Tuesday, December 11, 2018

Cerita-Cerita dalam Perjalanan Bengkulu-Padang

Setelah menyelesaikan semua laporan pekerjaan, aku berencana untuk pergi ke Kota Padang dan Bukittinggi terlebih dahulu sebelum balik ke Jakarta. Temanku selaku koordinator lapangan memberikan ijin kepadaku. Katanya yang terpenting jangan lupa bawa laptop untuk antisipasi jika ada revisi laporan. Oyaa, sekitar bulan Juli hingga November aku sedang ada pekerjaan di sepanjang jalur Bengkulu hingga Kuala Tungkal, Jambi.

Bus SAN jurusan Bengkulu-Padang

Kota Padang dan Bukittinggi merupakan kota yang ingin aku kunjungi sejak beberapa tahun yang lalu. Namun, baru terlaksana tahun ini. Itu pun juga memanfaatkan kondisi dengan adanya pekerjaan di Bengkulu-Jambi. Perjalanan Bengkulu ke Padang bisa ditempuh menggunakan bus dengan waktu sekitar 15 jam dan tentu dengan biaya yang lebih murah dibandingkan jika aku melakukan perjalanan dari Jakarta. Selain itu, aku juga ingin mencoba melintasi jalur lintas Sumatera. Apalagi bus lintas Sumatera dikenal memiliki kualitas yang bagus.

Pukul 12:00 aku sudah berada di pangkalan bus SAN yang akan berangkat menuju Kota Padang pada pukul 13:00. Tiket bus ke Padang dijual dengan harga Rp 235.000/orang. Dalam perjalanan itu kursi sebelahku ternyata kosong, sehingga aku lebih bebas untuk bergerak. Sekitar pukul 19:00 bus berhenti untuk di salah satu rumah makan di Lubuklinggau untuk istirahat makan dan sholat.

Meskipun bus eksekutif, tiket yang dijual tidak termasuk makan selama perjalanan. Sehingga jika ingin makan, penumpang mesti mengeluarkan uang sendiri. Berbeda dengan bus-bus di Pulau Jawa yang tiketnya sudah termasuk makan. Malam itu aku memilih menu nasi dengan porsi setengah, ikan goreng, dan teh hangat. Setelah selesai makan, aku menuju ke meja kasir untuk membayar. Aku perkirakan makanku habis sekitar Rp 25.000. Eh, ternyata total biaya makanku sebesar Rp 34.000. Ternyata lebih mahal dari perkiraanku. Aku hanya bisa memaklumi, namanya juga dalam perjalanan lintas provinsi.

Perjalanan dilanjutkan kembali, sepanjang perjalanan aku memilih untuk istirahat. Sesekali melihat kondisi sekitar melalui kaca jendela. Pukul 01:00 bus berhenti lagi untuk istirahat sejenak. Kali ini berhenti di Rumah Makan Omega yang terletak di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Selain tempat makan, rumah makan ini juga menyediakan banyak toilet bersih. Terlihat beberapa pengamen yang menyanyikan lagu khas Minang yang diiringi sebuah bansi. Seruling khas Sumatera Barat. Alunan musik yang dimainkan ini seolah-olah memberitahu jika aku sudah memasuki wilayah Sumatera Barat.

Sekitar pukul 06:05 bus SAN telah tiba di pangkalan bus yang ada di Kota Padang. Banyak penumpang yang turun di Kota Padang. Sambil menunggu tasku diturunkan dari bagasi bus, aku bergegas untuk sholat subuh. Setelah selesai sholat, aku kembali menuju parkiran bus. Aku melihat bus sudah tidak ada di parkiran dan tasku juga tidak ada di tempat barang-barang yang diturunkan. Aku mencoba bertanya kepada petugas yang menurunkan barang, dia bilang kalau bus melanjutkan perjalanan ke Kota Pariaman dan kemungkinan tasku terbawa bus menuju Kota Pariaman. Dia juga menganjurkan untuk bertanya kepada sopir bus.

Aku menemui sopir bus dan bilang jika tasku terbawa bus ke arah Kota Pariaman. Sopir bus langsung menelpon kernet yang berada di bus untuk menanyakan keberadaan tasku. Tasku memang terbawa di dalam bus dan memastikan tas dalam keadaan aman. Aku mengira jika pangkalan bus di Padang merupakan pangkalan terakhir, sehingga semua barang akan diturunkan. Namun, ternyata bus masih melanjutkan perjalanan hingga Kota Pariaman.

Aku menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Pak Anton, sopir bus yang membawaku dari Bengkulu menuju Kota Padang. Termasuk rencanaku untuk menuju Kota Bukittinggi setelah ini. Pak Anton sudah menjadi sopir bus selama lebih dari 15 tahun dengan rute terjauh dari Pekanbaru menuju Surabaya. Kemudian Pak Anton bilang jika bus akan kembali di pool sekitar pukul 11:00. Pak Anton ijin untuk istirahat telebih dahulu karena siang nanti akan mengendarai bus balik ke Bengkulu.

Sambil menunggu bus kembali ke pangkalan, aku memilih untuk berjalan-jalan sebentar. Tempat yang menjadi tujuanku adalah Masjid Raya Sumatera Barat yang terletak tidak jauh dari pangkalan. Pagi itu kota Padang diguyur hujan ritik-rintik. Aku berjalan kaki menyusuri jalanan yang mulai ramai dengan aktivitas warga.

Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat terletak jelas di persimpangan jalan. Aku bertemu dengan Pak Manto, seorang penjuang buah keliling yang tiap hari mangkal di depan masjid. Pak Manto tahu jika aku berasal dari Jawa karena logatku ketika pertama kali menyapanya. Pak Manto merupakan perantauan dari Jawa, tepatnya Jombang. Jawa Timur. Sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Padang dan memiliki empat orang anak. Jika sedang libur, anak terkecilnya yang masih sekolah di bangku SD sering ikut berjualan. Namun, istri beliau telah meninggal dunia karena kecelakaan. Beliau juga bercerita banyak tentang Kota Padang dan Bukittinggi. Termasuk caranya menuju Bukittinggi.



Selanjutnya aku menuju masjid. Ruang utama Masjid Raya Sumatera Barat sedang dalam tahap renovasi. Sehingga aku tidak bisa melihat ruang utama. Tempat sholat sementara dipindahkan di ruang bawah. Bentuk masjid sangatlah unik, tidak seperti masjid pada umumnya yang identik dengan kubah. Masjid ini merupakan masjid terbesar yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Masjid ini juga telah dilengkapi dengan menara. Sebelum balik ke pangkalan bus, aku bertemu lagi dengan Pak Manto. Aku meminta tolong kepada beliau untuk memotretku dengan latar belakang Masjid Raya Sumatera Barat. Aku pamit dan berharap suatu saat bisa berjumpa lagi di sini.

Foto hasil jepretan Pak Manto

Aku melanjutkan perjalanan kembali menuju pangkalan bus. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya bus yang aku tunggu tiba. Aku menghampiri kernet bus dan bertanya tentang tasku. Dengan senang hati mereka mengambilkan tas ranselku. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih dan pamit untuk melanjutkan perjalananku ke Bukittinggi kepada Pak Anton. Dalam kesempatan itu, Pak Anton juga berpesan kepadaku untuk lebih waspada dengan barang bawaan.

*****

Jalanan terlihat sangat ramai ketika aku berada dalam perjalanan balik dari Kota Bukittinggi menuju Bandara Internasional Minangkabau. Rencananya aku akan menginap di penginapan yang berada di sekitar bandara. Keesokan harinya aku mesti balik ke Jakarta dengan penerbangan pukul 07:00. Mobil travel menurunkan aku di depan penginapan.

“Malam mas, ada kamar kosong mas?” tanyaku pada resepsionis hotel
“Waah, mohon maaf mas. Kamarnya penuh semua. Coba ke hotel seberang aja.” Jawab resepsionis itu.
“Okee mas, aku coba kesana. Terima kasih mas.”

Setelah melihat hotel yang berada di seberang hotel tersebut, ternyata hotel tersebut terlihat lebih besar dari hotel tadi. Jadi kemungkinan hotel itu memiliki harga yang lebih mahal. Aku tidak jadi ke sana dan mengecek maps. Terlihat beberapa hotel yang berada tidak jauh dengan lokasiku. Aku mencoba menuju hotel tersebut dengan berjalan kaki.

“Malam mas, ada kamar kosong?” tanyaku pada resepsionis hotel
“Ada mas, tinggal satu kamar yang kosong.” Jawab resepsionis itu
“Berapa mas harga per malamnya?”
“Rp 250.000 per malam”
“Ouw, segitu yaa mas. Oke mas, terima kasih mas.” Jawabku sambil meninggalkan hotel tersebut.

Aku tidak menginap hotel tersebut karena aku merasa harganya tidak sesuai dengan fasilitas yang disediakan. Apalagi aku hanya menginap sebentar, sehingga aku mencari hotel atau penginapan yang sangat terjangkau atau murah. Yang terpenting bisa tidur dan mandi dengan layak. Tak perlu fasilitas yang berlebihan.

Waktu telah menunjukkan pukul 20:00 dan aku belum menemukan penginapan yang sesuai. Aku berpikiran untuk tidur di masjid. Namun, aku memutuskan untuk makan terlebih dahulu di sebuah warung yang berada di pinggir jalan menuju bandara. Di warung yang sederhana itu terlihat sebuah tempat yang biasa digunakan untuk lesehan. Pemilik warung itu bernama Pak Yanuar dan istrinya.

“Pak, di sini masjid di sebelah mana yaa pak?” tanyaku pada Pak Yanuar
“Kalau masjid ada di deket bandara mas, tapi masih jauh dari sini“ jawab Pak Yanuar
“Kalau warungnya bapak tutup jam berapa yaa?”
“Sekitar pukul 23:00 mas. Kalau masih ramai yaa pukul 24:00”
“Begini pak, saya tidak dapat penginapan untuk bermalam. Saya boleh numpang bermalam di warung pak?”
“Boleh mas. Silakan aja kalau mau istirahat di sini.”
“Baik Pak, terima kasih yaa pak”
“Iyaa mas. Kalau tidak, nanti bisa tidur di rumah saja. Rumah saya ada di belakang sana. Takutnya nanti kalau di warung malah ada yang jahil ke mas.” Jawab Pak Yanuar sambil menujuk sebuah rumah yang berada tidak jauh dari warung.

Aku mulai melepaskan ransel yang mulai terasa berat. Tidak lupa aku memesan makanan sambil beristirahat sejenak. Pukul 23:30, Pak Yanuar mengajakku untuk menuju rumahnya. Aku dipersilahkan untuk bersih-bersih terlebih dahulu sebelum istirahat. Keesokan harinya, aku juga akan diantar menuju bandara yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Hanya sekitar 10 menit perjalanan naik motor.



Pukul 05:15 aku sudah bersiap untuk menuju bandara. Hari yang masih gelap dan hujan gerimis menemani perjalananku menuju bandara. Tak banyak percakapan dalam perjalanan karena aku masih mengantuk. Akhirnya aku tiba di bandara. Aku berpamitan sambil memberikan uang kepada beliau sebagai ongkos menuju bandara. Tidak seberapa dibandingkan dengan bantuan yang diberikan oleh Pak Yanuar dan istrinya. Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pagi itu sudah terlihat ramai dengan hilir mudik penumpang. Rasanya penerbanganku kali ini akan terasa spesial karena berangkat bareng belasan jamaah umroh. Mereka terlihat sangat gembira dengan perjalanan ini. Aah, alangkah senangnya jika aku bisa berangkat umroh juga.

Pertemuanku dengan orang-orang baru dengan segala latar belakangnya dan kejadian yang dialami bersama mereka menjadikan perjalananku lebih berwarna dan berkesan. Entah mengapa aku selalu tertarik mendengarkan cerita orang-orang baru yang aku temui dalam setiap perjalananku. Mereka bukanlah seseorang dengan nama besar, namun berkat mereka perjalananku menjadi lebih menarik dan spesial. Terima kasih kepada Pak Anton, Pak Manto, dan Pak Yanuar. Semoga sehat selalu dan panjang umur.

10 comments:

  1. Di Sumbar, aku cuma santai-santai di Masjid Raya hahhahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku pas ke sana masjidnya masih dalam tahap renovasi mas..hehehhe

      Delete
  2. Seneng ya bisa kerja sambil jalan-jalan. Saya juga sih sebenernya. Cuman saya seringnya cuman muter-muter deket-deket hotel doang. Habisnya capek, huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku cuma memanfaatkan kondisi aja mas. Jadi sekalian jalan ke tempat yang tidak terlalu jauh untuk dijangkau..hehhee

      Delete
  3. Salut sama Pak Yanuar. Meskipun baru kenal di malam itu, tapi beliau bersedia memberikan "ruang" di warungnya untuk istirahat pembelinya dari luar pulau. Malah dipersilakan pindah ke rumahnya & bersedia nganter ke bandara.

    Barang-barang di tas aman, mas? Nggak ada yang berkurang atau hilang? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget mas. Yang terpenting berbuat baik kepada sesama :)
      Barang-barang aman mas. gada yang hilang :D

      Delete
  4. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui ya trip kerja gini Vay..

    ReplyDelete
  5. wah, bapaknya baik banget ya. Memang bener masih banyak orang baik, tapi kalo sembarangan masukin orang ke rumah ya serem juga hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkim gara2 pendekatan ke bapaknya yang berhasil, jadi bapaknya yakin kalau aku orang baik-baik..hehhe

      Delete