WHAT'S NEW?
Loading...

12 Jam Bertualang di Kabupaten Karanganyar

Bagi sebagian pendaki gunung di Indonesia tentu sudah tidak asing dengan Kabupaten Karanganyar. Pasti kalian tahu kenapa bisa begitu. Yup bener banget, di Kabupaten Karanganyar terdapat gunung yang terkenal dengan nasi pecel Mbok Yem-nya, yaitu Gunung Lawu. Katanya ini merupakan warung nasi pecel tertinggi di Indonesia. Gimana ga tinggi, lha wong jualannya di dekat puncak Gunung Lawu, heuuheeuu.

Wisata Kabupaten Karanganyar itu tidak cuma Gunung Lawu yaa. Banyak hal yang bisa dieksplore di kabupaten ini. Kalian bisa menikmati keindahan alam dan budaya disini. Seperti trekking di hutan atau gunung, curug, kebun teh, dan candi. Seperti pertualanganku bersama teman-temanku yang bertualang di kabupaten Karanganyar dalam waktu 12 jam.

Kebun Teh Kemuning
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah kebun teh Kemuning. Kebun Teh Kemuning terletak di desa Kemuning, Ngargoyoso, kabupaten Karanganyar. Kami memulai perjalanan dari kota Solo pada pukul 04:30 dan tiba di kebun teh Kemuning pada pukul 06:00. Kebun teh yang terletak di kaki gunung Lawu ini memiliki luas sekitar 437 Ha dengan ketinggian antara 800 hingga 1540 mdpl.

Kebun Teh Kemuning

Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Mentari pagi sudah mulai menampakkan keberadaannya. Kabut tipis masih menari-nari di sekitar hamparan kebun teh. Para pemilik warung mulai menggelar barang-barang yang mereka jajakan. Tampak dari kejauhan terlihat para perempuan pemetik teh telah bersiap-siap untuk memetik pucuk daun teh.

Kami mulai trekking di area Kebun Teh Kemuning. Jalanan berupa jalanan setapak yang berbatu. Mobil sudah bisa melewatinya jalan setapak tersebut. Aku menikmati udara dingin dan pemandangan hijaunya kebun teh. Di Kebun Teh Kemuning, pengunjung dapat melakukan berbagai kegiatan, mulai dari outbound, berkuda, trekking, fotografi, hingga paralayang. Dari berbagai kegiatan tersebut, aku memilih untuk melakukan trekking menyusuri beberapa sudut kebun teh.

Petualangan kami menyusuri kebun teh terhenti ketika melihat beberapa perempuan pemetik teh. Aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan salah seorang dari mereka. Mereka sangat ramah menyambut kedatangan kami. Banyak hal yang kita obrolkan dalam kesempatan itu. Mulai dari darimana kami berasal, usia mereka, sudah berapa lama mereka menjadi pemetik daun teh, waktu terbaik untuk memetik teh, jumlah daun teh yang dipetik,  suka dukanya mereka dalam memetik daun teh, hingga harga daun teh yang dihargai dengan sangat murah.

Perempuan pemetik daun teh di Kebun Teh Kemuning

Aku terkesan dengan mereka. Mereka tetap bersemangat memetik daun teh terbaik meskipun sudah tak muda lagi. Belum lagi ketika musim hujan, mereka hanya menggunakan caping dan plastik untuk melindungi tubuh dari rintikan air hujan. Semangat mereka itu demi menyajikan secangkir teh terbaik diatas meja kita.

Akhirnya kami berpamitan kepada para perempuan tangguh ini. Kami menikmati segelas susu hangat di warung yang ada di sekitar kebun teh sebelum menuju lokasi kedua, yaitu Candi Cetho. Kalo berkunjung ke tempat wisata, jangan lupa beli sesuatu yaa, entah itu makanan, minuman, atau oleh-oleh. Soalnya dengan begitu, kalian telah ikut membantu memutar roda perekonomian masyarakat di sekitar tempat wisata.

Candi Cetho
Destinasi yang kedua adalah Candi Cetho. Letaknya ga terlalu jauh dari Kebun Teh Kemuning. Kira-kira 20 menit. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan hamparan kebun teh dan gunung Lawu yang menjulang tinggi. Sesekali kabut tipis menemani perjalanan kami. Setiap pengunjung akan melewati tanjakan terjal untuk menuju Candi Cetho.

Salah satu gapura Candi Cetho

Jarum jam baru menujukkan pukul 08:45. Namun sudah terlihat beberapa pengunjung di area Candi Cetho. Setelah membayar tiket masuk dan memakai kain sarung, kami bersiap memasuki area candi. Gapura tinggi telah menyambut kedatangan para pengunjung. Area Candi Cetho sangat bersih dan tertata rapi. Belum lagi udara sejuk menambah kenyamanan pengunjung.

Candi Cetho terletak di dusun Ceto, Desa Gumeng, kec. Jenawi, kab. Karanganyar. Menurut sejarah, Candi Cetho dibangun pada abad ke-15 Masehi. Candi ini merupakan candi bercorak agama Hindu. Candi Cetho masih sering digunakan untuk sembahyang atau tempat pemujaan oleh umat agama Hindu. Terletak di lereng gunung Lawu, dengan ketinggian 1496 mdpl. Oleh karena itu, banyak pendaki yang mendaki gunung Lawu via jalur Candi Cetho.

Pelataran Candi Cetho

Di bangunan candi utama terlihat beberapa umat Hindu yang sedang bersembahyang. Saat itu pula kami langsung tenang agar tidak mengganggu mereka yang sedang bersembahyang. Saat di Candi Cetho, pengunjung akan menikmati kabut tipis yang ada di area candi. Kabut tipis dan aroma dupa membuat Candi Cetho terasa lebih magis. Di sekitar Candi Cetho masih ada Pura Saraswati dan Candi Kethek.

Jika kalian mengunjungi tempat wisata yang berfungsi sebagai tempat ibadah, sebaiknya kalian jaga ketenangan dan hormati setiap orang yang sedang beribadah di tempat tersebut. Jangan sampai kedatangan kita malah mengganggu aktivitas ibadah mereka.

Candi Cetho, Kab. Karanganyar

Hari mulai beranjak siang. Sudah saatnya kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi ketiga, yaitu Rumah Teh Ndoro Donker. Kami akan istirahat sejenak dan menikmati secangkir teh disana.

Rumah Teh Ndoro Donker
Rumah Teh Ndoro Donker masih terletak diarea Kebun Teh Kemuning. Rumah Teh Ndoro Donker menyediakan berbagai teh dengan berbagai varian rasa, seperti Black Tea, Green Tea, Jasmine Tea, Orange Tea, Lemon Tea, Peach Tea, Four Red Fruit, Mint Tea, Ocha Tea, Chinese Tea, Blackcurrant Tea, White Tea, Lavender Tea, dan Blueberry Tea. Pengunjung bisa memesan secangkir teh atau satu teko.

Rumah Teh Ndoro Donker

Selain menyediakan varian rasa teh, rumah teh ini juga menyediakan pemandangan hamparan kebun teh. Pengunjung bisa memilih area indoor atau outdoor untuk menikmati teh pesenan mereka. Area indoor diatur menjadi tempat yang santai untuk menikmati sajian teh. Sedangkan di area outdoor, pengunjung bisa menikmati sejuknya udara pegunungan dan hamparan perkebunan teh. Rumah Teh Ndoro Donker juga menyediakan makanan dan cemilan kepada pengunjung.

Area outdoor Rumah Teh Ndoro Donker

Siang itu kami memesan satu teko Blackcurrant Tea untuk lima orang. Sedangkan makanan kita memesan menu Ayam Donker, Soup Iga dan Nasi Goreng.  Selain itu, kami memesan Kentang Goreng dan Ubi Donker untuk cemilannya. Ayam Donker-nya rasanya sangat enak, Juaraa..!!!. Kalo untuk Blackcurrant Tea-nya yaa ga usah ditanya lagi. Rasanya tiada duanya.
Blackcurrant Tea Rumah Teh Ndoro Donker
Ayam Donker

Saran dari aku, ketika kalian mengunjungi sebuah daerah, tidak ada salahnya jika kalian juga menikmati makanan atau minuman asli dari daerah tersebut. Rumah Teh Ndoro Donker bisa menjadi salah satu alternatif untuk menikmati secangkir teh di area Kebun Teh Kemuning. Setelah beristirahat dan makan siang, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, yaitu Candi Sukuh.

Candi Sukuh
Akhirnya sampai di kawasan Candi Sukuh. Letaknya sekitar 20 menit dari Rumah Teh Ndoro Donker. Siang itu Candi Sukuh terlihat sepi. Hanya ada beberapa pekerja bangunan. Candi Sukuh sedang dipugar. Pengunjung tidak dapat mendekat di candi utama. Selain sebagai destinasi wisata, Candi Sukuh masih digunakan sebagai tempat sembahyang dan pemujaan umat agama Hindu. Ingat, jaga ketenangan dan hormati mereka yang sedang beribadah. Karena sedang dipugar, kita hanya sebentar di Candi Sukuh. Kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Candi Sukuh (sumber disini)

Waktu sudah menunjukkan pukul 14:00, akhirnya kita putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhir kita, yaitu Jalan Provinsi Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magetan. Sebetulnya ada beberapa curug yang bisa dijadikan destinasi, seperti Curug Grojogan Sewu dan Curug Jumog. Hanya saja kami memilih untuk menikmati udara sejuk pegunungan di sepanjang jalan lintas provinsi ini.

Jalan Lintas Provinsi Kabupaten Karanganyar - Kabupaten Magetan
Selain udara yang sejuk dan pemandangan yang indah, sepanjang jalan lintas provinsi Kabupaten Karanganyar – Kabupaten Magetan juga berjajar warung-warung makanan. Berbagai menu ditawarkan di warung-warung ini, mulai mie goreng, nasi goreng, bakmi goreng, sate, hingga wedang ronde.

Kami pun berhenti di salah satu warung. Memesan makanan dan minuman sambil menikmati udara sejuk di bawah gunung Lawu. Terlihat para pendaki gunung Lawu beserta ransel-ransel mereka. Aku mengamati keadaan jalan lintas provinsi ini. Jalan lintas provinsi ini terlihat sangat ramai dan kondisi jalan sangat baik. Terlihat aktivitas antara pengunjung dan pemilik usaha warung.

Warung-warung tidak hanya menawarkan menu yang lezat, namun juga menawarkan tempat yang nyaman. Ada beberapa area outbond yang ada di jalan lintas provinsi ini. Pengembangan dan pengelolaan lokasi wisata disini sangat bagus. Wisata mampu memajukan perekonomian sebuah daerah dan menghidupkan interaksi antara pengunjung dan penduduk sekitar.

Sekitar pukul 17:00 kami mengakhiri perjalanan. Kami langsung menuju ke kota Semarang dan melanjutkan aktivitas kami esok hari. Waktu kita hanya 12 jam untuk bertualang di kabupaten Karanganyar. Banyak hal baru yang temui dalam waktu 12 jam ini. Mulai dari para perempuan tangguh dari Kebun Teh Kemuning, toleransi antar umat beragama di Candi Cetho, berbagai macam varian minuman teh di Rumah Teh Ndoro Donker, hingga melihat ramainya pengunjung di Jalan Lintas Provinsi Kabupaten Karanganyar – Kabupaten Magetan. Sampai jumpa di pertualangan lainnya. sebuah perjalanan tidak hanya tentang destinasi, namun lebih dari itu.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah

20 komentar: Leave Your Comments

  1. duh hamparan hijaunya kebun teh bikin adem..

    BalasHapus
    Balasan
    1. di bandung jg banyak kebun teh mas budy :D

      Hapus
  2. Aku rencanya tgl 18 nov nanti ke Kemuning. Pengennya seharian aja di sana buat sante heheheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan lupa bawa hammock mas...biar lebih santai...hhehhehe

      Hapus
    2. Mas kalau di sana ada outbondnya, itu bisa pas datang langsung ikut outbond atau gak ya? Ada teman satu keluarga yg mau ikut ahahhaha

      Hapus
  3. kangen suasana pagi di candi Cetho :(

    BalasHapus
  4. tanjakan terakhir ke Cetho itu mantep ya mas :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa...untung sopirnya udah pengalaman :D

      Hapus
  5. Sudah lama ndak mampir karanganyar, dulu pas mampir belum kesampaian ke candi cethonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. berarti perlu ke karanganyar lagi mas :D

      Hapus
  6. kemuning selalu suka. ada bakso bakar di sana. pas adem2 makan bakso enak banget wkwkw
    wah. candi cethonya apik masss. pengen ke sini

    salam kenal
    hanif insanwisata(dot)com

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo sudah di kemuning bisa lanjut ke candi cetho mas...jaraknya sudah deket kok :D

      Hapus
  7. Dari semua daftar ini saya baru ke Candi Sukuh. Pas itu selesai hujan, jadi kabutnya naik aduhay banget deh pemandangannya. Pengen ke tempat-tempat lainnya, Cetho, Kemuning, Ndoro Dongker, ngadem sambil leyeh-leyeh disana sepertinya menarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin bisa jadi satu paket perjalanan kak sash..ayok buka open trip kesana :D hahhahaa

      Hapus
  8. Aku pas awal lewat teh ndoro itu penasaran pool mas. Kok yo rame bangett. Eh ternyata dia menyajikan banyak ragam teh ya mas. Untuk harga2nya gimana mas ? Hauahah kantongabel gak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa rame banget tempatnya. soal harga masih terjangkau, apalagi klo rame-rame..hehheehe

      Hapus
  9. Pemandangannya asyik ya. Hijau hijau, memang pas buat trekking. Masuk ke areanya bayar ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. masuk ke area bayar, karena saya datang jm 6 pagi, jadinya ga ada yang narik retribusi :D

      Hapus
  10. Santai itu saat berjalan di tempat yang sepi dan heing
    jauh dari perkotaan

    BalasHapus