Monday, December 26, 2016

Kalender Event Wisata Jawa Tengah 2017

Halo bro, tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2016. Tahun 2017 sudah di depan mata. Terima kasih banyak bagi kalian yang selalu berkunjung di blog ini selama satu tahun ini. Kunjungan kalian itu membuatku lebih semangat untuk berkarya. Banyak tempat, cerita dan kenangan yang didokumentasikan dalam satu tahun ini. Namun, artikel kali ini tidak akan bercerita tentang perjalananku. Kali ini aku bakal berbagi sebuah informasi penting bagi kalian. Khususnya bagi kalian yang akan berkunjung ke Provinsi Jawa Tengah.

Visit Jawa Tengah

Informasi yang akan aku bagikan adalah informasi tentang event-event yang akan digelar di kota dan kabupaten Jawa Tengah pada tahun 2017. Masing-masing event sudah memiliki jadwal dan didokumentasikan dalam bentuk e-book Calender Event Jawa Tengah 2017 yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Tengah. Event dari bulan Januari 2017 hingga bulan Desember 2017. Mulai dari event standard internasional seperti Borobudur Marathon, Dieng Culture Festival, dan Hari Raya Waisak, hingga event lokal, seperti sedekah bumi yang diadakan di beberapa daerah.
Pada tahun 2017, Borobudur Marathon akan diadakan pada tanggal 26 November 2017 di kawasan Candi Borobudur. Borobudur Marathon bertujuan untuk menggairahkan sport tourism. Rute lari Borobudur Marathon yaitu mengelilingi desa-desa yang ada di sekitar kawasan Candi Borobudur. Peserta tidak hanya pelari dalam negeri, namun juga pelari mancanegara. Borobudur Marathon 2016 diikuti oleh lebih dari 20.000 pelari. Ada lima kategori yang diperlombakan di Borobudur Marathon 2016, yaitu ultra marathon (120Km), full marathon (42 Km), half marathon (21 Km), 10 Km, dan 3 Km. Borobudur Marathon 2016 dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo, dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Bapak Imam Nahrawi.

Borobudur Marathon 2016 (sumber: Merdeka.com)

Event lain yang menjadi andalan Jawa Tengah untuk menarik minat wisatawan adalah Dieng Culture Festival. Dieng Culture Festival 2017 akan diadakan pada bulan Agustus. Belum ada pemberitahuan untuk tanggal pelaksanaannya. Dieng Culture Festival 2016 dikunjungi oleh hampir 100.000 wisatawan. Baik wisatawan dalam negeri, maupun wisatawan luar negeri. Acara Dieng Culture Festival 2016 dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo. Dieng Culture Festival merupakan acara yang diadakan di dataran tinggi Dieng dengan acara inti pemotongan rambut gimbal anak-anak Dieng. Pusat pemotongan rambut gimbal diadakan di pelataran Candi Arjuno. Selain itu, acara juga akan dimeriakan dengan acara jazz di atas awan, pentas kesenian, berburu sunrise, pesta lampion dan pesta kembang api.
Baca juga: Menikmati Kabut di Candi Cetho

Dieng Culture Festival (sumber: hipwee.com)

Selain event Borobudur Marathon, kawasan Candi Borobudur juga menjadi pusat perayaan Hari Raya Waisak secara nasional. Pada tahun 2017, Hari Raya Waisak jatuh pada tanggal 11 Mei 2017. Hari Raya Waisak merupakan hari raya umat Buddha untuk memperingati hari lahir Sang Buddha, Sidharta Gautama. Prosesi Hari Raya Waisak dilaksanakan di Candi Mendut dan Candi Borobudur dan diikuti oleh biksu dan umat Buddha dari berbagai negara. Puncak perayaan Hari Waisak adalah ritual pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali. Event Hari Raya Waisak ditutup dengan pelepasan lampion. Hari Raya Waisak merupakan acara keagamaan. Oleh sebab itu, pengunjung atau wisatawan sangat dibatasi jumlahnya. Pengunjung harus menjaga ketenangan, ketertiban, memakai pakaian yang sopan, dan menghormati umat Buddha yang sedang melakukan ibadah.

Acara Borobudur Marathon, Dieng Culture Festival, dan Hari Raya Waisak menjadi event andalan untuk menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Provinsi Jawa Tengah. Selain event-event tersebut, ada beberapa event di Jawa Tengah yang sebaiknya tidak dilewatkan begitu saja. Beberapa event tersebut adalah Festival Perahu Naga (Cilacap, 26 Maret 2017), Grebeg Gethuk (Magelang, 9 April 2017), Semarang Night Carnival ( 6 Mei 2017), Loenpia Jazz (Semarang, 27 Mei 2017), Pemotongan Lopis Raksasa (kota Pekalongan, 2 Juli 2017), Borobudur International Festival (Candi Borobudur, 28-30 Juli 2017), Solo Batik Carnival (Solo, Juli 2017), Festival Payung Indonesia (Solo, 15-17 September 2017), Festival Kota Lama (Semarang, 24 September 2017), Sail Karimunjawa (September 2017), Blora Fashion Carnival (Blora, 2 Oktober 2017), Pekan Batik International (Kota Pekalongan, Oktober 2017), Festival Barong Nusantara (Kab. Blora, November 2017) dan Grebeg Maulud (Solo, 1 Desember 2017).
Baca juga: Semarang Night Carnival 2016: Fantasi Warak Ngendog

Semarang Night Carnival 2016

Masih banyak lagi event yang bakal digelar oleh kota dan kabupaten yang ada di Jawa Tengah. event-event ini bertujuan untuk mengenalkan potensi-potensi wisata yang ada di kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Tentu saja event-event ini juga bertujuan untuk melestarikan kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Jawa Tengah. Jadi tunggu apalagi. Ayo kita kunjungi Jawa Tengah.
Kalender event Jawa Tengah 2017 bisa diunduh disini atau di link ini

Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah
Alamat : Jalan Pemuda No 175, Kota Semarang
No Telp. : (024) 3584081
Website : www.central-java-tourism.com
Instagram : @visitjawatengah
Facebook : Visit Jawa Tengah


Wednesday, December 14, 2016

Blusukan di Segitiga Emas Kota Semarang (Bagian 2- Habis)

Setelah mendengarkan berbagai penjelasan dari mas Dimas tentang Jalan Pemuda atau Jalan Bodjong, kami diajak untuk menyusuri kawasan Segitiga Emas yang kedua, yaitu Jalan Pandanaran. Jalan Pandaran dikenal sebagai kawasan pusat oleh-oleh Kota Semararang. Berbagai oleh-oleh khas Kota Semarang bisa ditemukan disini, mulai dari Bandeng Juwana, wingko babat, roti gandjel rel, lumpia,  hingga kaos Semarangan. Keberadaan kami di Jalan Pandanaran bukan untuk melihat atau membeli oleh-oleh yaa, namun untuk melihat kehidupan kaum urban yang ada di Jalan Pandanaran.

Belakang kita Gedung Lawang Sewu (sumber: @manicstreetwalkers)

Jalan Pandanaran
Lokasi pertama yang kita kunjungi adalah Rumah Susun (Rusun) Pekunden. Menurut informasi, rumah susun ini merupakan rusun pertama yang ada di Kota Semarang. Dibangun sekitar tahun 1980. Rusun ditempati oleh ratusan keluarga dan memiliki fasilitas seadanya. Rusun ini terletak di tengah kota dan berada tak jauh dari Balaikota Semarang. Mas Dimas juga mengajak kami untuk melihat salah satu rumah makan yang ada di Rusun Pekunden. Rumah makan tersebut bernama Rumah Makan Bang Jack. Bahkan  Bang Jack sendiri yang menyambut kedatangan kami.

Jika kalian pernah melintas di Jalan Pandanaran, kalian akan melihat sebuah apotek yang terletak di samping toko oleh-oleh yang terkenal di Kota Semarang. Apotek tersebut bernama Apotek Sputnik. Nama yang sangat asing dalam dunia farmasi dan apotek. Kata Sputnik merupakan nama satelit buatan Uni Soviet yang pertama diorbitkan. Di atas bangunan juga terdapat simbol-simbol antariksa. Namun, bangunan Apotek Sputnik telah digunakan untuk perluasan toko oleh-oleh tersebut.

Daerah Pekunden
Apotek Sputnik

Selain di sepanjang jalan, toko oleh-oleh juga bisa ditemukan di dalam gang di sekitar Jalan Pandanaran. Seperti gang-gang di daerah Pekunden. Di gang ini kami melihat beberapa usaha rumahan yang memproduksi wingko babat, lumpia dan oleh-oleh lainnya. Bahkan kami diajak melihat warung kopi tradisional Pekunden. Konsep warungnya sangat sederhana. Warung kopi juga berfungsi sebagai warung kelontong. Namun, terdapat beberapa meja dan kursi dibawah pohon yang rindang yang digunakan digunakan untuk menikmati secangkir kopi.
Di jalan Pandanaran terdapat Taman Pandanaran. Di Taman Pandanaran terdapat patung Warak Ngendog. Warak Ngendog merupakan hewan mitologi sebagai bentuk akulturasi budaya atau etnis yang ada di Kota Semarang. Yaitu etnis Tionghoa, Arab, dan Jawa. Selain itu, setiap menjelang bulan Ramadhan rutin diadakan festival Warak Ngendog yang dihadiri oleh Walikota Semarang.

Taman Pandanaran

Blusukan  etape 2 kawasan Jalan Pandanaran berakhir di Masjid Baiturrahman. Selain masjid, di Masjid Baiturrahman juga ada SD Hj. Isriati. Sekolah ini didirikan oleh Hj. Isriati. Beliau juga merupakan penggagas 10 Program Pokok PKK. Aku baru tahu kalo ternyata 10 Program Pokok PKK digagas oleh beliau. Oyaa, masjid Baiturrahman terletak tidak jauh dari Lapangan Pancasila atau yang lebih dikenal dengan nama Lapangan Simpang Lima. Presiden RI Pertama, Bung Karno pernah berpidato di Lapangan Pancasila setelah masa kemerdekaan. Kini, lapangan ini menjadi pusat kegiatan warga kota Semarang.

Jalan Gajahmada
Setelah blusukan  di jalan Pandanaran, saatnya kami melanjutkan blusukan  kami menuju Jalan Gajahmada. Sampai di Jalan Gajahmada hari sudah beranjak petang. Sehingga kami harus mempercepat langkah kaki kami. Seperti Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran, trotoar di Jalan Gajah Mada sangat layak untuk dilewati oleh pejalan kaki. Mesti berhati-hati kalau ada kendaraan yang akan masuk keluar area pertokoan di Jalan Gajah Mada. Tapi kami ga menyusuri trotoar Jalan Gajah Mada, karena kami akan blusukan  ke perkampungan yang ada di sekitar Jalan Gajah Mada.
Bangunan pertama yang kami lihat adalah Restoran Semarang. Kami hanya melihatnya dari luar. Ga masuk ke dalam. Restoran Semarang menyajikan kuliner khas Semarang dan kuliner peranakan Semarang. Jam buka restoran masih menganut manajemen Jawa kuno, yaitu restoran akan tutup pada siang hari untuk memberi waktu istirahat siang untuk semua karyawan dan akan buka lagi pada malam hari. Selama di Semarang, aku belum pernah makan di Restoran Semarang. Mungkin aja ada yang mau mengajak makan di sana, dengan senang hati akan aku iyakan, hikks

Rumah Tuan Klein (suber: @dimassuryoh)

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju perkampungan yang ada di salah satu hotel yang ada di Kota Semarang. Kami diajak untuk keluar masuk gang-gang sempit yang ada. Kemudian mengamati setiap rumah-rumah kuno yang masih bertahan. Hingga akhirnya perjalanan kita terhenti di sebuh rumah besar yang sudah tak berpenghuni. Mas Dimas menjelaskan bahwa rumah besar ini merupakan rumah tuan tanah dari Belanda yang bernama Tuan Klein. Mas Dimas menambahkan bahwa luas tanahnya dibatasi gapura yang ada di ujung gang. Jaraknya rumah dengan gapura ada sekitar 300 meter. Perkampungan di sekitar rumah Tuan Klein bernama Kampung Kelengan, yang berasal dari nama Tuan Klein. Kalian bisa bayangkan betapa luas tanah milik Tuan Klein. Kalau pengen tahu, kalian bisa melihatnya di Jalan Kelengan (sekitar Jalan Depok) dan berjalan kaki menuju rumah Tuan Klein. Sebetulnya ada beberapa perkampungan di Kota Semarang  yang dulunya milik tuan tanah, baik dari Hindia Belanda maupun dari etnis Tionghoa.

Belakang kita adalah gang kampung Kelengan (sumber: @manicstreetwalkers)

Perjalanan blusukan  kawasan Segitiga Emas Kota Semarang berakhir di kampung Kelengan. Perjalanan yang singkat, namun kaya akan pengetahuan baru. Acara Walking Tour Segitiga Emas secara tidak langsung telah mengajarkan kepada kami, khususnya peserta dari kota Semarang, untuk lebih paham tentang sejarah Kota Semarang. Seringkali kita melupakan dan tidak paham dengan sejarah tentang kota kita sendiri. Ayo kita pelajari dan pahami tentang sejarah kota kita, dan kemudian kita ceritakan sejarah itu kepada orang-orang di sekitar kita. Agar kita tidak kehilangan identitas tentang kota kita.

Saturday, December 10, 2016

Blusukan di Segitiga Emas Kota Semarang (Bagian 1)

Dulu aku pernah berjalan kaki atau lari mengelilingi kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Berjalan kaki melewati jalan-jalan besarnya. Bukan blusukan setiap sudut yang ada di kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Sejak dulu aku penasaran dan ingin blusukan di perkampungan-perkampungan yang ada di kawasan Segitiga Emas. Namun, belum ada kesempatan dan teman jalan. Hingga akhirnya teman-teman dari Bersukaria Tour mengadakan acara walking tour menyusuri kawasan Segitiga Emas. Acara tersebut diberi nama Segitiga Emas Walking Tour. Aku diijinkan oleh mas Dimas selaku guide dari Bersukaria Tour untuk mengikuti acara ini, meskipun kuota peserta sudah penuh. Makasih teman-teman Bersukaria Tour.

Peserta Segitiga Emas Walking Tour (photo by bersukaria tour)

Kawasan Segitiga Emas merupakan sebutan untuk kawasan yang meliputi Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran dan Jalan Gajahmada. Kawasan Segitiga Emas terkenal sebagai pusat pemerintahan kota dan pusat bisnis. Selain itu, kawasan ini memiliki ciri transisi antara kota lama ke kota baru Semarang. Karakter bangunan lama dan baru berdiri berdampingan, perkampungan dan rumah-rumah tradisional milik warga masih bertahan bertahan hingga sekarang di tengah-tengah pembangunan dan modernisasi.

Segitiga Emas Walking Tour akan menyusuri wilayah yang kaya akan peninggalan budaya, aristektur, tempat makan yang lucu dan bernuasa lokal. Jalan-jalan, makan-makan dan menambah wawasan.acara ini diikuti oleh sekitar 20 orang peserta. Peserta tidak hanya berasal dari kota Semarang saja, namun juga dari luar kota. Seperti dari Jogja, Surabaya, dan Makassar. Sebagian dari mereka juga akan mengikuti acara Urban Social Forum 2016 yang diadakan di SMA Negeri 1 Semarang pada 2-4 Desember 2016.

Jalan Pemuda
Pukul 14:15 peserta sudah berkumpul di depan Mall Paragon sebagai tempat meeting point. Penelusuran kita akan dipandu oleh mas Dimas dari Bersukaria Tour. Mas Dimas juga menjelaskan bahwa sebelum Mall Paragon ada terdapat sebuah bangunan yang bernama Societet Harmony. Bangunan tersebut merupakan tempat berkumpulnya orang-orang borjuis pada jaman Belanda. Selain itu, gedung tersebut juga pernah digunakan untuk pertunjukkan kesenian di kota Semarang. Namun, bangunan tersebut telah hilang dan berganti menjadi sebuah hotel dan mall.

Kampung Sekayu Semarang

Saatnya kita blusukan..!!!
Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Kampung Sekayu. Kampung Sekayu merupakan salah satu kampung tertua di Kota Semarang. Di kampung ini masih banyak rumah yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Kami bisa menemukan rumah dengan desain rumah joglo dan rumah limas. Selain rumah-rumah yang masih asli, di Kampung Sekayu terdapat sebuah masjid yang konon merupakan salah satu masjid tertua di Kota Semarang. Masa pembangunannya hampir sama dengan Masjid Agung Demak. Meskipun Masjid Sekayu telah kehilangan bentuk aslinya, namun kita masih bisa melihat empat pilar yang menjadi soko guru masjid ini. Empat pilar ini menyerupai empat pilar yang ada di Masjid Agung Demak. Bentuk atap menara juga terlihat sangat unik.

Masjid Taqwa Sekayu
Empat pilar Masjid Sekayu

Selama blusukan, kami juga berinteraksi dengan warga kampung. Banyak informasi baru yang kami dapatkan. Di tengah perjalanan, kami menikmati wedang tahu yang kebetulan sedang lewat. Wedang tahu itu terdiri dari tahu halus yang diberi wedang ronde. Rasanya segar dan tahunya terasa sangat halus di mulut. Meskipun sudah sering melihat penjual wedang tahu, namun ini pengalaman pertamaku minum wedang tahu sekaligus blusukan ke Kampung Sekayu. Di kampung yang sempit ini, banyak kendaraan lalu lalang. Mungkin perlu ada kebijakan untuk menciptakan Kampung Sekayu yang bebas kendaraan bermotor. Agar Kampung Sekayu tetap asri dan nyaman untuk dilewati dan sebagai tempat bermain anak-anak.

Rumah kuno di Kampung Sekayu
Rumah dengan empat atap di Kampung Sekayu
Wedang Tahu

Setelah blusukan di Kampung Sekayu, kami diajak Mas Dimas untuk menyusuri Jalan Pemuda. Jalan Pemuda dulunya bernama Jalan Bodjong. Jalan Bodjong dulunya merupakan kawasan perkantoran dan pendidikan pemerintah Hindia Belanda. Di Jalan Pemuda terdapat gedung Balaikota Semarang, SMA Negeri 3 Semarang dan SMA Negeri 5 Semarang. Ketiga bangunan tersebut merupakan bangunan kuno. Bangunan SMA N 3 Semarang dibangun pada tahun 1877 dan dulunya merupakan H.B.S (Hogereburger School). Sekarang bangunan masih kokoh berdiri dan merupakan salah satu sekolah favorit di kota Semarang. Dulu aku ingin masuk sekolah ini, namun nilaiku masih kurang. Akhirnya masuk ke SMA N 1 Semarang. Bangunan SMA N 1 Semarang juga merupakan bangunan kuno dan salah satu sekolah terluas di kota Semarang.

Balaikota Semarang
Salah sudut Balaikota Semarang

Perjalanan masih berlanjut, sekarang kami menuju kawasan Tugu Muda Semarang. Di kawasan ini terdapat beberapa gedung bersejarah. Gedung Lawang Sewu, Museum Mandala Bhakti, Wisma Perdamaian dan Tugu Muda. Seperti Tugu Muda yang dibangun oleh Ir. Soekarno untuk memperingati pertempuran Lima Hari di Kota Semarang. Kemudian ada Gedung Lawang Sewu yang dulunya merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang dibangun pada tahun 1904. NIS merupakan perusahaan kereta api pertama di Indonesia. Stasiun pertama di Indonesia juga dibangun di Kota Semarang.

Banyak informasi baru yang aku dapat tentang kawasan Jalan Pemuda dan sekitarnya. Ternyata banyak hal baru aku ketahui ketika mengikuti acara ini. Aku merasa belum sepenuhnya mengenal tentang kota kelahiranku ini. Hingga timbul sebuah pertanyaan, gimana kamu mau mengenalkan kotamu ke orang lain? Jika kamu sendiri tak mengenal kotamu dengan baik. Bukankah kamu seorang duta wisata untuk kotamu?

Blusukan etape pertama adalah menyusuri Jalan Pemuda. Kemudian etape kedua di Jalan Pandanaran dan etape terakhir di jalan Gajah Mada. Masih banyak hal yang bakal kami temui selama perjalanan blusukan kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Cerita tentang blusukan di etape kedua bisa dibaca di artikel selanjutnya.