WHAT'S NEW?
Loading...

Ngobrol Asyik di Rumah Kopi Mukidi

Beberapa waktu yang lalu, media sosial diramaikan dengan guyonan ala Mukidi. Guyonan tersebut menyebar di berbagai lini massa dan menjadi viral di media sosial. Guyonan ala Mukidi  sering membuatku tertawa lepas. Ada-ada aja tingkah polah si Mukidi. Sampai timbul pertanyaan dalam benakku, “Emang ada yaa yang orang yang bernama Mukidi?”

Di Rumah Kopi Mukidi

Pertanyaan dalam benak pikiranku akhirnya terjawab juga. Di sela-sela acara ngopi Temanggung Fair 2016 pada tanggal 27-31 Oktober 2016, aku bertemu dengan Pak Mukidi. Terkejut juga awalnya karena ketemu dengan orang yang bernama Mukidi. Pak Mukidi ini seorang petani kopi dengan brand-nya Kopi Mukidi. Setelah ngobrol, aku dan temenku ditawari untuk berkunjung di Rumah Kopi Mukidi miliknya. Ketika aku bertanya tentang tempatnya, beliau cuma bilang “Cari aja di Google Maps aja, Rumah Kopi Mukidi sudah ada did Google Maps”. Wouw keren, ternyata Kopi Mukidi sudah memanfaatkan dunia digital sebagai media pemasaran.

Keesokan harinya, aku dan teman-temanku meluncur menuju Rumah Kopi Pak Mukidi dengan panduan Gmaps yang diceritakan oleh Pak Mukidi. Rumahnya berjarak sekitar 3 Km dari RS Ngesti Waluyo, Parakan, Temanggung. Jangan sungkan buat bertanya ke warga, soalnya kami juga kesasar. Maklum ga ada petunjuk ke Rumah Kopi Mukidi dan tempatnya terletak di tengah-tengah dusun. Kami disambut hangat oleh pak Mukidi. Dipersilahkan masuk dan ditawari mau minum kopi apa. Aku memesan kopi Mukidi jenis Arabika.

Pak Mukidi adalah seorang petani kopi sejak tahun 2001. Saat ini, beliau telah memiliki tiga brand kopi, yaitu Kopi Jowo, Kopi Lamsi, dan Kopi Mukidi dengan beberapa jenis kopi, seperti arabica, robusta, arobusta, kopi lanang, spesial blend dan ekselsa. Disini kopi diracik sendiri oleh Pak Mukidi. Kalian bisa memilih penyajian kopi sesuai dengan selera kalian, mulai dari tubruk, V60, francepress, mokapot, hingga vietname drip.

Salah satu biji kopi yang ada di Rumah Kopi Mukidi

Menurut Pak Mukidi, “Kopi itu tergantung sama selera orang yang meminumnya. Namun ada yang lebih seru dari kopi itu sendiri, yaitu ceritanya”. Dalam sajian secangkir kopi racikan pak Mukidi, aku mulai tenggelam dalam cerita-cerita inspiratif pak Mukidi. Banyak hal yang beliau ceritakan kepada kami. Mulai dari konsep petani mandiri yang sedang beliau kembangkan, branding produk kopi Mukidi, hingga viral guyonan ala Mukidi di media sosial.

Brand kopi yang dijual Pak Mukidi (Kopi Jowo, Kopi Lamsi, dan Kopi Mukidi)

Melalui konsep petani mandiri Pak Mukidi mengajak para petani untuk mengelola lahan sesuai dengan kaedah konservasi, ada beberapa komoditas tertentu, komoditas tersebut diolah menjadi sebuah produk, dan berani memasarkan produknya. Jika hal tersebut dilakukan, maka petani akan sejahtera. Petani kopi diharapkan juga bisa bercerita tentang proses pembuatan produk kopi mereka kepada konsumen. Mulai dari menanam, panen, hingga proses pemasarannya.

Menurut Pak Mukidi, edukasi kepada petani juga bisa meningkatkan nilai jual produk kopi mereka. Namun, edukasi untuk bisnis sebaiknya tidak terjebak dalam urusan bisnis dan uang semata. Kegiatan sosial bisa menjadi media promosi untuk produk mereka. Aku cuma bisa mantuk-mantuk dengerin konsep petani mandiri ala Pak Mukidi. Terkesan dengan pemikiran petani kopi yang satu ini.

Obrolan pun semakin seru. Aku pun penasaran dengan brand-brand kopi yang beliau pasarkan. Brand kopi pertama ada Kopi Jowo, kemudian Kopi Lamsi dan yang terakhir adalah Kopi Mukidi. Pak Mukidi menyarankan untuk tidak asal-asalan dalam membuat suatu brand, brand itu harus sesuai dengan jatidiri kita. Tentu saja kita juga harus konsisten dengan brand yang sudah dipake. Brand itu juga meliputi produk kopinya. Jika Kopi Mukidi diambil dari kebun kopi di daerah Wonotirto, maka produk tersebut seterusnya juga diambil dari kebun Wonotirto. Begitu juga dengan Kopi Jowo dan Kopi Lamsi. Brand itu ga sekedar merk dagang, namun lebih dari itu.

Kopinya lagi diseduh

Obrolan kita semakin melebar, walaupun kopi dicangkir sudah habis. Aku pun masih bersemangat mendengar cerita Pak Mukidi. Sampai akhirnya beliau bercerita kalo viral guyonan ala Mukidi di media sosial membawa berkah tersendiri. Kopi Mukidi dan Kopi Temanggung semakin dikenal masyarakat luas dan tentu saja omset penjualan kopi semakin meningkat. Oyaa, Kopi Mukidi sudah ada sejak tahun 2001, jauh sebelum guyonan ala Mukidi menjadi viral.

Sudahkah Anda minum kopi hari ini?

Rumah Kopi Mukidi terbuka untuk umum. Siapapun boleh berkunjung kesana. Baik sekedar mencicipi kopi racikan Pak Mukidi, maupun ingin belajar kopi kepada beliau. Pak Mukidi akan dengan senang hati berbagi ilmu dan pengalaman tentang kopi kepada siapa saja. Pengunjung tidak hanya dari kabupaten Temanggung saja, namun juga dari berbagai kota di Indonesia, seperti Semarang, dan Jogja

Pak Mukidi berharap, suatu saat nanti pengunjung bisa menginap di Rumah Kopi Mukidi atau di rumah petani sekitar, pengunjung juga bisa melihat dan belajar pengolahan kopi dan pengembangan desa melalui kesenian dan tradisi yang ada di desa yang dipadukan dengan meminum secangkir kopi. Semua itu dilakukan untuk mewujudkan konsep petani mandiri.

Tak terasa hari sudah beranjak sore, kami pun berpamitan kepada Pak Mukidi dan keluarga. Aku mendapatkan banyak ilmu dari Pak Mukidi. Seperti kata Pak Mukidi, “Secangkir kopi ada cerita, banyak saudara, dan penuh cinta”.

Rumah Kopi Mukidi
Alamat: Dusun Jambon, Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung
No Telepon: 0812 2797 3978 – 0877 1905 2174 (WA)
Facebook: Kopi Mukidi
Twitter: @kopimukidi
Instagram: @kopimukidi



17 komentar: Leave Your Comments

  1. widih seru bisa ketemu pa Mukidi langsung..

    BalasHapus
  2. guyonan mukidi secara ga langsung turut membranding kopi pak mukidi ini ya :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. berkah yang ga disangka2 mas, alhamdulillah :D

      Hapus
  3. wahhh ada saya di fotonyaa.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciehhh ada juga kamu nampang di sini kakak hahahaaha. Besok-besok nampang di blogku napa. Hahahahha

      Hapus
    2. mbaknya sukanya ikutan aja :p

      Hapus
    3. Besok-besok kalu ikutan ditinggal aja mas :-D

      Hapus
  4. Ada akuuh juga. kapan-kapan kesana lagi, yuuk :D

    BalasHapus
  5. Waaah... kopi lagi, pasti gak kalah enaknya sama kopi Aceh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kopi itu tergantung selera konsumen mas. Setiap konsumen punya penilain masing2 terhadap kopi. termasuk kopi gayo, kopi toraja, kopi lampung, maupun kopi temanggung :D

      Hapus
    2. Yup, bener banget mas Rivai.

      Hapus
  6. Tetangga ku juga nama nya mukidi tapi heran aja bisa ampe ngetop nama ini
    semacam bang toyip gitu yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa jadi om cum....tergantung si sutradaranya ngasih nama lakonnya...nama mas cumi juga hits banget :D

      Hapus
  7. pengen icip2 kopinyaa :D... selalu penasaran ama rasa kopi... walo bukan pecinta kopi sejati, tp tetep aku paling suka nyobain aneka kopi begini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah..berarti harus ke temanggung mbak. di sini ada puluhan usaha tani kopi. punya kualitas kopi yang bagus :D

      Hapus