Saturday, March 11, 2017

Mengejar Sunrise Gunung Bromo (Bagian 2- Selesai)

Dalam perjalanan turun ke parkiran motor, aku melihat di salah satu kios menjual postcard. Postcard yang dijual memiliki tema Gunung Bromo dan dijual seharga Rp 10.000/biji. Namun, aku tak membelinya. Warung-warung sudah mulai sepi. Kami melanjutkan perjalanan menuju pasir berbisik Gunung Bromo. Jalanan turunan tajam berhasil kami lalui. Kalau lewat sini, pastikan kendaraan dalam kondisi baik. Selama perjalanan terlihat mobil jeep yang hilir mudik mengantar pengunjung Gunung Bromo.
Baca dulu:  Mengejar Sunrise Gunung Bromo (Bagian 1)


Orang-orang Suku Tengger

Setelah menempuh jalanan ekstrim nan curam, akhirnya kami berdua tiba di kawasan pasir Gunung Bromo sambil ditemani rintikan hujan. Kami berdua langsung menuju ke parkiran motor Gunung Bromo. Kami berdua berniat untuk mendaki hingga bibir kawah. Cuaca saat itu memang hujan. Meskipun hujan, banyak pengunjung juga melakukan pendakian. Terlihat beberapa pengunjung menunggangi kuda yang disewakan oleh masyarakat suku Tengger. Kami berdua tetap berjalan kaki. Aku sih tetap semangat, meskipun hujan semakin deras. Di tengah perjalanan, Mas Hendrik meminta ijin untuk istirahat dan tidak melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan menuju bibir kawah seorang diri.

Mari mendaki..!!!

Langkah kaki aku percepat, hingga akhirnya aku tiba di depan ratusan anak tangga menuju puncak. Aku mulai menarik napas panjang dan berjalan menaiki anak tangga dengan kecepatan stabil. Tak sampai sepuluh menit akhirnya aku sudah di bibir kawah Gunung Bromo. Bibir kawah tidak terlalu ramai. Mungkin karena hujan. Setelah beberapa kali ambil gambar, aku memutuskan untuk segera turun. Melewati anak tangga dengan pelan-pelan, rentan terpeleset kenangan. Mas Hendrik lagi istirahat di sebuah warung. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan turun. Rencana kami akan pulang melalui Tumpang dan akan melewati Jemplang.

Kawah Gunung Bromo
View dari puncak Gunung Bromo

Kami melewati para penyedia jasa kuda. Mereka merupakan warga suku Tengger. Suku Tengger merupakan suku asli yang hidup di sekitar Gunung Bromo. Orang-orang Suku Tengger hanya menggunakan sarung mereka untuk melindungi tubuh mereka dari dingin. Beberapa mobil Jeep terlihat parkir di area yang sudah ditentukan. Mereka sedang menunggu para penumpang mereka yang sedang asyik menikmati Gunung Bromo. Untuk menuju jalur arah Jemplang, kami tidak tinggal mengikuti patok yang ada. Sejauh mata memandang hanya terlihat pasir, savana dan perbukitan nan hijau. Kami berdua tidak berhenti di Bukit Telletubies. Kami memilih untuk langsung beranjak pulang. Melewati jalur Jemplang merupakan pengalaman pertama bagi kami berdua.

Penyedia jasa kuda

Dalam perjalanan, kami bertemu dengan dua pengendara motor lainnya. Mereka juga akan turun melalui Jemplang. Mereka sudah terbiasa touring motor melalui jalur Gunung Bromo- Jemplang. Yaa akhirnya kami berjalan bersama *ciieee. Jalur menuju Jemplang sebagian besar masih berupa pasir. Hal tersebut membuat mas Hendrik mengendarai motor lebih berhati-hati. Selama perjalanan, kami berada dibelakang mereka berdua. Sedari tadi pagi kawasan Bromo masih gerimis. Tak ayal jalanan pasir menjadi banyak kenangan, eeh genangan.

Pura Luhur Poten Gunung Bromo

“Gubrak..!!!”, terdengar suara motor terjatuh
Karena kurang fokus memikirkan dia, salah satu dari mereka terjatuh. Dia terpleset karena ban motornya slip diantara genagan. Dia baik-baik saja, namun celananya dipenuhi dengan coretan tanah liat. Akhirnya kami menemukan jalan beraspal hingga menuju pertigaan Jemplang. Belok kanan ke arah Ranupane, basecamp pendakian Gunung Semeru. Rasanya ingin melanjutkan perjalanan menuju ke Ranupane, kemudian menuju Gunung Semeru. Tentunya bukan saat ini, aku pun belum memiliki persiapan untuk mendaki Gunung Semeru. Suatu saat nanti akan mendaki Gunung Semeru, bersama kamu. Sedangkan belok kiri menuju arah kota Malang. Jalanan yang dilewati juga sangat bagus. Hingga akhirnya kami beristirahat di pos pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Melepas lelah dan mengobrol dengan pengunjung lainnya.

Om, Telolet Om...!!

Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang. Aku masih seperti membonceng Mas Hendrik. Mas Hendrik enggan aku bocengkan. Kata dia sih takut kalau nanti jadi mengantuk. Akhirnya padatnya Kota Malang mulai menyambut kami. Aku merasa kota Malang seperti Kota Bandung. Jalanannya sempit namun padat dan udaranya yang tidak terlalu panas. Selain itu, kedua kota ini memiliki banyak cerita dan kenangan bagi perjalananku.

Pulang...!!!

Terima kasih Malang dan tentu saja ucapan terima kasih untuk Mas Hendrik yang sudah berkenan menemaniku berkeliling Gunung Bromo. Ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan. Banyak cerita dan yang terukir selama perjalanan. Terima kasih Gunung Bromo atas sambutan yang diberikan kepadaku. Mulai dari rintik hujan, kabut pagi, perkasanya orang-orang Suku Tengger, ratusan anak tangga, hingga tawa canda yang menyatu dalam dinginmu. Gunung Bromo tidak hanya bercerita tentang berburu sunrise, namun lebih dari itu.

Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS)
Website: http://bromotenggersemeru.org/
Tiket Masuk Weekday: Rp 27.500 (Nusantara), Rp 217.500 (Mancanegara)
Tiket Masuk Weekend: Rp 32.500 (Nusantara), Rp 317.500 (Mancanegara)
Motor : Rp 5.000
Mobil : Rp 10.000
 
Gunung Bromo, 7 Desember 2016 

Saturday, March 4, 2017

Mengejar Sunrise Gunung Bromo (Bagian I)

Namanya juga sebuah perjalanan tanpa rencana. Jadi semuanya diatur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Rencana awalnya sih aku cuma pergi ke Surabaya, namun semuanya berubah ketika negara api menyerang aku iseng mengecek tiket kereta dari Surabaya ke Malang. Eeh ternyata murah banget. Yaitu cuma sebesar Rp 12.000/ orang. Harga itu lebih murah daripada naik kereta api dari Semarang ke Malang. Tanpa ragu, akhirnya aku memastikan diri untuk pergi ke Malang untuk keesokan harinya dengan menggunakan kereta api Penataran. Untuk jadwal keberangkatan bisa tanya langsung ke loket stasiun Gubeng Surabaya.


Bromo diselimuti kabut pagi

Perjalanan Surabaya-Malang ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam perjalanan. Aku memilih untuk turun di stasiun Malang Kota Baru. Abis itu keluar stasiun dan langsung lihat banyak angkot yang hilir mudik. Angkotnya pake kode, iyaa kode, berupa singkatan kata. Beda dengan kode angkot yang biasanya berupa huruf dan angka. Sempat bingung, namun semua itu bisa diatasi *cliiing*. Meluncurlah aku menuju kawasan Universitas Negeri Malang untuk bertemu salah satu temanku, namanya Novan. Rencananya selama aku di Malang akan menginap di rumahnya.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya si Novan menghampiriku dan mengajak pergi ke kantin yang terletak di bagian belakang kampus.
“Vai, ke Malang dalam agenda apa..?” tanya Novan
“Ingin silaturahmi aja, ketemu arek-arek.” Jawabku santai
“Okelah, nanti aku kabari arek-arek untuk ngumpul."
"Okee, siap bro"

Saat itu aku memang ingin pergi ke Malang, namun belum tahu akan pergi kemana. Niat awalnya hanya ingin silaturahmi dengan teman-teman di Malang. Bagiku, sebuah perjalanan tidak sekadar destinasi atau tempat wisata, namun lebih dari itu. Berkumpul dengan teman-teman di kota lain juga merupakan sebuah perjalanan. Khususnya perjalanan hati.

Malam harinya kami ngumpul di salah satu angkringan arek Malang. Kalo sudah ngumpul gini, pasti ada aja yang diomongin. Ga bakal kehabisan bahan obrolan. Mulai dari tentang traveling, hingga mengenai komunitas. Dalam obrolan tersebut, aku mengutarakan keinginan untuk pergi ke Gunung Bromo. Dan mereka membantu mencarikan teman jalan. Akhirnya Mas Hendrik bersedia menemaniku untuk ke Bromo pada besok malam.

Sebelum ke Bromo, aku yang ditemani oleh Rizky, Novan dan Clara mengunjungi Kampung Warna Jodipan, kota Malang. Kemudian dilanjutkan keliling kota Malang dan menikmati dinginnya kota Batu. Tentang kampung Jodipan, nanti akan ditulis dalam artikel tersendiri. Tunggu aja yaa..!! Sekitar pukul 23:30, Rizky mengantarku untuk bertemu Mas Hendrik. Aku dan Mas Hendrik memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu dan memulai perjalanan menuju Gunung Bromo pukul 01:30 dinihari.

Tepat pukul 01:30, alarm gadget telah meraung-meraung untuk membangunkan kami dari tidur. Setelah bersiap-siap, akhirnya kami meluncur menuju Gunung Bromo menggunakan motor. Perjalanan kali ini akan dipandu oleh GPS dan insting kami berdua. Soalnya Mas Hendrik juga belum pernah ke Gunung Bromo melalui jalur Nongkojajar. Perjalanan tetap harus dilanjutkan, meskipun ini merupakan jalur baru untuk kami berdua. Gunung Bromo, I’m Coming…!!!


Antara aku, kabut dan mimpi-mimpi kita

Sesuai rencana, kami akan menuju Gunung Bromo melalui jalur Nongkojajar, Pasuruan. Dari Kota Malang kami menuju ke daerah Lawang, kemudian menuju daerah Nongkojajar. Dari Nongkojajar kita langsung menuju ke Tosari dan terakhir ke Gunung Bromo. Petunjuk jalan di jalur ini sangat jelas, jadi tidak perlu takut untuk tersesat. Sesuai perkiraan GPS, perjalanan akan menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Cukup lama perjalanannya. Apalagi udara dingin, kantuk dan jalanan yang sepi berhasil membuatku beberapa kali tertidur dalam perjalanan.

Pointer GPS menunjukkan Gunung Bromo sudah dekat. Akhirnya setelah melewati perjalanan lama, pada pukul  04:00 kami tiba di pintu gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Sebelum melanjutkan perjalanan, jangan lupa bayar tiket masuk dulu. Tiket masuk TNBTS untuk dua orang dan satu motor sebesar Rp 60.000,-. Deket pintu gerbang ada warung dan penjual sarung tangan dan topi. Kalau kalian tidak kuat sama dinginnya Gunung Bromo, lebih baik minum kopi dulu di warung dan beli sarung tangan beserta topinya.


Selamat datang, kabut pagi..!!!

Kami akan langsung menuju ke pos Penanjakan. Jaraknya sekitar 9 Km dari loket pintu masuk. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa mobil jeep yang membawa beberapa wisatawan. Jalan masih berupa tanjakan. Udara semakin dingin dan kabut semakin tebal. Akhirnya kita sampai di gerbang Pos Penanjakan. Warung-warung di sekitar pos Penanjakan sudah ramai dengan para wisatawan. Baik wisatawan lokal, maupun mancanegara. Mereka sedang mencari kehangatan dalam secangkir kopi, gorengan, dan semangkuk mie instan. Tawa dan obrolan seru menjadi penghangat diantara mereka.


Warung yang siap memanjakan pengunjung

Kami mulai menaiki puluhan anak tangga untuk menikmati sunrise di Gunung Bromo. Waktu menunjukkan pukul 04:50, namun tanda-tanda sunrise belumlah nampak. Kabut malah semakin menebal. Aku bersama ratusan orang menantikan matahari terbit. Aku mencari spot terbaik untuk bisa menikmati sunrise. Hingga pukul 06:15 matahari tak kunjung menampakkan diri. Pos Penanjakan pun mulai sepi. Ditinggal para wisatawan yang tak mendapatkan sunrise. Aku pun singgah di warung. Menikmati secangkir kopi dan pisang goreng.


Masih diselimuti kabut pagi

Aku berniat untuk kembali lagi ke pos Penanjakan pada pukul 07:00. Berharap bisa melihat view gunung Bromo. Berharap kabut tak lagi menutupinya. Namun sesampainya di sana, kabut malah semakin tebal. Sejauh mata memandang, hanya kabut yang terlihat. Sepertinya pagi ini memang aku dan ratusan wisatawan sedang tidak beruntung. Tidak bisa menikmati sunrise gunung Bromo. Kata pemilik warung, sudah beberapa hari ini sunrise tertutup kabut. Mungkin menikmati sunrise Gunung Bromo akan menjadi salah satu alasanku untuk balik lagi kesini. Mengejar sunrise..? apanya yang dikejar? Sunrise selalu ada tiap pagi. Setiap tempat memiliki sunrise-nya masing-masing, tinggal bagaimana kita dan dengan siapa menikmati sunrise di setiap paginya.

Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS)
Tiket Masuk Weekday: Rp 27.500 (Nusantara), Rp 217.500 (Mancanegara)
Tiket Masuk Weekend: Rp 32.500 (Nusantara), Rp 317.500 (Mancanegara) 
Motor : Rp 5.000
Mobil : Rp 10.000
 
Gunung Bromo, 7 Desember 2016 

Baca Juga: Tebing Breksi Jogja kini semakin cantik, tapi?