Saturday, December 16, 2017

Antara Bandung dan Semarang

"Diinformasikan kepada para penumpang kereta api Harina dengan keberangkatan Stasiun Surabaya Pasar Turi menuju Stasiun Bandung bahwa kereta mengalami keterlambatan. Saat ini kereta sedang berada di Stasiun Jambon. Diperkirakan kereta akan tiba di Stasiun Semarang Tawang pada pukul 22:05.”

Pengumuman dari petugas stasiun sontak membuatku lemas. Padahal sudah datang di Stasiun Semarang Tawang pada pukul 20:15 agar tidak ketinggalan kereta, tapi ternyata keretanya telat. Malam ini aku berencana pergi ke Kota Bandung dalam rangka untuk menghadiri kondangan temanku, Raissa Githa.

Hai Bandung...!!!

Tuesday, July 4, 2017

Cerita Mudik: Pesan Dalam Sebuah Perjalanan

Seperti lebaran tahun kemarin, lebaran tahun ini aku melakukan ritual pulang kampung atau mudik. Jika tahun kemarin aku mudik ke Simbah-nya Aqila di Gombong, Kebumen, tahun ini aku mudik ke kampung halamannya ibuku di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Kabupaten Pandeglang


Monday, June 19, 2017

Menyusuri Romantisme Jalan Bodjong

Jalan Bodjong (Bodjong Weg) atau sekarang yang lebih dikenal dengan nama Jalan Pemuda sudah sejak dulu menjadi jalan utama di Kota Semarang. Bahkan pernah dianggap sebagai salah satu jalan paling bagus di Pulau Jawa. Dari dulu hingga saat ini, Jalan Bodjong telah menjadi pusat pemerintahan, bisnis, pendidikan, dan hiburan. Bagiku, Jalan Bodjong merupakan jalan romantis di Kota Semarang.

Ujung Jalan Pemuda, Gedung Lawang Sewu dan Tugu Muda

Saturday, June 3, 2017

Menengok Kehidupan Multicultural di Semarang

Kalau kata temenku yang berasal dari Jogja, Semarang itu singkatan dari Semakin Rindu dan Sayang. Aaah, tentu saja ini cuma guyonan aja atau mungkin doa biar kamu dan yang lainnya selalu ingin (kembali) ke Semarang. Kota yang identik dengan Lawang Sewu, Masjid Agung Jawa Tengah, Sam Poo Kong, dan Kota Lama-nya ini memang memiliki banyak sebutan dan cerita. Dulu, Kota Semarang juga mendapatkan julukan Venice van Java. Selain itu, kawasan Kota Lama mendapat sebutan Little Netherland.

Masjid Menara

Tuesday, May 23, 2017

Jejak Kejayaan Oei Tiong Ham: Raja Gula dari Semarang

“Dulu, bangunan itu merupakan sebuah rumah”, ujarku kepada seorang kawan dari Bandung
“Oyaa…?”, tanyanya semakin penasaran
“Iyaa, yang punya dulunya seorang Raja Gula dari Semarang”
“Orang terkaya di Asia Tenggara pada masa itu”
“Permukiman di belakang bangunan itu termasuk halaman belakangnya”, aku menambahkan.
“Wouw, besar sekali kalau begitu”, temanku masih penasaran
“Yaa begitulah, bisa jadi stadion sepak bola ”. Jawabku singkat sambil melanjutkan perjalanan.

Obrolan pagi di hari Sabtu ketika melewati jalan Kyai Saleh, Semarang setelah kami berdua bercengkrama dengan Pecel Bu Sumo yang berada di jalan itu. Menurutku, Pecel Bu Sumo salah satu pecel yang paling enak di Kota Semarang. Apalagi badaknya (badak= bakwan, bala-bala) yang bikin ketagihan. *Badak kok dimakan*. Kamu mau Pecel Bu Sumo juga..? Sini, main ke Semarang dulu yaa.

Aku sering melewati bangunan tua itu dan hanya tahu sedikit tentang sejarahnya. Penasaran sih pasti, tapi mendapatkan informasi yang valid itu jauh lebih penting. Beberapa literasi menjelaskan bahwa dulu pemilik bangunan tersebut adalah Oei Tiong Ham. Seorang Raja Gula dari Semarang di era tahun 1890-an. Aku sering mencari informasi acara yang berisi tentang penelusuran jejak-jejak Sang Raja Gula dari Semarang ini, namun belum aku dapatkan informasi tersebut. Hingga akhirnya setelah 12 purnama, teman-teman dari Bersukaria Walking Tour akan mengadakan acara tersebut dengan tema “Radja Goela”. Tanpa pikir panjang, aku pun mendaftar untuk mengikuti acara tersebut. Tidak lupa aku juga mengajak dua temanku yang kebetulan juga seorang blogger, yaitu Echi dan Liana dari Jakarta.

Taman Menteri Supeno

Kami bertiga langsung bertemu di meeting point di Taman Menteri Supeno (lebih dikenal dengan sebutan Taman KB). Pagi itu, peserta yang ikut sebanyak empat orang, yaitu aku, Echi, Liana, dan Neni. Perjalanan kali ini akan ditemani oleh mas Fauzan yang bertugas sebagai guide. Kami memulai penjalanan dengan menuju ke Jalan Pahlawan. Kami mesti menerobos jalan Menteri Supeno yang pagi itu dibanjiri dengan para pedagang yang hanya berjualan ketika Car Free Day (CFD). Terkadang, para pedagang ini adalah sumber kesemrawutan ketika CFD. Minggu pagi memang bebas dari kendaraan bermotor, namun tidak dengan kebisingan dan kesemrawutan. Dari Jalan Pahlawan inilah Mas Fauzan mulai bercerita tentang Oei Tiong Ham.
Oei Tiong Ham lahir di Semarang pada tanggal 19 November 1866. Oei Tiong Ham merupakan anak dari Oei Tjie Sien dan Tjan Bien Nio. Ayah Oei Tiong Ham merupakan laki-laki yang melakukan pelarian dari Tiongkok menggunakan sebuah kapal yang dia tumpangi hingga tibalah dia di Semarang. Ayah Oei Tiong Ham merupakan pedagang yang sukses dengan perusahaannya bernama Firma Kian Gwan Kongsi. Nah dari ayahnya inilah ilmu bisnis Oei muda didapatkan. Oei Tiong Ham merupakan anak kedua dari delapan bersaudara.

Kami berlima mulai menyusuri Jalan Pahlawan, melewati kantor Gubernur hingga kantor Mapolda Jateng. Mas Fauzan menjelaskan bahwa mulai dari kantor Gubenur Jateng hingga Mapolda Jateng dulunya merupakan halaman belakang dari rumah Oei Tiong Ham. Bahkan kantor Mapolda dulunya merupakan kebun binatang mini milik Oei Tiong Ham. Saking kayanya, namanya juga dijadikan nama sebuah jalan, yaitu Oei Tiong Ham Weg (sekarang Jalan Pahlawan).

Oei Tiong Ham weg (sekarang Jalan Pahlawan)

Selain itu, pada masa itu warga etnis Tionghoa diharuskan tinggal secara berkelompok di wilayah Pecinan. Karena memiliki kekuasaan, Oei Tiong Ham berhasil melobi pemerintah Hindia Belanda agar mengijinkan dia dan keluarganya tinggal di luar kawasan Pecinan. Yaitu di rumahnya yang dikenal dengan sebutan Istana Gergaji.

Sekitar tahun 1900, Oei Tjie Sien meninggal dunia karena sakit jantung. Mulai saat itu, Oei Tiong Ham memegang perusahaan ayahnya, yaitu Kian Gwan Kongsi. Namun sebelum itu, Oei Tiong Ham telah memulai bisnis gula dan candu atau opium. Pada tahun 1890-1904, Oei Tiong Ham menguasai perdagangan candu atau opium. Pada tahun 1893, Oei Tiong Ham mendirikan Oei Tiong Ham Concern setelah mewarisi Kian Gwan Kongsi dari ayahnya pada tahun 1890. Oei Tiong Ham Concern (OTHC) pun berubah menjadi perusahaan konglomerasi terbesar di Hindia Belanda pada awal abad 20.
Baca juga: Blusukan di Segitiga Emas Kota Semarang (Bagian 1)

Kemudian kami berjalan menyusuri Jalan Veteran. Mas Fauzan mengatakan bahwa pada masa itu, komoditas gula merupakan komoditas yang dianggap mewah. Apalagi Oei Tiong Ham memiliki beberapa pabrik gula di Jawa Timur. Pabrik-pabrik gula ini terus berkembang dan menjadi penopang perusahaan Oei Tiong Ham Concern dan menguasai perdagangan gula di Asia. Dari situlah Oei Tiong Ham dijuluki sebagai Raja Gula dari Semarang. Namun, kekayaannya juga didapat dari bisnis candu atau opium dan bisnis lainnya. Seperti asuransi, perbankan, dan properti.

Fokus pada rumah di belakang kami yaa ^^

Akhirnya kami tiba di persimpangan Jalan Veteran dan Jalan Kyai Saleh. Bekas rumah Oei Tiong Ham atau istana Gergaji berada di dekat persimpangan itu. Terlihat sangat megah dan masih berdiri kokoh. Dulu luas rumahnya sekitar 81 hektare. Terdapat beberapa bangunan, taman, kebun, gazebo, hingga kebun binatang. Namun kini hanya tersisa bangunan utamanya. Istana Gergaji sekarang digunakan sebagai Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ingin rasanya masuk ke dalam bangunan tersebut. Namun apalah daya, petugas keamanan tidak mengijinkan kami untuk masuk ke dalam bangunan cagar budaya tersebut.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri gang-gang perkampungan yang ada di sekitar rumah Oei Tiong Ham. Dulunya, perkampungan ini merupakan halaman belakang istana Oei Tiong Ham. Oei Tiong Ham sendiri memiliki 8 istri dan 26 anak. Beuuh, banyak juga yaa istrinya. Namun dari 26 anaknya, hanya 9 orang yang dipercaya untuk meneruskan usahanya. Namun, langkah tersebut terganjal dengan aturan pemerintah Hindia Belanda yang mengatur tentang pembagian secara merata untuk aset dan warisan. Nah, akhirnya Oei Tiong Ham pindah ke Singapura yang pada saat memiliki aturan yang mangakomodasi kehendaknya itu.

Oei Tiong Ham wafat pada tahun 1924, hanya berselang tiga tahun setelah kepindahanya ke Singapura. Setelah Oei Tiong Ham wafat, Oei Tiong Ham Concern pun diambil alih oleh seorang putranya bernama Oei Tjong Hauw. Dibawah kendali Oei Tjong Hauw, Oei Tiong Ham Concern masih bertahan dan berhasil melewati masa-masa sulit. Hingga akhirnya pada tahun 1950, Oei Tjong Hauw meninggal dunia karena serangan jantung.
Setelah meninggalnya Oei Tjong Hauw, bisnis Oei Tiong Ham Concern mengalamai kemunduran. Apalagi pada tahun 1960-an kondisi keamanan, ekonomi dan politik di Indonesia mengalami gejolak. Kejayaan Oei Tiong Ham Concern pun runtuh pada tahun 1964 ketika pemerintah menjatuhkan vonis kejahatan ekonomi dalam bisnis yang dijalankan. Setelah persidangan selama 3 tahun (1961-1964), akhirnya diputuskan bahwa seluruh aset Oei Tiong Ham Concern disita oleh pemerintah RI. Namun, berembus kabar yang mengatakan bahwa vonis tersebut sebagai upaya untuk proses nasionalisasi perusahaan tersebut.

Istana Gergaji. Bekas rumah Oei Tiong Ham

Aset Istana Oei Tiong Ham yang ada di Jalan Kyai Saleh juga diambil alih oleh pemerintah. Aset Oei Tiong Ham Concern pun juga menjadi milik negara, hingga kini dikenal dengan PT. Rajawali Nusindo yang berstatus BUMN dan berkantor di daerah Kota Lama. Oei Tiong Ham Weg juga berganti nama menjadi Jalan Pahlawan.

Rumah klasik yang ada di seberang Istana Gergaji

Di Kota Semarang, nama Oei Tiong Ham mungkin terdengar asing. Padahal Oei Tiong Ham merupakan Raja Gula dan orang terkaya di Asean yang berasal dari Kota Semarang. Di Singapura, nama Oei Tiong Ham sangat dihormati. Bahkan nama beliau jadi nama sebuah gedung dan nama sebuah taman di negara tersebut.


Sungguh ironis. Ketika sebuah kota sedang berkembang dan maju, warganya malah tak mengetahui banyak tentang sejarah kotanya. Apalagi untuk mengetahui tentang sejarah seseorang yang pernah hidup di kota ini. Padahal seorang Raja Gula pernah hidup di kota ini.

Monday, May 8, 2017

Semarang Night Carnival 2017 : Paras Semarang

Sabtu malam, 6 Mei 2017, langit Kota Semarang, khususnya di Titik Nol Kilometer di dekat Kantor Pos Johar hingga kawasan Tugu Muda terlihat cerah. Tak terlihat awan menggumpal, apalagi langit yang terlihat mendung. Sepertinya sejauh ini para pawang hujan bekerja dengan baik. Kedua kawasan tersebut sudah ramai dengan ribuan penonton yang akan menyaksikan acara Semarang Night Carnival 2017.
Panggung Semarang Night Carnival 2017

Semarang Night Carnival digelar untuk memeriahkan HUT Kota Semarang ke 470 tahun. Pertama kali digelar pada tahun 2010. Tahun ini, Semarang Night Carnival mengambil tema Paras Semarang. Paras Semarang ini diwakili dengan Burung Blekok, Kembang Sepatu, Kuliner dan Lampion. Ada sekitar 400 peserta yang akan menggunakan kostum megah warna-warni berjalan sejauh 1,3 km mulai dari Titik Nol Kilometer hingga Gedung Lawang Sewu.

Drumband Canka Lokananta dari AKMIL

Angka di jam digitalku sudah menunjukkan pukul 19:00, namun tak tampak tanda-tanda acara akan segera dimulai. Padahal sesuai jadwal, acara akan dimulai pada pukul 19:00. Namun apa daya, Pak Walikota belum datang sehingga acara belum bisa dimulai. Mungkin beliau sedang ada jamuan makan malam atau mungkin sedang ada kegiatan yang mesti diselesaikan terlebih dahulu. Namun di sudut lain, ratusan peserta yang mengenakan kostum dengan berat lebih dari 5kg sedang menunggu dengan cemas.

Defile Burung Blekok

Bagaimana tidak cemas, mereka telah menyiapkan semuanya untuk hari ini. Banyak waktu, tenaga, dan materi yang mereka keluarkan untuk membuat acara malam ini menjadi spesial, khususnya untuk warga Kota Semarang. Mereka ingin segera tampil, memamerkan kostum mereka yang telah dibalut dengan rasa kebanggaan. Namun yang ditunggu tak kunjung datang, seseorang yang nantinya akan memberikan sambutan. Rasa-rasa cemas itu kemudian berubah menjadi senyum, ketika dua rombongan bus yang dikawal polisi memasuki tempat acara. Kemudian bersalaman dan menyapa para tamu. Hingga mendarat di tempat duduk yang sudah disediakan. Acara pun segera dimulai. Semarang Night Carnival 2017 is ready to rock you…!!!

Defile Kembang Sepatu

Acara dimulai dengan penampilan drumband Canka Lokananta dari Akademi Militer (Akmil). Mereka membawakan beberapa lagu. Drumband ini terdiri dari empat mayoret, dua laki-laki dan dua perempuan. Sekadar info, dalam waktu tiga tahun terakhir acara Semarang Night Carnival diawali oleh drumband yang berasal dari berbagai instansi. Pada acara Semarang Night Carnival 2015, Drumband Cendrawasih dari Akademi Kepolisian (Akpol). Sedangkan pada tahun lalu, drumband diisi oleh Drumband Gema Perwira Samudra  dari Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang.

Defile Kuliner

Defile pertama yang unjuk kebolehan kostum adalah defile Burung Blekok (aku menyebutnya Burung Kuntul). Burung Blekok ini berwarna putih, memiliki leher dan kaki yang panjang. Hidupnya diatas ranting-ranting pohon yang ada di depan komplek TNI di daerah Srondol. Setiap sore burung-burung ini akan terbang mencari makan di daerah pelabuhan Tanjung Emas. Ketika melintas di atas rumahku, aku sering menghitung jumlah burung yang selalu terbang secara berkelompok itu. Sini kamu main ke Kota Semarang, nanti aku ajak menghitung jumlah Burung Blekok ^^. Burung Blekok telah menjadi ikon Kota Semarang.

Defile Lampion

Defile selanjutnya adalah defile Kembang Sepatu. Defile ini didominasi dengan warna merah dan hijau khas Kembang Sepatu. Warna kostum mereka cetar, selaras dengan senyum mereka. Para peserta diajari untuk selalu tersenyum ketika melihat kamera. Biar para tukang foto bisa menghasilkan foto yang epic.

Peserta dari Kota Sawahlunto; Makasih Uni :))

Setelah defile Kembang Sepatu, ada defile Kuliner. Kostum mereka dilengkapi dengan berbagai pernak-pernik berbentuk kuliner khas Kota Semarang, seperti Lumpia, Bandeng Presto, Wingko Babat, dan Kue Ganjel Rel. Tentu saja itu tiruan, bukan asli. Sehingga tidak bisa dimakan.

Peserta dari Taiwan

Defile selanjutnya adalah defile Lampion. Lampion sudah menjadi khas Kota Semarang sejak tahun 1942 yang dikenal dengan nama dian kurung. Lampion sering digunakan para santri sebagai sumber penerangan menuju masjid ketika malam hari. Defile ini didominasi dengan warna merah.

Peserta dari Taiwan

Selain peserta dari Kota Semarang, peserta Semarang Night Carnival juga diikuti oleh peserta dari kota Sawahlunto dan peserta dari mancanegara. Yaitu dari Taiwan, Thailand, Sri Lanka, dan Korea Selatan. Peserta dari Kota Sawahlunto tampil menggunakan kostum menyerupai bunga matahari.

Peserta Sri Lanka

Para peserta dari Taiwan menampilkan tarian dan berbagai atraksi. Mereka tampil sangat atraktif dan enerjik sehingga mengundang decak kagum dan tepuk tangan dari penonton. Sedangkan yang peserta dari Thailand dan Sri Lanka tampil dengan tarian khas mereka. Penampilan terakhir ditutup dengan penampilan peserta dari Korea Selatan. Terdiri dari lima orang perempuan yang memainkan beberapa alat musik. Salah satunya adalah genderang khas Korea Selatan yang disebut Janggu. Parade defile ditutup dengan penampilan dari para mayoret defile. Semua peserta mesti berjalan kaki menyusuri jalan Pemuda.

Peserta dari Thailand

Meski mengikuti acara dari awal hingga akhir, sebetulnya aku datang terlambat. Seharusnya aku sudah di tempat acara pada pukul 16:00. Seperti tahun sebelumnya. Aku biasa datang lebih awal agar aku bisa mengambil gambar peserta secara detail. Namun tahun ini kurang beruntung. Aku tidak bisa mengambil gambar peserta secara detail karena aku dan kawanku yang berasal dari Jakarta malah terlalu asyik keliling Kota Lama. *Hiiks, sedih

Peserta dari Korea Selatan
Sampai jumpa di Semarang Night Carnival 2018

Seluruh defile telah unjuk kebolehan di depan ribuan penonton, termasuk para tamu dari mancanegara. Mereka berhasil memukau dan menyuguhkan penampilan yang luar biasa. Mereka pasti bangga, begitu juga dengan orang tua dan keluarga mereka. Kami pun terhibur dan terpukau melihat penampilan mereka malam ini. Kalian memang luar biasa. Para penonton mulai meninggalkan tempat acara. Aku dan kawanku berjalan kaki menuju kawasan Kota Lama. Kami berdua menonton kenroncong di salah satu sudut gedung di kawasan itu. Menikmati setiap alunan musik keroncong yang menggema diantara gedung-gedung tua di kawasan Kota Lama. Sampai jumpa di Semarang Night Carnival 2018.
Semarang Night Carnival is ready to rock…!!!

Saturday, March 11, 2017

Mengejar Sunrise Gunung Bromo (Bagian 2- Selesai)

Dalam perjalanan turun ke parkiran motor, aku melihat di salah satu kios menjual postcard. Postcard yang dijual memiliki tema Gunung Bromo dan dijual seharga Rp 10.000/biji. Namun, aku tak membelinya. Warung-warung sudah mulai sepi. Kami melanjutkan perjalanan menuju pasir berbisik Gunung Bromo. Jalanan turunan tajam berhasil kami lalui. Kalau lewat sini, pastikan kendaraan dalam kondisi baik. Selama perjalanan terlihat mobil jeep yang hilir mudik mengantar pengunjung Gunung Bromo.
Baca dulu:  Mengejar Sunrise Gunung Bromo (Bagian 1)


Orang-orang Suku Tengger

Setelah menempuh jalanan ekstrim nan curam, akhirnya kami berdua tiba di kawasan pasir Gunung Bromo sambil ditemani rintikan hujan. Kami berdua langsung menuju ke parkiran motor Gunung Bromo. Kami berdua berniat untuk mendaki hingga bibir kawah. Cuaca saat itu memang hujan. Meskipun hujan, banyak pengunjung juga melakukan pendakian. Terlihat beberapa pengunjung menunggangi kuda yang disewakan oleh masyarakat suku Tengger. Kami berdua tetap berjalan kaki. Aku sih tetap semangat, meskipun hujan semakin deras. Di tengah perjalanan, Mas Hendrik meminta ijin untuk istirahat dan tidak melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan menuju bibir kawah seorang diri.

Mari mendaki..!!!

Langkah kaki aku percepat, hingga akhirnya aku tiba di depan ratusan anak tangga menuju puncak. Aku mulai menarik napas panjang dan berjalan menaiki anak tangga dengan kecepatan stabil. Tak sampai sepuluh menit akhirnya aku sudah di bibir kawah Gunung Bromo. Bibir kawah tidak terlalu ramai. Mungkin karena hujan. Setelah beberapa kali ambil gambar, aku memutuskan untuk segera turun. Melewati anak tangga dengan pelan-pelan, rentan terpeleset kenangan. Mas Hendrik lagi istirahat di sebuah warung. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan turun. Rencana kami akan pulang melalui Tumpang dan akan melewati Jemplang.

Kawah Gunung Bromo
View dari puncak Gunung Bromo

Kami melewati para penyedia jasa kuda. Mereka merupakan warga suku Tengger. Suku Tengger merupakan suku asli yang hidup di sekitar Gunung Bromo. Orang-orang Suku Tengger hanya menggunakan sarung mereka untuk melindungi tubuh mereka dari dingin. Beberapa mobil Jeep terlihat parkir di area yang sudah ditentukan. Mereka sedang menunggu para penumpang mereka yang sedang asyik menikmati Gunung Bromo. Untuk menuju jalur arah Jemplang, kami tidak tinggal mengikuti patok yang ada. Sejauh mata memandang hanya terlihat pasir, savana dan perbukitan nan hijau. Kami berdua tidak berhenti di Bukit Telletubies. Kami memilih untuk langsung beranjak pulang. Melewati jalur Jemplang merupakan pengalaman pertama bagi kami berdua.

Penyedia jasa kuda

Dalam perjalanan, kami bertemu dengan dua pengendara motor lainnya. Mereka juga akan turun melalui Jemplang. Mereka sudah terbiasa touring motor melalui jalur Gunung Bromo- Jemplang. Yaa akhirnya kami berjalan bersama *ciieee. Jalur menuju Jemplang sebagian besar masih berupa pasir. Hal tersebut membuat mas Hendrik mengendarai motor lebih berhati-hati. Selama perjalanan, kami berada dibelakang mereka berdua. Sedari tadi pagi kawasan Bromo masih gerimis. Tak ayal jalanan pasir menjadi banyak kenangan, eeh genangan.

Pura Luhur Poten Gunung Bromo

“Gubrak..!!!”, terdengar suara motor terjatuh
Karena kurang fokus memikirkan dia, salah satu dari mereka terjatuh. Dia terpleset karena ban motornya slip diantara genagan. Dia baik-baik saja, namun celananya dipenuhi dengan coretan tanah liat. Akhirnya kami menemukan jalan beraspal hingga menuju pertigaan Jemplang. Belok kanan ke arah Ranupane, basecamp pendakian Gunung Semeru. Rasanya ingin melanjutkan perjalanan menuju ke Ranupane, kemudian menuju Gunung Semeru. Tentunya bukan saat ini, aku pun belum memiliki persiapan untuk mendaki Gunung Semeru. Suatu saat nanti akan mendaki Gunung Semeru, bersama kamu. Sedangkan belok kiri menuju arah kota Malang. Jalanan yang dilewati juga sangat bagus. Hingga akhirnya kami beristirahat di pos pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Melepas lelah dan mengobrol dengan pengunjung lainnya.

Om, Telolet Om...!!

Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang. Aku masih seperti membonceng Mas Hendrik. Mas Hendrik enggan aku bocengkan. Kata dia sih takut kalau nanti jadi mengantuk. Akhirnya padatnya Kota Malang mulai menyambut kami. Aku merasa kota Malang seperti Kota Bandung. Jalanannya sempit namun padat dan udaranya yang tidak terlalu panas. Selain itu, kedua kota ini memiliki banyak cerita dan kenangan bagi perjalananku.

Pulang...!!!

Terima kasih Malang dan tentu saja ucapan terima kasih untuk Mas Hendrik yang sudah berkenan menemaniku berkeliling Gunung Bromo. Ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan. Banyak cerita dan yang terukir selama perjalanan. Terima kasih Gunung Bromo atas sambutan yang diberikan kepadaku. Mulai dari rintik hujan, kabut pagi, perkasanya orang-orang Suku Tengger, ratusan anak tangga, hingga tawa canda yang menyatu dalam dinginmu. Gunung Bromo tidak hanya bercerita tentang berburu sunrise, namun lebih dari itu.

Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS)
Website: http://bromotenggersemeru.org/
Tiket Masuk Weekday: Rp 27.500 (Nusantara), Rp 217.500 (Mancanegara)
Tiket Masuk Weekend: Rp 32.500 (Nusantara), Rp 317.500 (Mancanegara)
Motor : Rp 5.000
Mobil : Rp 10.000
 
Gunung Bromo, 7 Desember 2016 

Saturday, March 4, 2017

Mengejar Sunrise Gunung Bromo (Bagian I)

Namanya juga sebuah perjalanan tanpa rencana. Jadi semuanya diatur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Rencana awalnya sih aku cuma pergi ke Surabaya, namun semuanya berubah ketika negara api menyerang aku iseng mengecek tiket kereta dari Surabaya ke Malang. Eeh ternyata murah banget. Yaitu cuma sebesar Rp 12.000/ orang. Harga itu lebih murah daripada naik kereta api dari Semarang ke Malang. Tanpa ragu, akhirnya aku memastikan diri untuk pergi ke Malang untuk keesokan harinya dengan menggunakan kereta api Penataran. Untuk jadwal keberangkatan bisa tanya langsung ke loket stasiun Gubeng Surabaya.


Bromo diselimuti kabut pagi

Perjalanan Surabaya-Malang ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam perjalanan. Aku memilih untuk turun di stasiun Malang Kota Baru. Abis itu keluar stasiun dan langsung lihat banyak angkot yang hilir mudik. Angkotnya pake kode, iyaa kode, berupa singkatan kata. Beda dengan kode angkot yang biasanya berupa huruf dan angka. Sempat bingung, namun semua itu bisa diatasi *cliiing*. Meluncurlah aku menuju kawasan Universitas Negeri Malang untuk bertemu salah satu temanku, namanya Novan. Rencananya selama aku di Malang akan menginap di rumahnya.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya si Novan menghampiriku dan mengajak pergi ke kantin yang terletak di bagian belakang kampus.
“Vai, ke Malang dalam agenda apa..?” tanya Novan
“Ingin silaturahmi aja, ketemu arek-arek.” Jawabku santai
“Okelah, nanti aku kabari arek-arek untuk ngumpul."
"Okee, siap bro"

Saat itu aku memang ingin pergi ke Malang, namun belum tahu akan pergi kemana. Niat awalnya hanya ingin silaturahmi dengan teman-teman di Malang. Bagiku, sebuah perjalanan tidak sekadar destinasi atau tempat wisata, namun lebih dari itu. Berkumpul dengan teman-teman di kota lain juga merupakan sebuah perjalanan. Khususnya perjalanan hati.

Malam harinya kami ngumpul di salah satu angkringan arek Malang. Kalo sudah ngumpul gini, pasti ada aja yang diomongin. Ga bakal kehabisan bahan obrolan. Mulai dari tentang traveling, hingga mengenai komunitas. Dalam obrolan tersebut, aku mengutarakan keinginan untuk pergi ke Gunung Bromo. Dan mereka membantu mencarikan teman jalan. Akhirnya Mas Hendrik bersedia menemaniku untuk ke Bromo pada besok malam.

Sebelum ke Bromo, aku yang ditemani oleh Rizky, Novan dan Clara mengunjungi Kampung Warna Jodipan, kota Malang. Kemudian dilanjutkan keliling kota Malang dan menikmati dinginnya kota Batu. Tentang kampung Jodipan, nanti akan ditulis dalam artikel tersendiri. Tunggu aja yaa..!! Sekitar pukul 23:30, Rizky mengantarku untuk bertemu Mas Hendrik. Aku dan Mas Hendrik memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu dan memulai perjalanan menuju Gunung Bromo pukul 01:30 dinihari.

Tepat pukul 01:30, alarm gadget telah meraung-meraung untuk membangunkan kami dari tidur. Setelah bersiap-siap, akhirnya kami meluncur menuju Gunung Bromo menggunakan motor. Perjalanan kali ini akan dipandu oleh GPS dan insting kami berdua. Soalnya Mas Hendrik juga belum pernah ke Gunung Bromo melalui jalur Nongkojajar. Perjalanan tetap harus dilanjutkan, meskipun ini merupakan jalur baru untuk kami berdua. Gunung Bromo, I’m Coming…!!!


Antara aku, kabut dan mimpi-mimpi kita

Sesuai rencana, kami akan menuju Gunung Bromo melalui jalur Nongkojajar, Pasuruan. Dari Kota Malang kami menuju ke daerah Lawang, kemudian menuju daerah Nongkojajar. Dari Nongkojajar kita langsung menuju ke Tosari dan terakhir ke Gunung Bromo. Petunjuk jalan di jalur ini sangat jelas, jadi tidak perlu takut untuk tersesat. Sesuai perkiraan GPS, perjalanan akan menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Cukup lama perjalanannya. Apalagi udara dingin, kantuk dan jalanan yang sepi berhasil membuatku beberapa kali tertidur dalam perjalanan.

Pointer GPS menunjukkan Gunung Bromo sudah dekat. Akhirnya setelah melewati perjalanan lama, pada pukul  04:00 kami tiba di pintu gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Sebelum melanjutkan perjalanan, jangan lupa bayar tiket masuk dulu. Tiket masuk TNBTS untuk dua orang dan satu motor sebesar Rp 60.000,-. Deket pintu gerbang ada warung dan penjual sarung tangan dan topi. Kalau kalian tidak kuat sama dinginnya Gunung Bromo, lebih baik minum kopi dulu di warung dan beli sarung tangan beserta topinya.


Selamat datang, kabut pagi..!!!

Kami akan langsung menuju ke pos Penanjakan. Jaraknya sekitar 9 Km dari loket pintu masuk. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa mobil jeep yang membawa beberapa wisatawan. Jalan masih berupa tanjakan. Udara semakin dingin dan kabut semakin tebal. Akhirnya kita sampai di gerbang Pos Penanjakan. Warung-warung di sekitar pos Penanjakan sudah ramai dengan para wisatawan. Baik wisatawan lokal, maupun mancanegara. Mereka sedang mencari kehangatan dalam secangkir kopi, gorengan, dan semangkuk mie instan. Tawa dan obrolan seru menjadi penghangat diantara mereka.


Warung yang siap memanjakan pengunjung

Kami mulai menaiki puluhan anak tangga untuk menikmati sunrise di Gunung Bromo. Waktu menunjukkan pukul 04:50, namun tanda-tanda sunrise belumlah nampak. Kabut malah semakin menebal. Aku bersama ratusan orang menantikan matahari terbit. Aku mencari spot terbaik untuk bisa menikmati sunrise. Hingga pukul 06:15 matahari tak kunjung menampakkan diri. Pos Penanjakan pun mulai sepi. Ditinggal para wisatawan yang tak mendapatkan sunrise. Aku pun singgah di warung. Menikmati secangkir kopi dan pisang goreng.


Masih diselimuti kabut pagi

Aku berniat untuk kembali lagi ke pos Penanjakan pada pukul 07:00. Berharap bisa melihat view gunung Bromo. Berharap kabut tak lagi menutupinya. Namun sesampainya di sana, kabut malah semakin tebal. Sejauh mata memandang, hanya kabut yang terlihat. Sepertinya pagi ini memang aku dan ratusan wisatawan sedang tidak beruntung. Tidak bisa menikmati sunrise gunung Bromo. Kata pemilik warung, sudah beberapa hari ini sunrise tertutup kabut. Mungkin menikmati sunrise Gunung Bromo akan menjadi salah satu alasanku untuk balik lagi kesini. Mengejar sunrise..? apanya yang dikejar? Sunrise selalu ada tiap pagi. Setiap tempat memiliki sunrise-nya masing-masing, tinggal bagaimana kita dan dengan siapa menikmati sunrise di setiap paginya.

Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS)
Tiket Masuk Weekday: Rp 27.500 (Nusantara), Rp 217.500 (Mancanegara)
Tiket Masuk Weekend: Rp 32.500 (Nusantara), Rp 317.500 (Mancanegara) 
Motor : Rp 5.000
Mobil : Rp 10.000
 
Gunung Bromo, 7 Desember 2016 

Baca Juga: Tebing Breksi Jogja kini semakin cantik, tapi?