juga kaya akan rempah-rempah”, kataku ke Didy.
“Kamu tahu darimana Vai?” tanya Didy sambil keheranan
“Sering nemenin ibu belanja bumbu gulai..hahhaa”, jawabku sambil ketawa

Kedai gulai kambing pak Sabar

Penyajian gulai disini juga terlihat unik. Daging kambing dipotong-potong dan disajikan ke dalam sebuah piring kecil. Setelah itu potongan daging tersebut disiram dengan kuah gulai yang panas. Pelanggan bisa memilih daging kambing sesuai selera mereka. Menu gulai kambing telah tersaji dihadapan kita. Pertama kita cicipi kuahnya terlebih dahulu. Aku menambahkan beberapa biji cabai setan agar rasanya lebih pedas. Bumbu gulai yang meresap mampu menggoyang lidahku. Perasan jeruk nipis dan rajangan bawang merah memberikan rasa segar dan menghilangkan bau prengus dari daging kambing. Gulai kambing terasa begitu menggoda.

Sajian gulai kambing pak Sabar

Setelah makan, kita langsung menuju taman Garuda. Taman ini baru dibangun tahun lalu dan kini menjadi salah satu tempat nge-hits di kota Semarang, khususnya kawasan Kota Lama. Banyak sekali anak muda yang antri untuk berfoto di tempat itu. Aku pun menunggu hingga sepi, agar mendapatkan foto yang tidak terlalu ramai dengan orang.

Taman Garuda yang terletak di Kawasan Kota Lama Semarang

“Kalo kita kesana”. Kataku kepada Didy, sambil menunjuk sebuah jalan
“Ntar kita ke stasiun Tawang. Disana juga ada Noeris Cafe”.
“Cafenya unik, di dalam cafe banyak terdapat barang jadul”
“Mulai dari radio, piano, sepeda ontel, kamera, piringan musik, hingga gramaphone”
“Desain ruangan dan kursinya juga kuno”
“Menu makanan dan minumannya juga enak Dy. Kamu harus nyoba kapan-kapan”
“Diujung jalan ada pabrik Rokok Praoe Lajar”
“Pabrik rokoknya juga jadul dan masih produksi sampai saat ini”. ceritaku ke Didy.

Pabrik rokok Praoe Lajar
Noeris Cafe
Stasiun kereta api Semarang Tawang

Didy sangat tertarik mendengar ceritaku tentang kawasan Kota Lama. Aku juga memberitahunya jika  setiap tahun di taman Garuda diadakan Garuda Art Festival. Festival diikuti beberapa komunitas kesenian yang ada di kota Semarang dan sekitarnya. Acaranya selalu ramai dan meriah. Tahun kemarin aku juga datang kesini. Kawasan ini juga sering digunakan sebagai tempat foto. Mulai dari foto katalog tahunan sekolah, hunting foto model, hingga foto prewedding. Dulu aku juga foto katalog SMA disini.

“Eeeh…Abis ini aku ajakin kamu liat adu ayam yaa”, kataku pada Didy
“Boleh, dimana tempatnya..?”, jawab Didy singkat.
“Ada di gang sempit samping gedung itu”, jawabku sambil menunjuk sebuah gedung
"Ntar kamu bisa lihat puluhan ayam jago yang siap diadu”, lanjutku
Kita berdua langsung bergegas ke tempat adu ayam.

Semakin jauh kaki ku melangkah,  semakin jauh pula aku merasa tersesat di Kota Lama. Entah mengapa aku merasa tersesat saat mengelilingi kawasan ini, namun saat ini aku hanya bisa menikmati setiap langkahku menyusuri sudut - sudut Kota Lama, bersamanya.

Baca juga Tersesat di Kota Lama Semarang (Bagian 2-Habis)