Tuesday, July 4, 2017

Cerita Mudik: Pesan Dalam Sebuah Perjalanan

Seperti lebaran tahun kemarin, lebaran tahun ini aku melakukan ritual pulang kampung atau mudik. Jika tahun kemarin aku mudik ke Simbah-nya Aqila di Gombong, Kebumen, tahun ini aku mudik ke kampung halamannya ibuku di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kabupaten Pandeglang

Jadi ceritanya dulu sekitar tahun 1982 ibuku merantau di Jakarta. Pada saat itu pula, bapakku yang orang asli Semarang sedang melakukan perjalanan dinas ke Jakarta. Atas ijin Sang Pencipta, akhirnya mereka berdua bertemu di Jakarta. Setelah menikah pada tahun 1982, ibuku diboyong ke Kota Semarang.

Mudik tahun ini hanya aku, ibu dan adikku, Ilham yang berangkat. Sedangkan yang lainnya tidak bisa ikut. Tahun ini terasa spesial karena kami sudah lama tak mudik ke tempat kelahiran ibuku ini. Ibuku terakhir mudik adalah 4 tahun yang lalu. Aku 9 tahun yang lalu. Sedangakn adikku, Ilham, ini merupakan perjalanan mudik setelah 11 tahun tak pulang kampung. Kami berangkat dari Semarang menggunakan kereta api tujuan Jakarta. Kemudian dari Jakarta, kami melanjutkan perjalanan bersama saudaraku yang lainnya.

Stasiun Rangkasbitung


Perjalanan menuju Kabupaten Pandeglang dilanjutkan naik KRL Tanahabang menuju Stasiun Rangkasbitung dengan harga karcis sebesar RP 9.000/orang. KRL pun penuh dengan penumpang, sehingga aku harus berdiri selama perjalanan yang memakan waktu selama dua jam. Dari stasiun Rangkasbitung menuju rumah, kami mesti ganti naik angkot sebanyak tiga kali.

Selama lebaran, ongkos angkot naik mulai dari 40% hingga 100% dari ongkos biasanya yang hanya Rp 5.000- Rp 10.000/orang. Siang itu jalanan Kabupaten Pandeglang sangat padat dan macet. Banyak mobil plat Jakarta melintas untuk menuju beberapa tempat wisata yang ada di sekitar Kabupaten Pandeglang. Waktu tempuh dari Stasiun Rangkabitung menuju rumah biasanya hanya 1-1.5 jam. Namun karena macet, waktu tempuh menjadi 3 jam perjalanan.


Jalanan sepi yang berubah macet ketika siang hingga malam

Hai, Selamat Pagi, kamu..!!!

Sekitar pukul 19:00, kami akhirnya di rumah. Rasa syukur kami panjatkan karena telah tiba di rumah dalam keadaan sehat dan selamat. Kedatangan kami disambut dengan suka cita oleh paman dan bibi. Rumah di kampung ditempati oleh pamanku dan keluarganya. Sedangkan kedua orang tua ibuku sudah lama meninggal dunia. Aku lupa tahun berapa. Beliau berdua sudah meninggal sebelum aku lahir.

Pagi pun mulai menyapa, aku mulai bergegas mandi dan berencana untuk keliling kampung. Menikmati semburat dan hangatnya mentari pagi, hijaunya hamparan sawah dan birunya langit. Kabut tipis menyelinap diantara pepohonan. Semua itu membentuk harmonisasi alam.


Pemandangan di belakang rumah
Setelah usai menikmati harmonisasi alam, aku mulai berpindah ke pasar. Kebetulan hari ini ada pasar yang buka hanya pada hari pasaran aja. Jalan-jalan ke pasar tradisional itu punya sensasi tersendiri. Di pasar tradisional, aku bisa melihat interaksi antar penduduk lokal dengan bahasanya. Pagi itu pasar sangatlah ramai. Terlihat ibu-ibu sedang menbeli beraneka macam sayuran, ikan asin, dan bumbu dapur. Selain itu, terdapat penjual jajanan pasar. Penjual siomay pun telah diserbu para para pembeli.



Pasar yang sudah ramai di pagi hari
Penjual sayuran

Dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah warung yang menjual gula aren. Di Semarang sulit untuk menemukan gula aren. Kemudian aku menyusul ibu yang sedang berjalan pulang ke rumah. Kami ngobrol tentang apa saja yang kami temui di pasar. Termasuk ketemu teman-teman ibu semasa kecil.
Baca Juga: Jejak Kejayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula Dari Semarang

Penjual bumbu dapur
Penjual Jajanan Pasar

Sesampainya di rumah, camilan berupa gemblong goreng (jadah) sudah tersaji. Kebetulan aku suka gemblong goreng. Biasanya langsung dimakan aja ketika masih panas atau hangat. Tapi di sini aku diajari makan gemblong goreng dengan cara yang berbeda, yaitu dengan cara dicocol ke kuah semur daging kerbau. Rasa empuk gemblong goreng dipadu dengan lezatnya semur daging kerbau sungguh nikmat sekali. Saking nikmatnya, tidak terasa aku telah menghabiskan lima biji gemblong goreng, hihihii. Selain gemblong goreng, ada beberapa jajanan pasar yang tadi dibeli di pasar. Seperti pasung, kue koneng dan donat.

Camilan di pagi hari
Gemblong goreng yang dicocol ke semur daging kerbau
Kami bersiap-siap untuk berziarah ke makam kakek dan nenekku. Kami berdoa bersama di pusara nenek. Kemudian ibu berdoa di pusara kakek. Ketika berdoa, tanpa disadari bulir-bulir air mata ibu mulai menetes. Sesekali ibu menyeka bulir-bulir tersebut menggunakan tangannya. Seperti ada sesuatu yang belum tersampaikan atau dilakukan ketika kakek masih hidup.

Menu sarapan pagi


Ibu hanya berujar, “Abah tidak memiliki kesempatan untuk melihat anak-anak dan cucunya tumbuh besar dan mulai sukses. Semasa hidupnya, ibu belum bisa membuat abah bahagia. Abah itu orangnya seperti kamu. Tinggi, kurus dan hidungnya sedikit mancung”. Aku hanya tersenyum dan merangkul ibuku untuk berpindah ke makam saudara.

Dalam perjalanan pulang, ibu mampir ke rumah teman semasa kecilnya. Meluapkan rasa rindu dan bertukar kabar. Tak lupa untuk menanyakan sudah punya beberapa cucu. Kata mereka, ibu masih terlihat awet muda, meskipun sudah memiliki dua cucu yang berusia empat dan dua tahun. Ibu selalu merasa bangga ketika bercerita tentang Aqila dan Naufal.

Suatu sore di Alun-Alun Kabupaten Pandeglang

Setelah berziarah, kami sarapan bersama. Menu pagi ini adalah nasi, ikan goreng, tempe goreng, ikan asin, sambal, sayur asam, dan lalapan. Menu sederhana ala kampung, namun rasanya begitu menggoyang lidah. Apalagi ikan diambil langsung dari empang. Tanpa obat dan air yang selalu mengalir. Suasana kekeluargaan juga menambah nikmatnya sarapan pagi itu.

Setelah sarapan, kami bergegas mengunjungi rumah salah satu adik dari kakek. Kami hanya perlu berjalan kaki untuk menuju ke sana. Rumahnya terbilang luas untuk ditinggali seorang diri. Alangkah senang dan terharunya beliau ketika melihat ibu yang menjadi anak kesayangannya dan aku pulang ke kampung dan mengunjunginya. Bulir-bulir air mata pun menetes tanpa perlu mendapat persetujuan dari pemiliknya. Sembari melepas rindu, dipeluknya kami berdua. Aku mencium tangannya sebagai tanda hormat dan bakti kepada beliau. Terakhir kami berjumpa adalah lima tahun yang lalu di Semarang.

Oyaa, salah satu hal unik yang aku temui ketika mudik adalah beberapa rumah memiliki pendingin ruangan alami. Rumah-rumah itu dibangun diatas empang ikan. Air empang pun juga mengalir terus menerus. Empang diisi dengan beberapa ikan, seperti ikan mas, ikan nila, ikan mujair, dan ikan krapu. Selain sebagai tempat memelihara ikan, empang juga bisa berfungsi sebagai pendingin ruangan. Sehingga rumah terasa adem dan sejuk tanpa menggunakan AC.


Di bawahnya rumah ada empangnya

Kami kembali ke Jakarta pada hari berikutnya. Aku, ibuku, dan adikku melanjutkan perjalanan ke Tangerang untuk menjenguk adekku, Dana. Kesibukan barunya tidak memungkinkan dia untuk pulang ke Semarang. Akhirnya kami bertiga yang menjenguknya. Meskipun tak bisa mudik, kami masih diberi kesempatan berkumpul dan bersilaturahmi dalam keadaan sehat.
Foto bareng di rumah saudara

Diakhir perjumpaan kami, ibu hanya berpesan untuk “Jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan. Jaga sholat lima waktunya. Ketika berada di kantor, jangan lupa untuk disempatkan sholat Dhuha. Ibu ga minta apa-apa. Ibu hanya ingin melihat kalian menjadi orang yang sukses dan berhasil. Doa ibu selalu bersama kalian.”

Mudik atau pulang kampung di lebaran tahun ini terasa berkesan bagiku. Selain memangkas jarak, ruang, dan waktu dengan kampung halaman ibu, aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk menemani ibuku pulang ke kampung halamannya. Yang mungkin belum tentu bisa aku lakukan lagi pada tahun depan, tiga atau empat tahun lagi. Lamanya perjalanan, materi yang dikeluarkan, waktu yang dihabiskan, hingga butiran keringat yang keluar dari tubuh tidak akan pernah sebanding dengan doa-doa yang selalu dipanjatkan ibu untuk kesuksesan anak-anaknya.

Banyak pesan yang terkandung dalam ritual mudik. Mudik itu tidak hanya memangkas jarak, ruang, dan waktu. Namun juga sebagai wujud rasa syukur kita atas segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Kabupaten Pandeglang, 27 Juni 2017