Tuesday, July 31, 2018

Trekking di Gunung Andong, Kampung Para Pendaki Gunung

Setelah tertunda beberapa kali, akhirnya rencana untuk trekking Gunung Andong kembali muncul dalam benak pikiranku. Rencana itu tiba-tiba muncul karena minggu ini tidak banyak kerjaan. Jarak yang tidak jauh dari Kota Semarang juga menjadi pertimbanganku memilih Gunung Andong. Selain itu, ini adalah caraku untuk mengobati rindu akan suasana  sebuah pendakian dan suasana pagi pegunungan. Suasana di gunung saja rindu, apalagi suasana bareng kamu, eehh.

Gunung Andong

Kemudian aku mengajak Mas Tono. Rencana awal kami hanya berangkat berdua. Namun, akhirnya ada beberapa teman yang ikut bergabung. Sabtu malam kami berangkat dari Kota Semarang menuju Dusun Sawit, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang yang merupakan lokasi basecamp dan jalur pendakian Gunung Andong. Jalur Dusun Sawit lebih populer dibandingkan dengan jalur-jalur lainnya. Saat ini, jalur ini dikelola oleh para pemuda dusun yang diberi nama Taruna Jayagiri. Perjalanan menuju basecamp bisa ditempuh dengan waktu 1,5 jam perjalanan dari Kota Semarang.

Gunung Andong terletak di Kabupaten Magelang. Gunung Andong memiliki ketinggian 1726 mdpl. Gunung Andong memiliki beberapa jalur, antara lain adalah jalur dusun Sawit, dusun Gogik, dan dusun Kembangan. Jalur dusun Sawit menjadi jalur favorit bagi para pendaki Gunung Andong.

Sekitar pukul 00:30, kami tiba di basecamp. Salah satu yang unik di Gunung Andong adalah tersedianya banyak tempat untuk istirahat. Rumah-rumah warga bisa digunakan sebagai tempat beristirahat. Terlihat banyak pendaki yang sedang beristirahat. Kami memilih untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum mulai trekking. Sesuai rencana, kami akan trekking pada pukul 04:00.
Pukul 04:00, kami bangun dan bersiap-siap untuk memulai trekking. Tentu saja kami tidak lupa untuk mendaftar dan membayar biaya pendakian di pos registrasi. Setelah dari pos registrasi, kita akan melewati jalur berupa jalan beton perkampungan dan perkebunan warga. Setelah 10 menit, kami tiba di area hutan Gunung Andong. Di sini masih terdapat beberapa warung milik warga. Jajaran pohon pinus dan jalan menanjak mulai menyapa perjalananku. Aku mulai mengatur nafas dan tempo langkah kaki agar tubuh bisa beradaptasi dengan lingkungan dan jalur trekking. Dalam perjalanan aku sering berpapasan dengan pendaki lain. Obrolan santai menemani perjalanan kami.

Pos registrasi Gunung Andong

Tepat pukul 06:10, aku tiba di puncak Gunung Andong. Gunung Andong memiliki tiga puncak, yaitu Puncak Makam, Puncak Andong, dan Puncak Alap-Alap. Karena ramainya pendaki yang mendirikan tenda di puncak, jalur menuju puncak pun dipenuhi dengan tenda. Tentu saja ini sangat berbahaya bagi pendaki lain, karena mereka tidak dapat trekking dengan nyaman dan aman. Dalam perjalanan menuju Puncak Andong, aroma tak sedap (baca: bau pesing) di sebelah kanan dan kiri jalur pendakian. Aku menutup hidungku ketika melewati jalur itu. Aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Tidak hanya aku, pendaki lain pun juga merasakan hal yang sama. Di puncak gunung, ratusan tenda telah berdiri memenuhi area puncak dan jalur pendakian. Saking ramainya, aku menyebutnya "Kampung pendaki di Puncak Gunung Andong".

Tenda di jalur pendakian

Sunrise Gunung Andong

Meskipun ramai, aku tetap berusaha menikmati suasana puncak Gunung Andong. Melihat para pendaki lain yang sedang bersiap-siap menikmati matahari terbit. Senda gurau  dan obrolan para pendaki juga terdengar dari beberapa tenda. Seduhan kopi dan teh menambah kehangatan obrolan para pendaki. Ada pula pendaki yang memilih untuk melanjutkan tidurnya, daripada menikmati suasana pagi di puncak Gunung Andong. Sedangkan aku terus berjalan menuju Puncak Alap-Alap. Bukan untuk menuju puncak yang terjauh, tapi untuk menikmati suasana Gunung Andong dari sisi yang lain.
Baca Juga: Sunrise Trip Gunung Telomoyo

Sunrise di Puncak Makam

Akhirnya aku tiba di Puncak Alap-Alap. Dari sini terlihat ratusan tenda para pendaki yang berada di puncak Gunung Andong, sekaligus jalur puncak yang berupa punggungan gunung. Di sisi barat terlihat hamparan awan putih. Kemudian aku kembali ke Puncak Andong untuk bertemu dengan Mas Tono. Kami beristirahat sebentar di salah satu warung yang ada di puncak. Total terdapat tiga warung di puncak Gunung Andong. Keberadaan warung ini seperti "fasilitas" yang ada di Gunung Andong yang menyediakan makanan dan minuman untuk para pendaki. Kami memesan kopi dan beberapa mendoan. Semua bahan makanan, minuman, dan bahan lainnya dibawa dari dari bawah. Meskipun begitu, harga makanan dan minuman masih terjangkau.

Pemandangan dari Puncak Alap-Alap Gunung Andong
Suasana warung

Hari mulai beranjak siang, para pendaki mulai mengemasi perlengkapan mereka dan lanjut kembali ke basecamp. Dalam perjalanan turun, aku menyempatkan untuk menyapa dan mengobrol dengan pendaki lainnya. Salah satunya rombongan pendaki yang berasal dari Bantul. Mereka masih duduk di bangku kelas XI. Berkali-kali mereka foto bareng dan mengabadikan setiap momen. Akhirnya kami ikut gabung untuk foto bareng mereka. Seru dan tentu saja senang melihat mereka begitu semangat dalam mendaki gunung. Kami cuma berpesan kepada mereka untuk saling jaga dan berhati-hati dalam perjalanan pulang ke Bantul.
Baca Juga: Menjelajah Kawasan Pecinan Semarang

Pos 2 Watu Gambir

Setiap akhir pekan, Dusun Sawit selalu ramai dengan para pendaki Gunung Andong. Setiap sudut desa dipenuhi dengan para pendaki. Terdapat gapura yang terbuat dari bekas botol air mineral. Dengan adanya pendaki, desa ini terlihat lebih maju. Namun, juga perlu diantisipasi dampak negatifnya karena semakin banyaknya pendaki. Seperti rusaknya ekosistem dan permasalahan sampah.
Gapura botol bekas

Gunung Andong memang memiliki area puncak yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Seperti yang aku bilang di awal, Gunung Andong bisa didaki tanpa mendirikan tenda. Namun, beberapa hal yang menjadi pertimbanganku untuk tidak mendirikan di puncak:
1. Puncak Gunung Andong berupa punggungan. Hal ini sangat beresiko ketika terjadi angin kencang, hujan dan badai. Tidak ada penghalang yang melindungi tenda dari ancaman badai.
2.  Banyaknya pendaki membuat pendaki mesti berangkat lebih awal agar mendapatkan area camping.
3. Jarak yang tidak jauh dari basecamp menuju puncak memungkinkan pendaki memiliki banyak pilihan waktu untuk mendaki. Aku sarankan pas subuh agar bisa menikmati suasana matahari terbit dari puncak Gunung Andong.
4. Keberadaan dari warung di puncak gunung sangat berguna untuk mengurangi logistik saat pendakian. Sehingga tidak perlu camping dan membawa peralatan memasak.
5. Dengan tidak camping di puncak, berarti mengurangi potensi kerusakan ekosistem di puncak Gunung Andong.



Puncak gunung bukanlah tujuan dalam sebuah pendakian. Menikmati semua proses dan kembali ke rumah dengan selamat adalah sebuah tujuan dari pendakian.
Selamat mendaki
Mendakilah dengan aman.

Gunung Andong
14 Juli 2018

56 comments:

  1. Wah.. Andong mah rame terus gan..
    Apalagi pas weekend ni.. Sampai jalur pendakiannya ya dipakai buat ngecamp...

    Beruntung g pernah naik Andong pas Sabtu-Minggu..
    Kepikiran juga kalau sampai ratusan orang gitu yang naik ntar kencingnya gimana.. Ya jadinya pesing kayak begitu.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaa memang selalu ramai di akhir pekan. Makanya aku ga pernah camping pas akhir pekan

      Delete
    2. Lebih baik memang begitu gan...
      Nggak nyaman juga kan kalau terlalu ramai kayak gitu..

      Bahkan pernah denger cerita kalau pas long weekend, pendaki Andong mencapai 2000an orang.. haha

      Delete
    3. nah itu mas, kalau sejumlah itu sudah bisa jadi beberapa RT mas..hahhaaa

      Delete
  2. Masih rame aja ya yg mendaki. Kukira hype pendakian sudah lewat, dan yg meneruskan cuma pendaki beneran :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum kelar dalam beberapa tahun ke depan mas. Buruan naik gunung. Mumpung masih banyak temannya :D

      Delete
  3. Mungkin perlu dibuat aturan yang lebih ketat untuk dibatasi pendakiannya; misal per-hari hanya diperbolehkan sekian pendaki. Selain untuk menjaga ekosistem gunung juga mengurangi polusi lainnya.

    Sampah yang dibawa para pendaki selalu menjadi perhatian, dan gapura yang terbuat dari botol plastik adalah cara menyindir yang sangat halus.


    Salam hawa gunung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di gunung gede-pangrango, gunung semeru jumlah pendakinya sudah dibatasi. Bahkan sesekali waktu di musim pendakian jalurnya malah ditutup untuk pendakian untuk perbaikan ekosistem. Tapi hal itu belum diterapkan di gunung-gunung yang ada di Jawa Tengah.

      Nah, aku pun tersindir dengan adanya gapura botol plastik tersebut. Saking ramainya pendaki, sampahnya pun bisa jadi sebuah gapura -,-

      Salam dingin dan kabut mas :D

      Delete
  4. Yaah, kok ngga ngajak-ngajak aku ke gunung Andong, yaaa ... wkkkwwkk 😅 [maunyaaaa]

    Beneran, aku kayak kamu beberapakali punya keinginan ke gunung Andong sampai sekarang belum terlaksana.


    Waduh, sampai sekarang kesadaran kebersihan dan pentingnya ekosistem lingkungan kok masih sangat kurang, yaa ..
    Semestinya ada tindakan tegas buat pelanggar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mas kapan kita nanjak gunung andong..? :D

      Sebetulanya cukup dari kesadaran para pendaki tentang pentingnya menjaga kebersihan dan ekosistem alam. Kalau udah sadar, ga perlu sanksi-sanksi lagi :D

      Delete
  5. ga begitu tinggi ya jadi rame banget. penasaran pengen naik gunung tapi yang ga ektrim banget kayaknya cocok di gunung andong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cocok mbak kalau mau buat jalan santai. Tapi sebelum naik persiapkan dulu peralatan dan fisik :D

      Delete
  6. Saya pribadi belum pernah naik gunung. Tapi saya kagum ama pemandangannya. Diatas awan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo naik gunung mas. Tapi sebelum naik gunung, persiapkan fisik dan mental dulu :D

      Delete
  7. Persis ketika aku muncak Ungaran...bareng sm anak2 SMP, ruame puoll. G bs menikmati alam dan kebebasanku to. Nyuh muncak neh yuhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayok agendakan muncak lagi. Kalau bisa pas weekday. Kalau weekday biasanya sepi :D

      Delete
  8. Banyak yg buang air kecil tuhh disana. Hihihi ga ada toilet ya kalo trekking ? (udah pasti ga ada sihh kayaknya). Hahaha


    Bagus banget foto2 ny

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jarang ada toilet kalau pas naik gunung. Tapi sebetulnya ada aturannya untuk buang air kecil/besar, yaitu jauh dari area camping atau jalur pendakian.
      Makasih :D

      Delete
  9. Bagus pemandangan nya jadi pengen jalan-jalan

    ReplyDelete
  10. Keinginan ke gunung andong sampe sekarang belum ke capai. Tapi kalo weekend rame bngat, cuma bisa weekend doang juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Resikonya gitu sih mas, weekend emang selalu ramai. Makanya aku cuma trekking aja biar ga berebut kapling untuk bikin tenda :D

      Delete
  11. Di gunung tapi padat yaa pengunjungnya hehe, bener tuh mestinya ada aturan pembatasan pengunjung per hari biar tetap bersih dan nyaman ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di beberapa gunung sudah ada aturan jumlah pendaki. Namun, setahuku pembatasan jumlah pendaki blum dilaksanakan di gunung-gunung jawa tengah

      Delete
  12. Dalam benakku, pendaki gunung termasuk pencinta alam.. tapi,sekarang makin banyak pendaki yang tidak cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Tulisan mas Vay seolah menyentil keberadaan mereka yg seenak jidat ninggal botol plastik dan sampah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau masa sekarang kedua kata itu sudah mengalami pelebaran makna. Sekarang pendaki gunung belum tentu berasal dari pencinta alam. Kemudian pencinta alam juga ga harus pendaki gunung. Namun, yang pasti sudah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga kebersihan dan ekosistem alam.

      Delete
  13. Selalu ngelewatin pemandangan gunung andong tapi belom berani nyoba buat trekking

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cobalah trekking ke sana. Jangan lupa persiapkan fisik dan peralatannya. Ajak yang sudah berpengalaman juga

      Delete
  14. Sekarang musimnya bagus nih buat naik... tapi pasti ruamenya kek pasar ya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau gunung andong pasti ramai. Ga pernah sepi. Sudah kayak kampung pendaki :D

      Delete
  15. Ide gapura dari botol plastik itu bagus banget.
    Pemandangan awan-awan yang menggantung gitu emang cakep banget si~
    Yang asik dari mendaki gunung, apapun itu, antar pendaki akan sama-sama saling menyemangati, nggak peduli kenal atau enggak. Saling membantu kalau ada apa-apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ide gapura juga sebagai pengingat kepada kita agar jaga jaga kebersihan agar tak perlu membangun gapura-gapura seperti itu lagi.

      Nah itulah mas yang aku rindukan dalam pendakian gunung. Saling sapa dan support antar pendaki gunung :D

      Delete
  16. Pernah sekali naik Gunung Gede, tapi nggak sampai puncak karna cape heheh..
    kayanya Andong bisa dijadikan destinasi awal untuk pemula seperti aku ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaap, bener banget. Gunung andong cocok buat pemula. Yang terpenting siapkan fisik dan mental. Tentu saja perlengkapan yang dibutuhkan agar pendakian berjalan dengan lancar. Ayo mendaki dengan aman dan nyaman :)

      Delete
  17. Aku suka baca cerita tentang pengalaman naik gunung tapi kalau di ajak g mau ��
    Btw kalau naik gunung tp g ngecamp, apa jaminan jg wisatawan itu g ngerusak ekosistem di gunung Andong?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cobalah sekali-kali naik gunung dev :D

      Ga semua wisatawan juga seperti itu, tapi semakin banyak orang yang mengunjungi, maka potensi kerusakan ekosistem juga semakin besar :D

      Delete
  18. aku habis dari Andong jugaaakkk! Ahahaha dan pas lagi indah-indahnya heheu mau aku tulis d blog jugak hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget. Bulan juli-agustus waktu terbaik untuk naik gunung. Sunrise yang bagus siap menyapa :D

      Delete
  19. aduh, seru amat sih cerita naik gunung-nya?
    makin seru cara berceritanya :)

    ehiya, sekali-kali naik bareng Adhit-lah mas, dia masih hobi banget tuh naik gunung haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih...makasih sudah berkenan mampir. Hihihi

      Maunya ngajak liana aja. Biar punya pengalaman naik gunung. Masa gunung sahari mulu yang dilewati...wkwkwkkk
      Ayo kapan naik gunung...? :D

      Delete
  20. Cukup lumayan tidak terlalu tinggi ya sepertinya dengan ketinggian seribu mdpl huahaha. Gapuranya bagus banget ngomong-ngomong, tapi apa tidak roboh ya itu kalau misal ada angin kencang atau hujan angin? Lem nya benar-benar kuat kali yaa?

    Soal tenda dijalur pendakian. Dilihat dari foto cukup bahaya untuk para pendaki karena cuma bisa berjalan disekitar pinggir-pinggir tenda. Ngeri kepeleset atau sesuatu buruk terjadi gitu kan. Tapi cukuplah menarik. Semoga rakyat para pendaki gunung tidak pernah lupa untuk selalu membawa sampah jajanan turun ke kaki gunung untuk dibuang ke tempat sampah yaaa. Salam anak gunung! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu gapura ada kerangka kayu. Jadi sangat kuat.

      Gunung andong tidak tinggi. Jalan santai saja cma mengahabiskan waktu 1-2 jam perjalanan. Mesti nyoba ke sini :D

      Nah ini yang penting dalam pendakian, selalu bawa turun sampahmu...!!!

      Salam ketinggian kak ^^

      Delete
  21. Gedeg banget yak kalo pas jalan tiba2 bau pesing yg menyengat gt. Harusnya seblum mendaki tu harus tau tata cara pendakian yak biar ttp aman dan g bahayakan pendaki lain seperti mendirika. Tenda di jalur pendakian. Hufft.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaa mungkin mereka hanya mengikuti arus yang lagi ngtren, yaitu naik gunung tanpa belajar terlebih dahulu tentang mendaki gunung yang aman dan nyaman

      Delete
  22. Rame banget sih gunungnya, apalagi yg ada tendanya itu. Kok pasang tenda di jalur pendakian, kayak orang mantu pasang tenda di jalan..wkwkwk, jadi yg mau lewat mlipir2 dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaa mau gimana lagi, saking ramainya gunung andong. Gunung andong salah satu yang paling ramai. Apalagi pas weekend :D

      Delete
  23. Ulala apik banget ih.
    Kampung para pendaki nggak gampang untuk disinggahi ya.
    Itu gemes, yang bikin tenda di jalanan, horor.
    Semoga para pendaki terus melestarikan dan menjaga gunung dari sampah-sampah ya.
    Gapura botol bekasnya keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah jadi perkampungan di waktu akhir pekan. Tinggal nyari ketua RT dan Rw nya saja mbak :D

      Delete
  24. Gue belum pernah naik gunung, keinginan sih ada cuma gagal terus gara-gara faktor lain. Padahal pengen coba naik gunung kayak apa. Seru kayaknya yah baca dari tulisan masvay,cuma yang disayangkan yah itu bau pesingnya. Diliat dari foto yang puncak alap-alap, keliatan rame yah tenda nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo naik gunung mas. tapi sebelum naik gunung perlu disiapkan fisik,mental dan perlengkapan terlebih dahulu :D

      Delete
  25. Pemilihan judulnya udah mewakili sekali ya mas?
    Memang Andong ini jadi jujugan mendaki anak-anak sekolah terus ramai-ramai gitu. Semoga mereka tetap menjaga lingkungan, membawa sampahnya turun kembali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku rasa begitu, karena andong yang tak pernah sepi dari pendaki :D
      anak-anak selalu semangat ketika mendaki gunung. Mereka begitu menikmatinya :D

      Delete
  26. Betul katamu, mas. Kata kawanku dari sebuah komunitas pun, "Puncak adalah bonus." Kalau berhasil dicapai, syukur, enggak pun nggak apa-apa.

    Salut dengan inisiatif membuat gapura dari botol bekas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ga sampai puncak yaa bisa di lain waktu.

      Botol bekas juga sebagai pengingat untuk selalu menjaga kebersihan

      Delete
  27. Suka salut sama tukang warung yg jualan di puncak Gunung. Tiap Hari mungkin bolak balik ke bawah buat memenuhi supply warungnya .Andai semua bisa menjaga kebersihan Gunung ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu warung yang terkenal yaa warung pecel di gunung lawu. Bisa dibilang paling legenda di antara para pendaki gunung.
      Menjaga kebersihan sudah jadi kewajiban setiap orang.

      Delete