WHAT'S NEW?
Loading...

Blusukan di Segitiga Emas Kota Semarang (Bagian 1)

Dulu aku pernah berjalan kaki atau lari mengelilingi kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Berjalan kaki melewati jalan-jalan besarnya. Bukan blusukan setiap sudut yang ada di kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Sejak dulu aku penasaran dan ingin blusukan di perkampungan-perkampungan yang ada di kawasan Segitiga Emas. Namun, belum ada kesempatan dan teman jalan. Hingga akhirnya teman-teman dari Bersukaria Tour mengadakan acara walking tour menyusuri kawasan Segitiga Emas. Acara tersebut diberi nama Segitiga Emas Walking Tour. Aku diijinkan oleh mas Dimas selaku guide dari Bersukaria Tour untuk mengikuti acara ini, meskipun kuota peserta sudah penuh. Makasih teman-teman Bersukaria Tour.

Peserta Segitiga Emas Walking Tour (photo by bersukaria tour)

Kawasan Segitiga Emas merupakan sebutan untuk kawasan yang meliputi Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran dan Jalan Gajahmada. Kawasan Segitiga Emas terkenal sebagai pusat pemerintahan kota dan pusat bisnis. Selain itu, kawasan ini memiliki ciri transisi antara kota lama ke kota baru Semarang. Karakter bangunan lama dan baru berdiri berdampingan, perkampungan dan rumah-rumah tradisional milik warga masih bertahan bertahan hingga sekarang di tengah-tengah pembangunan dan modernisasi.

Segitiga Emas Walking Tour akan menyusuri wilayah yang kaya akan peninggalan budaya, aristektur, tempat makan yang lucu dan bernuasa lokal. Jalan-jalan, makan-makan dan menambah wawasan.acara ini diikuti oleh sekitar 20 orang peserta. Peserta tidak hanya berasal dari kota Semarang saja, namun juga dari luar kota. Seperti dari Jogja, Surabaya, dan Makassar. Sebagian dari mereka juga akan mengikuti acara Urban Social Forum 2016 yang diadakan di SMA Negeri 1 Semarang pada 2-4 Desember 2016.

Jalan Pemuda
Pukul 14:15 peserta sudah berkumpul di depan Mall Paragon sebagai tempat meeting point. Penelusuran kita akan dipandu oleh mas Dimas dari Bersukaria Tour. Mas Dimas juga menjelaskan bahwa sebelum Mall Paragon ada terdapat sebuah bangunan yang bernama Societet Harmony. Bangunan tersebut merupakan tempat berkumpulnya orang-orang borjuis pada jaman Belanda. Selain itu, gedung tersebut juga pernah digunakan untuk pertunjukkan kesenian di kota Semarang. Namun, bangunan tersebut telah hilang dan berganti menjadi sebuah hotel dan mall.

Kampung Sekayu Semarang

Saatnya kita blusukan..!!!
Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Kampung Sekayu. Kampung Sekayu merupakan salah satu kampung tertua di Kota Semarang. Di kampung ini masih banyak rumah yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Kami bisa menemukan rumah dengan desain rumah joglo dan rumah limas. Selain rumah-rumah yang masih asli, di Kampung Sekayu terdapat sebuah masjid yang konon merupakan salah satu masjid tertua di Kota Semarang. Masa pembangunannya hampir sama dengan Masjid Agung Demak. Meskipun Masjid Sekayu telah kehilangan bentuk aslinya, namun kita masih bisa melihat empat pilar yang menjadi soko guru masjid ini. Empat pilar ini menyerupai empat pilar yang ada di Masjid Agung Demak. Bentuk atap menara juga terlihat sangat unik.

Masjid Taqwa Sekayu
Empat pilar Masjid Sekayu

Selama blusukan, kami juga berinteraksi dengan warga kampung. Banyak informasi baru yang kami dapatkan. Di tengah perjalanan, kami menikmati wedang tahu yang kebetulan sedang lewat. Wedang tahu itu terdiri dari tahu halus yang diberi wedang ronde. Rasanya segar dan tahunya terasa sangat halus di mulut. Meskipun sudah sering melihat penjual wedang tahu, namun ini pengalaman pertamaku minum wedang tahu sekaligus blusukan ke Kampung Sekayu. Di kampung yang sempit ini, banyak kendaraan lalu lalang. Mungkin perlu ada kebijakan untuk menciptakan Kampung Sekayu yang bebas kendaraan bermotor. Agar Kampung Sekayu tetap asri dan nyaman untuk dilewati dan sebagai tempat bermain anak-anak.

Rumah kuno di Kampung Sekayu
Rumah dengan empat atap di Kampung Sekayu
Wedang Tahu

Setelah blusukan di Kampung Sekayu, kami diajak Mas Dimas untuk menyusuri Jalan Pemuda. Jalan Pemuda dulunya bernama Jalan Bodjong. Jalan Bodjong dulunya merupakan kawasan perkantoran dan pendidikan pemerintah Hindia Belanda. Di Jalan Pemuda terdapat gedung Balaikota Semarang, SMA Negeri 3 Semarang dan SMA Negeri 5 Semarang. Ketiga bangunan tersebut merupakan bangunan kuno. Bangunan SMA N 3 Semarang dibangun pada tahun 1877 dan dulunya merupakan H.B.S (Hogereburger School). Sekarang bangunan masih kokoh berdiri dan merupakan salah satu sekolah favorit di kota Semarang. Dulu aku ingin masuk sekolah ini, namun nilaiku masih kurang. Akhirnya masuk ke SMA N 1 Semarang. Bangunan SMA N 1 Semarang juga merupakan bangunan kuno dan salah satu sekolah terluas di kota Semarang.

Balaikota Semarang
Salah sudut Balaikota Semarang

Perjalanan masih berlanjut, sekarang kami menuju kawasan Tugu Muda Semarang. Di kawasan ini terdapat beberapa gedung bersejarah. Gedung Lawang Sewu, Museum Mandala Bhakti, Wisma Perdamaian dan Tugu Muda. Seperti Tugu Muda yang dibangun oleh Ir. Soekarno untuk memperingati pertempuran Lima Hari di Kota Semarang. Kemudian ada Gedung Lawang Sewu yang dulunya merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang dibangun pada tahun 1904. NIS merupakan perusahaan kereta api pertama di Indonesia. Stasiun pertama di Indonesia juga dibangun di Kota Semarang.

Banyak informasi baru yang aku dapat tentang kawasan Jalan Pemuda dan sekitarnya. Ternyata banyak hal baru aku ketahui ketika mengikuti acara ini. Aku merasa belum sepenuhnya mengenal tentang kota kelahiranku ini. Hingga timbul sebuah pertanyaan, gimana kamu mau mengenalkan kotamu ke orang lain? Jika kamu sendiri tak mengenal kotamu dengan baik. Bukankah kamu seorang duta wisata untuk kotamu?

Blusukan etape pertama adalah menyusuri Jalan Pemuda. Kemudian etape kedua di Jalan Pandanaran dan etape terakhir di jalan Gajah Mada. Masih banyak hal yang bakal kami temui selama perjalanan blusukan kawasan Segitiga Emas Kota Semarang. Cerita tentang blusukan di etape kedua bisa dibaca di artikel selanjutnya.

31 komentar: Leave Your Comments

  1. Wah ada ya segitiga emas semarang. Pinter wae sing nggawe ki :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu cuma sebutan untuk kawasan aja mbak dian :D

      Hapus
  2. Waktu kuliah di Semarang ga sempat explore2 kota nya.. sekarang jd agak nyesel.. hehehe...
    baru tau juga kalo itu sebutannya segitiga emas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. rasanya perlu napak tilas lagi di semarang mas :D

      Hapus
  3. Lumayan capek tapi asik ya...
    kapan-kapan ikutan lagi, aah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa mbak ika...banyak rute yang sudah dibuat mbak :D

      Hapus
  4. Wihh seruu. Aku dulu sering jalan kaki biar hemat ongkos. Dari Johar - Pemuda, Simpang Lima - Tugumuda. Seru. Pengen jalan jalan lagi 😁.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain hemat ngkos, sekalian olahraga biar sehat yaa :D

      Hapus
  5. Asyik banget tuh mengexplore bangunan bersejarah rame-rame

    BalasHapus
    Balasan
    1. dapat ilmu dan teman baru yaa mas :D

      Hapus
  6. Asyik banget tuh mengexplore bangunan bersejarah rame-rame

    BalasHapus
    Balasan
    1. dapat ilmu dan teman baru yaa mas :D

      Hapus
  7. Mas, kalau ada acara seperti ini dicolek dong. Aku pengen ikut keliling di Semarang :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahhaa...siap mas sitam..ntar aku colek
      instagramnya apa?

      Hapus
  8. bagus juga nih sebagai alternatif wisata kota semarang, bosen soalnya kalo main ke lawang sewu terus. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mas budy....semarang tidak hanya lawang sewu dan sampokong saja :D

      Hapus
  9. Udah lama banget ngak nikmati wedang tahu, sekarang udah ngak ada yg keliling komplek jualan wedang tahu ini #HarusKeSemarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. sini om ke semarang...kita ngwedang tahu bareng :D

      Hapus
    2. Sesungguhnya wedang tahu itu apa 😂😂 apa wedang dikasih tahu?

      Hapus
    3. tahu dikasih wedang..hahhaa

      Hapus
    4. Hasek di traktir yaa kalo ke semarang, eh kayak nya di gresik juga ada yang jual keliling lho dulu

      Hapus
  10. yes, dibalik gedung-gedung tinggi yang semakin banyak menjamur, tentu ada saja sebuah perkampungan yang hilang
    kapan-kapan ajak aku blusukan, mas :d

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa ntar dikabari kalo ada acara blusukan lagi...di semarang banyak perkampungan dg cerita sejarahnya masing2

      Hapus
  11. 24 tahun lebih di Semarang, dan belum pernah blusukan di segitiga emasnya kota sendiri. #tutupandaun #ngumpet

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayok kita blusukan bareng aja..hihihii

      Hapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  13. Yang saya khawatirkan itu demi pembangunan lalu bangunan lama yang harusnya jadi heritage satu demi satu dirubuhkan dan hilang. Lalu hilanglah kita akan sejarah masa lalu. Harapan saya minimal perkampungannya tetap dipertahankan. Kalo mau perkembangan kota kearah daerah yang masih sepi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu juga yang menjadi kekhawatiran pemerhati sejarah di kota Semarang bang. bahkan banyak orang yang tidak mengenali kota mereka sendiri, termasuk warga kota semarang

      Hapus
  14. Salam kenal dari Pemalang, Mas.
    Menarik sekali heritage walking tour-nya ini. Andai aku tahu, kapan tiba waktuku. Eh, salah, maksudnya kalau aku tahu ada acara ini bakal ikutan. Apalagi ada Mbak Ika, hehehe. Next kalau ada acara seperti ini tolong kabari ya, Mas. Matur nuwun :)

    BalasHapus
  15. Setelah baca tulisannya Johanes lalu baca ini. Duh jadi penasaran dengan Masjid Sekayu. Dulu cuma sempat dilewatin ama Irzal. Sepertinya memang kudu ikut Bersukaria Walking Tour biar semakin cinta dengan sejarah Kota Semarang hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keliling kota semarang ddg jalan kaki memang seru lim..apalagi ada bbrapa rute yg sudah dsiapkan tim bersukaria.
      Kapan2 ikut walking tour yaa :D

      Hapus