Saturday, June 23, 2018

Pawai Ogoh-Ogoh di Kota Semarang

Pawai Ogoh-Ogoh selalu identik Pulau Bali yang selalu diselenggarakan sebelum Hari Raya Nyepi bagi umat beragama Hindu. Seiring berjalannya waktu, Pawai Ogoh-Ogoh juga digelar oleh umar beragama Hindu yang berada di daerah lain. Salah satunya adalah Kota Semarang. Pawai Ogoh-Ogoh sudah digelar sebanyak tujuh kali. Pawai Ogoh-Ogoh di Kota Semarang sedikit berbeda dengan Pawai Ogoh-Ogoh yang ada di Bali. Namun, kedua pawai ini memiliki tujuan yang sama, yaitu mengusir roh jahat.

Patung Ogoh-Ogoh di kawasan Balaikota Semarang

Satu jam sebelum acara Pawai Ogoh-Ogoh dimulai, Kota Semarang diguyur hujan deras. Hal itu menyebabkan terjadi beberapa genangan di jalan protokol Kota Semarang. Aku yang berencana untuk berangkat lebih awal, akhirnya aku harus menunda keberangkatan hingga hujan reda. Sesuai jadwal, Pawai Ogoh-Ogoh dimulai pada pukul 14:00 hingga pukul 17:00. Sekitar pukul 14:00, hujan mulai reda. Aku langsung memacu motorku menuju kawasan Nol Kilometer Kota Semarang. Berharap acara belum dimulai. Namun, ternyata sepanjang rute pawai telah dipenuhi oleh masyarakat yang sangat antusias untuk menonton pawai.
Baca Juga: Walking Tour: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang


Patung Ogoh-Ogoh ketika diarak

Aku bergegas untuk mengejar rombongan pawai. Ini merupakan pengalaman pertamaku melihat Pawai Ogoh-Ogoh secara langsung. Dalam perjalanan itu, aku bertemu dengan beberapa temanku yang juga sedang berburu foto Pawai Ogoh-Ogoh. Selain Pawai Ogoh-Ogoh, acara ini merupakan acara Karnaval Seni Budaya Lintas Agama. Tidak hanya diikuti oleh umat Hindu, tapi juga umat agama lainnya. Acara Pawai Ogoh-Ogoh ini didukung oleh Disbudpar Kota Semarang dan Kementrian Pariwisata.

Salah satu peserta Pawai Ogoh-Ogoh

Ogoh-Ogoh menggambarkan wujud kepribadian Bhuta Kala. Yang berarti sebuah kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tidak terukur dan terbantahkan. Biasanya Bhuta Kala diwujudkan dalam bentuk raksasa yang besar dan menakutkan. Oyaa, nama Ogoh-Ogoh berasal dari bahasa Bali, yaitu Ogah-Ogah yang berarti mengguncang dan mewakili kejahatan yang perlu dijauhkan dari manusia. Di Pulau Bali, Pawai Ogoh-Ogoh selalu rutin diadakan menjelang Hari Raya Nyepi dengan tujuan untuk mengusir roh jahat dengan cara diarak dan kemudian dibakar. Jumlah Ogoh-Ogoh yang diarak cukup banyak dan bentuknya beraneka ragam. 
Baca Juga: Menyusuri Sejarah Kereta Api di Kota Semarang


Bhuta Kala Rahwana dan Nara Singa
Bhuta Kala Cula

Di Pawai Ogoh-Ogoh ini, patung yang dibawa terdiri dari tiga jenis. Yaitu Bhuta Kala Cula, Bhuta Kala Rahwana, dan Nara Singa. Patung-patung ini diarak oleh belasan orang sepanjang Jalan Pemuda. Mulai dari Titik Nol Kota Semarang menuju kawasan Balaikota Semarang. Berbeda dengan Pawai Ogoh-Ogoh di Pulau Bali, pawai di Kota Semarang diselenggarakan setelah Hari Raya Nyepi. Tujuannya juga untuk mengusir roh jahat dan sekaligus sebagai media untuk menjaga kerukunan antar umat agama dan masyarakat.

Bhuta Kala Rahwana
Nara Singa

Acara pawai juga dimeriahkan dengan penampilan drama sendratari dengan lakon Rahwana Galau yang dibawakan oleh sanggar tari Saraswati. Judul lakon memang dibuat lebih kekinian, tapi alur cerita tidak jauh dengan Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Berbeda dengan alur cerita yang dibawakan oleh Mbah Tejo (Presiden Republik Jancukers).
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Kalau menurut Mbah Tejo, Rahwana itu tidak pernah menculik Dewi Sinta. Namun, Dewi Sinta-lah yang ingin diculik oleh Rahwana karena Dewi Sinta merasa bosan dengan Rama yang begitu baik. Sedangkan Rahwana terlihat lebih sangar dan bad boy. Sehingga Dewi Sinta juga ingin merasakan kehidupan bersama Rahwana yang begitu berbeda dengan Rama. Kehidupan yang penuh warna dan jauh dari kebosanan ingin dirasakan oleh Sinta ketika hidup bersama Rahwana. Cerita-cerita tentang Rahwana dan Dewi Sinta dalam versi Mbah Tedjo bisa dibaca di novel Rahvayana: Aku Lala Padamu.

Sendratari Rahwana Galau

Hari mulai beranjak petang. Sebuah pesan di smartphone menyapaku. Sebuah pesan dari dia. Dia meminta tolong untuk diantar ke rumah sakit karena merasa tidak enak badan. Aku bergegas pergi meninggalkan kawasan Balaikota, meskipun acara belum selesai. Kemudian meluncur menuju rumahnya. Rumah yang selalu teduh dan tersenyum menyambut setiap kedatanganku. Hai Kamu, semoga lekas sembuh.


Semarang, 25 Maret 2018