Tuesday, May 23, 2017

Jejak Kejayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula dari Semarang

“Dulu, bangunan itu merupakan sebuah rumah”, ujarku kepada seorang kawan dari Bandung
“Oyaa…?”, tanyanya semakin penasaran
“Iyaa, yang punya dulunya seorang Raja Gula dari Semarang”
“Orang terkaya di Asia Tenggara pada masa itu”
“Permukiman di belakang bangunan itu termasuk halaman belakangnya”, aku menambahkan.
“Wouw, besar sekali kalau begitu”, temanku masih penasaran
“Yaa begitulah, bisa jadi stadion sepak bola ”. Jawabku singkat sambil melanjutkan perjalanan.

Obrolan pagi di hari Sabtu ketika melewati jalan Kyai Saleh, Semarang setelah kami berdua bercengkrama dengan Pecel Bu Sumo yang berada di jalan itu. Menurutku, Pecel Bu Sumo salah satu pecel yang paling enak di Kota Semarang. Apalagi badaknya (badak= bakwan, bala-bala) yang bikin ketagihan. *Badak kok dimakan*. Kamu mau Pecel Bu Sumo juga..? Sini, main ke Semarang dulu yaa.

Aku sering melewati bangunan tua itu dan hanya tahu sedikit tentang sejarahnya. Penasaran sih pasti, tapi mendapatkan informasi yang valid itu jauh lebih penting. Beberapa literasi menjelaskan bahwa dulu pemilik bangunan tersebut adalah Oei Tiong Ham. Seorang Raja Gula dari Semarang di era tahun 1890-an. Aku sering mencari informasi acara yang berisi tentang penelusuran jejak-jejak Sang Raja Gula dari Semarang ini, namun belum aku dapatkan informasi tersebut. Hingga akhirnya setelah 12 purnama, teman-teman dari Bersukaria Walking Tour akan mengadakan acara tersebut dengan tema “Radja Goela”. Tanpa pikir panjang, aku pun mendaftar untuk mengikuti acara tersebut. Tidak lupa aku juga mengajak dua temanku yang kebetulan juga seorang blogger, yaitu Echi dan Liana dari Jakarta.

Taman Menteri Supeno

Kami bertiga langsung bertemu di meeting point di Taman Menteri Supeno (lebih dikenal dengan sebutan Taman KB). Pagi itu, peserta yang ikut sebanyak empat orang, yaitu aku, Echi, Liana, dan Neni. Perjalanan kali ini akan ditemani oleh mas Fauzan yang bertugas sebagai guide. Kami memulai penjalanan dengan menuju ke Jalan Pahlawan. Kami mesti menerobos jalan Menteri Supeno yang pagi itu dibanjiri dengan para pedagang yang hanya berjualan ketika Car Free Day (CFD). Terkadang, para pedagang ini adalah sumber kesemrawutan ketika CFD. Minggu pagi memang bebas dari kendaraan bermotor, namun tidak dengan kebisingan dan kesemrawutan. Dari Jalan Pahlawan inilah Mas Fauzan mulai bercerita tentang Oei Tiong Ham.
Oei Tiong Ham lahir di Semarang pada tanggal 19 November 1866. Oei Tiong Ham merupakan anak dari Oei Tjie Sien dan Tjan Bien Nio. Ayah Oei Tiong Ham merupakan laki-laki yang melakukan pelarian dari Tiongkok menggunakan sebuah kapal yang dia tumpangi hingga tibalah dia di Semarang. Ayah Oei Tiong Ham merupakan pedagang yang sukses dengan perusahaannya bernama Firma Kian Gwan Kongsi. Nah dari ayahnya inilah ilmu bisnis Oei muda didapatkan. Oei Tiong Ham merupakan anak kedua dari delapan bersaudara.

Kami berlima mulai menyusuri Jalan Pahlawan, melewati kantor Gubernur hingga kantor Mapolda Jateng. Mas Fauzan menjelaskan bahwa mulai dari kantor Gubenur Jateng hingga Mapolda Jateng dulunya merupakan halaman belakang dari rumah Oei Tiong Ham. Bahkan kantor Mapolda dulunya merupakan kebun binatang mini milik Oei Tiong Ham. Saking kayanya, namanya juga dijadikan nama sebuah jalan, yaitu Oei Tiong Ham Weg (sekarang Jalan Pahlawan).

Oei Tiong Ham weg (sekarang Jalan Pahlawan)

Selain itu, pada masa itu warga etnis Tionghoa diharuskan tinggal secara berkelompok di wilayah Pecinan. Karena memiliki kekuasaan, Oei Tiong Ham berhasil melobi pemerintah Hindia Belanda agar mengijinkan dia dan keluarganya tinggal di luar kawasan Pecinan. Yaitu di rumahnya yang dikenal dengan sebutan Istana Gergaji.

Sekitar tahun 1900, Oei Tjie Sien meninggal dunia karena sakit jantung. Mulai saat itu, Oei Tiong Ham memegang perusahaan ayahnya, yaitu Kian Gwan Kongsi. Namun sebelum itu, Oei Tiong Ham telah memulai bisnis gula dan candu atau opium. Pada tahun 1890-1904, Oei Tiong Ham menguasai perdagangan candu atau opium. Pada tahun 1893, Oei Tiong Ham mendirikan Oei Tiong Ham Concern setelah mewarisi Kian Gwan Kongsi dari ayahnya pada tahun 1890. Oei Tiong Ham Concern (OTHC) pun berubah menjadi perusahaan konglomerasi terbesar di Hindia Belanda pada awal abad 20.
Baca juga: Blusukan di Segitiga Emas Kota Semarang (Bagian 1)

Kemudian kami berjalan menyusuri Jalan Veteran. Mas Fauzan mengatakan bahwa pada masa itu, komoditas gula merupakan komoditas yang dianggap mewah. Apalagi Oei Tiong Ham memiliki beberapa pabrik gula di Jawa Timur. Pabrik-pabrik gula ini terus berkembang dan menjadi penopang perusahaan Oei Tiong Ham Concern dan menguasai perdagangan gula di Asia. Dari situlah Oei Tiong Ham dijuluki sebagai Raja Gula dari Semarang. Namun, kekayaannya juga didapat dari bisnis candu atau opium dan bisnis lainnya. Seperti asuransi, perbankan, dan properti.

Fokus pada rumah di belakang kami yaa ^^

Akhirnya kami tiba di persimpangan Jalan Veteran dan Jalan Kyai Saleh. Bekas rumah Oei Tiong Ham atau istana Gergaji berada di dekat persimpangan itu. Terlihat sangat megah dan masih berdiri kokoh. Dulu luas rumahnya sekitar 81 hektare. Terdapat beberapa bangunan, taman, kebun, gazebo, hingga kebun binatang. Namun kini hanya tersisa bangunan utamanya. Istana Gergaji sekarang digunakan sebagai Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ingin rasanya masuk ke dalam bangunan tersebut. Namun apalah daya, petugas keamanan tidak mengijinkan kami untuk masuk ke dalam bangunan cagar budaya tersebut.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri gang-gang perkampungan yang ada di sekitar rumah Oei Tiong Ham. Dulunya, perkampungan ini merupakan halaman belakang istana Oei Tiong Ham. Oei Tiong Ham sendiri memiliki 8 istri dan 26 anak. Beuuh, banyak juga yaa istrinya. Namun dari 26 anaknya, hanya 9 orang yang dipercaya untuk meneruskan usahanya. Namun, langkah tersebut terganjal dengan aturan pemerintah Hindia Belanda yang mengatur tentang pembagian secara merata untuk aset dan warisan. Nah, akhirnya Oei Tiong Ham pindah ke Singapura yang pada saat memiliki aturan yang mangakomodasi kehendaknya itu.

Oei Tiong Ham wafat pada tahun 1924, hanya berselang tiga tahun setelah kepindahanya ke Singapura. Setelah Oei Tiong Ham wafat, Oei Tiong Ham Concern pun diambil alih oleh seorang putranya bernama Oei Tjong Hauw. Dibawah kendali Oei Tjong Hauw, Oei Tiong Ham Concern masih bertahan dan berhasil melewati masa-masa sulit. Hingga akhirnya pada tahun 1950, Oei Tjong Hauw meninggal dunia karena serangan jantung.
Setelah meninggalnya Oei Tjong Hauw, bisnis Oei Tiong Ham Concern mengalamai kemunduran. Apalagi pada tahun 1960-an kondisi keamanan, ekonomi dan politik di Indonesia mengalami gejolak. Kejayaan Oei Tiong Ham Concern pun runtuh pada tahun 1964 ketika pemerintah menjatuhkan vonis kejahatan ekonomi dalam bisnis yang dijalankan. Setelah persidangan selama 3 tahun (1961-1964), akhirnya diputuskan bahwa seluruh aset Oei Tiong Ham Concern disita oleh pemerintah RI. Namun, berembus kabar yang mengatakan bahwa vonis tersebut sebagai upaya untuk proses nasionalisasi perusahaan tersebut.

Istana Gergaji. Bekas rumah Oei Tiong Ham

Aset Istana Oei Tiong Ham yang ada di Jalan Kyai Saleh juga diambil alih oleh pemerintah. Aset Oei Tiong Ham Concern pun juga menjadi milik negara, hingga kini dikenal dengan PT. Rajawali Nusindo yang berstatus BUMN dan berkantor di daerah Kota Lama. Oei Tiong Ham Weg juga berganti nama menjadi Jalan Pahlawan.

Rumah klasik yang ada di seberang Istana Gergaji

Di Kota Semarang, nama Oei Tiong Ham mungkin terdengar asing. Padahal Oei Tiong Ham merupakan Raja Gula dan orang terkaya di Asean yang berasal dari Kota Semarang. Di Singapura, nama Oei Tiong Ham sangat dihormati. Bahkan nama beliau jadi nama sebuah gedung dan nama sebuah taman di negara tersebut.


Sungguh ironis. Ketika sebuah kota sedang berkembang dan maju, warganya malah tak mengetahui banyak tentang sejarah kotanya. Apalagi untuk mengetahui tentang sejarah seseorang yang pernah hidup di kota ini. Padahal seorang Raja Gula pernah hidup di kota ini.

Monday, May 8, 2017

Semarang Night Carnival 2017 : Paras Semarang

Sabtu malam, 6 Mei 2017, langit Kota Semarang, khususnya di Titik Nol Kilometer di dekat Kantor Pos Johar hingga kawasan Tugu Muda terlihat cerah. Tak terlihat awan menggumpal, apalagi langit yang terlihat mendung. Sepertinya sejauh ini para pawang hujan bekerja dengan baik. Kedua kawasan tersebut sudah ramai dengan ribuan penonton yang akan menyaksikan acara Semarang Night Carnival 2017.
Panggung Semarang Night Carnival 2017

Semarang Night Carnival digelar untuk memeriahkan HUT Kota Semarang ke 470 tahun. Pertama kali digelar pada tahun 2010. Tahun ini, Semarang Night Carnival mengambil tema Paras Semarang. Paras Semarang ini diwakili dengan Burung Blekok, Kembang Sepatu, Kuliner dan Lampion. Ada sekitar 400 peserta yang akan menggunakan kostum megah warna-warni berjalan sejauh 1,3 km mulai dari Titik Nol Kilometer hingga Gedung Lawang Sewu.

Drumband Canka Lokananta dari AKMIL

Angka di jam digitalku sudah menunjukkan pukul 19:00, namun tak tampak tanda-tanda acara akan segera dimulai. Padahal sesuai jadwal, acara akan dimulai pada pukul 19:00. Namun apa daya, Pak Walikota belum datang sehingga acara belum bisa dimulai. Mungkin beliau sedang ada jamuan makan malam atau mungkin sedang ada kegiatan yang mesti diselesaikan terlebih dahulu. Namun di sudut lain, ratusan peserta yang mengenakan kostum dengan berat lebih dari 5kg sedang menunggu dengan cemas.

Defile Burung Blekok

Bagaimana tidak cemas, mereka telah menyiapkan semuanya untuk hari ini. Banyak waktu, tenaga, dan materi yang mereka keluarkan untuk membuat acara malam ini menjadi spesial, khususnya untuk warga Kota Semarang. Mereka ingin segera tampil, memamerkan kostum mereka yang telah dibalut dengan rasa kebanggaan. Namun yang ditunggu tak kunjung datang, seseorang yang nantinya akan memberikan sambutan. Rasa-rasa cemas itu kemudian berubah menjadi senyum, ketika dua rombongan bus yang dikawal polisi memasuki tempat acara. Kemudian bersalaman dan menyapa para tamu. Hingga mendarat di tempat duduk yang sudah disediakan. Acara pun segera dimulai. Semarang Night Carnival 2017 is ready to rock you…!!!

Defile Kembang Sepatu

Acara dimulai dengan penampilan drumband Canka Lokananta dari Akademi Militer (Akmil). Mereka membawakan beberapa lagu. Drumband ini terdiri dari empat mayoret, dua laki-laki dan dua perempuan. Sekadar info, dalam waktu tiga tahun terakhir acara Semarang Night Carnival diawali oleh drumband yang berasal dari berbagai instansi. Pada acara Semarang Night Carnival 2015, Drumband Cendrawasih dari Akademi Kepolisian (Akpol). Sedangkan pada tahun lalu, drumband diisi oleh Drumband Gema Perwira Samudra  dari Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang.

Defile Kuliner

Defile pertama yang unjuk kebolehan kostum adalah defile Burung Blekok (aku menyebutnya Burung Kuntul). Burung Blekok ini berwarna putih, memiliki leher dan kaki yang panjang. Hidupnya diatas ranting-ranting pohon yang ada di depan komplek TNI di daerah Srondol. Setiap sore burung-burung ini akan terbang mencari makan di daerah pelabuhan Tanjung Emas. Ketika melintas di atas rumahku, aku sering menghitung jumlah burung yang selalu terbang secara berkelompok itu. Sini kamu main ke Kota Semarang, nanti aku ajak menghitung jumlah Burung Blekok ^^. Burung Blekok telah menjadi ikon Kota Semarang.

Defile Lampion

Defile selanjutnya adalah defile Kembang Sepatu. Defile ini didominasi dengan warna merah dan hijau khas Kembang Sepatu. Warna kostum mereka cetar, selaras dengan senyum mereka. Para peserta diajari untuk selalu tersenyum ketika melihat kamera. Biar para tukang foto bisa menghasilkan foto yang epic.

Peserta dari Kota Sawahlunto; Makasih Uni :))

Setelah defile Kembang Sepatu, ada defile Kuliner. Kostum mereka dilengkapi dengan berbagai pernak-pernik berbentuk kuliner khas Kota Semarang, seperti Lumpia, Bandeng Presto, Wingko Babat, dan Kue Ganjel Rel. Tentu saja itu tiruan, bukan asli. Sehingga tidak bisa dimakan.

Peserta dari Taiwan

Defile selanjutnya adalah defile Lampion. Lampion sudah menjadi khas Kota Semarang sejak tahun 1942 yang dikenal dengan nama dian kurung. Lampion sering digunakan para santri sebagai sumber penerangan menuju masjid ketika malam hari. Defile ini didominasi dengan warna merah.

Peserta dari Taiwan

Selain peserta dari Kota Semarang, peserta Semarang Night Carnival juga diikuti oleh peserta dari kota Sawahlunto dan peserta dari mancanegara. Yaitu dari Taiwan, Thailand, Sri Lanka, dan Korea Selatan. Peserta dari Kota Sawahlunto tampil menggunakan kostum menyerupai bunga matahari.

Peserta Sri Lanka

Para peserta dari Taiwan menampilkan tarian dan berbagai atraksi. Mereka tampil sangat atraktif dan enerjik sehingga mengundang decak kagum dan tepuk tangan dari penonton. Sedangkan yang peserta dari Thailand dan Sri Lanka tampil dengan tarian khas mereka. Penampilan terakhir ditutup dengan penampilan peserta dari Korea Selatan. Terdiri dari lima orang perempuan yang memainkan beberapa alat musik. Salah satunya adalah genderang khas Korea Selatan yang disebut Janggu. Parade defile ditutup dengan penampilan dari para mayoret defile. Semua peserta mesti berjalan kaki menyusuri jalan Pemuda.

Peserta dari Thailand

Meski mengikuti acara dari awal hingga akhir, sebetulnya aku datang terlambat. Seharusnya aku sudah di tempat acara pada pukul 16:00. Seperti tahun sebelumnya. Aku biasa datang lebih awal agar aku bisa mengambil gambar peserta secara detail. Namun tahun ini kurang beruntung. Aku tidak bisa mengambil gambar peserta secara detail karena aku dan kawanku yang berasal dari Jakarta malah terlalu asyik keliling Kota Lama. *Hiiks, sedih

Peserta dari Korea Selatan
Sampai jumpa di Semarang Night Carnival 2018

Seluruh defile telah unjuk kebolehan di depan ribuan penonton, termasuk para tamu dari mancanegara. Mereka berhasil memukau dan menyuguhkan penampilan yang luar biasa. Mereka pasti bangga, begitu juga dengan orang tua dan keluarga mereka. Kami pun terhibur dan terpukau melihat penampilan mereka malam ini. Kalian memang luar biasa. Para penonton mulai meninggalkan tempat acara. Aku dan kawanku berjalan kaki menuju kawasan Kota Lama. Kami berdua menonton kenroncong di salah satu sudut gedung di kawasan itu. Menikmati setiap alunan musik keroncong yang menggema diantara gedung-gedung tua di kawasan Kota Lama. Sampai jumpa di Semarang Night Carnival 2018.
Semarang Night Carnival is ready to rock…!!!