WHAT'S NEW?
Loading...

Menyusuri Romantisme Jalan Bodjong

Jalan Bodjong (Bodjong Weg) atau sekarang yang lebih dikenal dengan nama Jalan Pemuda sudah sejak dulu menjadi jalan utama di Kota Semarang. Bahkan pernah dianggap sebagai salah satu jalan paling bagus di Pulau Jawa. Dari dulu hingga saat ini, Jalan Bodjong telah menjadi pusat pemerintahan, bisnis, pendidikan, dan hiburan. Bagiku, Jalan Bodjong merupakan jalan romantis di Kota Semarang.

Ujung Jalan Pemuda, Gedung Lawang Sewu dan Tugu Muda

Sabtu sore di langit yang begitu cerah, aku, Bang Indra, dan Mas Arif berada di salah satu minimarket yang di Jalan Bodjong (Jalan Pemuda). Kami bertiga sedang menunggu mas Dimas. Yup!! bener banget..!!! Kami akan walking tour bersama mas Dimas dari Bersukaria Walking Tour. Rute sore ini adalah rute Bodjong. Kami akan diajak menyusuri Jalan Bodjong.

Mas Dimas menjelaskan bahwa kata Bodjong berasal dari dua kata, yaitu Bod yang berarti “Kapal” dan Jong yang berarti “Pemuda”. Sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan hiburan, di jalan Bodjong dulu dilalui jalur trem. Trem dioperasikan di Semarang pada tahun 1882 hingga 1940 oleh Semarang-Joana Stoomtrammaatschappij (SJS). Setelah mendengarkan penjelasan singkat mas Dimas tentang Jalan Bodjong, kemudian kami memulai perjalanan menyusuri jalan Bodjong kearah selatan.

Gedung Batafsche Petroleum Maatschappij

Langkah kami terhenti di persimpangan jalan. Mas Dimas menunjuk kearah dua gedung yang ada di seberang jalan, yaitu kantor Pertamina dan Mall Paragon. Gedung Pertamina dulunya bernama Batafsche Petroleum Maatschappij. Dibangun dengan desain arsitektur artdeco. Pada masa penjajahan Jepang, gedung ini digunakakan sebagai markas bala tentara Dai Nippon. Pada tanggal 29 April 1942, gedung ini dijadikan tempat perayaan ulang tahun Tenno Heika yang berarti “Yang Mulia Kaisar”.

Rumah di Kampung Sekayu
Rumah Atap Limas

Sedangkan Mall Paragon merupakan gedung dengan nama Societet Harmony. Pusat hiburan dan berkumpulnya kaum borjuis di Kota Semarang. Pernah juga digunakan sebagai gedung kesenian yang menampilkan pertunjukkan wayang orang. Namun, pusat hiburan itu kini telah disulap menjadi sebuah mall dan hotel.

Masjid Sekayu

Setelah dari Mall Paragon, kami diajak untuk memasuki Kampung Sekayu. Perkampungan padat penduduk ini terletak di sebelah Mall Paragon. Kampung Sekayu merupakan salah satu kampung tertua di Kota Semarang. Yang menjadi daya tarik dari kampung Melayu adalah keberadaan Masjid Sekayu. Konon masjid ini lebih tua dari Masjid Agung Demak. Empat pilar kayu soko guru memiliki kesamaan dengan soko guru yang ada di Masjid Agung Demak. Proses renovasi masjid menghilangkan bentuk asli masjid, namun masih tetap mempertahankan soko gurunya.

Soko guru Masjid Sekayu

Selain itu, di Kampung Sekayu masih terdapat beberapa rumah yang memiliki desain rumah jaman dulu. Ada beberapa rumah yang memiliki atap bentuk limas. Rumah-rumah tersebut masih mempertahankan bentuk awal rumah ketika pertama kali dibangun. Kami juga melihat Kali Semarang yang terletak tidak jauh dari Kampung Sekayu. Kali Semarang digunakan untuk Sunan Kalijaga untuk menghanyutkan kayu menuju Demak untuk pemgedung Masjid Agung Demak.

Kali Semarang

Setelah berkeliling Kampung Sekayu, kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Bodjong. Langkah kami terhenti di seberang dua gedung SMA negeri, yaitu SMA Negeri 5 dan SMA Negeri 3 Semarang. Arsitektur kedua gedung sekolah masih asli. Dari awal pemgedung, kedua gedung ini memang difungsikan sebagai sekolah.

Gedung SMA Negeri 5 Semarang dulunya merupakan Chinese English School. Pemiliknya adalah Thio Thiam Tjong yang merupakan seorang saudagar yang juga pemilik firma Seng Liong. Thio Thiam Tjong merupakan seorang tokoh demokrasi dan pendiri Universitas Tarumanegara di Jakarta. Saat ini, musoleum atau makam Thio Thiam Tjong terletak di Jalan Sriwijaya, Semarang. Selain itu, Thio Thiam Tjong juga memiliki rumah mewah yang ada di daerah Candi yang didesain oleh Thomas Carsten.

Sedangkan gedung SMA Negeri 3 Semarang didirikan pada tanggal 1 November 1877. Terletak di Jalan Bodjong 149. Awalnya digunakan sebagai HBS (Hogere Bunger School). SMA Negeri 3 memiliki gedung yang megah dan halaman yang luas. Dulu pernah digunakan sebagai SMA III dan IV Semarang. Namun, pada tahun 1978 SMA Negeri IV Semarang dipindahkan ke gedung baru di daerah Banyumanik. Oleh sebab itu, SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 4 Semarang memiliki logo yang sama persis. Karena dulunya kedua sekolah tersebut berlokasi dalam satu gedung.


Kantor Walikota Semarang

Di seberang SMA Negeri 3 Semarang terdapat gedung yang sangat penting bagi Kota Semarang, yaitu kompleks kantor Balaikota Semarang. Kantor Balaikota masih merupakan gedung asli yang memiliki lima pintu utama. Di depan kantor Sekda terdapat pantung Moch. Ichsan yang merupakan walikota Semarang yang pertama.

Kompleks Balaikota Semarang

Kami melanjutkan perjalanan menuju kawasan Tugu Muda. Trotoar sepanjang Jalan Bodjong cukup luas dan layak untuk para pejalan kaki dan tunanetra. Selain itu, terdapat beberapa pohon asem jawa yang meneduhkan dan menjadi ciri khas Jalan Bodjong sejak dulu. Kata Semarang pun berasal dari asem dan arang yang berarti pohon asam yang tumbuhnya jarang-jarang.


Di kawasan Tugu Muda terdapat beberapa gedung tua yang masih terawat dengan baik, seperti Gedung Lawang Sewu, Gereja Katedral, Museum Mandala Bhakti, dan Wisma Perdamaian. Tugu Muda dibangun pada tahun 1951 hingga 1953 atas perintah Ir. Soekarno untuk mengenang peristiwa pertempuran Lima Hari di Kota Semarang. Bentuk puncak tugu berbentuk api yang menggambarkan semangat pemuda Kota Semarang dalam mengusir penjajah.

Di sebelah selatan Tugu Muda terdapat Gereja Katedral. Dibangun pada 26 Januari 1927. Gereja ini menjadi Gereja Katedral ketika Mgr Soegijapranata diangkat sebagai vikaris apostolik pertama di Semarang. Mgr Soegijapranata merupakan uskup agung pribumi Indonesia pertama. Mgr Soegijapranata juga berjasa menolak permintaan Jepang yang ingin menggunakan Gereja Gedangan sebagai rumah sakit militer.

Gereja Katedral

Di seberang Gereja Katedral terdapat Museum Mandala Bhakti. Kami hanya berjalan mengelilingii museum yang terawat dengan baik ini. Gedung museum awalnya digunakan sebagai Pengadilan Tinggi bagi orang Eropa yang ada di Semarang. Sekarang gedung ini dikelola oleh TNI dan digunakan sebagai museum.

Gedung Lawang Sewu

Gedung yang menjadi tujuan terakhir kami adalah Wisma Perdamaian. Wisma Perdamaian dulunya bernama De Vredestain (Istana Perdamaian). Wisma Perdamaian dulunya dimiliki oleh Nicolas Hartingh, salah satu pejabat VOC. Kemudian digunakan sebagai rumah singgah gubernur jenderal. Wisma Perdamaian juga pernah digunakan sebagai APDN. Saat ini, Wisma Perdamaian dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Gedung Mandala Bhakti

Perjalanan kami menyusuri romantisme Jalan Bodjong pun telah usai. Kami menyempatkan berfoto di tengah zebra cross dengan latar Gedung Lawang Sewu. Kami kembali berjalan kaki menuju meeting point sambil menanti waktu berbuka puasa. Waktu berbuka puasa pun telah tiba dan kami memilih istirahat di salah satu angkringan yang ada di Jalan Bodjong.

Wisma Perdamaian

Aku sangat menikmati perjalanan dengan rute Bodjong Weg ini. Dulu, seorang Belanda pernah bilang bahwa Jalan Bodjong merupakan salah satu jalan paling indah di Pulau Jawa. Namun, bagiku Jalan Bodjong adalah jalan teromantis di Kota Semarang. Jalan yang membentang dari Jembatan Mberok hingga kawasan Tugu Muda ini memberikan suasana berbeda bagiku.

Mulai berjalan kaki di ujung jalan, kita akan langsung disambut oleh Gedung Papak, Kantor Pos Johar, dan Tugu Nol Kilometer Kota Semarang. Belum lagi Gedung Chinese English School, Gedung HBS, Gedung Balaikota dan belasan gedung tua lainnya siap menemani perjalanan kita menyusuri jalan.

Kuliner sepanjang Jalan Bodjong juga patut untuk dicicipi. Diawal perjalanan, kita sudah disuguhi nasi goreng babat. Konon, ini merupakan nasi goreng babat ini merupakan salah satu yang terenak di Kota Semarang. Kamu masih suka nasi goreng khan? Di dekat persimpangan jalan, terdapat Toko Oen. Kamu tahu khan tahu khan Toko Oen..? Toko es krim yang terkenal dengan cita rasa tempo dulunya. Aku juga tahu kalau kamu suka sekali dengan es krim. Selain itu, ada warung lumpia yang terkenal. Sepertinya sesekali kamu perlu coba lezatnya Lumpia Semarang. Di salah satu sudut Jalan Bodjong terdapat penjual soto yang hanya buka pada malam hari. Namun, tak pernah sepi dengan pembeli.

Suasana Toko Oen

Selain gedung tua dan kulinernya, kehidupan orang-orang di Jalan Bodjong sangatlah unik untuk diamati. Siang hari, jalan Bodjong ramai riuh dengan aktivitas pemerintahan, perkantoran, bisnis dan pendidikan. Sedangkan ketika malam hari, Jalan Bodjong dipenuhi aktivitas manusia yang tak kalah riuhnya. Mulai dari para pedagang yang menggelar lapak jualan handphone bekas, gerobak angkringan, para tukang pijat yang menjual jasanya di atas trotoar, hingga anak muda yang kongkow menikmati suasana malam di Jalan Bodjong.

Ini bukan Boyband..!!! (foto by Bersukaria Wallking Tour)

Bagiku Jalan Bodjong bukanlah sekadar jalan. Jalan Bodjong memiliki banyak cerita romantisme. Romantisme yang dikemas dalam bentuk gedung tua, kuliner yang memiliki ciri khas, kehidupan orang-orang di Jalan Bodjong, dan cerita-cerita yang berkembang dari dulu hingga sekarang. Kalau saranku, sesekali kamu perlu menyusuri Jalan Bodjong dan menemukan cerita romantismu sendiri. Jadi kapan kamu ke Semarang (lagi) dan menyusuri romantisme Jalan Bodjong?

14 komentar: Leave Your Comments

  1. Jalan pemuda ini paling lengkap ya mas, mulai dari gedung pemerintahan, sekolah, pusat bisnis dan perbankan. Kuliner pun juga ada.

    Wah masuk sekayu lagi ya tournya, tau gitu ikut kemaren :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jalan bodjong, salah satu jalan paling bagus di pulau jawa :D
      kampung sekayu nya bonus...khan deket..hahhahaa

      Hapus
    2. Saya Atas nama IBU SITI AISYA ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di SINGAPURA jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga di kampun,jadi TKW itu sangat menderita dan di suatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak di sengaja saya melihat komentar orang tentan AKI SOLEH dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di SINGAPURA,akhirnya saya coba untuk menhubungi AKI SOLEH dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg di berikan AKI SOLEH 100% tembus (4D) <<< 0 1 0 6 >>> saya menang togel (150,juta) meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan AKI SOLEH kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik AKI SOLEH sekali lagi makasih yaa AKI dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja AKI SOLEH DI 082-313-336-747- insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW trimah kasih banyak atas bantuang nomor togel nya AKI wassalam.


      KLIK DISINI-AHLI-DUKUN-TOGEL-SAKTI-TERPERCAYA

      Hapus
  2. Waaaa seru ya walking tour sama orang yang ngerti sejarah. Saya belum pernah ikutan kegiatan macam gini, kapan-kapan pengen gabung dong.

    Betewe es krim di Toko Oen emang leker.

    BalasHapus
    Balasan
    1. di jogja juga ada mbak...cari aja di ig @jgjgoodguide (Jogja Good Guide)
      ayo walking tour bareng :D

      Hapus
  3. Wah... asyik banget jalan-jalannya.
    Ada banyak objek-objek menarik dan keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa mas..beberap bangunan sejarah di kota semarang masih terawat dengan baik :D

      Hapus
  4. Jalan Pemuda dan seareanya ini sampai sekarang masih bingung arah-arahnya. Sewaktu muter muter padahal beberapa kali lewat tapi kenapa tetep aja bingung ya 😂😂

    BalasHapus
  5. Sekarang jalannya sebagian sudah searah...tpi msih mudah buat diinget kok 😁

    BalasHapus
  6. Di sby adaa juga walking tournya,kapan" kalo ke semarang pengen ikutan juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah..surabaya sudah ada yaa..pasti seru juga thu
      ayo ma...hampir tiap minggu tournya ada dengan beberapa rute :D

      Hapus
  7. Menarik banget walking tour Bodjong Weg-nya. Banyak sejarah di tiap bangunan pemerintahan di sana. Biasanya daku cuma lewat aja, lalu masuk Lawang Sewu ama Museum Mandala Bakti, sementara Toko Oen selalu di-skip. Ahh jadi mupeng setelah baca ini. Suk daftar ah kalo Bersukaria bikin lagi hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga baru nyadar betapa pentingnya jalan Bodjong di masa lampau dan masa kini setelah mengikuti walking tour ini. banyak cerita tentang jalan bodjong yang tak diketahui mnasyarakat. padahal banyak cerita ttg semarang yang bisa dilihat di jalan bodjong :D

      Hapus
  8. jelajah kota pusaka yang menarik. tata kotanya jalan bodhong juga apik yaa

    BalasHapus