Monday, June 19, 2017

Menyusuri Romantisme Jalan Bodjong

Jalan Bodjong (Bodjong Weg) atau sekarang yang lebih dikenal dengan nama Jalan Pemuda sudah sejak dulu menjadi jalan utama di Kota Semarang. Bahkan pernah dianggap sebagai salah satu jalan paling bagus di Pulau Jawa. Dari dulu hingga saat ini, Jalan Bodjong telah menjadi pusat pemerintahan, bisnis, pendidikan, dan hiburan. Bagiku, Jalan Bodjong merupakan jalan romantis di Kota Semarang.

Ujung Jalan Pemuda, Gedung Lawang Sewu dan Tugu Muda

Sabtu sore di langit yang begitu cerah, aku, Bang Indra, dan Mas Arif berada di salah satu minimarket yang di Jalan Bodjong (Jalan Pemuda). Kami bertiga sedang menunggu mas Dimas. Yup!! bener banget..!!! Kami akan walking tour bersama mas Dimas dari Bersukaria Walking Tour. Rute sore ini adalah rute Bodjong. Kami akan diajak menyusuri Jalan Bodjong.

Mas Dimas menjelaskan bahwa kata Bodjong berasal dari dua kata, yaitu Bod yang berarti “Kapal” dan Jong yang berarti “Pemuda”. Sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan hiburan, di jalan Bodjong dulu dilalui jalur trem. Trem dioperasikan di Semarang pada tahun 1882 hingga 1940 oleh Semarang-Joana Stoomtrammaatschappij (SJS). Setelah mendengarkan penjelasan singkat mas Dimas tentang Jalan Bodjong, kemudian kami memulai perjalanan menyusuri jalan Bodjong kearah selatan.

Gedung Batafsche Petroleum Maatschappij

Langkah kami terhenti di persimpangan jalan. Mas Dimas menunjuk kearah dua gedung yang ada di seberang jalan, yaitu kantor Pertamina dan Mall Paragon. Gedung Pertamina dulunya bernama Batafsche Petroleum Maatschappij. Dibangun dengan desain arsitektur artdeco. Pada masa penjajahan Jepang, gedung ini digunakakan sebagai markas bala tentara Dai Nippon. Pada tanggal 29 April 1942, gedung ini dijadikan tempat perayaan ulang tahun Tenno Heika yang berarti “Yang Mulia Kaisar”.

Rumah di Kampung Sekayu
Rumah Atap Limas

Sedangkan Mall Paragon merupakan gedung dengan nama Societet Harmony. Pusat hiburan dan berkumpulnya kaum borjuis di Kota Semarang. Pernah juga digunakan sebagai gedung kesenian yang menampilkan pertunjukkan wayang orang. Namun, pusat hiburan itu kini telah disulap menjadi sebuah mall dan hotel.

Masjid Sekayu

Setelah dari Mall Paragon, kami diajak untuk memasuki Kampung Sekayu. Perkampungan padat penduduk ini terletak di sebelah Mall Paragon. Kampung Sekayu merupakan salah satu kampung tertua di Kota Semarang. Yang menjadi daya tarik dari kampung Melayu adalah keberadaan Masjid Sekayu. Konon masjid ini lebih tua dari Masjid Agung Demak. Empat pilar kayu soko guru memiliki kesamaan dengan soko guru yang ada di Masjid Agung Demak. Proses renovasi masjid menghilangkan bentuk asli masjid, namun masih tetap mempertahankan soko gurunya.

Soko guru Masjid Sekayu

Selain itu, di Kampung Sekayu masih terdapat beberapa rumah yang memiliki desain rumah jaman dulu. Ada beberapa rumah yang memiliki atap bentuk limas. Rumah-rumah tersebut masih mempertahankan bentuk awal rumah ketika pertama kali dibangun. Kami juga melihat Kali Semarang yang terletak tidak jauh dari Kampung Sekayu. Kali Semarang digunakan untuk Sunan Kalijaga untuk menghanyutkan kayu menuju Demak untuk pemgedung Masjid Agung Demak.

Kali Semarang

Setelah berkeliling Kampung Sekayu, kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Bodjong. Langkah kami terhenti di seberang dua gedung SMA negeri, yaitu SMA Negeri 5 dan SMA Negeri 3 Semarang. Arsitektur kedua gedung sekolah masih asli. Dari awal pemgedung, kedua gedung ini memang difungsikan sebagai sekolah.

Gedung SMA Negeri 5 Semarang dulunya merupakan Chinese English School. Pemiliknya adalah Thio Thiam Tjong yang merupakan seorang saudagar yang juga pemilik firma Seng Liong. Thio Thiam Tjong merupakan seorang tokoh demokrasi dan pendiri Universitas Tarumanegara di Jakarta. Saat ini, musoleum atau makam Thio Thiam Tjong terletak di Jalan Sriwijaya, Semarang. Selain itu, Thio Thiam Tjong juga memiliki rumah mewah yang ada di daerah Candi yang didesain oleh Thomas Carsten.

Sedangkan gedung SMA Negeri 3 Semarang didirikan pada tanggal 1 November 1877. Terletak di Jalan Bodjong 149. Awalnya digunakan sebagai HBS (Hogere Bunger School). SMA Negeri 3 memiliki gedung yang megah dan halaman yang luas. Dulu pernah digunakan sebagai SMA III dan IV Semarang. Namun, pada tahun 1978 SMA Negeri IV Semarang dipindahkan ke gedung baru di daerah Banyumanik. Oleh sebab itu, SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 4 Semarang memiliki logo yang sama persis. Karena dulunya kedua sekolah tersebut berlokasi dalam satu gedung.


Kantor Walikota Semarang

Di seberang SMA Negeri 3 Semarang terdapat gedung yang sangat penting bagi Kota Semarang, yaitu kompleks kantor Balaikota Semarang. Kantor Balaikota masih merupakan gedung asli yang memiliki lima pintu utama. Di depan kantor Sekda terdapat pantung Moch. Ichsan yang merupakan walikota Semarang yang pertama.

Kompleks Balaikota Semarang

Kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan Tugu Muda. Trotoar sepanjang Jalan Bodjong cukup luas dan layak untuk para pejalan kaki dan tunanetra. Selain itu, terdapat beberapa pohon asem jawa yang meneduhkan dan menjadi ciri khas Jalan Bodjong sejak dulu. Kata Semarang pun berasal dari asem dan arang yang berarti pohon asam yang tumbuhnya jarang-jarang.


Di kawasan Tugu Muda terdapat beberapa gedung tua yang masih terawat dengan baik, seperti Gedung Lawang Sewu, Gereja Katedral, Museum Mandala Bhakti, dan Wisma Perdamaian. Tugu Muda dibangun pada tahun 1951 hingga 1953 atas perintah Ir. Soekarno untuk mengenang peristiwa pertempuran Lima Hari di Kota Semarang. Bentuk puncak tugu berbentuk api yang menggambarkan semangat pemuda Kota Semarang dalam mengusir penjajah.

Di sebelah selatan Tugu Muda terdapat Gereja Katedral. Dibangun pada 26 Januari 1927. Gereja ini menjadi Gereja Katedral ketika Mgr Soegijapranata diangkat sebagai vikaris apostolik pertama di Semarang. Mgr Soegijapranata merupakan uskup agung pribumi Indonesia pertama. Mgr Soegijapranata juga berjasa menolak permintaan Jepang yang ingin menggunakan Gereja Gedangan sebagai rumah sakit militer.

Gereja Katedral

Di seberang Gereja Katedral terdapat Museum Mandala Bhakti. Kami hanya berjalan mengelilingii museum yang terawat dengan baik ini. Gedung museum awalnya digunakan sebagai Pengadilan Tinggi bagi orang Eropa yang ada di Semarang. Sekarang gedung ini dikelola oleh TNI dan digunakan sebagai museum.

Gedung Lawang Sewu

Gedung yang menjadi tujuan terakhir kami adalah Wisma Perdamaian. Wisma Perdamaian dulunya bernama De Vredestain (Istana Perdamaian). Wisma Perdamaian dulunya dimiliki oleh Nicolas Hartingh, salah satu pejabat VOC. Kemudian digunakan sebagai rumah singgah gubernur jenderal. Wisma Perdamaian juga pernah digunakan sebagai APDN. Saat ini, Wisma Perdamaian dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Gedung Mandala Bhakti

Perjalanan kami menyusuri romantisme Jalan Bodjong pun telah usai. Kami menyempatkan berfoto di tengah zebra cross dengan latar Gedung Lawang Sewu. Kami kembali berjalan kaki menuju meeting point sambil menanti waktu berbuka puasa. Waktu berbuka puasa pun telah tiba dan kami memilih istirahat di salah satu angkringan yang ada di Jalan Bodjong.

Wisma Perdamaian

Aku sangat menikmati perjalanan dengan rute Bodjong Weg ini. Dulu, seorang Belanda pernah bilang bahwa Jalan Bodjong merupakan salah satu jalan paling indah di Pulau Jawa. Namun, bagiku Jalan Bodjong adalah jalan teromantis di Kota Semarang. Jalan yang membentang dari Jembatan Mberok hingga kawasan Tugu Muda ini memberikan suasana berbeda bagiku.

Mulai berjalan kaki di ujung jalan, kita akan langsung disambut oleh Gedung Papak, Kantor Pos Johar, dan Tugu Nol Kilometer Kota Semarang. Belum lagi Gedung Chinese English School, Gedung HBS, Gedung Balaikota dan belasan gedung tua lainnya siap menemani perjalanan kita menyusuri jalan.

Kuliner sepanjang Jalan Bodjong juga patut untuk dicicipi. Diawal perjalanan, kita sudah disuguhi nasi goreng babat. Konon, ini merupakan nasi goreng babat ini merupakan salah satu yang terenak di Kota Semarang. Kamu masih suka nasi goreng khan? Di dekat persimpangan jalan, terdapat Toko Oen. Kamu tahu khan tahu khan Toko Oen..? Toko es krim yang terkenal dengan cita rasa tempo dulunya. Aku juga tahu kalau kamu suka sekali dengan es krim. Selain itu, ada warung lumpia yang terkenal. Sepertinya sesekali kamu perlu coba lezatnya Lumpia Semarang. Di salah satu sudut Jalan Bodjong terdapat penjual soto yang hanya buka pada malam hari. Namun, tak pernah sepi dengan pembeli.

Suasana Toko Oen

Selain gedung tua dan kulinernya, kehidupan orang-orang di Jalan Bodjong sangatlah unik untuk diamati. Siang hari, jalan Bodjong ramai riuh dengan aktivitas pemerintahan, perkantoran, bisnis dan pendidikan. Sedangkan ketika malam hari, Jalan Bodjong dipenuhi aktivitas manusia yang tak kalah riuhnya. Mulai dari para pedagang yang menggelar lapak jualan handphone bekas, gerobak angkringan, para tukang pijat yang menjual jasanya di atas trotoar, hingga anak muda yang kongkow menikmati suasana malam di Jalan Bodjong.

Ini bukan Boyband..!!! (foto by Bersukaria Wallking Tour)

Bagiku Jalan Bodjong bukanlah sekadar jalan. Jalan Bodjong memiliki banyak cerita romantisme. Romantisme yang dikemas dalam bentuk gedung tua, kuliner yang memiliki ciri khas, kehidupan orang-orang di Jalan Bodjong, dan cerita-cerita yang berkembang dari dulu hingga sekarang. Kalau saranku, sesekali kamu perlu menyusuri Jalan Bodjong dan menemukan cerita romantismu sendiri. Jadi kapan kamu ke Semarang (lagi) dan menyusuri romantisme Jalan Bodjong?

Saturday, June 3, 2017

Menengok Kehidupan Multicultural di Semarang

Kalau kata temenku yang berasal dari Jogja, Semarang itu singkatan dari Semakin Rindu dan Sayang. Aaah, tentu saja ini cuma guyonan aja atau mungkin doa biar kamu dan yang lainnya selalu ingin (kembali) ke Semarang. Kota yang identik dengan Lawang Sewu, Masjid Agung Jawa Tengah, Sam Poo Kong, dan Kota Lama-nya ini memang memiliki banyak sebutan dan cerita. Dulu, Kota Semarang juga mendapatkan julukan Venice van Java. Selain itu, kawasan Kota Lama mendapat sebutan Little Netherland.

Masjid Menara

Selain beragamnya sebutan untuk Kota Semarang, ternyata Kota Semarang juga merupakan sebuah kota yang memiliki multietnis dan multicultural. Semua etnis di kota ini hidup secara berdampingan dan rukun hingga sekarang. Sedangkan beberapa peninggalan, cerita, dan kearifan lokal yang berhubungan dengan multicultural masih terjaga dengan baik di kota ini.

Aku menerobos kerumunan warga yang sedang ikut meramaikan tradisi Dugderan. Tradisi yang rutin digelar di kota ini dalam rangka untuk menyambut Bulan Ramadhan. Hingga akhirnya aku sampai di depan Kantor Pos Besar Johar. Aah, ternyata teman-teman Bersukaria Walking Tour sudah jalan. Kemudian aku menyusul mereka yang sedang berjalan menuju Kampung Melayu. 
Sore itu aku akan bergabung dengan teman-teman Bersukaria Walking Tour untuk berkeliling Kota Semarang dengan rute Multicultural. Rencananya kami akan menyusuri beberapa peninggalan budaya yang ada di Kota Semarang. Kami meeting point di Kantor Pos Johar. Ini merupakan kantor pos pusat dan tertua yang ada di Kota Semarang. Di seberang kantor pos terdapat Tugu Nol Kilometer Kota Semarang. Destinasi pertama kami adalah Majid Menara yang berada di Kampung Melayu. Oyaa, kali ini yang bertugas sebagai guide adalah Mas Dimas.

Masjid Menara terletak di daerah Kampung Melayu atau Jalan Layur, Semarang. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Kampung Melayu atau Masjid Layur. Masjid Menara dibangun pada tahun 1841 oleh para pedagang yang berasal dari Yaman. Di belakang masjid terdapat Kali Semarang. Kali Semarang ini mengalir melewati daerah Pecinan, Pasar Johar, dan Kampung Melayu. Kali Semarang dulunya berfungsi sebagai jalur perdagangan. Di daerah Kampung Melayu menjadi tempat bersandar kapal-kapal pedagang. Menara masjid dulunya berfungsi sebagai mercusuar.

Masjid Menara yang sedang dicat

Seiring berjalannya waktu, area sekitar masjid mengalami banjir rob sehingga bangunan masjid ditinggikan dan hanya menjadi satu lantai. Bentuk bangunan asli masih tetap terawat dengan baik hingga sekarang. Namun, ada versi lain yang menyebutkan bahwa dulunya bangunan ini merupakan sebuah kantor pelabuhan dan mercusuarnya. Sejak adanya pelabuhan dan mercusuar baru, bangunan ini baru dimanfaatkan sebagai masjid. Masjid ini pun sudah ditetapkan sebaga bangunan cagar budaya. Sedangkan Kali Semarang sudah tidak bisa digunakan sebagai jalur perdagangan.

Salah satu gedung yang mengalami kerusakan parah

Seandainya Kali Semarang diperbaiki dan difungsikan kembali sebagai jalur transportasi sekaligus tempat wisata, bukan tak mungkin Kota Semarang bisa menjadi Venice Van Java (lagi). Jadi kita ga perlu ke Italia hanya untuk naik gondola. Mungkin orang Eropa yang akan ke Kota Semarang. Sugeng rawuh ing Semarang, mister.

Setelah beres di Masjid Menara yang ada di Kampung Melayu, kami melanjutkan perjalanan menuju Gereja Gedangan. Dalam perjalanan itu kami melewati beberapa bangunan kuno dan jadul. Kami melewati Gedung Marabunta. Gedung yang dulu jadi pusat hiburan di Kota Lama. Namun kini sudah tampak nyaris roboh dan tidak terawat. Akhirnya kami tiba di kompleks Gereja Gedangan.

Gereja Gedangan

Gereja Gedangan memiliki nama asli Gereja Santo Yusuf. Terletak di Jalan Ronggowarsito, Semarang. Gereja Gedangan merupakan Gereja Katholik pertama di Kota Semarang. Gereja ini dibangun pada tahun 1870 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels. Pada masa penjajahan Jepang, Gereja Gedangan akan dijadikan sebagai rumah sakit militer. Namun, rencana tersebut ditolak oleh Mgr. Soegijapranata. Mgr. Sogijapranata merupakan Uskup Agung pribumi pertama di Indonesia dengan kantor di Keuskupan Agung Semarang, Gereja Rosario Suci di Randusari.

Bangunan di seberang Gereja Gedangan

Selain gereja, di kompleks Gereja Gedangan juga terdapat gedung paroki, sekolah, gedung susteran, dan kapel. Kami tak bisa memasuki ke dalam Gereja Gedangan karena gereja sedang digunakan untuk ibadah Kenaikan Isa Almasih. Menurutku, kompleks Gereja Gedangan memiliki desain bangunan arsitektur Eropa khas bangunan kolonial. Setelah cukup puas di sini, kami melanjutkan perjalanan menuju GPIB Immanuel Semarang.

Cheerrs...!!!

GPIB Immanuel Semarang mungkin terdengar sangat asing, karena lebih dikenal dengan sebutan Gereja Blenduk. Hal itu dikarenakan bentuk atap yang berbentuk kubah (mblenduk). Dibangun pada tahun 1753 dan terletak di kawasan Kota Lama, tepatnya di Jalan Letjend. Suprapto 32. Gereja Blenduk merupakan gereja Kristen pertama di Jawa Tengah. Meskipun gereja sudah berusia lebih dari 200 tahun, Gereja Blenduk masih terawat dengan baik dan rutin digunakan untuk beribadah. Gereja Blenduk menjadi background favorit pengujung Kota Lama ketika mereka berfoto. Setelah puas foto-foto, kami langsung melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, yaitu Masjid Pekojan.

Langkah kami mulai meninggalkan kawasan Kota Lama untuk menuju kawasan Pecinan. Namun, kami berbelok menuju sebuah gang yang bernama Gang Petolongan. Mas Dimas kemudian menjelaskan jika bahwa sudah sampai di Masjid Pekojan. Masjid Pekojan terletak di Kampung Pekojan yang mayoritas warganya adalah keturunan Pakistan dan Gujurat. Majid ini dibangun ooleh para pedagang yang berasal dari Pakistan dan Gujurat lebih dari 150 tahun yang lalu. Bentuk ruang utama sholat pun masih terjaga keaslianya.

Masjid Pekojan sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Salah satu keunikan masjid ini adalah hidangan Bubur India. Bubur India merupakan bubur yang disajikan oleh pengurus masjid hanya ketika Bulan Ramadhan sebagai menu berbuka puasa. Bubur ini masih menggunakan resep asli dari India. Mumpung ini Bulan Ramadhan, tidak ada salahnya untuk mencicipi Bubur India ini di masjid ini. Seperti yang aku lakukan setiap Ramadhan.

Masjid Pekojan

Hari mulai beranjak petang, kami melanjutkan perjalanan kami menuju destinasi terakhir kami, yaitu Klenteng Tay Kak Sie yang berada di kawasan Pecinan. Jarak antara Masjid Pekojan dengan Klenteng Tay Kak Sie tidak terlalu jauh. Sekitar 10 menit jalan kaki.

Masjid Pekojan

Klenteng Tay Kak Sie terletak di Gang Lombok. Nama “Lombok” berasal dari lokasi klenteng yang dulunya merupakan kebun lombok. Klenteng Tay Kak Sie dibangun pada tahun 1746 dan berada di pinggir Kali Semarang. Pada jaman dahulu, Kali Semarang merupakan jalur utama perdagangan.

Klenteng Tay Kak Sie sering mendapatkan sebutan klenteng para dewa. Hal itu dikarenakan lengkapnya dewa yang berada di klenteng ini. Klenteng Tay Kak Sie juga sering mengadakan pertujukan wayang potehi. Wayang potehi sangatlah unik. Wayang potehi digelar bukan untuk menghibur penonton, namun untuk menghibur para dewa. Wayang potehi hanya digelar pada saat tertentu.

Klenteng Tay Kak Sie

Di sekitar klenteng terdapat warung lumpia yang sangat terkenal, yaitu Lumpia Gang Lombok. Klenteng Tay Kak Sie terbuka untuk umum. Namun, tetaplah jaga ketertiban ketika berkunjung ke tempat ibadah, seperti Klenteng Tay Kak Sie. Aku sangat menyukai bentuk kontruksi di klenteng-klenteng di kawasan Pecinan. Sebgaian besar kontruksinya masih sama dengan pertama kali dibangun. Termasuk kayu-kayu yang menjadi penyangganya yang masih kokoh hingga sekarang. Padahal rata-rata usia klenteng sudah lebih dari 150 tahun.

Hari mulai beranjak malam, kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke meeting point. Kami menyusuri Kali Semarang. Tiba-tiba imajinasiku terbawa ke jaman dulu. Ketika Kali Semarang menjadi jalur utama perdagangan di Semarang. Menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya. Membelah kawasan Pecinan, Kota Lama, dan Kampung Melayu. Hilir mudik perahu-perahu para pedagang menghidupkan suasana kota ini. Namun, kini Kali Semarang hanyalah sebuah kali yang kurang terawat dan mungkin sudah dilupakan tentang ceritanya di masa lalu.

Teman-teman Bersukaria Walking Tour berhasil membawaku mengenal lebih jauh tentang kota Semarang. Mereka masih memiliki beberapa rute yang bisa memberikan pemahaman baru tentang kota ini. Semakin sering mengikuti walking tour ini, maka semakin banyak pengalaman baru yang bisa aku ceritakan kepada teman-temanku tentang kota ini. Mungkin kamu bisa berimajinasi dengan cerita yang aku tulis, namun akan lebih seru ketika kau mengikutinya dan menulis pengalamanmu sendiri.

Sebagai orang asli Kota Semarang, merupakan sesuatu yang penting bagi kita untuk mengenal kota ini. Agar kita paham dan bisa bercerita banyak tentang kota ini. Bagaimana kita bisa bercerita tentang kota kita? Sedangkan kita tak mengenal tentang kota kita sendiri.

Sampai jumpa di rute lainnya…!!!