Monday, May 23, 2016

Ada Cerita di Sepotong Lunpia Semarang

Lunpia Semarang merupakan salah satu makanan khas dari kota Semarang.  Menurut sejarah, Lunpia Semarang pertama kali diciptakan dan dirintis oleh Tjoa Thay Joe dan Mbok Warsih. Tjoa Thay Joe merupakan pemuda asal China yang merantau di Semarang. Sedangkan Mbok Warsih merupakan perempuan asli Semarang. Pasangan lintas etnis ini berhasil menciptakan Lunpia Semarang dengan kelezatan rasa khas Semarang yang manis-manis asin.

Lunpia Delight Kajamu (Kambing Jantan Muda)

Saat ini Lunpia Semarang telah berkembang hingga lima generasi. Beberapa generasi Lunpia Semarang telah membuka warung mereka di beberapa sudut kota Semarang. Seperti di Gang Lombok di kawasan Pecinan, Jalan Mataram, Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, dan restoran Lunpia Delight di jalan Gajah Mada Semarang. Lunpia Delight didirikan oleh Cik Meme dibantu sang ayah yang juga seorang maestro Lunpia, Tan Yok Tjay. Sedangkan Cik Meme merupakan generasi ke-5 yang mengembangkan Lunpia Semarang.

Silsilah Lunpia Semarang (sumber: lunpiadelight.co.id)

Di tangan dingin Cik Meme inilah Lunpia Semarang mulai dikembangkan dalam beberapa varian rasa.  Varian rasa itu kini menjadi menu andalan di restoran Lunpia Delight yang ia kelola. Varian rasa terdiri dari Lunpia Delight Original, Lunpia Plain, Lunpia Delight RaJa Nusantara (Rasa Jamur Nusantara), Lunpia Delight Fish Kakap, Lunpia Delight KaJaMu (Kambing Jantan Muda), dan Lunpia Delight Crab. Lunpia Delight merupakan restoran yang memiliki paling banyak varian rasa Lunpia Semarang. Lunpia Delight pun disulap sebagai Pintu Gerbang Kuliner Kota Semarang.


Menu Lunpia Delight (sumber: lunpiadelight.co.id)
Lunpia Delight tampak dari depan
Suasana ramah di Lunpia Delight

Kalian ga perlu khawatir, karena semua menu lunpia di Lunpia Delight telah mendapat sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan pada tahun 2014, Lunpia Semarang telah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Selain menjual Lunpia Semarang, Lunpia Delight juga menjual berbagai oleh-oleh khas kota Semarang dan sekitarnya. Seperti bandeng presto, wingko babat, krupuk tenggiri, aneka kue, dll.

 Bisa beli oleh-oleh makanan di Lunpia Delight 

Kesan pertama ketika aku dan temanku memasuki restoran Lunpia Delight adalah keramahan. Keramahan para karyawan ketika menyambut dan melayani kami berdua. Mereka menjelaskan setiap detail menu lunpia yang tersedia kepada kami. Selain itu, kami juga ditawari untuk mendapatkan diskon 25% apabila kami memiliki tiket kereta api dengan rentan waktu perjalanan 1 Desember 2015 hingga 31 Mei 2016.

Salah satu sudut di Lunpia Delight

Aku memesan Lunpia Delight KaJaMu (Kambing Jantan Muda), sedangkan temanku memesan Lunpia Delight Original. Setelah mendapatkan diskon 25%, kami cuma membayar dengan total harga Rp 22.500,.

Lunpia Delight KaJaMu (Kambing Jantan Muda)

Soal rasa ga perlu ditanyakan lagi. Lunpia Delight sangat lezat dan enak. Rebung terasa manis. Udang dan telur pun tidak berbau amis. Kulit lunpia terasa renyah setelah digoreng. Daging kambing jantan muda terasa lezat dilidah. Lunpia disajikan dalam bentuk 4 potongan yang disiram oleh saus yang berwarna coklat. Ditambah beberapa sayuran untuk memperkaya rasa Lunpia Semarang.

Aku sangat terkesan dengan Lunpia Delight. Mulai dari cita rasa Lunpia Semarangnya, kenyamanan tempat hingga pelayanan yang memuaskan. Sudah sepatutnya jika Lunpia Delight menjadi Pintu Gerbang Kuliner Kota Semarang.

Lunpia Delight Pintu Gerbang Kuliner Kota Semarang

Hai kawanku, kunjungilah Lunpia Delight ketika kalian berkunjung ke kota Semarang. Nikmati setiap potongan Lunpia Semarang yang sesuai dengan selera kalian. Ketika kalian menikmati lunpia, berarti kalian telah ikut melestarikan kuliner nusantara. Setiap potongan Lunpia Semarang tidak hanya bercerita tentang cita rasa warisan leluhur. Namun juga tentang akulturasi budaya, kearifan lokal dan perjuangan setiap generasinya.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lunpia Delight Blogging Competition yang diselenggarakan oleh Lunpia Delight



Friday, May 13, 2016

Semarang Night Carnival 2016 : Fantasi Warak Ngendog

Hujan rintik mulai membasahi kawasan Kota Lama Semarang. Para peserta telah siap menghiasi rute karnaval dengan pesona mereka. Mereka bakal menampilkan kemeriahan kostum yang terbalut ditubuh mereka. Kelap-kelip lampu bakal menemani setiap langkah mereka. Semua demi kemeriahan acara Semarang Night Carnival 2016. Semarang Night Carnival 2016 is ready to rock you…!!!

Salah satu peserta dari defile Gigi Hijau

Semarang Night Carnival 2016 digelar untuk memeriahkan Hut Kota Semarang ke 469 Tahun. Semarang Night Carnival pertama kali digelar pada tahun 2010. Semarang Night Carnival 2016 mengambil tema Fantasi Warak Ngendog. Warna kostum yang digunakan merupakan gambaran bagian-bagian  tubuh dari Warak Ngendog. Mulai dari  tanduk yang digambarkan dengan warna ungu, gigi yang digambarkan dengan warna hijau, lidah api yang digambarkan dengan warna merah, sisik yang digambarkan dengan warna kuning, hingga harmoni tubuh yang digambarkan dengan warna biru.

Salah satu peserta dari defile Lidah Api Merah
Salah satu peserta dari defile Sisik Kuning

Warak Ngendog merupakan hewan mitologi yang berkembang di masyarakat kota Semarang sebagai simbol kerukunan berbagai etnis yang tinggal di Semarang. seperti etnis Cina, Arab dan Jawa. Selain itu, Warak Ngendog juga memiliki filosofi hasil pahala yang didapat seseorang setelah menjalani proses suci. Secara harfiah Warak Ngendog bisa diartikan barang siapa yang menjaga kesucian di bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan meneriam pahala di hari Lebaran.

Defile Warak Ngendog
Salah satu peserta dari defile Ungu Tanduk
Salah satu peserta dari defile Harmoni Biru

Semarang Night Carnival 2016 menempuh jarak sejauh 1,3 kilometer dengan rute Gereja Gedangan menuju Jembatan Mberok dengan panggung utama di depan Taman Sri Gunting. Semarang Night Carnival 2016 diikuti oleh 800 peserta yang dibagi dalam beberapa defile. Seperti defile drumband Gema Perwira Samudera dari Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang, Warak Ngendog, History of Semarang Night Carnival,  Semarang Night Carnival 2016, dan Jepara Fashion Carnival.

Defile drumband sedang beraksi di depan panggung utama

Defile Semarang Night Carnival 2016 terdiri dari empat defile, yaitu defile Tanduk Ungu, Gigi Hijau, Sisik Kuning, dan Harmoni Biru. Selain itu, acara juga dimeriahkan oleh penyanyi Mytha Lestari. Acara Semarang Night Carnival dibuka oleh Walikota Semarang, Bapak Hendrar Prihadi.

Untung saja aku punya ID card yang bertuliskan “wartawan” dari panitia. ID card itu berguna ketika harus menerobos petugas keamanan untuk ambil gambar.
“Sakti juga nie kartunya”, batinku

Peserta defile History of Semarang Night Carnival
Peserta defile History of Semarang Night Carnival

Ramainya pengunjung dan sempitnya lokasi memberikan kesulitan untuk mendapatkan gambar yang bagus. Grup drumband mendapatkan kesempatan pertama untuk menunjukkan aksi dan memainkan beberapa lagu di hadapan Bapak Walikota dan para tamu undangan.

Aksi dari defile gigi hijau
Aksi dari defile lidah api merah

Para peserta defile juga berlenggak-lenggok dengan anggun untuk memamerkan kostum dan keahlian menari mereka. Rintik-rintik hujan yang turun tidak mempengaruhi semangat peserta dan antusiasme pengunjung untuk mengikuti acara hingga selesai. Konvoi defile ditutup oleh defile Jepara Fashion Carnival. Acara Semarang Night Carnival 2016 ditutup dengan penampilan Mytha Lestari.

Para pengunjung sangat antusias untuk ber-selfie ria bareng peserta karnaval. Kebetulan aku datang pada sore hari, sebelum dimulai. Sengaja untuk bisa melihat dan mendokumentasikan persiapan para peserta.

Saling kerjasama biar semuanya lancar

Bisa dibilang acara Semarang Night Carnival 2016 sangat meriah dan banyak pengunjung. Hanya saja pemilihan lokasi perlu diperhatikan oleh panitia. Pemilihan lokasi yang tepat akan memberikan kenyamanan kepada peserta ketika performance dan untuk penonton dalam menikmati acara. Sampai jumpa di Semarang Night Carnival 2017.
Semarang Night Carnival is ready to rock…!!!

Sampai jumpa di Semarang Night Carnival 2017

Tuesday, May 10, 2016

Pasar Triwindu, Tempat Berburu Barang Antik di Kota Surakarta

Bagi para pemburu barang antik, Pasar Triwindu di kota Surakarta (Solo) bukanlah tempat yang asing bagi mereka. Seperti halnya pasar barang antik di jalan Surabaya, Jakarta Pusat, pasar Triwindu juga menyediakan berbagai barang antik. Para pemburu barang antik pasti akan betah berlama-lama di Pasar Triwindu.

Patung Punokawan di salah satu kios pedagang pasar Triwindu

Pasar Windujenar atau yang lebih dikenal sebagai pasar Triwindu terletak di jalan Diponegoro atau kawasan Ngarsopura. Tepatnya di seberang pintu gerbang Pura Mangkunegaran. Bangunan pasar terdiri dari dua lantai. Sebagian besar, bangunan pasar ini menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya. Berbeda dengan pasar kebanyakan, pasar Triwindu hanya menjual barang-barang antik saja. Jangan sekali-kali coba cari buah, sembako, sayur atau daging yaa. Dijamin pasti tidak ada. pasar Triwindu diresmikan oleh Pak Jokowi (pas jadi Walikota Surakarta) pada tanggal 17 Juni 2011.

Pasar Triwindu di kota Surakarta

Pagi itu, tampak beberapa pedagang masih membersihkan lapak mereka. Mereka tampak sangat berhati-hati. Beberapa pedagang telah menunggu para pembeli (*baca: pemburu barang antik). Ketika berada di tempat ini, aku seperti sedang menyelami masa lalu. Berada diantara barang-barang yang  dibuat puluhan tahun silam. Kini semuanya terasa jadul. Banyak barang antik yang dijual di lapak-lapak para pedagang, seperti keris, barang pajangan (topeng, patung, vas), lampu hias, keramik, kain batik kuno, uang dan koin kuno, perlengkapan dapur dan makan, alat cap batik, alat penggiling kopi, poster jadul, buku jadul, dll. Bahkan aku bisa menemukan salah satu dolanan jaman dulu, congklak atau dakon. Aku masih ingat benar bagaimana cara memainkannya.

Koleksi keris di pasar Triwindu
Barang antik mulai dari bahan keramik, kaca, hingga lampu hias juga tersedia
Patung Topeng dengan berbagai rupa *nah, mirip khan..!!

Menyusuri setiap lorong pasar dan sesekali ngobrol dengan para pedagang. Mereka bilang tidak semua barang yang dijual adalah barang antik atau jadul. Ada barang tiruan yang dibuat menyerupai dengan barang aslinya. Pembeli harus jeli dalam membedakan barang yang asli dan tiruan. Harga barang sangat bervariasi. Tergantung dari usia, sejarah dan kondisi barang. Tapi yang pasti disini harganya bisa ditawar. Apalagi di pasar Triwindu juga masih menerapkan sistem barter. Harga dan barang bisa diatur, asal cocok dan semuanya sepakat.

Aku menyebutnya dengan sebutan Dakon
Alat penggiling kopi
Seorang pedagang sedang membersihkan alat cap motif batik

Pengunjung pasar Triwindu tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari mancanegara. Aku ketemu beberapa turis yang sedang sibuk bertransaksi. Mereka kagum dengan berbagai barang antik yang dijual di pasar Triwindu. Keunikan  dan keasliannya memang tak bisa dilewatkan begitu saja. Kalau kalian berkunjung ke Surakarta, datanglah ke Pasar Triwindu. Ada lebih dari sekadar barang antik di sana.