WHAT'S NEW?
Loading...

Mengejar Sunrise Gunung Bromo (Bagian I)

Namanya juga sebuah perjalanan tanpa rencana. Jadi semuanya diatur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Rencana awalnya sih aku cuma pergi ke Surabaya, namun semuanya berubah ketika negara api menyerang aku iseng mengecek tiket kereta dari Surabaya ke Malang. Eeh ternyata murah banget. Yaitu cuma sebesar Rp 12.000/ orang. Harga itu lebih murah daripada naik kereta api dari Semarang ke Malang. Tanpa ragu, akhirnya aku memastikan diri untuk pergi ke Malang untuk keesokan harinya dengan menggunakan kereta api Penataran. Untuk jadwal keberangkatan bisa tanya langsung ke loket stasiun Gubeng Surabaya.


Bromo diselimuti kabut pagi

Perjalanan Surabaya-Malang ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam perjalanan. Aku memilih untuk turun di stasiun Malang Kota Baru. Abis itu keluar stasiun dan langsung lihat banyak angkot yang hilir mudik. Angkotnya pake kode, iyaa kode, berupa singkatan kata. Beda dengan kode angkot yang biasanya berupa huruf dan angka. Sempat bingung, namun semua itu bisa diatasi *cliiing*. Meluncurlah aku menuju kawasan Universitas Negeri Malang untuk bertemu salah satu temanku, namanya Novan. Rencananya selama aku di Malang akan menginap di rumahnya.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya si Novan menghampiriku dan mengajak pergi ke kantin yang terletak di bagian belakang kampus.
“Vai, ke Malang dalam agenda apa..?” tanya Novan
“Ingin silaturahmi aja, ketemu arek-arek.” Jawabku santai
“Okelah, nanti aku kabari arek-arek untuk ngumpul."
"Okee, siap bro"

Saat itu aku memang ingin pergi ke Malang, namun belum tahu akan pergi kemana. Niat awalnya hanya ingin silaturahmi dengan teman-teman di Malang. Bagiku, sebuah perjalanan tidak sekadar destinasi atau tempat wisata, namun lebih dari itu. Berkumpul dengan teman-teman di kota lain juga merupakan sebuah perjalanan. Khususnya perjalanan hati.

Malam harinya kami ngumpul di salah satu angkringan arek Malang. Kalo sudah ngumpul gini, pasti ada aja yang diomongin. Ga bakal kehabisan bahan obrolan. Mulai dari tentang traveling, hingga mengenai komunitas. Dalam obrolan tersebut, aku mengutarakan keinginan untuk pergi ke Gunung Bromo. Dan mereka membantu mencarikan teman jalan. Akhirnya Mas Hendrik bersedia menemaniku untuk ke Bromo pada besok malam.

Sebelum ke Bromo, aku yang ditemani oleh Rizky, Novan dan Clara mengunjungi Kampung Warna Jodipan, kota Malang. Kemudian dilanjutkan keliling kota Malang dan menikmati dinginnya kota Batu. Tentang kampung Jodipan, nanti akan ditulis dalam artikel tersendiri. Tunggu aja yaa..!! Sekitar pukul 23:30, Rizky mengantarku untuk bertemu Mas Hendrik. Aku dan Mas Hendrik memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu dan memulai perjalanan menuju Gunung Bromo pukul 01:30 dinihari.

Tepat pukul 01:30, alarm gadget telah meraung-meraung untuk membangunkan kami dari tidur. Setelah bersiap-siap, akhirnya kami meluncur menuju Gunung Bromo menggunakan motor. Perjalanan kali ini akan dipandu oleh GPS dan insting kami berdua. Soalnya Mas Hendrik juga belum pernah ke Gunung Bromo melalui jalur Nongkojajar. Perjalanan tetap harus dilanjutkan, meskipun ini merupakan jalur baru untuk kami berdua. Gunung Bromo, I’m Coming…!!!


Antara aku, kabut dan mimpi-mimpi kita

Sesuai rencana, kami akan menuju Gunung Bromo melalui jalur Nongkojajar, Pasuruan. Dari Kota Malang kami menuju ke daerah Lawang, kemudian menuju daerah Nongkojajar. Dari Nongkojajar kita langsung menuju ke Tosari dan terakhir ke Gunung Bromo. Petunjuk jalan di jalur ini sangat jelas, jadi tidak perlu takut untuk tersesat. Sesuai perkiraan GPS, perjalanan akan menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Cukup lama perjalanannya. Apalagi udara dingin, kantuk dan jalanan yang sepi berhasil membuatku beberapa kali tertidur dalam perjalanan.

Pointer GPS menunjukkan Gunung Bromo sudah dekat. Akhirnya setelah melewati perjalanan lama, pada pukul  04:00 kami tiba di pintu gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Sebelum melanjutkan perjalanan, jangan lupa bayar tiket masuk dulu. Tiket masuk TNBTS untuk dua orang dan satu motor sebesar Rp 60.000,-. Deket pintu gerbang ada warung dan penjual sarung tangan dan topi. Kalau kalian tidak kuat sama dinginnya Gunung Bromo, lebih baik minum kopi dulu di warung dan beli sarung tangan beserta topinya.


Selamat datang, kabut pagi..!!!

Kami akan langsung menuju ke pos Penanjakan. Jaraknya sekitar 9 Km dari loket pintu masuk. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa mobil jeep yang membawa beberapa wisatawan. Jalan masih berupa tanjakan. Udara semakin dingin dan kabut semakin tebal. Akhirnya kita sampai di gerbang Pos Penanjakan. Warung-warung di sekitar pos Penanjakan sudah ramai dengan para wisatawan. Baik wisatawan lokal, maupun mancanegara. Mereka sedang mencari kehangatan dalam secangkir kopi, gorengan, dan semangkuk mie instan. Tawa dan obrolan seru menjadi penghangat diantara mereka.


Warung yang siap memanjakan pengunjung

Kami mulai menaiki puluhan anak tangga untuk menikmati sunrise di Gunung Bromo. Waktu menunjukkan pukul 04:50, namun tanda-tanda sunrise belumlah nampak. Kabut malah semakin menebal. Aku bersama ratusan orang menantikan matahari terbit. Aku mencari spot terbaik untuk bisa menikmati sunrise. Hingga pukul 06:15 matahari tak kunjung menampakkan diri. Pos Penanjakan pun mulai sepi. Ditinggal para wisatawan yang tak mendapatkan sunrise. Aku pun singgah di warung. Menikmati secangkir kopi dan pisang goreng.


Masih diselimuti kabut pagi

Aku berniat untuk kembali lagi ke pos Penanjakan pada pukul 07:00. Berharap bisa melihat view gunung Bromo. Berharap kabut tak lagi menutupinya. Namun sesampainya di sana, kabut malah semakin tebal. Sejauh mata memandang, hanya kabut yang terlihat. Sepertinya pagi ini memang aku dan ratusan wisatawan sedang tidak beruntung. Tidak bisa menikmati sunrise gunung Bromo. Kata pemilik warung, sudah beberapa hari ini sunrise tertutup kabut. Mungkin menikmati sunrise Gunung Bromo akan menjadi salah satu alasanku untuk balik lagi kesini. Mengejar sunrise..? apanya yang dikejar? Sunrise selalu ada tiap pagi. Setiap tempat memiliki sunrise-nya masing-masing, tinggal bagaimana kita dan dengan siapa menikmati sunrise di setiap paginya.

Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS)
Tiket Masuk Weekday: Rp 27.500 (Nusantara), Rp 217.500 (Mancanegara)
Tiket Masuk Weekend: Rp 32.500 (Nusantara), Rp 317.500 (Mancanegara) 
Motor : Rp 5.000
Mobil : Rp 10.000
 
Gunung Bromo, 7 Desember 2016 

Baca Juga: Tebing Breksi Jogja kini semakin cantik, tapi?

26 komentar: Leave Your Comments

  1. ditunggu kelanjutan ceritanya masbro 😄

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. iyaap...terlihat lebih mistis..tapi lagi butuh hangatnya mentari pagi :D

      Hapus
  3. Lagi musim hujan, sering kabut, mataharinya jadi jarang muncul. Coba datang lagi di musim kemarau.
    *dari penghuni bromo, hehehe*

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa...kata bapak yang diwarung, sebaiknya ke bromo mulai bulan juni-september. pasti dapat dunrise yang bagus :D
      kemarin emang belum rejekinya :D

      Hapus
    2. jadi mesti kesana lagi nie :D

      Hapus
  4. Ah aku belum kesampaian mau ke Gn.Bromo. Asyik ada harga tiket masuk nya, mudah"an kalau aku ksana tidak berubah.. ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. kurang lebih tiket masuk segitu mas...ke bromo pas musim panas aja..biar dapat sunrise :D

      Hapus
  5. Tiket masuk buat wisatawan mancanegaranya bikin terperanga. Gak kebayang kalau aku lagi melancong keluar negeri terus dikenakan tarif dengan selisih yang jauh banget kayak gitu. Pasti langsung mikir berulang kali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. perhitungan itu mungkin sudah disesuaikan dengan kurs mata uang asing juga. Jadi menurut pengelola, harga tersebut sudah wajar untuk wisatawan asing.

      Hapus
  6. Jangan lupa cek lembaran tiketnya. Petugas suka iseng loh. Kita bayar 5 org, dikasihnya 3 lembar tiket doang. Ngerti kan maksudnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pahamlah....untung aja kemarin cuma 2orang..jadi ga susah buat ngeceknya :D

      Hapus
  7. pahamlah....untung aja kemarin cuma 2orang..jadi ga susah buat ngeceknya :D

    BalasHapus
  8. betul mas ga dapet sunrise juga gpp, jd punya alasan untuk balik lg kesana wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu...biar ada alasan buat balik lagi dan lagi...hahhahaa

      Hapus
  9. Bagus foto-fotonya, seperti negeri di atas awan :)

    BalasHapus
  10. Hei, kebetulan banget aku bulan ini mau ke Bromo (lagi) setelah kemarin cuma lihat dari jauh. Haha. Kapan-kapan kalau ke Malang berkabar ya, kali aja bisa kopdaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa siap kak silviana...kalo dalam waktu dekat belum ada rencana kesana...tapi sepertinya cocok dengan khidupan di malang :D

      Hapus
  11. Halo Mas Pai, aduh Bromo ya, bacanya bikin pengen pake banget ke sana.
    Apa lagi bisa liat sunset, makasih buat artikel yang sangat informatifnya Mas ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. kuy ke Bromo nya sekitar bulan mei-agustus...biasanya sunrise terlihat bagus.
      Percaya deh mbak Li..bromo itu bukan sekedar sunrisenya aja :D

      Makasih udah mampir dimari mbak :D

      Hapus
  12. Bromo itu memang cakep bener kak, masih ku draft malah cerita sunrise tentang bromo ini

    BalasHapus
  13. Mantab gan,
    kapan2 semoga bisa ikut ke sono

    BalasHapus
  14. Semoga kunjungan selanjutnya bisa ketemu sunrisenya ya Mas.
    Saya juga pengen liat sunrise dari Bromo.
    Semoga suatu saat bisa nyampe ke sana juga

    BalasHapus