Sunday, October 30, 2016

12 Jam Bertualang di Kabupaten Karanganyar

Bagi sebagian pendaki gunung di Indonesia tentu sudah tidak asing dengan Kabupaten Karanganyar. Pasti kalian tahu kenapa bisa begitu. Yup bener banget, di Kabupaten Karanganyar terdapat gunung yang terkenal dengan nasi pecel Mbok Yem-nya, yaitu Gunung Lawu. Katanya ini merupakan warung nasi pecel tertinggi di Indonesia. Gimana ga tinggi, lha wong jualannya di dekat puncak Gunung Lawu, heuuheeuu.

Wisata Kabupaten Karanganyar itu tidak cuma Gunung Lawu yaa. Banyak hal yang bisa dieksplore di kabupaten ini. Kalian bisa menikmati keindahan alam dan budaya disini. Seperti trekking di hutan atau gunung, curug, kebun teh, dan candi. Seperti pertualanganku bersama teman-temanku yang bertualang di kabupaten Karanganyar dalam waktu 12 jam.

Kebun Teh Kemuning
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah kebun teh Kemuning. Kebun Teh Kemuning terletak di desa Kemuning, Ngargoyoso, kabupaten Karanganyar. Kami memulai perjalanan dari kota Solo pada pukul 04:30 dan tiba di kebun teh Kemuning pada pukul 06:00. Kebun teh yang terletak di kaki gunung Lawu ini memiliki luas sekitar 437 Ha dengan ketinggian antara 800 hingga 1540 mdpl.

Kebun Teh Kemuning

Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Mentari pagi sudah mulai menampakkan keberadaannya. Kabut tipis masih menari-nari di sekitar hamparan kebun teh. Para pemilik warung mulai menggelar barang-barang yang mereka jajakan. Tampak dari kejauhan terlihat para perempuan pemetik teh telah bersiap-siap untuk memetik pucuk daun teh.

Kami mulai trekking di area Kebun Teh Kemuning. Jalanan berupa jalanan setapak yang berbatu. Mobil sudah bisa melewatinya jalan setapak tersebut. Aku menikmati udara dingin dan pemandangan hijaunya kebun teh. Di Kebun Teh Kemuning, pengunjung dapat melakukan berbagai kegiatan, mulai dari outbound, berkuda, trekking, fotografi, hingga paralayang. Dari berbagai kegiatan tersebut, aku memilih untuk melakukan trekking menyusuri beberapa sudut kebun teh.

Petualangan kami menyusuri kebun teh terhenti ketika melihat beberapa perempuan pemetik teh. Aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan salah seorang dari mereka. Mereka sangat ramah menyambut kedatangan kami. Banyak hal yang kita obrolkan dalam kesempatan itu. Mulai dari darimana kami berasal, usia mereka, sudah berapa lama mereka menjadi pemetik daun teh, waktu terbaik untuk memetik teh, jumlah daun teh yang dipetik,  suka dukanya mereka dalam memetik daun teh, hingga harga daun teh yang dihargai dengan sangat murah.

Perempuan pemetik daun teh di Kebun Teh Kemuning

Aku terkesan dengan mereka. Mereka tetap bersemangat memetik daun teh terbaik meskipun sudah tak muda lagi. Belum lagi ketika musim hujan, mereka hanya menggunakan caping dan plastik untuk melindungi tubuh dari rintikan air hujan. Semangat mereka itu demi menyajikan secangkir teh terbaik diatas meja kita.

Akhirnya kami berpamitan kepada para perempuan tangguh ini. Kami menikmati segelas susu hangat di warung yang ada di sekitar kebun teh sebelum menuju lokasi kedua, yaitu Candi Cetho. Kalo berkunjung ke tempat wisata, jangan lupa beli sesuatu yaa, entah itu makanan, minuman, atau oleh-oleh. Soalnya dengan begitu, kalian telah ikut membantu memutar roda perekonomian masyarakat di sekitar tempat wisata.

Candi Cetho
Destinasi yang kedua adalah Candi Cetho. Letaknya ga terlalu jauh dari Kebun Teh Kemuning. Kira-kira 20 menit. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan hamparan kebun teh dan gunung Lawu yang menjulang tinggi. Sesekali kabut tipis menemani perjalanan kami. Setiap pengunjung akan melewati tanjakan terjal untuk menuju Candi Cetho.

Salah satu gapura Candi Cetho

Jarum jam baru menujukkan pukul 08:45. Namun sudah terlihat beberapa pengunjung di area Candi Cetho. Setelah membayar tiket masuk dan memakai kain sarung, kami bersiap memasuki area candi. Gapura tinggi telah menyambut kedatangan para pengunjung. Area Candi Cetho sangat bersih dan tertata rapi. Belum lagi udara sejuk menambah kenyamanan pengunjung.

Candi Cetho terletak di dusun Ceto, Desa Gumeng, kec. Jenawi, kab. Karanganyar. Menurut sejarah, Candi Cetho dibangun pada abad ke-15 Masehi. Candi ini merupakan candi bercorak agama Hindu. Candi Cetho masih sering digunakan untuk sembahyang atau tempat pemujaan oleh umat agama Hindu. Terletak di lereng gunung Lawu, dengan ketinggian 1496 mdpl. Oleh karena itu, banyak pendaki yang mendaki gunung Lawu via jalur Candi Cetho.

Pelataran Candi Cetho

Di bangunan candi utama terlihat beberapa umat Hindu yang sedang bersembahyang. Saat itu pula kami langsung tenang agar tidak mengganggu mereka yang sedang bersembahyang. Saat di Candi Cetho, pengunjung akan menikmati kabut tipis yang ada di area candi. Kabut tipis dan aroma dupa membuat Candi Cetho terasa lebih magis. Di sekitar Candi Cetho masih ada Pura Saraswati dan Candi Kethek.

Jika kalian mengunjungi tempat wisata yang berfungsi sebagai tempat ibadah, sebaiknya kalian jaga ketenangan dan hormati setiap orang yang sedang beribadah di tempat tersebut. Jangan sampai kedatangan kita malah mengganggu aktivitas ibadah mereka.

Candi Cetho, Kab. Karanganyar

Hari mulai beranjak siang. Sudah saatnya kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi ketiga, yaitu Rumah Teh Ndoro Donker. Kami akan istirahat sejenak dan menikmati secangkir teh disana.

Rumah Teh Ndoro Donker
Rumah Teh Ndoro Donker masih terletak diarea Kebun Teh Kemuning. Rumah Teh Ndoro Donker menyediakan berbagai teh dengan berbagai varian rasa, seperti Black Tea, Green Tea, Jasmine Tea, Orange Tea, Lemon Tea, Peach Tea, Four Red Fruit, Mint Tea, Ocha Tea, Chinese Tea, Blackcurrant Tea, White Tea, Lavender Tea, dan Blueberry Tea. Pengunjung bisa memesan secangkir teh atau satu teko.

Rumah Teh Ndoro Donker

Selain menyediakan varian rasa teh, rumah teh ini juga menyediakan pemandangan hamparan kebun teh. Pengunjung bisa memilih area indoor atau outdoor untuk menikmati teh pesenan mereka. Area indoor diatur menjadi tempat yang santai untuk menikmati sajian teh. Sedangkan di area outdoor, pengunjung bisa menikmati sejuknya udara pegunungan dan hamparan perkebunan teh. Rumah Teh Ndoro Donker juga menyediakan makanan dan cemilan kepada pengunjung.

Area outdoor Rumah Teh Ndoro Donker

Siang itu kami memesan satu teko Blackcurrant Tea untuk lima orang. Sedangkan makanan kita memesan menu Ayam Donker, Soup Iga dan Nasi Goreng.  Selain itu, kami memesan Kentang Goreng dan Ubi Donker untuk cemilannya. Ayam Donker-nya rasanya sangat enak, Juaraa..!!!. Kalo untuk Blackcurrant Tea-nya yaa ga usah ditanya lagi. Rasanya tiada duanya.
Blackcurrant Tea Rumah Teh Ndoro Donker
Ayam Donker

Saran dari aku, ketika kalian mengunjungi sebuah daerah, tidak ada salahnya jika kalian juga menikmati makanan atau minuman asli dari daerah tersebut. Rumah Teh Ndoro Donker bisa menjadi salah satu alternatif untuk menikmati secangkir teh di area Kebun Teh Kemuning. Setelah beristirahat dan makan siang, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, yaitu Candi Sukuh.

Candi Sukuh
Akhirnya sampai di kawasan Candi Sukuh. Letaknya sekitar 20 menit dari Rumah Teh Ndoro Donker. Siang itu Candi Sukuh terlihat sepi. Hanya ada beberapa pekerja bangunan. Candi Sukuh sedang dipugar. Pengunjung tidak dapat mendekat di candi utama. Selain sebagai destinasi wisata, Candi Sukuh masih digunakan sebagai tempat sembahyang dan pemujaan umat agama Hindu. Ingat, jaga ketenangan dan hormati mereka yang sedang beribadah. Karena sedang dipugar, kita hanya sebentar di Candi Sukuh. Kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Candi Sukuh (sumber disini)

Waktu sudah menunjukkan pukul 14:00, akhirnya kita putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhir kita, yaitu Jalan Provinsi Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magetan. Sebetulnya ada beberapa curug yang bisa dijadikan destinasi, seperti Curug Grojogan Sewu dan Curug Jumog. Hanya saja kami memilih untuk menikmati udara sejuk pegunungan di sepanjang jalan lintas provinsi ini.

Jalan Lintas Provinsi Kabupaten Karanganyar - Kabupaten Magetan
Selain udara yang sejuk dan pemandangan yang indah, sepanjang jalan lintas provinsi Kabupaten Karanganyar – Kabupaten Magetan juga berjajar warung-warung makanan. Berbagai menu ditawarkan di warung-warung ini, mulai mie goreng, nasi goreng, bakmi goreng, sate, hingga wedang ronde.

Kami pun berhenti di salah satu warung. Memesan makanan dan minuman sambil menikmati udara sejuk di bawah gunung Lawu. Terlihat para pendaki gunung Lawu beserta ransel-ransel mereka. Aku mengamati keadaan jalan lintas provinsi ini. Jalan lintas provinsi ini terlihat sangat ramai dan kondisi jalan sangat baik. Terlihat aktivitas antara pengunjung dan pemilik usaha warung.

Warung-warung tidak hanya menawarkan menu yang lezat, namun juga menawarkan tempat yang nyaman. Ada beberapa area outbond yang ada di jalan lintas provinsi ini. Pengembangan dan pengelolaan lokasi wisata disini sangat bagus. Wisata mampu memajukan perekonomian sebuah daerah dan menghidupkan interaksi antara pengunjung dan penduduk sekitar.

Sekitar pukul 17:00 kami mengakhiri perjalanan. Kami langsung menuju ke kota Semarang dan melanjutkan aktivitas kami esok hari. Waktu kita hanya 12 jam untuk bertualang di kabupaten Karanganyar. Banyak hal baru yang temui dalam waktu 12 jam ini. Mulai dari para perempuan tangguh dari Kebun Teh Kemuning, toleransi antar umat beragama di Candi Cetho, berbagai macam varian minuman teh di Rumah Teh Ndoro Donker, hingga melihat ramainya pengunjung di Jalan Lintas Provinsi Kabupaten Karanganyar – Kabupaten Magetan. Sampai jumpa di pertualangan lainnya. sebuah perjalanan tidak hanya tentang destinasi, namun lebih dari itu.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah

Saturday, October 22, 2016

Pasar Papringan: Pasar Setiap Minggu Wage

Biasanya kalo minggu pagi pergi ke Car Free Day (CFD) atau jogging. Namun, minggu pagi kemarin aku malah diculik sama Om Sony dan Ache ke sebuah pasar. Mesti bakal diculik ke pasar murah atau pasar tumpah. Namun, ternyata perkiraanku salah. Aku malah diajak ngluyur ke Pasar Papringan. Mereka berkonspirasi sama Mauren dan Deta (si empunya kulkasgendong.com), duo dari Telusuri. Jadilah kita berdelapan orang, termasuk Radhit, Lana, dan Onyong pergi ke Pasar Papringan.

Pasar Papringan

Pasar Papringan digelar di sebuah kebun bambu di Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kandangan, Kabupaten Temanggung. Pasar Papringan pertama kali digelar pada Minggu Wage, tanggal 10 Januari 2016. Digelar setiap hari Minggu Wage, atau setiap 35 hari sekali. Mulai dari pukul 06:00 hingga 12:00. Penggagas Pasar Papringan adalah Bapak Singgih S. Kartono. Beliau juga pendiri komunitas Spedagi (Sepeda Pagi). Pasar Papringan mengusung konsep Culinary, Crafts, dan Agriculture. Banyak keunikan yang bisa ditemui ketika kita datang ke Pasar Papringan.

1,2,3...Ckreek..!!!

Setiap Minggu Wage
Pasar Papringan hanya digelar setiap Minggu Wage, atau setiap 35 hari. Pasar Papringan yang digelar pada tanggal 16 Oktober 2016 merupakan Pasar Papringan #8. Bagiku ini sangat unik, aku harus menunggu selama 35 hari untuk bisa berkunjung kesana lagi. Seperti kata pepatah, selalu ada rindu ketika kita menunggu. Selang waktu selama 35 hari juga bisa digunakan panitia untuk membuat konsep acara yang beda di setiap gelaran Pasar Papringan. Bakal selalu ada yang baru di Pasar Papringan.

Pasar Papringan setiap hari Minggu Wage yaa

Koin Bambu Sebagai Alat Pembayaran
Ketika mengunjungi Pasar Papringan, pengunjung harus menukarkan uang mereka dengan koin bambu atau pring yang berfungsi sebagai alat pembayaran selama di Pasar Papringan. Nominal uang kayu ini dimulai dari nominal 1 Pring hingga 50 Pring. 1 Pring = Rp 1.000. Koin Bambu terbuat dari kayu yang bergambar logo Pasar Papringan dan nominal uang tersebut. Disediakan beberapa tempat penukaran Koin Bambu. Koin Bambu tersebut nanti bisa ditukarkan kembali dengan uang Rupiah.

Tukar uang di Pasar Papringan
Tempat penukaran uang

Kulineran
Di Pasar Papringan, kita bisa menemukan berbagai makanan atau jajanan pasar yang unik atau khas. Seperti getuk, cenil, cetot, singkong goreng, bubur, ketan, klepon, cincau, pecel dan kupat tahu. Beberapa memang amsih bisa aku temui di beberapa pasar di Semarang, namun makan jajanan ini di pasar Papringan ada sensasi tersendiri. Suasana desa dan kebun bambu membuat jajanan ini terasa lebih nikmat.

Makanan dan jajanan yang dijajakan di Pasar Papringan bebas dari MSG, pewarna, dan pemanis buatan. Bahkan, di pasar ini penggunaan plastik ditolak, para pedagang menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Seperti batok, piring lidi atau daun pisang, daun jati, kertas, dll.

Salah satu empat makan di Pasar Papringan. Alhamdulillah laris

Setelah kenyang makan, aku memesan secangkir kopi di sebuah lapak kopi.  Ada tiga macam kopi yang siap disajikan, yaitu kopi robusta Kelingan, Balun, Rowo Seneng, Gesing dan Kopi Arabica Sumbing. Disediakan gula bagi kalian yang ga suka kopi pahit. Harga makanan dan minuman di Pasar Papringan sangat murah. Jangan lupa bayarnya pakai koin bambu yaa.

Ngopi dulu gan..!!!

Barang Kerajinan dan Hasil Kebun atau Pertanian
Di Pasar Papringan ini banyak penjual yang menjual barang kerajinan dan hasil pertanian. Barang kerajinan yang dijual juga sangat unik dan rata-rata terbuat dari kayu. Seperti sepeda kayu, radio kayu, keranjang, tempat sampah kayu, dan kain batik khas temanggung. Barang yang dijual dijamin berkualitas. Apalagi sepeda kayu ini juga udah melanglang buana. Kalian bisa cek di spedagi.org.

Sepeda Kayu
Barang kerajinan yang dijual di Pasar Papringan
Batik di Pasar Papringan

Selain barang kerajinan, ada warga yang menjual hasil kebun dan pertanian, seperti pisang dan singkong, Bahkan ada warga yang menjual pestisida alami untuk tanaman. Bahan pestisida terbuat dari bahan-bahan alami dan sudah terbukti ampuh untuk membunuh hama dan membantu pertumbuhan sebuah tanaman. Teknik menanam secara vertical culture juga ditampilkan di stan yang sama. Mereka dengan senang hati akan berbagi pengetahuan ilmu dan pengalaman tentang pertanian.

Sebelah kanan, menanam dengan cara vertical culture

Dolanan Bocah
Di salah satu sudut pasar, terlihat beberapa anak-anak sedang bermain. Mereka terlihat bersemangat dan ceria. Bener banget, mereka sedang bermainan permainan tradisional. Beberapa relawan menyediakan berbagai permainan tradisional, seperti enggrang, bakiak, dan tali batok. Cukup dengan membayar sebesar 1 Pring (RP 1.000) pengunjung bisa mencoba permainan ini sepuasnya sekaligus mengulang memoar masa kecil dan melestarikan permainan tradisional.

Dolanan bocah di Pasar Papringan

Kini, Pasar Papringan telah dikenal oleh masyarakat luar daerah. Tentu saja menjadi hal yang sangat positif untuk perkembangan sebuah dusun. Sebuah kebun bambu berhasil disulap menjadi sebuah ruang bertemu dan saling memberi manfaat. Pasar Papringan bisa menjadi sebuah inspirasi bagi dusun-dusun lainnya untuk mengembangkan potensi yang ada di dusun mereka dan memberikan manfaat kepada warga dusun.

Selama berada di Pasar Papringan jangan segan-segan untuk membelanjakan uang kalian. Karena dengan begitu, kalian telah membantu perkembangan dusun Kelingan dan keberlanjutan Pasar Papringan. Jangan lupa untuk memberikan kabar baik ini kepada orang-orang yang kalian kenal untuk berkunjung ke Pasar Papringan. Semoga Pasar Papringan tidak hanya menjadi sebuah pasar atau tempat bertransaksi, namun juga menjadi ruang interaksi antara manusia, alam, sosial dan budaya.
Sampai jumpa di Pasar Papringan #9, pada tanggal 20 November 2016

Pasar Papringan
Setiap Minggu Wage
Pukul 06:00-12:00
Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung.
Kontak: 0823-5010-8393
Facebook: Pasar Papringan
Instagram: @desapapringan



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah

Wednesday, October 12, 2016

Meriahnya Salatiga Carnival Center ke-8

Halo kota Salatiga…!!!
Pagi-pagi sudah mlipir ke kota Salatiga nie. Dapat undangan untuk acara pagelaran fashion Salatiga Carnival Center (SCC) yang ke-8. Kota Salatiga thu bisa ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam perjalanan dari kota Semarang. Kota Salatiga memiliki hawa yang sejuk dan suasana yang tenang. Pemandangan megahnya gunung Merbabu bisa dilihat dari kota ini.

Pagelaran Fashion Salatiga Carnival Center ke-8

Acara pagelaran fashion Salatiga Carnival Center 8 digelar pada tanggal 25 September 2016. Pada tahun ini, carnival mengusung tema Unlimited yang berarti sebuah kreativitas tanpa batas yang timbul dari sekumpulan putra-putri terbaik Indonesia. Panggung utama carnival ini terletak di halaman kantor Walikota Salatiga. Setelah dari panggung utama, peserta akan melewati rute Jl. Adi Sucipto, Jl. Moh. Yamin, Jl. Langensuko, Jl. Jenderal Sudirman, Jl. Sukowati, dan kembali lagi ke kantor Walikota Salatiga. Aku mendapatkan undangan untuk menonton carnival ini di kantor Walikota Salatiga.

Tema kostum carnival tahun ini adalah Bludru Kingdom, Carribean Hedron, Suku Asmat, dan Kuda Lumping. Selain itu, ada defile SCC Kids dan SCC Art Wear. Para peserta akan menampilkan keanggunan, kelincahan dan keunikan kostum yang mereka kenakan di depan para pejabat kota Salatiga dan tamu undangan yang hadir. Terdapat stage yang khusus disediakan untuk para media dan fotografer. Aku pun bergabung dengan para fotografer, tanpa id card media atau fotografer.

Defile pertama adalah para Paskibraka kota Salatiga yang membawa bendera dan panji Asian Games 2018. Mereka akan menjadi bagian dari perhelatan event olahraga se-Asia yang akan digelar di Jakarta dan Palembang.

Defile selanjutnya adalah defile SCC kids. Sesuai namanya, peserta terdiri dari anak-anak dengan berbagai kelompok umur. Mereka terlihat semangat untuk menampilkan kemampuan mereka dalam mengenakan kostum. Tak ayal, penampilan mereka berhasil memukau para penonton. Mereka terlihat lucu dan menggemaskan. Berjalan berlenggak-lenggok dengan mengenakan kostum yang unik.

Defile Salatiga Carnival Center Kids

Defile SCC Art Wear kemudian menyusul dibelakangnya. Kostum yang mereka kenakan didominasi oleh warna biru langit yang dipadukan dengan berbagai aksesoris lainnya. Seperti corak batik dan topeng. Defile ini tampil sangat elegan dengan kostum mereka. Diantara peserta defile ini, ada Presiden Direktur Salatiga Carnival Center, Theodurus Gary Natanael yang juga ikut ambil bagian memakai kostum untuk memeriahkan acara.

Defile Salatiga Carnival Center Art Wear

Defile Salatiga Carnival Center Art Wear
Salah satu peserta defile Salatiga Carnival Center Art Wear

Defile Bludru Kingdom pun tak kalah meriahnya. Para peserta ini mampu mempesona dengan kostum mereka. Seperti namanya, para peserta mengenakan kostum yang didominasi dengan kain bludru. Kain bludru dikolaborasikan dengan tema kejayaan kerajaan-kerajaan di Indonesia.

Defile Bludru Kingdom
Salah satu peserta defile Bludru Kingdom
Salah satu peserta defile Bludru Kingdom
Kemudian disusul oleh defile Kuda Lumping. Defile ini mengusung kebudayaan asli Indonesia. Defile ini mengingatkan kita pada permainan tradisional kuda lumping atau jaran kepang. Para peserta tidak lupa untuk membawa properti yang sering digunakan dalam permainan Kuda Lumping. Seperti jaranan, cambuk, dan topeng.

Defile Kuda Lumping
Salah satu peserta defile Kuda Lumping

Setelah defile Kuda Lumping, defile Carribean Hedron bersiap-siap tampil dengan kostum yang didominasi dengan warna hitam. Kostum bajak laut ini dilengkapi dengan berbagai aksesoris yang berhubungan dengan bajak laut. Mulai dari kemudi kapal, pedang, tongkat, hingga gambar tengkorak.

Defile Carribean Hedron
Salah satu peserta defile Carribean Hedron

Defile suku Asmat menjadi defile pameran kostum di acara Salatiga Carnival Center. Defile ini menampilkan kostum dengan aksesoris suku dari Papua tersebut. Suku yang terkenal dengan ukiran kayunya tersebut telah memberikan inspirasi kepada peserta untuk menerapkannya dalam bentuk kostum.

Defile Suku Asmat
Salah satu peserta defile Suku Asmat
Salah satu peserta defile Suku Asmat
Salah satu peserta defile Suku Asmat

Akhirnya rombongan drumband perkusi menutup acara Salatiga Carnival Center 8. Pagelaran fashion Salatiga Carnival Center berlangsung sangat meriah. Pertama kali digelar pada tahun 2008. Aku ga nyangka jika carnival ini telah memasuki tahun ke-8. Pagelaran fashion Salatiga Carnival Center 8 ini diharapkan bisa menjadikan kota Salatiga sebagai World Culture Fashion Carnival City. Sampai jumpa di Salatiga Carnival Center 9 dalam tema The Victory pada tahun 2017.

Salatiga Carnival Center
Contact Person:
No. HP: 0812-2641-1442

Wednesday, October 5, 2016

TripHore 7: Ada Batik di Basecamp Mawar

Selamat Hari Batik Nasional…!!!
Seperti yang kita ketahui, setiap tanggal 2 Oktober kita selalu memperingati Hari Batik Nasional. Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan Batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Setiap tanggal 2 Oktober, pemerintah menganjurkan kepada setiap elemen masyarakat, mulai dari pejabat, PNS, karyawan, hingga anak sekolah untuk mengenakan pakaian batik. Berdasarkan anjuran tersebut,  teman-teman Backpacker Semarang menggunakan batik sebagai tema acara mereka.

Selamat Hari Batik Nasional

TripHore sudah menjadi agenda tiap tahun Backpacker Semarang. Tahun ini TripHore sudah memasuki periode ke-7. Acaranya berupa kemping ceria yang diisi dengan berbagai games. Tujuan utamanya untuk mengakrabkan antar anggota Backpacker Semarang. TripHore 7 diadakan di camping ground Basecamp Mawar, Gunung Ungaran pada tanggal 1-2 Oktober 2016. Karena bertepatan dengan tanggal 2 Oktober yang merupakan Hari Batik Nasional, panitia mengusung tema Kemping Asyik, Nuansa Batik pada TripHore 7.

Semua Pakai Batik khan

TripHore 7 diikuti oleh sekitar 60 orang peserta. Peserta berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari yang masih sekolah (SMA & SMK), kuliah, kerja, hingga mereka yang sudah berkeluarga. Bahkan mereka juga mengajak anak mereka untuk kemping bersama. Selain itu, peserta tidak hanya berasal dari kota Semarang dan sekitarnya, namun juga ada peserta yang berasal dari Bandung, Malang, dan Jakarta. Peserta TripHore kali ini memang luar biasa. *acungi jempol*

Peserta dan panitia mengenakan baju atau aksesoris batik. Mereka berkumpul dan dikelilingi oleh tingginya pohon pinus dan tenda-tenda yang berwarna-warni. Semua tampak ceria dalam balutan berbagai corak batik. Kabut pagi pun tak mampu menutupi aneka corak batik ini. Ini baru namanya Kemping Asyik, Nuansa Batik.

Aku yang pakai baju lurik yaa :))

Semuanya bersiap-siap untuk berfoto bersama sebagai momen merayakan Hari Batik Nasional. Acara selanjutnya berupa games untuk semua peserta. Panitia memberikan games secara berkelompok. Kelompok sudah dibagi pada hari sebelumnya. Games pertama adalah berburu bendera.

Setiap kelompok diberi tugas untuk mencari bendera dengan warna yang sesuai dengan kertas petunjuk yang dibagikan. Bendera diletakkan di sekitar area kemping. Bendera-bendera tersebut berisi potongan kata yang nantinya harus dirangkai dengan potongan-potongan kata yang terdapat di bendera lainnya untuk membentuk dua kata yang  berarti jawaban dari petunjuk tersebut.

Mencari jawaban sesuai petunjuk

Games berlangsung sangat seru. Setiap kelompok bersemangat untuk mencari bendera di setiap sudut area kemping. Mulai dari sekitar tenda, di bawah pohon, hingga di sekitar rerumputan. Mereka mencari dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh panitia. Jawaban dari petunjuk tersebut masih berhubungan dengan destinasi tempat wisata. Hampir semua peserta bisa menyelesaikan games ini.

Pemenang Games Berburu Bendera

Games selanjutnya adalah memasukkan pensil ke dalam botol secara berkelompok. Pasti udah kebayang gamesnya kayak gimana. Tapi ini beda, peserta diminta untuk menutup mata. Mereka akan diarahkan oleh salah satu teman kelompoknya. Sepertinya gampang, tapi ternyata ga segampang yang dipikirin. Tapi yaa tetep ada pemenangnya kok. Inti permainan ini adalah kekompakan dan kepercayaan. Iyaa, Kepercayaan…!!!

Games memasukkan pensil ke dalam botol
Pemenang lomba memasukkan pensil dalam botol *tetap fokus yaa*

Kedua games telah selesai dilaksanakan. Saatnya pembagian hadiah kepada pemenang. *yeeaay, padahal ga dapat hadiah*. Mereka mendapatkan berbagai hadiah menarik. Oyaa, hadiah-hadiah ini merupakan swadaya dari panitia lho. Kebetulan aku ikut menyumbang postcard. Postcard-nya aku desain sendiri dan foto-fotonya berasal koleksi fotoku ketika nge-trip. Kalo mau postcard, bisa hubungi aku yaa. *iklan dulu yaa*

TripHore 7, Aku Kemping Mergo Koe, Dek

Acara udah kelar, namun semuanya masih enggan beranjak dari area kemping. Masih ingin merasakan serunya acara TripHore 7. Kita pun tak lupa untuk ber-wefie ria. Saling bertukar ID dan mengenal lebih dekat antar peserta. Semuanya meluapkan kegembiraan dan keceriaan. Kita sebagai panitia sangat senang karena acara TripHore 7 berjalan lancar dan seru. Semua peserta sangat antusias dan mendapatkan pengalaman yang berkesan. Mereka berharap bisa bergabung diacara Backpacker Semarang selanjutnya. Peserta puas, apalagi panitia. Sangat Puas..!!!

Sampai Jumpa Diacara Selanjutnya

Sampai Jumpa diacara selanjutnya
Salam Ransel..!!!