Thursday, November 24, 2016

Serunya 8th Jogja International Heritage Walk

Pagi-pagi kami sudah berkumpul di daerah Imogiri, Bantul, DIY. Deket kota Jogja, kota yang selalu istimewa. Kota dimana aku dan dia mulai saling mengenal. Tepatnya kita lagi berada di Lapangan Selopamioro, kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Jadi pada hari ini (Minggu, 20 November 2016) aku dan teman-teman Backpacker Semarang akan mengikuti event 8th Jogja International Heritage Walk.

Jogja International Heritage Walk

Jogja International Heritage Walk pertama kali diadakan pada tahun 2008. 8th Jogja International Heritage Walk (JIHW) diadakan selama dua hari, tanggal 19-20 November 2016. Hari pertama JIHW mengambil rute di Candi Prambanan dengan jarak 5Km, 10Km, dan 20Km. Sedangkan hari kedua digelar di Imogiri dengan jarak 2Km, 12Km, dan 20Km. Kami memilih rute Imogiri dengan jarak 12Km. Tema yang diambil dalam JIHW adalah Save The Nature, Respect The Culture.

Mari kita jalan..!!

JIHW telah dikukuhkan sebagai anggota ke-27 Liga Jalan Kaki Dunia atau International Maching League (IML) pada 7 Mei 2013 di Chantonnay, Prancis. Indonesia merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang menjadi anggota dari IML. Karena ini event internasional, pesertanya tidak hanya berasal dari Indonesia, namun juga dari berbagai negara, antara lain adalah USA, Belanda, Belgia, Jepang, Korea Selatan, Finlandia, Prancis, Swiss, Italia, Ceko, Rusia, Denmark, Norwegia, Autralia, Inggris, dll.

Mari kita jalan kaki…!!
Sesuai dengan temanya yaitu Save The Nature, Respect the Culture, peserta akan diajak melewati rute yang menampilkan pemandangan alam dan melihat budaya serta kehidupan warga Imogiri. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan perbukitan, persawahan, aliran sungai dan perkampungan. Peserta juga diajak melewati Jembatan Kuning. Jembatan Kuning ini bisa dilihat dari kebun buah Mangunan.

Menyusuri jalanan kampung
Melewati Jembatan Kuning

Selain menikmati pemandangan, peserta juga diajak untuk mengenal budaya yang ada. Mulai dari keramahan masyarakat, jajanan kampung, buah hasil perkebunan warga, hingga proses membatik. Di Check Point 1, peserta diajari membuat pola batik. Kemudian di Rest Area 5 dilakukan perwarnaan pada kain batik. Selanjutnya akan dilakukan pelunturan malam di tempat finish di Lapangan Selopamioro. Untuk memeriahkan acara JIHW, warga sekitar juga mengadakan festival di kampung-kampung mereka.

Makanan kecil yang disediakan panitia
Keris di salah satu Check Point
Peserta mancanegara antusias ikut membatik

Kami berjalan menyusuri kampung. Masuk kampung satu dan keluar di kampung lainnya. Tak lupa untuk menyapa masayarakat sekitar. Mereka dengan ramah dan antusias melihat setiap peserta yang melintas. Ada beberapa peserta mancanegara yang memberikan bendera kecil negara mereka kepada anak-anak kecil. Bahkan mereka mengajak foto peserta dari negara lain. Ga ada yang mengajak foto kami, hiiks.

Festival yang ada di rute Jogja International Heritage Walk
Kain batik yang sudah diwarnai

Akhirnya, pada pukul 11:30 kami sudah tiba di garis finish di Lapangan Selopamioro. Kami jalan kakinya santai. Ga mengejar waktu dan berusaha menikmati aja. Aku merasa perjalanan tadi sangat seru. Mungkin tahun depan ikut lagi dengan jarak 20Km dan fokus pada pencapaian waktu tercepat. Oyaa, aku terinspirasi oleh peserta dari mancanegara. Rata-rata mereka sudah berusia lebih dari 50 tahun dan mengambil rute 20Km untuk rute Candi Prambanan dan Imogiri. Mereka jauh-jauh datang ke Indonesia. Mereka terlihat sangat bersemangat dan antusias untuk mengikuti event ini. Beberapa peserta menunjukan koleksi pin mereka yang berasal dari berbagai negara. Mungkin mereka rutin mengikuti event seperti ini di berbagai negara. Kalian luar biasa, semoga selalu menginspirasi anak-anak muda untuk terus berjalan kaki.

Sampai jumpa di 9th Jogja International Heritage Walk di tahun 2017.

Jogja International Heritage Walk
Jogja Walking Association
Jalan Kompleks Colombo No. 39, Yogyakarta
(0274) 566728/ (0274) 549182
Twitter: @JogjaWalking
Instagram: @jogjawalking


Monday, November 21, 2016

1000 Startup Digital: Tahapan Ignition

Setelah mengikuti tahapan Ignition 1000 Startup Digital, banyak ilmu dan pemikiran baru yang aku dapat dalam bidang startup dan entrepreneur. Beberapa ilmu yang aku dapatkan dalam tahapan Ignition dari para panelis antara lain seperti menurut Yansen Kamto (Kibar), startup itu adalah sesuatu yang ga jelas dan ga masuk akal. Menurut Leonika Sari (CEO Reblood) seorang founder startup itu harus tahan banting, fokus, dan menemukan tim mereka. Kak Alamanda (FemaleDev) yang mengatakan start with why, how, what dan sebuah teknologi bisa mengubah kebiasaan orang. Kak Bima (Goal.com) yang menganjurkan untuk memberikan ruang untuk berkembang kepada setiap orang. Tema yang terkahir berisi tentang Collaborate to Create Innovation.

Pemikiran-pemikiran para panelis langsung aku hubungkan dengan ide startup yang ingin aku kembangkan . Dari tahapan ini membuat ide startupku semakin berkembang. Ide startup yang ingin aku kembangkan bernama Postway. Postway merupakan sebuah situs jual beli postcard.

Logo Postway

Pertanyaan yang pertama kali muncul adalah, “Mengapa postcard?”
Beberapa tahun lalu, postcard menjadi sebuah media yang sangat populer untuk bertukar kabar dan informasi, atau sebagai kenang-kenangan yang kita kirim kepada seseorang. Bahkan ada yang bilang bahwa merasa sangat gembira ketika mengirim dan menerima postcard. Namun, kini orang-orang mulai beralih ke pesan instan yang berbasis teknologi dan postcard pun mulai ditinggalkan. Penjual postcard pun sulit ditemui. Perlu terobosan baru yang menghubungkan antara teknologi dan postcard.

Bagaimana caranya mempopulerkan kembali postcard?
Langkah pertama adalah membuat sebuah situs atau aplikasi yang berfungsi sebagai pusat jual beli (marketplace) postcard. Situs atau aplikasi ini bernama Postway. Postway akan mempertemukan para penjual dan pembeli postcard. Postcard yang dijual harus memiliki gambar dan desain yang bervariasi dan unik serta kualitas kertas yang baik. Postcard akan dibagi sesuai dengan jenis gambar yang ditampilkan, seperti traveling, heritage, art, cityscape, doodle, human interest, landscape, sunset-sunrise, dll.

Para penjual postcard tidak lagi mengalami kesulitan menjual postcard hasil karya mereka. Persaingan dengan sesama penjual postcard secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas dan desain postcard yang dijual. Pembeli juga tak lagi kesulitan mencari postcard. Mereka tinggal mengunjungi Postway, memilih desain yang sesuai dengan selera mereka, lalu melakukan pembelian secara online. Hal tersebut merupakan salah satu tujuan dari startup, yaitu membantu orang lain dan memberikan ruang kreativitas pada orang lain.

Langkah kedua adalah menjadikan Postway sebagai forum. Forum ini juga bisa menjadi media berbagi informasi dan interaksi bagi semua anggota mengenai postcard. Selain itu, para anggota Postway bisa saling mengirim dan menerima postcard. Sistem akan mengatur proses mengirim dan menerima postcard diantara para anggota. Melalui Postway, para pencinta postcard bisa mengenang masa lampau, sambil tetap bermain-main di dunia digital. Dari sebuah forum dan interkasi ini diharapkan bisa berkolaborasi untuk menghasilkan sebuah inovasi baru.

Langkah ketiga adalah dengan cara menjadikan postcard sebagai media promosi pariwisata. Sebagian besar postcard yang beredar memiliki gambar berupa destinasi wisata dari sebuah kota. Mulai dari pemandangan alam, bangunan bersejarah, pantai, ikon kota, hingga adat istiadat.  Hal tersebut secara tidak langsung telah menjadikan postcard telah menjadi media promosi pariwisata.

Kita mempunyai tanggung jawab moral untuk mempromosikan pariwisata yang ada di sekitar daerah tempat tinggal. Ini bisa dilakukan dengan menginformasikan tempat tersebut kepada teman maupun kenalan melalui media postcard. Ketika destinasi wisata ramai oleh pengunjung, perputaran roda ekonomi di daerah sekitar akan meningkat. Hal tersebut akan memberikan dampak positif, khususnya untuk masyarakat sekitar destinasi wisata.

Postway

Apa yang diharapkan?
Berharap Postway tidak hanya berfungsi sebagai pusat jual beli khusus untuk postcard, namun juga sebagai tempat berkumpul dan berinteraksi pencinta postcard, pengembangan kreativitas seseorang melalui desain postcard, sebagai media promosi pariwisata melalui postcard dan mengembalikan perasaan-perasaan gembira seseorang ketika mereka mengirim dan menerima postcard. Pada akhirnya, Postway akan menghubungkan orang-orang melalui postcard.

Artikel ini merupakan pemahaman baru yang aku dapatkan dalam tahapan Ignition 1000 Startup Digital di Semarang (12-11-2016). Sampai jumpa di tahapan Workshop 1000 Startup Digital.

Thursday, November 17, 2016

Menikmati Kabut di Candi Cetho

Awalnya kami berencana untuk mengunjungi Candi Sukuh, kab. Karanganyar. Namun ternyata Candi Sukuh masih dalam proses pemugaran. Terlihat beberapa kayu dan seng menutupi candi utama. Setelah berunding, kami putuskan untuk mengunjungi Candi Cetho. Candi Cetho bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dari Candi Sukuh.

Gapura Candi Cetho


Selama perjalanan menuju Candi Cetho kami disuguhi pemandangan berupa hamparan Kebun Teh Kemuning. Selain itu, terlihat beberapa warga sudah memulai aktivitas mereka masing-masing, seperti berjualan makanan, berjalan kaki, pergi ke kebun dan kerja bakti di kampung mereka. Kalian jangan segan-segan untuk menyapa mereka. Mereka akan membalas salam kalian dengan ramah. Akhirnya kami memutuskan untuk singgah sejenak di kebun teh Kemuning.

Candi Cetho terletak di dusun Ceto, Desa Gumeng, kec. Jenawi, kab. Karanganyar. Menurut sejarah, Candi Cetho dibangun pada abad ke-15 Masehi. Candi ini merupakan candi bercorak agama Hindu. Hingga sekarang, Candi Cetho masih sering digunakan untuk sembayang atau pemujaan oleh umat agama Hindu. Terletak di lereng gunung Lawu, dengan ketinggian 1496 mdpl. Oleh karena itu, banyak pendaki yang mendaki gunung Lawu via jalur Candi Cetho.

Semua pengunjung menggunakan kain penutup

Akhirnya pukul 08:10 kami sudah sampai di Candi Cetho. Kami diharuskan membayar tiket masuk seharga Rp 7.500,-/orang. Sebelum masuk, kami bakal diberi kain untuk menutupi sebagian kaki kami. Hal ini untuk menghormati tempat ibadah umat Hindu. Candi Cetho masih sering digunakan sebagai tempat ibadah bagi umat Hindu. Jadi kami tidak boleh berisik dan mengganggu umat Hindu yang sedang beribadah.

Gapura Candi Cetho

Selain bangunan bersejarah berupa candi, Candi Cetho juga menawarkan pemandangan yang sangat bagus. Sejauh mata memandang kami akan melihat hamparan hijaunya kebun teh Kemuning. Jika langit cerah, kami bisa melihat lukisan birunya langit diatas garis horison. Aku datang ketika berkabut. Menutupi birunya langit. Menjadikan suasana jadi lebih mistis. Kabut turun melewati pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Bergerak di sela-sela batuan candi. Kalian bisa memanfaatkan kabut-kabut ini untuk membuat foto-fotomu lebih hidup dan dramatis.

Tempat pemujaan

Candi Cetho memiliki struktur berupa punden berundak dengan beberapa teras. Terdapat satu bangunan yang terletak paling atas yang berfungsi sebagai tempat sembayangan. Ada beberapa pondok dan patung yang lengkap dengan dupanya. Mungkin ini menjadi tempat pemujaan. Terlihat beberapa orang sedang sembayang dengan penuh khidmat. Tanpa merasa terganggu dengan para pengunjung.

Candi Cetho

Aku sangat menikmati suasana di Candi Cetho. Kabut, mistis, dingin dan kemegahan sebuah bangunan telah melebur jadi satu di Candi Cetho. Duduk tanpa alas di teras-teras candi membuatku jadi lebih tenang. Udara dingin mengalir ke tubuh melalui celah-celah batuan candi.

Duduk santai di Candi Cetho

Dalam perjalanan turun, kami akan melewati beberapa warung. Mereka menjual berbagai barang, mulai dari makanan, minuman, barang antik, dan beberapa sayuran. Karena udara yang dingin, kami memilih membeli gorengan. Kebetulan masih hangat dan ternyata gorengannya enak banget. Gorengan yang enak dan perut yang mulai lapar. Ayok kami lanjutkan perjalanan, tapi kami mampir untuk sarapan dulu. Kami sudah mulai lapar.

Tips ketika mengunjungi Candi Cetho:
1. Hormati setiap orang yang sedang melakukan sembayang di area candi Cetho
2. Tidak boleh berisik yaa..!!
3. Dilarang memindahkan batu-batu candi
4. Dilarang merusak, mencoret-coret bangunan di area Candi Cetho
5. Jaga kebersihan dan buang sampah di tempat sampah yaa..!!
6. Belilah makanan atau barang yang dijajakan masyarakat yang berjualan sekitar Candi Cetho
7. Pastikan kendaraan dan pengemudi dalam keadaan baik

Candi Cetho
Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Gumeng
Kabupaten Karanganyar
Tiket Masuk: Rp 7.500,- /orang

Thursday, November 10, 2016

Ngobrol Asyik di Rumah Kopi Mukidi

Beberapa waktu yang lalu, media sosial diramaikan dengan guyonan ala Mukidi. Guyonan tersebut menyebar di berbagai lini massa dan menjadi viral di media sosial. Guyonan ala Mukidi  sering membuatku tertawa lepas. Ada-ada aja tingkah polah si Mukidi. Sampai timbul pertanyaan dalam benakku, “Emang ada yaa yang orang yang bernama Mukidi?”

Di Rumah Kopi Mukidi

Pertanyaan dalam benak pikiranku akhirnya terjawab juga. Di sela-sela acara ngopi Temanggung Fair 2016 pada tanggal 27-31 Oktober 2016, aku bertemu dengan Pak Mukidi. Terkejut juga awalnya karena ketemu dengan orang yang bernama Mukidi. Pak Mukidi ini seorang petani kopi dengan brand-nya Kopi Mukidi. Setelah ngobrol, aku dan temenku ditawari untuk berkunjung di Rumah Kopi Mukidi miliknya. Ketika aku bertanya tentang tempatnya, beliau cuma bilang “Cari aja di Google Maps aja, Rumah Kopi Mukidi sudah ada did Google Maps”. Wouw keren, ternyata Kopi Mukidi sudah memanfaatkan dunia digital sebagai media pemasaran.

Keesokan harinya, aku dan teman-temanku meluncur menuju Rumah Kopi Pak Mukidi dengan panduan Gmaps yang diceritakan oleh Pak Mukidi. Rumahnya berjarak sekitar 3 Km dari RS Ngesti Waluyo, Parakan, Temanggung. Jangan sungkan buat bertanya ke warga, soalnya kami juga kesasar. Maklum ga ada petunjuk ke Rumah Kopi Mukidi dan tempatnya terletak di tengah-tengah dusun. Kami disambut hangat oleh pak Mukidi. Dipersilahkan masuk dan ditawari mau minum kopi apa. Aku memesan kopi Mukidi jenis Arabika.

Pak Mukidi adalah seorang petani kopi sejak tahun 2001. Saat ini, beliau telah memiliki tiga brand kopi, yaitu Kopi Jowo, Kopi Lamsi, dan Kopi Mukidi dengan beberapa jenis kopi, seperti arabica, robusta, arobusta, kopi lanang, spesial blend dan ekselsa. Disini kopi diracik sendiri oleh Pak Mukidi. Kalian bisa memilih penyajian kopi sesuai dengan selera kalian, mulai dari tubruk, V60, francepress, mokapot, hingga vietname drip.

Salah satu biji kopi yang ada di Rumah Kopi Mukidi

Menurut Pak Mukidi, “Kopi itu tergantung sama selera orang yang meminumnya. Namun ada yang lebih seru dari kopi itu sendiri, yaitu ceritanya”. Dalam sajian secangkir kopi racikan pak Mukidi, aku mulai tenggelam dalam cerita-cerita inspiratif pak Mukidi. Banyak hal yang beliau ceritakan kepada kami. Mulai dari konsep petani mandiri yang sedang beliau kembangkan, branding produk kopi Mukidi, hingga viral guyonan ala Mukidi di media sosial.

Brand kopi yang dijual Pak Mukidi (Kopi Jowo, Kopi Lamsi, dan Kopi Mukidi)

Melalui konsep petani mandiri Pak Mukidi mengajak para petani untuk mengelola lahan sesuai dengan kaedah konservasi, ada beberapa komoditas tertentu, komoditas tersebut diolah menjadi sebuah produk, dan berani memasarkan produknya. Jika hal tersebut dilakukan, maka petani akan sejahtera. Petani kopi diharapkan juga bisa bercerita tentang proses pembuatan produk kopi mereka kepada konsumen. Mulai dari menanam, panen, hingga proses pemasarannya.

Menurut Pak Mukidi, edukasi kepada petani juga bisa meningkatkan nilai jual produk kopi mereka. Namun, edukasi untuk bisnis sebaiknya tidak terjebak dalam urusan bisnis dan uang semata. Kegiatan sosial bisa menjadi media promosi untuk produk mereka. Aku cuma bisa mantuk-mantuk dengerin konsep petani mandiri ala Pak Mukidi. Terkesan dengan pemikiran petani kopi yang satu ini.

Obrolan pun semakin seru. Aku pun penasaran dengan brand-brand kopi yang beliau pasarkan. Brand kopi pertama ada Kopi Jowo, kemudian Kopi Lamsi dan yang terakhir adalah Kopi Mukidi. Pak Mukidi menyarankan untuk tidak asal-asalan dalam membuat suatu brand, brand itu harus sesuai dengan jatidiri kita. Tentu saja kita juga harus konsisten dengan brand yang sudah dipake. Brand itu juga meliputi produk kopinya. Jika Kopi Mukidi diambil dari kebun kopi di daerah Wonotirto, maka produk tersebut seterusnya juga diambil dari kebun Wonotirto. Begitu juga dengan Kopi Jowo dan Kopi Lamsi. Brand itu ga sekedar merk dagang, namun lebih dari itu.

Kopinya lagi diseduh

Obrolan kita semakin melebar, walaupun kopi dicangkir sudah habis. Aku pun masih bersemangat mendengar cerita Pak Mukidi. Sampai akhirnya beliau bercerita kalo viral guyonan ala Mukidi di media sosial membawa berkah tersendiri. Kopi Mukidi dan Kopi Temanggung semakin dikenal masyarakat luas dan tentu saja omset penjualan kopi semakin meningkat. Oyaa, Kopi Mukidi sudah ada sejak tahun 2001, jauh sebelum guyonan ala Mukidi menjadi viral.

Sudahkah Anda minum kopi hari ini?

Rumah Kopi Mukidi terbuka untuk umum. Siapapun boleh berkunjung kesana. Baik sekedar mencicipi kopi racikan Pak Mukidi, maupun ingin belajar kopi kepada beliau. Pak Mukidi akan dengan senang hati berbagi ilmu dan pengalaman tentang kopi kepada siapa saja. Pengunjung tidak hanya dari kabupaten Temanggung saja, namun juga dari berbagai kota di Indonesia, seperti Semarang, dan Jogja

Pak Mukidi berharap, suatu saat nanti pengunjung bisa menginap di Rumah Kopi Mukidi atau di rumah petani sekitar, pengunjung juga bisa melihat dan belajar pengolahan kopi dan pengembangan desa melalui kesenian dan tradisi yang ada di desa yang dipadukan dengan meminum secangkir kopi. Semua itu dilakukan untuk mewujudkan konsep petani mandiri.

Tak terasa hari sudah beranjak sore, kami pun berpamitan kepada Pak Mukidi dan keluarga. Aku mendapatkan banyak ilmu dari Pak Mukidi. Seperti kata Pak Mukidi, “Secangkir kopi ada cerita, banyak saudara, dan penuh cinta”.

Rumah Kopi Mukidi
Alamat: Dusun Jambon, Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung
No Telepon: 0812 2797 3978 – 0877 1905 2174 (WA)
Facebook: Kopi Mukidi
Twitter: @kopimukidi
Instagram: @kopimukidi



Sunday, November 6, 2016

Cakalang Fufu: Kuliner Favorit di Sulawesi Utara

Provinsi Sulawesi Utara terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Taman Nasional Bunaken menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke provinsi ini. Taman Nasional Bunaken didirikan pada tahun 1991 dan merupakan salah satu taman laut pertama di Indonesia. Pada tahun 2005, Taman Nasional Bunaken ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Selain Sulawesi Utara terkenal dengan Taman Nasional Bunaken, provinsi yang beribukota di kota Manado juga terkenal dengan kulinernya.

Cakalang Fufu -sumber

Kuliner Provinsi Sulawesi Utara terkenal dengan keunikan dan memiliki ciri khas tersendiri. Bahkan di Sulawesi Utara juga terdapat makanan ekstrim. Beberapa kuliner Sulawesi Utara yang terkenal antara lain adalah tinutuan (bubur Manado), klappertart, panada, nasi jaha, ayam rica-rica, paniki (kelelawar), kawok (tikus hutan), sate kolombi, mie cakalang, cakalang woku, dan cakalang fufu. Wilayah Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik banyaknya variasi kuliner olahan ikan laut ditemui di wilayah Sulawesi Utara. Salah satu kuliner yang menjadi favorit adalah Cakalang Fufu.

Ikan Cakalang - sumber: satumaluku.com

Ikan cakalang juga dikenal dengan sebutan skipjack tuna. Biasa hidup dalam kelompok besar dan hidup di Samudera Hindia, Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik.  Ikan cakalang memiliki nilai protein dan  yang komesial tinggi. Ikan cakalang sering dijual dalam bentuk segar, beku atau diolah sebagai ikan kaleng, ikan kering, atau ikan asap. Di Sulawesi Utara, ikan cakalang diawetkan melalui cara diasap (fufu). Bahkan di kelurahan Girian Atas, Kecamatan Girian, Kota Bitung dijuluki “Kampung Cakalang Fufu” atau “Cakalang Asap”. Sebagian besar warganya memiliki profesi sebagai pengasap ikan cakalang.

Ikan Cakalang yang sedang diasapi (fufu) - sumber

Pembuatan Cakalang Fufu juga cukup sederhana. Pertama, ikan cakalang dibersihkan dari sisik dan jeroannya. Kemudian daging ikan cakalang dibelah dua dan dijepit menggunakan penjepit bambu. Sebelum diasapi, daging ikan cakalang dibaluri garam dan bubuk soda dengan perbandingan 1:1. Para pengasap ikan cakalang menggunakan batok kelapa untuk mendapatkan panas api yang tahan lama dan merata. Ikan cakalang diasapi hingga matang dan kering. Proses pengasapan menghabiskan waktu sekitar 4 jam hingga ikan cakalang matang. Ikan cakalang akan berubah warna menjadi kemerahan dengan tekstur sedikit empuk, kering, dan tidak berair. Setelah matang, diperlukan waktu dua jam untuk mendinginkan ikan cakalang yang sudah matang.

Jika diproses dengan benar, Cakalang Fufu bisa bertahan hingga sebulan jika disimpan dalam suhu ruangan. Cakalang Fufu menjadi makanan favorit di Sulawesi Utara dan kerap dijadikan oleh-oleh ketika berkunjung ke kota Manado. Namun ingat, pusat produksi Cakalang Fufu ada di kota Bitung.

Cakalang Fufu -sumber

Cakalang Fufu bisa langsung dimasak dengan cara dipanaskan dan digoreng sebagai lauk nasi. Apalagi jika ditambah dengan dabu-dabu (sambal khas Minahasa), sehingga menjadikan kuliner ini terasa sangat nikmat. Selain itu, Cakalang Fufu bisa menjadi bahan untuk hidangan lainnya. Seperti mie cakalang, selada kentang, dan dimasak rica-rica dengan cabai atau bisa diolah lagi menjadi hidangan cakalang woku.

Cakalang Woku merupakan makanan berupa ikan cakalang yang diberi bumbu woku. Woku merupakan bumbu makanan ala Manado. Terdapat dua jenis woku, yaitu woku dengan balanga (dimasakl dengan belanga/ panci) dan woku daun (dimasak dalam daun woka).

Beberapa bumbu dapur yang biasa digunakan untuk memasak woku antara lain adalah kemangi, daun jeruk, daun pandan, kunyit, serai, daun bawang, tomat, cabe rawit, kunyit, jahe dan bawang putih. Kalo soal cita rasa, woku memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Jahe, daun jeruk, daun pandan merupakan bajan yang dinilai dapat memberikan aroma harum. Penambahan bumbu seperti cabai dapat memberikan rasa pedas. Sedangkan tomat mampu memberikan cita rasa segar.

Cakalang Woku -sumber

Ikan Cakalang menjadi salah satu sumber protein hewani yang kaya akan Omega 3 yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak manusia. Ikan cakalang menjadi kuliner favorit warga provinsi Sulawesi Utara dan pecinta kuliner nusantara.

Tulisan ini juga diikutsertkan dalam Lomba penulisan blog atau vlog Jelajah Gizi 4: “Membedah Nilai Gizi Masakan Minahasa” bersama Nutrisi Untuk Bangsa ke Sulawesi Utara yang diadakan oleh Sarihusada. Untuk detail perlombaan silakan kunjungi Website  / Facebook Nutrisi Untuk Bangsa.

Logo Jelajah Gizi
Jelajah Gizi Sulawesi Utara 2016

Friday, November 4, 2016

Pindah Rumah Baru

Kurang lebih sudah tiga tahun, blog ini selalu menjadi tempat berbagi cerita perjalananku. Seperti halnya perjalanan, kita bakal mengakhiri sebuah perjalanan dan memulai perjalanan-perjalanan baru lainnya. Blog ini sudah bagaikan rumah, selalu menjadi tempatku untuk cerita dan berbagi pengalaman.

Yaa, mulai hari ini aku memutuskan untuk meninggalkan rumah ini dan beralih ke rumah baruku di MASVAY.COM
Aku merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk pindah ke rumah baru. Aku berharap bisa lebih berkarya dan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru di rumah baruku ini.

Terima kasih untuk keceriaan dan persahabatan yang terjadi di rumah lama ini. Sampai jumpa di rumah baruku. Kalian bisa subscribe atau follow blog aku MASVAY.COM

Salam,
Rivai Hidayat