Tuesday, April 10, 2018

Walking Tour: Menyusuri Sejarah Kereta Api di Kota Semarang

Alunan musik Gambang Semarang menyambut kedatangan kereta Ambarawa Express di Stasiun Semarang Tawang. Kereta ini akan membawa para penumpangnya menuju Stasiun Surabaya Pasar Turi, Kota Surabaya. Alunan musik Gambang Semarang ini selalu menyambut kedatangan setiap kereta dan penumpang yang berhenti di Stasiun Semarang Poncol dan Stasiun Semarang Tawang. Begitu juga ketika kedatanganmu di Kota Semarang. Kamu pernah bilang bahwa kamu begitu menyukai alunan musik ini di setiap kedatanganmu di Kota Semarang. Bahkan alunan musik Gambang Semarang mampu membuatmu seolah-olah menari mengikuti alunan musik. Tangan dan kakimu mulai bergerak mengikuti irama. Terus menari hingga berada di hadapanku di pertemuan kita di kala itu.

Stasiun Tawang

Pagi ini, pukul 08:00 WIB, aku sudah berada di Stasiun Semarang Tawang. Tidak dalam rencana melakukan perjalanan keluar kota atau sedang menunggu kedatanganmu. Aku datang ke stasiun untuk belajar tentang sejarah kereta api di Semarang bersama teman-teman dari Bersukaria. Oyaa, Stasiun Semarang Tawang ini memiliki sejarah dan cerita yang panjang dalam dunia perkeretaapian di Indonesia, termasuk cerita tentang pertemuan dan perpisahan kita. Bagi yang sering ke Semarang dengan menggunakan kereta api, pasti tidak asing dengan dua stasiun yang ada di Semarang, yaitu Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol. Padahal, dahulu di Semarang terdapat tiga stasiun besar. Namun jalur ketiga stasiun ini tidak terhubung sama sekali. Hal itu dikarenakan ketiga stasiun tersebut dimiliki oleh tiga perusahaan kereta api yang berbeda. Baru setelah Indonesia merdeka, jalur Stasiun Semarang Poncol dan Stasiun Semarang Tawang dihubungkan. Begitu yang dikatakan oleh Mas Dimas yang akan menjadi storyteller kami di pagi ini di rute Spoorweg.
Baca Juga: Walking Tour: Sepotong Cerita Dari Kawasan Candi Baroe, Semarang

Bercerita tentang kereta api, tentunya tidak bisa dilepaskan dari Kota Semarang. Sebab kota Semarang merupakan kota pertama di Indonesia yang memiliki kereta api. Pembangunan jalur kereta api dipengaruhi adanya Perang Diponegoro yang menghabiskan banyak dana pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda kemudian mencoba berbagai cara untuk mengembalikan keuangan mereka. Salah satunya dengan cara pembangunan jalur kereta api untuk memangkas biaya logistik.

Pada tahun 1864, jalur kereta api pertama di Indonesia mulai dibangun di Kota Semarang dengan rute menuju Stasiun Semarang-Stasiun Tanggung di Kabupaten Grobogan dengan jarak 25 km. Pembangunan menghabiskan waktu selama tiga tahun (1864-1867). Hal itu disebabkan karena adanya perbedaan kontur wilayah dan teknologi yang sangat masih sederhana mengakibatkan lamanya pembangunan jalur kereta api ini. Pada tahun 1867 kereta api mulai beroperasi di Indonesia dengan rute Stasiun Semarang menuju Stasiun Tanggung sejauh 25 km. Namun, saat ini bentuk Stasiun Semarang sudah tidak dapat ditemui lagi.

Hujan deras mulai mengguyur Kota Semarang di pagi ini. Di sudut stasiun terlihat rombongan anak-anak TK sedang belajar tentang kereta api. Sedangkan di depanku Mas Dimas sedang bercerita tentang Stasiun Tawang kepada para peserta walking tour. Menurut beberapa sumber, Stasiun Tawang merupakan stasiun yang dibangun oleh perusahaan kereta api yang bernama Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) dengan seorang arsitek dari Belanda yang bernama Mr. Sloth Blauwboer. Mulai dibangun pada tahun 1911 dan diresmikan pada 1 Juni 1914. Stasiun Semarang Tawang dikhususkan untuk melayani kereta api penumpang. Nama Tawang diambil dari kampung yang berada di sekitar stasiun, Kampung Tawangsari. Sedangkan kantor NIS berada kantor di Gedung Lawang Sewu.
Baca Juga: Jejak Kekayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula Dari Semarang

Sudut Stasiun Tawang

Stasiun Semarang Tawang menjadi bagian penting dalam sebuah acara yang bernama Semarang De Koloniale Tentoonstelling pada tahun 1914. Koloniale Tentoonstelling merupakan sebuah pameran yang diikuti oleh negara-negara kolonial dengan menampilkan berbagai hasil bumi dan kebudayaan yang ada di daerah jajahannya. Acara ini juga sebagai perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas Prancis. Pameran ini diikuti dari berbagai negara, seperti Inggris, Belanda, India, Amerika Serikat, dan Prancis. Semarang merupakan satu-satunya kota di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara yang pernah menyelenggarakan koloniale tentoonstelling. Para pengunjung pameran yang datang menggunakan kereta api yang berhenti di Stasiun Semarang Tawang. Bangunan Stasiun Semarang Tawang masih sesuai dengan bentuk aslinya, hanya ada beberapa perbaikan yang dilakukan karena stasiun ini sering terkena banjir rob yang berasal dari Laut Jawa.

Ruang tunggu Stasiun Tawang

Sepertinya belum ada tanda-tanda hujan akan reda, sedangkan perjalanan ini harus tetap berlanjut. Beberapa peserta menggunakan jas hujan, topi, dan payung untuk melindungi diri dari guyuran hujan. Aku hanya menggunakan jas hujan plastik yang aku beli di salah satu minimarket yang ada di stasiun. Kami akan berjalan menuju ke sebuah bangunan yang dulunya merupakan kantor salah satu perusahaan kereta api yang ada di Kota Semarang, yaitu Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS).

Salah satu rute yang dilewati

Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) beroperasi di Semarang sejak tahun 1882 dengan rute Semarang-Joana dengan melewati Demak, Kudus, dan Pati. Di belakang bekas kantor SJS terdapat area tambak ikan dan permukiman. Tambak dan permukiman itu dulunya merupakan bekas lokasi Stasiun Semarang NIS dan jalur kereta. Bahkan ada ada jalan di permukiman tersebut diberi nama jalan Spoorland. Hal itu dikarenakan dahulu di daerah tersebut terdapat jalur dan depo kereta api. Sedangkan semua aktivitas kereta api SJS berlangsung di Stasiun Jurnatan. Letaknya tidak terlalu jauh dari bekas kantor SJS.
Baca Juga: 11 Hal yang Bisa Kamu Temui di Pasar Karetan

Bekas kantor Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij 

Kami melanjutkan perjalanan menuju bekas Stasiun Jurnatan. Nasib Stasiun Jurnatan tidak sama dengan Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol karena stasiun ini sekarang hanyalah tinggal kenangan. Pada tahun 1980, Stasiun Jurnatan dirobohkan dan kemudian dibangun kompleks pertokoan. Sebelum dirobohkan, Stasiun Jurnatan dimanfaatkan terlebih dahulu untuk terminal bus. Kemudian terminal bus dipindahkan ke Terminal Terboyo.

Menurut Pak Wawan, salah satu peserta walking tour, dahulu Stasiun Jurnatan sangat besar dan megah dengan kontruksi baja dan kaca dan memiliki beberapa  jalur kereta api. Selain melayani jalur antar stasiun, SJS juga mengelola jaringan kereta trem di Kota Semarang. Trem ini menggabungkan beberapa daerah di Kota Semarang, seperti Bulu, Jalan Bodjong (Pemuda), dan Jomblang. Namun pada tahun 1940, layanan kereta trem mulai dihentikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Hal itu dikarenakan trem dianggap ketinggalan jaman, tidak efisien, dan tidak mampu bersaing dengan angkutan darat lainnya. Kami terus berjalan melewati area pertokoan yang dulu merupakan area Stasiun Jurnatan.
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Penanda bekas Stasiun Jurnatan

Kami melanjutkan perjalanan dalam cuaca yang masih gerimis, melewati beberapa sudut kawasan Kota Lama Semarang menuju depan Kantor Pos Pusat Johar. Kami akan berganti angkot untuk menuju Kantor KAI Daop IV Semarang yang berada di Jalan M.H. Thamrin. Kebetulan hari ini merupakan hari Sabtu dan operasional kantor sedang libur. Petugas keamanan tidak mengijinkan untuk memasuki area halaman kantor.

Kantor KAI Daop IV Semarang merupakan salah satu bangunan peninggalan masa kolonial yang dirancang oleh arsitek Belanda, Thomas Karsten. Dahulunya gedung ini digunakan oleh sebagai kantor bersama perusahaan kereta api  yang bernama Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) dan Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS). Di halaman kantor terdapat lokomotif kuno buatan pabrik lokomotif dari Manchester, Inggris.
Baca Juga: Menyusuri Romantisme Jalan Bodjong

Hujan tidak menghalangi perjalanan kami

Kami melanjutkan kembali dengan jalan kaki menuju Stasiun Semarang Poncol. perjalanan tidak terlalu jauh, kurang lebih sekitar 1 km dari Kantor Daop IV Semarang. Cuaca gerimis masih menemani perjalanan kami menuju Stasiun Semarang Poncol. Stasiun Semarang Poncol dibangun pada tahun 1914 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) denga arsitek Henri Maclaine Pont. Jalur di Stasiun Semarang Poncol memiliki rute menuju Cirebon. Stasiun ini dibangun dengan tujuan untuk melayani kereta penumpang dan barang.

Stasiun Poncol
Peserta walking tour (foto oleh mbak Indah)

Stasiun Semarang Poncol menjadi tempat terakhir kami dalam menyusuri sejarah kereta api di Semarang. Kami akan melanjutkan perjalanan kembali ke Stasiun Semarang Tawang. Banyak ilmu baru yang aku dapat hari ini. Aku kagum dengan Kota Semarang. Kota ini memang tak memiliki tempat wisata yang menarik bagi sebagian orang. Namun kota ini memiliki banyak cerita dan sejarah yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masa lampau. Kota ini menjadi kota lahirnya kereta api di Indonesia. Seperti kita tahu, setiap tahunnya kereta api mampu membawa jutaan orang berpindah tempat. Dari satu kota ke kota lain. Seperti ketika membawamu datang dan pergi dari kota ini.

Happy Walking Tour

Monday, April 2, 2018

Camping Ceria Bersama Pendaki Photograper Indonesia

Selepas hujan deras yang mengguyur Kota Semarang, aku mulai meluncur menuju Hutan Penggaron yang ada berada di Kabupaten Semarang untuk datang diacara 1st Gathering Nasional (Gathnas) Pendaki Photograper. Di malam minggu ini aku sedang tidak acara. Padahal hampir tiap malam minggu juga tidak memiliki acara. Yaa karena tidak acara, akhirnya aku mlipir menuju Hutan Penggaron. Ini kedua kalinya aku camping di Hutan Penggaron.
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Foto sebagian teman-teman Backpacker Semarang

Gathnas yang diadakan oleh teman-teman Pendaki Photograper ini mengangkat tema Sharing & Book Donations yang dikemas dalam acara camping ceria. Biaya pendaftaran pun terhitung sangat murah, yaitu Rp 30.000/orang dan satu buah buku untuk didonasikan. Aku malam itu membawa satu dus yang berisi puluhan buku yang aku kumpulkan bersama teman-temanku. Buku-buku tersebut nantinya akan didonasikan ke beberapa rumah baca yang ada di Jawa Tengah. Sebuah usaha yang bagus untuk memperkaya literasi di Indonesia, khususnya Jawa Tengah.

Acara api unggun

Setelah selesai registrasi dan menyerahkan buku, aku menuju tempat acara. Beberapa teman-teman Backpacker Semarang terlihat di dekat di panggung acara. Namun, aku memilih tetap berada di belakang dan bergabung dengan peserta lainnya. Peserta yang ikut acara ini sekitar 150 orang. Mereka tidak hanya berasal dari Jawa Tengah, namun juga dari luar kota. Seperti Jakarta, Subang, Banyuwangi, Tangerang, dan Kediri. Beberapa komunitas juga ikut bergabung dalam acara ini. Semuanya membaur jadi satu dalam acara itu.
Baca Juga: Seru-Seruan di Blogger Camp d'Emmerick Hotel

Acara sharing session

Acara malam hari diisi dengan sharing session dari beberapa narasumber yang berasal dari beberapa komunitas. Mereka membagikan pengalaman mereka kepada semua peserta gathnas. Seperti Mas Herlianto dari Trashbag Community Jateng yang bercerita pengalamannya dalam kampanye menjaga kebersihan di gunung. Kemudian ada Mas Donny dan Mas Nandika yang bercerita tentang pembuatan video dan foto. Selanjutnya ada Mas Singgih dan Mas Alan dari komunitas Pring Berbagi yang cerita tentang kegiatan sosial mereka, khususnya di bidang pendidikan. Seperti kata mereka berdua bahwa nilai tertinggi adalah angka 9. Acara sharing session juga dimeriahkan oleh penampilan komika dari standup comedy Ungaran. Acara sharing session ditutup dengan musikalisasi puisi dari Mas Pongkeng yang berjudul Kenangan.

Tenda-tenda peserta
Suasana pagi di lapangan tempat acara
Malam semakin larut, banyak peserta yang belum beranjak meninggalkan area panggung. Beberapa orang naik ke panggung untuk menghibur kami dengan alunan musik akustik. Alunan lagu Terlalu Manis dari Slank membuka acara musik akustik malam ini. Kemudian disusul dengan berbagai lagu lainnya, mulai dari Kangen-nya Dewa, Kita-nya Sheila on 7, Lestari-nya Boomerang, Sunset di Tanah Anarki-nya Superman Is Dead (SID), Pelangi di Matamu-nya Jamrud, hingga lagu Jaran Goyang-nya Nella, dan Sayang-nya Via Vallen. Lagu-lagu yang dinyanyikan sering menjadi lagu yang menemani perjalanan pendakian gunung. Namun, dari semua lagu yang dinyanyikan tidak ada lagu dari luar negeri. Aku menghabiskan malam itu dengan mendengarkan lagu akustik sambil ngobrol bersama teman-teman lainnya hingga pukul 02:30. Kami keasyikan mengobrol karena kami sadar, kami akan sulit menyediakan waktu untuk mengobrol banyak hal. Jadi yaa pas ketemu kami manfaatkan untuk mengobrol.

Persiapan games
Games Paling Panjang

Pagi hari acaranya adalah games. Games-nya beraneka ragam dan semuanya meriah. Seperti estafet tepung, dan estafet air. Games ini membuat keadaan jadi makin seru. Beberapa peserta saling serang dengan cara melempar tepung. Tidak boleh ada peserta yang terlihat bersih. Bahkan duo MC-nya, Ucup dan Ache Raissa, pun juga tidak luput dari serangan tepung. Dari games didapatkan para pemenang yang mendapatkan hadiah dari panitia. Selain games, panitia juga memberikan dorprize yang dibagikan kepada peserta. Teman-teman Backpacker Semarang banyak yang mendapatkan dorprize, termasuk aku. Kemudian acara Gathnas ditutup dengan berfoto bersama, Cheeerrss..!!!
Baca Juga: Minggu Pagi di Pasar Karetan

Ini para perusuh dari Backpacker Semarang (aku yang pake kaos biru)

Acara camping ceria memang selalu menyenangkan. Aku mengikuti acara 1st Gathnas Pendaki Photograper karena ingin berkumpul dengan teman-teman, sharing dan berkenalan dengan teman-teman komunitas lainnya. Menurutku, acara kemarin terbilang sangat sukses dan berjalan dengan lancar. Lebih dari ratusan peserta mengikuti dan bisa saling berkenalan satu sama lainnya. Ilmu dan pengalaman dalam sharing session sangat bermanfaat bagi peserta, gerakan donasi buku untuk mengembangkan rumah baca, dan tentu saja banyak dorprize yang dibagikan untuk peserta.

Sampai Jumpa di Camping Ceria Selanjutnya
Namaste