WHAT'S NEW?
Loading...

Jejak Kejayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula dari Semarang

“Dulu, bangunan itu merupakan sebuah rumah”, ujarku kepada seorang kawan dari Bandung
“Oyaa…?”, tanyanya semakin penasaran
“Iyaa, yang punya dulunya seorang Raja Gula dari Semarang”
“Orang terkaya di Asia Tenggara pada masa itu”
“Permukiman di belakang bangunan itu termasuk halaman belakangnya”, aku menambahkan.
“Wouw, besar sekali kalau begitu”, temanku masih penasaran
“Yaa begitulah, bisa jadi stadion sepak bola ”. Jawabku singkat sambil melanjutkan perjalanan.

Obrolan pagi di hari Sabtu ketika melewati jalan Kyai Saleh, Semarang setelah kami berdua bercengkrama dengan Pecel Bu Sumo yang berada di jalan itu. Menurutku, Pecel Bu Sumo salah satu pecel yang paling enak di Kota Semarang. Apalagi badaknya (badak= bakwan, bala-bala) yang bikin ketagihan. *Badak kok dimakan*. Kamu mau Pecel Bu Sumo juga..? Sini, main ke Semarang dulu yaa.

Aku sering melewati bangunan tua itu dan hanya tahu sedikit tentang sejarahnya. Penasaran sih pasti, tapi mendapatkan informasi yang valid itu jauh lebih penting. Beberapa literasi menjelaskan bahwa dulu pemilik bangunan tersebut adalah Oei Tiong Ham. Seorang Raja Gula dari Semarang di era tahun 1890-an. Aku sering mencari informasi acara yang berisi tentang penelusuran jejak-jejak Sang Raja Gula dari Semarang ini, namun belum aku dapatkan informasi tersebut. Hingga akhirnya setelah 12 purnama, teman-teman dari Bersukaria Walking Tour akan mengadakan acara tersebut dengan tema “Radja Goela”. Tanpa pikir panjang, aku pun mendaftar untuk mengikuti acara tersebut. Tidak lupa aku juga mengajak dua temanku yang kebetulan juga seorang blogger, yaitu Echi dan Liana dari Jakarta.

Taman Menteri Supeno

Kami bertiga langsung bertemu di meeting point di Taman Menteri Supeno (lebih dikenal dengan sebutan Taman KB). Pagi itu, peserta yang ikut sebanyak empat orang, yaitu aku, Echi, Liana, dan Neni. Perjalanan kali ini akan ditemani oleh mas Fauzan yang bertugas sebagai guide. Kami memulai penjalanan dengan menuju ke Jalan Pahlawan. Kami mesti menerobos jalan Menteri Supeno yang pagi itu dibanjiri dengan para pedagang yang hanya berjualan ketika Car Free Day (CFD). Terkadang, para pedagang ini adalah sumber kesemrawutan ketika CFD. Minggu pagi memang bebas dari kendaraan bermotor, namun tidak dengan kebisingan dan kesemrawutan. Dari Jalan Pahlawan inilah Mas Fauzan mulai bercerita tentang Oei Tiong Ham.
Oei Tiong Ham lahir di Semarang pada tanggal 19 November 1866. Oei Tiong Ham merupakan anak dari Oei Tjie Sien dan Tjan Bien Nio. Ayah Oei Tiong Ham merupakan laki-laki yang melakukan pelarian dari Tiongkok menggunakan sebuah kapal yang dia tumpangi hingga tibalah dia di Semarang. Ayah Oei Tiong Ham merupakan pedagang yang sukses dengan perusahaannya bernama Firma Kian Gwan Kongsi. Nah dari ayahnya inilah ilmu bisnis Oei muda didapatkan. Oei Tiong Ham merupakan anak kedua dari delapan bersaudara.

Kami berlima mulai menyusuri Jalan Pahlawan, melewati kantor Gubernur hingga kantor Mapolda Jateng. Mas Fauzan menjelaskan bahwa mulai dari kantor Gubenur Jateng hingga Mapolda Jateng dulunya merupakan halaman belakang dari rumah Oei Tiong Ham. Bahkan kantor Mapolda dulunya merupakan kebun binatang mini milik Oei Tiong Ham. Saking kayanya, namanya juga dijadikan nama sebuah jalan, yaitu Oei Tiong Ham Weg (sekarang Jalan Pahlawan).

Oei Tiong Ham weg (sekarang Jalan Pahlawan)

Selain itu, pada masa itu warga etnis Tionghoa diharuskan tinggal secara berkelompok di wilayah Pecinan. Karena memiliki kekuasaan, Oei Tiong Ham berhasil melobi pemerintah Hindia Belanda agar mengijinkan dia dan keluarganya tinggal di luar kawasan Pecinan. Yaitu di rumahnya yang dikenal dengan sebutan Istana Gergaji.

Sekitar tahun 1900, Oei Tjie Sien meninggal dunia karena sakit jantung. Mulai saat itu, Oei Tiong Ham memegang perusahaan ayahnya, yaitu Kian Gwan Kongsi. Namun sebelum itu, Oei Tiong Ham telah memulai bisnis gula dan candu atau opium. Pada tahun 1890-1904, Oei Tiong Ham menguasai perdagangan candu atau opium. Pada tahun 1893, Oei Tiong Ham mendirikan Oei Tiong Ham Concern setelah mewarisi Kian Gwan Kongsi dari ayahnya pada tahun 1890. Oei Tiong Ham Concern (OTHC) pun berubah menjadi perusahaan konglomerasi terbesar di Hindia Belanda pada awal abad 20.
Baca juga: Blusukan di Segitiga Emas Kota Semarang (Bagian 1)

Kemudian kami berjalan menyusuri Jalan Veteran. Mas Fauzan mengatakan bahwa pada masa itu, komoditas gula merupakan komoditas yang dianggap mewah. Apalagi Oei Tiong Ham memiliki beberapa pabrik gula di Jawa Timur. Pabrik-pabrik gula ini terus berkembang dan menjadi penopang perusahaan Oei Tiong Ham Concern dan menguasai perdagangan gula di Asia. Dari situlah Oei Tiong Ham dijuluki sebagai Raja Gula dari Semarang. Namun, kekayaannya juga didapat dari bisnis candu atau opium dan bisnis lainnya. Seperti asuransi, perbankan, dan properti.

Fokus pada rumah di belakang kami yaa ^^

Akhirnya kami tiba di persimpangan Jalan Veteran dan Jalan Kyai Saleh. Bekas rumah Oei Tiong Ham atau istana Gergaji berada di dekat persimpangan itu. Terlihat sangat megah dan masih berdiri kokoh. Dulu luas rumahnya sekitar 81 hektare. Terdapat beberapa bangunan, taman, kebun, gazebo, hingga kebun binatang. Namun kini hanya tersisa bangunan utamanya. Istana Gergaji sekarang digunakan sebagai Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ingin rasanya masuk ke dalam bangunan tersebut. Namun apalah daya, petugas keamanan tidak mengijinkan kami untuk masuk ke dalam bangunan cagar budaya tersebut.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri gang-gang perkampungan yang ada di sekitar rumah Oei Tiong Ham. Dulunya, perkampungan ini merupakan halaman belakang istana Oei Tiong Ham. Oei Tiong Ham sendiri memiliki 8 istri dan 26 anak. Beuuh, banyak juga yaa istrinya. Namun dari 26 anaknya, hanya 9 orang yang dipercaya untuk meneruskan usahanya. Namun, langkah tersebut terganjal dengan aturan pemerintah Hindia Belanda yang mengatur tentang pembagian secara merata untuk aset dan warisan. Nah, akhirnya Oei Tiong Ham pindah ke Singapura yang pada saat memiliki aturan yang mangakomodasi kehendaknya itu.

Oei Tiong Ham wafat pada tahun 1924, hanya berselang tiga tahun setelah kepindahanya ke Singapura. Setelah Oei Tiong Ham wafat, Oei Tiong Ham Concern pun diambil alih oleh seorang putranya bernama Oei Tjong Hauw. Dibawah kendali Oei Tjong Hauw, Oei Tiong Ham Concern masih bertahan dan berhasil melewati masa-masa sulit. Hingga akhirnya pada tahun 1950, Oei Tjong Hauw meninggal dunia karena serangan jantung.
Setelah meninggalnya Oei Tjong Hauw, bisnis Oei Tiong Ham Concern mengalamai kemunduran. Apalagi pada tahun 1960-an kondisi keamanan, ekonomi dan politik di Indonesia mengalami gejolak. Kejayaan Oei Tiong Ham Concern pun runtuh pada tahun 1964 ketika pemerintah menjatuhkan vonis kejahatan ekonomi dalam bisnis yang dijalankan. Setelah persidangan selama 3 tahun (1961-1964), akhirnya diputuskan bahwa seluruh aset Oei Tiong Ham Concern disita oleh pemerintah RI. Namun, berembus kabar yang mengatakan bahwa vonis tersebut sebagai upaya untuk proses nasionalisasi perusahaan tersebut.

Istana Gergaji. Bekas rumah Oei Tiong Ham

Aset Istana Oei Tiong Ham yang ada di Jalan Kyai Saleh juga diambil alih oleh pemerintah. Aset Oei Tiong Ham Concern pun juga menjadi milik negara, hingga kini dikenal dengan PT. Rajawali Nusindo yang berstatus BUMN dan berkantor di daerah Kota Lama. Oei Tiong Ham Weg juga berganti nama menjadi Jalan Pahlawan.

Rumah klasik yang ada di seberang Istana Gergaji

Di Kota Semarang, nama Oei Tiong Ham mungkin terdengar asing. Padahal Oei Tiong Ham merupakan Raja Gula dan orang terkaya di Asean yang berasal dari Kota Semarang. Di Singapura, nama Oei Tiong Ham sangat dihormati. Bahkan nama beliau jadi nama sebuah gedung dan nama sebuah taman di negara tersebut.


Sungguh ironis. Ketika sebuah kota sedang berkembang dan maju, warganya malah tak mengetahui banyak tentang sejarah kotanya. Apalagi untuk mengetahui tentang sejarah seseorang yang pernah hidup di kota ini. Padahal seorang Raja Gula pernah hidup di kota ini.

14 komentar: Leave Your Comments

  1. Bisnis gula tak semanis rasanya :3
    Banyak pabrik gula yg tutup, padahal kalo mengingat masa itu, gula ini komoditi unggulan dr Hindia Belanda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalah sama kaum kapitalis mas..tidak hanya gula sih, berbagai macam bahan kebutuhan pokok juga mengalami hal yang sama

      Hapus
  2. Ecieeee, serunya ya walking tour di Semarang ��

    Makasih sharingnya mas, ini seru, saya berasa dibawa ke abad 19 (lagi)
    Keep share, mas!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa...jalan kaki keliling kota itu memang sangat menyenangkan..hehhehe

      Aah...tapi kita ga bsa masuk ke sana yaa..huuft --"

      Hapus
    2. Menyenangkan, apa lagi kalo jalannya sama...

      Haha, gpp ga boleh masuk. Buat saya ngeliat dr depan aja udah cukup mas ��
      Mas yg di sana kudu masuk,kalo ga boleh kasih duit 2rb buat pak satpamnya ��

      Hapus
    3. Sama siapa aja yaa :D

      Aah..ntar nunggu undangan jamuan makan malam aja dri yg punya rumah :D

      Hapus
    4. haha, iya sama siapa aja mas :p

      kalo dapet undangan, ajak saya aja mas biar bisa ambil foto dalemnya, makin lengkap deh foto2 di blog >.<

      Hapus
  3. Saya masih penasaran banget gimana kalau masuk ke sana. Hehehe. Apa kudu ada proposal tertulis ya 😂
    Waktu ke semarang, lewat sini. Lewat doang. Belum kesampaian ikut walking tournya. 😞

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya ga bisa...soalnya itu udh jadi perkantoran, jadi antor tsb punya aturan keamanan sendiri. Cek aja di ig nya @bersukariawalk

      Hapus
    2. Iya sudah di follow :3

      Hapus
  4. Baru tahu, sbg warga semarang sy merasa malu :'

    BalasHapus
  5. Wah mas kayaknya asik coba walking tour Semarang gn.
    Gedung tua Semarang ini banyak sejarahnya ya, terutama adanya Raja Gula terkaya ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kota semarang bnyak bangunan tua, ga cuma di kawasan kota lama aja...hhehehe

      Hapus