Wednesday, June 22, 2016

Trekking Gunung Merapi

“Bu, aku juga pesen bebek goreng yaa, minumnya teh panas”
“Oyaa, kolnya digoreng yaa bu”
Inggih mas…” balas ibu penjual bebek goreng

Menu bebek goreng, nasi putih, dan lalapan telah tersaji di meja kami. Menikmati sajian bebek goreng diantara dinginnya kawasan wisata Selo. Bagi teman-teman yang suka naik gunung, tentunya kawasan wisata Selo, Boyolali bukanlah tempat yang asing bagi mereka. Aku pertama kali kesini tahun 2005. Banyak yang sudah berubah, termasuk bebek goreng yang nikmat ini. Jadi inget kaka kelas yang mirip dengan aku. Hai Mas Yan, makasih untuk Merapi-nya kala itu.

Gunung Merapi dari Pos Pasar Bubrah

Kawasan wisata Selo terletak di kabupaten Boyolali. Kawasan ini bisa ditempuh melalui Boyolali atau Magelang. Kawasan wisata Selo merupakan pintu gerbang pendakian gunung Merapi (2960 mdpl) dan gunung Merbabu (3142 mdpl). Setiap akhir pekan atau libur panjang, kawasan ini ramai oleh para pendaki. Baik pendaki yang akan mendaki gunung Merapi, maupun gunung Merbabu.

Tepat pukul 02:30 dinihari, kita memulai perjalanan mendaki gunung Merapi dari basecamp New Selo. Setelah sebelumnya telah melakukan registrasi dan membayar tiket pendakian sebesar Rp 18.500/orang di basecamp Barameru. Dalam perjalanan itu, aku ditemani oleh Mas Danang, Reikha, Roesli, dan Uda Faiz.

Dinginnya udara dan kencangnya angin memaksa kita untuk terus berjalan. Banyak jalan cabang yang berujung sama tak menjadi hambatan kita. Tepat pukul 04:40 kita telah sampai di pos Watu Belah. Disini terdapat shelter yang bisa dimanfaatkan untuk istirahat para pendaki.

Rasa kantuk dan lelah mulai merasuki tubuh kita. Akhirnya kita putuskan untuk istirahat sebentar. Kebetulan pagi itu aku ga merasa ngantuk. Aku lebih memilih menikmati sunrise di pos Watu Belah, Gunung Merapi.

Sunrise Pos Watu Belah Gunung Merapi

Sinar matahari mulai terlihat. Garis horizon terlihat sejauh mata memandang. Perlahan-lahan sang surya menampakkan wujudnya. Hangat, itu yang pertama kali aku rasakan. Nampak disebelah timur terlihat siluet gunung Lawu. Sedangkan disebelah barat terlihat gunung Sindoro dan  Sumbing. Aah, sunrise yang begitu sempurna di pagi ini.

View Gunung Sindoro-Sumbing

Tepat pukul 06:00, kita melanjutkan perjalanan dari pos Watu Belah. Jalur yang kita lewati bukan jalur umum. Mas danang mengajak kita untuk melewati jalur evakuasi. Jalur evakuasi lebih landai daripada jalur umum. Pagi itu, kami melengkapi perjalanan dengan bercanda.

Tak terasa pukul 09:00 kita telah sampai di Pos Watu Gajah. Aku, Roesli dan Reikha istirahat terlebih dahulu sambil menunggu Mas Danang dan Uda Faiz. Banyak burung jalak yang sedang terlihat mencari makan. Selain itu, terlihat gerombolan kera sedang asyik bergelantungan diatas pohon.

Semangat Uda, Pasar Bubrah sebentar lagi..!!!

Disini ada beberapa tenda dari pendaki lain. Di pos Watu Gajah kita bisa melihat gunung Merbabu yang menjulang tinggi. Puncak Merapi juga terlihat dengan jelas. Tinggal melewati dua bukit lagi kita sampai di Pasar Bubrah. Batas akhir pendakian gunung Merapi.

Hai Pasar Bubrah, akhirnya bisa kesini lagi. Terakhir kesini tahun 2013, dan saat itu langsung lanjut ke puncak gunung Merapi. Namun kali ini aku hanya sampai di Pasar Bubrah saja. Sesuai aturan Badan PVMBG, pendakian gunung Merapi hanya sampai di Pasar Bubrah. Pendaki dilarang melakukan pendakian hingga ke puncak. Atas dasar keamanan dan keselamatan aku enggan ke puncak gunung Merapi.

Full Team (Roesli, Uda Faiz, Reikha, Mas Danang, Aku) *Ketutup Kabut*

Aku hanya ingin menikmati hembusan angin di Pasar Bubrah dan suasana ramainya pendaki beserta dengan tenda mereka. Pasar Bubrah yang berupa batuan bukanlah tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Setidaknya lokasi itu tidak terlalu jauh bagi mereka yang ingin summit ke puncak gunung Merapi.

Puluhan orang terlihat sedang melakukan perjalanan summit. Bahkan ada salah seorang pendaki yang terjatuh ketika menuruni jalur puncak yang berupa pasir. Aku pernah ke puncak Merapi, tapi itu dulu, tahun 2013. Sekarang tak kepikiran untuk menuju puncak Gunung Merapi. Heei kawan, puncak gunung bukanlah segalanya. Bisa kembali dengan selamat dan berkumpul dengan orang-orang yang disayangi  itu lebih penting.

Tuesday, June 14, 2016

Berkunjung ke Pura Mangkunegaran, Surakarta

“Permisi pak, kalo mau ke Pura Mangkunegaran lewat sebelah mana yaa?”
“Masuk aja ke gerbang itu, terus ada bangunan sebelah kanan. Disana nanti ada petugas tiket”
Inggih pak, matur suwun inggih pak”
Inggih mas, sami-sami

Setelah mendapatkan informasi dari seorang bapak-bapak, aku melanjutkan perjalananku menuju sebuah gedung tempat petugas tiket. Aku melihat para perempuan muda yang sedang mengobrol di teras belakang gedung loket masuk. Mereka memperhatikanku, aku coba melempar senyum kepada mereka, namun tak satu pun yang tersenyum balik, apalagi menyapaku. Haissh, sepertinya aku diabaikan. Tak biasanya seperti itu.

Pura Mangkunegaran, Surakarta

“Pagi ibu”, sapaku kepada wanita paruh baya yang berdiri di belakang meja petugas tiket
“Pagi mas, ada yang bisa saya bantu mas?”, tanya  kepadaku
“Saya hendak masuk ke Pura Mangkunegaran. Caranya gimana bu?”
“Mas harus bayar tiket masuknya Rp 10.000,-/orang. Itu belum termasuk tip buat guide
“Oke, makasih bu”, sodorin duit Rp 10.000,-
“Sama-sama mas”,

Setiap pengunjung yang akan memasuki Pura Mangkunegeran diharuskan untuk memakai guide. Hal itu disebabkan karena pengunjung akan memasuki beberapa ruangan penting yang ada di Pura Mangkunegaran. Selain itu, banyak barang-barang antik yang masih terawat dengan baik. Besaran tip untuk seorang guide terserah dari pengunjung, namun menurut petugas tiket besarnya tip rata-rata Rp 30.000,-Rp 50.000,. Pagi itu aku mendapatkan guide seorang perempuan yang bernama Dinda. Dia merupakan siswi magang dari SMK jurusan Pariwisata. Setelah berkenalan, kita berdua langsung menuju Pura Mangkunegaran.

Pura Mangkunegaran dibangun pada tahun 1757 oleh Raden Mas Said yang bergelar Pangeran Sambernyawa (kemudian menjadi Mangkunegara I) setelah sebelumnya melakukan pemberontakan kepada VOC. Pemberontakan berakhir dengan adanya perdamaian antara VOC, Surakarta, dan Yogyakarta melalui perjanjian Salatiga pada tahun 1757. Sebelumnya, pada tahun 1755 terjadi perjanjian Giyanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Setelah pembangunan pura, Raden Mas Said bergelar Mangkunegara I.

Bagian pertama yang kita kunjungi adalah Pendopo Agung. Bentuknya berupa bangunan Joglo yang atapnya disokong dengan empat pilar kayu jati. Di Pendopo Agung terdapat seperangkat gamelan yang masih bisa digunakan. Pendopo Agung sering digunakan untuk pementasan tari. Ada yang terlihat unik di Pendopo Agung, yaitu langit-langit pendopo yang memiliki corak dan warna yang berbeda.

Menurut cerita, setiap warna memiliki filosofi masing-masing. Seperti warna kuning untuk mencegah kantuk, warna biru untuk menghalau musibah, warna hitam untuk mencegah rasa lapar, warna hijau untuk mengobati depresi, warna putih untuk meredam nafsu seks (birahi), warna orange untuk mengatasi ketakutan, warna merah untuk menghalau setan, dan warna ungu untuk menghalau segala yang jahat. Oyaa, kita harus melepas alas kaki (sepatu/sandal) ketika memasuki Pendopo Agung. Setelah dari Pendopo Agung, kita menuju ke Paringgitan.

Paringgitan berbentuk seperti teras Joglo. Paringgitan sering digunakan untuk pementasan wayang kulit. Terdapat foto-foto para raja yang pernah memerintah Pura Mangkunegaran. Selain itu terdapat beberapa patung dan hiasan. Setelah dari Paringgitan, kita akan menuju Dalem Agung.

Paringgitan Pura Mangkunegaran, Surakarta

Dalem Agung merupakan bagian utama dari Pura Mangkunegaran. Kita tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar atau foto. Tak jauh dari Dalem Agung terdapat sebuah museum yang memamerkan benda-benda peninggalan tempo dulu. Seperti lukisan, pakaian raja-raja, senjata kerajaan, dan barang-barang antik lainnya. Setelah dari Dalem Agung, kita bisa menuju Keputren.

Keputren merupakan tempat tinggal putra-putri dari Mangkunegara. Terdapat sebuah taman di depan Keputren. Sehingga menjadikan tempat ini menjadi sejuk dan asri. Kita melanjutkan perjalanan menuju ruang pertemuan dan ruang makan. Kursi dan meja di ruang pertemuan ditata dengan bentuk huruf “U”.

Keputren Pura Mangkunegaran, Surakarta
Ruang Pertemuan di Pura Mangkunegaran, Surakarta

Ruang Makan terletak disebelah ruang pertemuan. Ruangan ini dipenuhi dengan hiasan dan ornamen. Ruang makannya luas dan sangat nyaman. Kemudian kita menyusuri lorong untuk melihat foto-foto keluarga Mangkunegaran. Oya, sekarang Pura Mangkunegaran masih dipimpin oleh Mangkunegara IX.

Salah Satu Sudut Pura Mangkunegaran, Surakarta

Di Pura Mangkunegaran juga terdapat perpustakaan yang terbuka untuk umum. Selain itu, ada kereta kencana yang masih terawat dengan baik. Perjalananku telah usai, aku memberi tip kepada Dinda sambil berucap, “Makasih ya udah ditemani. Ini uangnya ga seberapa, yang penting kamu dapat ilmu dan pengalaman baru”.

Foto Keluarga Pura Mangkunegaran, Surakarta

Perjalanan di Pura Mangkunegaran sangat berkesan. Di sini kita bisa melihat keunikan, keindahan, tradisi, budaya dan sekaligus mengintip kehidupan sebuah keraton. Pura Mangkunegaran adalah destinasi wisata yang wajib dikunjungi ketika kita berkunjung ke kota Surakarta. Suatu saat aku akan berkunjung lagi ke Pura Mangkunegaran.