Friday, April 29, 2016

Kuliner : Selat Solo di Rumah Makan Vien's

Selama ini kota Solo selalu identik dengan budaya Jawa-nya. Namun, perlu kita ketahui bahwa kota Solo juga terkenal dengan kulinernya. Banyak makanan khas yang berasal dari kota ini. Mulai dari nasi liwet, gudeg ceker, soto kuwali, timlo, cabuk rambak, hingga selat solo. Aku pun mencoba untuk mencicipi Selat Solo yang terkenal dengan kelezatan dan kesegarannya. Dari beberapa rumah makan yang menjual Selat Solo, aku memilih rumah makan Vien’s yang sudah terkenal. Orang-orang sering menyebut Selat Solo dengan sebutan Bistik Jawa.

Selat Solo Daging Iga

Rumah makan Vien’s terletak di Ruko Srambatan, jalan Hasanuddin No. 99 Solo. Letaknya masih di sekitar pasar Nongko Solo. Berjarak sekitar 200 meter sebelah barat dari stasiun Balapan. Jika masih bingung, kita bisa minta tolong ke tukang becak untuk mengantarkan ke rumah makan ini. Tempatnya yang strategis memudahkan pengunjung untuk datang dan menikmati sajian masakan di rumah makan ini. Selain Selat Solo, rumah makan ini juga menyediakan sup matahari, nasi timlo dan stup makaroni. Harga di rumah makan ini juga sangat terjangkau.

Rumah Makan Vien's
Daftar harga makanan dan minumannya, terjangkau khan..? ^_^

Aku memesan satu porsi selat daging iga, nasi putih, dan teh panas. Setelah membayar di kasir, tak perlu menunggu waktu yang lama pesananku sudah tersaji di meja. Sebelum dimakan, difoto dulu yaa buat dokumentasi. Posisi makanan diatur dulu, terus di-cekreek. Selat daging iga terdiri dari satu potong daging iga sapi, satu butir telur ayam, kentang goreng, keripik kentang, wortel rebus, buncis rebus, acar mentimun, dan daun selada. Kemudian disiram dengan kuah encer berwarna kecoklatan. Rasanya sedikit asam dan pedas. Sedikit aja yaa pedasnya, agar rasanya lebih segar. Porsinya tidak terlalu banyak, namun sangat mengeyangkan. Kalo masih kurang bisa nambah nasi putih.

Menu ini cuma seharga Rp 14.500,-
Selat Solo Daging Iga *yummy

Rumah makan Vien’s memiliki tempat yang nyaman dan tidak terlalu luas. Penataan kursi dan meja sangat rapi. Meja dan lantai juga terlihat bersih. Walaupun begitu, pengunjung di rumah makan ini sangat ramai, apalagi ketika jam makan siang. Pengunjung datang silih berganti dan tempat ini tak terlihat lengang. Meskipun ramai, pelayanannya terlihat cukup cepat. Para pelayan juga sangat ramah kepada pengunjung.

Suasana di Rumah Makan Vien's
Selat daging iga yang sudah siap untuk disajikan

Untuk masalah harga, kalian ga perlu khawatir kok. Seporsi selat daging iga cuma dibanderol dengan harga Rp 11.000,-. Bayangkan saja dengan harga segitu kita sudah bisa menikmati selat daging iga dan satu butir telur ayam. Secara keseluruhan sangat direkomendasikan untuk makan selat daging iga di rumah makan Vien’s ini. Bahkan setiap kali berkunjung ke kota Solo, aku selalu menyempatkan untuk datang kesini. Selain rasanya yang lezat, harganya juga murah. Seperti kata pak Bondan, maknyus. Maknyus untuk rasa dan harganya.




Friday, April 8, 2016

Visit Semarang Gallery

“Pertemuan antara manusia, budaya, seni dan idealisme dalam sebuah ruang akan selalu menghasilkan keindahan bagi kehidupan manusia seutuhnya”. (Chris Darmawan)

Kutipan diatas merupakan kutipan dari Chris Darmawan, pemilik Semarang Gallery. Beliau seorang kolektor dan filantropi seni. Semarang Gallery beliau dirikan pada tahun 2001 di pusat kota Semarang. Pada tahun 2008, galeri ini pindah lokasi di Jalan Taman Srigunting No. 5-6 Semarang. Galeri ini menempati sebuah bangunan dengan arsitektur kolonial Belanda dan merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang ada di kawasan Kota Lama, Semarang.

Gedung Semarang Gallery

Pada tahun 1822, gedung yang terdiri dari dua lantai ini merupakan tempat tinggal Pastur L. Prisen dan sebagai tempat ibadah umat Katolik sebelum gereja Gedangan didirikan (tahun 1875). Gedung ini kemudian diruntuhkan dan dibangun gedung baru pada tahun 1918.  Gedung ini terletak di tepi jalan Anyer-Penarukan yang dibangun Daendels pada tahun 1811.

Pada tahun 1933, gedung ini ditempati oleh perusahaan asuransi pertama di Indonesia De Indische Lloyd milik Oei Tiong Ham Concern. Selama gedung ini berdiri, gedung ini pernah digunakan sebagai gudang, dealer motor, dan perkantoran. Pada tahun 2007, Chris Darmawan melakukan konservasi terhadap gedung ini. Pada tahun 2008, gedung ini resmi digunakan sebagai Semarang Gallery.

Gedung De Indische Lloyd atau Gedung Semarang Gallery pada tahun 1937

Pembangunan Semarang  Gallery dilandasi oleh komitmen untuk mendedikasikan ruang ini sebagai media yang mengenalkan karya-karya seniman kontemporer Asia, khususnya perupa-perupa Indonesia. Galeri ini memiliki konsistensi untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni rupa. Selain itu, Semarang Gallery juga memiliki reputasi yang terjaga baik dan sekaligus menjadi alternatif bagi standar perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia.

Tiket masuk Semarang Gallery sebesar Rp 10.000,-. Biaya yang cukup murah untuk menikmati indahnya sebuah seni. Pengunjung juga bisa mengambil brosur tentang Semarang Gallery yang terletak di meja petugas tiket. Di lobi depan kita bisa melihat berbagai foto perkembangan gedung Semarang Gallery. Seperti foto gedung ketika bernama De Indische Llyod dan ketika gedung direnovasi. Ada beberapa buku  seni yang bisa dibaca ditempat.

Foto Gedung Semarang Gallery ketika direnovasi
Buku-buku yang ada di lobi depan galeri, Silahkan dibaca...!!!

Aku mulai melangkah ke ruang utama galeri. Kebetulan tidak ada pemeran. Pengunjung juga tidak terlalu ramai. Patung sapi berwarna merah putih dan bergambar Indonesia berdiri tepat di depan pintu masuk. Ada beberapa lukisan yang dipajang di lantai satu galeri, seperti lukisan berjudul Life Story MM dan Circle Cases karya Aan Arif, Batman Square Head dan Face History #3 karya I Gusti Ngurah Udiantara (Tantin) dan lukisan berjudul Expanding Project karya Bambang BP.

Lantai 1 Semarang Gallery
Lantai 1 Semarang Gallery
Lantai 1 Semarang Gallery
Lukisan Batman Square Head dan Expanding Project
Lukisan berjudul Face History #3 karya I Gusti Ngurah Udiantara (Tantin)
Lukisan berjudul Life Story MM karya Aan Arif

Aku mengamati dengan seksama lukisan yang berjudul Circle Cases karya Aan Arif. Di dalam lukisan tersebut sesosok yang mirip Presiden Jokowi dikelilingi oleh para tokoh negeri ini, seperti Megawati Soekarnoputri, SBY, Surya Paloh, Jusuf Kalla, Prabowo, Budi Gunawan, dan masih banyak lagi. Mungkin itu yang ingin digambarkan pelukis tentang apa yang terjadi di negeri ini.

Lukisan berjudul Circle Cases karya Aan Arif

Aku mulai pindah menuju lantai dua gedung Semarang Gallery.  Ada beberapa karya lukisan yang dipajang. Disini lebih variatif dan beraneka ragam. Seperti lukisan karya I Gusti Ngurah Udiantara yang berjudul Lady Rose dan Stranger in Front of The Door serta karya Galam Zulkifli dengan Judul Seri Ilusi Bab 2 No 1. Ada lukisan yang unik, yaitu lukisan karya FX. Harsono yang berjudul Hi It’s Me. Di lukisan yang berobjek manusia itu terdapat sebuah tulisan yang berbunyi “Kata tak selalu bijak, suara tak selalu merdu, pandangan tak selalu awas, cinta tak selalu tulus, menilai diri sendiri tak selalu jujur”.

Lantai 2 Semarang Gallery
Lukisan Lady Rose dan Stranger in Front of The Door
Lukisan FX. Harsono berjudul Hi It’s Me
Lukisan yang ada di lantai 1 dan 2 dalam 1 frame
Lukisan yang ada di lantai 1 dan 2 dalam 1 frame

Selain ada galeri, di dalam gedung Semarang Gallery juga terdapat sebuah perpustakaan dan taman. Taman tersebut bisa digunakan untuk istirahat setelah lelah berkeliling galeri. Di perpustakaan terdapat buku-buku tentang seni. Namun sayang, perpustakaan ditutup untuk pengunjung. Hal itu disebabkan pengunjung yang sering menyalahgunakan ruang perpustakaan tersebut. Padahal perpustakaan tersebut bisa sebagai tempat untuk memperluas pengetahuan pengunjung tentang seni. Di perpustakaan juga terdapat meja dan kursi yang bisa digunakan untuk membaca dan berdiskusi.

Perpustakaan di Semarang Gallery
Taman di Semarang Gallery

Menurut penjaga galeri, ada beberapa ruangan yang ditutup untuk umum oleh pengelola galeri  karena ruangan tersebut sering digunakan pengunjung untuk “mojok”. Selain itu, rata-rata pengunjung disini lebih suka berfoto ria daripada belajar tentang seni, khususnya seni rupa dan patung. Bahkan ada pengunjung yang berfoto sambil menyentuh lukisan yang dipajang, padahal hal itu dilarang oleh pengelola galeri karena bisa merusak lukisan tersebut. Sungguh ironi, karena kurangnya kesadaran pengunjung akan seni telah mengubah galeri menjadi sebuah tempat untuk ajang eksistensi, tanpa sebuah edukasi.

Beberapa larangan ketika mengunjungi galeri:
1. Dilarang membawa makanan dan minuman.
2. Dilarang memegang atau menyentuh karya seni.
3. Dilarang berbuat gaduh di dalam ruang galeri.
Jangan melanggar apa yang sudah jadi aturan yaa. Aturan dibuat tidak untuk dilanggar, namun agar semuanya berjalan dengan baik. Mari kita mulai hargai dan apresiasi sebuah karya seni.

Visit Semarang Gallery…!!!

Monday, April 4, 2016

Lezatnya Gulai Kambing Bustaman Pak Sabar

Tidak semua masakan olahan daging kambing berbau kurang sedap. Jika daging kambing diolah dengan benar, bau kurang sedap akan berubah menjadi masakan yang lezat. Berbagai jenis masakan olahan daging kambing bisa dijumpai dengan mudah. Mulai dari gulai, tengkleng, sate, hingga bistik. Seperti masakan Gulai Kambing Bustaman Pak Sabar Semarang. Rasa gulai ini terasa sangat lezat, sedap dan berbeda dengan gulai lainnya.

Gulai Kambing Bustaman Pak Sabar

Gulai Kambing Bustaman Pak Sabar terletak di kawasan Kota Lama Semarang. Tepatnya dibelakang gereja Blenduk. Cara berjualan gulai kambing ini masih menggunakan warung tenda yang mampu menampung sepuluh orang pengunjung. Buka setiap hari mulai pukul 08:00-16:00. Gulai Kambing Bustaman ini selalu ramai ketika jam makan siang. Resep Gulai Kambing Bustaman sangat terkenal di kota Semarang.

 Warung Gulai Kambing Bustaman Pak Sabar
Bustaman merupakan sebuah kampung yang ada di kota Semarang. Terletak di jalan MT. Haryono. Kampung Bustaman terkenal sebagai pusat pemotongan dan pengolahan daging kambing. Nama Bustaman diambil dari nama seorang kyai, yaitu Kyai Kertoboso Bustam yang juga merupakan kakek buyut dari Raden Saleh. Di kampung Bustaman terdapat Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang dikelola oleh warga. Kampung Bustaman letaknya juga berdekatan dengan kampung Arab, Kampung Pekojan (Koja-India) dan Pecinan (kampung Cina).

Pak Sabar bersama gerobaknya

Setelah lelah berkeliling kawasan Kota Lama, aku menyempatkan diri untuk singgah di warung Gulai Kambing Bustaman Pak Sabar. Entah kapan terakhir makan di warung sederhana ini. Aku memesan seporsi gulai kambing dan satu piring nasi. Aku memperhatikan proses penyajian gulai yang terkenal di kota Semarang ini. Memang ada yang beda dari proses penyajiannya.

Awalnya, daging dan jeroan masih dalam ukuran yang besar. Kita bisa memilih bagian mana yang disajikan dalam pesanan kita. Kemudian daging dan jeroan tersebut dipotong kecil-kecil dan disajikan dalam piring kecil. Potongan daging dan jeroan kemudian disiram dengan kuah gulai yang masih panas. Gulai dan nasi putih disajikan dalam piring yang terpisah. Tapi tak terlalu jauh, agar mereka tak kangen *haiishh. Kita juga bisa menambahkan potongan jeruk nipis dan irisan bawang merah. Rasa kuah gulai menjadi lebih segar dan sedikit asam. Apabila kurang pedas, kita juga bisa menambah gerusan cabai setan. Kuah gulai kambing yang disajikan lebih bening dibandingkan kebanyakan gulai kambing biasanya. Kelapa tidak dibuat santan. Kelapa diparut, kemudian disangrai dan ditumbuk halus bersama bumbu-bumbu rempah lainnya.

Daging dan jeroan kambing yang masih berukuran besar

Daging dan jeroan kambing yang sedang dipotong-potong

Jika kalian berkunjung ke Semarang atau sedang menyusuri Kota Lama, jangan lupa untuk singgah di warung Gulai Kambing Bustaman Pak Sabar. Seporsi gulai kambing seharga Rp 25.000 dan nasi putih Rp 2.000. Walaupun hanya tenda sederhana, namun jangan salah untuk rasa gulai kambingnya. Rasanya sangat lezat dan mampu menggoyang lidah para pengunjung. Ini merupakan salah satu gulai kambing yang paling enak di kota Semarang.

Potongan daging dan jeroan kambing yang disiram dengan kuah gulai

Gerusan cabe apabila kurang pedas

Ketika berada di warung ini, aku merasa tidak ada jarak antara penjual dan pembeli. Kita bisa melihat seluruh proses penyajiannya. Selain itu, kita juga bisa mengobrol dengan Pak Sabar dan para pelayannya. Ini hal yang sederhana, namun sangat berkesan dan rasa tetap jadi juaranya.

Selamat icip-icip :D