Thursday, August 25, 2016

Trekking Bukit Selo Arjuno

Gara-gara bangun kesiangan, hari minggu kali ini gagal Car Free Day (lagi). Ada niat trekking tapi ga ada temennya. Padahal lagi pengen banget trekking di gunung atau hutan. Yaa hari minggu kali ini bakal di rumah saja. Mematung di depan laptop. Namun selang beberapa menit, ada info di grup whatsapp yang berisi ajakan untuk trekking ke Bukit Selo Arjuno. Tanpa babibu (baca: pikir panjang) aku langsung mengiyakan untuk ikut trekking.

Bukit Selo Arjuno dilihat dari Puncak Bukit Bligo

Aku langsung tanya mbah google tentang Bukit Selo Arjuno. Ternyata Bukit Selo Arjuno terletak di dusun Watu Lawang, desa Cening, kecamatan Limbangan, kabupaten Kendal. Kalo dari kota Semarang bisa ditempuh kurang lebih dalam waktu 1-1,5 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Kecamatan Limbangan bisa diakses dari Mijen, Gunungpati (kota Semarang), dan Sumowono (kab. Semarang).

Kali ini aku bakal trekking bareng mas Sony, mas Arif dan Ganang (temannya mas Arif). Kita berempat memacu motor dengan kecepatan sedang. Berharap tidak salah jalan, sembari menikmati suasana pedesaan. Akhirnya kita telah sampai di lokasi trekking. Setelah sebelumnya kita harus melewati jalan desa yang rusak parah sejauh 1 Km. Iyaa, rusak parah sejauh 1 Km. Jadi kalian harus berhati-hati ketika melewati jalan ini dan pastikan kendaraan kalian dalam keadaan siap tempur.

Sebelum trekking, kita wajib membayar tiket masuk sebesar Rp 3.000/orang dan biaya parkir Rp 2.000/motor. Bukit Selo Arjuno dikelola secara swadaya oleh warga sekitar. Dana dari tiket masuk digunakan untuk perbaikan fasilitas demi keamanan dan kenyamanan pengunjung. Sejauh ini warga sudah membangun toilet dan jalur untuk trekking. Termasuk tangga besi dan tali untuk mendaki tebing. Selain itu, ada warung yang jual minuman dan makanan ringan. Jangan lupa makanan dan minuman dibeli juga yaa. Dengan membeli makanan dan minuman disana, berarti kalian telah membantu memutar roda perekonomian warga.

It’s time to trekking. Jalurnya sangat jelas. Kita akan melewati perkebunan warga hingga sampai di persimpangan jalan menuju Bukit Selo Arjuno dan Bukit Bligo. Kita memilih untuk trekking ke Bukit Selo Arjuno terlebih dahulu. Setelah itu baru menuju akan menuju Bukit Bligo.

Jalur awal trekking
Perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai. Jalur yang akan kita lewati berupa tanjakan dan tebing. Kita harus menaiki anak tangga yang terbuat dari besi yang dipasang di tebing tanpa alat pengaman. Kemiringan tebing juga terbilang istimewa, yaitu 90 derajat. Yup, bener banget, tebingnya tegak lurus. Sesekali kita harus berpegangan pada akar-akar pohon. Tali pun dipasang guna memudahkan pengunjung untuk melewati tebing.

Manfaatkan tali untuk naik

Aku ga menyangka bakal melewati jalur seperti ini. Berasa sedang rock climbing tanpa alat pengaman yang memadai. Hingga akhirnya kita juga melewati tangga besi yang disusun secara mendatar untuk bisa mencapai puncak. Yeaay, akhirnya kita sampai di puncak Bukit Selo Arjuno.

Naik tangga besi dengan kemiringan 90 derajat.
Puncak Bukit Selo sempit. Mungkin hanya cukup untuk 7-10 orang. Puncaknya berupa batu-batu yang telah dipagari dengan besi. Terdapat bendera Merah Putih sebagai penunjuk puncak. Kita bisa melihat puncak Bukit Bligo yang ada di seberang bukit. Pemandangan yang tersaji sangatlah bagus dan menawan. Kontur perbukitan mengelilingi puncak ini. Namun saat itu langit terlihat mendung  dan angin bertiup kencang.

Kita di puncak Bukit Selo Arjuno *abaikan muka lelah kami

Setelah puas menikmati suasana puncak, kita bersiap untuk turun bukit. Kita akan melewati jalur yang sama dengan yang kita lewati tadi. Melewati anak tangga besi yang terpasang di tebing. Ketika turun, kita bisa memanfaatkan tali untuk repling. Jalur berupa tebing ini membuat perjalanan lebih seru dan menantang. Tapi yang terpenting kalian harus jaga keselamatan dan tetap berhati-hati. Kita berempat akan melanjutkan perjalanan menuju Bukit Bligo.

Bukit Selo Arjuno

BUKIT SELO ARJUNO & BUKIT BLIGO
Dusun Watu Lawang, Desa Cening
Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal 

Tiket Masuk Rp 3.000,-/ orang 
Parkir Rp 2.000,-/ motor



Thursday, August 18, 2016

Djelajah Museum: Museum Geologi, Bandung

Bandung, sebuah kota yang terkenal dengan wisata alam, budaya, kuliner dan fashionnya. Merupakan ibukota provinsi Jawa Barat. Kota ini sering mendapat sebutan sebagai Paris van Java. Letak geografis yang dikeliling pegunungan mengakibatkan udara di kota ini sangat sejuk dan dingin. Menurut para ahli geologi, kota Bandung dulunya merupakan sebuah danau atau cekungan. Cerita tentang terbentuknya kota Bandung pun bisa dibaca di Museum Geologi, Bandung.


Museum Geologi

Setelah puas berfoto di gedung Sate, aku melanjutkan perjalananku menuju Museum Geologi. Letaknya tak terlalu jauh, jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tentunya sambil menikmati sejuknya mojang kota Bandung.

Museum Geologi didirikan pada tanggal 16 Mei 1928. Bangunan bergaya art deco ini dirancang oleh Menalda van Schouwenburg. Dibangun atas inisiatif Lembaga Hindia Belanda Dienst van bet Mijnwezen (Dienst van den Mijnbouw) sebagai Laboratorium Geologi (Geologisch Laboratorium). Museum Geologi telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemkot Bandung. Museum Geologi dikelola oleh Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM).

Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 3.000, aku mengambil peta petunjuk museum yang ada di meja informasi. Peta petunjuk museum bisa diambil secara gratis dan tersedia dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Aku sering mengoleksi buku panduan ketika mengunjungi tempat wisata, salah satunya museum. Buku panduan sangat membantu ketika kita berkeliling museum. Di lobi museum, pengunjung langsung disambut oleh kerangka fosil Gajah Purba (Elephas hysudrindicus) yang ditemukan di kabupaten Blora.


Fosil Gajah Purba (Elephas hysudrindicus)

Museum Geologi terdiri dari dua lantai. Lantai satu berisi tentang sejarah kehidupan dan geologi Indonesia. Sedangkan lantai dua berisi sumber daya geologi dan manfaat dan bencana geologi. Perjalanan pertama kita menyusuri tentang sejarah kehidupan.

Lantai 1 Museum Geologi
Di ruangan Sejarah Kehidupan banyak ditampilkan koleksi fosil dan sejarah kehidupan di setiap periode zaman. Di ruangan ini juga terdapat fosil T-rex (Tyrannosaurus rex). Selain itu, di ruang Sejarah Kehidupan juga terdapat galeri yang menampilkan hewan Vertebrata Indonesia, Manusia Purba dan galeri Bandung. Beberapa fosil yang ada di galeri Vertebrata Indonesia antara lain adalah fosil gajah purba (Stegodon trigonocephalus, Sinomastodon bumiayuensis), badak (Rhinoceros sondaicus), dan kerbau purba (bubalus palaeokerabau).


Fosil T-rex (Tyrannosaurus rex)
Beberapa fosil hewan purba

Di galeri Manusia Purba kita bisa melihat beberapa fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia. Sebagian besar berasal dari pulau Jawa. Seperti fosil tengkorak Homo Erectus (S-17) di Sangiran. Fosil tengkorak Pithecanthropus Erectus dari desa Trinil, kota Ngawi yang ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891. Selain itu, di ruangan Sejarah Kehidupan, tepatnya Galeri Bandung, menampilkan berbagai bukti bahwa Bandung dulunya merupakan sebuah danau. Seperti bentuk morfologi yang berbentuk cekungan, dan fosil ikan air tawar yang menempel pada batuan.


Fosil Homo Erectus

Setelah puas berkeliling di ruangan Sejarah Kehidupan, aku langsung menuju ke ruangan Geologi Indonesia. Di ruangan geologi Indonesia kita bisa melihat berbagai proses geologi (seperti pembentukan planet bumi, batuan, mineral, pelapukan, erosi, pengendapan, tenaga tektonik, dll) dan Geologi Indonesia (gunung berapi, batuan, dan sumber daya geologi, sebaran fauna di Indonesia, dll).
Batuan di ruangan Geologi Indonesia
Salah satu sudut ruangan Geologi Indonesia

Letaknya kepulauan Indonesia yang terletak diantara tiga lempeng kerak bumi (Eurasia, Pasifik, Indo-Australia) menyebabkan Indonesia kaya akan fenomena geologi. Seperti gunung berapi, minyak bumi, mineral, batuan karst, dll. Geologi Indonesia itu rumit, tetapi sangat menarik.

Langkahku terhenti pada salah satu gambar yang menceritakan tentang perbukitan karst yang ada di desa Rogodadi, Gombong, Kebumen. Ternyata perbukitan karst tersebut sangat dekat dengan rumah Mbah Hadi. Tempat aku mudik ketika lebaran kemarin. 

Pegunungan Karst di desa Rogodadi, Gombong, Kebumen

Lantai 2 Museum Geologi
Lantai dua museum Geologi terdiri dari dua ruangan yang bernama ruangan Manfaat dan Bencana Geologi, dan Sumber Daya Geologi. Di ruangan Manfaat dan Bencana Geologi banyak menampilkan benda-benda hasil dari sebuah proses geologi. Selain itu, ada benda-benda yang rusak karena peristiwa geologi, seperti gunung meletus.


Salah satu sudut ruangan Manfaat dan Bencana Geologi

Sedangkan di ruangan Sumber Daya kita bisa melihat berbagai sumber daya yang dihasilkan dalam peristiwa geologi. Seperti minyak dan gas bumi, batubara, briket, panas bumi, batuan mineral, logam, dan air. Informasi yang disampaikan sangat interaktif, sehingga informasi mudah dipahami oleh pengunjung.

Aku merasa kagum dan takjub dengan museum Geologi. Museum ini dikelola dengan sangat baik. Koleksi museum sangat lengkap dan informatif. Apalagi harga tiket masuk sangat terjangkau. Cocok untuk semua kalangan. Tak ayal museum ini tak pernah sepi dari pengunjung. Baik anak-anak maupun orang dewasa. Museum Geologi menjadi destinasi wisata edukasi yang wajib untuk dikunjungi.


Museum Geologi, Bandung

Museum Geologi
Jalan Diponegoro No. 57 Bandung
Telp. (022) 7213822

Jam Kunjungan:
Senin-Kamis 08:00-16:00
Sabtu-Minggu 08:00-14:00
Jumat dan Libur Nasional Tutup

Tiket Masuk:
Pelajar/ mahasiswa: Rp 2.000,-
Umum: Rp 3.000,-
Asing: Rp 10.000,-

Maps Museum Geologi, Bandung

Friday, August 5, 2016

Djelajah Museum: Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Jakarta (dulu dikenal dengan Batavia) merupakan ibukota negara Republik Indonesia. Pada masa lalu, Jakarta (baca Batavia) menjadi saksi perjuangan para pejuang bangsa Indonesia. Mulai dari masa penjajahan Hindia-Belanda, masa penjajahan Jepang, hingga masa setelah bangsa ini memproklamasikan diri sebagai bangsa yang merdeka. Setiap masa selalu meninggalkan cerita dalam bentuk bangunan dan gedung bersejarah. Gedung-gedung bersejarah tersebut hingga saat ini masih berdiri kokoh dan bisa kita kunjungi, salah satunya adalah Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Museum Perumusan Naskah Proklamasi terletak di jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat. Bangunan museum didirikan sekitar tahun 1920-an oleh arsitek Belanda J.F.L Blankenberg. Pada masa kekuasaan Jepang, bangunan ini menjadi tempat tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda. Laksamana Muda Tadashi Maeda merupakan Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang.

Aku mulai menyusuri kawasan Menteng. Berjalan kaki dari stasiun Cikini menuju Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Jarak kedua tempat tersebut sekitar 2 Km. Banyak hal yang aku temui selama berjalan kaki. Mulai dari melihat beberapa kantor kedutaan besar negara sahabat, suasana tenang taman Suropati, hingga menikmati kemegahan gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi dari luar.

Lantai Satu Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Aku disambut dengan ramah oleh penjaga museum yang sedang berjaga. Tiket masuk museum sebesar Rp 2.000/ orang. Selain tiket masuk, pengunjung juga diberikan brosur yang berisi tentang informasi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Di lantai 1 museum terdapat empat ruangan. Ruangan pertama merupakan ruang tamu yang digunakan sebagai tempat bertemu Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Soebardjo dengan tuan rumah, yaitu Laksamana Tadashi Maeda. Di ruangan ini, Bung Karno mengucapkan terima kasih kepada Laksamana Maeda yang telah bersedia meminjamkan kediamannya untuk tempat mempersiapkan proklamasi kemerdekaan.

Ruang Pertemuan Bung Karno, Bung Hatta, Ahmad Soebardjo dengan Laksamana T. Maeda

Ruangan kedua merupakan tempat makan sekaligus tempat rapat. Di ruangan ini, Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Soebardjo menyusun dan merumuskan draft naskah proklamasi. Bung Karno bertugas menulis draft naskah proklamasi, sedangkan Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan.

Ruang Perumusan Draft Naskah Proklamasi (Bung Hatta, Bung Karno, Ahmad Soebardjo)

Setelah draft naskah proklamasi selesai dibuat, Bung Karno membacakannya di sebuah ruangan yang dihadiri oleh para pejuang. Antara lain Ki Hajar Dewantara, Sukarni, Chaerul Saleh, R. Soepomo, B.M. Diah, dan Sayuti Melik. Mereka yang hadir menyetujui draft naskah proklamasi yang dibuat oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo. Kemudian Sukarni mengusulkan Bung Karno dan Bung Hatta untuk menandatanganinya atas nama bangsa Indonesia.

Ruang Persetujuan Draft Naskah Proklamasi

Draft naskah yang sudah disetujui kemudian diketik oleh Sayuti Melik yang ditemani oleh B.M. Diah. Kemudian naskah tersebut ditandatangani oleh Soekarno-Hatta diatas piano yang ada dibawah tangga. Tak jauh dari ruangan yang digunakan untuk pengetikan naskah proklamasi.

Piano dan Ruang Pengetikan Naskah Proklamasi

Tepat pukul 10:00 WIB, tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno yang didampingi Bung Hatta membacakan naskah proklamasi di kediamanan Bung Karno di jalan Pegangsaan Timur, No 56 Jakarta (kini menjadi Tugu Proklamasi Republik Indonesia). Sejak saat itulah Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.

Lantai Dua Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Lantai dua museum terdiri dari empat ruangan. Ruang-ruangan tersebut menampilkan tentang peristiwa menjelang proklamasi, ketika proklamasi, mempertahankan proklamasi dan peninggalan tokoh yang hadir ketika peristiwa perumusan naskah proklamasi.

Salah satu sudut ruangan di lantai 2 Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Selain menampilkan barang-barang peninggalan masa kemerdekaan, Museum Perumusan Naskah Proklamasi juga menampilkan informasi tentang museum dalam bentuk media digital. Media digital dikemas secara lengkap dan interaktif dalam memberikan informasi.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat
No. Telp (021) 3144743

Waktu Buka Museum:
Senin Tutup
Selasa s.d Minggu (08:00-16:00 WIB)
Tiket Masuk
Rp 2.000,-/orang